Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang.

Entah kenapa, aku langsung klop saat ‘bertemu’ dengan sepenggal kalimat Gibran itu ketika mesin pencari Google menunjukkannya padaku. Saat aku mencari kalimat bijak soal memahami.

Dipenghujung hari ini, aku merasa harusnya dunia akan aman bila banyak orang yang bisa benar-benar mengerti dan menjalankannya. Bukan sedang sok bijak, tapi aku yakin, pekerjaan memahami tidak sesederhana susunan kata-katanya yang hanya terdiri dari 5 (lima) huruf.

Mungkin semua kita ingin menjalankannya. Namun kadang, ego mengalahkan niat untuk memahami. Saat kita merasa kepentingan pribadi kita akan terganggu oleh perbuatan orang lain, entah itu langsung atau tidak langsung terhadap kita, secara spontan niat untuk memahami seakan lenyap tak berbekas. Ujung-ujungnya sebuah sikap perlawanan yang kita kedepankan. Kalau sudah begini, gesekan dalam hubungan tak mungkin dihindarkan.

Saat mulai menulis ini, aku juga teringat satu kata yang mirip. Empati. Mungkin pilihan bahasanya terlalu ‘tinggi’ dan sulit dipahami. Namun, sejatinya empati berarti perasaan dimana kita ikut merasakan dan memahami orang lain. Atau gampangnya, empati berarti menempatkan diri seolah-olah orang lain.

Aku pikir, kurang lebih seperti ini. Jangan perbuat kepada orang apa yang kamu tidak ingin diperbuat orang kepadamu. Kalau dirimu tidak mau ditampar orang, maka jangan pernah menampar orang. Itu kalau kalimat negatifnya. Mungkin kalau kalimat positifnya menjadi, perbuatlah kepada orang lain, apa yang kamu ingin diperbuat orang lain kepada kamu.

Kalau dirimu ingin dicintai orang lain, maka mulailah mencintai orang lain. Atau kalau ‘kembali’ kepada kutipan diatas, mulailah mencintai diri sendiri dulu. Setelah itu, belajarlah mencintai orang lain. Bila keduanya bisa berjalan dengan baik, percayalah pada satu hal. Akan banyak cinta yang mengalir kepadamu.

Sepanjang yang aku ketahui dalam setiap rumah adat Batak [Toba], selalu terdapat simbol atau lambang seekor hewan yang tidak pernah ketinggalan. Lambang tersebut adalah hewan cicak. Yang dalam budaya Batak disebut “Boraspati”. Boraspati, melambangkan kesuburan. Bukan hanya kesuburan tanah, juga kesuburan penghuni rumah tersebut. Kesuburan berarti kemakmuran. Dan aku rasa itulah yang mendorong leluhurku dulu memajang cicak di rumah mereka. Harapan akan kemakmuran.

Dua minggu terakhir ini, sang boraspati sedang naik daun di ranah internet [facebook/blog?]. Setahuku, pemicunya adalah sebuah posting di politikana yang mengingatkan akan adanya perkataan seorang petinggi kepolisian di sebuah majalah berita ternama. Ucapan tersebut [meski telah dibantah] tidak pelak memicu gelombang dukungan terhadap lembaga yang ditengarai disebut cicak. Bahkan cicak sendiri menjadi akronim yang mendukung adanya lembaga tersebut.

Buatku pribadi, sebenarnya kehadiran lembaga tersebut tidak terlalu diperlukan. Karena sebenarnya fungsinya telah ada di lembaga sebelumnya yang terlebih dahulu ada. Namun karena pada perkembangannya lembaga-lembaga tersebut dianggap tidak bekerja maksimal [termasuk sang buaya sendiri dan ‘kampung maling’ yang pernah dipimpin seorang ustadz] bahkan beberapa oknumnya menjadi ‘santapan’ cicak, ditambah dorongan reformasi, dibentuklah lembaga cicak ini.

Dihubungkan dengan boraspati diawal tulisan ini, aku mendukung gerakan cicak yang akan dideklarasikan besok, 12 Juli 2009. Bukan karena tidak suka dengan buaya. Tapi lebih kepada harapan kepada sang cicak yang bisa member harapan, kembalinya kesuburan dan kemakmuran bangsa ini.

Salam, CICAK

cicak di dinding :
“…cicak kok mau melawan buaya…”
Gerakan Cicak Vs Buaya Ramai di Facebook
KPK Enggan Tanggapi Soal Isu ‘Cicak Vs Buaya’

Pemilu Presiden sudah setengah jalan. Belum selesai memang. Karena pemilihan sudah dilaksanakan, namun penghitungan suara belum usai. Dari hasil perhitungan cepat yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga, hasil akhir sudah terbayang. Seorang calon presiden telah memberi ucapan selamat kepada presiden terpilih versi hitung cepat. Sebelumnya sang calon wakil presiden, dalam tayangan televisi telah menyampaikan kurang lebih, bisa menerima hasil hitung cepat. Sekaligus mengakui bahwa upaya yang dilakukan sudah maksimal.

Sebagai orang awam yang melihat hanya melalui media, sedikit banyak aku bisa mengerti mengapa hasil pemilu seperti ini. Bangsa ini baru belajar berdemokrasi. Perilaku bangsa yang besar ini adalah apa yang tergambar sehari hari. Setiap hari melalui media televisi, bangsa ini menikmati puluhan tayangan sinetron berikut wajah para pesohor. Semakin sering sinetron ditayangkan, berarti semakin populer sinetron itu. Semakin dinanti oleh penontonnya. Atas nama rating.

Menurutku, sinetron yang berhasil dan bisa ‘dijual’ setidaknya mengandung dua unsur. Protagonis [tokoh baik] dan antagonis [tokoh jahat]. Bila perlu, ditambah bumbu pelengkap seperti peran banci atau peran ala Srimulat yang tugasnya hanya diledek atau digodain.

Semakin si protagonis menderita, semakin masyarakat suka. Demikian juga sebaliknya. Semakin si antagonis jahat dan menjahati si protagonis, cerita dan episode bisa diperpanjang semau produser dan televisi. Sesimpel itu sebenarnya. Meski banyak yang tidak suka, dengan alasan tidak mendidik, selama rating bagus, sinetron akan dilanjutkan. Kalau perlu, ditayangkan setiap hari. Direkam sepanjang minggu. Tidak peduli apakah cerita mulai membosankan atau semakin tidak masuk akal. Kata orang pintar ini gejala konsumerisme.

Inilah yang terjadi ketika bangsa ini menghadapi pemilu. Kegemaran terhadap sinetron ternyata dibawa kewilayah kehidupan berbangsa. Urusan negara beserta ratusan juta rakyat didalamnya, tidak ubahnya seperti hiburan saja. Pemilu berbiaya puluhan triliun belum menjanjikan banyak untuk perbaikan sebuah negara yang katanya sedang terpuruk.

Dalam pemilihan anggota legislatif, partai beramai ramai memajang para pesohor sebagai pilihan. Mengesampingkan kader yang berjuang dari awal atau memulai karir politiknya dari bawah. Bahkan mungkin mereka yang memiliki basis massa. Hanya demi mendulang suara yang akan menjadi bekal dalam pemilu presiden. Prosentase kemenangan di pilcaleg dibutuhkan dalam mencalonkan Presiden. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para legislator yang terpilih, aku pesimis terhadap anggota legislatif periode ini. Tentu saja tidak dapat digeneralisasikan untuk semua yang terpilih.

Kegemaran akan sinetron itu, semakin nyata tergambar dalam pemilihan presiden kemarin. Mau dibilang apa. Kampanye berbiaya ratusan miliar, debat yang diniatkan untuk menggali visi dan misi sang calon presiden tidak berarti apa apa. Ketiga calon [yang nota bene mengusung program sejenis, hanya berbeda kemasan], tidak serta merta dipilih karena bagusnya program untuk rakyat. Karena hasil akhirnya, kemungkinan rakyat hanya melihat antagonis melawan protagonis.

Meski demikian, aku pikir semangat demokrasinya haruslah dijunjung tinggi. Siapapun yang telah dipilih oleh sebagian besar rakyat, haruslah dihormati oleh semua pihak. Sambil mempersiapkan sejak sekarang program atau perilaku mana yang akan menarik ‘konsumen’ pada pemilu lima tahun mendatang. Sambil memberi pendidikan buat rakyat, bagaimana berdemokrasi yang baik, bukan bagaimana memperoleh kekuasaan.

Selamat bertugas Presiden !!!

Memilih judul, Presiden Ke-7 Indonesia, Kompas memuat tulisan dari Buya Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Menurut aku tulisan ini dimuat dalam rangka menyambut pemilihan Presiden yang diselenggarakan pada hari ini. Secara materi, isinya juga semacam pengantar bagi pemilih untuk melaksanakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Namun bila diperhatikan mulai dari judul, hingga kutipan satu alinea didalamnya, terasa mengganjal. Perhatikanlah kalimat ini :

Saya sungguh berharap, presiden ke-7 Indonesia dan wakil presiden ke-10 yang kita pilih hari ini benar-benar akan punya kepekaan tinggi terhadap keindonesiaan kita yang masih jauh dari keadilan dan kenyamanan.

Menurut hitungan ‘resmi‘ Indonesia hingga saat ini baru memiliki 6 (enam) Presiden. Mulai dari Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Pak Dur, Ibu Mega dan Pak SBY yang sedang menjabat. Artinya, kalau pemilu hari ini memunculkan nama selain daripada nama tersebut, maka dialah Presiden ke-7 (tujuh) Indonesia. Namun jika yang terpilih adalah salah satu diantara dua calon yang sedang atau sudah pernah menjabat Presiden, maka yang terpilih tidak serta merta menjadi Presiden ke-7.

Entah apakah ini kesalahan dari editor Kompas atau ada unsur ‘kesengajaan’ dari Buya yang kita tau membuat testimoni buat salah satu kandidat dalam masa kampanye kemaren…