Masih ada hubungan dengan Layanan Pesan Singkat, dan apa yang hari ini dirayakan orang sebagai Hari Kasih Sayang. Sumbernya dari milis Batak Gaul dengan judul cowo batak yang tidak romantis. Pengirimnya : banrau06@xxxxx.com

SMS cowok batak yang romantis :
– Selamat hari palentin dek!! (pakai 2 tanda seru)
SMS pacarnya :
– Kok cm gt doank :-( (pakai emoticon-red)
SMS cowok batak yang romantis :
Bah..sudah hebat itu, biar tau kau hanya padamu SMS macam itu kuberikan..
SMS pacarnya :
Makasih..tapi mana coklatnya?
SMS cowok batak yang romantis :
Ah..coklat-coklat, kek anak kecil kau minta2 coklat..

Kebangetan juga ini detikcom. Meski ada ingkaran [disclaimer] yang menyatakan bahwa Kolom Lima Alinea-nya yang ditulis seorang wartawan yang bernama Chaidir Anwar Tanjung, adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan institusi tempatnya bekerja. Bang Tanjung menulis bahwa masih untung Megawati menyebut Pemerintahan SBY menari Poco Poco dan bukan Manortor. Sebab menurut beliau, dalam manortor hanya ada gerakan lambat seperti siput, tapi jari penarinya saling bergerak untuk menjepit uang.

Entah, apakah dia berpihak kepada Megawati atau SBY sehingga berpendapat demikian. Enggak tau juga, apakah aku yang belum mempelajari sepenuhnya adat Batak, atau Bang Tanjung ini. Karena menurut aku apa yang disampaikannya tidak sepenuhnya benar. Apalagi Bang Tanjung menambahkan, manortor baru afdol kalau ada yang memberikan uang ke jemari penarinya. Bang Tanjung masih menambahkan, kalau orang Batak berkata, hepeng do mangatur negaraon [Uanglah yang mengatur negara]. Seolaholah ini adalah prinsip orang Batak. Padahal ungkapan itu muncul karena negara di ini korupsi sudah berjamaah. Segala urusan memerlukan uang pelicin. Mirip dengan akronim SUMUT [Singkatan untuk Sumatera Utara] yang dipanjangkan menjadi Semua Urusan Melalui Uang Tunai.

Kembali ke masalah manortor, manortor adalah tarian khas suku Batak. Ada beragam jenis tortor. Beragam pula gerakannya. Aku gak tau persis tortor apa yang gerakannya seperti digambarkan Bang Tanjung yang gerakannya lambat seperti siput. Dan dalam acara adat apa tortor itu dipakai. Yang pernah aku ikuti, bahkan dalam proses kematian Ompung [kakek] ku gerakan tortor yang kami [cucu-cucunya] lakukan adalah gerakan tortor yang gembira. Karena demikianlah kepercayaan yang kami anut. Apalagi kalau yang meninggal telah gabe. Semua anak-anaknya telah menikah, dan telah memberi cucu kepada yang meninggal. Baik dari anaknya lelaki maupun perempuan. Upacara adat kematian seperti ini, sering disebut juga Saur Matua. Disitulah anehnya. Acara yang mestinya penuh dengan dukacita, kami [warga Batak] rayakan dengan sukacita.

Mungkin memang ada jenis tarian tortor yang gerakannya lambat seperti siput dengan jari penarinya saling bergerak menjepit uang, sebagaimana digambarkan Bang Tanjung. Namun mungkin dia lupa kalau tangan sang penari menjepit uang, tentu saja ada yang memberi uang. Nah si pemberi uang itu, memberikannya dengan manortor. Kalau sudah begini, sisi panortor [penari] manakah yang sebenarnya diambil sebagai analogi oleh Bang Tanjung, untuk menggambarkan pemerintahan SBY? Biarlah hanya dia yang tau !

Bulan lalu, Mama khusus mengirim sms menanyakan apakah aku pernah bertemu dengan seorang teman SMP-ku yang kebetulan tinggal dekat rumah di Medan. Mama menanyakan ini kepadaku karena konon katanya sang teman bekerja di industri yang sama dengan tempatku bekerja. Bursa Efek!. Sebenarnya hal itu belum yang utama. Yang lebih menghebohkan tetangga di lingkungan kami itu, sang teman baru saja mudik untuk ‘meresmikan’ selesainya renovasi rumah yang ditinggali orang tuanya di Medan. Tidak cukup hanya membangunkan rumah yang katanya lumayan megah, sang teman juga membelikan sebuah Innova kepada orangtuanya dan dua buah angkot buat saudaranya. Sesuatu yang terus terang membuatku sempat kagum sekaligus khawatir.

Kagum karena menurutku sang teman berhasil membuat bangga orangtuanya. Karena usia kami yang sebaya menurutku kehidupan sang teman telah berada jauh di tingkat mapan. Saat aku baru bisa menabung sedikit untuk membeli rumah buat keluarga kecilku, sang teman telah jauh meninggalkanku dengan membangunkan rumah plus membeli perlengkapannya kepada orangtuanya. Saat itu, aku hanya bilang ke Mama kalau memang sang teman bekerja satu industri denganku aku bisa cari tahu keberadaan dia. Aku juga bilang saat ini orang sering rancu membedakan antara Bursa Efek dengan Bursa Berjangka. Namun aku berjanji untuk mencari tahu juga. Dan beruntung ada google. Aku berhasil ketemu dan berbicara melalui telepon dengan sang teman hanya dengan mengetik namanya di mesin pencari itu. Dugaan awalku benar. Dia bekerja di satu perusahaan yang menjadi anggota Bursa Berjangka.

Namun kekagumanku diikuti dengan rasa khawatir karena belakangan Bursa Berjangka menuai banyak berita miring. Banyak pihak yang merasa dirugikan dengan maraknya upaya penipuan yang mengatasnamakan instumen perdagangan di bursa berjangka. Semacam index Hang Seng, Future Trading dan sejenisnya. Namun aku mencoba menghilangkan kehawatiran itu dan tetap berpikir positip bahwa aku punya seoran teman yang hebat!. Aku berharap satu saat aku bisa bertemu dengan sang teman untuk sekedar berbagi cerita soal masa lalu dan sekarang.

Sampai kepada minggu lalu saat koran dipenuhi dengan headline soal menghilangnya seorang bernama Leonardus Patar Muda Sinaga dengan membawa serta keluarganya dan uang ‘nasabah’ sebesar 2 Triliun Rupiah !. Modus operandi yang digunakan bang Naga satu ini, tidak jauh berbeda dengan yang digunakan oleh QSAR serta Ibist yang juga sempat heboh itu. Dengan iming-iming memberi keuntungan 2 persen sebulan, bang Naga berhasil memikat ratusan orang yang ingin menggunakan jalan pintas untuk segera kaya. Sesuatu yang tidak masuk akal sehat saat perbankan hanya memberi bunga dibawah 10 persen setahun !.

Mendadak aku ingat lagi dengan sang teman. Aku ingat nama perusahaan tempat dia bekerja mirip dengan perusahaan bang Naga yang digunakan untuk menggalang dana besar itu. Ternyata benar. Keduanya masih dimiliki oleh bang Naga. Selain itu masih ada satu Perusahaan Efek yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

Kekhawatranku ternyata ada benarnya juga. ditambah dengan Minggu pagi aku membaca nama sang teman di harian Pos Kota. Bersama dengan Direkturnya, dia menjadi tersangka dan sedang diinterogasi di Polda Metro Jaya. Buru-buru aku menelepon ke Mama untuk mengabarkan soal ini. Mama kaget. Aku bilang ke Mama, tak apalah aku belum bisa membangunkan rumah megah untuk dia. Daripada aku harus ke Komdak dan menginap di sana. Si Mama hanya ketawa saja.

Mudah-mudahan apa yang terjadi dengan sang teman [juga bang Naga] menjadi yang terakhir terjadi di Republik ini. Sah-sah saja orang kepengen cepat kaya. Namun yang aku tahu selain mendapat warisan :-p, kerja keras hanyalah satu-satunya cara untuk mencapai apa yang sering disebut orang Kebebasan Finansial [jangan tanya aku maksudnya jargon ini :-)].

Kalau boleh memberi pesan, bila ingin berinvestasi ada banyak cara yang halal dan benar. Masih banyak pilihan masuk akal. Mulai dari menabung di bank, membeli properti, membeli emas, juga bisa berinvestasi di pasar modal atau pasar komoditas. Selain itu, satu yang paling penting diingat adalah hukum dasar investasi. High Risk, High Return. Tidak ada high return yang low risk.

Bila ingin belajar investasi di Pasar Modal, silahkan hubungi BEJ. Karena tiap hari Rabu ada kelas pengenalan Pasar Modal. Selain itu BEJ juga sedang promosi dengan slogan Tahu caranya, tahu resikonya pasti tahu keuntungannya !. Kalau tidak salah Bursa Berjangka Jakarta juga mempunya program serupa.

[untuk seorang teman yang sekarang jadi ‘tamu’ Kombes Carlo B. Tewu]

Tanggal 22 Desember di Indonesia setiap tahun dirayakan sebagai hari ibu .Konon pemilihan tanggal ini sebagai hari ibu karena pada tanggal inilah, tujuhpuluh tujuh tahun lalu diselenggarakan kongres perempoean pertama Indonesia di Jogjakarta.

Perayaan hari ibu tahun ini memberi pengalaman lain buat keluargaku. Ibuku harus menjalani Masektomi [pengangkatan payudara]. Dikarenakan ada tumor di payudara. Meski menurut pemeriksaan laboratorium, tumor ini masih stadium 1-2 [istilah kedokteran yang susah buatku untuk menjelaskannya], kami sekeluarga -aku sebagai anak tertua,istri,adik-adikku dan Tulang [saudara ibu tertua] sepakat dengan saran dokter bahwa pengobatan yang dilakukan haruslah dengan Masektomi.

Alasan utama adalah,sebelum penyakit ini menjalar kemana mana lebih baik diisolasi saja.
Mendengar hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap jaringan yang telah diangkat lebih dahulu pada tanggal 3 Desember 2005 lalu, ibuku menangis. Meski kepada dokter beliau mengatakan siap untuk menjalani Masektomi secepatnya, aku yakin dalam hati kecilnya beliau shock berat dan tak sepenuhnya bisa menerima. Sebagai laki-laki [meski tak sepenuhnya mengerti perasaan wanita mendengar kabar seperti ini] aku bisa memahami bagaimana sedihnya ibuku mendengar kenyataan ini. “Aku harus kehilangan sesuatu yang diciptakan Tuhan. Sudah tidak sempurna lagi” katanya. Namun mau tidak mau tindakan kedokteran ini haruslah dijalani. Keluarga kami tidak mau kalau hal ini tidak dilakukan sekarang,penyesalan lebih besar datang di kemudian hari. Sudah banyak cerita dan kisah yang kami dengar seputar penyakit seperti ini. Meski kami percaya bahwa semua sudah ditentukan oleh Sang empunya hidup, kami juga percaya bahwa manusia diberi kemampuan untuk mengobati penyakit yang diderita manusia.

Kami sekeluarga perlahan-lahan membujuk,memberi pengertian serta membesarkan hati beliau. Bahkan sejak awal sekali tanda-tanda penyakit ini terdeteksi. Kesempatan mudik lebaran kemarin kami sempatkan untuk melakukan pemeriksaan intensif [USG dan Mammografi] di Medan. Kami juga menyarankan agar beliau segera ikut kami ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sempat terpikir untuk menjalani pemeriksaan di rumah sakit di Penang,Malaysia. Tempat dimana telah menjadi alternatif pertama oleh banyak penduduk di kota Medan untuk tindakan-tindakan operasi. Alasan yang lebih masuk akal adalah, dibandingkan dengan Jakarta biaya di sana sering lebih murah. Akhirnya kami memutuskan untuk dilakukan di Jakarta saja. Sebab disini ada Tulang yang kebetulan dokter dan punya beberapa kolega yang bisa menanganinya. Kami juga berharap dengan demikian kami lebih bisa memahami alasan serta tindakan kedokteran yang akan diambil. Sesuatu yang belum tentu kami dapatkan kalau tidak kami lakukan di Jakarta.

Operasi pertama dilakukan tanggal 3 Desember di RS FK UKI di Cawang. Operasi Masektominya dilakukan di RS PGI Cikini tanggal 22 Desember. Yang mungkin membuat ibu semakin sedih,operasinya justru dilaksanakan tepat di hari ibu dan oleh karena masih dalam proes pemulihan pasca operasi, kami mesti merayakan malam Natal di rumah sakit.

Meski harus bolak-balik Jatibening, Cikini, Semanggi [kantorku], Pluit [kantor istri], Grogol [aku harus ujian tengah semester mata kuliah Rekayasa Keuangan] dan Kebonjeruk [sementara Yeremia kami ‘ungsikan’ ke rumah mertuaku], serta pindah tidur di kamar perawatan rumah sakit, kami menikmatinya karena semua demi kesehatan beliau.

Untuk para ibu, terutama ibuku, istri dan ibu mertuaku SELAMAT HARI IBU!

Hati-hati berdoa untuk anak :-)

sumber : Forward dari Mawar

Togar dan Ucok adalah sahabat karib dari Tapanuli, merantau ke Jakarta dan mencari pekerjaan. Togar menjadi sopir metromini dan Ucok kondekturnya merangkap kernet. Mereka tak terlalu puas dengan profesi baru mereka, tetapi apa boleh buat cuma itu yang mereka dapat.
Suatu hari sewaktu ngetem Ucok curhat sama Togar, (dg logat Batak):
?Gar,setelah aku pikir-pikir mungkin makku salah berdoa?. Dia berdoa, kelak bila aku besar, aku naik turun mobil, pegang duit banyak……….bah itu kan pekerjaan kondektur?!!.