Aku ndak bisa bahasa Inggris ! Emang ! Dan aku berusaha, sebisa mungkin untuk menghindari penulisan bahasa inggris dalam weblog-ku ini. Apa yang aku hindari hanyalah biar kebegoanku dalam ‘bahasa londo’ ini tidak ketauan. Daripada aku maksain tapi keliatan bego ?.

Kalau pernah nonton tipi, pasti sering liat orang-orang bicara dalam bahasa indonesia tapi suka nyelipin satu dua patah kata dalam bahasa inggris. Misalnya saja kalimat ‘let see‘. Di saluran MTV atau saluran yang mengatasnamakan ‘untuk anak muda’, hal ini sering terlihat. Hampir semua VJ atau pembawa acaranya rajin mencampur aduk bahasa. Orang-orang di kantoran juga sering begitu. Mungkin maksudnya biar keren atau biar ngepas dengan sebutan eksekutip atau profesional muda. BAH !

Dan inilah contoh kerjaan orang ‘pinter’ di Jakarta ^_^

19. May 2003 · 206 comments · Categories: kantor

Tanpa bermaksud promosi, saat ini aku sedang membaca satu buku yang berjudul ‘Bukan Puntung Rokok’. Sebuah buku yang merupakan memoar pribadi Letjen Soeyono [LS]. Mungkin kita masih ingat LS merupakan Kepala Staff Umum ABRI yang dicopot dari jabatannya sesaat setelah peristiwa 27 Juli terjadi pada tahun 1996. Aku tertarik membaca dan membeli buku tersebut hanya karena berita yang mengatakan bahwa dalam tempo sebulan, buku tersebut sudah dicetak ulang. Konon bukan karena banyak yang membeli tapi karena ada yang memborong. Kabarnya yang memborong adalah pihak-pihak yang tidak senang terhadap kebenaran yang disajikan dalam buku tersebut.

Memang aku belum selesai membaca buku tersebut. Dan tidak bermaksud untuk membahas masalah politis di balik ‘laris’nya buku tersebut. Dari yang sudah aku baca, aku sekedar ingin membagi hikmah yang bisa kita ambil. Kalau kita sadari, kejadian yang dialami oleh LS bisa menimpa kita juga. Baik dalam kehidupan keseharian maupun dalam lingkungan bekerja. Setiap saat jabatan, posisi atau peran yang sedang kita jalani bisa saja diambil atau dirampas ! [pemilihan kata yang sengaja mendramatisir ^_^]

Secara pribadi, aku baru saja mengalaminya. Baru 13 Mei malam kemarin berbicara dan mengucapkan selamat ulangtahun kepada seorang pamanku [adiknya Bapak], pada 14 Mei subuh aku mendapat kabar kalau Beliau sudah meninggal dunia karena kecelakaan di jalan Pramuka. Kejadiannya hanya sekejap !.
Di lingkungan kerja mungkin sama. Saat ini si A bekerja sama atau ke exim bersama dengan kita di kantor ini, besok bisa saja tiba-tiba dia mengirimkan email atau mengucapkan perpisahan kepada kita.

Teman-teman, tanpa bermaksud menggurui, selain bersiap-siap apa yang bisa kita lakukan [mungkin sekali lagi mungkin] adalah mencoba mencegah hal ini terjadi. Dalam kehidupan keseharian, kita harus sadar bahwa satu saat, kita juga akan ‘dipanggil’ untuk menghadap kepadaNya. Apa yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak amal ibadah.

Mungkin sedikit berbeda dengan di lingkungan kantor [meski harus menyadari juga bahwa pemutusan hubungan kerja bisa saja terjadi setiap saat apalagi dalam situasi seperti sekarang ini], apa yang bisa kita lakukan adalah : bekerja dengan sungguh-sungguh serta meminimalkan kesalahan yang bisa menjadi alasan memerintahkan kita untuk menunggu di rumah yang untuk selanjutanya seperti menunggu godot.

Tak terasa 5 tahun sudah kerusuhan mei berlangsung. Kerusuhan yang konon katanya, meledak akibat akumulasi dari kekesalan selama 32 tahun kepemimpinan orde baru.

Masih terbayang bagaimana ‘seru’-nya Jakarta dikepung oleh kobaran api dan tiang asap yang membumbung ke angkasa. Perampokan dan penjarahan seolah menjadi mainan plus hiburan yang bisa kita saksikan di layar televisi. Perkosaan massal terhadap kelompok etnis tertentu yang entah kenapa sampai sekarang sulit sekali dibuktikan.

Juga kesulitan pekerja kantoran dan masyarakat lain yang tidak terangkut kendaraan umum. Kekompakan penghuni kompleks perumahan melakukan ronda demi melawan kelompok penjarah. Merajalelanya kendaraan melintas di jalan tol. Bahkan sampai motor melintas seenaknya. Juga orang-orang sempat menodong di jalan tol yang biasanya ramai sekalipun seperti jalur Cawang-Tanjung Priok.

Jumlah korban yang jatuh mungkin mencapai ratusan ribu. Mulai dari rakyat jelata, pedagang, mahasiswa sampai kepada pemimpin tertinggi bangsa ini. Semuanya atas nama reformasi ! Semua atas nama perubahan berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik. Sampai disini semuany mungkin bisa ‘dimaafkan’.

Tapi melihat kenyataan yang ada sekarang, semua seolah sia-sia. Korupsi, Kolusi Nepotisme masih merajalela. Memang ada yang berusaha diungkap. Namun kenyataan yang ada aku pesimis. Kalo aku bilang, ini malah lebih parah lagi dari jaman dulu !

Beberapa masa yang lampau, terdapat seekor monyet yang telah lama bertapa sehingga monyet ini memiliki sedikit pengetahuan tentang kebenaran. Sang monyet mengetahui bahwa kehidupan manusia merupakan kehidupan yang jauh
lebih baik dibandingkan kehidupannya sebagai monyet.

Sang monyet kemudian menghadap Bunda Mulia, memohon agar dapat dirubah menjadi manusia. Sang monyet merasa iri-hati melihat manusia dapat memiliki kulit lebih halus, wajah lebih baik, dan mempunyai akal budi untuk menikmati segala berkah yang ada di dunia.

Mendengar permohonan sang monyet yang tiada hentinya, Bunda Mulia memberitahukan bahwa untuk dapat menjadi manusia, bulu ditubuh sang monyet harus dicabut satu persatu terlebih dahulu seluruhnya. Sang monyet menyetujui saran dari Bunda Mulia, lalu Bunda Mulia mengutus dua penjaga Sorga Barat untuk membantu sang monyet mencabuti bulu-bulu dibadan sang
monyet. Setiap kali penjaga sorga danau jade ini mencabut bulu dibadan sang monyet, sang monyet menjerit kesakitan. Setelah beberapa cabutan, sang monyet berlari menjerit-jerit karena menahan rasa sakit. Akhirnya sang monyet memohon kepada kedua penjaga sorga untuk berhenti mencabuti bulunya, karena dirinya tidak sanggup lagi menahan rasa sakit.

Seorang penjaga lalu berkata, “Hanya dengan rasa sakit demikian saja anda sudah tidak sanggup. Bagaimana mungkin anda dapat menjadi manusia. Ketahuilah bahwa penderitaan yang anda rasakan sekarang sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan penderitaan yang harus dialami oleh manusia. Penderitaan manusia akan sangat jauh lebih sakit.”.

Demikian pula dengan para mahluk, telah banyak ajaran-ajaran Dharma yang memberikan jalan menuju kesempurnaan sejati. Bilamana manusia berhenti ditengah jalan bagaimana dapat mencapai kesempurnaan sejati. Banyaknya para mahluk yang berhenti ditengah jalan disebabkan berbagai hal seperti: tidak lagi kuat menghadapi kehidupannya, rasa malas, rasa bosan, rasa takut dan khawatir, rasa tidak sabar, rasa marah, rasa masa bodoh, dsb.

Bilamana kita berhenti berlatih karena kita merasa tidak sanggup lagi menghadapi penghalang yang timbul dari dalam diri, bagaimana mungkin kita dapat menjadi mahluk spiritual. Untuk menjadi mahluk spiritual, terlebih dahulu kita harus mencabuti seluruh penghalang yang ada didalam diri kita. Bila kita tidak dapat menghilangkan rasa malas, rasa marah, dsb. Bagaimana
kita dapat mencapai cita-cita kita untuk menjadi mahluk spiritual yang terbebaskan dari segala penderitaan.

(dikutip dari buku “Kisah-Kasih SpiritualBagian 3 – Wisnu Prakasa”)

Seorang teman dalam satu emailnya berkata, “Life is always unfair?Itu kata guru TK, SD, SMP, SMA. Dosen saya ?Makanya ada hitam dan putih, besar dan kecil, cowok dan cewek, kaya dan miskin, bonus dan nggak dapat bonus?” Aku setuju apa yang dia bilang. Tapi kalo ada cara untuk merubah ketidak fairan itu, apakah kita diam saja dan menelan semua ketidak adilan itu mentah-mentah ? Menurut aku kita orang bodoh kalo begitu adanya.

Ada satu masa di negara ini dimana sembilan bahan pokok seperti beras dan lain-lain harus antri untuk mendapatkannya. Pengantri harus membawa surat keterangan miskin dari pemerintah daerah setempat. Tapi bak kata pepatah, dimana ada gula di situ ada semut. Alih-alih rakyat miskin, yang tidak miskin bahkan pedagang ikut ngatri dengan segala daya upayanya.

Sudah pasti penduduk miskin akan bertambah saingannya. Bahkan bukan tidak mungkin tidak mendapat sesuatu yang mustinya menjadi haknya. Kalau sudah begini, benarkah caranya ? Apakah bisa membenarkan pendapat teman lain yang berkata, “yang namanya undian itu untung-untungan, masalah nasib. Masalah yang menang punya motif ekonomi, itulah nikmatnya menjadi pemenang”

Sudah ah, aku mau pulang dulu. Senin ketemu lagi !

sejuta simpati untuk INUL !

Oleh: M. Luqman Hakim MA, Jakarta Sufi Center

Rupanya, yang kebakaran jenggot bukan hanya MUI, artis-artis dangdut papan atas, namun si raja dangdut, Rhoma Irama, benar-benar gerah dengan pengeboran maut Inul. Lebih sadis lagi Oma Irama mengajak para dangdut mania untuk melakukan boikot pada Inul. “Para penonton, jika Inul dan Inul-inul lainnya manggung di sini, jangan biarkan dia menyanyi. Turunkan dia dari panggung!”.

Kenapa bang Rhoma ini sewot baru sekarang? Apakah yang ditampilkan oleh group Soneta itu sudah Islami? Apa batasan Islami dan tidak? Kenapa Inul yang jujur dan polos dengan kata hatinya malah dihujat, sementara yang lain dibiarkan?

Apakah selama karir Bang Rhoma sebagai pendangdut bahkan sampai dijuluki si Raja Dangdut, pernah bisa membuat para pendangdutmania menjadi semakin religius, atau membuat orang non Islam masuk Islam? Toh, hingga kini, belum ada kabar secuil pun, ada orang masuk Islam atau ada orang taubat, karena menonton musik Rhoma Irama.

Mari kita buka matahati kita lebar-lebar dengan seluruh kejernihan qalbu kita. Jika Inul dipandang dari segi kulit luarnya, lalu seluruh aspek fisikal dan musikalnya terus disorot dengan dunia syariat, maka seluruh dunia dangdut dengan penyanyi para perempuan harus bubar. Bagaimana dengan penyanyi laki-laki, tetapi yang nonton perempuan, lalu para perempuan itu mengelu-elukan anda? Apakah itu tidak sama dengan mereka yang mengelu-elukan Inul Daratista?

Mari kita semua belajar dari Inul. Belajar pada kejujuran dan kepolosannya. Di tengah-tengah para pemimpin yang kehilangan kejujuran, ketulusan, dan di tengah para Ulama dan Kiai yang juga sudah tidak banyak dipercaya oleh publik, di tengah orang menggunakan jubah agama dan ayat-ayat, tetapi penuh dengan kemunafikan, tiba-tiba seluruh publik rakyat kita merasa kecewa dengan mereka. Tidak percaya dengan kebusukan dan omongkosong, tidak percaya pada Nama Tuhan yang dijual untuk politik dan materi. Maka, lahirlah Inul daratista, sebagai bagian dari ayat Tuhan yang menyindir manusia-manusia hipokrit itu.

Ketika Inul ditanya, untuk apa anda menyanyi dan bergoyang? “Untuk cari makan…!”. Sebuah jawaban yang mengharukan, tulus dan ikhlas. Tidak seperti para seniman dan pendangdut lainnya, ketika ditanya motivasi menyanyi, mereka ada yang menjawab, demi mengembangkan dunia seni, demi dakwah lewat seni, demi menciptakan seni yang estetik, demi-demi lainnya. Tetapi ujung-ujungnya ternyata sama dengan Inul: Mencari makan!.

Nah, publik dangdut dan rakyat ternyata lebih memihak pada Inul, daripada pendangdut lainnya, karena kejujuran dan ketulusannya yang mewakili kekecewaan publik atas kemunafikan para artis lainnya, para selibriti, politisi, aparat keamanan, aparat pemerintah, para tokoh, dan bahkan para Ulama dan ustadz.

Inul, bahkan menyindir kemunafikan para pemimpin dan manusia-manusia populer di Indonesia dengan pantatnya. Bisa jadi, disadari atau tidak oleh Inul, ia telah melakukan goyang kebudayaan secara kritis terhadap kehidupan kultur kita, dengan menggambarkan betapa kita semua telah menggunakan nurani kita dengan pantat kita, menggunakan akal pikir kita dengan seputar pantat itu, sehingga kita terjerumus pada kebodohan dan kemunafikan.

Inul mestinya kita jadikan refleksi dan renungan, sekaligus kita jadikan “guru” dari kedalaman batin kita. Justru mereka yang langsung menvonis Inul, menunjukkan betapa keleluasan jiwanya sangat dangkal. Ibarat danau yang dangkal, batu yang dilempar berbunyi keras. Tetapi lemparlah batu di lautan, niscaya hanya sunyi dalam sauh gelombang. Semoga jiwa dan hati Bang Rhoma bisa seluas lautan, agar Inul tidak mengganggu riak-riak danaunya. Lautan itu adalah muara segalanya, muara bangkai, muara air tawar sungai, muara minyak, muara sampah, tetapi, tak ada yang merubah rasa asinnnya.

Jika kita menghujat Inul, padahal kita tidak tahu apakah akhir hayat kita, husnul khotimah atau bukan, sementara — bagaimana jika — Inul justru lebih husnul khotimah dan kelak menjadi Kekasih Allah? Nah!

Surat Terbuka Untuk Rhoma Irama
[sumber : email]

Kepada Yang Mulia
Tuanku Rhoma Irama
Raja Diraja Dangdut
Indonesia.

Dengan hormat,

Beserta surat ini, kami dari aliansi organisasi2 Dangduters Indonesia yang terdiri dari :
1. FBI : Fans Berat Inul
2. FPI : Front Pembela Inul
3. PDI Perjuangan : Persatuan Dangduters Indonesia Perjuangan
4. PPP : Perserikatan Penyanyi Perdangdutan
5. DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Dangdut
6. MPR : Majelis Perdangdutan Rakyat
7. PKB : Pedangdut Keliling Bangsa
8. CIA : Central Inulegensia Agency
9. MOSSAD : Majelis Organisasi Antar Dangduters
10.SPPI : Serikat Pekerja Perminyakan Indonesia
11.SPP : Serikat Pekerja Pertamina

Menyatakan penolakan kami atas titah baginda Rhoma Irama yang telah mengharamkan Inul dengan gera’an-gera’an ngebornya yang telah menimbulkan gonjang-ganjing diseluruh kerajaan dangdut Indonesia Raya ini. Apa yang telah tuanku Rhoma tuduhkan kepada Inul sungguh mengada-ada. apabila tuanku berpendapat bahwa gera’an-gera’an yang dilakukan oleh Inul adalah haram, tidak etis, dan membangkitkan syahwat, mungkin krn orang-orang yang berpendapat demikian melihat gera’an inul dengan ngebornya dalam fantasi seksual mereka sendiri sehingga mengotori nurani mereka dengan pikiran-pikiran yang membangkitkan syahwat dan bukan melihatnya dalam sisi seni dan hiburan semata.

Apakah Tuanku Yang Mulia, Rhoma Irama lupa, bahwa kamilah yang telah menjadikan tuanku Raja dan Yang Mulia Elvy Sukaesih sebagai Ratu di Kerajaan Dangdut tercinta kita ini ? Apakah tuanku juga lupa bahwa tindakan2 tuanku yang suka kawin itu juga menjadi gunjingan diantara rakyat dangdut, ataupun Yang Mulia Ratu Elvy Sukaesih sering lakukan pada setiap show dengan menggoyangkan dadanya yang jelas2 terbuka dan mempertontonkan syahwatnya justru lebih amoral dari Inul yang pakaiannya justru jauh lebih sopan dan tertutup dr Ratu Elvy ? Belum lagi masih banyak artis2 dangdut yang jelas-jelas berpakaian seronok dan mempertontonkan syahwatnya memperagakan gerakan-gerakan erotis yang lebih mirip dengan tarian striptease di acara2 TV yang ditonton tidak hanya orang dewasa tapi juga anak2?

Cuma 1 yang kami minta, BATALKAN FATWA TUANKU RHOMA TERHADAP INUL ATAU TUAN KAMI TURUNKAN DARI JABATAN RAJA DANGDUT INDONESIA !!!

Terima kasih,
Salam Geboy,
Atas Nama
Koalisi Dangduters Indonesia
Bang Rojali