This is Medan, Sir !

Aku tertarik dengan inforial di Majalah Tempo terbaru. Soal kota Medan tercinta. Dari berita yang dimuat disitu, ternyata banyak program pembangunan yang tengah dijalankan oleh PemKo Medan. Soal Kesawan Squere, aku sudah tau. Ternyata selain itu masih banyak yang lain. Ketauan banget udah lama gak balik ke Medan.

Katanya nanti bakal ada yang namanya Citi Hall. Bangunan yang nantinya akan jadi gedung tertinggi di Medan ini terletak persis di belakang gedung Balai Kota sekarang. Itu makanya disebut citi hall. Selain itu ada lagi Plaza Medan Fair yang menempati kawasan yang dulu ditempati Medan Fair atau Pekan Raya Sumatera Utara. Taman Ria yang disebelahnya juga telah berubah. Bukan hanya bertambahnyna jenis permainan tapi juga namanya akan menjadi Wonderia.

Semuanya membuat rindu akan suasana kota Medan. Dan sesuai rencana pemko Medan, tahun 2025 Medan bisa bersaing dengan Kuala Lumpur dan Singapura. Termasuk juga sebagai kota belanja. Dan konon katanya, slogan Ini Medan, Bung ! bakal digantikan : This is Medan, Sir !. Mudah-mudahan semua berjalan sesuai rencana. Sambil berharap kelak kalau sudah menjadi kota metropolitan tidak seperti Jakarta yang tak pernah lepas dari macet. Gak peduli hari kerja atau bukan, jam sibuk atau enggak, libur anak sekolah atau tidak. Sebagaimana pernah aku tulis di sini, satu hal penyebab kemacetan adalah ketidakteraturan pengendara. Main serobot kiri kanan. Seakan semua merasa memiliki urusan lebih penting dari yang lain.

Ada satu masa dulu aku dilangganankan majalah Bobo sama almarhum Bapak. Ini berlangsung bahkan sebelum aku sekolah. Bahkan belum bisa membaca. Jadi apa yang ada di majalah dibacakan oleh Bapak. Yang paling aku dan adik-adikku ingat kegiatan dibacakan itu adalah saat membaca kisah bersambung Deni Manusia Ikan. Soalnya bahasa ikan yang tiada huruf hidup itu dibacakan juga sama si Bapak. Langganan majalah in berlangsung terus sampai usia SMP. Tapi tentu saja bukan Bobo lagi. Tapi berganti menjadi majalah Hai dan tabloid Monitor [almarhum]. Bahkan majalah Bapak seperti Tempo ato Intisari ikut jadi santapan.

Mungkin apa yang dilakukan oleh Bapak ini yang bikin aku jadi ehem…suka membaca sampai sekarang. Sekembali dari Pesta Buku Jakarta kemarin aku baru menyadari satu hal. Bahwa ternyata orientasi bacaanku. Enggak dech, orientasi pembelian bukuku berubah terus dari waktu ke waktu. Aku pakai orientasi pembelian buku, karena kadang beli buku gak tebaca ampe abis.

Pertama sekali aku mulai mengumpulkan buku adalah soal komputer. Ini masih jaman SMA dulu. Kebetulan Bapak baru bisa beliin komputer. Karena gaptek dan cuman bisa maen game doang, aku beli beberapa buku buat belajar mengoperasikan komputer yang ada. Mulai dari Wordstar, Lotus 123, dBase III sampe Chiwriter. Wah, klasik banget ya ? Karena udah punya duit lagi, akhirnya komputernya diganti. Begitu juga dengan operating systemnya. Karena pake Windows dan gak pake A> [A prompt] lagi, akhirnya koleksi buku berubah. Menjadi Windows, MSWord, Excel dan Powepoint. Sekarang malah merambah ke Outlook [karena setelah di Jakarta ngerti email] dan Frontpage karena getol dengan yang namanya website.

Waktu kuliah dan ambil mata kuliah seminar, ketemu buku Marketing Plus dari Hermawan Kertajaya. Aku pikir, asyik juga ini buku. Ngebahas masalah ‘berat’ dengan ringan. Mulailah aku berburu buku-buku karangan dan terbitan Hermawan Kertajaya itu. Malah sempat ikutan seminarnya segala. Itu jugalah yang bikin aku suka baca majalah Swa[sembada] dulu. Dari situ melebar ke majalah Prospek [kayanya udah almarhum ini majalah]. Karena keterbatasan dana aku punya kiat sendiri untuk masalah majalah ini. Ada satu tempat yang rutin aku kunjungi di Medan dulu. Sambu namanya. Terminal angkot di Medan. Saat itu, inilah surga bacaan buatku. Di sana majalah terbitan Jakarta terbitan minggu lalu dijual dengan harga 500 sampe 1.000 perak [tergantung laris enggaknya] cuman sampulnya aja yang disobek. Gak tau kenapa. Belakangan pedagang seperti ini ternyata mendekat ke kampus-kampus. Maksudnya berdagang di kampus.

Pindah ke Jakarta dan kerja di sini, merubah lagi orientsi bukuku. Kebetulan aku ditempatkan di unit kerja penertiban yang berhubungan dengan aturan dan peraturan. Ini membuat aku memburu buku-buku hukum dan kumpulan peraturan. Terutama yang berhubungan dengan hukum perdata, hukum dagang dan hukum perusahaan. Belakangan, karena ditunjuk ngurusin serikat pekarja, koleksi buku peraturan merembet ke peraturan perburuhan.
Selain soal hukum, aku juga rajin ngumpulin buku sebangsa Chicken Soup gitu. Trus bukunya Gede Prama, bukunya Anthony de Mello dan beberapa buku sejenis. Ya, gaya renungan ato pencerahan gitulah.

Setelah itu, koleksi bergeser lagi ke sastra. Cuman bukan jenis yang berat. Yang ringan aja. Sebangsa kumpulan cerpen Kompas, novel pop Fira Basuki [triloginya], bukunya Hamsad Rangkuti, Djenar Maesa Ayu dan yang lain. Satu dua ada juga yang berat dari Pramoedya. Selain sastra aku juga ngumpulin buku budaya. Budaya Batak tentu saja. Apalagi setelah menikah, aku musti sering-sering ikutan dalam kegiatan adat. Mau tidak mau aku musti menambah memori dari apa yang telah aku pelajari dari orangtua dan pergaulan di Medan.

Akhir-akhir ini materi koleksi buku berubah lagi. Karena sedang asyik ngeblog, aku tertarik dengan dunia tulis menulis. Semakin ke sini, aku menyadari ternyata aku doyan juga ngetik di papan kunci ini. Aku juga menyadari menariknya, ternyata kegiatan tulis menulis ini terkait dengan dunia lain [bukan yang ada setannya itu !]. Maksudnya terkait dengan dunia komunikasi, Public Relation termasuk iklan. Nah, buku dengan muatan terakhir inilah yang belakangan menambah koleksi bukuku. Ternyata benar seperti kata pak Hernowo, kegiatan membaca dan menulis memang saling melengkapi. Dan yang pasti kedua kegiatan ini menyehatkan !

21. June 2004 · 2 comments · Categories: kantor

AFI : Akademi Fantasi vs Akademi Fresiden

Berakhir sudah Kontes Popularitas yang dikasih judul AFI 2 ! Kontes seri kedua dari kontes yang diadaptasi dari Meksiko ini menghasilkan juara yang menurut banyak orang layak menjadi juara. Bukan apa-apa, kemampuan menyanyinya [kemampuan utama yang dipertontonkan] memang di atas rata-rata peserta lain. Mudah-mudahan aja hasil ini bisa dipakai penyelenggara untuk ‘membersihkan’ namanya. Tapi yang menarik bukan dari sisi isi ajang ini. Karena dalam posting terdahulu aku sudah bahas ini dan aku tetap pada pandanganku bahwa ini memang ajang mencari popularitas buat pesertanya dan ajang mencari fulus buat penyelenggaranya.

Dalam malam Grand Final kemarin ada dua orang calon Presiden yang ikut menyumbangkan suara. Calon dari Partai Golkar dan calon dari Partai Demokrat. Semantara calon dari Partai PDIPerjuangan, ya seperti biasa kalau hubungan dengan media…hanya mengirim Puan Maharani. Selain menyanyi, kedua peserta AFI versi KPU [Akademi Fresiden Indonesia] ini juga dikasih komentar oleh para komentator. Sementara calon Presiden dari PAN, tidak hadir. Mungkin karena pada final pertama sudah hadir.

Yang menarik [meski sudah tau kalau dua CaPres itu akan membantah kalau dikatakan sedang kampanye] aku merasa mereka cukup pas berkampanye dan memasuki area AFI ini. Apalagi SBY yang di salah satu iklannya mencoba masuk ke pasar anak muda. Semakin klop lagi karena SBY membawakan lagu Pelangi di Matamu punya Jamrud. Sementara Wiranto, membawakan ‘lagu berat’ [aku gak ingat judulnya] ciptaan dari Edward Janner Sinaga [kalau gak salah, Pak Sinaga ini pernah jadi Dirjen di departemen Penerangan].

Tapi diatas semuanya, aku dan mungkin banyak anak bangsa yang lain berharap satu. Hasil Pemilu kali ini berbeda dari hasil AFI. Kenapa ? Karena seperti yang aku katakan di atas, AFI lebih berat kontes popularitasnya daripada kontes kemampuan nyanyi. Jadi yang berharap Pemilu 2004 menghasilkan Presiden yang berkualitas dan bukan Presiden yang populer silahkan mengacungkan tangan.

Iwan Fals for Presiden !

Andai saja Iwan Fals mencalonkan diri menjadi Presiden, mungkin aku akan memilih dia di tanggal 5 Juli 2004 besok. Alasan pertama, tentu saja karena suka dengan lagunya ! Gak perlu tau visi, misi dan program kerjanya ? Aku pikir gak terlalu pentinglah itu. Toh gak ada bedanya dengan iklan salah seorang calon Presiden yang bilang, “kapan lagi kita punya Presiden keren ?” he…he…he…

Alasan kedua adalah konsistennya dia dalam berkeseinan. Dari sejak mulai rekaman di awal 80-an hingga tahun ini, kejelian memotret keadaan sehari-hari ke dalam lagu tetap tidak berubah. Ini terutama keseharian orang-orang yang terpinggirkan. Orang-orang yang pernah akrab bersamanya selama menjadi pengamen di daerah Blok M. Mulai dari guru, pelacur, preman, pengangguran, korban PHK bahkan pengungsi Ethiopia.

Tapi bukan itu saja. Bang Iwan [begitu dia sering disapa] pernah juga membuat lagu tentang urusan kenegaraan yang mungkin berhubungan dengan dunia politik. Meski demikian terasa ringan dan enak saja disenandungkan. Dengan ringan dia melagukan lagu tentang Wakil Rakyat. Kesempatan lain, membicarakan korupsi [dia pake istilah Tikus tikus Kantor]. Atau kita ikut merasa sedih kala dia melagukan Bung Hatta. Di album terbarunya “Manusia 1/2 Dewa” melagukan cita-citanya tentang Presiden mendatang.

Nah, hal terakhir yang membuatku semakin kagum kepada pahlawan Asia ini adalah, kasus di album terakhirnya. Kebetulan sampul album itu memuat gambar Dewa Wisnu [Dewa dalam agama Hindu]. Hal ini mendapat protes dari seorang anak muda yang mengklaim diri mewakili Forum Intelektual Muda Hindu Dharma. Arya nama akan muda itu, mengemukakan di media bahwa apa yang telah dilakukan oleh Iwan telah melecehkan agama Hindu. Oleh sebab itu, sampul kaset harus diganti.

Mungkin karena tidak mau repot, pihak label rekaman sepakat meneken nota perdamaian dengan si anak muda. Namun Iwan Fals menyampaikan kalau dia keberatan dengan perdamaian itu. Menurutnya, kalaupun sampul kaset itu harus diganti, harus ada surat resmi yang menyatakan unsur pelecehan terpenuhi. Namun kalau tidak, si anak muda harus mengakui salah tafsir dan meminta maaf. Gimana gak hebat ? Mendengar berita ini, aku cuman berpikir, kenapa ya, capres dan cawapres yang gusar dengan kampanye negatif itu, tidak mengambil sikap seperti si Oemar Bakri ini ?

Satu hal lagi. Selengkapnya mimpi Iwan soal negara ini ada di sini.

The Indonesian Television Watch

Dua hari lalu, dari beberapa milis yang aku ikuti aku menerima undangan untuk bergabung dengan satu milis yang bernama indotvwatch atau The Indonesian Television Watch. Aku langsung bergabung karena merasa sejalan dengan visi dan misi dari milis ini. Sebagaimana ditampilkan di awal websitenya, niat dibalik pendirian milis ini adalah menjadi wadah bagi siapa saja yang peduli dengan pertelevisian Indonesia. Juga untuk memperjuangkan program televisi Indonesia yang lebih baik, dewasa, dan maju.

Akhir-akhir ini sering muncul berita mengenai acara televisi yang sepertinya semakin kebablasan. Seolah-olah semua rambu yang ada ditabrak hanya untuk mengejar apa yang namanya rating. Setelah berapa lama stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan tayangan misteri, muncul tayangan berita kriminal yang mempertontonkan ‘kesigapan’ aparat kepolisian menangkap penjahat. Sudah pasti yang terakhir ini dilengkapi dengan adegan berdarah. Jenis ini diberi nama sesuai acaranya. Ada Sergap, Buser, Patroli, TKP dan sebagainya.

Setelah itu muncul lagi kontes adu bakat untuk menjaring calon ‘bintang’ baru semacam AFI [Indosiar], Indonesian Idol [RCTI], KDI [TPI], MOKA [TV7] dan beberapa yang lain. Setelah itu mucul lagi tayangan yang dikalim sebagai reality show. Entah apa yang mendasari sehingga digunakan istilah ini. Aku mencatat yang pertama sekali menggunakan istilah ini adalah Katakan Cinta. Seperti biasa setelah itu muncul variannya di stasiun lain seperti Harap Harap Cemas dan Playboy Kabel.
Tidak cukup sampai di situ, muncul lagi program-program yang diniatkan untuk mempermainkan emosi orang. Mulai dari yang dirancang untuk ngerjain orang [seperti MOP atau Mbikin Orang Panik dan Emosi] sampai yang berhubungan dengan hantu-hantuan semacam Paranoid.

Beberapa tayangan di atas, sudah memakan ‘korban’. Untuk berita kriminal, akhirnya pihak kepolisian menyampaikan keberatan karena aktivitas mereka dalam menangkap penjahat disorot langsung. Secara tidak langsung keberatan juga muncul. Di beberapa milis perbincangan mengenai seorang yang kebetulan gay diekspos di salah satu episode Playboy Kabel. Banyak yang akhirnya ‘mengutuk’ acara ini dan acara sejenis yang menyatakan diri sebagai reality show itu. Yang paling mutakhir adalah kasus yang menimpa anggota Kepolisian Sektor Kebun Jeruk. Seorang Kepala Unit Patroli bahkan sampai dipecat serta atasannya diberi sanksi.

Yang disayangkan adalah, pihak pengelola stasiun televisi bereaksi [dalam arti menghentikan program tersebut] setelah berurusan dengan pihak aparat hukum [baca : kepolisian]. Bila belum, tayangan itu akan jalan terus dengan mengatasnamakan rating. Untuk menghindari hal inilah aku merasa pentingnya organisasi semacam Indonesian Television Watch ini. Dan jika kalian merasakan hal yang sama, silahkan bergabung dengan mengirimkan email ke alamat : indotvwatch-subscribe@yahoogroups.com

Berakhir sudah Gathering Nasional ke 2 BLogBugs ! Gathering yang diadakan di Kaliurang Jogjakarta ini menghasilkan Manifesto BlogBugs yang isi selengkapnya adalah :

MANIFESTO BLOGBUGS

  • Blogbugs adalah komunitas blogger Indonesia.
  • Blogbugs terdiri dari orang Indonesia.
  • Blogbugs terbentuk karena melalui dunia internet sekalipun, dapat tercipta persahabatan sejati.
  • Kami bangga dengan blog; kami berjalan bersama mengikat persaudaraan di antara komunitas blog yang ada; dan kami berusaha menyebarkan “virus” blog ke seluruh orang Indonesia.

Kaliurang, 5 Juni 2004
Komunitas Blogbugs

Sebagai anggota dari komunitas yang bermotto “Even in cyber world, we can find true friendship” ini aku cuma bisa [dengan senang hati] meneriakkan poin ke-empat. Karena selama ini sempatnya cuman jadi pemerhati. Meski pemerhati, tak sedikit yang aku aku dapet dari sini.

Jadi kalau mau terinfeksi virus blog ini, silahkan klik item-item menarik yang ada di kotak kuning di pojok kanan atas halaman ini. Trus kunjungi situs BlogBugs di alamat http://www.blogbugs.com. Setelah itu, kalau akhirnya memutuskan untuk membangun blog sendiri, kasihtau aku yach. Siapa tau kita bisa saling link !

Curhat Ibu Mega soal Media

Kasihan sekali melihat Bayu Setiono semalam. Pukul 22.00 WIB di SCTV, dia tampil dalam acara Wawancara dengan Megawati. Mungkin materi yang telah dipersiapkan matang, kembali mentah saat berhadapan dengan Megawati Sukarnoputri [MS] yang calon Presiden dari partai dengan perolehan suara di peringkat kedua Pemilu legislatif kemarin.

Wawancara dibuka dengan pertanyaan soal prestasi pemerintahan MS. Dan dengan gagah, MS mengatakan BPPN !. Bagaimana di masa pemerintahannya, BPPN [yang didirikan semasa era Suharto] bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ketika Bayu mencoba ‘mengorek’ prestasi lain, MS hanya menjawab, “Apa perlu saya menyebutkan satu persatu ?”. Sebagai penonton aku merasa suasana sudah tidak enak. Aku berpikir, mungkin ini yang membuat pers kurang meliput beliau.

Selanjutnya Bayu bertanya, kenapa sepertinya selama ini banyak kebijakan pemerintahan MS yang tidak ‘sampai’ ke bawah. Menjawab inilah akhirnya terbuka pertanyaanku tadi. Ternyata MS kurang suka dengan media karena sering main plintir dalam menyajikan berita. Belaiu bahkan mencontohkan berita yang menyamakan dia dengan Sumanto [MS tidak menyebut nama, Sumanto disebutkan oleh Bayu]. Menurutnya apa yang dilakukan sekarang adalah cara terbaik. Beliau tidak merasa patah arang meski media mengambil sikap seperti itu padanya. Menurut MS, pilihan sikap hanya ada dua. Meladeni pers atau bekerja keras. Waktu Bayu bertanya apakah kapok berhadapan dengan media, MS menjawab, “tentu saja tidak, buktinya saya menerima anda”.

Curhat soal media ini berlanjut waktu ngomongin soal TKI. Waktu ditanya kenapa sepertinya perhatian MS kurang kepada TKI. Meski mengunjungi keluarga Nirmala Bonat, namun tidak melakukan apa-apa kepada pengungsi di Nunukan. Sementara Presiden Aroyo memberi perhatian besar. Menjawab ini, MS berkata kalau beliau menghargai upaya Aroyo. Bahkan sampai menelpon Presiden Filipina itu. Bayu langsung menimpali, “Ibu menelpon ?. Kenapa tidak diberitakan ?”. Langsung dijawab, “kalau media selalu menyalahkan saya, buat apa dikomunikasikan ?

Ada satu hal yang lucu waktu bicara soal penggusuran. Bayu bertanya mengenai satu pernyataan MS di Media. Dengan tajam MS bertanya, “apa saya menyatakan seperti itu ?. Saya tidak pernah menyatakan seperti itu. Dari siapa anda mendapat informasinya. Siapa wartawannya ?” Sepertinya si ibu marah. Tapi pas ditanya oleh Bayu apakah beliau pemarah, jawaban yang diterima Bayu adalah, “apakah menurut anda saya pemarah?”. “Tidak, bu” jawabnya. Si ibu langsung berkata, “Kalau begitu, buat apa hal itu kita dialog kan?”. BAH !

Secara keseluruhan apa yang tersaji dalam wawancara semalam sangat membosankan [kalau tidak bisa dibilang memuakkan]. Aku merasa apa yang dikatakan sipil bergaya militer, tercermin dalam sikap ibu MS ini. Wawancara semalam berbeda sekali dengan wawancara dengan calon Presiden lain. Seorang Hamzah Haz saja bisa menyikapi dengan baik pertanyaan mengenai jumlah istri di Trans TV. Mudah-mudahan aku salah. Mudah-mudahan saja itu merupakan pengejawantahan dari satu kalimat di iklan Mega-Hasyim yang menyatakan, “mulai bekerja tanpa banyak bicara“. Dan semoga kalimat lain dari iklan itu tidak terwujud, “rakyat menuntut perubahan dan keadilan