22. Desember 2006 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Dalam perjalanan menuju dan pulang dari kantor, aku dan istri sering membahas kelakuan berlalulintas orang-orang. Sekalian menikmati kemacetan yang seolah sudah menjadi hal yang biasa di Ibukota ini.

Pagi ini kami iseng menggoda pengemudi Vios merah yang sejak pintu tol Halim sudah ‘cari masalah’. Main selonong saja diantara dua antrian mobil yang akan membayar tol. Pengemudinya perempuan berkerudung. Kalau sudah begini, kami berdua [aku dan istri] selalu sepakat untuk tidak pernah memberi peluang menyalip untuk mereka yang memotong antrian. Meski kadang istriku suka nyaranin aku untuk mengalah juga. Hal ini sering kami lakukan di pintu tol depan Medistra kalau pulang kantor. Bukan apa-apa. Niatnya cuman ‘memberi pelajaran’ buat mereka-mereka yang suka nyelonong saat orang lain antri dengan tertib.

Kembali ke Vios merah tadi, ternyata bis di belakang kami memberi kesempatan dia untuk menyelinap di antrian. Hehehehe…tak apalah…Lepas dari bayar tol aku ambil sisi sebelah kanan. Karena biasanya sebelum simpang susun Cawang, lalu lintas akan tersendat sebelum percabangan yang ke Priok. Penyebabnya, lagi-lagi karena tidak semua taat aturan. Arah Priok yang hanya satu jalur, layaknya leher botol. Kadang lebih dari dua jalur yang menuju ke Priok. Dan sudah pasti ini membuat macet dan memperlambat kendaraan yang ke arah Grogol. Ternyata kami mendahului si Vios merah tadi.

Begitu melewati jalan yang bercabang itu [biasanya ada mobil patroli polisi disini], Vios merah kembali bikin ulah. Menyalip kami dan ambil jalur paling kiri [bahu jalan !]. Memang kecenderungannya ambil jalur kiri [bahu jalan itu] akan lebih cepat karena di depan, mobil yang melewatinya akan diberi kesempatan kembali ke jalan yang benar oleh mobil yang di jalur kiri. Dan aku yakin si Vios merah itu akan mendahului kami.

Ternyata setelah menara Saidah sebelum Pancoran, masih ketemu dia lagi….he…he…he…Kemana aja mbak ? Perasaan udah dari tadi dech, ngedahuluin kita :-p. Karena dia ambil jalur tengah, aku ambil jalur kanan seperti biasa. Dan saat mobil kita beriringan, istriku kembali ‘menggoda’ si mbak Vios merah. Bahkan sampai buka kaca jendela sebelah kiri. Kita beriringan sampai sebelum tanjakan Pancoran. Untuk kemudian dia ambil jalur kiri dan mendahului…wus….wus….wus…bye…bye……Lady in Red :-).

Waktu berjalan kaki dari Plasa Mandiri menuju kantor aku menemukan satu Vios yang sifat supirnya bertolak belakang dengan Vios merah tadi. Dia sudah memperlambat mobilnya saat melihat aku dan beberapa pekerja melangkah di garis penyeberangan [zebra cross].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *