Woody dan Buzz adalah dua tokoh utama dari film animasi Toy Story yang sudah mencapai jilid tiga. Dikisahkan, awalnya Woody adalah mainan favorit Andy. Sampai satu saat, Andy merayakan ulang tahun dan menerima Buzz sebagai hadiah.

Sedari awal, sebelum kedatangan Buzz, Woody sebagai ‘koordinator’ seluruh mainan yang dimiliki Andy, sudah merasa khawatir akan tersisih jika Andy menerima kado dalam bentuk mainan baru. Dia berusaha memprovokasi teman teman sesama mainan untuk membenci Buzz. Bahkan Woody dianggap menyisihkan Buzz, meski terjadi tanpa sengaja, agar perhatian Andy padanya tidak berkurang. Tanggung jawab sebagai pemimpin informal, diambil oleh Woody untuk mengembalikan Buzz ke kamar Andy.

Petualangan itulah yang diceritakan pada Toy Story awal. Meski awalnya ada kesombongan pada diri Buzz, akhirnya mereka berdua bisa berteman bahkan hingga sekuel ketiga Toy Story.Cerita pertemanan dalam film animasi Toy Story ini terpikir semalam hingga pagi ini. Awalnya adalah, ketika memberi kado kepada Gabriel dalam rangka hari ulang tahunnya yang ketiga kemarin, 16 Februari.

Aku memberi kado karakter Buzz kepada Gabriel dan Woody kepada abangnya, Yeremia. Entah sengaja atau tidak, komposisi itu yang terjadi. Bukan sebaliknya. Semalam ketika menyembunyikan mainan itu, aku merenungi lagi bahwa komposisinya sudah pas seperti itu.Woody seperti ejawantah dari Yeremia, dan Buzz ejawantah dari Gabriel.

Yeremia hadir lebih dahulu di keluarga kami. Gabriel adalah si bungsu yang hadir belakangan. Layaknya hubungan sulung dan bungsu di keluarga manapun [yeah,mungkin tidak seluruhnya], aku membaca ada semacam kekhawatiran pada Yeremia bahwa kasih sayang orangtuanya akan berkurang padanya. Beberapa kali, terlihat rasa cemburu padanya akan adiknya.

Terakhir sekali diungkapkannya minggu lalu, saat maminya sedang dinas keluar kota dan hanya ada kami bertiga. Aku,Yeremia dan Gabriel. Dalam perbincangan sebelum tidur, Yeremia mengungkapkan kenapa tidak ada lagi yang sayang padanya. Kenapa semua rasa sayang ada pada adiknya. Terus terang, bukan perkara sulit buatku untuk menerangkan. Karena hal seperti ini sudah beberapa kali diungkapkan terbuka.

Yang membuatku, sedikit sedih adalah dia hampir menangis mengucapkannya.Sebagai orangtuanya, tentu saja aku harus menerangkan, dengan bahasa yang lugas dan gampang dimengerti olehnya. Aku hanya mengajak dia berhitung dulu. “Umur Abang berapa?” Tanyaku. “Delapan tahun” katanya.
“Adek?”
“Tiga tahun”
“Delapan dikurang tiga,berapa bang?”
“Lima”
“Nah, selama lima tahun sebelum adik lahir, abang sudah mendapat banyak dari Papi dan Mami. Sementara, adek baru tiga tahun mendapat perhatian dari Papi dan Mami. Sekarang, lebih besar mana lima dan tiga?”
“Lima”
“Nah itu dia, sebenarnya abang sudah mendapat lebih banyak daripada adek. Abang tidak boleh bilang adek lebih disayang daripada abang. Abang lihat kalau papi dan mami selama ini gak pernah membedakan abang dan adek kan? Malah abang mendapat lebih banyak. Kadang, adek pakai baju bekas abang. Sementara abang dibeliin baju baru.Abang dibeliin mainan PSP, adek enggak. Kalau adek dibeliin mainan, abang pun begitu. Tidak ada yang dibedakan. Abang tahu,kan?”
“Iya,pi”
“Nah,sekarang abang berdoa,dan tidur.Katanya besok mau berenang?”
“Iya,pi” katanya.
Lantas diapun berdoa. Doa ‘standard’ yang senantiasa mengantarkannya tidur. Minta perlindungan juga terhadap papi, mami dan adek. Juga minta supaya tidak ada gempa lagi. Serius! :-)

Begitulah, setelah berdoa diapun tidur menyusul adeknya yang sudah lebih dulu tidur. Papinya lanjut menonton teve.

Kemarin, sesuai janji aku mengajak dua jagoan sekadar window shopping ke Plasa Semanggi. Sebenarnya, menunaikan janji kepada Yeremia. Karena sebelumnya dia menagih untuk Sabtu berenang dan Minggu ke Plasa Semanggi. Alasannya, mau beli game untuk PSP Go yang dia punya. Sudah seminggu dia pengen main game pesawat. Mencari di internet tidak ketemu.

Begitulah, petualangan kami bertiga usai sekitar pukul 17.00 sore. Kamipun beranjak pulang. Dengan dua jagoan masing masing menenteng plastik belanjaan Centro. Berisi mainan masing-masing. Abang Yeremia dengan action figure, Ben-10 dan adek Gabriel dengan dua pesawat kecil Transformer.

Seperti biasa, AvanzaHitam tidak lupa memperdengarkan i-radio. Yeah, karena papinya mereka terlalu suka dengan musik Indonesia. Eh, gak terlalu persis begitu alasannya. Karena papi mereka tidak terlalu mengerti lagu berbahasa asing tepatnya.

Keluar tol Jatiwaringin, tibalah waktu Magrib. Radio segera berganti dengan musik dari flash disk. Dan pilihan pertama papi Yeremia, selalu musik Batak. Tentu saja dari Viky Sianipar. Memutar lagu dari album Tobatak yang sudah dikonversi bentuknya menjadi MP3.

Tanpa diduga, abang Yeremia turut menyenandungkan lagu Boan Ma Salendang. Lagu pertama yang diperdengarkan. Aku tahu, kalau Yeremia juga berusaha ikut melantunkan syairnya yang berbahasa Batak. Meski terdengar tidak pas dengan syair yang dinyanyikan, kedengaran kalau dia berusaha melagukannya. Iramanya dapat. Namun syairnya, belum. Bisa dimaafkan. Karena akupun belum terlalu hafal dengan syairnya, meski akupun turut melagukan bagian yang aku tahu syairnya.

Aku tak mau mengganggu dengan memberi komentar atas senandung anak buha bajuku itu. Aku biarkan dia melagukan sesukanya. Sambil di antara lagu, dia bertanya, “ini Viky Sianipar kan papi?”. Iya nak”, jawabku. Dia masih terus menyenandungkan lagu itu. Juga masih belum pas syairnya. Tentu saja, aku senang tidak kepalang.

Semakin senang lagi, semakin mendekati rumah, lagu berikutnya adalah “Dos Nangkokna, Dos Tuatna”. Sebuah lagu dengan beat yang tak kalah menghentak dengan lagu pertama. Sebagaimana biasa kalau mendengarkan lagu itu sendirian dalam perjalanan pulang pergi kantor rumah, aku bergoyang. Yeah, sambil tetap menyetir dengan hati-hati tentu saja. Abang Yeremia tak mau ketinggalan. Di belakang, adek Gabriel pun aku ajak untuk ikut menggerakkan tangan seperti layaknya manortor. Tanpa aku duga, adek Gabriel mengikuti gerakan tanganku. Seperti manortor. Semakin senang tidak kepalang rasanya. Dua Tambunan kecil itu, suka dengan musik tradisional leluhurnya yang digarap dengan serius.

Aku cuma bisa berharap, sampai nanti mereka dewasa, mereka suka dengan budaya leluhur mereka. Tanpa ada unsur paksaan dari orang lain, apalagi aku sebagai orang tuanya.

senja

kenapa lebih banyak yang suka mengabadikan suasana ketika matahari tenggelam, daripada suasana ketika matahari terbit? mungkin lebih disebabkan karena keragaman warna yang terlihat.

suasana ini salah satunya. direkam dari salah satu sudut di lantai empat sebuah gedung di kawasan semanggi. berlatar depan sebuah gedung yang terletak di jalan jenderal sudirman.

Seragam biasanya disematkan pada sesuatu yang sama jenisnya, sama ragamnya. Namun dalam keseharian, lebih sering dipakai dalam menyebut perangkat pakaian standar yang dikenakan oleh anggota sebuah organisasi atau kelompok, ketika yang bersangkutan beraktifitas pada organisasi atau kelompok tersebut.

Konon, salah satu pengguna awal seragam sebagai sebuah pakaian adalah tentara Kekaisaran Romawi. Belakangan, seragam dikenakan oleh angkatan bersenjata dan organisasi layaknya militer seperti polisi atau satuan pengamanan. Selain itu, juga pelajar atau siswa, hingga sebagian mahasiswa. Selain itu, ada juga pengguna seragam diluar dari yang disebutkan sebelumnya. seperti misalnya di Indonesia, seragam digunakan oleh Pegawai Negeri sipil, pegawai layanan masyarakat seperti rumah sakit, misalnya, bahkan penghuni penjara di beberapa negara. Dalam bidang olah raga, terutama yang mempertandingkan kelompok atau regu, seragam juga digunakan. Sepakbola, basket atau volley merupakan, beberapa contoh.

Sesuai namanya yang menunjukkan kesamaan ragam, seragam memiliki beberapa pengaruh kepada pemakainya. Sebutlah misalnya rasa bangga. Masih lekat dalam ingatan bagaimana stadion utama Senayan, dipenuhi oleh ribuan penonton yang menggunakan kaos atau pakaian berwarna merah sesuai warna seragam tim nasional sepakbola kita saat bertanding dalam kejuaraan sepakbola Asia Tenggara. Aku yakin, tidak ada rasa lain selain rasa bangga mengenakannya. meski akhirnya tim nasional yang didukung harus mengakui keunggulan lawan.

Pengaruh berikutnya adalah, rasa setia kawan. Solodaritas! Pada masa lalu dimana penduduk kota Jakarta hampir setiap hari melihat tawuran antara pelajar, aku pikir rasa itulah yang muncul diantara pelajar yang tawuran itu. Bagaimana sebuah tawuran terjadi, hanya karena pertengkaran kecil diantara dua orang pelajar (sekadar menyebut contoh) dari dua sekolah berbeda, sehingga ‘terpaksa’ melibakan puluhan bahkan ratusan pelajar lain. Pernah muncul wacana untuk meniadakan seragam pelajar untuk meminimalkan tawuran yang terjadi.

Pengaruh berikutnya, mungkin adalah perasaan setara. Bagaimana seorang kopral atau prajurit dengan pangkat paling rendah dalam militer atau kepolisiam, menggunakan pakaian yang sama warna dan bahannya dengan pemimpinnya yang berpangkat jenderal!Pembeda mereka hanyalah pangkat yang tersemat di pundak atau lengan masing-masing.

Setidaknya, dari tiga pengaruh yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan seragam tersebut, sangat masuk akal apabila beberapa perusahaan mengikuti dan membuat kebijakan penggunaan seragam kepada karyawannya. Diharapkan, apabila seluruh anggota organisasi (perusahaan dalam hl ini) menggunakan seragam yang sama tanpa ada pembedaan, rasa solidaritas, rasa setara dan rasa bangga telah menjadi bagian dari perusahaan. Tentu saja dengan catatan, bahwa semua anggota organisasi menggunakannya dengan sukarela tanpa ada kesan terpaksa.