Pagi ini kulihat di beberapa rumah ada kibaran bendera setengah tiang. Sebagai tanda duka atas tragedi Aceh. Kutak bisa menampilkan bendera setengah tiang di halaman weblog ini. Biarlah pita ini menjadi penggantinya.

Belum tuntas bantuan yang kita berikan kepada korban gempa di Alor
belum kering peluh membantu saudara di Nabire,
kita mesti menyingsingkan lengan untuk menolong saudara kita di Nangroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara.

Turut berduka atas terjadinya bencana nasional ini.

ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
bahwa kita mesti banyak berbenah
– Untuk Kita Renungkan [Ebiet G. Ade]

Dia yang lahir 2000 tahun lalu,
tidak mengajarkan apa-apa kepada kita selain KASIH !

Selamat Natal buat semuanya,
semoga Kasih yang diajarkanNya pulalah
yang menyertai langkah kita selanjutnya di tahun yang baru.

Dan damai pun tercipta di bumi.

goklas, anne dan yeremia

Selamat Hari Ibu

Sarat rasa cinta dengan tulus diberinya
Tiada tanpa makna di setiap ucap kata
Usap kasih s’lalu, gumam kecil pun t’rus berlagu
– Bunda [KLa Project]

Oh bunda ada dan tiada dirimu
kan slalu ada di dalam hatiku
– Bunda [Potret]

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
– Ibu [Iwan Fals]

Tiga potongan lirik lagu di atas cukup menggambarkan bagaimana semestinya kita bersikap kepada seorang Ibu. Sosok [yang untuk level Indonesia] diingat kembali hari ini. Mendadak terdengar ucapan selamat kepada para Ibu. Sesuatu yang harusnya diucapkan juga setiap hari kalau mengingat jasa seorang ibu.

Tapi, tak apalah. Gak ada salahnya juga untuk ikut mengucapkan selamat kepada semua Ibu !


Gambar ini dikutip tanpa permisi dari blog-nya Adhit !

Awalnya aku baca blog bapak ini. Dari sana, tau kalo dia nulis novel. Judulnya Jomblo. Tertarik, aku beli. Ketika dan setelah selesai membaca, ternyata menyenangkan. Memenuhi pengharapan sebagaimana tercantum dalam judulnya :”Jomblo : Sebuah Komedi Cinta“. Memang bener-bener novel komedi ! Banyak hal tak terduga di novel itu. Mulai dari bahasa yang terasa seperti bahasa keseharian Jakarta, kalimat-kalimat tak biasa yang kalo dibaca dua kali ternyata dalem banget maknanya. Dan tak lupa catatan-catatan kaki yang meski hanya satu dua baris malah sukses membuat senyum.

Itu setahun lalu. Tahun ini terbit novel keduanya. Judulnya “Gege Mengejar Cinta“. Masih dengan type yang sama [novel komedi] meski perwatakan yang sedikit berbeda. Karena di Jomblo, Adhit mengambil setting anak kuliahan. Sementara Gege bersetting [kalau pake bahasa gaul Jakarta] profesional muda.

Terus terang, sebagai orang yang pernah membaca Jomblo, aku merasa masih banyak hal yang diulang dalam Gege. Satu hal yang sangat disayangkan memang. Namun menurutku hal itu bukanlah masalah besar kalau melihat pangsa pasarnya yang [mudah-mudahan aku tidak menghakimi] mengambil segmen remaja [jadi, kalo aku ikut-ikutan mbaca, lebih karena pengen terupdate saja suasana remajanya ...he...he....he....]

Selain tentu saja masih kocak [namanya juga novel komedi], Gege masih dengan kalimat-kalimat liar [kadang nakal] dan mungkin tidak pernah terpikir oleh pembaca. Namun terkadang justru di situlah letak kelucuannya. Coba saja perhatikan kalimat ini : “Tia kaget terbata-bata, seperti orang yang gengsi mencintai orang lain yang mencintai orang lain lagi dan baru tahu orang lain itu akan makan siang dengan orang yang dia cintai” dan lihat catatan kaki untuk kalimat ini : Sori gua juga bingung. Let’s see. Orang lain cinta sama orang lain…you know what? Just go on reading! [hal 107]“

Soal jalan cerita, silahkan baca sendiri. Sebab kalau diceritakan di sini kasihan Adhit gak kebagian duit. Kalo ngebet juga pengen tau trailernya silahkan mengunjungi blog dia di http://adhitya.blogspot.com. Yang pasti, mbaca kata pengantar dan biografi penulisnya saja udah kocak !

Tapi apapun yang disajikan oleh Adhit dalam dua novelnya, patutlah diacungi jempol. Pertama, dia telah menambah jumlah novelis di negara ini. Kedua mungkin ini bisa menjadi inspirasi buat banyak orang [terutama pehobi blog mungkin] untuk tidak sungkan-sungkan menjadi penulis. Akhirnya, selamat kepada Adhit. Selamat juga kepada Ninit yang [mirip isian di kolom status istri jaman dulu] ikut suami1 dengan menjadi novelis.

Satu hal lagi, meski sudah tau lama soal keberadaan milis ini, aku mendaftar ikutan setelah membaca Gege.

——————
1sekarang juga Ninit ikut suaminya ke Africa koq [Adhitya style]

Pernah gak ngalamin perasaan gak enak karena merasa berada di tempat yang salah ?. Aku merasa itulah yang sekarang dialami oleh dua orang kru anteve yang ikut menjadi korban kecelakaan Lion Air kemarin.

Sebagaimana sudah kita ketahui, Selasa 30 Nopember kemarin, sebuah pesawat MD 82 milik Lion Air tergelincir di Bandara Adi Sumarmo Solo dan menyebabkan 23 penumpang meninggal dan 61 orang luka-luka. Segera setelah kejadian, malam harinya hampir semua stasiun televisi menyiarkan laporan terkini kecelakaan ini. Yang menarik adalah, beberapa diantara stasiun televisi itu menempelkan cap exslusif dalam laporannya. Karena kebetulan ada beberapa wartawan mereka yang sedang berada di tempat kejadian.

Aku menduga, kehadiran mereka di sana merupakan hal yang kebetulan. Kebetulan karena ada penugasan untuk meliput Muktamar NU yang dilaksanakan di Boyolali -Solo. Bahkan dua orang jurnalis stasiun anteve merupakan penumpang pesawat naas itu. Di sinilah punca masalahnya. Sebab, begitu tragedi itu terjadi mereka mendapat kesempatan pertama untuk mengambil gambar situasi di pesawat. Mungkin memang benar seperti kata mereka dalam beberapa kesempatan, naluri jurnalis langsung memaksa mereka untuk mengaktifkan kamera yang ada. Ternyata penyalaan kamera dalam situasi gelap gulita memberi berkah sendiri. Karena lampu dari kamera menjadi suluh buat penumpang untuk menyelamatkan diri.

Namun apa yang terlihat di layar kaca tidaklah sesederhana itu. Upaya jurnalis tersebut memberi gambaran kejadian ditanggapi berbeda. Dalam milis dan beberapa bulletin board friendster aku membaca kecaman dari pemirsa televisi atas apa yang mereka kerjakan. Para pemirsa tidak bisa menerima tindakan mereka yang mengambil gambar sementara masih ada korban yang butuh pertolongan. Bukan hanya itu, dalam Bincang-Bincang di anteve semalam ada pemirsa yang langsung menyayangkan sikap jurnalis itu. Untungnya keduanya dapat menjawab.

Mereka hanya bilang, soal naluri jurnalis mereka. Selain itu mereka juga bilang menghadapi dilema. Satu sisi harus menjalankan tugas dan di sisi lain harus memberi pertolongan kepada korban lain. Yang menarik adalah kalimat penutupnya, “kami juga tidak mengharapkan berada pada posisi seperti itu“. Siapa yang mau ? Anda ?