Orang lebih mengenalnya dengan nama Tompi daripada nama lengkapnya yang dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE. Bisa dimaklumi karena mungkin sebagian besar orang lebih dulu mengenalnya sebagai penyanyi dengan sembilan album. Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik ini juga aktif berpraktik di klinik kecantikan bernama Beyoutiful Aesthetic Clinic. Belakangan merk Beyoutiful merambah ke dunia perfilman dengan mengusung nama Beyoutiful Pictures. Perusahaan inilah yang menggarap Selesai yang mulai ditayangkan lewat layar daring (bioskoponline.com) sejak tanggal 13 Agustus 2021. Melalui film ini, Tompi kembali bekerja sama dengan Imam Darto (sebagai penulis skenario) setelah film Pretty Boys (2019).


Selesai berkisah tentang problem yang biasa dihadapi rumah tangga. Soal perselingkuhan. Sebagaimana biasanya perselingkuhan dalam rumah tangga, biasanya berujung pada pertengkaran. Satu pihak yang merasa dirugikan akan meminta cerai. Setidaknya pisah. Apakah perpisahan akan terjadi atau berakhir dengan rujuk, itulah yang ingin diceritakan pada film ini. secara gambaran besar tidak berbeda dengan film megenai perselingkuhan yang terjadi dalam rumah tangga.


Namun berbeda dengan film Indonesia lain dengan pemain (dan pendukung) yang lumayan banyak, film ini hanya dimainkan oleh tujuh pemain utama. Ada Ariel Tatum (Ayudina Samara), Gading Marten (Broto Hadisutedjo), Tika Panggabean (Yani), Anya Geraldine (Anya), Marini Soerjosoemarno (Sriwedari Hadisutedjo), Farish Nahdi (Dimas Hadisutedjo), Imam Darto (Bambang). Selain perbedaan pemeran, perbedaan lainya juga terletak pada set film. Selesai tidak banyak mengambil lokasi. Praktis hanya pada satu rumah saja. Ruangan yang ada pada rumah itulah secara bergantian menjadi lokasi cerita. Mulai dari kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, dapur, ruang belakang dan kamar pembantu. Sedikit adegan pada halaman depan. Mungkin itu merupakan tuntutan cerita atau karena film ini dibuat saat kondisi pandemi.


Entah karena sang sutradara juga seorang fotografer atau keterbatasan set dalam cerita, sinematografi sepanjang film terlihat manis. Enak untuk dinikmati. Layaknya menikmati jepretan kamera. Mengingat setting hanya berlangsung pada berbagai ruang dalam sebuah rumah, pencahayaan diatur sedemikian rupa. Menurut sang sutradara, diatur sedemikian rupa seturut kondisi saat adegan terjadi. Pagi, siang sore atau malam. Bahkan untuk adegan di kamar pembantu yang dibuat bukan hanya tempelan cerita namun bagian dari keseluruhan cerita.


Meskipun pengambilan gambar dilakukan hanya pada sebuah rumah, pemilihan rumah untuk menjadi lokasi syuting juga ternyata memberi keuntungan dalam penggambarannya. Lihat saja bagaimana setelah Broto dan Ayu berantam hebat. Keduanya duduk terpisah namun kamera bisa mempertontonkan keterpisahan mereka dalam satu frame tanpa harus diedit. Demikian juga setting waktu kejadian, yang mungkin hanya terjadi dalam dua atau tiga hari saja. Kalaupun lebih lama dari itu, digambarkan dengan beberapa adegan flashback saja.


Gading Marten yang sempat diledek dengan, modal garuk biji atau berkolor saja bisa dapat Citra, lewat perannya dalam Love For Sale (2018) seperti mengulang perannya tersebut dalam beberapa adegan. Baik ketika bangun tidur, mandi maupun ketika sedang diskusi mencari solusi dengan Anya. Yang menarik adalah beberapa adegan ‘dewasa’ yang terjadi. Mulai dari Gading mandi, adegan bercintanya Gading baik dengan Ayu atau Anya, apakah kalau ditayangkan di bioskop normal, bakal kena sensor? Entahlah.

Ariel dan Anya mungkin pemain baru dalam film Indonesia. Namun rasanya peran yang mereka mainkan pas saja. Ayu layaknya wanita Jawa yang nurut pada suami, meski kadang suka meledek suami sendiri soal lupa kunci mobil misalnya. Anya yang memerankan wanita ‘penggoda’ tidak harus berdandan menor atau mengucap kata vulgar. Marini yang sudah lebih dulu bermain film dari mereka semua juga memperlihatkan senioritasnya. Dan seperti biasa menjalankan peran seabgai ibu yang bijaksana dengan beberapa selipan dialog yang kocak. Karena memang film ini bergenre drama komedi. Bagian komedi ini yang diambil oleh Tika Panggabean dan Imam Darto. Bahkan tato yang dalam kenyataannya ada di lengan Tika Panggabean, diolah oleh Imam Darto dengan baik. Rasa komedinya juga terasa ketika ada adegan logika bengkok ala Srimulat diselipkan dalam film ini. Alih-alih membuka gerbang ketika nyonya rumah mengklakson di depan pagar, Yani (Tika Panggabean) malah meminta Broto, tuannya untuk membukakan pagar bagi nyonya. Karena dia sedang sibuk di dapur. Absurd! Hahahaha..

Secara keseluruhan film berdurasi satu jam 22 menit ini cukup menghibur. Sedikit kekurangan film ini menurutku hanyalah pada cara menggambarkan ibu Hadisutedjo mengumpulkan potongan informasi (puzzle) yang dia miliki dalam mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Broto. Selebihnya sih asyik. Pada akhirnya penonton akan bertanya, apakah perselingkuhan yang biasa terjadi dalam rumah tangga, berakhir seperti film ini?

Oh ya, pemilihan lagu Nurlela yang pernah dipopulerkan oleh almarhum Bing Slamet dan dilantunkan kembali oleh Trio Lestari (Tompi, Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly), pada akhir film cukup menarik.

Selamat kepada dokter Tompi dan Imam Darto.

Apa yang ditunggu investor Indonesia akhirnya terwujud. Satu unicorn lokal akhirnya melakukan penawaran umum saham. Menjual sebagian saham mereka kepada publik dan kemudian tercatat di Bursa. Euphoria pun terjadi.


Jauh sebelum tercatat di Bursa, banyak yang menanyakan kabar kapan akhirnya perusahaan ini (dan perusahaan sejenis) akan tercatat di Bursa. Entah terbawa suasana tercatatanya perusahaan sejenis di Bursa luar atau mungkin mereka tidak sabar untuk membeli dan kemudian menjadi pemilik perusahaan rintisan bernilai satu miliar dollar amerika. Ketika beberapa hari sebelum perusahaan itu tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan turun yang mengindikasikan banyak aksi jual di pasar, banyak yang bilang investor sedang butuh uang tunai untuk belanja (membeli saham) perusahaan itu.


Ketika akhirnya mereka siap untuk memulai proses initial public offering, permintaan melonjak. Dengan kondisi over subscribe (kelebihan permintaan) 8 kali. Konon terdapat 100 ribuan investor yang memesan meskipun akhirnya hanya 90 ribuan yang mendapat penjatahan. Tidak sedikit yang mengeluh karena tidak kebagian di pasar perdana. Mereka berjanji akan membeli di pasar sekunder. Mungkin sambil mambayangkan keuntungan yang sudah di depan mata.


Pada hari pertama tercatat, sebagaimana biasa perusahaan yang baru tercatat, harga sahamnya melejit. Ditutup pada harga Rp1.060,00 yang jika dibandingkan dengan harga penawaran perdana yang Rp850,00 naik sekitar 24,71%. Tidak ada investor yang mau menjual sahamnya. Tidak ada antrian di sisi kanan (menjual). Semua antrian ada di sebelah kiri (membeli). Demikian juga kondisi pada hari kedua. Sepertinya euphoria masih ada. Harga tertinggi sempat menyentuh level Rp1.325,00. Jika pada hari pertama tercatat nilai transaksinya hanya sekitar 500 an miliar, tidak demikan pada hari kedua. Nilai transaksi mencapai 4,4 triliun rupiah! Mungkin ini disebabkan, mereka yang tidak kebagaian di pasar perdana, sedang belanja. Perburuan harus dilanjutkan.


Tidak demikian dengan hari ketiga. Keadaan berbalik. Antrian berada di sebelah kanan. Investor ramai-ramai menjual. Dampaknya harga saham turun. Ditutup pada harga Rp1.035,00 meskipun sempat mencapai harga tertinggi Rp1.160,00 dengan nilai transaksi yang hanya berkisar 1 triliun rupiah. Sebagian mengatakan, harganya diselamatkan oleh batas bawah auto rejection yang lebih kecil dibanding batas atasnya. Kalau tidak harga saham perusahaan itu akan kembali pada harga perdana, kata mereka. Yang kalau diteruskan bisa jagi bahkan lebih rendah. Ternyata keriuhan hanya bertahan dua hari. Apa yang terjadi. Entahlah. Biar investor dan analis yang menilai.


Dari sisi aplikasi yang menjadi andalan mereka, investor memberi ‘hukuman’ terhadap perusahaan tersebut. Dengan beramai-ramai memberi rating satu. Bisa jadi ini ulah mereka yang merasa dirugikan oleh pergerakan harga saham dalam tiga hari perdagangan. Kasihan.
Entah apa yang ada di benak investor kita. Saat belum tercatat, saban hari bertanya kapan tercatat. Ketika sudah tercatat, malah dilepeh. Dibuang di pasar sehingga harga turun. Ketika harganya turun, mungkin yang kadung membeli di harga 1.300an dan tersadar aset mereka hilang dalam hitungan hari (jam?). Karena ternyata harganya longsor.


Padahal ketika menawarkan saham kepada publik, perusahaan sudah buka-bukaan soal kondisi mereka. Bentuk bisnisnya seperti apa, ke depannya akan seperti apa, kondisi keuangannya seperti apa. Bukankah membeli perusahaan adalah membeli masa depan? Beli sekarang dengan harapan pada masa mendatang perusahaan akan berkembang dan membesar. Dengan demikian nilai perusahaan juga ikut membesar. Hal tersebut akan tercermin pada harga saham yang naik. Idealnya begitu. Kalau tidak yakin dengan masa depan perusahaan, ada pilihan untuk tidak membeli. Karena tidak ada paksaan dalam membeli (saham) perusahaan. Semua kembali pada keputusan sendiri. Kapan hendak membeli dan kapan akan menjual.
Selain itu penting juga memahami kalau uang yang digunakan untuk berinvestasi haruslah uang dingin. Bukan uang belanja dapur. Sehingga ketika berharap untuk meraih untung ketika membeli pada harga tinggi dengan harapan harga akan naik lebih tinggi, malah amsyong karena kenyataan berkata sebaliknya, tidak ada penyesalan.


Semoga meningkatnya ketertarikan untuk mulai berinvestasi melalui pasar modal (saham), juga diiringi dengan peningkatan pemahaman akan itu semua. Sejatinya hasil investasi tidaklah diperoleh dalam waktu semalam. Paham, Punya, Pantau.

Sebagaimana biasa setiap awal tahun ajaran baru, aku menyampul buku anak-anak. Dimulai dari buku Gabriel (buku kelas 2 SD) karena buku abangnya belum diberikan oleh sekolah. Sambil menyampul aku tertarik mencari tahu, sebenarnya apa yang diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Karena rasanya waktu satu tahun cukup untuk mengenalkan (budaya) Jakarta. Kenapa harus ada buku (pelajaran) untuk tahun kedua dan seterusnya.

Namun alangkah kagetnya ketika membaca satu (konon) cerita rakyat pada halaman 74 buku terbitan yudhistira tersebut. Judulnya “Cerita Bang Maman dari Kali Pasir”

Bang Maman adalah pedagang buah di Kali Pasir. Istrinya telah lama meninggal dunia. Bang Maman memiliki seorang putri bernama Ijah. Bang Mana berniat menjodohkan Ijah dengan Salim anak pak Darip, seorang kaya. Meski kaya, konon Salim anak baik dan tidak sombong.

Setelah mereka menikah, pak Darip meninggal dunia. Salim mendapat warisan. Karena tidak bisa mengurus warisan, Salim menyerahkan pengurusannya kepada Kusen orang kepercayaan pak Darip. Sampai satu saat, istri Kusen menyuruhnya untuk menjual seluruh warisan dan meninggalkan Salim. Salim pun jatuh miskin. Akhirnya menjadi pedagang buah. Bang Maman malu karena Ijah hidup miskin, lantas meminta bantuan Fatme untuk mengaku sebagai istri Salim dan menemui Ijah. Ijah marah pada Salim. Salim meninggalkan Ijah.

Ijah berkenalan dengan Ujang. Kemudian mereka menikah. Ketika pesta pernikahan, polisi menangkap Ujang karena ternyata Ujang seorang perampok. Bang Maman ikut ke kantor polisi sebagai saksi.

Disajikan dalam bentuk komik, seolah aku menonton sinetron yang ditayangkan di televisi lokal. Terus terang gak bisa paham, nilai luhur apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua sekolah dasar dengan setting cerita seperti ini. Jika ingin menonjolkan baik dan buruk, nusantara mengenal si kancil. Jika ingin lebih membumi (mengambil setting Betawi) dan menghindari penggunaan si kancil, bisa dengan alur cerita lain. Pemilihan setting Kali Pasir seolah dipaksakan semata agar pas dengan tempat di Jakarta. Semata agar pas dengan topik Cerita Rakyat Betawi. Mungkin karena aku bukan warga Betawi (Jakarta) cerita rakyat yang kukenal hanyalah si Pitung atau soal Nyai Desima.

Dalam pandanganku, mungkin PLBJ ini menjadi jalan mengajarkan kepada anak anak (Jakarta) pendidikan budi pekerti. Namun membaca cerita di atas, aku malah ragu dengan tujuan itu. Apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua, ketika bang Maman sebagai orang tua yang tadinya menjodohkan putrinya dengan Salim, kemudian berbalik meminta bantuan Fatme untuk mengganggu rumah tangga Ijah ketika Salim akhirnya jatuh miskin?

lamar
fatme

Soal baik dan jahat mungkin soal sederhana. Yang baik akan sentosa, yang jahat akan celaka. Perampok adalah penjahat dan untuk itu layak diurus polisi, dan setelahnya layak untuk ditindaklanjuti dengan proses persidangan agar mendapat hukuman yang setimpal. Mungkin memang tidak cukup satu dua halaman komik untuk mejelaskannya. Atau mungkin anak kelas dua belum bisa menerima penjelasan yang oleh orang dewasa sendiri belum bisa memahaminya. Namun melakukan simplifikasi sebagaimana penutup komik di atas menurutku agak kurang pas.

Selama ini aku sudah cukup nyaman ketika anak anak tidak menonton sinetron di rumah. Tidak masalah keluar biaya sedikit untuk berlangganan tv kabel, dan anak anak lebih menonton tayangan non lokal. Namun kok ya malah kecolongan di sekolah dengan menyajikan cerita yang katanya cerita rakyat namun ternyata sebuah penggalan s*itnetron :-(

Masih ada hubungan dengan Layanan Pesan Singkat, dan apa yang hari ini dirayakan orang sebagai Hari Kasih Sayang. Sumbernya dari milis Batak Gaul dengan judul cowo batak yang tidak romantis. Pengirimnya : banrau06@xxxxx.com

SMS cowok batak yang romantis :
– Selamat hari palentin dek!! (pakai 2 tanda seru)
SMS pacarnya :
– Kok cm gt doank :-( (pakai emoticon-red)
SMS cowok batak yang romantis :
Bah..sudah hebat itu, biar tau kau hanya padamu SMS macam itu kuberikan..
SMS pacarnya :
Makasih..tapi mana coklatnya?
SMS cowok batak yang romantis :
Ah..coklat-coklat, kek anak kecil kau minta2 coklat..

Kebangetan juga ini detikcom. Meski ada ingkaran [disclaimer] yang menyatakan bahwa Kolom Lima Alinea-nya yang ditulis seorang wartawan yang bernama Chaidir Anwar Tanjung, adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan institusi tempatnya bekerja. Bang Tanjung menulis bahwa masih untung Megawati menyebut Pemerintahan SBY menari Poco Poco dan bukan Manortor. Sebab menurut beliau, dalam manortor hanya ada gerakan lambat seperti siput, tapi jari penarinya saling bergerak untuk menjepit uang.

Entah, apakah dia berpihak kepada Megawati atau SBY sehingga berpendapat demikian. Enggak tau juga, apakah aku yang belum mempelajari sepenuhnya adat Batak, atau Bang Tanjung ini. Karena menurut aku apa yang disampaikannya tidak sepenuhnya benar. Apalagi Bang Tanjung menambahkan, manortor baru afdol kalau ada yang memberikan uang ke jemari penarinya. Bang Tanjung masih menambahkan, kalau orang Batak berkata, hepeng do mangatur negaraon [Uanglah yang mengatur negara]. Seolaholah ini adalah prinsip orang Batak. Padahal ungkapan itu muncul karena negara di ini korupsi sudah berjamaah. Segala urusan memerlukan uang pelicin. Mirip dengan akronim SUMUT [Singkatan untuk Sumatera Utara] yang dipanjangkan menjadi Semua Urusan Melalui Uang Tunai.

Kembali ke masalah manortor, manortor adalah tarian khas suku Batak. Ada beragam jenis tortor. Beragam pula gerakannya. Aku gak tau persis tortor apa yang gerakannya seperti digambarkan Bang Tanjung yang gerakannya lambat seperti siput. Dan dalam acara adat apa tortor itu dipakai. Yang pernah aku ikuti, bahkan dalam proses kematian Ompung [kakek] ku gerakan tortor yang kami [cucu-cucunya] lakukan adalah gerakan tortor yang gembira. Karena demikianlah kepercayaan yang kami anut. Apalagi kalau yang meninggal telah gabe. Semua anak-anaknya telah menikah, dan telah memberi cucu kepada yang meninggal. Baik dari anaknya lelaki maupun perempuan. Upacara adat kematian seperti ini, sering disebut juga Saur Matua. Disitulah anehnya. Acara yang mestinya penuh dengan dukacita, kami [warga Batak] rayakan dengan sukacita.

Mungkin memang ada jenis tarian tortor yang gerakannya lambat seperti siput dengan jari penarinya saling bergerak menjepit uang, sebagaimana digambarkan Bang Tanjung. Namun mungkin dia lupa kalau tangan sang penari menjepit uang, tentu saja ada yang memberi uang. Nah si pemberi uang itu, memberikannya dengan manortor. Kalau sudah begini, sisi panortor [penari] manakah yang sebenarnya diambil sebagai analogi oleh Bang Tanjung, untuk menggambarkan pemerintahan SBY? Biarlah hanya dia yang tau !