08. Juli 2008 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Nyaman! Mungkin itu yang dicari orang, selain uang dalam bekerja [mungkin ‘mencari nafkah’ kalau menggunakan bahasa baku]. Apa ukuran kenyamanan? Masing-masing orang memiliki ukuran berbeda-beda.

Yang terutama, tentu saja penghasilan. Penghasilan harus sama dan kalau bisa lebih besar dari pengeluaran. Kalaupun belum bisa sama, mungkin pengeluaran yang harus dikecilkan. Syukur-syukur penghasilan lebih besar daripada pengeluaran plus investasi [menabung misalnya].

Ada juga yang mempertimbangkan waktu kerja. Ukuran orang Indonesia, sembilan jam adalah waktu rata-rata. Masuk pukul delapan pagi, pulang pukul lima sore. Ada juga perusahaan yang mengatur jam kerjanya tidak persis sama seperti itu. Maksudnya, masuk kerja mungkin bisa delapan tiga puluh, pulang kerja bisa lima tigapuluh sore hari. Yang penting tetap sembilan jam [tentunya termasuk jam istirahat satu jam]. Namun ada juga yang jam kerjanya kurang dari sembilan jam.

Faktor lain mungkin, dekatnya tempat kerja dengan tempat tinggal. Kalaupun tidak, tempat tinggal didekatkan ke tempat kerja. sudah pasti pilihan ini mempengaruhi pengeluaran. Dan kalau hitung-hitungannya masih nyambung sebagaimana diatas, sah-sah saja dilakukan.

Berikutnya entah faktor ini layak disebut sebagai faktor penentu atau tidak, suasana tempat kerja [meski kadang hal ini diluar kendali kita, dan sepertinya harus ada penelitian lagi soal benar atau tidaknya faktor ini menentukan pilihan tempat bekerja]. Ada banyak faktor yang bisa dmasukkan kategori ini. Misalnya saja, pergaulan dengan sesama pekerja, hubungan atasan bawahan, kesempatan untuk bekerja sambil kuliah, atau bahkan kemungkinan bisa nyambi browsing atau disediakan fasilitas email :-).

Aku pikir, siapapun yang bekerja, ada satu atau lebih faktor diatas yang menjadi pertimbangannya dalam memilih sebuah tempat mencari nafkah. Hal tersebut berlaku untukku, sebagai pekerja. Hal tersebut juga berlaku untuk orang yang aku pekerjakan [pembantu rumah tangga misalnya].

Hal ini terpikir lagi buatku, malam ini. Asisten rumahtangga yang biasa menemani Yeremia dirumah, mendadak mengundurkan diri. Selama ini asisten rumahtangga ini, sesuai kesepakatan kerja awal bertugas mengurus Yeremia selama hari kerja. Karena bila libur, Yeremia urusan Bapak dan Bundanya. Untuk urusan cuci dan seterika pakaian, kami mempekerjakan seorang asisten lagi, yang kebetulan bertempat tinggal tidak jauh dari kompleks.

Alasan pengunduran dirinya adalah, diterima bekerja di sebuah pabrik yang memberi penghasilan sekitar satu setengah kali dari yang kami berikan selama ini sebulan. Bila dilihat dari alasan penghasilan tersebut, terang saja pilihannya tidak salah. Bahkan tepat.

Mungkin benar kalau dia memperoleh penghasilan lebih besar, namun tentu saja ada ‘pengeluaran’ lain yang mungkin tidak diperhitungkan. Tempat tinggal dan makanan misalnya. Atau Sebagai asisten rumahtangga dia tidak perlu memikirkan hal tersebut. Karena toh dia tinggal dirumah kami. Perlengkapan pribadinya, seperti sabun atau sampo, kami sediakan.

Sebagai orang yang juga bekerja kepada pihak lain, kami mecoba berempati kepada pekerja dirumah kami. Makan tidak perlu sungkan untuk mendahului kami yang menggajinya. Kalau lapar silahkan makan lebih dahulu. Di kulkas ada coklat atau sirop, misalnya, tidak pernah kami batasi untuk turut dinikmati olehnya. Bulan Ramadhan, kami persilahkan dia untuk menentukan sendiri menu apa yang diinginkannya sebagai menu buka puasa. Atau menu untuk sahur waktu sebelum subuh. Kami tinggal memberi uang untuk dia membeli dan mengolah sendiri.

Untuk kasus pengunduran diri ini, kami hanya berharap mudah-mudahan hal tersebut sudah menjadi bahan pertimbangannya dalam menerima penghasilan satu setengah kali tadi. Sebab pengalaman kami dengan asisten rumah tangga sebelum dia, membuktikan bahwa ternyata ada pertimbangan lain yang harus diperhitungkan sebelum memutuskan pindah bekerja.

Mereka [ada dua orang sekaligus, satu mengurus Yeremia, satunya mengurus rumahtangga seperti memasak, menyapu dan mencuci] seolah bersepakat untuk mengundurkan diri sehabis Lebaran terakhir. Padahal ‘fasilitas standar’ asisten rumahtangga kami, sama saja. Mereka berdua bahkan bebas bila hendak keluar malam hari, sekedar untuk mengunjungi pasar malam yang kebetulan berada dekat kompleks. Bahkan sempat nonton sinetron atau infotainment sore hari. Kami tinggal tanya artis ini apa kabarnya, lagu ini siapa penyanyinya. Sinetron anu, sudah sampaii mana ceritanya. Sebelum pamitan untuk mudik lebaran kami masih memberi sangu THR plus masing-masing sebuah penanak nasi bertenaga listrik untuk dibawa mudik.

Untuk mereka berdua, kami tidak mencoba terlalu membujuknya agar tetap bekerja dirumah kami. Karena kami percaya bahwa mereka telah cukup dewasa untuk menentukan mana yang terbaik buat mereka. Terbukti memang bahwa fasilitas yang kami berikan masih lebih baik dari yang mereka dapatkan di tempat yang baru sekarang. Ini kami ketahui dari curhat mereka kepata asisten cuci gosok tadi.

Ditempat yang baru, ternyata tidak sebebas dirumah kami. Tidur lebih larut, tidak ada pasar malam, tidak bisa menonton sinetron atau infotainment sore hari, dan lainnya. Kalau sudah begini, tentu saja kami tidak bisa berbuat apa-apa.

Sekarang tinggal kami yang kembali dipusingkan dengan suasana yang biasanya melanda rumahtangga di Jabodetabek setelah lebaran. Mencari asisten rumahtangga yang baru. Ada saran?

1 Komentar

  1. r.h. sibuea

    Horas…
    Syalom…
    Biasanya pengeluaran mengikuti pemasukan…biasanya katakanlah gaji kita Rp. X, makan di selevel Warteg, Naik Angkot dan Baju beli sepasang sekali setahun. Ketika gaji naik menjadi Y, makan Warteg, Naik motor dan nyicil, dan beli baju dua pasang setahun..dan seterusnya nggak usah dibilang lah lae…jika mobil kijang, terus kuda, jaguar dan seterusnya.

    Susahnya ketika gaji Rp. Z berubah menjadi Rp. X, stroke akan datang cepat, sindrom mulai membuat kepala botak dan utang mulai diakrabi…karena pilihanya tak mungkin kembali ke warteg, angkot…dan sebagainya.

    Tapi itulah hidup…saat sekarang dengan sepertinya gaji Rp. Z menjadi Rp. X karena BBM naik. Tidak hanya harga 9 BP, tapi juga transportasi, sekolah, rumah sakit ikutan meroket.
    Masih mau cari asisten? kayaknya ortu saja deh! Atau saudara yang ngangur….!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *