man-of-honor

Selesai juga membaca “Man of Honor Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya”. Sebuah buku biografi yang menurutku cukup enak dibaca. Kisah jatuh bangun seorang yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia. Selain itu, banyak kisah inspiratif yang bisa dipetik.

Mungkin tidak terlalu banyak yang mengenal sosok seorang William Soeryadjaja. Mungkin lebih banyak yang mengenal warisan yang ditinggalkannya. Sebuah (group) perusahaan bernama PT Astra International Tbk. Perusahaan publik yang saat ini berkapitalisasi pasar 300 triliun rupiah. Perusahaan yang dimulai hanya dengan empat karyawan, sekarang memiliki ratusan ribu karyawan. Pemilihan kata dimulai, bukan didirikan aku gunakan karena sebenarnya Astra bukan didirikan langsung oleh Oom William (begitu tokoh ini disebut di buku ini, dan begitu juga sapaan karyawannya kepadanya). Cikal bakal Astra adalah sebuah perusahaan yang dibeli oleh William, kemudian didandani sehingga menjadi besar dan beranak pinak.

Buku Man of Honor menceritakan bagaimana sejarah seorang William. Mulai dari masa kecilnya di Majalengka, menikah dan memulai usaha, “dikerjai” hingga pernah mendekam dalam penjara, bangkrut dan memulai lagi bisnis baru. Untuk memulai bisnis baru, bahkan sampai dilakukan dua kali olehnya. Terakhir ketika harus menyerahkan sepenuhnya Astra, untuk keluar dari kesulitan yang dialami oleh putranya.

Sebagai sebuah biografi, buku ini lebih menceritakan kiprah William sebagai seorang pelaku usaha. Hanya sebagian kecil yang menceritakan William sebagai sosok seorang anak, ayah, atau kakek. Karena sepertinya sisi itulah yang ingin diangkat. Hal itu terlihat dari pemilihan judul besarnya, jika dibandingkan dengan langkah heroik yang dilakukannya untuk “menyelamatkan” (bisnis) anak lelakinya.

Buku inipun tidak terlalu banyak menceritakan mengenai keluarganya. Kecuali anggota keluarga yang bersentuhan langsung dengan usahanya. Seperti Edwin, putranya yang menjadi pengurus di Astra. Atau istrinya, Lily yang saat awal mulainya Astra sempat menjadi “penyedia” katering buat karyawan Astra, dengan memasak makan siang. Bahkan sosok Edward, putra yang diselamatkan olehnya pun disinggung lebih sedikit dibanding Edwin. Bahkan lebih banyak bercerita tentang dua adik laki lakinya yang membantunya dalam membangun kerajaan bisnisnya.

Untuk yang mengenal sedikit sosok William dari sepak terjangnya di dunia bisnis sebagaimana dikabarkan di media massa, buatku buku ini cukup memberi inspirasi. Banyak sisi lain seorang William yang baru kuketahui setelah membaca buku ini. Bagaimana besarnya rasa nasionalismenya (meskipun dia seorang keturunan Cina), bagaimana kesukaannya pada makanan khas Indonesia seperti sate kambing misalnya, bagaimana sifat dermawannya (yang suka memberi ‘salam tempel kepada siapa saja yang dia temui), bagaimana rasa sayangnya kepada karyawannya, dan seterusnya. juga melalui buku ini, pembaca mengetahui bahwa ternyata seorang Wiliam Soeryadjaja kadang suka iseng pada anak buahnya.

Juga bagaimana William telah menerapkan apa yang saat ini banyak dilakukan dan menjadi trend dalam dunia usaha. Penerapan prinsip Good Corporate Governance pada perusahaannya. Hal tersbut tercermin misalnya bagaimana dia merekrut tenaga tenaga profesional untuk mengelola Astra. Mendukung program pelestarian lingkungan hidup yang dikelola oleh Emil Salim (mantan menteri lingkungan hidup). Om William juga telah menerapkan Total Quality Control bahkan dianggap sebagai pelopor. Memberi sebagian saham perusahaan kepada direksi (saat ini dikenal dengan nama Management Stock Option atau Stock Allocation). Meskipun beberapa diantara jenderalnya (begitu manajemen disebut pada satu bab buku) tersebut merupakan keponakannya sendiri, ternyata diperlakukan sama dengan profesional lain. Bahkan para profesional itu, juga karyawan justru diperlakukan sebagaimana keluarga.

William juga mengharamkan Pemutusan Hubungan Kerja di perusahaan yang dikelolanya. Ketika menghadapi krisis, perusahaan tidak serta merta ditutup atau dirampingkan organisasinya. William justru mendorong agar manajemen yang telah diberi kepercayaan olehnya untuk memikirkan solusi keluar dari masalah. Dengan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan sehingga perusahaan tidak bangkrut. Yang penting tidak rugi, ujarnya. Dalam menghadapi hal semacam ini, dari buku ini pembaca tahu sejarah awalnya sepeda bermerek Federal. Sesuatu yang awalnya diremehkan oleh manajemennya, akhirnya menjadi bisnis yang lumayan memberi hasil.

Dikisahkan pula dalam buku ini, bagaimana ketika perusahaanya sudah dijalankan oleh profesional, William hanya mencari peluang bisnis baru untuk kemudian menyerahkan kepada jenderalnya untuk mengeksekusi. Memang tidak semua peluang bisnis yang ditawarkan, disambut dengan baik oleh para jenderalnya. Ada juga yang ditolak dengan berbagai argumen. Jika itu yang terjadi seringkali Om William malah jalan sendiri dengan kocek pribadi. Kelak ada diantara peeusahaan pribadi itu yang justru cemerlang dan akhirnya digabung ke dalam Astra. Ada pula yang tetep menjadi milik pribadi si Om. Tipe perusahaan terakhir, kelak menjadi penyelamat si Om ketika akhirnya beliau harus melepas Astra.

Buku yang ditulis oleh wartawan majalah SWA ini, ditulis dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Kalau boleh menyebut kekurangannya, hanyalah pada kurangnya informasi mengenai nama nama selain keluarga yang mengiringi perjalanan hidup si Om. Nama nama seperti Teddy P Rachmat, Tossin Himawan, Maruli Gultom, Gerry Kasih dan seterusnya. Menurutku akan lebih informatif lagi kalau ketika memunculkan nama-nama tersebut, penulis menyertakan catatan kaki untuk menceritakan latar belakang tokoh dalam buku. Karena ternyata beberapa diantara tokoh tersebut, menjadi pengusaha sukses setelah lepas dari Astra. Bahkan beberapa diantaranya disebut sebagai orang terkaya di Indonesia.

Mungkin salah kalau aku bilang bahwa wajar bila memiliki dua anak laki, akan disibukkan dengan pertengkaran mereka. Tapi ini bukan bercerita soal salah benar. Namun soal bagaimana berkomunikasi dengan anak.

Ceritanya soal dua junior. Yeremia dan Gabriel. Cerita biasa. Bagaimana sulung diganggu si bungsu, serta bagaimana si bungsu tidak mau kalah terhadap si sulung. Kalau tidak berhati hati menyikapinya, bisa mempengaruhi sikap mereka berdua terhadap orangtuanya. Entah benar atau tidak, itulah pandanganku.

Bermula dari pesan singkat yang dikirim Yeremia [Y] : “Papi hukum si gabriel nakal pas abang main mobilan abang sudah cape”

Dengan pemilihan kata yang sangat hati hati aku balas pesan singkat itu [P] : “Nak.abang bisa bilang pelan pelan ke adek. Abang abang itu,harus bisa atur adeknya.gak boleh langsung dihukum”

[Y] : Iya abang tau tapi nakal.

[P] : Nanti papi bicara sama adek.kalau adek tidak mau diganggu abang,adek juga gak boleh ganggu abang kalau sedang bermain

[Y] : Papi gabriel tadi ganggu

Kalau sudah begini, aku selalu ingat bahwa sebagai orangtua tidak ada kata berhenti dalam belajar menghadapi mereka berdua yang sudah dipercayakan oleh sang pemberi hidup kepada kami.

Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang.

Entah kenapa, aku langsung klop saat ‘bertemu’ dengan sepenggal kalimat Gibran itu ketika mesin pencari Google menunjukkannya padaku. Saat aku mencari kalimat bijak soal memahami.

Dipenghujung hari ini, aku merasa harusnya dunia akan aman bila banyak orang yang bisa benar-benar mengerti dan menjalankannya. Bukan sedang sok bijak, tapi aku yakin, pekerjaan memahami tidak sesederhana susunan kata-katanya yang hanya terdiri dari 5 (lima) huruf.

Mungkin semua kita ingin menjalankannya. Namun kadang, ego mengalahkan niat untuk memahami. Saat kita merasa kepentingan pribadi kita akan terganggu oleh perbuatan orang lain, entah itu langsung atau tidak langsung terhadap kita, secara spontan niat untuk memahami seakan lenyap tak berbekas. Ujung-ujungnya sebuah sikap perlawanan yang kita kedepankan. Kalau sudah begini, gesekan dalam hubungan tak mungkin dihindarkan.

Saat mulai menulis ini, aku juga teringat satu kata yang mirip. Empati. Mungkin pilihan bahasanya terlalu ‘tinggi’ dan sulit dipahami. Namun, sejatinya empati berarti perasaan dimana kita ikut merasakan dan memahami orang lain. Atau gampangnya, empati berarti menempatkan diri seolah-olah orang lain.

Aku pikir, kurang lebih seperti ini. Jangan perbuat kepada orang apa yang kamu tidak ingin diperbuat orang kepadamu. Kalau dirimu tidak mau ditampar orang, maka jangan pernah menampar orang. Itu kalau kalimat negatifnya. Mungkin kalau kalimat positifnya menjadi, perbuatlah kepada orang lain, apa yang kamu ingin diperbuat orang lain kepada kamu.

Kalau dirimu ingin dicintai orang lain, maka mulailah mencintai orang lain. Atau kalau ‘kembali’ kepada kutipan diatas, mulailah mencintai diri sendiri dulu. Setelah itu, belajarlah mencintai orang lain. Bila keduanya bisa berjalan dengan baik, percayalah pada satu hal. Akan banyak cinta yang mengalir kepadamu.

From picture2blog

Bayangkan hal ini.

Seorang perempuan bekerja, yang sedang hamil 35 (tiga puluh lima) minggu, bersiap untuk cuti melahirkan. Dokter Panjaitan, sudah memberi kabar bahwa, dalam hitungan hari kelahiran akan dijelang. Mestinya, Jumat siang ini adalah jadwal terakhir untuk menentukan usia kandungan. Berapa persisnya usia kandungan serta bagaimana kesiapan sang ibu dalam menyambut kelahiran yang direncanakan melaluicara sectio (caesar).

Mendadak sebelum makan siang, bos mengajak meeting setelah makan siang. Janji dengan dokter ditunda, beres beres pekerjaan dikebut. Demi menjaga agar selama cuti tiga bulan, tidak ada pekerjaan yang sedang berjalan, menjadi terkendala. Meeting pada hari terakhir bekerja mustinya membicarakan perihal penting. Semua seolah berkejaran dengan waktu, emosi dan tenaga (mondar mandir dengan perut besar?).

Meeting dilaksanakan setelah makan siang. Agendanya ternyata hanya satu. Penandatanganan surat pengunduran diri!. Bos sudah menyiapkan. Tinggal ditandatangan. Alasannya hanya satu. Kami melakukan semua ini sebisa mungkin dengan mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Ibu hamil kaget. Usaha mendebat tidak berguna. Karena si bos telah menitahkan bahwa si ibu tak bisa keluar ruangan meeting tanpa terlebih dahulu menandatangani surat pengunduran diri.

Bersama surat pengunduran diri, si bos menyiapkan surat pernyataan bersedia menerima kompensasi sejumlah uang. Meski demikian, si ibu melihat apa yang terjadi sebenarnya lebih mahal dari nilai kompensasi yang bakal diterima.

Pertama, perlakuan manajemen yang tidak konsisten. Surat permohonan cuti telah disetujui jauh hari. Kedua, pemutusan hubungan kerja kepada perempuan yang sedang hamil, melahirkan atau menyusui, dilarang oleh Undang Undang Ketenagakerjaan. Apabila dilakukan, hal tersebut batal demi hukum dan perempuan yang diputuskan hubungan kerjanya dalam kondisi demikian, wajib dipekerjakan kembali. Ketiga yang paling fatal adalah, melakukan intimidasi kepada perempuan yang sedang hamil besar, bukanlah perbuatan manusia.

Kira-kira begitulah kejadiannya, tanggal enam Februari lalu. Dialami oleh istriku, tepatnya. Mendapat berita seperti itu melalui telepon, aku merasa ditampar. Perlakuan serupa itu, belum pernah aku alami. Perlakuan semena-mena pemberi kerja kepada pekerja, beberapa kali aku baca dan temui. Sedikit banyak aku memahami peraturannya. Karena kebetulan pernah diberi amanah menjadi pengurus Serikat Pekerja.

Ingin melawan, saran beberapa teman membuatku sadar. Bahwa saat ini kami sedang dihadapkan pada dilema. Langkah apapun yang akan diampil, harus berhitung dengan keadaan istri yang sedang hamil tua. Mengganggu emosinya sedikit, bisa berakibat fatal. Istilah mengiang dikepala. Satu keadaan yang bisa membahayakan keadaan istri dan anak dikandungan.

Hari Sabtu, kami sepakat melawan. Semata ingin memberi pelajaran. Agar kelak, tidak ada lagi perbuatan tidak menyenangkan yang dialami oleh orang lain oleh si bos dan perusahaan itu. Beberapa teman kami mintai pendapat. Semua mendukung agar melawan. Termasuk keluarga besar. Namun kami sepakat agar perlawanan dilakukan setelah melahirkan. Agar emosi istri sedikit terkendali. Untuk itu kami sepakat untuk mendiamkan.

Namun ternyata tidak berjalan dengan baik. Gangguan datang dari perusahaan. Pertanyaan, kapan fasilitas kantor akan dikembalikan? adalah pemicunya. Reaksi yang seharusnya timbul dari aksi mereka, memberikan kompensasi yang telah disepakati. Terus seperti itu. Hingga akhirnya kami tidak tahan lagi.

Dengan mempertimbangkan ketentuan yang telah diatur oleh pemerintah, akhirnya kami mengirimkan surat elektronik kepada perusahaan. Kami mengajukan apa yang telah diatur. Yang ternyata belum sesuai dengan keinginan dari perusahaan. Beberapa hari tarik ulur soal itu. Si bos dan antek-anteknya sempat memberi gertakan akan menyerahkan urusan ini kepada pengacara. Kami tak kalah gertak. Kami juga bisa siapkan pengacara. Emosi serasa disulut oleh sikap pongah yang ditunjukkan oleh anak buah si bos. Termasuk ketika kepadanya aku katakan, silahkan mempersiapkan diri kalau satu saat akan dipanggil polisi oleh pengaduan perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukannya terhadap istri.

Entah karena takut, akhirnya mereka bersedia memberi apa yang kami tuntut. Istri datang ke kantor mereka dengan ditemani adik ipar yang dari perawakannya kelihatan sangar. Dan pemilik perusahaan, si bos dan anak buah yang menggertak tadi tidak terlihat. Urusan diselesaikan dengan sekretaris.

Begitulah akhirnya penyelesaiannya. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang bisa kami tempuh dengan kondisi seperti sekarang ini. Mungkin tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, perlawanan yang kami berikan. Namun ada hal yang perlu kami pertimbangkan. Yang pasti kami menarik pelajaran berharga dari kejadian ini. Bahwa manusia bisa menjadi bukan manusia bila memiliki kuasa dan uang. Bahwa bukan hanya teman-teman bang Napi yang bisa menjadi pembunuh. Mereka yang setiap hari rapi dan bekerja di depan komputer pun berpeluang menjadi pembunuh.

Cerita tangan pertama : ada disini

Mereka yang mengikuti berita pasar modal satu semester terakhir, tentu kenal perusahaan yang bernama PT Bumi Resources Tbk. [BUMI]. Perusahaan milik keluarga Bakrie, taipan papan atas negeri ini. Kebetulan pula, salah satu pemiliknya menjadi menteri di kabinet Indonesia Bersatu yang sedang memerintah. Kepemilikan pada BUMI sempat membuat keluarga tersebut dinobatkan menjadi keluarga terkaya di Indonesia, versi sebuah majalah ekonomi.

Sebagai sebuah perusahaan, BUMI adalah fenomena. Betapa tidak, dari sebuah perusahaan kecil pemilik hotel, BUMI berubah menjadi salah satu pemilik tambang batubara terbesar di Indonesia. Dari perusahaan yang sahamnya dihargai puluhan Rupiah saja, menjadi perusahaan yang satu sahamnya dihargai delapan ribu Rupiah.

Fenomena tersebut membuat BUMI diminati oleh banyak investor. Banyak yang ingin ememilikinya. Begitu banyaknya, hingga saham ini sempat diberi julukan ‘saham sejuta umat’. Hingga ada yang bilang, tidak ada investor pasar modal yang tidak memiliki BUMI.

Namun fenomena itu mulai rontok sekitar satu semester terakhir. Dari delapan ribu rupiah, kini saham BUMI dihargai ratusan rupiah. Kejatuhan harganya mencengangkan banyak pihak, sebagaimana juga kenaikan harga pasca BUMI mengakuisisi dua perusahaan tambang pemilik lahan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Banyak investor dirugikan. Nilai kekayaan mereka merosot tajam.

Ditengarai semuanya berawal dari sikap manajemen BUMI yang kerap merancang dan melakukan aksi korporasi yang dianggap oleh pemegang saham sebagai ‘aksi aneh’. Aksi yang cenderung tidak mempertimbangkan kepentingan investor publik. Dan hal tersebut terjadi, bukan sekali dua. Investor pemegang saham BUMI memberi ‘hukuman’ dengan melakukan aksi jual saham tersebut di pasar. Tekanan jual ini semakin membuat harga BUMI terus menurun.

Seminggu terakhir, investor justru sudah memikirkan bentuk ‘hukuman’ lain kepada manajemen BUMI. Investor beramai ramai menggalang kekuatan. Mereka membentuk konsorsium yang disebut Kumpulan Investor Publik Saham BUMI [KIPS BUMI]. Tujuan konsorsium, salah satunya, memiliki cukup suara untuk melakukan ‘sesuatu’ pada Rapat Umum Pemegang Saham [RUPS]. Mereka berniat bisa mendudukkan perwakilannya pada jajaran manajemen BUMI. Agar rencana aksi korporasi manajemen bisa lebih dikontrol.

Kebetulan manajemen BUMI berencana untuk melakukan RUPS pada bulan Februari. Entah ada hubungan atau tidak, dua hari lalu RUPS tersebut dibatalkan. Seandainya pembatalan RUPS tersebut berhubungan dengan KIPS BUMI, terlihat bagaimana ‘kekuatan massa’ berhasil membuat manajemen BUMI menghitung ulang langkah yang akan dilakukannya. Setidaknya, dengan begini [sekali lagi, bila pembatalan RUPS tersebut berhubungan dengan KIPS BUMI], investor yang merupakan pemangku kepentingan [stake holder] atas BUMI telah berhasil.

Aku terpikir, seandainya apa yang dilakukan oleh KIPS BUMI, dilakukan oleh stake holder negeri pada ‘RUPS’ lima tahunan negeri bernama Republik Indonesia. Karena sejatinya posisi investor sebagai pemegang saham, sama saja dengan posisi rakyat dalam sebuah negara. Setiap kali ‘RUPS’, pemegang saham memberi kepercayaan pada manajemen untuk lima tahun berikutnya. Kalau dalam lima tahun terakhir manajemen menjalankan perusahaan dengan bagus, dia layak diberi kepercayaan kembali. Kalau tidak, dicarilah manajemen baru mengganti.

Namun, alih alih ‘menerima dividen’, modal yang disetor oleh pemegang saham [dalam bentuk pajak, gamblangnya] malah digunakan oleh manajemen untuk kepentingan pribadi. Hampir setiap hari ada berita tentang manajer negara yang berhubungan dengan Komisi Pemberantas Korupsi. Pemegang saham dilupakan. Padahal pemegang saham sedang menghadapi banjir atau bencana alam lain, langkanya bahan bakar minyak atau tingginya harga bahan pokok.

Namun sepertinya, impianku tidak serta merta terwujud. Sebab, meski sama sama diatur oleh Undang Undang, hak suara dan kewajiban manajemen Perseroan Terbatas diatur dalam satu Undang Undang yang sama. Sementara hak pemegang saham serta kewajiban manajemen dalam konteks bernegara diatur dalam Undang Undang yang lebih rumit. Dan susahnya, Undang Undang itu dibuat oleh manajemen yang dipilih, yang hampir pasti mereka lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya. Meski tetap, agar terkesan mulia, dilabeli dengan atas nama rakyat.

Dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, bangsa Indonesia kembali kehilangan tiga orang putra terbaiknya. Dimulai dari Sophan Sophiaan, pada Sabtu 18 Mei 2008, kemudian kemarin pada hari yang bersamaan Bang Ali dan Ibu SK Trimurti, juga kembali kepada sang pencipta.

Aku mengenal ketiganya hanya melalui media. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Ibu SK Trimurti, aku merasa ada pesan dibalik perginya Bang Ali dan Bung Sophan Sophiaan. Mungkin benar, kalau ketiganya pergi karena sudah sampai ajalnya. Namun dari media aku mengetahui, Bang Ali dan Bung Sophan, memiliki sesuatu yang mungkin tidak dimiliki oleh banyak orang di negara ini.

Bung Sophan [BS] awalnya dikenal sebagai aktor, konon Pengantin Remaja adalah film pertamanya yang sekaligus memperkenalkannya dengan Widyawati, yang kemudian menjadi pengantinnya. Selama puluhan tahun, pasangan ini relatif bersih dari berita miring layaknya artis lain. Ketika Ibu Megawati memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, BS bergagung untuk kemudian menjadi anggota DPR. Mungkin darah politik mengalir dari ayahnya Manaai Sophiaan yang merupakan tokoh Partai Nasional Indonsia seangkatan Bung Karno. Selama menjadi politikus di Dewan Perwakilan Rakyat, setahuku BS juga tidak menjadi politikus selebritis yang mondar-mandir nampang di layar kaca. Terakhir, sikapnya yang berseberangan dengan Ibu Mega, membuat dia dan beberapa rekannya dipecat dari partai itu. Kemudian, beliaupun harus keluar dari Senayan.

Sikap teguh pada pendirian inilah yang mempesona dari sosok Sophan Sophiaan. Sehingga ketika terdengar kabar bahwa beliau meninggal akibat kecelakaan motor, banyak yang terkejut. Liputan media terhadap berita meninggalnya juga lumayan besar. Terlepas dari beliau digolongkan sebagai selebriti yang menjadi politikus. Bahkan sampai ada media yang menulis bahwa setiap hari kebangkitan nasional, kelak bangsa ini akan mengenang beliau.

Senada dengan BS, Bang Ali juga merupakan tokoh yang teguh pada pendirian. Diangkat sebagai Gubernur Jakarta oleh Bung Karno, Bang Ali masih berusia 39 tahun. Gebrakan-gebrakan membangun Jakarta ala Bang Ali dikenang sebagai caranya untuk membangun Jakarta sebagai sebuah Metropolitan. Dalam situasi negara yang sedang kacau dalam perekonomian, beliau tidak kehilangan akal untuk mendapat dana guna membiayai pembangunan Jakarta Modern. Beliau berani menentang arus untuk melegalkan judi dan pelacuran [dengan lokalisasi di Kramat Tunggak, kawasan yang akhirnya melekat sebagai daerah wisata esek-esek Jakarta]. Dua dari aktivitas tertua kegemaran manusia di muka bumi ini. Terbukti cara tidak masuk akal yang ditempuh Bang Ali, mempu merobah Jakarta dari sebuah kampung besar menjadi Metropolitan.

Malam ini aku juga berpikir, jangan-jangan sapaan akrab warga Jakarta kepada Gubernurnya, Bang, dimulai dari era Bang Ali, Bang Nolo [Tjokropranolo], Bang Sur [Soerjadi Sudirja] sampai Bang Yos [Sutiyoso] dan Bang Foke.

Saat baru saja memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, aku rasa Indonesia butuh banyak orang-orang seperti Bang Ali dan Bung Sophan. Pemimpin yang dengan teguh dan konsisten memikirkan rakyat bukan pribadi atau kelompoknya saja. Pemimpin yang bersedia dimaki orang demi sebuah keputusan yang terbukti mensejahterakan lebih banyak lagi orang [mungkin termasuk juga orang yang tadinya memaki].

Aku merasa, apabila dari 200 juga lebih penduduk Indonesia ada 100 orang saja seperti Bang Ali, tidak perlu Presiden mengingatkan kembali kalau bangsa Indonesia Bisa [sebagaimana disampaikan pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional]. Karena aku percaya, Sang Pencipta telah menyediakan semuanya untuk bisa dikelola oleh bangsa ini. Masalahnya sekarang bukan bisa atau tida, kita keluar dari keterpurukan yang sedang kita hadapi pelan-pelan. Tapi apakah kita sebagai bangsa berkehendak?

Jadi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Panita Nasional 100 tahun Kebangkitan Nasional, mungkin selogan 100 tahun Kebangkitan Nasional perlu dikoreksi sedikit. Menjadi [Maukah] Indonesia Bisa ?

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Pak Budiarto Shambazy, dalam kolom Politika Kompas hari ini memilih judul,”Gombal, tetapi benar” untuk menggambarkan upaya yang bisa dilakukan untuk memerangi korupsi di negara ini yang konon katanya sudah berjamaah. Kalau dulu dikatakan, korupsi berlangsung di bawah meja, sejak era reformasi, bahkan mejanya disikat sekalian.

Upaya yang bisa kita lakukan, menurut pak Bas, mirip dengan apa yang disebut oleh A’a Gym sebagai 3 (tiga) M. Mulai dari hal yang paling kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang!. Kata pak Bas, ”memang kedengarannya gombal, tetapi benar kan?”

Aku setuju. Tapi pada kenyataannya, ternyata tidak semudah itu. Saat mengurus SIM, kita disambut dengan spanduk ajakan untuk menghindari calo. Ternyata memang sudah tidak ada calo di Samsat Daan Mogot. Bersih. Karena ternyata calonya sekarang berseragam polisi. Mau mencoba peruntungan dengan mengurus sendiri? Dalam surat pembaca di Kompas, aku pernah baca kekesalan beberapa orang yang disuruh kembali lagi minggu berikutnya untuk mengulang proses ujian SIM karena tidak lulus.

Urusan pajak beda lagi, Ditjend Pajak memasang baliho besar-besar untuk mengajak orang membayar pajak, sekalian mengawasi penggunaannya. Kenyataannya? Pelapor penggelapan pajak di Asian Agri lebih dahulu masuk penjara daripada pihak yang dilaporkannya. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Wakil Presiden marah marah saat rumah susun yang dibayangkannya telah menjulang, ternyata belum beranjak dari tanah. Konon perijinannya sedang diproses. Urusan perijinan yang lama, juga merupakan salah satu ladang korupsi. Kaya iklan rokok yang ‘nakal’ itu, perlu melewati beberapa meja untuk dilewati oleh berkas perizinan. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Wakil wakil kita yang terhormat, harus diberi uang rapat untuk membahas Undang Undang bagi kepentingan rakyat. Padahal itu sudah tugas mereka. Bak tulisan di pantat truk Pantura, Ada uang abang sayang. Tak ada uang, abang kutendang. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Makanya aku salut dengan ulah sebagian anggota Partai Keadilan Sejahtera yang dengan rela menambal jalan berlubang di Jakarta, saat Gubernurnya yang katanya ahli itu mungkin sedang sibuk mengutak atik dana pembinaan media di APBD yang jumlahnya milyaran. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Seorang Jaksa Agung Muda harus rela melepaskan jabatannya karena seorang anak buahnya tertangkap basah sedang jual beli permata (permata lho…bukan perkara). Sementara Jaksa Agungnya sendiri hanya bilang, ”Apakah dengan saya mundur, masalah lantas selesai?” Padahal, yang jual beli permata itu masih berhubungan dengan perkara yang beberapa hari sebelumnya, di-lemari es-kan oleh institusinya. Bukan oleh institusi mudanya. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Perbincangan dengan beberapa teman siang ini, membicarakan kenapa Thailand yang rajin kudeta mengkudeta pemerintahan, lebih cepat pulih ekonominya daripada negara kita yang ‘tidak pernah ada kudeta’ sehingga dengan otomatis, mustinya pemerintahannya lebih stabil. Kesimpulan yang didapat, disana masih ada Raja yang masih dihormati oleh rakyat dan pemerintahannya. Sementara disini, terlalu banyak Raja yang berkantor di Senayan. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Aku rasa, apa yang bisa dilakukan oleh bangsa ini adalah meniru apa yang baru saja dilakukan oleh rakyat Malaysia. Mengurangi kepercayaan yang terlanjur diberikan kepada pemerintah yang tidak berhasil, dan memindahkan kepercayaan itu kepada barisan oposisi. Bukan kepada partai oposisi, karena pemimpin partai oposisi ini sedang sibuk mengamati orang lain, apakah menari poco-poco atau menari tor tor.

Partai-partai lain? Kayanya sih gak jauh beda. Karena ternyata ada juga yang dengan alasan hak asasi manusia,mengusulkan agar mereka yang sedang atau telah dipidana bisa menjadi Gubernur, bahkan Presiden.

Kalau pada saatnya, tahun 2009 belum ketemu yang cocok, biarlah pilihan itu ada di hati masing-masing. Tidak perlu perlu buru buru diantarkan ke Tempat Pemungutan Suara.

Lewat pertandingan mendebarkan, perpanjangan waktu 2 x 15 Menit, serta adu pinalti yang juga mendebarkan, akhirnya PSMS melaju ke Grand Final Liga Indonesia setelah mengalahkan Persipura Jayapura.

Semakin jelas kenapa negara kita tidak maju-maju. Para pemimpin, bukannya memimpin malah sibuk dengan urusan tari-tarian. Pemimpin sebuah Partai Oposisi bilang kalo pemimpin (pemerintahan) sekarang sedang menari poco-poco. Maju selangkah, mundur selangkah. Gak ada kemajuan. Kalaupun ada goyangan, sekedar memuaskan pandangan para penonton. Yang dikritik, memang tidak langsung membalas. Tapi balik membalas, melalui juru bicaranya dan partai pendukungnya. Main sindir-sindiran seperti bocah.

Susah juga. Yang satu, sepertinya tidak bisa menerima kekalahan dalam Pemilu terakhir, dan merasa mampu memimpin seandainya dahulu diberi kesempatan. Mungkin dia lupa kalau, beliau pernah diberi kesempatan memimpin. Meski hanya sebentar (karena menggantikan Presiden sebelumnya, yang dimakjulkan), dalam kampanyenya menyambut pemilihan Presiden pertama secara langsung, beliau menyingkap semua keberhasilan selama memimpin. Namun apa daya rakyat lebih memilih orang lain. Mustinya hal ini bisa jadi pelajaran.

Pemimpin yang menang, terlalu tipis telinganya. Terlalu cepat merespon sekala kritik terhadapnya. Bahkan merasa perlu melaporkan sendiri kepada polisi, atas nama pribadi seorang [mantan] anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang menurutnya telah mencemarkan nama baiknya. Namun, sikap yang sepertinya elegan itu ternyata tidak dilanjutkan pada waktu laporannya ditindaklanjuti aparat penegak hukum. Pelapor, dengan alasan kesibukan tugas negara tidak bisa datang ke Pengadilan sebagai saksi korban.

Ingat hal ini, aku ingat kalimat yang kira-kira berbunyi, “Kita tidak akan pernah menjadi seperti apa yang orang katakan”. Kita sendirilah yang menentukan siapa diri kita. bukan orang lain. Kenapa kita musti menghabiskan energi untuk memikirkan apa yang orang lain katakan?

Seorang teman dekat merasa perlu ‘membunuh’ blog yang dibangunnya cukup lama, karena beberapa teman lain sering membaca dan kemudian berkomentar miring terhadap beberapa postingannya. Seorang teman lain, bahkan bercerita dengan mata berkaca-kaca saat tau kalau dia dikatain sesuatu yang terus terang menyakitkan hati. Namun aku percaya dia tak seperti itu.

Diluar kedua teman tadi, ada seorang teman dekat lain yang berprinsip unik dan aku setuju dengan dia. Dia cerita, pernah bertemu dengan seorang teman baru di satu tempat. Namun sang teman baru itu seolah-olah tidak mengenal teman dekatku ini. Kepadaku dia berkata, “Emang gw pikirin kalo waktu itu dia sombong? Yang penting bukan dia yang memberi aku makan. Aku mencarinya sendiri”

Kira-kira seperti itulah prinsip yang sedari dulu aku jalani. Prinsip yang diajarkan oleh keluargaku. Peduli amat kata orang. Mari kita kerjakan hal yang sepatutnya kita kerjakan dengan sebaik-baiknya. Peduli amat kata orang. Toh bukan dia yang kasih kita makan. [kalimat terakhir ini biasanya Ibuku yang ngucapin] Sebab nasi yang kita makan, berasal dari “rice coocker !

Jadi daripada rajin mengkritik, mungkin ada baiknya pemimpin partai oposisi itu melakukan konsolidasi terhadap partainya. Cari penyebab dari, bagaimana bisa partai yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan anggota parlemen, kalah dalam pemilihan Presiden langsung. Bukankah sudah jelas, lebih banyak yang menyukai saingannya? Satu hal lagi, perasaan dulu waktu jadi pemimpin, beliau selalu menjawab lebih baik banyak bekerja daripada banyak bicara, waktu orang-orang mengkritik sikap diamnya. Kenapa hal itu gak berlaku?

Kepada pemimpin yang menang, kerja aja bos! Gak usah dipikirin suara satu dua orang. Ada puluhan juta yang memilih anda dalam pemilihan kemarin. Bukankah itu lebih dari cukup? Masak sampeyan lebih peduli suara segelintir orang daripada mayoritas pemilih anda? Kalau kerja anda bagus, tahun depan insya allah dipilih lagi. Ya kalo selama ini kerjanya gak bener, ya rakyat juga akan menghukum dengan memilih yang lain. Dan itu tak perlu ditakutkan karena, bukankah jabatan adalah amanah dan titipan dari Sang Pemberi Hidup?

Kepada teman dekat, teman lain, dan teman dekat lain, apapun sikap kalian, aku tetep sayang kalian :-D .


Beberapa kali melewati baliho perusahaan rokok yang dibuat untuk promosi mereka menyeponsori kegiatan sepakbola tanah air, aku gak memperhatikan apa yang menarik dari iklan itu. Namun memperhatikan di cawang dalam kemacetan tol dalam kota menuju kantor beberapa waktu yang lalu, aku tersadar kalau ada benang merah antara gambar itu dengan perusahaan pemasangnya.

Kalau diperhatikan, nomer punggung para pemain itu semuanya menuju ke satu arah. angka 9 (sembilan) sebagai sebuah angka yang dipercaya oleh keluarga pemilik sebelumnya. Ya, meski sekarang PT HM Sampoerna Tbk. mayoritas dimiliki oleh Phillip Morris yang dari negeri Paman Sam, ternyata anga sembilan tetap dipercaya memiliki berkah.