26. Februari 2003 · Write a comment · Categories: Tak Berkategori

Front Pembela Inul (FPI) dan Aliansi Penggemar Inul (API) Menuntut Keadilan

Oleh Adhie M Massardi

“Kami minta tokoh masyarakat, para pemuka agama, khususnya yang bernaung di bawah bendera MUI, untuk bertindak adil. Pengharaman, hujatan dan imbauan agar Inul “Si Pengebor” Daratista dicekal di TV dan media lain juga diberlakukan kepada Akbar Tandjung Si Pengebor Dana Bulog, Laksamana Sukardi si pengebor BUMN, Megawati si pengebor kantong perekonomian rakyat dengan manaikkan sejumlah tarif seenaknya, dan para konglo hitam yang mengebor dana BLBI hingga triliunan rupiah!” Demikian pernyataan sikap yang telah disiapkan Siska, 25 tahun, untuk dibagikan kepada pers dan anggota masyarakat lainnya.

Pernyataan ini dibuat untuk menyikapi sekelompok kecil orang yang sirik atas sukses Inul meraup uang berjuta-juta hanya dengan memutar bak gasing pantatnya yang semok itu.

Padahal hampir semua anggota DPR dan benggolan politik nasional harus memutar lidah dan wajah untuk mendapatkan uang sejumlah yang diperoleh Inul.

Makanya, jangan heran bila banyak orang kemudian membandingkan pantat Inul dengan wajah para anggota DPR dan benggolan politik kita. Dan banyak orang menilai: Pantat Inul tetap lebih baik!

Tapi siapakah Siska lesung pipit yang manis dan berkacamata minus itu? Sahabat istri saya ini adalah penggagas sekaligus pimpinan API (Aliansi Penggemar Inul). Ia dan teman-temannya mendirikan API sebenarnya bukan sungguh-sunguh karena gandrung pada gayangebor Inul.

“Kami hanya ingin menggunakan (pantat) Inul sebagai momentum kebangkitan gerakan moral untuk mengganyang para pemimpin gadungan di negeri ini, baik yang di legislatif, yudikatif maupun eksekutif. Kami tidak ingin mengotori tangan kami untuk menempeleng meraka. Tangan-tangan kami terlalu suci dibandingkan wajah umumnya anggota DPR, Hakim, Jaksa, Ketua-ketua Partai. Jadi biar kami sikat mereka pakai pantat Mbak Inul!”

Begitu Siska menjawab pertanyaan pers nasional dan internasional. Siska ternyata tidak sendirian. Di wilayah lain, teman saya Hassan yang keturunan Arab (karena itu sering dipanggil Habib meskipun bukan trah Nabi) tapi sangat anti-diskriminasi hukum, sudah mengumpulkan sejumlah orang. Dia kibarkan bendera Front Pembela Inul (FPI).

Seperti Siska, tujuan Hassan bukan untuk melestarikan “goyang pengeboran” khas cewek Pasuruan itu. “Saya bersama teman-teman ingin menegakkan rasa keadilan masyarakat. Jadi kalau Inul yang hanya mengebor angin dengan bokongnya, dan tidak melukai siapa-siapa harus mendapat sangsi sosial yang begitu kejam, kami akan bergerak menyatroni rumah-rumah para bajingan politik yang telah mengebor kekuasaan dan merampok uang rakyat habis-habisan. Akan kami tenteng mereka. Akan kami telanjangi mereka. Akan kami pertontonkan mereka di tempat-tempat terbuka agar semua orang tahu apakah mereka masih punya kemaluan apa tidak!”. Begitu kata “Habib” Hassan berapi-api.

Ketika diberitahu wartawan bahwa telah lahir Aliansi Penggemar Inul pimpinan Siska dan hendak menggelar demo besar-besaran, Hassan mengaku siap bergabung. Maka lewat HP si wartawan yang telah tersambung dengan tokoh API, Hassan pun langsung menyatakan siap berkoalisi. Janji pertemuan pun diatur dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Syahdan, Anas, teman saya yang lain yang dibesarkan di pesantren terkenal di Jawa Timur, mendeklarasikan Jamaah Inuliyah untuk menampung semua orang yang pro-Inul, atau yang mau menggunakan ikon Inul sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang korup dan semena-mena.

Tapi Anas masih bingung memilih tokoh yang bisa dinobatkan sebagai Imam Besar Jamaah Inuliyah. Ia lalu minta pertimbangan saya tentang usulan beberapa tokoh pro-demokrasi yang menyebutkan nama Taufik Kiemas, suami PresidenRI, cocok menjabat Imam Besar Jamaah Inuliyah.

“Kata mereka, Pak TK kansalah satu penggemar berat Inul di tingkat benggolan politik nasional, selain pimpinan departemen,” kata Anas menirukan saran para tokoh pro-demokrasi. Saya bilang, “Kamu jangan terprovokasi, Nas. Di zaman sekarang, kamu bisa dituduh subversi dan ditangkap polisi kalau menjalani nasihat mereka!”

Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Tapi saya dengar API (Aliansi Penggemar Inul) dan FPI (Front Pembela Inul) akhirnya merger dengan Jamaah Inuliyah. Massanya ternyata sangat besar. Mereka mulai marah dan bergerak ke kantor MUI.

Mereka minta lembaga keagamaan itu juga memanggil para benggolan politik yang mengebor negara-bangsa hingga rakyat melarat tapi baru fotonya dibakar mahasiswa saja marahnya nggak karu-karuan. Jamaah Inuliyah juga minta MUI mengharamkan korupsi, mengharamkan uang hasil korupsi, dan menajiskan keluarga koruptor yang telah memakan hasil korupsi.

Bagaimana hasilnya? Belum tahu. Yang jelas, pihak Amerika Serikat konon akan memasukkan JI (Jamaah Inuliyah) dalam daftar teroris.

Sebab anggota Jamaah Inuliyah hanya mau nonton Inul, dan meninggalkan seluruh tontonan lain yang bukan Inul, terutama produk AS dan negara-negara Barat lainnya. Rupanya Jamaah Inuliyah lebih radikal dalam anti-AS dan anti-Barat dibandingkan kelompok fundamentalis jenis apa pun. Hidup Inul!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *