From picture2blog

Bayangkan hal ini.

Seorang perempuan bekerja, yang sedang hamil 35 (tiga puluh lima) minggu, bersiap untuk cuti melahirkan. Dokter Panjaitan, sudah memberi kabar bahwa, dalam hitungan hari kelahiran akan dijelang. Mestinya, Jumat siang ini adalah jadwal terakhir untuk menentukan usia kandungan. Berapa persisnya usia kandungan serta bagaimana kesiapan sang ibu dalam menyambut kelahiran yang direncanakan melaluicara sectio (caesar).

Mendadak sebelum makan siang, bos mengajak meeting setelah makan siang. Janji dengan dokter ditunda, beres beres pekerjaan dikebut. Demi menjaga agar selama cuti tiga bulan, tidak ada pekerjaan yang sedang berjalan, menjadi terkendala. Meeting pada hari terakhir bekerja mustinya membicarakan perihal penting. Semua seolah berkejaran dengan waktu, emosi dan tenaga (mondar mandir dengan perut besar?).

Meeting dilaksanakan setelah makan siang. Agendanya ternyata hanya satu. Penandatanganan surat pengunduran diri!. Bos sudah menyiapkan. Tinggal ditandatangan. Alasannya hanya satu. Kami melakukan semua ini sebisa mungkin dengan mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Ibu hamil kaget. Usaha mendebat tidak berguna. Karena si bos telah menitahkan bahwa si ibu tak bisa keluar ruangan meeting tanpa terlebih dahulu menandatangani surat pengunduran diri.

Bersama surat pengunduran diri, si bos menyiapkan surat pernyataan bersedia menerima kompensasi sejumlah uang. Meski demikian, si ibu melihat apa yang terjadi sebenarnya lebih mahal dari nilai kompensasi yang bakal diterima.

Pertama, perlakuan manajemen yang tidak konsisten. Surat permohonan cuti telah disetujui jauh hari. Kedua, pemutusan hubungan kerja kepada perempuan yang sedang hamil, melahirkan atau menyusui, dilarang oleh Undang Undang Ketenagakerjaan. Apabila dilakukan, hal tersebut batal demi hukum dan perempuan yang diputuskan hubungan kerjanya dalam kondisi demikian, wajib dipekerjakan kembali. Ketiga yang paling fatal adalah, melakukan intimidasi kepada perempuan yang sedang hamil besar, bukanlah perbuatan manusia.

Kira-kira begitulah kejadiannya, tanggal enam Februari lalu. Dialami oleh istriku, tepatnya. Mendapat berita seperti itu melalui telepon, aku merasa ditampar. Perlakuan serupa itu, belum pernah aku alami. Perlakuan semena-mena pemberi kerja kepada pekerja, beberapa kali aku baca dan temui. Sedikit banyak aku memahami peraturannya. Karena kebetulan pernah diberi amanah menjadi pengurus Serikat Pekerja.

Ingin melawan, saran beberapa teman membuatku sadar. Bahwa saat ini kami sedang dihadapkan pada dilema. Langkah apapun yang akan diampil, harus berhitung dengan keadaan istri yang sedang hamil tua. Mengganggu emosinya sedikit, bisa berakibat fatal. Istilah mengiang dikepala. Satu keadaan yang bisa membahayakan keadaan istri dan anak dikandungan.

Hari Sabtu, kami sepakat melawan. Semata ingin memberi pelajaran. Agar kelak, tidak ada lagi perbuatan tidak menyenangkan yang dialami oleh orang lain oleh si bos dan perusahaan itu. Beberapa teman kami mintai pendapat. Semua mendukung agar melawan. Termasuk keluarga besar. Namun kami sepakat agar perlawanan dilakukan setelah melahirkan. Agar emosi istri sedikit terkendali. Untuk itu kami sepakat untuk mendiamkan.

Namun ternyata tidak berjalan dengan baik. Gangguan datang dari perusahaan. Pertanyaan, kapan fasilitas kantor akan dikembalikan? adalah pemicunya. Reaksi yang seharusnya timbul dari aksi mereka, memberikan kompensasi yang telah disepakati. Terus seperti itu. Hingga akhirnya kami tidak tahan lagi.

Dengan mempertimbangkan ketentuan yang telah diatur oleh pemerintah, akhirnya kami mengirimkan surat elektronik kepada perusahaan. Kami mengajukan apa yang telah diatur. Yang ternyata belum sesuai dengan keinginan dari perusahaan. Beberapa hari tarik ulur soal itu. Si bos dan antek-anteknya sempat memberi gertakan akan menyerahkan urusan ini kepada pengacara. Kami tak kalah gertak. Kami juga bisa siapkan pengacara. Emosi serasa disulut oleh sikap pongah yang ditunjukkan oleh anak buah si bos. Termasuk ketika kepadanya aku katakan, silahkan mempersiapkan diri kalau satu saat akan dipanggil polisi oleh pengaduan perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukannya terhadap istri.

Entah karena takut, akhirnya mereka bersedia memberi apa yang kami tuntut. Istri datang ke kantor mereka dengan ditemani adik ipar yang dari perawakannya kelihatan sangar. Dan pemilik perusahaan, si bos dan anak buah yang menggertak tadi tidak terlihat. Urusan diselesaikan dengan sekretaris.

Begitulah akhirnya penyelesaiannya. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang bisa kami tempuh dengan kondisi seperti sekarang ini. Mungkin tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, perlawanan yang kami berikan. Namun ada hal yang perlu kami pertimbangkan. Yang pasti kami menarik pelajaran berharga dari kejadian ini. Bahwa manusia bisa menjadi bukan manusia bila memiliki kuasa dan uang. Bahwa bukan hanya teman-teman bang Napi yang bisa menjadi pembunuh. Mereka yang setiap hari rapi dan bekerja di depan komputer pun berpeluang menjadi pembunuh.

Cerita tangan pertama : ada disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>