23. April 2008 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Seminggu terakhir, aku sering menggunakan jas selama bekerja di kantor. Bukan apa-apa, sepertinya ruang kerja yang di lantai 4 ini lebih dingin daripada waktu masih di Ground Floor dulu. Sebelumnya aku mengatasi rasa dingin itu dengan menggunakan jaket. Minggu kemarin, aku menggunakan jas sebagai pengganti jaket.

Memang jas yang aku gunakan, tidak berkesan resmi. Karena selain warnanya yang bukan ‘warna resmi’ [hitam, coklat atau biru dongker, misalnya], jas yang kugunakan bercorak garis-garis yang saling silang-menyilang berwarna dasar hijau. Selain itu, aku juga sering menggulung lengan jas tersebut. Bukan apa-apa, terus terang mengetik di papan kuncinya agak ribet. Selama ini tanpa jas juga, lengan kemeja sering aku gulung.

Sebagaimana aku duga sebelumnya, ada saja yang komentar. Dari komentar yang ada, aku menangkap kesan bahwa kalau pakai jas itu adalah bos. Seolah, kalau aku menggunakan jas, gak pantes. Hahahahaha….aku merasa lucu saja. Memang katanya budaya jas tidak sesuai dengan iklim negara ini. Konon katanya orang Amerika menggunakan jas juga, karena iklim negara mereka tidak sehangat dsini. Makanya, kalau melihat film Hollywood, santai saja warga Amerika berjalan di jalanan menggunakan jas. Sementara kalau hal itu dilakukan disini, di Jakarta, bisa dipastikan sampai di tujuan, kita serasa baru keluar dari ruang sauna karena keringat yang mengucur.

Aku teringat, beberapa tahun lalu, aku menggunakan kemeja batik ke kantor pada hari Jumat. Bukan apa-apa. Aku sekedar mengikuti kebiasaan pegawai Bank BNI yang melakukan hal yang sama, bahkan sejak almarhum Bapakku masih aktif sebagai pegawai disana. Komentar teman-teman juga adalah, ‘Mo kondangan dimana?’ Sekarang, banyak rekan-rekan kantor yang menggunakan kemeja batik ke kantor. Tapi aku tidak pernah mendengar ada yang bertanya sama kepada mereka, sebagaimana yang dulu ditanyakan kepadaku.

Aku rasa ini yang disebut belenggu pemikiran. Sebenarnya, sah-sah saja sesuatu yang diluar kelaziman menjadi perhatian. Namun, tentunya bukan hal yang tidak bisa dilakukan. Hidup terlalu indah untuk dibuat monoton. Kadang kita perlu keluar dari belenggu pemikiran itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *