Planet merah yang bikin rusuh. Karena konon katanya sekaranglah saat terbaik melihat banyak pengunjung yang membanjiri Planetarium di TIM atau Boscha di Lembang.

Seolah gak mau ketinggalan, semalam pukul 20.00 WIB aku mengarahkan kamera digital kecilku ke langit ! Titik putih yang ada dalam poto itu adalah katanya Mars-nya [kurang yakin juga aku]. Sementara objek selain itu, adalah tiang listrik sama pohon yang emang sengaja dijepret biar keliatan kalo poto itu poto bintang di langit.

Tidak terasa, hari ini 28 Agustus 2003 sudah setahun aku ngeblog !

Awalnya adalah ketertarikanku dengan dunia internet. Aku mencoba membangun situs sendiri maupun berdua istri. Cukup susah payah juga aku mengerjakannya. Karena aku tidak memiliki latar belakang pengetahuan soal program-memprogram. Apalagi mengerti bahasa HTML. Tapi untunglah ada bantuan dari frontpage.

Berhasil dengan kedua situs di atas, aku berkenalan dengan GoBlog. Yang aku tau dari milis kritik iklan. Kemudian dari weblog ini, aku juga sering membaca ini. Yang dari membacanya, kita merasa mengenal dekat dengan penulisnya ;-) . Selain itu dari hasil cari tau soal blog atawa weblog ini, aku malah ketemu teman lama yang sekarang ternyata sudah jadi pilot metromini he…he..he…

Tertarik dengan kedinamisan binatang yang bernama weblog ini, akhirnya aku memutuskan untuk mempelajarinya dari GoBlog. Karena ternyata orang satu ini rajin menulis perihal ini, dikutip oleh majalah Tempo serta direferensikan oleh banyak orang [terakhir aku tau dari komunitas blogger indonesia].

Dari coba-coba, sekarang aku bisa bikin satu untuk-ku, satu untuk anak-ku, satu untuk tanah leluhurku. Awalnya semua masih pake hosting gratisan. Tapi karena ada penawaran menarik dari sang pilot tadi, sekarang aku pake domain sendiri. Alasan lain adalah kekurangnyamananku dengan jendela-jendela pop-up.

Dan inilah aku sekarang !
goklastambunan

Hebat juga si Faiz yang jadi Pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional itu. Semalam dia muncul di TPI mbacain surat itu dalam acara ‘Who Wants to be The President’. Soalnya [menurut Kepra, sang pembawa acara] dia merupakan kontestan termuda.

Hari ini aku terima lagi email yang berisi ‘surat jawaban’ dari Presiden. Pake tanda petik karena ternyata hanya jawaban main-main yang dibuat oleh entah siapa.


Untuk ananda Faiz tercinta,
Terima kasih atas suratnya, Ibu sangat senang ananda bisa menjadi Pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Ibu Presiden. Ananda paling tinggi ya di kelas? Kalau Ibu paling besar di kantor,hihihihi….ananda Faiz mengerti kan maksud Ibu?

Ananda Faiz, tolong sampaikan ke Bunda, Khalifah Umar RA itu bisa melakukan penyamaran karena tidak ada handicap nya, Kalau Ibu, boro-boro nyamar, ibaratnya kalau ananda ada di Monas dan Ibu ada di Bina Graha (kantor), pasti ananda sudah tau Ibu ada di mana, giccuuuuu…

Ananda Faiz, berdasarkan UU, Ibu itu memang harus dijaga pengawal walaupun sebenarnya Ibu kadang-kadang ingin sendirian, seperti kalau sedang latihan Balet, senam lantai, atau tari Salsa, karena Ibu sebel suka diliatin sama para pengawal, mana Bapak (suami Ibu) cemburuan lageehh…

Ananda Faiz, Ibu ada rapat Kabinet sekarang, jadi suratnya sampai sekian dulu, mudah-mudahan ananda bisa menjadi Presiden seperti yang dicita-citakan, pasti kalau ananda jadi Presiden, akan cuek juga kayak Ibu… Belajar dan beribadah yang rajin.

Salam Dahsyat

Hari Minggu besok, negara ini akan berusia 58 tahun. Setiap kali menjelang tanggal 17 Agustus aku iseng saja untuk usil soal penulisan ucapan selamat ulang tahun yang ada di sepanjang jalan, di mulut gang atau di media. Karena setiap kali pasti terjadi kesalahan. Dan email ini aku kirim ke kalangan terbatas untuk meng ‘usil’ kan diri dua tahun lalu pada saat HUT Jakarta.


Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya tiap tahun kota Jakarta bertambah satu. Negara kita juga bertambah satu. Dan siapa tau sebentar lagi, perusahaan kita ini juga bertambah satu. Gak percaya ?.

Kalau kita perhatikan dalam minggu-minggu ini, di jalanan sekitar Jakarta, kita pasti pernah melihat umbul-umbul atau gapura bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Kota Jakarta ke 474″. Tahun lalu pasti kita membaca “Selamat Ulang Tahun Kota Jakarta ke 473″.

Begitu juga negara kita. Bulan Agustus tahun lalu pasti banyak diantara kita yang membaca Selamat Ulang Tahun RI ke 55. Atau tahun sebelumnya ada yang tertulis Dirgahayu RI ke 54.

Kelihatan kan ? Tiap tahun nambah satu !

goklas – sok jadi guru bahasa indonesia
teriring ucapan Selamat HUT ke 474 buat kota Jakarta !

Merdeka ?

Siapa bilang kita sudah merdeka ?

Kemerdakaan bukanlah hak segala bangsa sebagaimana dikatakan di Pembukaan Undang-Undang Dasar. Kemerdekaan hanyalah milik maling, perampok, pencopet, politikus dan sebagian pemimpin bangsa ini !

Sementara sisanya, baru merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang !

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

goklastambunan – yang belum merdeka !

updated :

HYMNE KEMERDEKAAN

Kemerdekaan adalah nyanyian burung pagi
yang mengiringi langkah pasti para petani
Kemerdekaan adalah kepak sayap elang
Dalam tarian perahu-perahu nelayan
Kemerdekaan adalah rahmat yang selalu terjaga

Kemerdekaan adalah ayunan langkah para pekerja
Dengan tetes-tetes keringat di tiap helaan nafasnya
Kemerdekaan adalah tarian pena anak-anak bangsa
Yang membangun mimpi-mimpi indah masa depannya
jika ada tanah air yang basah air mata
Kemerdekaan akan mengusapnya
Jika ada sejarah yang luka-luka di dadanya
Kemerdekaan akan menyembuhkannya

Kemerdekaan adalah tarian burung garuda
Pada kepak sayapnya kebebasan berbicara
Kemerdekaan adalah cahaya matahari pagi
Hangatnya menegaskan semangat untuk menjadi
Kemerdekaan adalah ladang subur di cakrawala
Pada keluasannya benih-benih harapan ditaburkan

Karena itu, mari kita jaga kemerdekaan
Dari tangan-tangan kotor yang hendak melukainya
Agar tetap menjadi rahmat bagi semua!

Jakarta, Agustus 2003
J.Geovanie

[dari iklan The Amin Rais Center di Republika 20 Agustus 2003]

Aku dapet ini dari Yanuar. Inilah pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional, Kategori Kelas I-III SD dalam Rangka Hari Anak 2003. Yang Dewan Juri-nya : Seto Mulyadi, Riris K. Toha Sarumpaet, Tika Bisono, Agus R. Sarjono.

Terbaca keluguan seorang anak dari isi suratnya.


Kepada Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia
Megawati
Di Istana

Assalaamualaikum.
Ibu Mega, apa kabar? Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini. Ibu, di kelas badanku paling tinggi. Cita-citaku juga tinggi. Aku mau jadi presiden. Tapi baik. Presiden yang pintar, bisa buat komputer sendiri. Yang tegas sekali. Bisa bicara 10 bahasa. Presiden yang dicintai orang-orang. Kalau meninggal masuk surga.

Ibu sayang,
Bunda pernah cerita tentang Umar sahabat Nabi Muhammad. Dia itu pemimpin. Umar suka jalan-jalan ke tempat yang banyak orang miskinnya. Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar. Soalnya Umar menyamar. Umar juga tidak bawa pengawal. Umar jadi tahu kalau ada orang yang kesusahan di negeri dia. Bisa cepat menolong. Kalau jadi presiden, aku juga mau seperti Umar. Tapi masih lama sekali. Harus sudah tua dan kalau dipilih orang. Jadi aku mengirim surat ini mau mengajak ibu menyamar.

Malam-malam kita bisa pergi ke tempat yang banyak orang miskinnya. Pakai baju robek dan jelek. Muka dibuat kotor. Kita dengar kesusahan rakyat. Terus kita tolong. Tapi ibu jangan bawa pengawal. Jangan bilang-bilang. Kita tidak usah pergi jauh-jauh. Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan. Mereka mengamen mengemis. Tidak ada bapak ibunya. Terus banyak orang jahat minta duit dari anak-anak kecil. Kasihan.

Ibu Presiden,
kalau mau, ibu balas surat aku ya. Jangan ketahuan pengawal nanti ibu tidak boleh pergi. Aku yang jaga supaya ibu tidak diganggu orang. Ibu jangan takut. Presiden kan punya baju tidak mempan peluru. Ada kan seperti di filem? Pakai saja. Ibu juga bisa kurus kalau jalan kaki terus. Tapi tidak apa. Sehat.

Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin di negara Indonesia. Bisa tahu sendiri tidak usah tunggu laporan karena sering ada korupsi.

Sudah dulu ya. Ibu jangan marah ya. Kalau tidak senang aku jangan dipenjara ya. Terimakasih.

Dari
Abdurahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur

Sudah dua minggu ini tip di mobil aku pake untuk muter satu kaset Batak yang unik. Unik karena kaset ini berbeda dari kaset-kaset Batak yang ada. AKu bilang beda, karena biasanya lagu-lagu Batak yang direkam dan diedarkan, berisi lagu yang lebih dikenal dengan istilah ‘andung’. Yang kalau boleh menterjemahkannya ke dalam bahasa indonesia, [maaf] berarti lagu cengeng. Karena andung sendiri berarti ratapan.

Artisnya adalah Viky Sianipar. Seorang musisi muda Batak yang kalo make bahasa koran adalah generasi MTV. Dulu sempat bergabung dan merupakan anggota dari group band MSA. Bahkan sempat menelurkan satu album rekaman. Kalau aku perhatikan sepintas, apa yang dihasilkan oleh kaset ini mirip dengan apa yang dihasilkan oleh Tohpati atau Dewa Budjana. Aku katakan mirip karena berbeda dari kedua artis terakhir, Viky Sianipar tidak menciptakan seluruh lagu dalam album ini. Yang aku catat hanya ada dua yang merupakan gubahannya sendiri. Selebihnya adalah gubahan dari pencipta lagu Batak yang sudah kondang dan melegenda di kalangan etnik Batak. Seperti Nahum situmorang, S Dis Sitompul, Jaga Depari dan lain-lain.

Kemiripan lain adalah, Viky Sianipar merupakan seorang gitaris juga seperti halnya Tohpati dan Budjana. Dengan menggandeng artis-artis Batak yang sudah kondang seperti Victor Hutabarat, Jhonson Hutagalung maupun Tetty Manurung, menurutku komposisi yang ditampilkan bolehlah disejajarkan dengan album kedua gitaris tersebut. Apalagi belakangan video klipnya malah sering ditayangkan di MTV [sayangnya aku belum pernah nonton ^_^]. Selain gitar serta alat musik mesin [?], beberapa alat musik tradisional juga dimainkan untuk mendapatkan nuansa tradisi-nya.

Dengan segala keseriusan serta perhatian terhadap lagu daerah, aku merasa perlu mengacungkan jempol untuk usaha Lae Sianipar ini. Hanya ada satu yang aku rasa perlu mendapat perhatian lagi dari produser album ini. Mungkin distribusinya perlu diperhatikan lagi. Sebab segera setelah tampil di MTV dan mendapat liputan di kompas aku pikir pasti banyak orang yang akan mencarinya di toko kaset. Sayang kan kalo penikmat dan peminat kaset ini kecewa ?

Liputan lain mengenai kaset ini ada di liputan 1 dan liputan 2. Sayangnya aku kesulitan untuk membuka situs artis serta proyeknya.

Oh ya, kalau mau dengar lagunya di sini ada sampelnya koq.

Menarik membaca kalimat pembuka dari hikmah di Republika tanggal 4 Agustus 2003 lalu yang mengatakan, “bahwa anak akan tumbuh sebagaimana lingkungan mengajarinya“. Membalik koran ini, aku menemukan satu artikel resonansi di halaman belakang.

Meski tidak berhubungan secara langsung, aku merasa apa yang ingin dicapai dengan kalimat, “Lebih baik jadi tukang sapu langgar di pojok desa yang tiap napasnya bershalawat, tiap suap makannya adalah hasil kerja jujur berbasmallah, dan tiap katanya bersama senyum berhamdallah” bisa dicapai bila kita [atau para orang tua] menjalankan kalimat dari Dorothy Low Nolte dalam Children Learn What They Live With di atas.

Aku yakin, pasti banyak yang tidak meragukannya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, berapa banyak orang yang mampu mengambil sikap seperti layaknya tukang sapu di atas di negara Indonesia tercinta ini ? Pasti semua orang tua mengajarkan yang terbaik buat anak-anaknya. Cuman, lingkungan yang mengajari anak bukan hanya di keluarga. Bisa di sekolah atau kampus kalau masih sekolah atau kuliah. Di kantor kalau dia sudah bekerja.

Apakah yang diajarkan oleh lingkungan kita kalau melihat ST MPR di teve, wakil kita tidur atau bolos saat sidang. Membaca koran, yang ada hanyalah trik politikus agar tetap berkuasa. Membaca majalah, diberitahu kalo negara ini masih di peringkat pertama untuk urusan korupsi.


Terpikirkah para bajingan pembom itu akan apa yang telah mereka lakukan ?
apakah para binatang pembom itu sempat berpikir bagaimana kalau ini menimpa keluarga mereka ?

Jaman aku masih kuliah di medan dulu, salah satu tempat makan yang sering aku kunjungi bersama teman-teman adalah Wong Solo [WS]. Alasan utama tentu saja karena makanannya murah meriah. Dulu itu, hanya ada satu restoran WS. Letaknya di wilayah Bandara Polonia Medan. Gak berapa lama, restoran ini memperluas resto nya itu karena ternyata banyak yang suka.

Pas beberapa tahun lalu pulang ke Medan, resto yang awalnya hanya ada di satu tempat ini sudah berada di beberapa sudut kota. Yang hebat sekarang malah mulai merambah Jakarta dan beberapa kota di Jawa. Seiring dengan itu, sang pemilik jaringan Puspo Wardoyo, mengkampanyekan hidup poligami. Beliau sendiri memiliki empat orang istri !

Seperti biasa, sebagai sebuah bangsa yang ‘berbudaya’ tentu saja terjadi Pro dan Kontra atas kampanye ini. Bahkan ada semacam gerakan untuk tidak mau makan di restoran WS yang salah satu gerainya terletak di kawasan mahal SCBD [Sudirman Central Business District] ini.

Aku merasa heran aja dengan perlakuan yang diterima oleh WS ini. Menurutku apa yang dilakukan oleh Puspo sebagai pemiliknya hanyalah berusaha lugas atas apa yang diyakininya benar. Siapa yang berani menjamin di bagian lain Indonesia ini tidak ada yang melakukan hal yang sama [poligami] ?. Wakil Presiden negara ini bahkan termasuk orang yang menjalani kehidupan dengan istri lebih dari satu. Tapi tentu saja tidak ada yang berani untuk memoikotnya !

Selain itu juga Poligami bukanlah dosa [menurutku, lho]. Aku pikir, akan lebih berguna kalau gerakan boikot itu kita ganti saja. Marilah kita bersama-sama mendoakan pelaku korupsi atau wakil rakyat yang tidur atau absen waktu sidang di ST MPRD berada di lokasi bom Hotel JW Marriot. Daripada kita menyaksikan korban tak berdosa ?.

p.s.

DUKACITA yang dalam kepada Korban BOM JW Marriott


semoga pelakunya mendapat ganjaran setimpal