Setidaknya aku bisa merubah tampilan weblogku ini. Sekarang aku sudah bisa mengisi link atawa jejaringnya dengan situs awalku yang di geocities itu. Meski tak banyak, tak apalah. Tapi tetep aja yg ngarsip itu lom ketemu
Sampai saat ini, aku masih penasaran sama satu item di blog ini. Arsip !! Atau archive kalo pake bahasa londo
Kemarin sore, aku jd bujangan lagi karena istri ke Bandung. Sepulang kantor, singgah di Hero Gatot Subroto. Pengen nyari kaset Chrisye yang baru. Yang nanyi bareng sama Sophia Latjuba. Ternyata belom ada. Akhirnya ke Gramedia dan beli dua buku mengenai Tanah Batak.
Meskipun udah punya weblog sendiri, tetep aja belum puas rasanya…kenapa ya?
Sore ini sempet chatting sama BEP, Nung dan Vivi sebentar tadi
Selamat sore !!
sambil ngelirik Kikan di Kabar Kabari, aku lagi nyoba merubah tampilan weblog-ku…
bisa gak ya muncul di tripod ?
BANDUNG, (PR).-
Sejumlah warga keluhkan aturan pembuatan akta kelahiran yang tidak memperbolehkan memasukkan nama marga atau fam di dalamnya. Pasalnya aturan itu dikhawatirkan bisa memutuskan nama keluarga.
“Saya bikin akta kelahiran anak via rumah sakit. Menurut petugas memang ada peraturannya. Alhasil, anak saya yang papanya orang Batak, ngga bisa menyandang nama marga di dalam akta kelahirannya. Kalau memang ada peraturannya, menurut saya sih ngga ada gunanya. Malah bisa memutuskan nama keluarga,” keluh seorang ibu yang tengah mengurus akta anaknya lewat RS Limijati.
Salah seorang warga, Juanto Sitorus menilai, peraturan ini sudah merupakan kejahatan yang dilakukan oleh penguasa terhadap rakyatnya yaitu berniat melenyapkan jati diri suku tertentu yang berarti melenyapkan beberapa suku bangsa dari negeri ini. Diketahui, pemakaian marga atau fam sudah menjadi tradisi suku-suku yang berasal dari Sumatera Utara, seperti Batak Toba, Nias, Simalungun, Karo, PakPak, dan Mandailing.
Selain itu, juga yang berasal dari Indonesia bagian timur seperti Manado, Ambon, Timor, Flores, dan Irian. Bagi suku-suku ini, marga atau fam adalah jati diri dan juga harga diri yang melekat di belakang nama keturunannya. Pemakaian marga atau fam itu bahkan ada yang sudah berlangsung selama 30 generasi.
“Bagi mereka, marga atau fam adalah identitas yang melekat dan utuh pada budaya itu sendiri yang tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, memisahkan marga dari nama berarti memisahkan keturunan dari jati diri suku bangsa ini dan memisahkan mereka dari generasi sebelumnya,” tutur Juanto Sitorus.
Sementara itu, pemakaian nama keluarga juga lazim di luar negeri. Beberapa di antaranya bahkan ada yang mengharuskan pencantuman nama keluarga dalam paspor.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kependudukan Kota Bandung, Siti Djuariah mengakui adanya aturan itu. Menurutnya, aturan itu sudah menjadi aturan catatan sipil seluruh Indonesia dan sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir ini. Kota Bandung sendiri memang menerapkan aturan itu.
“Tapi, kita bikin aturan lain. Dalam akta memang tidak boleh mencantumkan nama marga atau fam. Tapi kita bikin lampiran tambahan. Nah, penempatan nama marga atau fam itu ditempatkan dalam lampiran. Terobosan itu kini sudah diadopsi daerah-daerah lain,” tandasnya. (A-63/A-95)***
Lg nonton Bibir Plus neh….
Sepertinya, pesta kebun bakal ngetrend nich…Setelah Yuni Shara, konon Mona Ratuliu juga bikin pesta kebun buat resepsi pernikahan mereka
Selamat Pagi !
Ada-ada saja mimpiku tadi malam. Dalam mimpi, aku mendapatkan bayi kembar 3 ! Dua cewek satu cowok. Dari satu sisi, memang menyenangkan bisa memiliki sekaligus 3 bayi mungil. Tapi dari sisi lain, gak kebayang istriku melahirkan ketiganya. Ya, sayang ya?
Tapi kalaupun diberikan tiga sekaligus, tentu saja kami akan menerimanya dengan sukacita.
Karena bagaimanapun, anak adalah berkat dari pencipta kepada kami. Hadiah HUT yang berharga buat istri tercintaku.
Hati-hati berdoa untuk anak
sumber : Forward dari Mawar
Togar dan Ucok adalah sahabat karib dari Tapanuli, merantau ke Jakarta dan mencari pekerjaan. Togar menjadi sopir metromini dan Ucok kondekturnya merangkap kernet. Mereka tak terlalu puas dengan profesi baru mereka, tetapi apa boleh buat cuma itu yang mereka dapat.
Suatu hari sewaktu ngetem Ucok curhat sama Togar, (dg logat Batak):
?Gar,setelah aku pikir-pikir mungkin makku salah berdoa?. Dia berdoa, kelak bila aku besar, aku naik turun mobil, pegang duit banyak……….bah itu kan pekerjaan kondektur?!!.
terpikir orang lain