Beberapa tahun lalu saat mulai bekerja di kota ini terpikirkanlah olehku untuk memohon Kartu Kredit. Buatku alasannya sederhana. Hanya karena, dengan memilikinya gak perlu membawa uang banyak-banyak. Karena kalau belanja di tempat tertentu belanjaan kita akan dibayarin oleh penerbit kartu. Selain itu kebetulan ada teman yang menawarkan formulirnya karena ada program Member Get Member dari kartu yang dia punya. Sebuah bank asing yang dianggap pelopor kartu kredit di Indonesia. Langsung aku isi formulir dan melengkapi dengan persyaratan yang dibutuhkan. Tunggu punya tunggu tiada kabar. Sepertinya permohonanku tidak bisa disetujui. Aku gak tau kenapa. Kalau sekedar syarat penghasilan minimum, sudah pasti aku lolos.

Setelah berapa lama, aku coba bermohon lagi. Tapi kali ini di bank lain. Sebuah bank yang kebetulan menjadi bank pembayar gaji di perusahaan tempatku bekerja. Gak sampai sebulan permohonanku disetujui. Jadilah aku setiap hari membawa uang plastik itu.

Jalan beberapa tahun, beberapa kali aku menerima telepon dari tenaga pemasar di bank asing tadi. Tujuannya apa lagi kalau bukan menawarkan kartu kredit. Semuanya aku tolak. Terus terang alasannya karena merasa aneh saja, kenapa dahulu ditolak sekarang datang lagi dengan penawaran yang syarat-syaratnya sepertinya lebih mudah. Selain itu juga, bunga yang ditawarkan jauh lebih tinggi daripada kartu kredit yang sebelumnya aku miliki.

Tapi dua minggu lalu akhirnya aku mengirim permohonan kepada bank asing tersebut. Hampir sama dengan pertama kali bermohon, kali ini juga program semacam Member get Member. Aku direkomendasikan oleh seorang teman [thanks, buat Omar]. Dan kartunya telah aku terima kemarin. Gak tanggung-tanggung, kali ini jenis Gold !

Alasannya sederhana saja. Aku pengen punya akses ke Lounge yang biasanya ada di Bandara. Yang bisa akses ke situ kan hanya pemegang kartu gold saja. Kalau boleh menambahi lagi, alasannya adalah sedikit sakit hati. Soalnya waktu pulang ke Medan awal Oktober lalu, istriku ditanya kartu kredit di VIP Lounge yang ada di Bandara Polonia. Padahal waktu itu dia hanya minta sedikit air panas untuk bikin susu jagoan kecil kami.

Satu lagi, suasana ruang tunggu Polonia juga gak sehat buat Yeremia. Sudah lebih mirip terminal bis daripada ruang tunggu sebuah bandar udara. Penuh asap rokok ! Meski seorang perokok juga, aku masih tau diri untuk tidak merokok di sana. Padahal waktu akan naik ke pesawat kemarin itu Yeremia sempat tertidur. Dan aku mesti menidurkannya di ruang tunggu itu. Aku berharap dengan kartu ini aku bisa memberi sedikit suasana nyaman buatnya apabila nanti kami pulang ke Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *