29. May 2008 · 3 comments · Categories: manusia

Seorang teman di dunia maya, menulis seruan berikut. Aku rasa, layak untuk didukung.

Pendapatku sendiri, bebaskan saja harga BBM mengikuti harga pasar. Cabut subsidi yang diberi. Dengan syarat, dana yang seharusnya untuk subsidi, benar-benar dipergunakan untuk hal yang produktif. Bangun infrastruktur, ciptakan lapangan pekerjaan. Beri pancingnya kepada rakyat. Jangan beri ikannya. Ibarat obat, Bantuan Langsung Tunai hanya ponstan yang menghilangkan rasa sakit. Sakitnya sendiri masih ada.

Soal Korupsi, dengan segala hormat kepada semua pihak, aku belum percaya kepada upaya yang sedang berjalan. Meski KPK diberitakan sudah menangkap si anu dan si itu, masih banyak pengguna uang negara secara tidak sah, bebas melenggang di luaran sana. Meski ada upaya untuk menaikkan gaji Pegawai Negeri Sipil di beberapa instansi, untuk menghindari korupsi, ternyata budaya yang pernah akrab itu tidak hilang begitu saja.

NAIKKAN HARGA BBM!

dengan syarat :

  1. Hidupkan kembali KPKPPN (Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Penyelenggara Negara), dan laporkan kembali ke publik daftar kekayaan pejabat dan anggota parlemen setiap tahun, di awal dan di akhir masa jabatannya, supaya negeri ini tahu siapa yang kaya mendadak karena permainan harga BBM.
  2. Berlakukan azas pembuktian terbalik dalam pengadilan kasus korupsi, agar ketahuan siapa yang benar-benar mendapat warisan dari nenek moyangnya atau menang lotere, dan siapa yang menangguk keuntungan tidak benar dari korupsi termasuk di bidang perminyakan.
  3. Berlakukan segera sistem nomor identitas tunggal warga negara, agar tidak ada lagi orang yang bisa menyembunyikan harta jarahannya menggunakan berbagai nama dan nomor identitas.

Jangan mau perhatian negeri ini dibelokkan dari kasus korupsi. Masalah utama kita bukan naiknya harga BBM tetapi korupsi yang sangat sistematis dan mendarah daging.

Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap
Pesan khusus untuk para demonstran dan rakyat: jangan gampang ditipu.

“Siapapun bisa melakukannya. Itu manusiawi. Dan itu masalah privat, pribadi seseorang” – Ganjar Pranowo – Sekretaris Fraksi PDIP
sumber : detik

Itu masuk wilayah pidana umum. Polisi itu kan aparatur negara. Jadi berbeda dengan jika polisi menganiaya mahasiswa itu pelanggaran HAM sebab sistematik dan terstruktur. Jadi Masyarakat harus jelas sumber hukumnya” – Gayus Lumbuun – Anggota Komisi III dari PDIP
sumber : detik

“Memang saya pernah menaikkan BBM di masa pemerintahan saya, namun kebijakan tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati. Saya telah menginstruksikan kepada (kader PDIP) legislatif untuk menggunakan hak konstitusinya untuk menolak kenaikan harga BBM” – Megawati – Ketua Umum PDIP
sumber : detik

Dewan Perwakilan Rakyat [legislatif] bersama Presiden [eksekutif] telah menetapkan bahwa : “Dalam hal terjadi perubahan harga minyak yang sangat signifikan dibandingkan asumsi harga minyak yang ditetapkan, Pemerintah dapat mengambil langkah langkah kebijakan yang diperlukan di bidang subsidi BBM dan/atau langkah-langkah lainnya untuk mengamankan pelaksanaan APBN 2008, yang selanjutnya diusulkan dalam APBN Perubahan dan/atau disampaikan dalam Laporan Keuangan Pernerintah Pusat”
sumber : Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008.

Mahasiswa mustinya sudah lebih dari dari siswa. Siswa biasanya menjadi sebutan untuk mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Sementara untuk yang duduk di bangku sekolah dasar, disebut murid. Itu yang disebut oleh Pak Mahulae, guruku dulu waktu masih di SMP.

Kenyataan mengharuskan demikian. Mahasiswa, sebagaimana sebutannya memang terkadang lebih dari siswa, bahkan murid. Kasat mata saja, mahasiswa sudah jauh lebih tua dalam usia. Sudah jauh lebih mandiri dalam belajar. Mustinya sudah jauh lebih dewasa.

Kenyataan yang ada, dalam seminggu terakhir bisa kita lihat dari media. Semua kondisi ideal diputarbalikan. Benar kalau mahasiswa menunjukkan kedewasaannya lewat unjuk rasa menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak. Dengan dalih membela rakyat, mereka berdemoonstrasi. Beragam tempat dipilih untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Mulai dari Istana Negara, jalan protokol di Jakarta dan daerah, sampai ke kampus-kampus.

Mahasisawa Universitas Nasional berunjukrasa di depan kampusnya. Demikian juga dengan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia dan Universitas Moestopo (Beragama). Sayangnya, unjuk rasa tersebut ternyata tidak mendapat simpati dari masyarakat, yang konon mereka bela.

Unas, UKI, dan Moestopo rusuh! Mahasiswa Unas yang lempar-lemparan batu dengan polisi, marah-marah saat polisi memasuki kampus mereka dan menangkapi ratusan orang yang dianggap terlibat dalam kerusuhan tersebut. Mahasiswa UKI, meski polisi tidak sempat ‘menyerbu’ ke dalam kampus, membakar ban di tengah jalan umum. Ujung-ujungnya macet yang didapat masyarakat yang mereka bela. Mahasiswa Moestopo yang pakai kata Beragama dalam nama kampusnya, menggebuki polisi yang melintas di depan kampus, hingga babak belur. Konon polisi itu bukan dalam tugas ‘mengamankan’ unjuk rasa mahasiswa.

Tapi diantara ketiga unjuk rasa menolak kenaikan BBM tersebut, siang ini diberitakan kalau mahasiswa UKI dan mahasiswa YAI yang memang kampusnya bertetangga di Salemba, mempertontonkan tingkah laku yang lebih heroik lagi. Mahasiswa kedua kampus hebat tersebut, terlibat tawuran dan saling melempar batu. Hidup Mahasiswa!

Pemerintah akhirnya menaikkan harga bbm. Terhitung sejak 24 Mei 2008 pukul 00.00 WIB, premium yang tadinya dijual seharga Rp. 4.500,- seliter menjadi Rp. 6.000,-, solar menjadi Rp. 5.500,- dan minyak tanah menjadi Rp. 2.500,-

Entah akan bereaksi apa para penentang kenaikan bbm ini. Mereka di parlemen, mahasiswa yang rajin turun ke jalan, dan yang lain. Apakah akan tetap melakukan aksinya?

Ada satu masa di Medan dahulu, aku aktif dalam kegiatan Paduan Suara di gereja. Paduan Suara merupakan bentuk pelayanan kami sebagai pemuda di gereja. Cukup lama juga aku berkegiatan di kepemudaan gereja tersebut. Sejak layak disebut sebagai pemuda gereja [tentu dengan syarat tertentu] tahun 1990, hingga pertengahan 1996.

Berbagai lagu telah kami pelajari. Bahkan bukan hanya lagu yang mengandung pujian kepada Tuhan [yang biasanya kami bawakan di kebaktian gereja], juga beberapa lagu daerah dan nasional yang sesekali kami bawakan utnuk acara diluar gereja, dalam rangka ‘ngamen’ mencari dana guna mendukung operasional organisasi kami. Selain itu, beberapa kali, kami juga mengikuti beragam festival paduan suara yang bersifat lokal.

Banyak hal yang aku pelajari sewaktu berpaduan suara. Terutama tentu bagaimana bernyanyi dalam sebuah kelompok. Juga bagaimana bertoleransi antar sesama anggota. Karena, sebagaimana layaknya organisasi lain, organisasi kami juga memiliki permasalahan yang tidak jauh beda.

Satu hal yang hari ini kembali aku ingat, adalah soal harmonisasi. Bukan hanya harmonisasi lagu, juga harmonisasi suara. Dalam partitur sebuah lagu, biasanya sudah disertai dengan semacam ‘tanda baca’ untuk melagukan lagu tersebut. Apakah dengan tempo cepat, lambat, keras, lembut. Juga bagaimana melagukan sebuah nada. Apakah satu ketuk, dua ketik, setengah bahkan seperenambelas ketuk. Belum lagi kalau harus ikut dalam sebuah festival. Karena biasanya kami akan bernyanyi di depan orang banyak, penampilan saat bernyanyi juga harus kami perhatikan. Dengan seragam misalnya. Atau soal tinggi rendahnya seorang anggota saat tampil di depan. Sebab sebagaimana namanya, apa yang kami pelajari adalah bagaimana memadukan berbagai macam hal, agar menjadi layak dengar dan layak tampil.

Paduan suara kami terdiri dari puluhan orang. Dalam beberapa kesempatan, ada juga teman yang harus meninggalkan paduan suara kami. Lebih sering karena dia pindah tempat tinggal, sehingga tidak bisa bersama lagi. Untuk itu, kadang kami harus mencari penggantinya. Biasanya, bila mengajak teman untuk bergabung, yang diajak akan menjawab, ”suaraku kan tidak bagus”

Mendapat jawaban seperti ini, biasanya kami akan mengingatkan mereka bahwa saat hujan turun kita sering mendengar Paduan Suara yang diberikan oleh kodok [saat itu di Medan, kami masih sering mendengarnya. entah sekarang di Metropolitan ini] Pada saat mendengar paduan suara kodok itu, kita mendengar harmonisasi yang dilakukan oleh para kodok. Namun coba dengarkan saat hanya satu kodok yang bersuara. Gak enakin banget.

Begitu juga dengan paduan suara. Saat puluhan orang anggota paduan suara itu bernyanyi dengan menggunakan ‘tanda baca’ yang sama, tempo, irama, dan lain-lain, suara yang terdengar akan indah. Namun saat ada satu atau dua orang saja yang mencoba menonjolkan suaranya, yang terjadi bukan paduan suara lagi. Namun sekelompok orang yang mengiringi satu atau dua orang tadi bernyanyi. Dan hal tersebut bukanlah semangat paduan suara.

Ah, kenapa aku merindukan saat-saat latihan di Rabu dan Sabtu malam dulu?

Dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, bangsa Indonesia kembali kehilangan tiga orang putra terbaiknya. Dimulai dari Sophan Sophiaan, pada Sabtu 18 Mei 2008, kemudian kemarin pada hari yang bersamaan Bang Ali dan Ibu SK Trimurti, juga kembali kepada sang pencipta.

Aku mengenal ketiganya hanya melalui media. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ibu SK Trimurti, aku merasa ada pesan dibalik perginya Bang Ali dan Bung Sophan Sophiaan. Mungkin benar, kalau ketiganya pergi karena sudah sampai ajalnya. Namun dari media aku mengetahui, Bang Ali dan Bung Sophan, memiliki sesuatu yang mungkin tidak dimiliki oleh banyak orang di negara ini.

Bung Sophan [BS] awalnya dikenal sebagai aktor, konon Pengantin Remaja adalah film pertamanya yang sekaligus memperkenalkannya dengan Widyawati, yang kemudian menjadi pengantinnya. Selama puluhan tahun, pasangan ini relatif bersih dari berita miring layaknya artis lain. Ketika Ibu Megawati memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, BS bergagung untuk kemudian menjadi anggota DPR. Mungkin darah politik mengalir dari ayahnya Manaai Sophiaan yang merupakan tokoh Partai Nasional Indonsia seangkatan Bung Karno. Selama menjadi politikus di Dewan Perwakilan Rakyat, setahuku BS juga tidak menjadi politikus selebritis yang mondar-mandir nampang di layar kaca. Terakhir, sikapnya yang berseberangan dengan Ibu Mega, membuat dia dan beberapa rekannya dipecat dari partai itu. Kemudian, beliaupun harus keluar dari Senayan.

Sikap teguh pada pendirian inilah yang mempesona dari sosok Sophan Sophiaan. Sehingga ketika terdengar kabar bahwa beliau meninggal akibat kecelakaan motor, banyak yang terkejut. Liputan media terhadap berita meninggalnya juga lumayan besar. Terlepas dari beliau digolongkan sebagai selebriti yang menjadi politikus. Bahkan sampai ada media yang menulis bahwa setiap hari kebangkitan nasional, kelak bangsa ini akan mengenang beliau.

Senada dengan BS, Bang Ali juga merupakan tokoh yang teguh pada pendirian. Diangkat sebagai Gubernur Jakarta oleh Bung Karno, Bang Ali masih berusia 39 tahun. Gebrakan-gebrakan membangun Jakarta ala Bang Ali dikenang sebagai caranya untuk membangun Jakarta sebagai sebuah Metropolitan. Dalam situasi negara yang sedang kacau dalam perekonomian, beliau tidak kehilangan akal untuk mendapat dana guna membiayai pembangunan Jakarta Modern. Beliau berani menentang arus untuk melegalkan judi dan pelacuran [dengan lokalisasi di Kramat Tunggak, kawasan yang akhirnya melekat sebagai daerah wisata esek-esek Jakarta]. Dua dari aktivitas tertua kegemaran manusia di muka bumi ini. Terbukti cara tidak masuk akal yang ditempuh Bang Ali, mempu merobah Jakarta dari sebuah kampung besar menjadi Metropolitan.

Malam ini aku juga berpikir, jangan-jangan sapaan akrab warga Jakarta kepada Gubernurnya, Bang, dimulai dari era Bang Ali, Bang Nolo [Tjokropranolo], Bang Sur [Soerjadi Sudirja] sampai Bang Yos [Sutiyoso] dan Bang Foke.

Saat baru saja memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, aku rasa Indonesia butuh banyak orang-orang seperti Bang Ali dan Bung Sophan. Pemimpin yang dengan teguh dan konsisten memikirkan rakyat bukan pribadi atau kelompoknya saja. Pemimpin yang bersedia dimaki orang demi sebuah keputusan yang terbukti mensejahterakan lebih banyak lagi orang [mungkin termasuk juga orang yang tadinya memaki].

Aku merasa, apabila dari 200 juga lebih penduduk Indonesia ada 100 orang saja seperti Bang Ali, tidak perlu Presiden mengingatkan kembali kalau bangsa Indonesia Bisa [sebagaimana disampaikan pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional]. Karena aku percaya, Sang Pencipta telah menyediakan semuanya untuk bisa dikelola oleh bangsa ini. Masalahnya sekarang bukan bisa atau tida, kita keluar dari keterpurukan yang sedang kita hadapi pelan-pelan. Tapi apakah kita sebagai bangsa berkehendak?

Jadi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Panita Nasional 100 tahun Kebangkitan Nasional, mungkin selogan 100 tahun Kebangkitan Nasional perlu dikoreksi sedikit. Menjadi [Maukah] Indonesia Bisa ?

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!