1 Januari 2007. Tahun baru lagi. Semakin kesini rasanya sama aja tiap tahun baru. Beda dengan waktu masih kecil dulu. Tiap tahun baru pasti baju baru sepatu baru. Berkunjung ke rumah sodara, makan kue tahun baru :-D .

Sekarang rasanya berbeda. ‘Pencapaian’ selama 2006 terasa biasa saja. Mungkinkah karena gak ada yang spektakuler?. Entahlah. Tapi rasanya tahun baru itu cuman di tanggal 1 Januarinya doang. Dimana setiap ketemu kenalan, saling berjabat tangan sambil berucap, ‘Selamat Tahun Baru’. Setelah itu, koq kayanya udah bukan tahun baru.

Bangun pagi, berangkat ke kantor, kerja seharian, Malam hari baru dirumah lagi. Istirahat untuk besok kembali melakukan aktivitas yang sama. Begitu terus sampe lebih dari tigaratus hari ke depan dari sekarang akan ketemu tahun yang lebih baru lagi.

Udah ah. Mumpung masih tanggal satu. Selamat Tahun Baru!!!!

updated: Kenapa pula postingan ini munculnya masih 2006…..

Malam Natal. Besok 25 Desember diperingati sebagai hari Natal. Konon peringatan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus ini diadopsi dari beberapa negara di Eropa Barat. Yang kemudian menyebarkannya ke negara-negara kemana mereka ‘merantau’. Termasuk Amerika dan Indonesia. Dan katanya itu dimulai sekitar tahun 200an. Sebelumnya banyak negara di Timur Tengah, tempat dimana Yesus dilahirkan percaya bahwa ternyata Dia dilahirkan dan wafat pada tanggal yang sama yaitu 25 Maret.

Tak terlalu penting sebenarnya mempersoalkan kapan Yesus dilahirkan dan kapan para pengikutNya merayakan kelahiranNya. Karena sebagaimana yang diajarkan olehNya, yang terutama adalah bagaimana para pengikutNya [yang percaya kepada Yesus Kristus] dan kemudian disebut Kristen menjalankan apa yang pernah diajarkanNya.

Hukum yang terutama dan paling utama yang dipercayai sebagai ajaranNya adalah Kasih. Bagaimana mengasihi diri sendiri serta mengasihi sesama. Yang paling berat adalah bagaimana [mengalahkan ego] untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.

Seminggu ini aku disadarkan kembali akan satu ajaran dari Yesus. Yaitu waktu mendengarkan satu lagu Natal yang tak terlalu kelihatan ‘nuansa’ Natalnya. Lagu dari album terbaru Glenn Fredly tentang ‘tugas’ yang merupakan ajaran dari Yesus Kristus. Meski sebenarnya aku [dan aku yakin sebagian besar orang Kristen] sudah sejak di Sekolah Minggu diperkenalkan oleh potongan ayat Alkitab yang berbunyi ‘Jadilah garam dan terang dunia’. Mendengar plus menyenandungkan lagu itu, tidak seperti dikotbahi. Namun terasa menohok.

Untuk sekedar berbagi, aku coba kutipkan disini. ‘Jadilah terang di tempat yang gelap. Jadilah garam jangan di tengah lautan. Jadilah harapan, jangan hanya berharap’.

Untuk yang merayakan aku ucapkan SELAMAT HARI NATAL. Semoga kita selalu menjadi terang.

Masih tentang etika berkendara. Siang ini bersama istri dan Yeremia belanja di Metropolitan Mall Bekasi. Selesai belanja kembali ke mobil. Ternyata di belakang mobil kita terparkir dengan manisnya Honda Jazz hitam dengan no polisi B 8446 EY. Waktu petugas parkir dari Secure Parking hendak menggeser, ternyata rem tangan mobilnya diaktifkan. Gila! Udah malangin mobil orang, masih iseng lagi dengan rem tangan. Ngintip ke dalam, ternyata mobilnya matic. Pantes aja rem tangannya dipasang. Mau keluar dari depan, ada Xenia yg menghalangi.

Dipanggil lewat car call, setengah jam yang punya mobil tidak muncul-muncul. Kesal juga nungguin orang goblok yang gak tau aturan. Satu jam lebih menunggu aku pergi ke car call lagi. Sampe petugasnya bilang dia sudah hapal nomer polisi mobil itu.

Akhirnya ke Gramedia. Beli spidol permanen warna hitam dan paper clip. Niatnya mo ngerjain tuh orang. Spidol buat ninggalin ‘pesan’ di kaca mobil. Paper clip buat ditempelin di ban. Gembos, gembos dech tuh ban. Jalan ke parkiran, istriku telpon bilang kalo mobil di depan udah keluar. Jadi kita udah boleh keluar.

Meski di spion dalam tergantung tanda pangkat taruna akademi militer, aku tinggalin pesan buat si goblok itu. ‘Kalo parkir yang benar, Mas…..’. Gak apa-apa paper clipnya batal, yang penting dia akan keluar tenaga untuk ngebersihin kacanya. Puas !!!!!!

Dalam perjalanan menuju dan pulang dari kantor, aku dan istri sering membahas kelakuan berlalulintas orang-orang. Sekalian menikmati kemacetan yang seolah sudah menjadi hal yang biasa di Ibukota ini.

Pagi ini kami iseng menggoda pengemudi Vios merah yang sejak pintu tol Halim sudah ‘cari masalah’. Main selonong saja diantara dua antrian mobil yang akan membayar tol. Pengemudinya perempuan berkerudung. Kalau sudah begini, kami berdua [aku dan istri] selalu sepakat untuk tidak pernah memberi peluang menyalip untuk mereka yang memotong antrian. Meski kadang istriku suka nyaranin aku untuk mengalah juga. Hal ini sering kami lakukan di pintu tol depan Medistra kalau pulang kantor. Bukan apa-apa. Niatnya cuman ‘memberi pelajaran’ buat mereka-mereka yang suka nyelonong saat orang lain antri dengan tertib.

Kembali ke Vios merah tadi, ternyata bis di belakang kami memberi kesempatan dia untuk menyelinap di antrian. Hehehehe…tak apalah…Lepas dari bayar tol aku ambil sisi sebelah kanan. Karena biasanya sebelum simpang susun Cawang, lalu lintas akan tersendat sebelum percabangan yang ke Priok. Penyebabnya, lagi-lagi karena tidak semua taat aturan. Arah Priok yang hanya satu jalur, layaknya leher botol. Kadang lebih dari dua jalur yang menuju ke Priok. Dan sudah pasti ini membuat macet dan memperlambat kendaraan yang ke arah Grogol. Ternyata kami mendahului si Vios merah tadi.

Begitu melewati jalan yang bercabang itu [biasanya ada mobil patroli polisi disini], Vios merah kembali bikin ulah. Menyalip kami dan ambil jalur paling kiri [bahu jalan !]. Memang kecenderungannya ambil jalur kiri [bahu jalan itu] akan lebih cepat karena di depan, mobil yang melewatinya akan diberi kesempatan kembali ke jalan yang benar oleh mobil yang di jalur kiri. Dan aku yakin si Vios merah itu akan mendahului kami.

Ternyata setelah menara Saidah sebelum Pancoran, masih ketemu dia lagi….he…he…he…Kemana aja mbak ? Perasaan udah dari tadi dech, ngedahuluin kita :-p. Karena dia ambil jalur tengah, aku ambil jalur kanan seperti biasa. Dan saat mobil kita beriringan, istriku kembali ‘menggoda’ si mbak Vios merah. Bahkan sampai buka kaca jendela sebelah kiri. Kita beriringan sampai sebelum tanjakan Pancoran. Untuk kemudian dia ambil jalur kiri dan mendahului…wus….wus….wus…bye…bye……Lady in Red :-) .

Waktu berjalan kaki dari Plasa Mandiri menuju kantor aku menemukan satu Vios yang sifat supirnya bertolak belakang dengan Vios merah tadi. Dia sudah memperlambat mobilnya saat melihat aku dan beberapa pekerja melangkah di garis penyeberangan [zebra cross].

Kalau menginginkan kemakmuran satu tahun.tanamlah gandum. Kalau menginginkan kemakmuran sepuluh tahun, tanamlah pohon. Kalau menginginkan kemakmuran seratus tahun, kembangkanlah orang.

Pepatah Cina itu aku baca di Reader’s Digest terbaru dalam bis yang membawa aku dan teman-teman mengikuti pelatihan Dare to Change hari ini. Pelatihan yang dari buku petunjuknya aku ketahui dilaksanakan dengan harapan, pesertanya memahami, menerima dan beradaptasi dengan perubahan. Juga agar peserta memiliki motivasi untuk berprestasi, nilai-nilai positif dalam bekerja, dan pada akhirnya memberi kontribusi positif untuk kesuksesan organisasi.

Tentu saja, organisasi manapun setuju dengan ini. Dan bukan hanya untuk organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, memahami, menerima dan beradaptasi dengan perubahan mutlak diperlukan. Sebab, konon hanya perubahan itu sendiri yang tidak pernah berubah. Perubahan adalah sebuah keniscayaan.

Aku teringat lagi pada satu kolom yang aku baca subuh tadi di Tabloid Kontan. Intinya, mengenai apa yang biasanya dilakukan organisasi di akhir tahun seperti sekarang ini. Menentukan Strategic Plan untuk tahun ke depan. Sebagaimana ditulis dalam artikel itu, tiap tahun rencana strategis dapat berubah. Namun apabila sang pelaksana tidak berubah atau beradaptasi dengan perubahan, sebagus apapun rencana yang telah dirancang tidak akan berjalan dengan baik.

Penulis mengibaratkannya serupa dengan mengharap ikan terbang. Satu hal yang biasanya akan disambut Yeremia dengan, “Mana ada ikan terbang…….”