Pernahkah terbayang, gimana rasanya ketika melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sama sekali selama ini ?. Plong ! Yeap, itulah yang terasa ! Darimana aku tau ? Karena aku baru melakukannya Senin kemarin.

Jadi ceritanya, dalam rangka peringatan 27 tahun diaktifkannya Pasar Modal Indonesia panitia menyelenggarakan lomba karaoke. Entah karena peminatnya banyak atau karena lagi latah dengan demam Idol dan sejenisnya maka, kantorku [dan konon kabarnya SRO lain yang menjadi peserta] menyelenggarakan seleksi yang disebut audisi. Seleksi diperlukan karena ternyata tiap instansi hanya berhak diwakili oleh tiga orang peserta saja.

Awalnya aku gak terlalu berminat untuk ikutan. Karena aku menyadari suaraku gak pernah bagus. Meski dulu di Medan ikutan Paduan Suara di gereja, tapi kalau aku nyanyi lagu pop yang keluar pasti berubah jadi lagu dangdut. Bukan lagunya yang berubah, suaraku yang merubah lagu itu menjadi dangdut !

Nah, dengan suara pas-pasan begitu aku musti mengakalinya. Pemilihan lagu harus pas. Bawain lagu bahasa Inggris aku gak b erani. Lha ngomong Indonesia aja masih belepotan, koq malah wani-wanine nyanyi boso Londo. Pilihan lagu bahasa Indonesia juga sedikit. Paling juga dari almarhum KLa Project. Mengingat cukup banyak lagu mereka yang aku tau. Tapi gak jadi karena ada peserta sebelumnya yang nyanyiin lagu mereka. Akhirnya pilihan jatuh kepada lagu dari Ada Band. Jadikan Aku Raja. Selain masih gress, jangkauan suaranya juga masih tergapai olehku.

Karena acaranya diadakan sehabis kantor, penampilan sudah pasti dengan busana kantor. Biar lebih kena dengan lagu aku pakai topi terbalik dipadu dengan jaket dari denim warna hijau. Lumayan. Kata teman-teman mirip sama rapper….

Anak Sekolahan

Akhirnya setelah sekian lama tertunda, hari ini aku akan memulai aktivitas baru. Kata orang siy, ngecharge batere yang mudah-mudahan belum soak ! Yeap! Sekolah lagi. Kayanya siy ini salah satu cara untuk bertahan di belantara metropolitan ini. Kata mertua, tanpa begini kita akan tergerus sendiri. Kenapa kate mertua ? Karena Bapak mertualah yang terutama dengan gigih mendorong.

Keingininannya siy udah lama sekali, udah dari tahun ketiga aku berada di ibukota ini. Namun baru terwujud sekarang. Sebelumnya ada aja halangannya. Duitnya lom kekumpullah. Bapak mendadak ‘pergi’lah. Atau menikah dan lahirnya anak pertama. Tapi yang pasti alasan paling utama adalah ogah-ogahan alias gak serius !

Beruntung aku punya keluarga besar [Keluaga Medan dan Keluarga Kebon Jeruk] yang support abis. Beruntung punya istri dan anak [terutama sang Jagoan kecil] yang sekarang terbiasa jalan jarak jauh Jatibening – Kebon Jeruk. Beruntung April kemarin dapet Uang Kaget. Beruntung pas ujian masuk, masih ada yang nempel di kepala ini sehingga bisa lulus saringan [meski harus matrikulasi untuk Statistik dan Teori Ekonomi....erggghhh....]

Dan di hari koperasi ini, aku menjadi warga kampus reformasi !

Perjalanan waktu

Entah kenapa, wiken kemarin tiba-tiba aku teringat sama postingan bapak ini. Walopun seberanya gak ada hubungan langsung.

Awalnya adalah malam minggu kemaren. Dalam arisan sesama warga Batak di kompleks, pembahasan seru terjadi waktu bicara soal adat Batak. Pertanyaan yang muncul sama dengan pertanyaan di beberapa milis Batak yang aku ikuti. Kenapa pelaksanaan adat Batak, khususnya adat pernikahan selalu memakan waktu yang lama. Apakah gak ada jalan keluar sehingga semua prosesi adat itu hanya berlangsung dua jam saja. Tidak seperti selama ini. Kalo dimulai sekitar pukul satu siang, sudah hampir pasti berakhir pukul lima sore. Sudah termasuk makan siang dan jam segitu sudah termasuk cepat. Bicara kesana-kemari, akhirnya aku nyeletuk [dalam bahasa Batak tentu saja] :”Amang, mungkin apa yang kita bicarakan dan menjadi mimpi kita sekarang, akan terealisasi pada jaman kami orang-orang muda ini”

Kenapa aku bilang seperti itu, karena dari pembicaraan yang terjadi aku melihat bahwa sebenarnya masih banyak orang Batak [mungkin terutama golongan tua/usia limapuluh tahunan] yang belum bisa melepas ego yang melekat di diri. Dalam pandanganku pribadi, sifat itu adalah orang banyak harus tau siapa aku !

Saat arisan hampir berakhir, ada sms masuk dari seorang sahabat. Teman lama waktu kuliah di Medan dulu. Kebetulan dia sedang di rumah teman lain yang masih satu kompleks. Sepertinya dia sedang ada masalah. Kesimpulan seperti itu aku dapat dari hasil ngobrol dengan istri beberapa hari sebelumnya. Waktu aku samperin, ternyata benar. Waktu aku liat dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Kalo untuk dia ini apalagi kalo bukan masalah jodoh ! Satu persatu temannya mengakhiri masa lajang, dia sendiri sepertinya masih belum ketemu apa yang hendak dicari.

Minggunya, aku semakin menyadari kalo adik-adikku sudah semakin dewasa [mudah-mudahan bahasanya gak terlalu formil]. Pertama kali aku menyadari hal ini dulu adalah saat si bungsu kami mulai pacaran. Sebagai si sulung dan [saat itu] tiga tahun terpisah darinya aku menyadari kalo dia sudah gede. Lucu gak siy, kalo aku berpikir seperti itu. Padahal saat itu dia sudah kuliah. Tapi justru aku sadar dia sudah gede dari hal berpacaran.

Dan minggu kemarin, adik perempuan satu satunya curhat ke edanya [eda : panggilan kepada kakak atau adik ipar dan hanya berlaku untuk sesama wanita] soal pasangan hidup. Dari pembicaraan mereka juga, aku bisa menebak kalau adikku ini siap mentas. Sebelumnya, sekitar empat bulan lalu kami [aku dan istri] mendapat kabar bahwa adik nomer dua sedang serius menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Keseriusannya kelihatan dari sikapnya. Dia sudah membawa temannya itu ke rumah untuk ketemu dan berkenalan dengan Mama.

Tapi diluar itu, ada satu hal yang bikin aku terharu dan menyadari bahawa banyak perubahan yang telah aku dan keluargaku alami. Ini terkait dengan Si Abang, jagoan kecilku itu. Hari Minggu kami membawanya ke Tumble Tots. Senangnya bukan main. Berlari kesana kemari di ruang kelas yang diset sebagai tempat bermain, seolah tiada yang ditakuti. Padahal ini kali pertamanya ke sana. Biasanya dia akan memperhatikan dulu keadaan untuk kemudian dihadapkan pada dua pilihan sikap. Tetap berdiam diri dalam ‘perlindungan’ orangtuanya atau malah mulai menangis.

Selama ikut kelas, dia yang ditemani Bundanya berpindah dari satu mainan ke mainan lain dan sebentar-sebentar menoleh kepadaku sambil tertawa. Seolah memberitau kalo dia udah besar dan berterimakasih dibawa ke sana. Tingkahnya ini membuatku terharu. Tak terasa si Abang sudah besar !

Setelah tigapuluh hari berkampanye, kini tibalah giliran para calon Presiden dan calon Wakil Presiden beristirahat. Tapi mungkin hanya beristirahat dari kampanye. Karena pasti banyak yang mereka kerjakan menyambut pemilu tanggal 5 Juli lusa. Proses Pemilu memasuki masa minggu tenang.

Mungkin sambil merenungkan lagi perjalanan kampanye mereka. Mungkin menghitung berapa banyak uang yang telah dikeluarkan. Mungkin menghitung peluang yang tersedia. Mungkin mengatur rencana kampanye tahap kedua kalau lolos dari pemilu putaran pertama. Sebaliknya, mungkin merencanakan mau melakukan apa kalau tidak lolos ke putaran kedua.

Bagaimanapun, tugas mereka telah selesai. Mereka telah mencoba menawarkan semua program yang mereka miliki dengan cara semenarik mungkin. Ibarat bermain bola, sekarang bola ada di tangan seratus empatpuluh jutaan pemilih. Di tangan merekalah nasib bangsa ini berada. Mudah-mudahan semua pemilih mendapat terang dari Sang empunya hidup. Karena hanya dengan itulah masa depan bangsa ini menjadi lebih terang.

Selamat memilih !