tak terasa,
setahun sudah dia mengisi hari-hari kami
banyak sudah yang dia pelajari,
sebanyak yang kami pelajari dari kehadirannya
selamat ulang tahun, nak…..
maafkan bapak dan bunda
karena masih banyak yang perlu kami pelajari
dalam menghadapimu

teduhkanlah hatiku, lelahkan jiwaku
duhai engkau, cahaya mataku
yang menuntun jalanku
yang memandu hidupku
yang meredupkan perih, penatku
tersenyumlah, bahagialah
sungguh engkau yang melumpuhkan hatiku
yang melipurkan rinduku
senyuman itu menyenangkan aku…..

tersenyumlah…bahagialah
sungguh engkau yang melumpuhkan hatiku
yang melipurkan rinduku
senyuman itu menyenangkan aku

* Cahaya Mata – Padi

Beberapa waktu lalu dalam sebuah milis yang aku ikuti ada cerita tentang Neslon Tansu yang konon katanya merupakan salah seorang Profesor termuda dalam sejarah pendidikan di Amerika. Kalau melihat namanya sepintas tidak keliatan kewarganegaraannya. Ternyata memang demikian adanya. Banyak yang menyangka anak muda berusia 26 tahun ini warga negara Taiwan. Ternyata Nelson merupakan seorang putra Indonesia kelahiran Medan !

Membaca cerita Nelson, terasa sekali aroma nasionalismenya. Meski banyak yang menyangka dia dari negara Taiwan atau Jepang, tapi dengan bangga dia mengaku sebagai orang Indonesia.

Seminggu terakhir ini, kita juga mendengar bahwa Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma diangkat menjadi Olimpian. Warga Olimpiade. Dengan kedudukan ini, Susi dan Alan berkesempatan mengarak obor Olimpiade pada bulan Juli mendatang di negara asal Olimpiade itu, Yunani !. Mereka berda mewakili 220 juta penduduk Indonesia bersama segelintir atlet legendaris dunia. Sungguh membanggakan !

Benang merah dari kedua cerita ini adalah bahwa mereka bertiga adalah manusia Indonesia yang mendunia. Hal lain yang lebih menarik adalah mereka warga Indonesia yang kebetulan ‘keturunan’. Kenapa aku harus pakai tanda petik di kata keturunan ? Karena ternyata Susi dan Alan [mungkin bersama puluhan atlet bulutangkis seperti mereka] tidak [atau belum ?] diakui sebagai warga negara Indonesia. Seringkali terdengar bahwa mereka diwajibkan memiliki SBKRI [Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia]. Padahal dalam setiap pertandingan resmi yang mereka ikuti, yang membawa nama negara, mereka datang atas nama Indonesia. Negaranya. Di kaos yang mereka pakai bertanding tertulis Indonesia. Kalau mewakili negara, kemenangan mereka dilanjutkan dengan pengibaran Sang Merah putih, bendera bangsa ini. Bukan bendera lain.

Sangat disayangkan sifat munafik dari pejabat yang berwenang soal ini. Kenapa munafik ? Karena pada saat kita [baca bangsa Indonesia] butuh mereka untuk mengharumkan nama negara, kita mengakui mereka sebagai warga negara kita. Namun pada saat mereka mengurus dokumen kependudukan, SKBRI yang selalu tak lupa ditanyakan. Padahal seperti pengakuan Susi kepada Kompas, mulai dari kakeknya, orangtuanya dan dia sendiri lahir di Indonesia. Tidak ada bedanya dengan aku. Lantas kenapa harus ada tindakan diskriminasi seperti ini ? Tidak bisakah mereka kita anggap sebagai bagian dari negara ini. Sama seperti aky yang kebetulan Batak atau Mas Singgih yang kebetulan dari Jawa misalnya ?


Di tengah penantian akan hasil perhitungan suara Pemilu Legislatif, ternyata ada satu berita menarik dari lembaga legislatif [DPR]. Konon DPR tengah menggodok Rancangan Undang Undang [RUU] perihal Pornografi dan Pornoaksi. diharapkan dengan Undang Undang ini segala sesuatu yang berbau porno bisa dihapus dari bumi Indonesia. Mulai dari mempertontonkan alat kelamin, bergoyang erotis di muka umum hingga berciuman bibir di muka umum !

Pihak yang pro mendukung sepenuhnya RUU ini. Alasannya adalah dapat mengerem kemerosotan moral yang semakin jatuh di negara ini. Sementara pihak yang kontra menyayangkan energi yang keluar sia sia dalam menyusun RUU ini. Alasan mereka adalah, untuk apa mengatur sesuatu yang telah diatur dalam perangkat hukum yang telah ada [KUHP]. Meski belum lengkap, mereka yang kontra lebih setuju apabila KUHP yang direvisi daripada melahirkan UU baru.

Dengan segala hormat kepada pihak yang pro, aku berada di pihak yang kontra. Bukan kerena aku mendukung kegiatan pornografi. Tapi lebih kepada efektivitas UU itu nantinya apabila talah disahkan menjadi UU. Sebab bukan rahaasia lagi bila banyak UU di negara ini yang menjadi macan ompong. Yang bukunya lebih sebagai pajangan di rak buku tanpa ada upaya untuk menerapkan sanksi sebagaimana diamanatkan UU tersebut. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk menyusunnya tidaklah sedikit.

Contoh paling baru adalah soal korupsi. Negara ini telah memiliki UU anti korupsi sejak tahun 1971 dan diperbaharui lagi pada tahun 1999 dengan UU No. 31. Tapi pada kenyataannya, masih saja Republik Indonesia berada di peringkat atas negara paling korup di dunia. Kalau sudah begini, UU yang seusiaku itu kemana saja ya ?

** dua tulisan ini aku tulis di hari Minggu 18 April 2004

Kemarin aku beli satu majalah yang dari sampulnya dah menarik. Liat aja judulnya “MEGA GAGAL” dengan sub judul yang lebih menarik lagi buatku, “Tolak Presiden Salib“. HAH ! Kenapa ya di negara yang katanya berdasar negara Pancasila masih ada yang beginian ?

Tulisan utama majalah ini yang hanya beberapa lembar mencoba memaparkan [kalau gak mau dibilang menjelek-jelekkan] kiprah salah satu partai peserta pemilu 2004 yang kebetulan kental nuansa agamanya. Aku bilang kental, karena partai ini didirikan oleh seorang dokter yang kebetulan pendeta dan memimpin satu organisasi yang kiprahnya lebih banyak di bidang agama.

Kiprah partai ini sendiri merupakan fenomena dalam Pemilu 2004 kali ini. Karena sebagai partai baru dan dipimpin serta diurusin oleh orang-orang yang [setidaknya menurutku] jauh dari dunia politik, mampu bertengger di urutan 11 perolehan suara sementara. Mengalahkan partai yang dipimpin oleh tokoh politik dan LSM yang udah lebih dahulu mentas di dunia perpolitikan. Jauh hari, Ketua Umum partai ini sudah mencanangkan program yang mereka sebut Yusuf 2004. Sebuah program yang menurut mereka ingin menunjukkan kiprah kaum minoritas di tengah kaum mayoritas serta membela kepentingan minoritas ini. Atau dengan bahasa mereka kurang lebih, bagaimana Yusuf bisa masuk Istana di tahun 2004.

Aku bukan anggota partai ini. Simpatiku kepada partai ini sama dengan simpatiku kepada Partai Demokrat serta Partai Keadilan Sejahtera. Dua new comer yang mampu melesat !. Secara pribadi, menurut aku apa yang mereka perjuangkan sah-sah saja. Siapapun yang berada di posisi minoritas mungkin akan mengambil posisi yang sama dengan mereka. Tanpa pretensi apa-apa, menurutku apa yang disampaikan majalah itu terlalu dibesar-besarkan. Taruhlah partai ini berhasil mencapai suara sebagaimana disyaratkan Undang-Undang sehingga boleh mengajukan calon Presiden [5%]. Tapi tetap saja menurutku tidak akan berarti apa-apa. Sebab pemilu tahap kedua akan langsung memilih presiden.

Anggota partai ini beserta simpatisannya tidak [atau belum ?] akan mampu mengalahkan partai lain. Selain itu, meski partai ini dari awal sudah kental nuansa agamanya, ternyata tidak semua pemeluk agama yang sama dengan mereka mencoblos partai ini pada saat pemilu legislatif kemarin. Aku yakin apa yang disampaikan oleh majalah ini gak bisa dikatakan representasi dari umat mereka. Tapi sayang sekali kalau majalah yang [mungkin] terbit nasional mengangkat hal-hal yang sempit dan cenderung provokatif. Salah satu argumen majalah ini yang menurutku aneh adalah, “Partai ini tidak menghormati demokrasi karena sebagai minoritas berusaha menggapai jabatan Presiden”. BAH !

Mudah-mudahan masalah sepele ini tidak menganggu proses demokrasi yang sedang berjalan di negara ini. Karena bagaimanapun, keberagaman jugalah yang membuat sesuatu lebih indah. Keberagaman lah yang mungkin membuat kita semakin kuat. Jayalah keberagaman ! Jayalah Indonesia !.

Pemilu 2004 mulai ‘rame’. Tingkah polah para politisi mulai aneh-aneh menyikapi pemilu. Partai yang gak puas dengan hasil yang diperoleh partainya, bikin acara menggugat KPU. Tidak mengakui adanya Pemilu. Buat mereka, cuma ada satu pertanyaan dariku. “Kenapa kemaren ikutan Pemilu, Om ?. Dari awal toh kinerja KPU udah ketahuan

Partai pemenang Pemilu lima tahun lalu, malah lebih lucu lagi. Mulai berantem diantara sesama pengurus partainya. Trus ada upaya untuk menggugat beberapa pihak yang menurut mereka telah mencemarkan nama baiknya. Seolah-olah kader mereka yang paling ‘bersih’.

Hari ini Paskah. Selamat Paskah buat kalian yang merayakannya hari ini. Tahun ini, Hari Raya Paskah berbeda dari biasanya. Itu lantaran, tahun ini Mel Gibson meluncurkan film yang bercerita tentang 12 jam terakhir kehidupan Yesus dalam The Passion of The Chist. Begitu filem ini rilis, langsung menjadi filem box office. Malah mengalahkan Lord of the Ring yang beberapa waktu sebelumnya berjaya di ajang Oscar.

Di Amerika sendiri, filem ini memancing pro dan kontra. Yang pertama adalah karena filem ini ‘berisi darah’ yang sebenar-benarnya. Maksudnya, lebih setengah dari dua jam filem ini diputar secara terus menerus mempertontonkan bagaimana penyiksaan yang diterima oleh tokoh utamanya. Yang kedua adalah, masalah klasik buat bangsa Amerika. Apalagi kalo bukan soal Bangsa Yahudi.

Dalam skala lebih kecil, aku juga menemukan pro dan kontra. Ini terjadi dalam satu milis yang aku ikuti. Tergoda dengan kesuksesan filem ini di luar negeri, banyak yang ingin menontonnya. Sayangnya filem ini secara resmi belum masuk negeri ini. Yang ada hanyalah VCD dan DVD bajakannya. Inilah yang mengundang Pro-Kon. Miliser [peserta milis] yang kepengen menonton, taku berdosa kalau menonton bajakan. Sebagian lagi menyarankan, kalau memang kepengen banget nonton, ya tonton saja apa yang ada.

Sampai satu saat salah satu miliser mengutip ucapan tokoh utama filem itu. Sebagaimana ditulis dalam Alkitab, konon ada seorang pelacur bernama Maria Magdalena yang akan dihukum dengan dirajam [dilempari batu hingga mati] dan diketahui oleh Yesus. Kepada para perajam itu Yesus hanya berkata, “Barang siapa yang tidak berdosa hendaklah dia yang melempar batu pertama kali“. Mendengar ucapan ini, semua yang telah bersiap dengan batu di tangan, berbalik meninggalkan sang pelacur.

Selain soal Pro-Kon itu, ada yang bikin aku penasaran seminggu ini. Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir di Majalah Tempo minggu lalu mengangkat soal filem ini. Aku gak tau secara persis tujuan dari kolom tersebut. Aku gak bisa sepenuhnya memahaminya meski berkali-kali berusaha membaca kalimat penutupnya. Aku juga gak tau apakah ini disebabkan kurangnya pemahaman aku soal sastra. Mudah-mudahan GM [demikian penulisnya biasa disapa] memang bersikap netral. Atau ada yang bisa menerangkan maksud sebenarnya dari kalimat-kalimat yang aku kutip ini ?.

“Hiperbol memang diperlukan, tetapi jika efek yang diharapkan terjadi. Di sekitar kesengsaraan yang luar biasa itu, tak terasa oleh saya sesuatu bergetar-ada orang ramai, ada beberapa sosok orang yang jatuh hati, tapi The Passion of the Christ sedikit sekali mengantar kita kepada cerita lain dari Yesus : bagaimana laku yang begitu menggugah, yang dirumuskan dengan satu kata, “Cinta”, lebih besar ketimbang “Sakit”.

Pilar Ekonomi-kah Pasar Modal kita ?

Kehebohan kecil sempat terjadi di sini saat terdengar kabar Presiden Republik Indonesia akan berkunjung lagi. Ini kali kedua Megawati berkunjung ke BEJ. Pertama adalah saat membuka perdagangan Januari kemarin. Meski sempat tertunda [karena rencana awal, Presiden hadir pada pukul 11 pagi], akhirnya sore harinya Presiden sempat singgah dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pelaku pasar atas terselenggaranya Pemilu tahap pertama dengan baik.

Sebagai salah satu [katanya] pilar perekonomian nasional, aku pikir memang sudah sepantasnya kunjungan ini diadakan. Bahkan bukan hanya itu saja. Menurutku pribadi, perhatian yang diberikan haruslah lebih besar daripada yang telah diberikan selama ini. Sebagai orang yang bekerja di industri ini, [dengan segala hormat kepada pihak yang berkepentingan] aku merasakan kurangnya perhatian itu. Hal tersebut jika dibandingkan dengan perhatian yang diberikan pemerintah terhadap pebankan, sebagai pilar lain.

Aku masih ingat jaman masih sekolah dasar dulu, bagaimana gencarnya pemerintah menggalakkan gerakan menabung lewat TABANAS [Tabungan Nasional] dan TASKA [Tabungan Nasional Berjangka]. Bahkan ada satu produk lagi yang sempat aku ikuti yaitu TAPELPRAM [Tabungan Pelajar dan Pramuka]. Keturunan ['anak' dan 'cucu' ?] dari ketiga produk ini telah ratusan jumlahnya sekarang, seiring dengan merebaknya jumlah bank akibat kebijakan pemerintah di bidang perbankan sekitar tahun 1988.

Jika produk pasar modal dibandingkan dengan produk perbankan tersebut, jumlahnya belumlah seberapa. Bahkan saat menyebut diri bekerja di Bursa Efek Jakarta saja, masih ada saja orang yang belum paham benar. Padahal setiap hari berbagai media menyiarkan liputannya di bursa ini. Lagi-lagi aku teringat ke jaman sekolah dasar dulu. Saat tinggal di Kabanjahe [ibukota Kabupaten Karo]. Di sana siaran televisi yang tertangkap hanyalah RTM [Radio Televisyen Malaysia] dan TV3 dari Malaysia. Pemerintah Malaysia hampir setiap hari menayangkan iklan yang mensosialisasikan aktivitas berinvestasi [seingatku istilah Melayunya adalah melabur. Sehingga investor dialihbahasakan menjadi pelabur].

Buah dari kegiatan itu telah dinikmati oleh pasar modal Malaysia sekarang. Jumlah investor pasar modal mereka jutaan. Bandingkan dengan investor di negeri ini yang masih dalam hitungan puluhan ribu. Oleh sebab itu, apabila pemerintah memang serius menganggap pasar modal adalah salah satu indikator bagusnya perekonomian negara ini, sudah sepantasnyalah segera ditempuh langkah nyata dalam peningkatan jumlah investor ini. Bisa saja dengan menerbitkan regulasi maupun dalam menerapkan sanksi bagi siapa saja yang mencoba merusaknya.

Ternyata gak bisa sepenuhnya melaksanakan niat untuk bergolput. Setidaknya aku pergi ke TPS,menerima kertas, membawa ke bilik suara, membuka lembaran selebar koran,…………,melipat lagi, memasukkan ketiga surat suara itu ke kotak suara dan menuju pintu keluar yang dijaga tinta.

Soal apakah aku mencoblos atau enggak he…he…he…kalo jaman Pak Harto, itu adalah huruf terakhir dari prinsip LUBER

Dan inilah oleh-oleh dari Pemilu kemarin.

Oh, ya…ada yang butuh suara ? Silahkan hubungi 0809 1 800 900 untuk mendapatkan salah satu atau kedua-dua dari ini

Ini isi email dari seorang teman.


Jangan Golput! kalau memang memiliki hak pilih.

Di Negeri ini kita dilahirkan
Di Negeri ini kita dibesarkan

bila kita mencintai Negeri ini berbuatlah sesuatu
masih ada Partai yang baik dan masih banyak Caleg yang bersih.
Golput berarti setuju dengan kondisi saat ini dan tdk ingin Negeri ini menjadi lebih baik.

Kita memang bukan salah satu bintang dilangit
tapi kita juga bukan debu jalanan.

Berbuatlah sesuatu untuk Negeri ini!


meski begitu, tanpa rasa bangga malah dengan sedih aku menyatakan bahwa :
aku golput !

Buat kamu pengunjung [yang tak seberapa] blog ini dan memiliki blog sendiri, tidak ada salahnya mensukseskan survey ibu negara blog ini. Cerita soal surveynya sendiri ada di sini. Maju terus blogger Indonesia. Itu aja !