03. Desember 2004 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Pernah gak ngalamin perasaan gak enak karena merasa berada di tempat yang salah ?. Aku merasa itulah yang sekarang dialami oleh dua orang kru anteve yang ikut menjadi korban kecelakaan Lion Air kemarin.

Sebagaimana sudah kita ketahui, Selasa 30 Nopember kemarin, sebuah pesawat MD 82 milik Lion Air tergelincir di Bandara Adi Sumarmo Solo dan menyebabkan 23 penumpang meninggal dan 61 orang luka-luka. Segera setelah kejadian, malam harinya hampir semua stasiun televisi menyiarkan laporan terkini kecelakaan ini. Yang menarik adalah, beberapa diantara stasiun televisi itu menempelkan cap exslusif dalam laporannya. Karena kebetulan ada beberapa wartawan mereka yang sedang berada di tempat kejadian.

Aku menduga, kehadiran mereka di sana merupakan hal yang kebetulan. Kebetulan karena ada penugasan untuk meliput Muktamar NU yang dilaksanakan di Boyolali -Solo. Bahkan dua orang jurnalis stasiun anteve merupakan penumpang pesawat naas itu. Di sinilah punca masalahnya. Sebab, begitu tragedi itu terjadi mereka mendapat kesempatan pertama untuk mengambil gambar situasi di pesawat. Mungkin memang benar seperti kata mereka dalam beberapa kesempatan, naluri jurnalis langsung memaksa mereka untuk mengaktifkan kamera yang ada. Ternyata penyalaan kamera dalam situasi gelap gulita memberi berkah sendiri. Karena lampu dari kamera menjadi suluh buat penumpang untuk menyelamatkan diri.

Namun apa yang terlihat di layar kaca tidaklah sesederhana itu. Upaya jurnalis tersebut memberi gambaran kejadian ditanggapi berbeda. Dalam milis dan beberapa bulletin board friendster aku membaca kecaman dari pemirsa televisi atas apa yang mereka kerjakan. Para pemirsa tidak bisa menerima tindakan mereka yang mengambil gambar sementara masih ada korban yang butuh pertolongan. Bukan hanya itu, dalam Bincang-Bincang di anteve semalam ada pemirsa yang langsung menyayangkan sikap jurnalis itu. Untungnya keduanya dapat menjawab.

Mereka hanya bilang, soal naluri jurnalis mereka. Selain itu mereka juga bilang menghadapi dilema. Satu sisi harus menjalankan tugas dan di sisi lain harus memberi pertolongan kepada korban lain. Yang menarik adalah kalimat penutupnya, “kami juga tidak mengharapkan berada pada posisi seperti itu“. Siapa yang mau ? Anda ?

1 Komentar

  1. ikutan gabung………..
    oha…..curhat ama Pdt. Alde Simanjuntak …….mana yakc !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *