Dari sebuah email yang aku terima hari ini. Subject : Yang Terlupa
SOEMPAH PEMOEDA

Pertama : – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua : – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : – KAMI POETRA & POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Rasain, loe !
Abis suka gede rasa, sih….
Kau pikir kau siapa, sehingga merasa berhak kecewa ?
Kau pikir kau hebat, sehingga merasa berhak dapat ?

Baiknya kau berkaca,
baiknya kau sadar
untuk kemudian merasa
inilah saatnya belajar

Mudah-mudahan setelahnya
kau tak membentur tembok yang sama lagi…
Atau kalaupun tidak
mungkin tempatmu bukan di sini

Selamat datang Presiden Pilihan Rakyat !

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya hajatan panjang bernama Pesta Demokrasi itu berakhir pagi ini. Susilo Bambang Yudhoyono atau lebih sering disapa SBY dilantik menjadi Presiden ke 6 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelantikannya yang dihadiri oleh beberapa pemimpin negara sahabat, terasa istimewa. Karena SBY-lah Presiden pertama negara ini yang dipilih secara langsung oleh Rakyat.

Proses pemilihan langsung ini oleh beberapa kalangan diakui sebagai sebuah prestasi dari Megawati Sukarnoputri, Presiden sebelumnya. Selain itu, berlangsungnya pemilu yang aman tanpa gangguan keamanan yang berarti juga dianggap sebagai bagian dari keberhasilan pemerintahan putri Presiden pertama ini.

Hanya sayangnya, dua prestasi menonjol ini sedikit tercela karena ketidakhadiran Mega dalam acara pelantikan Presiden hari ini. Tidak ada alasan yang jelas soal ketidakhadiran ini. Hanya ada sedikit penjelasan dari Pramono Anung yang mengatakan tidak ada perundang-undangan dan fatsun politik yang mengaturnya. Secara pribadi aku merasa [sekali lagi opini pribadi] ini ada hubungan dengan sejarah majunya SBY menjadi kandidat Presiden. Sebagaimana diketahui sebelum menjadi kandidat, SBY adalah Menteri di Kabinet pimpinan Mega. Proses mundurnya SBY dari kabinet sempat menjadi berita karena sedikit aneh.

Namun apapun alasan ketidakhadiran si Ibu, aku pikir mungkin ada baiknya kalau dulu si Ibu menyampaikan seperti apa yang disampaikan oleh SBY. Bahwa kekalahan tidak akan menjadikan dirinya mutung. Karena di awal kampanye, semua kandidat sudah menyatakan plus menandatangani prasasti siap menang dan siap kalah.

Sebagaimana biasa menjelang bulan ramadhan, mailbox akan penuh oleh email [maaf kalau penyebutannya salah] permohonan maaf. Sumbernya bermacam-macam. Teman sekantor, teman lama, atau dari berbagai mailing list. Biasanya isinya standar dan datar-dtar saja. Namun diantara beberapa ada satu email yang aku suka yang sebahagian besar isinya aku lampirkan di bawah ini.

Buat para sahabat, dimanapun kalian berada. Apabila besok kalian akan menjalankan ibadah puasa, aku beserta keluarga mengucapkan :
Selamat Menjalankan ibadah puasa. Semoga bulan yang penuh berkah ini dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya.
Amin……

dikutip tanpa permisi dari email Om Widodo

Apakah kita sudah menjadi insan yang dikehendaki oleh Sang Pencipta ?
Apakah kita sudah Pandai Menahan Amarah ?
Apakah kita sudah Pandai Memaafkan ?
Apakah kita sudah Gemar Memberi ?
Apakah kita sudah Amanah ?
Apakah kita sudah Berlaku Adil ?
Apakah kita sudah Pandai Bersyukur ?
Apakah kita sudah Menjadi orang yang Sabar dan Ikhlas ?
Apakah kita sudah Menjadi Orang yang selalu Ingat Tuhan ?
Apakah kita sudah Menggunakan Akal kita lebih dari Nafsu kita ?
Apakah kita sudah Menjadi orang yang Menjaga Persatuan dan Silahturahmi ?
Apakah kita sudah Melaksanakan Rukun Agama ?

Apakah kita sudah Menjauhi Perasaan Iri, Dengki dan Dendam ?
Apakah kita sudah Menjauhi Kebiasaan untuk Berselisih ?
Apakah kita sudah Menjauhi Sikap Membenci dan Suka Menyakiti ?
Apakah kita sudah Menghilangkan Sikap Bermusuhan ?
Apakah kita sudah Meninggalkan Kebiasaan Merusak dan Berbohong ?
Apakah kita sudah Tidak Menjadi Orang yang Suka Sombong dan Bermewah-mewahan ?
Apakah kita sudah Membuang Sikap yang Suka Merugikan Orang Lain ?
Apakah kita sudah Membuang jauh-jauh Perasaan Sebagai Orang yang Lebih Suci ?
Apakah kita sudah Menghindari Memakan Barang yang Haram ?
Apakah kita sudah Membuang Sikap yang Suka Memaksakan Kehendak ?
Apakah kita sudah Menjauhi Maksiat ?
Apakah kita sudah Menjauhi Sikap yang Suka Memperdebatkan Keyakinan ?

Dalam postingan beberapa bulan lalu, Enda ngasih komentar seperti ini : “wah seneng kalo masih deket ama budaya leluhur, nah gue jarang2x, bahasa sana aja ga bisa, dasar udah setengah sunda, nikah ama orang sunda juga, jadi nanti kalo punya anak dia bakal seperempat sunda”. Pas berkunjung lagi ke goblogmedia-nya dia aku baru tau kalo ternyata istrinya Nita tengah berbadan dua [kenapa aku paske istilah ini yak ?. Wow ! langsung saja aku kirim email ngucapin selamat yang telat….Ho…ho…ho…sekali lagi, selamat, Nda !

Anak Medan Pulang Kampung

Akhir minggu lalu [Jumat, 1 Oktober 2004] aku berkesempatan untuk mengunjungi Medan, kota tumpah darahku. Terakhir kali aku berkunjung ke sana adalah desember 2001. Saat itu aku ke sana bersama istri yang ketika itu masih berstatus sebagai calon istri. Sementara, Jumat kemarin kami datang bertiga dengan jagoanku yang [kata orang] ganteng dan iseng [kataku]

Meski hanya berkunjung selama dua malam, aku merasa tidak banyak yang berubah dari kota ini kalau dibandingkan dengan saat terakhir pulang. Tetap semarak oleh lampu. Tapi kalau dibandingkan dengan saat terakhir aku tinggalkan tahun 1996, kota ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Salah satunya adalah tiap sudut kota semarak oleh lampu. Selain itu banyak jalan yang sepertinya baru diperlebar. Trus ada beberapa jalan yang dahulu bisa dilalui oleh kendaraan dari dua arah sekarang berubah menjadi jalan satu arah. Ini membuatku seperti kehilangan nyali untuk mengendarai kendaraan sendiri. Kalau harus berkendaraan, aku lebih memilih untuk disopiri oleh salah satu dari dua orang adik ku. Selain itu di beberapa titik di kota Medan dibangun pusat perbelanjaan yang isinya departement store yang selama ini hanya ada di Jakarta. Seperti SOGO atau Metro. Juga Carrefour yang mengambil lokasi di bekas area Pekan Raya Sumatera Utara [Medan Fair]

Saat disopiri oleh adik bungsuku aku menyatakan kekagumanku akan apa yang telah dicapai oleh Walikota Medan sekarang ini. Menurutku, beliau telah berhasil mengajak investor untuk berinvestasi di Kota Medan. Dari apa yang pernah aku baca di Majalah Tempo, Pemerintah Kota Medan ingin setara dengan kota metropolitan lain di Indonesia. Bahkan ada keinginan untuk sejajar dengan Singapura dan Penang, dua kota yang selama ini menjadi tujuan wisata warga Medan. Tapi entah kenapa, adikku sepertinya kurang setuju dengan kekagumanku. Entah karena semangat mahasiswanya yang masih kental atau karena dia lebih tau kota Medan dari aku. Tapi buatku sejauh ini apa yang telah dicapai cukup membuat orang seperti aku ini [yang lama meninggalkan kota ini] merindukan kota itu.

Sambil berharap bisa pulang lagi di akhir tahun nanti, aku merasa semangat untuk pelan-pelan merubah salam ‘Ini Medan Bung‘ menjadi ‘This is Medan, Sir !‘ mesti mendapat dukungan dari semua pihak yang mencintai kota Medan.