Pengamat musik Denny Sakrie (@dennysakrie) dalam satu twitnya berkata, “Padi dan Musikimia itu ibarat God Bless dan Gong 2000″. Sebuah pernyataan yang sekilas ada benarnya. Jika dirunut sejarah keduanya.

God Bless adalah salah satu band rock tertua di tanah air, berdiri pada tahun 1973. Sempat malang melintang di era tahun tujuh puluhan untuk kemudian vakum sekian lama. Band ini bangun dari masa vakumnya dengan mengeluarkan album Semut Hitam pada tahun 1988. Dengan formasi Ahmad Labar pada vokal, Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Yockie Suryoprayogo (keyboard) dan Teddy Sujaya (drum). Namun setelah album ini, Ian Antono keluar dari God Bless dan menjadi erenjer untuk beberapa penyanyi solo seperti Ikang Fawzi dan Nicky Astria. Posisi Ian di God Bless sempat digantikan oleh gitaris muda Eet Sjahranie. Formasi ini sempat mengeluarkan album Raksasa.

Selain menjadi produser untuk penyanyi solo, Ian Antono membentuk Gong 2000 bersama Ahmad Albar, Harry Anggoman (keyboard), Donny Fatah (bas) dan Yaya Muktio (drum). Band ini boleh dianggap menuai sukses dengan mengeluarkan beberapa album seperti Bara Timur (1991), Gong Live – (1992), Laskar (1993), dan Prahara (1998). Disela kegiatannya bersama Gong 200, tercatat Ian Antono pernah ‘kembali’ ke rumah lamanya God Bless. Pada tahun 1997, para personel God Bless, termasuk Eet Sjahranie dan Ian Antono berkumpul dan menghasilkan sebuah album berjudul Apa Kabar. Judul album yang seolah menyiratkan arti reuni untuk ‘mantan’ personel God Bless. Namun reuni ini tidak berlangsung lama karena Eet secara resmi mengundurkan diri dari formasi God Bless untuk konsentrasi pada Edane. Band yang dibentuknya dan mengeluarkan album yang juga bernafaskan rock, The Beast.

Begitulah akhirnya God Bless, rujuk kembali. Bongkar pasang, keluar masuk personel kerap terjadi. Tercatat hanya Ian Antono, Ahmad Albar dan Donny Fatah yang paling awet diantara personilnya. Lantas bagaimana dengan Padi dan Musikimia?

Sama sama beraliran rock, Padi adalah generasi muda di musik rock Indonesia. Beranggotakan Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass) dan Yoyo (drum), band ini berhasil mencuri perhatian pecinta musik Indonesia. Bahkan konon album kedua bertajuk Sesuatu Yang Tertunda, laku jutaan kopi dan dianggap salah satu album terbaik. Sayangnya, kesusksesan mereka tercoreng oleh kisah penabuh drum yang dipidana menggunakan narkoba. Yoyo pun harus mendekam di penjara. Band pun vakum sementara.

Mirip kisah Ian Antono di God Bless, sang gitaris Piyu jalan dengan menjadi produser. Buah tangannya diantaranya adalah Drive. Band yang sempat menghasilkan beberapa album untuk kemudian tidak terdengar lagi, menyisakan Anji sang vokalis yang tetap melanjutkan kerjasama dengan Piyu. Setelah sekian lama, Yoyo pun selesai menjalani hukumannya. Konon mereka (personel Padi) pernah bertemu untuk membincangkan kelanjutan Padi. Personel Padi selain Piyu, menyampaikan keinginan mereka untuk membangunkan lagi band Padi.

Namun apa daya, mereka tidak mendapat respon sebagaimana diharapkan. Jadilah Fadly, Rindra dan Yoyo jalan sendiri. Ditambah Stephan Santoso yang merupakan sound enginer Padi saat rekaman di masa lalu, serta Ari yang katanya menjadi manajemen, mereka mendirikan Musikimia. Saat ini, single mereka bertajuk Apakah Harus Seperti Ini sedang sering diputar di radio. Banyak orang mengira, ketika mendengar selintas ini adlah lagu terbaru padi. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena vokal Fadly sudah lekat dengan Padi.

Kembali ke sepenggal twit dari Denny Sakrie di atas, apakah memang kedua (atau keempat?) band ini mirip? Belum bisa dikatakan demikian. Coba perhatikan lagu Musikimia dan bandingkan dengan single Piyu featuring Anji berikut ini.

Apakah semua harus berakhir sudah
Dan berhenti sampai di sini
Jangan paksakan aku mengiyakan inginmu
Bila tak kau indahkan semua mimpi tentang kita

Tak ada satupun manusia di muka bumi
Yang tak ingin dihargai
Engkau dan aku mungkin berbeda
Tapi kita masih bisa bicara dan saling mendengar

Bukan harus seperti ini

Haruskah kita seperti ini

(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) tak harus seperti ini (tentang kita)

Pelan-pelan ku benamkan pikiranku
Bahwa aku pun tak salah melepasmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu

Sempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu

Lambat-lambat waktu makin memacuku (memacuku)
Setidaknya aku masih mengingatmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu

Sempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu
Oooh ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu

Mungkin mereka bisa berdalih bahwa kedua lagu hanya merupakan sebuah karya seni biasa. Tanpa ada maksud tertentu di baliknya. Pikiran nakalku yang sebenarnya tak berharap mereka berpisah mengatakan bahwa mereka sedang berdialog lewat lagu masing-masing. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah memang Padi dan Musikimia memang seperti halnya God Bless dan Gong 2000, atau tidak ada kemiripan sama sekali. Sambil membayangkan karya karya indah yang pernah mereka lahirkan bersama, seperti Begitu Indah, Mahadewi, atau Sobat. Yang mengantarkan mereka ke industri musik Indonesia.

Setelah duapuluh tahunan meramaikan musik Indonesia, akhirnya lahir juga sebuah album bertajuk a Tribute to. Dugaanku album ini merupakan proyek solo sang gitaris. Saat diluncurkan,teringat pernah membicarakan ini dengan beliau beberapa tahun lalu.

Dilihat dari artis yang terlibat, sepertinya memang diniatkan untuk memberi suasana baru pada setiap lagu yang direkam. Mulai dari penyanyi ‘masa kini’ semacam Vidi,The Upstairs, RAN, Kerispatih atau Ungu, penyanyi ‘seangkatan’ mereka seperti Ahmad Dhani,Pongki Barata, sampai ‘pendatang baru’ seperti Violet diajak serta.

Lagu-lagu yang direkam juga sedikit berbeda jika dibandingkan dengan materi ‘The Best’ yang pernah mereka keluarkan. Atau dibanding dengan daftar lagu yang pernah mereka tampilkan di panggung panggung. Setidaknya ‘pembeda’ itu ada dua lagu yang menandai hal tersebut. Lagu Lantai Dansa yang dibawakan The Upstairs plus lagu Bahagia Tanpamu yang dibawakan group pendatang baru Violet. Selebihnya adalah ‘lagu wajib’ yang hampir selalu mereka bawakan kalau manggung. Semacam Jogjakarta,Semoga, atau Terpurukku Disini. Mungkin hal tersebut bisa terjadi, karena para penyanyi diberi kebebasan dalam menantukan lagu yang akan mereka bawakan.

Lagu yang direkam juga berasal dari seluruh album yang pernah mereka keluarkan pada masa sebelum ‘pecah’. Ketika sang gitaris penggagas album ini, membentuk XOTC bersama Simon, gitaris yang terbiasa membantu mereka manggung. Mulai Tentang Kita dan Lantai Dansa dari album KLa, hingga Menjemput Impian dari album ‘terakhir’ di era dulu.

Entah karena terinspirasi dari menumpang penjualan di toko makanan cepat saji ala Agnes Monica, penjualan album Tribute To ini juga ‘menumpang’ pada jaringan toko swalayan Indomaret. Sebuah pilihan bagus saat pendengar musik Indonesia lebih senang mengunduh lagu [bajakan :-p] dari internet atau hanya membeli potongan lagu seperti yang terjadi pada Ring Back Tone.

Akhirnya, sebagai seorang penyuka [yeah,minimal era sebelum mereka 'pecah'], aku hanya bisa berharap, semoga apa yang sedang dijalankan oleh group ini, terlepas dari ide pribadi sang gitaris atau ide bersama yang dijalankan olehnya, bisa memberi gambaran akan apa yang sedang terjadi di musik Indonesia. Bahwa musik Indonesia merupakan sebuah industri. Dimana selera penikmat musik bisa bergeser. Pergeseran yang kalau tidak diantisipasi akan lekas membuat mereka hanya layak menjadi pengisi acara semacam Zona Memory, dan sejenisnya.

Akhirnya,tanpa Prasangka, aku hanya berharap,Semoga mereka Sudi Turun ke Bumi dan menemukan Lantai Dansanya. Sehingga Meski Tlah Jauh,mereka tidak hanya melagukan Terpurukku Disini, dan melantunkan Bahagia Tanpamu kepada penikmat musik Indonesia. Secepatnya mereka bisa Menjemput Impian dan mengulang sukses Jogjakarta.

22. November 2009 · 1 comment · Categories: musik

Kehadiran mereka meramaikan blantika musik Indonesia, duapuluh tahun yang lalu cukup menarik perhatian. Menurutku, apa yang terjadi ketika mereka melepas Tentang Kita sebagai single pertama, digambarkan dengan baik pada sampul album perdana mereka yang bergambar radio jatuh. Ada yang berbeda dari kehadirannya. Begitu yang terjadi selanjutnya dalam perjalanan karir mereka.

Untuk urusan album [dalam arti kemasan] seingatku hanya album ketiga, yang mereka beri judul sesuai lagu di album tersebut. Pasir Putih. Selebihnya, berbeda dari album rekaman lain, mereka selalu memberi tema sendiri untuk tiap album. Termasuk misalnya, memberi warna ungu pada album keempat yang memang berjudul Ungu.

Sikap berbeda dari penyanyi lain [group, duo maupun solo] mereka juga hampir tidak pernah memasang foto personil [dengan pose mejeng] di albumnya. Kecuali satu kali pada album yang diberi tajuk Sintesa. Selebihnya mereka selalu memberi sentuhan artistik yang berbeda untuk tiap album. Mereka juga, lewat sang vokalis yang menulis sebagian besar lirik lagunya, memperkenalkan lagi kosakata dalam bahasa Indonesia yang seolah terlupa. Sebutlah misalnya, terpuruk, nelangsa atau ratus.

Menurutku, album Kedua adalah puncak pencapaian sisi komersil mereka. Bukan berarti album yang lain tidak memberi sesuatu buat mereka. Karena menurut pengakuan mereka, justru di album Sintesa pencapaian musikalitas mereka berada di puncak. Kukatakan begitu, karena melalui album Kedua inilah mereka mulai dikenal luas. Bahkan sebuah lagu yang tadinya ‘hanya’ single kedua dialbum ini, lebih populer dibanding single pertamanya. pemilihan judul album juga menandai urutan keluarnya album ini di pasaran. Penamaan album yang mereka ulangi lagi lewat album kelima yang diberi judul Kelima [dengan lambang lima dalam angka Romawi].

Untuk ukuran sebuah group band, idealisme dan kekompakan mereka sebenarnya juga layak dipuji. Saat band lain didera gonta ganti personil, mereka tidak menambah personil meski sempat ditinggal penabuh drumnya sejak album Kedua. Mereka hanya mengambil pemain tambahan dalam setiap penampilan panggung dan rekaman. Mereka juga tidak mencari pengganti pemain basnya, saat setelah album pertama, sang vokalis memutuskan untuk konsentrasi pada urusan vokal [dan menulis sebagian besar lirik lagu] daripada memetik bas.

Beberapa tahun yang lalu, mereka dikabarkan bubar. Sang pemain gitar meninggalkan [atau dikeluarkan? :-p] dari group. Tinggallah sang vokalis dan pemain keyboard. Entah dengan alasan idealisme atau alasan lain, kedua personil yang tersisa, sepakat untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Namun ada yang berbeda. Sepertinya berhubungan dengan pemilik hak cipta atas nama group terdahulu, kedua personil yang tersisa akhirnya menggunakan nama baru bagi bandnya. Ditambah lagi dengan adanya beberapa pemain alat musik baru. Termasuk mantan pemetik bas dari sebuah band besar, yang akhirnya keluar juga dan membentuk band sendiri. Ya, pemain tambahan diangkat sebagai anggota band dan ikut rekaman. Tanpa embel embel pemain tambahan [additional player].

Sayangnya, Band baru dengan ‘nama baru’ [meski 'bau' nama band lama masih tersisa] tidak bergaung. Sepertinya memang sekarang bukan lagi jaman mereka. Meski musik tidak jauh berbeda dan lirik masih tetap puitis sebagaimana dulu diawal karir. Waktu telah berubah sejak mereka melantunkan Tentang Kita, dua pulu tahun lalu. Banyak band baru yang bermunculan. Dan selera pasar, tidak memihak kepada mereka lagi. Mereka kalah dengan band band setelah mereka.

Setahun terakhir, sang gitaris kembali lagi. Mereka mengeluarkan mini album berisi empat lagu. Dua lagu lama yang diaransemen ulang, sisanya lagu baru. Untuk menegaskan kembali bersatunya mereka bertiga [vokalis, pemain keyboard dan pemetik gitar] mereka menambahkan kata Return dalam nama band mereka. Mereka juga menggelar konser di Djakarta Theater, untuk menandai kembalinya mereka ke blantika musik Indonesia.

Aku pikir, pesan kehadiran kembali cukuplah dengan mengeluarkan mini album, penambahan kata Return dalam nama group, dan konser dimana mereka tampil bertiga. Setelah itu harusnya mereka menelurkan album baru lagi. Entah dengan lagu baru dan konsep baru, atau dengan lagu baru, racikan musik lama. Juga, bukan sekedar merekam ulang lagu lama dan diberi judul The Best Of.

Namun sepertinya harapanku itu, baru sebatas harapan. Sepertinya, mereka belum mengeluarkan album baru. Malah, kesannya mereka sedang menikati kebesaran masa lalu, dengan menggelar konser reuni tanggal empat Desember yang akan datang. Terbayang bahwa penontonnya masihlah mereka yang dahulu menyenangi group tersebut. Belum bisa menambah penggemar baru, atau bahkan merebut penggemar band yang ngetop saat ini.

Kemungkinan besar penonton Konser Reuni ini adalah mereka yang rindu dan ingin melantunkan lagu, Tentang Kita, Rentang Asmara, Terpurukku di Sini, Menjemput Impian, Semoga dan diakhiri dengan koor raksasa melantunkan Jogjakarta, masterpice mereka. Hendak kemanakah KLa Project yang fenomenal dahulu?

Aku pernah kagum pada seorang di jaringan pertemananku yang kebetulan selebrita. Dia yang akan aku sebut saja sahabat selebrita, seorang penyanyi,penggubah lagu dan seorang penulis. Aku kagum padanya karena disaat dia sedang menghadapi masalah, posisi yang dipilihnya untuk mensikapi permasalahan tersebut berbeda dari orang lain yang kebetulan memiliki posisi seperti dia.

Selebrita lain, mungkin akan mengadakan konfrensi pers. Mengundang wartawan dan menjelaskan duduk persoalan [minimal versi dia]. Atau paling tidak, rekaman komentarnya dalam beberapa angel kamera berbeda, akan diulang sejak pagi hingga hampir pagi lagi, dalam beberapa hari dalam ragam infotainment. Yeah, bisa terjadi seperti itu karena terkadang dari satu rumah produksi, muncul infotaiment yang hanya dibedakan nama serta pembawa acaranya. Isinya ya itu-itu juga.

Untuk kasus serupa sahabat selebrita, yang kebetulan mengenai perpisahan dengan pasangannya, pertanyaan yang biasanya beredar adalah penyebab perpisahan. Apakah ada orang ketiga, apakah karena soal prinsip, atau sebab-sebab lain. Jawaban yang diberi biasanya juga bermacam-macam, tidak ada orang ketiga, perpisahan ini karena perbedaan prinsip, atau semacam, kami sedang mencari cara untuk saling memikirkan lagi arah hubungan ini…dan sebagainya.

Namun apa yang terjadi kepada sahabat selebrita, sedikit berbeda. Dia tidak seperti selebrita kebanyakan. Satu dua kali adalah wajar memberi jawaban kepada pemburu info. Karena mungkin dia memang harus mengklarifikasi apa yang terjadi padanya, agar orang tau hal yang sebenarnya [versi dia tentu saja]. Apa boleh buat, itu adalah konsekuensi dari posisi dia yang kebetulan selebrita. Dia merasa cukup dengan itu. Selebihnya dia diam. Aku sepakat dengan posisi yang diambilnya. Karena, menurutku, memang hanya itu yang bisa disampaikannya. Meski dia seorang selebrita, dia juga berhak atas privasi yang merupakan hak asasi setiap manusia, termasuk selebrita seperti dia.

Sikap diamnya sudah pasti membuat pemburu infomenjadi semakin ‘bernafsu’. Atas nama rating dan keingintahuan pemirsa, para pemburu info mengejar beragam informasi mengenainya, dengan berbagai cara. Hingga ada informasi yang menurut sahabat selebrita kurang tepat, namun terlanjung tayang di media. Hal ini, akhirnya mengusik sahabat selebrita.

Mungkin meminjam prinsip cover both story milik media, sahabat selebrita memberi jawaban atas apa yang terlanjur berkembang. Uniknya, jawaban yang diberikan, tidak melalui media yang sama dengan yang memuat informasi kurang tepat tadi. Sahabat selebrita memilih untuk memanfaatkan media baru. Blog. Media yang oleh seorang pakar dianggap hanya trend sesaat. Melalui media itu, sahabat selebrita meluruskan dan menjelaskan secara tuntas. Aku menangkap kesan, ada kemarahan disana. Pilihan bagus yang diambilnya. Meski memang, tidak semua penyaksi infotaiment yang sebelumnya mendapat informasi salah, mendapatkan informasi ‘benar’ tersebut. Lantaran akses media baru tersebut belum ‘sebebas’ televisi, tempat dimana infotainment tersebut ditayangkan, yang lebih bebas memasuki ruang-ruang rumah kita.

Hingga saat membaca blog sahabat selebrita itu, yang memberi ‘penjelasan gamblang’ atas apa yang terjadi, aku kagum padanya. Meski apa yang menjadi keputusannya, masih tabu dalam budaya yang mungkin sama-sama kami akrabi sejak kecil. Dengan latar belakang budaya yang sama itu pula, aku mencoba berempati kepadanya, dan sempat memberi semacam dukungan buatnya.

Namun, mendengar berita bahwa akhirnya dia memilih mengakhiri kesendiriannya, aku kecewa. Bukan saja karena akhirnya dia memilih seseorang yang menjadi ‘tersangka’ penyebab perpisahannya dengan pasangan sebelumnya. Juga karena menurutku, keputusan yang diambilnya terlalu cepat. Meski mungkin, bisa saja dia akan mengatakan bahwa ‘perpisahan’ dulu sudah terjadi sejak jauh hari.sebelum berita itu tayang di media.

Jika sebelumnya aku dan beberapa teman membayangkan ‘lagu jagoan’ dari ‘album tak biasa’ dia yang baru saja terbit, adalah semacam curhat dari sisi dia, sekarang aku merasa lagu itu lebih pas dibawakan oleh sang pasangan sebelumnya. Tapi entahlah, mungkin seperti katanya, malaikat yang tahu.

p.s. aku membutuhkan waktu cukup lama menulis postingan ini. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya, ketidakbisaanku melihat lebih dalam tentang apa yang sedang terjadi. Mungkin, bila sahabat selebritaku itu membaca postingan ini, ada beberapa hal yang tidak tepat. Namun budaya yang aku akrabi sejak kecil mengajarkan satu hal dalam sebuah pepatah, “siboru puas siboru bangkara, molo dung puas sae so ada mara” yang berarti kurang lebih, lebih baik bila uneg-uneg dinyatakan saja, daripada disimpan dalam hati. Karena setelah itu legalah perasaan, tiada lagi ada yang mengganjal.

Di kantor, seminggu terakhir ini aku sedang rajin mengulangdengar sebuah lagu dari album terbaru Dewi Lestari. Judulnya Malaikat juga tahu dari Rectoverso. Tertarik mendengarnya, karena saat berkendara sambil memutar i-radio, dalam beberapa hari berturut-turut, lagu ini diperdengarkan. Awalnya aku tertarik dengan aransemennya yang megah. Bergaya orkestra gitu. Kerjaan Andi Rianto.

Waktu aku tampilkan satu bait lagu ini sebagai status YM! ku, seorang teman kirim pesan, “Lagunya buat Marcell banget ya?”. Terus terang, itu juga yang terpikir buatku, setelah beberapa kali mendengarnya. Tapi pikiran itu aku tepis, setelah membaca ‘pembelaan’ dewi di blognya. Sebagaimana aku sudah bilang juga ke dia lewat comment di blog itu, aku gak akan mencoba menghakimi Dewi soal keputusan yang diambilnya. Selain karena bukan wewenangku, aku cuma tertarik dengan syair lagu tersebut.

Untuk wartawan impotemen, lirik di awal lagu mungkin akan menggiring mereka untuk berpikir ngeres. Terutama, baris terakhir akan membawa mereka untuk melalukan pembenaran akan adanya ‘orang ketiga’ sebagaimana digossipkan. :-D

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Bukan, bukan bait itu yang mau aku bicarakan. Tapi bait berikut ini

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Buatku bait ini mo bilang, “hey…mungkin aku tak seperti atau tak sesempurna harapanmu. Tapi, jangankan manusia, malaikat aja tahu bahwa aku lebih sempurna daripada yang lain dalam hal mengasihi”

Yang lebih menggelitik lagi buatku adalah, dua bait terakhir dari bait tersebut. Dewi tidak seperti penulis lirik lain. Atau Dewi tidak seperti orang kebanyakan, yang kadang membawa Tuhan untuk sekedar memperkuat argumen yang akan diberikan. Misalnya, lewat kalimat “hanya Tuhan yang tahu…..”. Buat Dewi mungkin, gak perlu bawa-bawa Tuhan. Biarlah Tuhan mengurus hal-hal yang besar. Kalau cuman soal ‘kecil’ seperti ini, biarlah hanya ‘pesuruh’ Nya aja. Hehehehe

Malaikat Juga Tahu – Dewi Lestari

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri.. Cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta tuk terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi.. Karna tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu.. Aku kan jadi juaranya


Aku lupa persisnya kapan bermula, namun akhir-akhir ini media [infotainment] sedang ramai memberitakan berita perpisahan antara Marcell dan Dewi Lestari. Dua orang yang kebetulan dikenal publik. Marcell adalah penyanyi [sebelumnya pemain drum sebuah group band Indie] yang pertama kali dikenal karena duetnya dengan Shanty. Dewi Lestari, pertama kali dikenal, juga seorang penyanyi dalam kelompok Rida Sita Dewi. Terakhir dikenal sebagai penulis novel dengan Supernova sebagai karya perdana dan langsung menjadi pembicaraan orang.

Aku sedang tidak membahas perpisahan mereka, dan kenapa akhirnya keputusan itu harus diambil. Yang menurutku menarik adalah, di jaman infotainment sedang merajalela di negara ini, Dee [demikian Dewi kerap disapa] memilih jalur blog untuk menyampaikan ‘hak jawab’ nya atas apa yang terjadi. Sebagai seorang penulis, Dee tidak mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan yang menurutku sangat gamblang. Meski beberapa bagian, dapat saja memancing kontroversi.

Menarik melihat pilihan Dee untuk memanfaatkan blog sebagai media penyampaian hak jawabnya. Aku pikir, pasti tidak sedikit media yang menawarkan untuk melakukan wawancara eksklusif kepadanya [mungkin juga kepada Marcell] untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Aku gak tau persis juga, apakah hal tersebut [wawancara deengan media infotainment] telah pernah dilakukan atau akan dilakukan kelak.

Menurutku, menjawab melalui media blog merupakan pilihan paling masuk akal ditengah menjamurnya infotainment yang kadang kehabisan ide untuk pemberitaannya. aku kaatakan kehabisan ide, karena setahuku infotainment diniatkan untuk memberitakan apa yang terjadi di dunia hiburan. Informasi dari dunia entertainment [disingkat dengan seenaknya menjadi infotainment :-D ]. Bagaimana tidak kehabisan ide, infotainment juga memberitakan mengenai meninggalnya [tanpa mengurangi rasa duka dan hormatku pada] Pungkas Tri Baruna, setelah mengibarkan Merah Putih di puncak Mc Kinley pegunungan Alaska, Amerika Utara, memberitakan mengenai Tante Ayin yang ternyata memiliki niat mulia menjadi seorang ‘ibu guru‘, atau Al Amin yang bilang kalau cewek berbaju putih itu tidak bagus. Dengan situasi seperti itu, menjawab melalui blog adalah pilihan paling netral buatku.

Selengkapnya hak Jawab Dewi Lestari

Bila Cinta Memanggilmu
Kau ikut kemana ia pergi

Walau jalan terjal berliku
Walau perih slalu menunggu

Cintamu butakan matamu dan hatimu
hsrusnya cintamu buka pintu kalbumu

Cinta adalah misteri
kita hanya manusia
tak berdaya melawan
takdir sang Raja Manusia
(tlah terlukis di Langit)

Jika sayapnya merangkulmu
dan pisau tajam siap melukai
Cinta Adalah Misteri

Cinta adalah misteri. Meski kamu dilukai karena cinta, ikuti saja kemana dia membawamu. Itu kata Kahlil Gibran, sebagaimana dikutip Ahmad Dani seperti seperti lagu diatas. Apakah benar demikian? Entahlah. Kenyataan yang ada didepan mata, seolah membuat kita harus percaya akan pernyataan Kahlil Gibran tersebut.

Mulai dari kisah Romeo dan Juliet atau kisah Siti Nurbaya. Film atau sinetron bertema tragedi berlatarbelakang cinta seolah tidak habis-habisnya ditanyangkan. Meski dengan beragam aliran musik, hampir setiap minggu muncul lagu baru mengenainya. Untuk yang termutakhir, debutan group D’Masiv sebagai band pemenang ajang pencarian bakat sebuah produsen rokok, hampir diperdengarkan disetiap kesempatan. Mulai dari bilik karaoke hingga pengamen pinggir jalan. Padahal dari judulnya saja, sudah menyeramkan. Mungkin kalau bukan benda tak berwujud, dia akan dipanggil polisi. Karena seperti kata D’Masiv Cinta ini Membunuhku ! Bayangkan, si korban membuat pengakuan terang-terangan seperti itu :-D .

Tragedi berlatarbelakang cinta, seolah bertolak belakang dengan makna dari cinta sesungguhnya. Karena bukankah dengan cinta, semua lebih indah [minimal lebih damai]. Lantas kenapa ada yang menyatakan kalau cinta itu melukai, bahkan ada yang terbunuh? Atau, mungkin ini ada hubungannya dengan istilah cinta itu buta? Sadar kalau memiliki perasaan cinta, akan mendapat derita [atau sekali lagi bahkan ada kemungkinan terbunuh :-) ], masih saja mempertahankan cintanya? Menyadari perasaan cintanya akan mendapat tentangan, masih saja tidak mampu melepas cinta tersebut.

Anggota DPR meradang. Mereka tersinggung dengan lirik lagu ‘Gosip Jalanan’ milik Slank. Lagu yang pertama diedarkan empat tahun lalu, namun dibawakan di acara KPK. Inti dari lagu itu, seperti biasa mengandung kritik terhadap tingkah laku para mafia. Termasuk mereka yang berada di Senayan [Slank tidak menyebut DPR].

Kata Slank dalam lagu itu, kurang lebih ”hati-hati dengan mereka yang membuat peraturan di Senayan, merancang Peraturan dan UUD, ujung ujungnya duit….” Pagi ini, dalam perjalanan ke Soekarno-Hatta, aku menyadari mengapa Pak Gayus Lumbuun membatalkan niat untuk mempermasalahkan lagu itu. Bukan karena takut Slankers yang jumlahnya jutaan, ‘menyerbu’ Senayan. Juga, pasti bukan karena ingin menjaga hubungan baik dengan Slank yang memiliki massa lebih fanatik dibanding massa partai politik. Maklum, tahun depan Pemilu. Partai politik pasti naksir berat dengan pemilik massa seperti Slank, atau Iwan Fals dengan OInya.

Pasti pak Gayus segera menyadari kalau pembuat UUD itu adalah MPR, dan bukan DPR. Maklum, beliau kan pakar hukum. Mosok gak bisa bedakan tugas MPR dan DPR? Jadi, pembatalan niat ‘mengganggu’ Slank semata hanya karena persoalan hukum tata negara….

Sudah dua minggu ini tip di mobil aku pake untuk muter satu kaset Batak yang unik. Unik karena kaset ini berbeda dari kaset-kaset Batak yang ada. AKu bilang beda, karena biasanya lagu-lagu Batak yang direkam dan diedarkan, berisi lagu yang lebih dikenal dengan istilah ‘andung’. Yang kalau boleh menterjemahkannya ke dalam bahasa indonesia, [maaf] berarti lagu cengeng. Karena andung sendiri berarti ratapan.

Artisnya adalah Viky Sianipar. Seorang musisi muda Batak yang kalo make bahasa koran adalah generasi MTV. Dulu sempat bergabung dan merupakan anggota dari group band MSA. Bahkan sempat menelurkan satu album rekaman. Kalau aku perhatikan sepintas, apa yang dihasilkan oleh kaset ini mirip dengan apa yang dihasilkan oleh Tohpati atau Dewa Budjana. Aku katakan mirip karena berbeda dari kedua artis terakhir, Viky Sianipar tidak menciptakan seluruh lagu dalam album ini. Yang aku catat hanya ada dua yang merupakan gubahannya sendiri. Selebihnya adalah gubahan dari pencipta lagu Batak yang sudah kondang dan melegenda di kalangan etnik Batak. Seperti Nahum situmorang, S Dis Sitompul, Jaga Depari dan lain-lain.

Kemiripan lain adalah, Viky Sianipar merupakan seorang gitaris juga seperti halnya Tohpati dan Budjana. Dengan menggandeng artis-artis Batak yang sudah kondang seperti Victor Hutabarat, Jhonson Hutagalung maupun Tetty Manurung, menurutku komposisi yang ditampilkan bolehlah disejajarkan dengan album kedua gitaris tersebut. Apalagi belakangan video klipnya malah sering ditayangkan di MTV [sayangnya aku belum pernah nonton ^_^]. Selain gitar serta alat musik mesin [?], beberapa alat musik tradisional juga dimainkan untuk mendapatkan nuansa tradisi-nya.

Dengan segala keseriusan serta perhatian terhadap lagu daerah, aku merasa perlu mengacungkan jempol untuk usaha Lae Sianipar ini. Hanya ada satu yang aku rasa perlu mendapat perhatian lagi dari produser album ini. Mungkin distribusinya perlu diperhatikan lagi. Sebab segera setelah tampil di MTV dan mendapat liputan di kompas aku pikir pasti banyak orang yang akan mencarinya di toko kaset. Sayang kan kalo penikmat dan peminat kaset ini kecewa ?

Liputan lain mengenai kaset ini ada di liputan 1 dan liputan 2. Sayangnya aku kesulitan untuk membuka situs artis serta proyeknya.

Oh ya, kalau mau dengar lagunya di sini ada sampelnya koq.