Jumat, 26 Maret besok pemerintah akan menentukan nasib Pemilu putaran pertama. Apakah dilakukan serentak atau tidak. Sebab ternyata kesiapan bahan baku Pemilu hingga hari ini masih ‘mencemaskan’. Hal ini terkait dengan ketentuan di pasal 45 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, yang berbunyi, “Surat suara beserta perlengkapan pelaksanaan pemilu harus sudah diterima PPS dan PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari sebelum pemungutan suara“. Tanggal 26 besok adalah batas akhir sesuai UU tersebut.

Sedari awal, memang banyak yang sudah mendesak agar Komisi Pemilihan Umum [KPU] sebagai penyelenggara pemilu segera menetapkan keadaan darurat. Terus terang aku kurang paham dengan keadaan darurat ini. Mungkin maksudnya adalah keadaan dimana terjadi sesuatu bukan seperti yang diharapkan. Namun KPU sendiri masih kukuhdengan pendiriannya bahwa pemilu akan berlangsung sebagaimana dijadwalkan semula. Sampai-sampai Mulyana W.Kusumah salah seorang anggota KPU menyempatkan diri menulis di kompas hari ini.

Kasihan juga melihat para penyelenggaraan pemilu kali ini. Sebab gonjang ganjing ini bukan yang pertama. Sebagaimana diketahui sedari awal, banyak masalah yang menyelimuti pelaksanaan pemilu kali ini. Mulai dari pembuatan Undang Undang-nya di DPR yang mepet, penentuan serta seleksi partai peserta pemilu, penyusunan calon anggota legislatif hingga yang paling mutakhir bahan baku pelaksanaan pemilu yang ternyata belum sepenuhnya tersedia.

Ini belum ditambahi dengan ketidakpuasan partai yang tidak lolos verifikasi untuk ikut pemilu kali ini dan sempat membuat ‘ribut’ di kantor KPU. Sebagai anak bangsa, aku cuma bisa berharap. Semoga saja apa yang tengah mereka upayakan dapat berjalan dengan baik. Sebab kalau tidak, ke depan ada banyak kemungkinan gak enak yang terbayang.

Sebenarnya, apa yang menarik dari Thailand ? Pertanyaan ini terpikirku waktu tau ada dua tour dari lingkungan sekitarku yang ‘diarahkan’ ke sana. Pertama dari tempat kerjaku. Yang kedua di tempat kerja istriku. Sebegitu hebatkah kota Bangkok, atau Pantai Pattaya ?. Apa bedanya dengan kota Jakarta, Pantai Ancol, Kuta Bali atau Lombok misalnya. Gak tau juga aku. Karena yang aku dengar, bisnis esek-esek malah laris manis di sana. Mungkin si Enda yang bisa memberi perbandingan.

Tapi rasa penasaranku terjawab sedikit waktu aku menjelajahi Google dan memasukkan kata kunci ‘pariwisata Thailand’. Dari beberapa berita yang tercantum di sana, ada satu hal yang menarik perhatianku. Perhatian pemerintahnya !. Perhatian itu tercermin dari anggaran yang diberikan untuk industri pariwisata. Thailand menganggarkan US$ 120 juta. Masih kalah jauh dari negara ini yang ‘hanya’ menganggarkan ala kadarnya. Jadi wajar saja kalau Thailand bisa menjadi jawara industri pariwisata di Asia dan rangking tiga di dunia.

Hasil mencengangkan itu dicapai di tahun 2002 dengan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 10 juta per tahun. Padahal luas wilayah mereka hampir sebanding dengan Pulau Sumatera [512.820 km2]. Bandingkan dengan kunjungan wisata ke Indonesia pada tahun yang sama sebesar 4,9 juta. Sementara tiga tahun sebelumnya industri pariwisata mereka masih menduduki peringkat 20 dunia. Banyak yang kagum dibuatnya.

Selidik punya selidik, ternyata saat krisis ekonomi melanda Asia sekitar tahun 1998, pemerintah Thailand bertekad untuk bangkit melalui industri pariwisata. Dan kenyataan yang kita lihat sekarang, diantara negara-negara yang terkena imbas krisis kemarin itu, Thailand termasuk yang lebih dahulu bangkit. Hebat, euy ! Bandingkan lagi dengan negara kita yang di setiap kesempatan selalu berusaha mengangkat industri pariwisata ternyata malah mengagungkan investasi di sektor industri dan perdagangan.

Mungkin sebentar lagi, arah tour dari Indonesia akan berpindah ke Malaysia. Karena sekarang sudah ada maskapai baru yang berani memberikan tarif Rp.100.000 kurang serupiah untuk terbang dari Sukarno Hatta. Seingatku, Malaysia juga termasuk negara yang rajin mengkampanyekan kunjungan ke negara mereka bersama Thailand. Bahkan bersama Singapura, negara ini berani beriklan di negara kita [sempat dengar kehebohan saat Maudy Kusnaedi dihujat karena membintangi iklan Singapura].

Trus bagaimana dengan negara kita ? Mungkin kalau dipenuhi orang-orang seperti aku ini [yang kerjanya 'ribut mulu'], kita harus puas jadi turis dan mengantar devisa ke negara mereka…….

Mengikuti jalannya pemilu kali ini, menimbulkan pertanyaan sendiri buatku. Sebenarnya apa yang sedang dicari oleh partai politik ini ? Atau tepatnya, apa yang sedang dikejar oleh politikus ini ?. Karena kalau melihat bagaimana mereka berlelah ria, bagaimana mereka ‘berjuang’, bagaimana mereka menggunakan seluruh [sekali lagi : seluruh] kemampuan yang ada, koq ya aku pikir gak sesuai dengan apa yang didapat.

Maksudnya begini. Sudah pasti semua politikus itu mengejar suatu kedudukan. Apa yang dicari dari kedudukan itu ?. Gajikah ? Kalau gaji, koq kayanya gak mungkin. Soalnya kalo make itung-itungan orang awam seperti aku ini, 19 juta rupiah gaji Menteri [data waktu Menkeh HAM 'ribut' soal gaji kemarin] koq kayanya gak sebanding dengan apa yang telah dilakukan selama masa kampanye ini. Atau apakah mereka, para politikus itu sudah berada di tataran paling tinggi dari Hirarki Kebutuhan Maslow ?

Mungkin juga kali ya ? Tapi….paling juga kalau ditanya mereka akan jawab, saya ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa !. Gagah ya ?

Tanggal 12 kemarin, seperti biasa aku baca blognya Enda. Ternyata dia baru aja bikin blog khusus dalam rangka Pemilu 2004. Dan mengundang siapa saja untuk jadi kontributor. Kebetulan ada beberapa postingku yg menyangkut pemilu kali ini. Karena aku merasa kali ini ada yang berbeda. Langsung aja aku daftar untuk ikutan. Dan posting pertama aku kirim di hari Senin kemarin.

Ternyata oleh Enda, posting itu diteruskan ke milis kritik iklan. He…he…he…. Trus siang ini waktu liat di referer di weblog ini, aku liat ada yang berkunjung ke sini melalui milis marketing-club. Pas aku berkunjung ke sini, aku nemuin ternyata tulisan dari kritik-iklan itu diteruskan lagi ke sini oleh salah seorang milisernya.

Lucunya, pengantar tulisan itu berkata :”Ini tulisan mas Enda di milis sebelah…keliatannya menarik buat dibahas…saya
juga liat iklannya partai beberapa cukup bagus :…
“….Kalo di kotaku dulu ada istilahnya untuk ini. Cuman duanya gendangnya itu ! Dan yang dua itu, pertama : begitu ‘digdaya’-nya Enda sampe-sampe apa yang diposting sama dia langsung ditelan oleh miliser laen. Yang kedua ini yang seru. Akunya yang digdaya. Karena bisa menyamai kedigdayaan Enda ! Ha…..ha….ha….ha….

Terima kasih Tuhan,
karena berkat-Mu kami telah menjalani dua tahun pernikahan pada hari ini.

Terima kasih juga karena mempercayakan Yeremia pada kami.

goklas & anne

12. March 2004 · 7 comments · Categories: kantor

Baru ingat kalo minggu lalu di infotainment ada berita kalo Angelina Sondakh ngeluncurin situs pribadinya. Pas berkunjung ke sana aku liat sepertinya tipikal situs baru yang belum semuanya terisi sepenuhnya. Klik sana sini, ada beberapa konten yang belum ada isinya. Mendengar apa yang disampaikan dalam wawancara dengan infotainment itu, aku cuman berpikir. Kenapa ya dia gak bikin weblog aja ?

Akhirnya Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa disapa SBY mundur dari Kabinet Gotong Royong. Beliau meninggalkan jabatan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan [Menko Polkam] yang merupakan jabatan kedua dari dua Presiden berbeda. Sebelumnya di masa pemerintahan Gus Dur, SBY menjabat Menteri Koordinator Politik Sosial Keamanan.

Untuk ukuran Indonesia, apa yang dilakukan oleh Pensiunan Jenderal ini merupakan hal langka. Namun inilah pilihan yang diambil setelah selama seminggu terakhir ‘ulahnya’ menjadi pembicaraan. Awalnya hanya karena wajahnya muncul di iklan di televisi untuk mengkampanyekan Pemilu damai. Hal lain adalah jarangnya beliau hadir dalam berbagai rapat yang bersinggungan dengan tugasnya sebagai Menko Polkam. Namun oleh lawan politiknya, iklan tadi dianggap sebagai iklan terselubung. Karena SBY sendiri merupakan calon Presiden dari Partai Demokrat yang kelahirannya didukung oleh SBY. Tidak tanggung-tanggung di situs parati ini sendiri ditampilkan foto SBY dengan tulisan SBY for President

Alasan resminya sebagaimana disampaikan dalam jumpa pers siang ini adalah, tugasnya sebagai seorang Menko Polkam telah diambil alih oleh Presiden yang nota bene merupakan rivalnya dalam pemilihan Presiden kelak. Yang menarik adalah ada yang menyamakan posisinya sekarang dengan posisi Megawati di jaman Pak Harto masih berkuasa dulu. Sama-sama ditekan. Yang bikin menarik lagi adalah, menyamakan posisi mereka berdua. Apakah setelah apa yang dialami oleh SBY sekarang, beliau juga akan mengalami apa yang dialami oleh Ibu Mega setelah ditekan dulu. Maksudnya jadi Presiden RI. Tak taulah. Masih panjang jalan ke arah sana.

Yang pasti, begitu menyampaikan mundur dari kabinet menantu Jenderal Sarwo Edhie ini langsung menyampaikan bahwa dirinya siap untuk dicalonkan menjadi Presiden. Baik oleh Partai Demokrat maupun koalisi partai lain.

Sabtu malam dua minggu lalu aku sempat menonton siaran tunda pemberian penghargaan kepada para pembayar pajak di Trans TV. Yang menarik adalah bagian siraman rohani oleh K.H. Abdullah Gymnastiar atau yang sering disebut A’a Gym. Bukan saja dari isi ceramahnya. Namun bagaimana dia [yang dijagokan orang untuk jadi Presiden lewat berbagai polling] bisa mengkhotbahin petinggi-petinggi negara ini. Presiden dan serta beberapa orang calon Presiden yang hadir di acara itu.

Dalam satu bagian ceramahnya penggagas Manajemen Qolbu itu mengatakan bahwa satu cara kampanye yang paling baik adalah dengan mengkampanyekan tauladan ! Dia berharap semua partai peserta pemilu dapat mengkampanyekan tauladan dalam berkampanye nanti.

Besok, tanggal 11 Maret 2004 merupakan hari pertama kampanye dalam rangka Pemilu 2004. Meski para pemimpin partai sudah berjanji untuk kampanye damai serta KPU sudah berkampanye sendiri untuk itu, namun tidak sedikit orang yang mengkhawatirkan akan terjadi gesekan diantara para simpatisan partai. Terutama saat terjadi kampanye dengan sistem pawai keliling kota.

Melihat perkembangan yang terjadi menarik apa yang dilakukan oleh slank pada hari ini. Dalam rangka ulangtahun Kaka sang vokalis, ada ratusan slanker yang mendonorkan darah untuk membantu korban demam berdarah. Padahal di diri para slanker ini sering ditempelkan cap perusuh. Aku pikir inilah efek dari tauladan yang telah ditanam oleh slank selama ini. Bisakah Pemilu 2004 berjalan damai dan mengkampanyekan tauladan untuk kemudian bersama-sama membangun bangsa yang kian terpuruk ini ? Semoga !

Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum atau KPU, minggu depan [11 April 2004] merupakan awal dari masa kampanye. Sebagaimana sudah diketahui bersama Pemilihan Umum [Pemilu] kali ini berbeda dari yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Karena kali ini selain memilih Presiden secara langsung juga ada pemilihan Dewan Perwakilan Daerah [DPD] yang di Pemilu sebelumnya belum pernah ada padahal keberadaan DPD sebenarnya sudah diakomodasi di Undang Undang Dasar 1945. Kalau melihat dari jadwal yang ada, butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikan Pemilu 2004 ini. Karena ada sedikitnya dua tahapan untuk pemilih memberikan suaranya.

Yang pertama adalah pemungutan suara untuk memilih anggota badan legislatif yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat [DPR], Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] tingkat propinsi maupun kabupaten/ kota serta DPD. Pemilu untuk legislatif dilaksanakan pada tanggal 5 April 2004. Sementara pada tanggal 5 Juni 2004 diadakan pemungutan suara untuk pemilihan Presiden [dan Wakil Presiden tentu saja]. Yang unik, apabila pada pemilu 5 Juni ini seorang calon Presiden memperoleh suara lebih dari limapuluh [50] persen dari jumlah suara pada Pemilu kali ini. Dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia. Apabila tidak memenuhi ketentuan itu, maka dua calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua akan ‘bertarung’ lagi di Pemilihan Presiden tahap kedua pada tanggal 20 September 2004.

Itu mekanisme yang aku dapat dari mengikuti selintas iklan di berbagai media. Namun ternyata tidaklah sesederhana itu. Karena kalau membaca Undang Undang No. 23 tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden, ternyata tidaklah semudah itu. Sepertinya sosialisasi yang didapat masyarakat masih kurang. Hal itu bisa dimaklumi karena hampir seluruh proses Pemilu kali ini berbeda. Mengharapkan KPU semata untuk menjelaskannya menurutku juga kurang pas. Karena mereka sendiri saat ini sedang dikejar-kejar oleh deadline persiapan segala sarana dan prasarana pemilu yang ternyata masih jauh dari harapan. Mulai dari kotak suara yang berbeda dari pemilu sebelumnya yang terbuat dari kayu, kali ini dibuat dari aluminium. Kemudian pencetakan kertas suara yang lebarnya jauh dari ukuran kertas suara pemilu dahulu.

Aku nggak tau sejak kapan istilah Pesta Demokrasi digunakan untuk menyebut Pemilu di Indonesia. Namun yang pasti apa yang dirasakan masyarakat mungkin kurang tepat atau jauh dari suasana menyambut pesta. Karena yang ada hanyalah ketakutan. Terutama dunia usaha. Mungkin yang bisa menyambut Pemilu layaknya sebuah pesta hanyalah simpatisan partai atau pengusaha barang yang akan digunakan di kampanye atau pemilunya sendiri. Seperti misalnya pengusaha sablon, kaos, topi bahkan bendera.

Sementara masyarakat diluar dari yang sudah disebut di atas, dibayangi ketakutan akan terjadinya bentrokan massa pada saat kampanye nanti. Beberapa kali aku mendapat email yang berisi peringatan untuk berhati-hati melewati beberapa jalan utama Jakarta yang dijadwalkan untuk dilalui pawai/ kampanye peserta pemilu. Kalau sudah begini, masih layakkah bila disebut pesta demokrasi ?

Sekarang ini saat internet sudah bukan merupakan hal aneh lagi, istilah milis sudah tidak asing lagi buat kita. Milis merupakan pengindonesiaan dari mailing list. Konsepnya sederhana saja. Milis adalah sekelompok [komunitas] orang yang memiliki minat yang sama terhadap satu bidang dan berkumpul di dunia maya. Minat yang sama itu di bidang otomotif, buku, iklan atau fotografi misalnya. Namun belakangan alasan itu berkembang. Ada yang merupakan komunitas profesi [dokter atau pengacara] hingga komunitas orang yang memiliki ‘masalah’ yang sama. Pemilik balita misalnya.

Mungkin banyak diantara kita yang merupakan anggota dari satu milis [atau bahkan lebih]. Sebenarnya milis mirip dengan suatu kelompok diskusi. Bedanya adalah, interaksi di milis dilakukan melaui surat elektronik atau electronic mail atau email. Dan jika ada seorang anggotanya [subscriber] yang mengirim email ke alamat milis, seluruh anggota milis tersebut menerima email tersebut. Begitu pula bila Jika ada anggota lain yang ingin menanggapi, dia juga melakukan hal yang sama.

Saat ini ada beberapa penyedia layanan milis. Yang terbesar dan dianggap menjadi pelopor masih dipegang oleh Yahoogroups. [dahulu bernama e-groups, namun diakuisisi oleh Yahoo! sehingga berubah nama menjadi Yahoogroups]. Dulu sempat ada yang namanya Topica. Entah sekarang. Untuk tingkat lokal [dalam negeri] ada juga groups.or.id [yang semangat pendiriannya sangat patriotik], plasa.com serta indoglobal.

Menurut catatan Kompas, ada puluhan ribu milis terdaftar di Yahoogroups yang dibentuk oleh orang Indonesia. Sementara itu ada 2500 milis di groups dan 7700 di plasa. Kalau kita andaikan saja rata-rata milis beranggotakan 50 orang dapat dibayangkan ada berapa banyak penduduk seluruh milis. Ini untuk ukuran Indonesia saja. Negara lain, pasti jumlahnya mencengangkan. Melihat potensi ini kita tau mengapa Yahoo mengakuisisi e-groups dulu. Dengan jumlah penduduk sedemikian besar, ternyata banyak potensi yang tersembunyi di balik komunitas ini.

Dua minggu lalu di beberapa milis yang aku ikuti, ada email tentang seorang anak yang membutuhkan darah dengan golongan darah AB rhesus positif. Dari yang aku baca di Kompas, begitu email tersebut disebar melalui milis mengalirlah bantuan buat si anak. Dan si anak tertolong. Hebat euy !

Mungkin itu dari sisi postifnya. Dan seperti biasa, kalau ada sisi positif mungkin hampir pasti ada sisi negatif-nya. Beberapa hari yang lalu aku menerima dua email yang aku tau sumbernya pasti dari milis. Yang pertama adalah mengenai malpraktek di satu rumah sakit. Yang berikutnya mengenai sebuah bank asing. Kedua email tersebut seperti membuka keburukan dari rumah sakit atau bank itu. Dan seperti biasa hanya dengan beberapa kali klik menyebarlah email tersebut ke berbagai milis.

Tidak sampai dalam hitungan hari, berita tersebut tersebar ke jutaan orang. Mungkin apabila berita di email tersebut benar, jutaan orang pulalah yang akan menerima manfaat untuk berjaga-jaga. Namun apabila salah dan isinya merupakan fitnah ? Tak terbayangkan bagaimana jadinya. Mungkin saja rumah sakit itu berkurang pasiennya. Atau si bank kehilangan nasabah. Kalau ini yang terjadi kasihan juga kan ?

Oleh sebab itu aku pikir perlu pam swakarsa di papan kunci [keyboard] seseorang dalam mengikuti satu milis, yaitu hati-hati dalam memforward [meneruskan] satu email ke satu milis. Memang sih, dalam suatu milis ada aturan yang dibuat oleh moderator dan disepakati anggotanya untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Namun, tidak ada salahnya untuk mencari tahu apakah email yang kita terima memang benar-benar ditulis oleh orang yang mengalami sendiri kejadian tersebut.

Kalau tidak yakin aku pikir sebaiknya informasi tersebut disimpan sendiri saja tanpa diteruskan. Atau kalaupun diteruskan, tidak ada salahnya berlelah sedikit untuk memperingatkan penerima email bahwa anda tidak yakin akan kebenaran isi email namun diteruskan untuk menjadi perhatian dan berjaga-jaga.

Selain seperti dua email di atas, aku sendiri sering menerima ‘email aneh’ yang bersumber dari milis. Yang pertama yang sering muncul adalah jenis surat berantai. Bentuknya seperti surat biasa namun ada pesan yang kurang lebih berisi : “kirimkan email ini kepada sekian orang agar ….bla…bla…bla….Atau yang lain, email penawaran penghasilan besar tanpa perlu kerja keras. Untuk yang terakhir ini, ujung-ujungnya adalah MLM ! Suatu bisnis yang menurutku ingin meniru Paul Ormerod yang bilang : Matinya Ilmu Ekonomi. …..he….he….he

p.s. diketik di Jatibening tanggal 6 Maret 2004 dan diposting tanggal 8 Maret 2004.