terpikir pariban film berlatar budaya batak

Awalnya agak skeptis ketika diajak meninton film ini. Paling juga biasa-biasa saja. Paling juga logatnya dipaksakan. Ternyata tidak. Mungkin ini sudah entah film atau kisah kesekian (kalau mau dihitung dengan sinetron) yang bercerita soal pariban. Hubungan kekerabatan Batak yang terkait dengan jodoh. Namun ini berbeda. Soal logat, hanya Joe P-Project yang menurutku kurang pas dan…

Lanjutkan Membaca

terpikir kartini rasa milenial

Jika kalian membayangkan sosok Kartini sebagaimana keluarga bangsawan Jawa, yang menggunakan kebaya dalam kesehariannya, selalu menunduk bila berbicara dengan lawan bicaranya, menyendok makanan dengan pelan dan mengunyahnya sebanyak 32 kali misalnya. Lupakan! Film ini tidak bercerita mengenai Kartini yang ada dalam bayangan kalian itu. Meskipun benang merah kisah penulis kumpulan surat yang akhirnya diterbitkan dengan…

Lanjutkan Membaca

terpikir rindu pada slengean slank

Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat lelaki batak, jika belum menikah, setiap tahun nasihat hanya tertuju padanya setiap malam pergantian tahun. Desember ini, Slank berusia tiga puluh tiga tahun. Bermula dari berdirinya Cikini Stone Complex pada Desember 1983, saat ini SLANK bukan hanya sebuah group band. SLANK konon berasal dari kata slengekan,…

Lanjutkan Membaca

terpikir pendidikan budi pekerti ala PLBJ

Sebagaimana biasa setiap awal tahun ajaran baru, aku menyampul buku anak-anak. Dimulai dari buku Gabriel (buku kelas 2 SD) karena buku abangnya belum diberikan oleh sekolah. Sambil menyampul aku tertarik mencari tahu, sebenarnya apa yang diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Karena rasanya waktu satu tahun cukup untuk mengenalkan (budaya) Jakarta. Kenapa…

Lanjutkan Membaca

terpikir penampil dan panggung pilihannya

Meskipun aku dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi aku tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapanku itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti Kalimat di atas adalah pembuka perikop yang dibacakan ketika menghantar Lady Di ke peristirahatan terakhir. Tanpa melihat sumbernya yang dari kitab suci, menurutku konteksnya masih nyambung dengan…

Lanjutkan Membaca