Anand Krishna menceritakan satu cerita:

Seorang guru membuat garis sepanjang sepuluh sentimeter diatas papan tulis, “Anak-anak, coba perkecil garis ini.” Johny maju kedepan, ia menghapus dua senti dari garis itu. Tadinya sepuluh senti, sekarang menjadi delapan senti. Pak Guru mempersilakan Toni.

Ia pun melakukan hal yang sama, sekarang garisnya tinggal enam senti. Soni dan Moni pun maju kedepan, – sekarang garis itu tinggal dua senti. Terakhir, Si Bijak maju kedepan – Ia membuat garis yang lebih panjang, sejajar dengan garis yang pertama yang tinggal dua sentimeter. Pak Guru menepuk bahunya, “Kau memang Bijak. Untuk membuat garis itu menjadi kecil, tidak perlu menghapusnya – cukup membuat garis yang lebih besar dan garis pertama menjadi kecil dengan sendirinya.” ‘JANGAN MENJELEK-JELEKKAN ORANG LAIN. JADILAH LEBIH BAIK!’ [kiriman mawar via email]

Ini dia biNtang barU musik kopLo
Coba tanya penggemar musik dangdut, apakah mereka kenal Ainur Rokhimah. Mungkin tidak banyak yang mengenalnya. Tapi coba tanya apakah mereka kenal Inul. Aku yakin jumlah yang mengenal nama terakhir ini, bisa dua kali lipat. Bahkan lebih !!

Siapakah Inul ? Sebenarnya dia hanya penyanyi dangdut biasa. Yang membuatnya luar biasa [untuk membedakan dari biasa] adalah goyangannya !. Beberapa orang bilang goyangannya yahud. Yang lain bilang goyangnya sensual. Bahkan sampai ada gerakan inulisasi.

Yang membuat dia luar biasa lagi, ketenarannya diraih lewat jalur tak biasa. VCD bajakan !. Satu hal yang sangat dibenci oleh aktivis hak cipta di negeri ini.

Tapi Inul tetaplah Inul. Inul yang sudah go international, memiliki kelompok penggemar yang menyebut dirinya inulitas [mungkin singkatan dari Komunitas penggemar inul] dan melanglangbuana, tetap saja orang-orang terpesona dengan goyangannya.

update [03/02/03]
Lagi soal Inul, Tempo edisi terakhir menurunkan tulisan soal artis ini.
berita terkait : dari jawa pos

sumber : milis musik_indonesia

Ini sekedar guyon. Karena lima tahun lamanya jadi wartawan politik, sehingga nyanyipun harus dipolitikan. Sorry berat
jika ada yang tersinggung, maklum namanya juga guyonan…

Berikut ini ke-12 lagu yang akan rilis dan mencetak best seller dalam pergaulan para demonstran :

1. lagu opening saat barisan mahasiswa berkumpul di depan istana presiden:
Mega, dimanakah kau berada / rindu aku ingin jumpa /meski lewat demo
Coba kau dengarkan segenap jeritan rakyat / yang menggetarkan jiwa

( ide : “Dinda dimana” / Katon )

2. lagu kekesalan karena Mega nggak mau keluar nemuin para pendemonya:
Inikah namanya Mega / si ratu tega / tega pada bangsa sendiri
Inikah rasanya Mega / pengacau harga / rakyat pun sengsara saat demo /dengan dirinya

( ide : “Inikah cinta” )

3. lagu pujian sekaligus celaan
Kuakui kau memang cantik / tapi kau picik / Kau pikir kaulah segalanya
(ide : “Kau pikir kaulah segalanya” / Edane )

4. lagu keluhan Mega pada kaum demonstran :
Kau marah padaku / aku diam
Kau ludahi aku / aku diam
Kau demo diriku / aku diam
Kau bakar fotoku / ku tak diam

( ide : “Diam” / Potret )

5. lagu pantun dari demonstran
Ada mbak Mega sedang nyebelin rakyatnya
Konon katanya demonya karena disodok harga
Sambil komat-komit presiden ngirim menko
Dengan sekilo raskin, wong cilik langsung disembur

( ide : “Mbah dukun” / Alam )

6. lagu jawaban Mega atas pantun diatas :
Lupakan saja diriku / untuk menjadi presiden lagi
tapi putusan soal tarif harga itu sudah final
Caci maki saja diriku / bila itu bisa membuatmu / kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala

( ide : “Dan” / Sheila on 7 )

7. lagu uneg-uneg yang disampaikan mahasiswa dalam mewakili rakyat
Balikin o.. o.. balikin / harga sembako yang seperti dulu lagi
Balikin o.. o.. balikin / ketentramanku yang seperti dulu lagi

( ide : “Balikin” / Slank )

8. lagu perang urat syaraf dari Mega
Akulah mbak Mega / yang cari gara-gara
Wahai wong cilik / mengertilah aku

( ide : “Arjuna” / Dewa )

9. lagu balasan dengan mengutip dari pencipta lagu yang sama
Baru kusadari / janjimu bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hati rakyat

( ide : “Pupus” / Dewa )

10. lagu ironi keadilan dari mahasiswa
Andai a.. a.. a.. a.. a.. aku jadi Taufik Kiemas
Andai a.. a.. a.. a.. a.. nggak usah cape kerja
Andai a.. a.. a.. a.. a.. aku jadi konglomerat
Andai a.. a.. a.. a.. a.. dapet R/D dari Mega

( ide : “Cuma khayalan” / Oppie )

11. lagu dansa untuk membakar semangat demonstran
Rakyat bete, kere, memble
Ngeliatin lagak presiden dan dpr-nya, yang pada rese bikin wong cilik susah aje

( ide : “Asereje” / Last Ketchup )

12. lagu penutup sebelum kaum demonstran membubarkan diri
Selamat tinggal Mega – Hamzah
Kuingin kau rasakan pahitnya terbuang sia-sia
Memang pantas kau dapatkan

( ide : “Karma” / Cokelat )

sumber : Yanuar Rizky dengan email

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini. Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan “acara” kehujanan. Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan saya duduk. “Disini saja dik, daripada kehujanan…,” begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, “tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja.

Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, “Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?” Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, “Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya..” katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam. “Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?” kata saya, “Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?”

Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru… “Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan…”

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Allah ora sare”. (Tuhan itu tidak pernah istirahat) Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Maknanya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar.

Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. “Ya Allah, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare ….. Gusti Allah Ora Sare…..

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.

Aku berdoa agar diberikan kekuatan…Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan…Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya. Aku berdoa agar diberikan kecerdasan…Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya. Aku berdoa agar diberikan keberanian…Namun, Allah memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang…Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya. Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan…Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.

Aku punya papa yang tak pernah korupsi

Puluhan tahun bekerja di Pertamina dengan jabatan yang sangat “basah” sebenarnya membuka peluang yang sangat besar bagi ayah saya untuk lebih mensejahterakan anak istrinya dengan uang korupsi. Saya pikir-pikir, kalau ayah saya mau korupsi, paling tidak bisa mengirim saya dan adik saya sekolah ke luar negeri, bisa beli rumah yang lebih megah di kawasan yang lebih elit, bisa membelikan kami anak-anaknya masing-masing sebuah mobil keluaran terbaru, bisa mengajak kami sekeluarga berlibur keliling dunia, bisa membelikan ibu saya perhiasan berlian dan baju-baju yang mahal seperti yang dilakukan oleh teman2nya yang lain.

Tapi ayah saya memilih untuk hanya memberikan uang gajinya berikut bonus-bonus perusahaan untuk kehidupan keluarganya. Ayah saya memilih untuk hidup jujur dan menghindari korupsi. Kalau saya tanya, “Kenapa sih Papa gak mau korupsi? Kalau Papa korupsi tentunya aku bisa punya mobil sendiri seperti Jeanne temanku itu ….” Ayah saya cuma berujar pendek, “Buat apa kaya tapi tiap malam tidur tidak bisa nyenyak …”

Ibu saya pun Alhamdulillah tidak pernah merongrong suaminya untuk memberikan lebih dari apa yang sudah menjadi hak suaminya. Ibu saya mengajarkan kepada kami semua bahwa sudah seharusnya kami semua bangga punya Papa yang tetap jujur dan memiliki integritas yang tinggi, tidak goyah dengan iming-iming materi untuk meloloskan satu- dua proyek yang nilainya jutaan dollar. Dan sudah sewajarnya keluarganya mendukung untuk tidak “memaksa” Papa mencari kelebihan materi melalui usaha-usaha yang merugikan orang lain.

Ayah saya yang sudah lebih 35 tahun bekerja di Pertamina, di hari tuanya ini hanya memiliki sebuah rumah yang sudah bocor di sana-sini menanti bertahun-tahun untuk diperbaiki, sebuah mobil bekas yang dirawat Papa dengan penuh hati-hati sebab katanya Papa tidak punya uang lebih kalau harus mengganti mobil yang lebih baru dan seorang istri yang tak pernah iri bila dalam arisan teman-temannya memamerkan berlian semilyar rupiah atau tas kulit merek terkenal berharga jutaan rupiah sementara dirinya cuma pakai tas beli di Mangga Dua dan perhiasan emas yang dibelinya di toko emas di pasar dekat rumah.

Tapi saya tahu ayah saya selalu menatap rekan kerjanya dengan kepala tegak, bicara dengan team Pemeriksa Keuangan dengan suara mantap, menyergah atasannya dengan tegas, karena memang ia tak pernah sepeser pun “mencuri” uang rakyat dengan praktek korupsi.

Saya sangat bangga dengan ayah saya yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun dengan nama bersih tanpa cela, disegani dan dihargai oleh semua rekan kerjanya karena tidak pernah sekalipun terlibat korupsi.

Dulu, sewaktu kecil setiap teman-teman saya memamerkan pakaian mahal terbaru, mainan mahal terbaru atau perhiasan mahal terbaru dan setengah mengejek berkata, “Kamu punya apa, Fer?”

Saya bisa menjawab pasti, “Aku punya Papa yang tak pernah korupsi.”

Sumber: Ditulis oleh Ferona Yulia melalui milis wanita-muslimah@yahoogroups.com

Enaknya jadi Pemimpin !

Sekarang kita tau gimana enaknya jadi ‘pemimpin’ itu.

Berpikir positif

Akhirnya aku menemukan sisi positif dari menjadi orang Indonesia !! [..lho emang selama ini negatip, mulu ?....jangan tanya jawabannya ke aku !]. Apakah itu ? Silahkan baca cerita yang dikirim oleh Mawar berikut ini…..


Seorang warga Indonesia meninggal dan menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ada neraka yang berbeda-beda bagi tiap negara asal.

Pertama ia ke neraka orang Jerman dan berseru: “Kalian ngapain saja di sini?” Ia dijawab: “Pertama-tama, kita didudukkan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu, setan Jerman muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari.” Karena kedengarannya tidak menyenangkan, sang orang Indonesia menuju tempat lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS dan neraka Rusia, dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang-lebih mirip dengan neraka orang Jerman.

Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia, dan melihat antrian panjang orang yang menunggu giliran untuk masuk. Dengan tercengang ia bertanya: “Apa yang dilakukan disini?” Ia memperoleh jawaban: “Pertama-tama, ada yang mendudukkan kita di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita selama sisa hari.”

“Tapi itu persis sama dengan neraka-neraka yang lain. Kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk sini?” “Disini pemeliharaan begitu buruknya, kursi listriknya nggak nyala, ada yang mencuri seluruh paku dari ranjang paku, dan setannya adalah mantan pegawai negeri, jadi ia cuma datang, tandatangan absen, lalu pergi entah kemana.”

Hukum adalah Panglima !

Minggu terakhir ini apabila kita melintas di jalan Gatot Subroto, pasti tertarik membaca satu spanduk besar. Di sana tertulis permintaan agar vonis ‘mati’ untuk pengedar narkoba yang telah diputus pengadilan segera dijalankan.

Aku pikir ini satu hal yang aneh. Kenapa ? Karena putusannya belum berkekuatan hukum tetap. Beberapa terpidana masih mengajukan upaya banding.

Jadi kalau Bung Besar saja masih belum dieksekusi, kenapa mereka musti dieksekusi ?

GAK FAIR ITU !!!

Semakin hari BEJ semakin rame. Setelah kemarin dikunjungi demonstran, hari ini 20-an orang demonstran mendatangi Gedung BEJ untuk meminta Bank Dunia keluar dari Indonesia. Konon, menurut mereka, WB-lah yang menyebabkan krisis yang dialami bangsa ini.
Padahal itu hanya salah satunya. Satu hal lain, KORUPTOR !