Apakah penyelewengan yang dilakukan guru dengan ‘membantu’ muridnya dalam menyelesaikan Ujian Nasional [UN], telah sedemikian berbahayanya sehingga perlu diatasi dengan Detasemen Khusus 88 Anti Teror [Densus]?

Kepolisian Daerah Sumatera Utara, dikabarkan menggunakan Densus untuk menangkap kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan UN di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang Sumatera Utara. Penyelesaian kasus yang konon dilaporkan oleh Komunitas Air Mata Guru [KAMG] itu, sampai mengeluarkan ledakan senapan. Dapat dibayangkan, senapan ‘menyalak’ di lingkungan yang nota bene adalah tempat belajar mengajar.

Setuju, bahwa perbuatan guru-guru tersebut tidak dapat dibenarkan dan jauh dari nuansa pendidikan. Karena mereka ‘memperbaiki’ hasil ujian siswa. Sesuatu yang haram dalam dunia pendidikan. Karena hal tersebut, nyata-nyata tidak mendidik. Terlepas dari ‘protes’ terhadap penyeragaman soal dalam UN, tanpa perduli apakah UN itu dilaksanakan di pusat [Jakarta] atau di daerah. Mengingat bahwa mutu pendidikan di tiap daerah tidaklah sama.

Sistem pendidikan, yang menghasilkan mutu pendidikan menyangkut banyak hal. Mulai dari guru, siswa, kurikulum, buku pelajaran, dan lainnya. Dari hal-hal tersebut, masih banyak hal lain yang menjadi faktor ikutan. Pendidikan para guru, kemampuan ekonomi orangtua siswa, gizi yang dikonsumsi siswa, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, aku berpikir dan sependapat bahwa ada hal yang harus dibenahi terlebih dahulu sebelum benar-benar menyerapkan sistem ujian nasional. Karena terbukti selama pelaksanaannya setiap tahun menuai masalah. Tidak sekedar menyatakan bahwa dalam pelaksanaan sebuah sistem baru pasti butuh harmonisasi, penyelarasan atau apalah istilahnya.

Apabila tidak ada perbaikan secara nasional, bukan tidak mungkin akan menimbulkan korban yang lebih banyak lagi. Mengingat bahwa masalah pendidikan menyangkut generasi muda bangsa. Generasi yang dimasa yang akan datang akan memimpin bangsa ini. Kerusakan yang terjadi pada saat ini, akan berakibat pada kerusakan dimasa yang akan datang terhadap negara ini.

Kembali ke soal penyerangan diatas, mungkin itu yang menjadi alasan kenapa sampai perlu menurunkan Densus. Sebuah satuan yang sepanjang yang aku tahu, dibentuk untuk mengatasi ‘serangan’ teroris.

Kenapa penyesalan selalu datang terlambat. Mungkin memang sudah kodratnya demikian. Padahal, pada saat sesuatu belum terjadi, kita diberi kesempatan untuk mempertimbangkan akibat dari perbuatan yang akan kita lakukan. Meski kadang kesempatan itu tidak selalu kita pergunakan.

Sebelum melakukan sesuatu, idealnya kita berpikir dulu. AKibat dari ini, nanti akan seperti itu. Akibat dari itu, nanti akan seperti ini. Atau dihadapkan pada dua pilihan. Kalau begini, bisa begitu dan seperti ini. Kalau aku melakukan itu, berakibat begini dan seperti itu. Tinggal kita yang akan melakukannya, mempertimbangkan ini dan itunya. Bagusan ini atau itu. Lebih jelek begitu atau begini. Dengan demikian, diharapkan akibat yang akan terjadi dari perbuatan kita, akan menyenangkan. Atau, kalaupun tidak menyenangkan, masih bisa ditoleransi. Tidak jelek-jelek amat hasilnya.

Namun terkadang, kita menyalahkan hal lain apabila hasil yang dicapai, atau akibat dari perbuatan kita tadi jauh dari yang diharapkan. Bahkan dalam beberapa kasus, cenderung merusak. Emosi, adalah salah satunya. Dengan dalih membela diri, kita akan bilang, saat itu aku sedang emosi sehinnga tidak bisa berpikir jernih.

Kalau sudah begini seolah, persoalan selesai dan kita bisa terlepas dari tanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan dan berakibat buruk tadi. Padahal, kembali ke ide di atas, emosi dan emosional juga merupakan pilihan. Yang mustinya berada dalam lingkar pengaruh kita sendiri.

Seminggu terakhir, aku sering menggunakan jas selama bekerja di kantor. Bukan apa-apa, sepertinya ruang kerja yang di lantai 4 ini lebih dingin daripada waktu masih di Ground Floor dulu. Sebelumnya aku mengatasi rasa dingin itu dengan menggunakan jaket. Minggu kemarin, aku menggunakan jas sebagai pengganti jaket.

Memang jas yang aku gunakan, tidak berkesan resmi. Karena selain warnanya yang bukan ‘warna resmi’ [hitam, coklat atau biru dongker, misalnya], jas yang kugunakan bercorak garis-garis yang saling silang-menyilang berwarna dasar hijau. Selain itu, aku juga sering menggulung lengan jas tersebut. Bukan apa-apa, terus terang mengetik di papan kuncinya agak ribet. Selama ini tanpa jas juga, lengan kemeja sering aku gulung.

Sebagaimana aku duga sebelumnya, ada saja yang komentar. Dari komentar yang ada, aku menangkap kesan bahwa kalau pakai jas itu adalah bos. Seolah, kalau aku menggunakan jas, gak pantes. Hahahahaha….aku merasa lucu saja. Memang katanya budaya jas tidak sesuai dengan iklim negara ini. Konon katanya orang Amerika menggunakan jas juga, karena iklim negara mereka tidak sehangat dsini. Makanya, kalau melihat film Hollywood, santai saja warga Amerika berjalan di jalanan menggunakan jas. Sementara kalau hal itu dilakukan disini, di Jakarta, bisa dipastikan sampai di tujuan, kita serasa baru keluar dari ruang sauna karena keringat yang mengucur.

Aku teringat, beberapa tahun lalu, aku menggunakan kemeja batik ke kantor pada hari Jumat. Bukan apa-apa. Aku sekedar mengikuti kebiasaan pegawai Bank BNI yang melakukan hal yang sama, bahkan sejak almarhum Bapakku masih aktif sebagai pegawai disana. Komentar teman-teman juga adalah, ‘Mo kondangan dimana?’ Sekarang, banyak rekan-rekan kantor yang menggunakan kemeja batik ke kantor. Tapi aku tidak pernah mendengar ada yang bertanya sama kepada mereka, sebagaimana yang dulu ditanyakan kepadaku.

Aku rasa ini yang disebut belenggu pemikiran. Sebenarnya, sah-sah saja sesuatu yang diluar kelaziman menjadi perhatian. Namun, tentunya bukan hal yang tidak bisa dilakukan. Hidup terlalu indah untuk dibuat monoton. Kadang kita perlu keluar dari belenggu pemikiran itu.

Pagi ini dalam perjalanan ke kantor, aku sempat dibuat kesal dengan ulah pengemudi bis yang -terlihat dari logo di dinding belakang bis itu- sepertinya milik Peruri. Perusahaan percetakan milik negara. Pasalnya di jalur busway di Pancoran arah ke Semanggi, sang bis terlihat hendak menabrak pengemudi motor yang berkerumun di depannya.

Aku sendiri berada di belakang bis itu, sama-sama berada di jalur busway. Benar, aku dan para pengemudi motor lain serta bis Peruri itu dan mobil lain yang berada di jalur busway, saat itu bersalah. Memasuki jalan yang bukan jalan umum. Namun, entah dengan pengemudi lain, meski harus bermepet-mepet ria dan berbagi jalur yang sudah sempit itu, pilihan itu adalah pilihan ‘waras’ daripada melintasi jalanan yang berlubang. Dan kalaupun tidak berlubang, ditambal ala kadarnya dengan kerataan yang tidak sempurna sehingga jalanan tidak rata bahkan ‘menggelembung’ di sana sini.

Yang membuat kesal adalah, pengemudi bis yang arogan itu seolah merasa dialah yang paling berhak berada di jalur itu dibanding pengemudi motor. Padahal sudah sama-sama salah. Mbok,ya sesama pesalah jangan saling ganggu. Siapapun pasti ingin berada di tempat tujuan lebih cepat. Bahkan, bila sang pengemudi motor tersebut salah dan pengemudi bis Peruri yang benar, bukan menjadi alasan buat pengemudi bis Peruri itu menabrak si pengemudi motor.

Terus terang saat itu, terpikir buatku untuk ngerjai itu bis. Yang terpikir adalah, mungkin besok-besok aku perlu bawa benda tajam atau semacam ‘ranjau paku’ untuk ditancapkan di salah satu ban bis yang arogan seperti itu. Niatku jahat? Terus terang kuakui, iya. Namun untuk menghadapi orang jahat, kadang aku pikir sesekali perlu jahat. Karena mungkin saja apa yang pernah dikatakan ibuku secara bercanda,benar. Surga sudah penuh. Jadi kalau toh gak kebagian kapling di surga, gak ada salahnya berjahat-jahat. Toh ujung-ujungnya berujung di neraka juga. Hahahahahahaha

18. April 2008 · 4 comments · Categories: negara

Ada fenomena menarik dalam dua pilkada Gubernur minggu ini. Di Jawa Barat dan Sumatera Utara, calon yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera untuk sementara unggul dalam penghitungan suara cepat [quick count] yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey. Meski hasil perhitungan itu bersifat sementara, dari pengalaman yang telah ada, hasil akhir tidak jauh berbeda.

Hasil tersebut, langsung direspon oleh partai besar yang jagonya keok. Ada yang negatf, ada yang positif, juga ada yang lucu. Yang positif bilang, bisa menerima ‘kekalahan’. Yang lucu bilang, hal ini terjadi karena kampanye negatif. Sang petinggi partai ‘kalah’ bilang, sehebat apapun mesin politik sang calon, kalau dia selalu diserang dengan kampanye negatif, tidak akan menang.

Satu hal menarik juga, tingkat partisipasi pemilih tidak bagus-bagus amat. Dengan kata lain, jumlah pemilih golput, entah dalam arti tidak memilih sama sekali atau memilih tapi tidak dalam keadaan yang sah, semakin tinggi. Jumlah golongan putih ini, bahkan melebihi jumlah suara peraih suara terbanyak. Sebuah situasi yang mustinya menjadi pelajaran buat para petinggi partai.

Kedigdayaan PKS ini sebenarnya sudah terlihat sejak pilkada DKI, tahun lalu. Pak Adang yang diusung oleh PKS sendirian, hanya kalah suara sedikit dibanding Bang Kumis yang diusung puluhan partai. Meminjam istilah dunia persilatan, dikeroyok ramai-ramai saja, PKS mampu memberikan perlawanan berarti. Apalagi dengan koalisi.

Mungkin kasus Jawa Barat bisa dikecualikan, mengingat calon Wakil Gubernirnya adalah selebriti. Namun seperti yang pernah aku tulis, sikap simpati, gaya politik yang santun dari PKS, semakin hari semakin menuai hasil. Mungkin saja, benar seperti disinyalir oleh Effendi Ghazali di Kompas hari ini, bahwa inilah hasil dari Orde Capek Antri. Masyarakat sudah lelah dengan janji-janji yang entah kapan ditepati. Daripada memilih mereka yang janjinya tak ditepati, mendingan memilih mereka yang tak pernah berjanji tapi terlihat bekerja dengan sepenuh hati.

Bukan sekali dua, PKS langsung bekerja tanpa mengumbar janji. Setiap ada bencana yang menimpa rakyat, kader PKS hampir selalu tampil lebih dahulu untuk membantu. Terakhir yang diberitakan media, mereka turun langsung memperbaiki jalanan Jakarta yang berlubang, disaat Bang Kumis sedang menanti hujan berhenti di saat cuaca tidak menentu.

Sepertinya keadaan ini juga langsung dimanfaatkan oleh Partai Golkar yang langsung melontarkan wacana, menyandingkan Hidayat Nur Wahid dengan Ketua Umum mereka sebagai pasangan menghadapi Pemilu 2009.

Kalau aku bilang, inilah saatnya PKS menuai panen atas apa yang telah ditanamnya sejak bernama Partai Keadilan dulu. Sebentar lagi, pilkada Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali akan dilaksanakan. Apabila fenomena Jawa Barat dan Sumatera Utara masih berlanjut, bisa jadi 2009 pemilu akan mengejutkan banyak pihak sebagaimana di dua pilkada minggu ini.

Anggota DPR meradang. Mereka tersinggung dengan lirik lagu ‘Gosip Jalanan’ milik Slank. Lagu yang pertama diedarkan empat tahun lalu, namun dibawakan di acara KPK. Inti dari lagu itu, seperti biasa mengandung kritik terhadap tingkah laku para mafia. Termasuk mereka yang berada di Senayan [Slank tidak menyebut DPR].

Kata Slank dalam lagu itu, kurang lebih ”hati-hati dengan mereka yang membuat peraturan di Senayan, merancang Peraturan dan UUD, ujung ujungnya duit….” Pagi ini, dalam perjalanan ke Soekarno-Hatta, aku menyadari mengapa Pak Gayus Lumbuun membatalkan niat untuk mempermasalahkan lagu itu. Bukan karena takut Slankers yang jumlahnya jutaan, ‘menyerbu’ Senayan. Juga, pasti bukan karena ingin menjaga hubungan baik dengan Slank yang memiliki massa lebih fanatik dibanding massa partai politik. Maklum, tahun depan Pemilu. Partai politik pasti naksir berat dengan pemilik massa seperti Slank, atau Iwan Fals dengan OInya.

Pasti pak Gayus segera menyadari kalau pembuat UUD itu adalah MPR, dan bukan DPR. Maklum, beliau kan pakar hukum. Mosok gak bisa bedakan tugas MPR dan DPR? Jadi, pembatalan niat ‘mengganggu’ Slank semata hanya karena persoalan hukum tata negara….

Tunggu Aksi Saya!