Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat lelaki batak, jika belum menikah, setiap tahun nasihat hanya tertuju padanya setiap malam pergantian tahun.

Desember ini, Slank berusia tiga puluh tiga tahun. Bermula dari berdirinya Cikini Stone Complex pada Desember 1983, saat ini SLANK bukan hanya sebuah group band. SLANK konon berasal dari kata slengekan, yang kurang lebih berarti sesuka sukanya, menjelma menjadi komunitas yang luas. Potlot, nama gang di bilangan Jakarta Selatan (pernah) menjadi kiblat musik Indonesia. Sebut saja Oppie Andaresta, Imanez (almarhum), Andy Liany (almarhum), Anang Hermansyah dan Kidnap Katrina, mengindonesia dari sana. Selain itu masih ada juga BIP yang digawangi oleh Bongky, Indra dan Pay Siburian yang keluar dari SLANK setelah album Minoritas. Dan masih banyak lagi yang (mungkin) belum sebesar nama nama itu.

Bukan hanya kiblat musik, Potlot juga menjadi kiblat politik. Tidak sedikit pihak (partai maupun perorangan) yang merapat ke gang Potlot hanya untuk memeroleh dukungan dalam pemilu. Apalagi sejak era pemilu langsung. Betapa tidak, dengan usia 33 tahun, penggemar SLANK terdiri dari beberapa generasi. Mereka yang mungkin masih bersekolah di SMP atau SMA ketika album Suit Suit….hehehe (gadis sexy) keluar, sampai level anak anak dari generasi pertama itu.

Para penggemar pun fanatik bukan main. Sampai muncul celetukan seperti iklan teh dalam botol yang ‘apapun makannya….’. Konser artis manapun yang dilakukan di lapangan terbuka, bendera SLANK pasti dikibarkan! Tanpa bermaksud membandingkan, mirip dengan komunitas OI milik Iwan Fals. Padahal Iwan Fals sudah jauh lebih dahulu berkarya di industri musik Indonesia.

Dengan kenyataan seperti itu, sulit menjelaskan fenomena ini. Bahkan ketika beberapa personilnya (lagi lagi) diketahui menjadi pecandu narkoba, fanatisme itu tidak hilang. Manajemen Pulau Biru (entah apakah masih seperti itu namanya) berhasil mengelola peristiwa itu. Alih alih menjadi peristiwa memalukan, manajemen bahkan berhasil membuatnya menjadi kejadian yang menginspirasi banyak anak muda untuk menjauhi narkoba. Mungkin kalau menggunakan istilah korporasi, menjadi semacam CSR bagi SLANK. Menjadi tanggung jawab SLANK untuk mengarahkan jutaan fans agar tidak mengikuti jejak idolanya yang kurang bagus itu. Bunda Iffet, ibunda Bimbim, yang walaupun (hanya) seorang ibu rumah tangga biasa, mampu mengelola SLANK dengan baik.

Aku mengikuti SLANK sejak awal karirnya hingga album Minoritas. Album berikutnya Lagi Sedih, 999+09 #1 dan 999+09 #2 hingga yang terbaru sudah tidak intens kuikuti lagi. Ada rasa yang hilang ketika aku tak mendengar permainan jari Indra di keyboard dan melodi Pay di gitar. Lirik jujur bebas dan nakal ditambah keyboard dan kocokan gitar terlalu sempurna buatku. Bagaimana mereka dengan lugas meneriakkan ‘Anjing’ pada lagu ‘An – = -‘ ~ >…’ (judulnya memang begitu) dari album Kampungan atau meneriakkan kata ‘Kentut’ pada lagu Tut Wuri Handayani dari album Minoritas. Atau melagukan ‘Bangsat’ di lagu Begitu Saja dari album ‘Piss!’. Bagaimana mereka merekam dengkuran dan menimpali dengan koor personil dan diiringi permainan piano lagu Nina Bobo pada lagu Nina Bobo dari album Kampungan.

Mereka juga dengan bebas memasukkan lagu dolanan anak anak di Jawa pada Bang Bang Tut dari Minoritas atau memasukkan bahasa Batak (kebetulan Pay bermarga Siburian) pada intro lagu Generasi Biru di album Generasi Biru. Mereka bercerita tentang apa saja. Korupsi, Birokrasi yang kompleks, aborsi, keindahan di Bali (lagu Tepi Campuhan di Bali atau sepinya pantai Anyer, keriangan bocah bermain. Romantisnya Terlalu Manis atau kemarahan pada perbedaan status pada Mawar Merah. Masih banyak lagi.

Ah….aku rindu SLANK (sampai album Minoritas ☺). Ingin berada di Pulau Biru bersama jutaan Slankers 😍

img_1917

Selain Indonesia Jaya ciptaan Chaken M yang dibawakan oleh Harvey Malaihollo, lagu Doa Anak Negeri adalah lagu yang paling cepat ditangkap telinga ketika diperdengarkan dalam Festival Lagu Pembangunan tahun 1987.

Indonesia Jaya masih sering diperdengarkan dalam acara resmi. Seringkali dibawakan dalam bentuk paduan suara. Entah karena kurang gaul, justru aku jarang mendengar lagu Doa Anak Negeri diperdengarkan kepada publik.

Ketika Festival diadakan, lagu ciptaan Donny Hardono dan syair oleh D. Prasetyo, tersebut dibawakan oleh almarhum Chrisye. Liriknya tidak terlalu patriotis menurutku. Namun cukup menggugah semangat cinta negeri ketika diperdengarkan.

Menulis lirik patriotis pasti membutuhkan keahlian sendiri. Wage Rudolf Supratman, H. Mutahar, Kusbini, Cornel Simanjuntak, Ibu Soed dan yang lain sudah membuktikan. Setelah era mereka, ada Gombloh dengan Kebyar Kebyar. Dan yang paling baru mungkin Eros yang menciptakan Bendera. Yang dengan aransemen Cokelat, menjadikan lagu itu sebagai lagu paling patriotik pada tahun 90an menurutku.

Mungkin memang harus dipadukan antara lirik, lagu dan aransemen. Agar lagu yang diciptakan tidak terjebak menjadi slogan kosong, apalagi menjadi lagu mendayu dayu. Yang terakhir inilah yang dikhawatirkan ketika lagu doa dibawakan oleh Chrisye. Namun kembali pada rumus pendukung, sebagaimana aku sampaikan di awal paragraf, kelengkapan elemen itu menjadikan lagu ini semacam lantunan doa dari anak negeri. Doa yang terasa pas untuk kondisi negeri seperti sekarang.

DOA ANAK NEGERI

Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
S’moga lestari s’moga abadi
Doa kami dari anak neg’ri
Puji dan syukur kami berikan
Neg’ri ini tentram sentosa
Bangunlah semua, satukan cita
Tuk neg’ri tercinta Indonesia

Reff :
Doa kami dari anak neg’ri
Bangga kami pada Pertiwi
T’rimakasih kepadamu neg’ri
Pembangunan ini milik kami

Doa dari kami anak negeri
S’moga engkau melangkah pasti
Dan teruskanlah pembangunan ini,
Dari generasi ke generasi

Doa kami anak neg’ri
Doa kami sejati
Doa kami anak neg’ri
Doa kami tulus dan suci

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan, kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran atau perasaan. Sebuah kalimat diawali dengan huruf besar, diakhiri dengan titik. Dalam tata bahasa Indonesia terdapat dua jenis kalimat. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Pola dasar kalimat biasanya terdiri dari Subjek, Predikat plus Objek (jika ada).

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu subjek dan satu predikat, serta satu keterangan (jika perlu). Sementara kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu dengan melihat letak konjungsi [kata penghubung]. Dengan pemahaman demikian, kalimat tunggal harusnya hanya memiliki satu konsep pikiran atau perasaan. Kalaupun harus terdiri dari lebih dari satu pikiran atau perasaan, sudah disebut kalimat majemuk dan memenuhi persyaratan sebagai kalimat majemuk.

Susunan beberapa kalimat, menjadi sebuah paragraf [http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf]. Paragraf umumnya terdiri dari tiga hingga tujuh kalimat semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf tunggal. Aku sendiri dalam menyusun paragraf, berusaha untuk terdiri dari tiga kalimat. Hal ini karena aku senantiasa mengingat apa yang pernah disampaikan oleh salah satu dosen ketika kuliah dulu. Mungkin beliau menganalogikan dengan kalimat. Bahwa sebuah kalimat haruslah terdiri dari satu pokok pikiran, demikian juga paragraf.

Proses pembentukan kalimat [dan mungkin pembentukan paragraf] ini terpikir kembali olehku, ketika membaca majalah Rolling Sone [RS] terbaru. Kebetulan aku berlangganan dan rutin membaca setiap edisinya. Sudah lama sebenarnya aku merasa terganggu dengan kalimat dan paragraph yang ada pada setiap artikelnya. Terutama artikel yang ditulis sendiri oleh wartawan lokal. Kenapa wartawan lokal? Karena sebagai majalah yang memegang lisensi dari luar negeri, RS sering memuat artikel yang merupakan terjemahan dari RS edisi luar negeri.

Aku mengambil contoh artikel utama edisi terakhir, yang mengupas mengenai sebuah ban bertajuk SORE. Cobalah simak kalimat berikut :

Awan Garnida Kartadinata, kakak kelas Echa sewaktu SMP dan Bemby di SMA, serta bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Mungkin jika aku diminta untuk menulis ulang kalimat tersebut, aku akan menulis:

Awan Garnida Kartadinata, bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Ada beberapa kata yang menurutku tidak perlu diletakkan pada kalimat itu. Hubungan keluarga antar personil, tidak perlu masuk dalam kalimat ini. Mungkin bisa diletakkan pada awal tulisan. Karena artikel ini mengenai band satu band saja, informasi di awal tulisan cukup menjadi bekal pembaca untuk menelusuri isi artikel. Entah kalau tujuannya adalah untuk menunjukkan luasnya pengetahuan wartawan.

Kalimat lain :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi, tepatnya saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, band terbaik dan paling diminati di Indonesia yang khusus membawakan lagu-lagu The Beatles.

Terdapat 34 kata.

Alternatif menurutku :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi. Hal tersebut dilakukan saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, imitator Beatles terbaik di Indonesia.

MEnjadi 28 kata. Terdapat pengurangan 6 kata. Penghematan enam kata, cukup lumayan untuk satu artikel panjang. Penghematan kata – penghematan kalimat – penghematan tinta, dst…hehehehehe

Kalimat lain :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir, yakni Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Alternatif menurutku :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir. Keduanya adalah Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Dibagi menjadi dua kalimat. Daripada satu kalimat panjang.

Kalimat yang paling panjang menurutku adalah kalimat berikut.

Dialah Ramando “Mondo” Gascaro, pemain keyboard dan vokalis serta sosok yang bertanggung jawab dalam membentuk corak musik Sore yang indah dan kompleks pada album Centralismo (2003) dan Ports Of Lima (2008) semasa berada di band tersebut sejak didirikan -sebagaimana tercantum di kaus Ade- sebelum mengundurkan diri dari band yang didirikan bersama sahabat masa kecilnya, Ade dan Awan, tanpa penjelasan resmi apa pun selain “mereka cukup mengerti kenapa dan sudah waktunya” diwawancara ROLLING STONE pada tahun lalu.

Terdapat 70an kata dalam satu kalimat ini! Entah kalau orang lain membacanya. Aku merasa terengah engah ketika membaca. Tak sabar untuk bertemu dengan titik. Terlalu banyak pokok pikiran yang ingin disampaikan. Selain itu terdapat pengulangan penjelasan mengenai hubungan antar personil, yang seperti aku sebut sebelumnya, hal tersebut bisa diletakkan di awal tulisan.

Ya begitu deh. Mungkin apa yang disampaikan oleh majalah RS adalah standar baku bagi majalah tersebut. Terasa berbeda jika dibandingkan dengan artikel yang ada di TEMPO misalnya. Yang aku tau tetap setia dengan slogan Enak Dibaca dan Perlu.

Pengamat musik Denny Sakrie (@dennysakrie) dalam satu twitnya berkata, “Padi dan Musikimia itu ibarat God Bless dan Gong 2000”. Sebuah pernyataan yang sekilas ada benarnya. Jika dirunut sejarah keduanya.

God Bless adalah salah satu band rock tertua di tanah air, berdiri pada tahun 1973. Sempat malang melintang di era tahun tujuh puluhan untuk kemudian vakum sekian lama. Band ini bangun dari masa vakumnya dengan mengeluarkan album Semut Hitam pada tahun 1988. Dengan formasi Ahmad Labar pada vokal, Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Yockie Suryoprayogo (keyboard) dan Teddy Sujaya (drum). Namun setelah album ini, Ian Antono keluar dari God Bless dan menjadi erenjer untuk beberapa penyanyi solo seperti Ikang Fawzi dan Nicky Astria. Posisi Ian di God Bless sempat digantikan oleh gitaris muda Eet Sjahranie. Formasi ini sempat mengeluarkan album Raksasa.

Selain menjadi produser untuk penyanyi solo, Ian Antono membentuk Gong 2000 bersama Ahmad Albar, Harry Anggoman (keyboard), Donny Fatah (bas) dan Yaya Muktio (drum). Band ini boleh dianggap menuai sukses dengan mengeluarkan beberapa album seperti Bara Timur (1991), Gong Live – (1992), Laskar (1993), dan Prahara (1998). Disela kegiatannya bersama Gong 200, tercatat Ian Antono pernah ‘kembali’ ke rumah lamanya God Bless. Pada tahun 1997, para personel God Bless, termasuk Eet Sjahranie dan Ian Antono berkumpul dan menghasilkan sebuah album berjudul Apa Kabar. Judul album yang seolah menyiratkan arti reuni untuk ‘mantan’ personel God Bless. Namun reuni ini tidak berlangsung lama karena Eet secara resmi mengundurkan diri dari formasi God Bless untuk konsentrasi pada Edane. Band yang dibentuknya dan mengeluarkan album yang juga bernafaskan rock, The Beast.

Begitulah akhirnya God Bless, rujuk kembali. Bongkar pasang, keluar masuk personel kerap terjadi. Tercatat hanya Ian Antono, Ahmad Albar dan Donny Fatah yang paling awet diantara personilnya. Lantas bagaimana dengan Padi dan Musikimia?

Sama sama beraliran rock, Padi adalah generasi muda di musik rock Indonesia. Beranggotakan Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass) dan Yoyo (drum), band ini berhasil mencuri perhatian pecinta musik Indonesia. Bahkan konon album kedua bertajuk Sesuatu Yang Tertunda, laku jutaan kopi dan dianggap salah satu album terbaik. Sayangnya, kesusksesan mereka tercoreng oleh kisah penabuh drum yang dipidana menggunakan narkoba. Yoyo pun harus mendekam di penjara. Band pun vakum sementara.

Mirip kisah Ian Antono di God Bless, sang gitaris Piyu jalan dengan menjadi produser. Buah tangannya diantaranya adalah Drive. Band yang sempat menghasilkan beberapa album untuk kemudian tidak terdengar lagi, menyisakan Anji sang vokalis yang tetap melanjutkan kerjasama dengan Piyu. Setelah sekian lama, Yoyo pun selesai menjalani hukumannya. Konon mereka (personel Padi) pernah bertemu untuk membincangkan kelanjutan Padi. Personel Padi selain Piyu, menyampaikan keinginan mereka untuk membangunkan lagi band Padi.

Namun apa daya, mereka tidak mendapat respon sebagaimana diharapkan. Jadilah Fadly, Rindra dan Yoyo jalan sendiri. Ditambah Stephan Santoso yang merupakan sound enginer Padi saat rekaman di masa lalu, serta Ari yang katanya menjadi manajemen, mereka mendirikan Musikimia. Saat ini, single mereka bertajuk Apakah Harus Seperti Ini sedang sering diputar di radio. Banyak orang mengira, ketika mendengar selintas ini adlah lagu terbaru padi. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena vokal Fadly sudah lekat dengan Padi.

Kembali ke sepenggal twit dari Denny Sakrie di atas, apakah memang kedua (atau keempat?) band ini mirip? Belum bisa dikatakan demikian. Coba perhatikan lagu Musikimia dan bandingkan dengan single Piyu featuring Anji berikut ini.

Apakah semua harus berakhir sudah
Dan berhenti sampai di sini
Jangan paksakan aku mengiyakan inginmu
Bila tak kau indahkan semua mimpi tentang kita

Tak ada satupun manusia di muka bumi
Yang tak ingin dihargai
Engkau dan aku mungkin berbeda
Tapi kita masih bisa bicara dan saling mendengar

Bukan harus seperti ini

Haruskah kita seperti ini

(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) tak harus seperti ini (tentang kita)

Pelan-pelan ku benamkan pikiranku
Bahwa aku pun tak salah melepasmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu

Sempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu

Lambat-lambat waktu makin memacuku (memacuku)
Setidaknya aku masih mengingatmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu

Sempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu
Oooh ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu

Mungkin mereka bisa berdalih bahwa kedua lagu hanya merupakan sebuah karya seni biasa. Tanpa ada maksud tertentu di baliknya. Pikiran nakalku yang sebenarnya tak berharap mereka berpisah mengatakan bahwa mereka sedang berdialog lewat lagu masing-masing. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah memang Padi dan Musikimia memang seperti halnya God Bless dan Gong 2000, atau tidak ada kemiripan sama sekali. Sambil membayangkan karya karya indah yang pernah mereka lahirkan bersama, seperti Begitu Indah, Mahadewi, atau Sobat. Yang mengantarkan mereka ke industri musik Indonesia.

Setelah duapuluh tahunan meramaikan musik Indonesia, akhirnya lahir juga sebuah album bertajuk a Tribute to. Dugaanku album ini merupakan proyek solo sang gitaris. Saat diluncurkan,teringat pernah membicarakan ini dengan beliau beberapa tahun lalu.

Dilihat dari artis yang terlibat, sepertinya memang diniatkan untuk memberi suasana baru pada setiap lagu yang direkam. Mulai dari penyanyi ‘masa kini’ semacam Vidi,The Upstairs, RAN, Kerispatih atau Ungu, penyanyi ‘seangkatan’ mereka seperti Ahmad Dhani,Pongki Barata, sampai ‘pendatang baru’ seperti Violet diajak serta.

Lagu-lagu yang direkam juga sedikit berbeda jika dibandingkan dengan materi ‘The Best’ yang pernah mereka keluarkan. Atau dibanding dengan daftar lagu yang pernah mereka tampilkan di panggung panggung. Setidaknya ‘pembeda’ itu ada dua lagu yang menandai hal tersebut. Lagu Lantai Dansa yang dibawakan The Upstairs plus lagu Bahagia Tanpamu yang dibawakan group pendatang baru Violet. Selebihnya adalah ‘lagu wajib’ yang hampir selalu mereka bawakan kalau manggung. Semacam Jogjakarta,Semoga, atau Terpurukku Disini. Mungkin hal tersebut bisa terjadi, karena para penyanyi diberi kebebasan dalam menantukan lagu yang akan mereka bawakan.

Lagu yang direkam juga berasal dari seluruh album yang pernah mereka keluarkan pada masa sebelum ‘pecah’. Ketika sang gitaris penggagas album ini, membentuk XOTC bersama Simon, gitaris yang terbiasa membantu mereka manggung. Mulai Tentang Kita dan Lantai Dansa dari album KLa, hingga Menjemput Impian dari album ‘terakhir’ di era dulu.

Entah karena terinspirasi dari menumpang penjualan di toko makanan cepat saji ala Agnes Monica, penjualan album Tribute To ini juga ‘menumpang’ pada jaringan toko swalayan Indomaret. Sebuah pilihan bagus saat pendengar musik Indonesia lebih senang mengunduh lagu [bajakan :-p] dari internet atau hanya membeli potongan lagu seperti yang terjadi pada Ring Back Tone.

Akhirnya, sebagai seorang penyuka [yeah,minimal era sebelum mereka ‘pecah’], aku hanya bisa berharap, semoga apa yang sedang dijalankan oleh group ini, terlepas dari ide pribadi sang gitaris atau ide bersama yang dijalankan olehnya, bisa memberi gambaran akan apa yang sedang terjadi di musik Indonesia. Bahwa musik Indonesia merupakan sebuah industri. Dimana selera penikmat musik bisa bergeser. Pergeseran yang kalau tidak diantisipasi akan lekas membuat mereka hanya layak menjadi pengisi acara semacam Zona Memory, dan sejenisnya.

Akhirnya,tanpa Prasangka, aku hanya berharap,Semoga mereka Sudi Turun ke Bumi dan menemukan Lantai Dansanya. Sehingga Meski Tlah Jauh,mereka tidak hanya melagukan Terpurukku Disini, dan melantunkan Bahagia Tanpamu kepada penikmat musik Indonesia. Secepatnya mereka bisa Menjemput Impian dan mengulang sukses Jogjakarta.