Ada A’a Gym

Hari Senin ! Berarti baru lagi dalam minggu ini. Sudah tiga minggu ini aku menantikan hari ini. Bukan apa-apa. Di RCTI, setiap Senin malam ada satu acara talkshow baru yang menampilkan tokoh kondang saat ini, A’a Gym ! Ditayangkan setiap pukul 22.oo WIB, acaranya diberi judul Ada a’a Gym. Meski tidak menganut agama yang sama dengan beliau, aku suka mendengar dan menonton ceramahnya yang saat ini tersebar di hampir semua stasiun tivi.

Aku pikir, saat ini julukan guru bangsa lebih tepat disematkan kepada dai kondang ini. Setelah Nurcholis Majid memutuskan [meski batal] bertarung merebut kursi Presiden. Kenapa ? Karena dalam tiap ceramahnya, penceramah yang lebih senang dipanggil A’a daripada Kyai ini selalu memberikan kesejukan [setidaknya menurutku].

Ajakan [kalau tidak boleh disebut ajaran] beliau yang terkenal adalah 3 M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil-kecil, Mulai sekarang juga. Sebuah ajakan yang kalau diterapkan oleh 200 jutaan penduduk Indonesia bisa mengubah negara ini ke arah yang lebih baik. Karena ajakan itu, banyak yang bersimpati kepadanya dan mungkin menjadi ‘pengikut’-nya. Mungkin itu jugalah yang membuat sehingga akhirnya pada masa kampanye ini, banyak yang merasa perlu untuk ‘menghadap’ beliau. Untunglah jauh-jauh hari beliau menyatakan tidak akan mendukung salah satu parpol atau kontestan pemilu.

Memang, pada awal masa kampanye pemilu legislatif kemarin, beliau sempat diprotes karena dianggap memihak salah satu parpol. Ini disebabkan karena lagu ciptaannya yang berjudul Jagalah Hati dipakai oleh parpol tersebut untuk beriklan [berkampanye]. Menjawab kerisauan orang, A’a Gym menjawab akan mencoba membicarakan lagi hal itu. Karena memang dari awalnya tidak diniatkan seperti itu. Sepertinya parpol itu mengerti keresahan sang Kyai dan pengagumnya. Karena setelah itu tidak terdengar lagi lagu itu di kampanye si partai.

Kartu As [yang mudah-mudahan bukan kartu pamungkas]

Dalam permainan kartu, seperti poker dan sejenisnya Kartu As [mungkin pengindonesiaan dari Ace Card] dianggap sebagai kartu penentu kemenangan. Oleh sebab itulah sering terdengar kalimat, “Dia belum mengeluarkan kartu As-nya” untuk menyatakan belum mengeluarkan jurus pamungkas. Bahkan ternyata dalam dunia penerbangan, kartu as sering dianggap milik para jagoan

Mungkin ini jugalah yang menginspirasi Telkomsel menggunakan Kartu As sebagai nama untuk produk terbaru mereka. Produk yang diluncurkan bertepatan dengan ulangtahun ke 9 Telkomsel, merupakan kartu selular prabayar. Melengkapi Kartu Halo [Paska Bayar] dan Kartu Simpati [pra bayar] yang lahir lebih dahulu. Sebagaimana iklannya, banyak kemudahan yang ditawarkan kartu ini. Diantaranya adalah bebas terima telpon dari mana dan siapa saja [baca : bebas roaming nasional]. Satu fitur yang selama ini lekat dengan Mentari dari Satelindo.

Sebagaimana diketahui persaingan antar provider di industri telepon selular menyisakan Telkomsel dan Satelindo sebagai peringkat teratas [tanpa mengurangi penghargaan kepada provider lain]. Persaingan diantara keduanya tergambar dari iklan-iklan kedua provider ini yang seolah saling menyindir. Provider satu misalnya mengatakan, “buat apa bebas roaming kalo tidak ke mana-mana ?“. Tidak berapa lama lagi, ada ‘balasan’ untuk iklan ini, Satelindo menyatakan kurang lebih”Kalau bebas roaming, sesama provider mana bisa ngobrol ?“.

Aku kurang tau mana yang keluar lebih dahulu. Sebab sepertinya iklan terakhir seolah jawaban dari Satelindo terhadap program iklan HaloBebas Telkomsel yang mencoba mengedepankan bebas roaming namun masih ditambah embel-embel, “untuk panggilan dari sesama pelanggan Telkomsel“. Apalagi perang seolah tak berhenti. Sebab, begitu Telkomsel mengeluarkan program HaloBebas, Satelindo melalui Matrix mengeluarkan program Matrix 9 yang mirip dengan program HaloBebas.

Nah, apakah dengan mengeluarkan Kartu As, Telkomsel menyatakan diri sebagai pemenang ? Belum tentu. Sebab kalau mengamati pertarungan selama ini, besok lusa akan ada jurus baru lagi. Kalau sudah begini, bisa saja kita-kita sebagai pengguna yang diuntungkan [Atau malah dibikin bingung dengan pilihan yang ada ?]

Tanah Air

tanah airku, tidak kulupakan
kan terkenang selama hidupku
biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
tanah ku yang kucintai,….engkau kuhargai

walaupun banyak negri kujalani,
yang mashyur permai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku,
disanalah ku rasa senang
tanah, ku tak kulupakan….engkau kubanggakan


Terharu sekali rasanya mendengar lagu karangan Ibu Sud ini. Semalam aku mendengarnya sehabis acara Ada Aa Gym di RCTI. Apalagi, lagu ini dibawakan oleh seorang anak. Mengena sekali dengan tema acaranya yang bincang-bincang dengan calon Presiden dari Partai Amanat Nasional.

Aku jadi mikir sendiri, adakah para kandidat calon Presiden itu pernah terpikir lagu ini ?

Berakhir sudah harapan pak Dur untuk menjadi Presiden kedua kalinya. Komisi Pemilihan Umum, akhirnya tidak meloloskan beliau untuk ikut bertarung di pemilihan Presiden tanggal 5 Juli 2004 mendatang. Seperti yang sudah diperkirakan, masalah ini langsung ‘rame’.

Hanya, meski sering ngeselin, sedih juga aku melihat si Gus ini. Saat kemarin semua calon Presiden kebingungan mencari pasangan berkoalisi [Wakil Presiden], semuanya seolah-olah berlomba-lomba mencari untuk mendekati Gus Dur. Hanya untuk sekedar meminta dukungan. Hanya karena beliau menjadi ‘pemimpin’ sebuah organisasi massa yang beranggotakan puluhan juta. Seolah jumlah anggota yang puluhan juta ini menjadi jaminan mutu dalam pertarungan menuju kursi Presiden.

Namun saat si Gus menghadapi persoalan sekarang, aku belum melihat ada yang mendekati untuk memberi semacam dukungan moral atau apalah istilahnya yang membantu beliau untuk bisa menerima keadaan. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan pameo yang berkata, “dalam politik tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi” ? Entahlah. Aku cuma berharap, pendukung si Gus bisa menerima situasi ini dengan lapang dada. Tidak perlu harus melakukan tindakan-tindakan yang nantinya akan merugikan diri sendiri maupun bangsa ini.

Ketemu almarhum Bapak di mimpi

Apa artinya ya kalo kita mimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal ? Bukan apa-apa. Dalam sebulan ini, tiga kali aku bermimpi ketemu dengan bapak. Padahal bapak sudah meninggal empat tahun lalu. Karena stroke dan pembuluh darah di otak pecah, bapak meninggal empat Mei dua ribu.

Awalnya bermimpinya sekitar dua minggu lalu. Kejadian sampe dua hari berturut-turut. Yang lucu, dua kali bermimpi ketemu bapak, hari berikutnya aku juga bermimpi ketemu dengan bapa uda [adiknya bapak] yang juga telah meninggal tepat setahun lalu. Dalam satu mimpi ketemu bapak itu aku malah sedang berada di dalam rumah untuk menyusun tikar di ruang tamu. Geser-geser kursi sebagai persiapan menyambut jenazah bapak. Dalam mimpi itu, saat jenazah bapak tiba dari rumah sakit aku diperintahkan mamak untuk .

Pagi ini aku bermimpi lagi. Dan terbangun karenanya. Dalam mimpiku ini, aku berada di rumah Medan. Di ruang tamu bersama Yeremia yang gak pernah dikenal oleh bapak. Sedang asik bermain dengannya, di depan rumah berhenti taksi dan turunlah bapak dari dalamnya. Kelihatannya kurus dan mengenakan pakaian kebesarannya, t-shirt dengan celana pendek. Aku langsung membawa Yeremia ke gerbang depan menyongsong bapak yang menurunkan koper bawaanya dari bagasi taksi.

Menyambut ompungnya Yeremia lasak seperti biasa di pangkuan. Menggeliat bahkan sampai terjatuh dari pangkuanku. Tentu saja aku kaget bukan main. Tapi belum sempat aku bersedih karena Yeremia menyentuh tanah karena jatuh, aku terbangun. Aneh sekali. Kalo aku cerita ke istriku, mamak atau adik-adik di Medan, pasti mereka bilang aku kangen sama bapak. Apa memang benar demikian adanya ?

Pengalaman pertama yang berkesan

Berapa bulan lalu aku beli buku yang judulnya, Andaikan Buku itu Sepotong Pizza. Sebenarnya buku ini buku lama. Isinya mengenai trik bagaimana biar membaca buku menjadi satu kesenangan. Selesai membacanya aku tertarik dengan beberapa buku dari penulis dan penerbit yang sama. Salah satunya berjudul Mengikat Makna.

Ketika akhir Maret ada pameran buku Islam di Jakarta Hilton, aku pun mencari buku itu di sana. Karena aku tau penerbit ini pasti ikutan. Bukan apa-apa, mereka terlanjur dikenal sebagai penerbit buku islam. Meski aku tau beberapa bukunya bersifat universal. Dan ternyata memang benar. Mengikat Makna kudapat, plus beberapa buku sejenis. Sesampainya di rumah, seperti biasa kalau baru membeli buku, buku-buku itu aku tandatangani dan dikasih sampul plastik.

Selesai semua itu, mulailah membaca bukunya. Ternyata ada beberapa halaman yang hilang alias tidak lengkap. Yang kalau dipikir-pikir, sayang juga. Mau ganti, pamerannya udah selesai. Mau mendatangi penerbitnya jauh di Bandung. Akhirnya aku mencoba mencari tau melalui pengarangnya yang memberi alamat email. Disarankan untuk menghubungi penerbitnya di Bandung. Selain itu aku juga mengunjungi situsnya. Ternyata di sana ada informasi untuk mengatasi masalah ini.

Akhirnya aku kirim buku cacat itu ke Bandung dengan melampirkan salinan ongkos kirimnya. Dan ternyata, kemarin aku menerima kiriman buku pengganti plus pengganti biaya kirim dari Jakarta ke Bandung. Hebat, euy ! Ini pengalaman pertama buatku. Customer Satisfaction jalan dengan baik. Terima kasih Mizan !

updated : mungkin karena terlalu senang aku gak nampilin link ke Mizan. Kepada mbak Ida yang isi comment, Mizan itu di http://www.mizan.com

Mungkin banyak yang pernah ngalamin ini. Belanja di supermarket dapat kembalian permen ! Ini biasanya terjadi kalau kembalian yang mestinya kita terima memiliki nilai ‘ganjil’. Maksudnya, ada pecahan 25,50 bahkan 100 rupiah. Kalau ditanya kepada kasir, katanya karena mereka tidak memiliki uang pecahan senilai itu. Pernah terpikirkan untuk sering-sering mengantongi permen kalau belanja di supermarket. Jadi kalau belanjaan kita bernilai Rp.10.550 misalnya, kita cukup memberi uang Rp.10.500 ditambah permen sebiji. Logikanya sama aja kan ? Tapi aku pernah tanya ini ke satu supermarket. Dijawab sama kasirnya, gak boleh. Heh ? Coba bayangkan apabila dalam sehari ada 1000 orang aja yang berbelanja, dan masing-masing dipotong 25 perak aja. Berapa tu jumlahnya setahun.

Beberapa tahun lalu, hal ini sempat jadi masalah. Diributin di media massa. Hingga ada surat edaran dari Bank Indonesia yang menyatakan bahwa mereka siap untuk menukarkan uang pecahan kecil [recehan] apabila ada masyarakat yang membutuhkan. Bahkan aku pernah ingat pernah ada satu iklan menarik soal ini. Aku bacanya di majalah. Inti dari iklan itu adalah menampilkan koin dari beberapa negara. Yang menarik [atau lucu ?] untuk koin negara Indonesia dicantumin permen !.

Nah, akhir minggu lalu aku berbelanja di Alfa dengan nilai belanja 9.850 aku mustinya menerima kembalian 150 rupiah. Tapi oleh si kasir ditanya, “Yang limapuluh rupiah mau disumbangkan ke pundi amal, Pak ?”. Aku jawab,”Boleh”. Ternyata benar. Karena setelah melihat struk belanjanya ada catatan kalau ada uang senilai 50 rupiah yang disumbangkan ke pundi amal. Aku pikir apa yang dijalankan oleh mini market ini boleh juga. Dan layak untuk diikuti.