31. Juli 2008 · 1 comment · Categories: Tak Berkategori

Keinginan tersebut bukan semata karena ketakutan akan efek dari pemansan global, meski jujur ketakutan itu ada. Apalagi setelah menyaksikan film An Inconvenient Truth yang mengganjar Al Gore memperoleh Nobel Perdamaian pada tahun 2007. Seingatku keinginan untuk menghijaukan pekarangan sekitar rumah menguat bersamaan dengan ramai-ramainya aksi goreng-menggoreng Anthurium sekitar setahun lalu. Bukan, aku tidak ikutan dalam latah-latahan Anthurium itu. Kecuali satu hal, menjadi pedagangnya. Memanfaatkan kegilaan orang dalam menghargai dedaunan yang terus terang memang hijau, dan kalau disantap sebagai lalapan akan menjadi lalapan termahal di dunia [pada masa jayanya]. Aku minta kepada ibuku di Medan untuk mengirim beberapa pohon yang tidak terlalu besar dan menjualnya kepada teman di kantor dengan untung yang lumayan. Aku sendiri, tidak terlalu berminat untuk ikutan memeliharanya. Karena sampai sekarang tidak mengetahui dimana letak mahalnya dedaunan tersebut.

Saat itu [saat antusias penggilanya sedang menurun] aku membeli sekantong benih Adenium berisi seribu. Sebagian kuberi kepada ibuku untuk dikembangkan di Medan. Sebagian lagi kuberi kepada mertua untuk dikembangkan di Kebonjeruk. Sisanya, sekitar dua pertiga, aku simpan sendiri untuk kukembangkan di Jatibening. Tidak aku tanam seluruhnya. Karena khawatir, tanpa pengalaman cukup dengan tanaman, investasiku tidak akan menguntungkan :-). Ternyata hasilnya lumayan. Aku memulainya dari menanam sepuluh butir benih di media serbuk pakis yang aku bikin di gelas pelastik kecil bekas air minum dalam kemasan atau bekas es krim. Besar sedikit, aku pindahkan kepot yang lebih besar. Demikian seterusnya hingga sekarang sudah lumayan banyak yang besar. Mungkin karena berjenis adenium [tepatnya adenium obesum], batangnya berbonggol besar di bawah. Meski belum ada yang berbunga.

Selain itu, aku juga ingin meniru ibu mertua yang membawa pulang sebatang Anggrek Bulan dari rumah sakit ketika Yeremia lahir. Ternyata dengan perawatan yang intensif, anggrek tersebut dapat bertahan hingga sekarang Yeremia berusia lima tahun lebih. Aku mendekati sekretaris direksi atau teman-teman di Divisi Sekretaris Perusahaan tempatku bekerja. Tujuannya adalah, apabila ada pergantian anggrek [yang biasanya diletakkan di lobby kantor atau ruang rapat direksi] dengan anggrek yang baru, aku minta ijin untuk bisa membawa pulang anggrek yang sudah layu. Cara tersebut membuat aku memiliki sepuluh batang anggrek yang terdiri dari dua jenis warna. Putih dan Ungu. Meski baru dua batang yang menghasilkan. Dalam arti mengeluarkan bunga baru. Namun sepertinya cara ini sudah tidak terlalu efektif. Entah karena beberapa teman tau trik yang sedang aku lancarkan, perburuan terhadap anggrek layu tersebut sedang terjadi ‘persaingan’. Sehingga tidak setiap dua minggu sekali aku mendapat batang baru. Konon kabarnya, para peminat digilir untuk mendapat jatah anggrek layu :-D. Tak apalah. Sabar…….

Ternyata memang tidak mudah merawatnya. Juga tidak sebentar. Seringkali saat akhir pekan kalau tidak ada acara pesta atau arisan, aku dan istri menyempatkan diri memberi perhatian terhadap anggrek dan tanaman lain di halaman. Kadang kami pergi ke Kalimalang di sekitar Universitas Borobudur untuk membeli perlengkapan bercocok tanam ini. Mulai dari pot dari tanah liat untuk anggrek, gantungan pot yang terbuat dari kawat, tanaman baru atau beberapa jenis pupuk.

Oh ya selain itu, kami pernah juga mendapat beberapa pohon buah dari Carrefour apabila sedang ada program promosi hypermart tersebut yang bekerjasama dengan Trubus. Dengan berbelanja sekian Rupiah, pelanggan diberi sebatang pohon sekitar tigapuluhan sentimeter. Terakhir ada program ini, kami bahkan sampai ‘memecah’ pembayaran belanja, agar mendapat pohon tidak hanya satu. Karena sebagaimana biasanya, promosi supermarket yang menggunakan nilai pembelanjaan adalah, tidak berlaku kelipatan. Dengan cara ini, kami mendapat tiga buah pohon. Dua mangga dan satu jeruk. Lumayan.

Cukup lama ketiga pohon tersebut terbengkalai karena kami belum memindahkannya kedalam pot yang lebih besar. Belum sempat membeli. Ataupun kalau sempat, pot dengan ukuran sebagaimana kami inginkan tidak tersedia di toko tanaman yang kami kunjungi. Baru hari ini ketiganya dapat dipindahkan. Itu juga bukan karena kami mendapatkan pot sesuai kemauan di toko. Namun karena ember untuk merendam pakaian yang dibeli ibuku yang kebetulan sedang merkunjung, ternyata berbahanbaku plastik daur ulang yang mengeluarkan bau tidak sedap. Jadilah penggunaan ember tersebut melenceng jauh dari tujuan asal :-D.

Selain itu, sore ini kami juga berkunjung ke toko tanaman yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah. Dari sana, selain membeli media tanah untuk mengisi baskom salah sasaran tadi, kami juga membeli beberapa batang anggrek dari berbagai jenis. Lumayan, dengan seratus ribu Rupiah kami menenteng delapan anggrek.

Selain itu kami juga akhirnya membeli sebatang pohon jambu air setinggi kurang lebih limapuluh sentimeter namun telah berbuah kecil-kecil. Namun meski berukuran kecil, jambu air tersebut telah merah dan telah manis rasanya.

Begitulah. Hari ini, halaman rumah kedatangan penghuni baru. Rencananya, Sabtu besok kami akan membuat gantungan untuk anggrek-anggrek itu. Dan sepertinya aku akan menghadapi ‘konspirasi jahat’ dari ibu dan istri. Sebatang cemara yang terletak di pojok halaman depan direncanakan untuk dipangkas habis sebagai tempat ‘menanam’ anggrek-anggrek yang ada.

Padahal kan aku ingin hijau ?

1 Komentar

  1. Pingback: terpikir indah pada waktunya « [menulis apa yang terpikir]

  2. Cantik-cantik fotonya ya !

    Salam !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *