AFI : Akademi Fantasi vs Akademi Fresiden

AFI : Akademi Fantasi vs Akademi Fresiden

Berakhir sudah Kontes Popularitas yang dikasih judul AFI 2 ! Kontes seri kedua dari kontes yang diadaptasi dari Meksiko ini menghasilkan juara yang menurut banyak orang layak menjadi juara. Bukan apa-apa, kemampuan menyanyinya [kemampuan utama yang dipertontonkan] memang di atas rata-rata peserta lain. Mudah-mudahan aja hasil ini bisa dipakai penyelenggara untuk ‘membersihkan’ namanya. Tapi yang menarik bukan dari sisi isi ajang ini. Karena dalam posting terdahulu aku sudah bahas ini dan aku tetap pada pandanganku bahwa ini memang ajang mencari popularitas buat pesertanya dan ajang mencari fulus buat penyelenggaranya.

Dalam malam Grand Final kemarin ada dua orang calon Presiden yang ikut menyumbangkan suara. Calon dari Partai Golkar dan calon dari Partai Demokrat. Semantara calon dari Partai PDIPerjuangan, ya seperti biasa kalau hubungan dengan media…hanya mengirim Puan Maharani. Selain menyanyi, kedua peserta AFI versi KPU [Akademi Fresiden Indonesia] ini juga dikasih komentar oleh para komentator. Sementara calon Presiden dari PAN, tidak hadir. Mungkin karena pada final pertama sudah hadir.

Yang menarik [meski sudah tau kalau dua CaPres itu akan membantah kalau dikatakan sedang kampanye] aku merasa mereka cukup pas berkampanye dan memasuki area AFI ini. Apalagi SBY yang di salah satu iklannya mencoba masuk ke pasar anak muda. Semakin klop lagi karena SBY membawakan lagu Pelangi di Matamu punya Jamrud. Sementara Wiranto, membawakan ‘lagu berat’ [aku gak ingat judulnya] ciptaan dari Edward Janner Sinaga [kalau gak salah, Pak Sinaga ini pernah jadi Dirjen di departemen Penerangan].

Tapi diatas semuanya, aku dan mungkin banyak anak bangsa yang lain berharap satu. Hasil Pemilu kali ini berbeda dari hasil AFI. Kenapa ? Karena seperti yang aku katakan di atas, AFI lebih berat kontes popularitasnya daripada kontes kemampuan nyanyi. Jadi yang berharap Pemilu 2004 menghasilkan Presiden yang berkualitas dan bukan Presiden yang populer silahkan mengacungkan tangan.

Dipos di Tak Berkategori
2 Komentar Tambahkan milikmu
  1. You’re blogging has really come on when I look back over previous posts. Actually I arrived here from a forum on an unrelated topic. Worth surfing sometimes. Thanks.

  2. http://www.writespirit.net
    The aim of life is to live a divine life. We are living in this world. We know that man does not live by bread alone. He needs the soul in order to live in the world of God’s Reality. The soul alone has the capacity to see and feel the known and the Unknown, the existent and the non-existent, the dream of the past, the achievement of the present and the hope of the future.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.