Terlalu lama rasanya blog ini terbengkalai seperti ini. Sampai ketemu satu kisah menarik dari satu milis yang aku ikuti. Dalem banget. Utamanya kalimat ini : “bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas“. Meski sebenarnya aku sedang mengasah satu kapak di sini, masih saja terasa kurang. Kapak-ku yang lain, yang bertajuk interaksi dengan teman rasanya sedang tumpul…….


Mengasah Kapak
Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Bagus, bekerjalah seperti itu!”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. “Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku”, pikir penebang pohon itu.

Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. “Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?” sang majikan bertanya.”Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon,” katanya.

Catatan :
Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. “Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.

19. April 2005 · 3 comments · Categories: kantor

Haruskah sesuatu yang lebih besar dikorbankan untuk sesuatu yang lebih kecil Pertanyaan ini terngiang lagi saat mendengar seorang Anwar Nasution yang Ketua Badan Pemeriksa Keuangan [BPK], menyebut anak buahnya [seorang auditor di BPK] sebagai kampungan !. Cuma karena si anak buah melaporkan seorang Wulyana W Kusumah -yang berniat menyerahkan sejumlah uang kepadanya- ke Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] bukan ke atasannya. Doktor Anwar Nasution yang dulu terkenal dengan ucapannya yang menyebut kalau Bank Indonesia adalah sarang penyamun, juga menyatakan kalau si auditor tidak atau bukanlah anggota masyarakat yang menurut norma kepatutan pemberantasan korupsi [ini karanganku aja] berkewajiban untuk melaporkan segala tindakan yang mengarah kepada tindakan korupsi.