Woody dan Buzz adalah dua tokoh utama dari film animasi Toy Story yang sudah mencapai jilid tiga. Dikisahkan, awalnya Woody adalah mainan favorit Andy. Sampai satu saat, Andy merayakan ulang tahun dan menerima Buzz sebagai hadiah.

Sedari awal, sebelum kedatangan Buzz, Woody sebagai ‘koordinator’ seluruh mainan yang dimiliki Andy, sudah merasa khawatir akan tersisih jika Andy menerima kado dalam bentuk mainan baru. Dia berusaha memprovokasi teman teman sesama mainan untuk membenci Buzz. Bahkan Woody dianggap menyisihkan Buzz, meski terjadi tanpa sengaja, agar perhatian Andy padanya tidak berkurang. Tanggung jawab sebagai pemimpin informal, diambil oleh Woody untuk mengembalikan Buzz ke kamar Andy.

Petualangan itulah yang diceritakan pada Toy Story awal. Meski awalnya ada kesombongan pada diri Buzz, akhirnya mereka berdua bisa berteman bahkan hingga sekuel ketiga Toy Story.Cerita pertemanan dalam film animasi Toy Story ini terpikir semalam hingga pagi ini. Awalnya adalah, ketika memberi kado kepada Gabriel dalam rangka hari ulang tahunnya yang ketiga kemarin, 16 Februari.

Aku memberi kado karakter Buzz kepada Gabriel dan Woody kepada abangnya, Yeremia. Entah sengaja atau tidak, komposisi itu yang terjadi. Bukan sebaliknya. Semalam ketika menyembunyikan mainan itu, aku merenungi lagi bahwa komposisinya sudah pas seperti itu.Woody seperti ejawantah dari Yeremia, dan Buzz ejawantah dari Gabriel.

Yeremia hadir lebih dahulu di keluarga kami. Gabriel adalah si bungsu yang hadir belakangan. Layaknya hubungan sulung dan bungsu di keluarga manapun [yeah,mungkin tidak seluruhnya], aku membaca ada semacam kekhawatiran pada Yeremia bahwa kasih sayang orangtuanya akan berkurang padanya. Beberapa kali, terlihat rasa cemburu padanya akan adiknya.

Terakhir sekali diungkapkannya minggu lalu, saat maminya sedang dinas keluar kota dan hanya ada kami bertiga. Aku,Yeremia dan Gabriel. Dalam perbincangan sebelum tidur, Yeremia mengungkapkan kenapa tidak ada lagi yang sayang padanya. Kenapa semua rasa sayang ada pada adiknya. Terus terang, bukan perkara sulit buatku untuk menerangkan. Karena hal seperti ini sudah beberapa kali diungkapkan terbuka.

Yang membuatku, sedikit sedih adalah dia hampir menangis mengucapkannya.Sebagai orangtuanya, tentu saja aku harus menerangkan, dengan bahasa yang lugas dan gampang dimengerti olehnya. Aku hanya mengajak dia berhitung dulu. “Umur Abang berapa?” Tanyaku. “Delapan tahun” katanya.
“Adek?”
“Tiga tahun”
“Delapan dikurang tiga,berapa bang?”
“Lima”
“Nah, selama lima tahun sebelum adik lahir, abang sudah mendapat banyak dari Papi dan Mami. Sementara, adek baru tiga tahun mendapat perhatian dari Papi dan Mami. Sekarang, lebih besar mana lima dan tiga?”
“Lima”
“Nah itu dia, sebenarnya abang sudah mendapat lebih banyak daripada adek. Abang tidak boleh bilang adek lebih disayang daripada abang. Abang lihat kalau papi dan mami selama ini gak pernah membedakan abang dan adek kan? Malah abang mendapat lebih banyak. Kadang, adek pakai baju bekas abang. Sementara abang dibeliin baju baru.Abang dibeliin mainan PSP, adek enggak. Kalau adek dibeliin mainan, abang pun begitu. Tidak ada yang dibedakan. Abang tahu,kan?”
“Iya,pi”
“Nah,sekarang abang berdoa,dan tidur.Katanya besok mau berenang?”
“Iya,pi” katanya.
Lantas diapun berdoa. Doa ‘standard’ yang senantiasa mengantarkannya tidur. Minta perlindungan juga terhadap papi, mami dan adek. Juga minta supaya tidak ada gempa lagi. Serius! :-)

Begitulah, setelah berdoa diapun tidur menyusul adeknya yang sudah lebih dulu tidur. Papinya lanjut menonton teve.

Kemarin, sesuai janji aku mengajak dua jagoan sekadar window shopping ke Plasa Semanggi. Sebenarnya, menunaikan janji kepada Yeremia. Karena sebelumnya dia menagih untuk Sabtu berenang dan Minggu ke Plasa Semanggi. Alasannya, mau beli game untuk PSP Go yang dia punya. Sudah seminggu dia pengen main game pesawat. Mencari di internet tidak ketemu.

Begitulah, petualangan kami bertiga usai sekitar pukul 17.00 sore. Kamipun beranjak pulang. Dengan dua jagoan masing masing menenteng plastik belanjaan Centro. Berisi mainan masing-masing. Abang Yeremia dengan action figure, Ben-10 dan adek Gabriel dengan dua pesawat kecil Transformer.

Seperti biasa, AvanzaHitam tidak lupa memperdengarkan i-radio. Yeah, karena papinya mereka terlalu suka dengan musik Indonesia. Eh, gak terlalu persis begitu alasannya. Karena papi mereka tidak terlalu mengerti lagu berbahasa asing tepatnya.

Keluar tol Jatiwaringin, tibalah waktu Magrib. Radio segera berganti dengan musik dari flash disk. Dan pilihan pertama papi Yeremia, selalu musik Batak. Tentu saja dari Viky Sianipar. Memutar lagu dari album Tobatak yang sudah dikonversi bentuknya menjadi MP3.

Tanpa diduga, abang Yeremia turut menyenandungkan lagu Boan Ma Salendang. Lagu pertama yang diperdengarkan. Aku tahu, kalau Yeremia juga berusaha ikut melantunkan syairnya yang berbahasa Batak. Meski terdengar tidak pas dengan syair yang dinyanyikan, kedengaran kalau dia berusaha melagukannya. Iramanya dapat. Namun syairnya, belum. Bisa dimaafkan. Karena akupun belum terlalu hafal dengan syairnya, meski akupun turut melagukan bagian yang aku tahu syairnya.

Aku tak mau mengganggu dengan memberi komentar atas senandung anak buha bajuku itu. Aku biarkan dia melagukan sesukanya. Sambil di antara lagu, dia bertanya, “ini Viky Sianipar kan papi?”. Iya nak”, jawabku. Dia masih terus menyenandungkan lagu itu. Juga masih belum pas syairnya. Tentu saja, aku senang tidak kepalang.

Semakin senang lagi, semakin mendekati rumah, lagu berikutnya adalah “Dos Nangkokna, Dos Tuatna”. Sebuah lagu dengan beat yang tak kalah menghentak dengan lagu pertama. Sebagaimana biasa kalau mendengarkan lagu itu sendirian dalam perjalanan pulang pergi kantor rumah, aku bergoyang. Yeah, sambil tetap menyetir dengan hati-hati tentu saja. Abang Yeremia tak mau ketinggalan. Di belakang, adek Gabriel pun aku ajak untuk ikut menggerakkan tangan seperti layaknya manortor. Tanpa aku duga, adek Gabriel mengikuti gerakan tanganku. Seperti manortor. Semakin senang tidak kepalang rasanya. Dua Tambunan kecil itu, suka dengan musik tradisional leluhurnya yang digarap dengan serius.

Aku cuma bisa berharap, sampai nanti mereka dewasa, mereka suka dengan budaya leluhur mereka. Tanpa ada unsur paksaan dari orang lain, apalagi aku sebagai orang tuanya.

Mungkin salah kalau aku bilang bahwa wajar bila memiliki dua anak laki, akan disibukkan dengan pertengkaran mereka. Tapi ini bukan bercerita soal salah benar. Namun soal bagaimana berkomunikasi dengan anak.

Ceritanya soal dua junior. Yeremia dan Gabriel. Cerita biasa. Bagaimana sulung diganggu si bungsu, serta bagaimana si bungsu tidak mau kalah terhadap si sulung. Kalau tidak berhati hati menyikapinya, bisa mempengaruhi sikap mereka berdua terhadap orangtuanya. Entah benar atau tidak, itulah pandanganku.

Bermula dari pesan singkat yang dikirim Yeremia [Y] : “Papi hukum si gabriel nakal pas abang main mobilan abang sudah cape”

Dengan pemilihan kata yang sangat hati hati aku balas pesan singkat itu [P] : “Nak.abang bisa bilang pelan pelan ke adek. Abang abang itu,harus bisa atur adeknya.gak boleh langsung dihukum”

[Y] : Iya abang tau tapi nakal.

[P] : Nanti papi bicara sama adek.kalau adek tidak mau diganggu abang,adek juga gak boleh ganggu abang kalau sedang bermain

[Y] : Papi gabriel tadi ganggu

Kalau sudah begini, aku selalu ingat bahwa sebagai orangtua tidak ada kata berhenti dalam belajar menghadapi mereka berdua yang sudah dipercayakan oleh sang pemberi hidup kepada kami.

Mas Ibas akan menikah dengan mbak Aliya. Sebenarnya sebuah peristiwa biasa. Bukankah selayaknya lelaki dewasa,seumuran dia sudah pantas menikah? Jodohnya sudah ada. Ya,mbak Aliya itu. Namun pikiran isengku sedang menganalisa ini menjadi, peristiwa biasa yang bisa berakibat luar biasa. Dasar analisanya adalah konsep Dalihan Na Tolu (DNT) yang sedikit aku pahami.

Terus terang, aku tidak terlalu tahu apakah pak Beye sudah resmi diangkat menjadi warga DNT sewaktu diberi marga ketika mengunjungi proyek pak Tebe kemarin. Jadi analisa ini berangkat dari asumsi bahwa pak Beye sudah merupakan warga DNT yang taat pada hukum DNT. Kalau bahasa Bataknya,”Ruhut Dalihan Na Tolu” (ah…jadi ingat abang satu itu :-p)

Ada tiga hal yang menjadi dasar hukum DNT yang dirangkai menjadi satu kalimat. Somba marhula hula,manat mardongan tubu,elek marboru. Hula hula,Dongan Tubu dan Boru adalah tiga (tolu) unsur dari DNT.

Supaya lebih mudah memahami, salah satu (atau dua) pengertian hula hula adalah keluarga dari istri kita, atau keluarga dari ibu kita. Dongan tubu adalah mereka yang semarga dengan kita, atau serumpun marga dengan kita. Sekadar memberi contoh, untukku Sianipar adalah hula hula, karena aku memperistri wanita bermarga Sianipar. Siahaan juga kusebut hula hula, karena ibuku bermarga Siahaan.

Selanjutnya, masih pada posisiku, semua yang bermarga Tambunan adalah dongan tubuku. Mereka yang bermarga Silalahi, Sihaloho, Sinurat atau Tambun (ingat,bukan Tambunan) juga dongan tubuku. Karena jika ditarik beberapa generasi keatas, kami masih merupakan satu rumpun marga yang disebut Silahisabungan. Unsur ketiga dari DNT, adalah boru. Gampangnya, boru itu kebalikan dari hula hula. Sianipar dan Siahaan akan menganggap aku borunya. Atau agak sedikit rumit, suami dari saudara perempuanku, dalam hal ini marga Sidabutar, merupakan boruku. Sidabutar ini menyapa aku dengan sebutan hula hula.

Sedikit njelimet? Mudah mudahan enggak. Karena aku sudah berusaha menerangkan dengan bahasa yang paling gampang. Tidak rumit jika sudah membuka hati dan menjalaninya ;-)

Elek marboru berarti, sikap ngemong pada boru kita. Manat mardongan tubu kurang lebih berarti bersikap hati hati kepada teman semarga. Sementara somba marhula hula berarti, menaruh hormat pada hula hula. Yang terakhir dikarenakan, posisi sebagai hula hula merupakan ‘posisi tertinggi’ dalam konsep DNT. Namun bukan berarti harga mati. Artinya, Sianipar atau Siahaan tidak serta merta dan selalu berada dalam posisi tertinggi. Benar kalau melihatnya dari sisi aku. Namun kalau melihat dari sisi Sianipar atau Siahaan, selalu ada saat dimana kedua marga hula hulaku ini, berada pada posisi Dongan Tubu atau bahkan Boru (posisi ‘terendah’).

Demikian juga denganku. Bila di keluarga Sianipar atau Siahaan, aku di posisi boru, jika dibandingkan dengan Sidabutar misalnya, aku berada pada posisi ‘tertinggi’ karena aku hula hula dari Sidabutar. Demikian seterusnya. Tentu tidak segampang itu analoginya. Ada ikatan kekerabatan lain yang menyebabkan seseorang berada pada posisi hula hula, dongan tubu, maupun boru.

Kembali pada ‘peristiwa biasa’ di atas, dihubungkan dengan konsep DNT, bila pernikahan itu kelak terlaksana, maka posisi mas Ibas (juga papanya,pak Beye itu) akan menjadi boru di keluarga pak Rajasa. Sementara posisi pak Rajasa akan menjadi hula hula di keluarga pak Beye. Mirip dengan posisi pak Pohan di keluarga pak Beye. Pak Pohan sebagai hula hulanya. Karena mas Agus menikahi puteri pak Pohan, mbak Anissa yang cantik itu ;-) .

Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kelak pernikahan ini berlangsung, keluarga pak Beye pasti senantiasa menaruh hormat pada pak Rajasa. Bisa jadi, pak Beye akan selalu menyokong kegiatan pak Rajasa. Lihatlah perbedaannya. Dalam pemerintahan, pak Rajasa adalah pembantu pak Beye. Kalau mengambil analogi DNT, dalam struktur kabinet, pak Rajasa adalah boru pak Beye. Sementara pak Beye adalah hula hula dari pak Rajasa.

Hal itu terbalik bila dilihat pada tatanan berkeluarga dalam konsep DNT. Pak Beye menjadi boru, pak Rajasa menjadi hula hula. Apakah bila sudah tak menjabat kelak, pak Beye sebagai boru akan tetap menyokong pak Rajasa, sebagaimana yang digunjingkan selama ini? Biarlah pak Beye,pak Rajasa atau mas Ibas yang menjawab.

Akhirnya Yeremia bisa mengendarai sepeda roda dua. Sebagai seorang Bapak ada kegembiraan sendiri buatku. Aku lupa umur berapa aku dulu bisa mengendarai sepeda roda dua. Yang pasti, kelas tiga Sekolah Dasar, aku mendapat sepeda sebagai hadiah kenaikan kelas.

Tak ada niat untuk membandingkan kalau aku teringat akan diriku dulu. Hanya sempat ada kekhawatiran di dalam diri saat teman sebaya Yeremia sudah bisa mengendarai sepeda roda dua, manakala dia masih mengendarai sepeda dengan empat roda [dua roda tambahan sebgai penyeimbang]. Kekhawatiran itu muncul ketika melihatnya bermain dengan teman sebayanya yang kebetulan tetangga. Khawatir dia menjadi minder karena hanya dia yang belum mengendarai sepeda roda dua. Sementara teman yang lain sudah mengayuh sepeda roda duanya bahkan sudah ngebut.

Sebelum akhirnya Yeremia bisa mengendarai sepeda beroda dua, beberapa kali terlihat adanya ketakutan pada dirinya saat melatihnya mengendarai sepeda roda dua. Namun entah kenapa, sejak jumat kemarin Yeremia sudah minta agar roda tambahan di sepedanya dilepas. Alasannya kakinya sudah menapak tanah kalau naik sepedanya itu. Keinginan yang baru dapat kami realisasikan pada hari Minggu sore. Dengan riang dia menemaniku pergi ke bengkel dekat rumah untuk membuka roda tambahan itu. Bahkan segera setelah roda tambahan dibuka, dia sudah mengemukakan keinginannya untuk mengendarai sepeda itu ke rumah. Namun mengingat jalanan yang masih ramai dan sadar akan belum mampunya dia mengendarai sepeda roda dua.

Setibanya di rumah, latihan lagsung kami laksanakan. Disaksikan oleh mami dan adek Gabrielnya, beberapa kali Yeremia kelihatan masih takut meski papinya memegang di belakang. Namun perlahan kepercayaan dirinya muncul. Beberapa kali juga, pegangan dilepas sehingga dia bisa mengendarai sepeda itu sendiri. Saat sedang berlatih sepeda itu, muncul seorang teman yang mengajaknya bermain. Dengan alasan sudah capek berlatih, sepeda disimpan dulu dan dia bermain dengan temannya. Namun beberapa saat kemudian dia masuk ke rumah dan mengambil helm bersepeda milik tulangnya yang kebetulan ada di rumah. Katanya, akan bersepeda di lapangan bersama teman-temannya.

Agak sore sedikit, terdengar gerbang dibuka. Sepeda dimasukkan kembali. Sambil berteriak girang dia bilang kalau sekarang sudah bisa bersepeda. Katanya, dia sudah bisa beberapa kali berputar di lapangan tanpa bantuan siapapun. Senang sekali rasanya mendengar dia mengungkapkan rasa senangnya. Bahkan dia bilang, “Terima kasih,papi sudah mengajari Yeremia bersepeda!. Papi hebat, bisa ngajarin Yeremia naik sepeda”. Aku cuma bilang, “Yeremia yang hebat nak. Karena Yeremia berani mencoba. Yeremia tidak takut jatuh”.

Kegembiraan itu masih beberapa kali diungkapkan olehnya. Saat sedang duduk menonton televisi. Saat sedang menunggu martabak pesanannya matang. Sepertinya memang ada rasa bangga dalam dirinya. Kegembiraan yang sama tentunya kami rasakan sebagai orangtuanya. Manakala dia merasakan sebuah pencapaian yang menurutnya sebuah yang luar biasa.

Apa yang aku pelajari sebagai orangtua dalam kasus kemarin adalah, masing-masing anak pasti memiliki keistimewaan sendiri. Tidak semua anak meski berusia sebaya lantas memiliki kemampuan yang sama. Bukan hanya dalam hal bersepeda seperti Yeremia. Juga dalam kemampuan lain. Ah..sekarang aku membayangkan senyum bangga Yeremia, ketika dia berkata,”Yeremia senang naik sepeda roda dua,pi

Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang.

Entah kenapa, aku langsung klop saat ‘bertemu’ dengan sepenggal kalimat Gibran itu ketika mesin pencari Google menunjukkannya padaku. Saat aku mencari kalimat bijak soal memahami.

Dipenghujung hari ini, aku merasa harusnya dunia akan aman bila banyak orang yang bisa benar-benar mengerti dan menjalankannya. Bukan sedang sok bijak, tapi aku yakin, pekerjaan memahami tidak sesederhana susunan kata-katanya yang hanya terdiri dari 5 (lima) huruf.

Mungkin semua kita ingin menjalankannya. Namun kadang, ego mengalahkan niat untuk memahami. Saat kita merasa kepentingan pribadi kita akan terganggu oleh perbuatan orang lain, entah itu langsung atau tidak langsung terhadap kita, secara spontan niat untuk memahami seakan lenyap tak berbekas. Ujung-ujungnya sebuah sikap perlawanan yang kita kedepankan. Kalau sudah begini, gesekan dalam hubungan tak mungkin dihindarkan.

Saat mulai menulis ini, aku juga teringat satu kata yang mirip. Empati. Mungkin pilihan bahasanya terlalu ‘tinggi’ dan sulit dipahami. Namun, sejatinya empati berarti perasaan dimana kita ikut merasakan dan memahami orang lain. Atau gampangnya, empati berarti menempatkan diri seolah-olah orang lain.

Aku pikir, kurang lebih seperti ini. Jangan perbuat kepada orang apa yang kamu tidak ingin diperbuat orang kepadamu. Kalau dirimu tidak mau ditampar orang, maka jangan pernah menampar orang. Itu kalau kalimat negatifnya. Mungkin kalau kalimat positifnya menjadi, perbuatlah kepada orang lain, apa yang kamu ingin diperbuat orang lain kepada kamu.

Kalau dirimu ingin dicintai orang lain, maka mulailah mencintai orang lain. Atau kalau ‘kembali’ kepada kutipan diatas, mulailah mencintai diri sendiri dulu. Setelah itu, belajarlah mencintai orang lain. Bila keduanya bisa berjalan dengan baik, percayalah pada satu hal. Akan banyak cinta yang mengalir kepadamu.

Manusia adalah makhluk sosial. Itu yang aku tau dan pelajari sejak jaman masih sekolah dasar dulu. Artinya, manusia membutuhkan orang lain dalam kesehariannya. Manusia yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain adalah suatu hal yang jarang terjadi. Mungkin ada satu dua. Tapi seringkali, hal itu disebabkan kecelakaan. Bukan karena kehendaknya sendiri.

Soal ini terpikir olehku, saat Minggu sore mendapat undangan dari ketua Rukun Tetangga dimana aku tinggal. Undangan untuk membicarakan, perilaku seorang warga yang [menurut tetangga sekitarnya] sudah memperlihatkan sikap permusuhan dengan tetangga.

Sang warga, seorang janda [sebut saja Tante Ve] beranak dua lelaki sudah menjadi penduduk di kompeks kami jauh sebelum kami bermukim disitu. Sebenarnya, buat kami [aku dan istri] keanehan sudah terbaca saat pertama sekali kami menjadi penduduk di kompleks yang sekarang kami tinggali. Sebagai penghuni baru, sudah sewajarnya kami memperkenalkan diri kepada warga sekitar. Pada saat mengunjungi rumah Tante Ve, kami merasa aneh dengan penerimaan Tante Ve dan suaminya [saat itu belum almarhum] pada kami. Mereka hanya menjawab sapaan perkenalan kami di teras rumahnya tanpa berusaha mendekat apalagi membuka gerbang di hadapan kami yang berjarak kurang lebih empat meter.

Bukan. Sama sekali kami tidak bermaksud untuk minta dijamu atau dihormati layaknya tamu agung. Namun adalah aneh [menurut kami] saat orang bertamu kerumah kita dengan niat baik, kita terima dengan kesan pertama yang [buat kami] arogan. Tak apalah kami pikir. Karena mungkin kedatangan kami sudah malam saat mereka harusnya istirahat.

Namun keanehan yang kami rasakan, seperti mendapat pembenaran saat beberapa tahun kemudian, suami Tante Ve meninggal dunia. Dari cerita dengan warga, kami ketahui bahwa memang ada kejanggalan dalam hubungan keluarga Tante Ve dengan lingkungan sekitarnya. Meski demikian, tetangga kiri dan kanan yang rumahnya paling dekat dengan Tante Ve, dengan ringan tangan memberi bantuan.

Setelah kejadian itu, Tante Ve seperti berubah. Beberapa kali, dalam kegiatan RT, Tante Ve turut serta dan bersosialisasi dengan warga sekitar. Apalagi setelah ditinggal suaminya, Tante Ve mendapat gangguan dari keluarga almarhum suaminya. Meski sebelumnya, seperti cerita yang kami dengar, keluarga Tante Ve tidak terlalu dekat dengan warga sekitar, secara serempak, warga sekitar melindungi Tante Ve. Saat itu, kami kira keadaan sudah normal kembali. Tante Ve yang semula tertutup dengan warga sekitar, seperti mulai membuka diri. Termasuk ikut serta dalam arisan ibu-ibu yang diadakan sekali sebulan.

Namun, semakin kesini, perilaku Tante Ve seperti kembali kesedia kala. Dalam keseharian-menurut cerita warga- ada saja ulahnya yang menyakiti perasaan tetangganya. Mulai ngebut dengan mobilnya di jalanan kompleks yang hanya beberapa ratus meter dan kadang dibuat tempat anak anak bermain, bersuara keras dan melontarkan umpatan yang tidak sepantasnya, manakala bertengkar dengan anak lelakinya yang beranjak remaja, hingga menegur siapa saja yang mencoba memanfaatkan jalan [yang nota bene jalan kompleks] di depan rumahnya untuk kepentingan apapun.

Secara langsung, memang kami tidak pernah bersentuhan dengan Tante Ve sehingga tidak pernah memiliki ‘masalah’. Hanya sekali dua saat ‘city car’ nya akan melintas saat mobil kami menunggu pintu gerbang dibuka, beliau membunyikan klakson seolah tak sabar menunggu untuk lewat. Padahal badan jalan yang tersisa, masih cukup untuk dilalui ‘city car’nya.

Dalam pertemuan, Minggu malam, berdasar cerita tetangga yang rerata sudah sepuh [mayoritas tetanggaku adalah pensiunan], hal hal seperti urusan mobil ini sudah sampai taraf mengesalkan. Bahkan menurut orang-orang tua itu, sikap Tante Ve seperti membuka permusuhan. Untuk itulah pertemuan diadakan. Warga dengan difasilitasi ketua RT, ingin memperbaiki jalinan silaturahmi dengan Tante Ve. Tante Ve diundang, warga satu RT, utamanya yang tinggal di satu jalan juga diundang. Tujuannya hanya satu. Saling memperbaiki apabila satu sama lain ada kesalahan.

Namun apa daya. Tante Ve tak bisa hadir dalam pertemuan. Akhhirnya warga sepakat untuk mengirim saja hasil pertemuan secara tertulis kepada Tante Ve. Bahkan, kesannya seperti mengancam Tante Ve. Karena warga yang [sekali lagi] sudah sepuh itu sepertinya sudah dipuncak kemarahan.

Malam ini, aku menerima surat yang dilayangkan warga. Entah bagaimana Tante Ve menyikapi surat warga tersebut. Apakah akan tetap pada pendiriannya, atau menyadari kekeliruannya selama ini.

Dia cuma ibu rumah tangga biasa yang curhat kepada beberapa teman. Kehebatan media komunikasi yang membuat curhatnya diketahui banyak orang. Bukan karena kehebatan seorang ibu yang bersedia melakukan apa saja untuk untuk putrinya.Sebab dia bukan selebriti [meski sebenarnya penempelan sebutan ini kepada seseorang semakin rancu] sehingga tidak ada infotainment yang meliput persoalannya.

Dia juga tidak sedang berseteru dengan musuh lama ‘seluruh’ rakyat Indonesia. Sehingga tidak banyak ibu-ibu yang penasaran dan merasa wajib tahu kelanjutan kisahnya. Mungkin pula tidak ada yang merasa perlu menjabat tangannya saat bertemu di Bandara, apalagi merasa penting untuk diajak foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Meski tidak kenal langsung siapa dia, aku yakin suaminya bukanlah bangsawan apalagi seorang pangeran. Juga, dimasa lalu pasti tidak pernah pacaran dengan putra orang kaya atau pejabat negara. Sehingga tidak perlulah dia berpikir untuk mengganti seorang pejabat negara setingkat duta besar misalnya. Entah kalau dia pernah berpikir untuk curhat kepada Presiden atau Wakil Presiden. Yang pasti, hingga saat ini belum ada komentar Presiden Republik Indonesia [atau calon presiden] terhadap apa yang dihadapinya.

Sekarang, badannya yang tidak pernah disuntik hormon atau disilet oleh suaminya itu, harus terpisah dari dua balita yang salah satunya [konon] bahkan masih memerlukan ASI. Tapi, tetap saja tidak banyak orang yang tau tentang dia. Tidak sebanyak anak kemarin sore itu……

tulisan kecil untuk simpati kepada Ibu Prita

From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama anak-anak, lansia dan bayi.

Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.

Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.

Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.

Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.

Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.

Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing, benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.

Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam,

Prita Mulyasari

From picture2blog

Bayangkan hal ini.

Seorang perempuan bekerja, yang sedang hamil 35 (tiga puluh lima) minggu, bersiap untuk cuti melahirkan. Dokter Panjaitan, sudah memberi kabar bahwa, dalam hitungan hari kelahiran akan dijelang. Mestinya, Jumat siang ini adalah jadwal terakhir untuk menentukan usia kandungan. Berapa persisnya usia kandungan serta bagaimana kesiapan sang ibu dalam menyambut kelahiran yang direncanakan melaluicara sectio (caesar).

Mendadak sebelum makan siang, bos mengajak meeting setelah makan siang. Janji dengan dokter ditunda, beres beres pekerjaan dikebut. Demi menjaga agar selama cuti tiga bulan, tidak ada pekerjaan yang sedang berjalan, menjadi terkendala. Meeting pada hari terakhir bekerja mustinya membicarakan perihal penting. Semua seolah berkejaran dengan waktu, emosi dan tenaga (mondar mandir dengan perut besar?).

Meeting dilaksanakan setelah makan siang. Agendanya ternyata hanya satu. Penandatanganan surat pengunduran diri!. Bos sudah menyiapkan. Tinggal ditandatangan. Alasannya hanya satu. Kami melakukan semua ini sebisa mungkin dengan mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Ibu hamil kaget. Usaha mendebat tidak berguna. Karena si bos telah menitahkan bahwa si ibu tak bisa keluar ruangan meeting tanpa terlebih dahulu menandatangani surat pengunduran diri.

Bersama surat pengunduran diri, si bos menyiapkan surat pernyataan bersedia menerima kompensasi sejumlah uang. Meski demikian, si ibu melihat apa yang terjadi sebenarnya lebih mahal dari nilai kompensasi yang bakal diterima.

Pertama, perlakuan manajemen yang tidak konsisten. Surat permohonan cuti telah disetujui jauh hari. Kedua, pemutusan hubungan kerja kepada perempuan yang sedang hamil, melahirkan atau menyusui, dilarang oleh Undang Undang Ketenagakerjaan. Apabila dilakukan, hal tersebut batal demi hukum dan perempuan yang diputuskan hubungan kerjanya dalam kondisi demikian, wajib dipekerjakan kembali. Ketiga yang paling fatal adalah, melakukan intimidasi kepada perempuan yang sedang hamil besar, bukanlah perbuatan manusia.

Kira-kira begitulah kejadiannya, tanggal enam Februari lalu. Dialami oleh istriku, tepatnya. Mendapat berita seperti itu melalui telepon, aku merasa ditampar. Perlakuan serupa itu, belum pernah aku alami. Perlakuan semena-mena pemberi kerja kepada pekerja, beberapa kali aku baca dan temui. Sedikit banyak aku memahami peraturannya. Karena kebetulan pernah diberi amanah menjadi pengurus Serikat Pekerja.

Ingin melawan, saran beberapa teman membuatku sadar. Bahwa saat ini kami sedang dihadapkan pada dilema. Langkah apapun yang akan diampil, harus berhitung dengan keadaan istri yang sedang hamil tua. Mengganggu emosinya sedikit, bisa berakibat fatal. Istilah mengiang dikepala. Satu keadaan yang bisa membahayakan keadaan istri dan anak dikandungan.

Hari Sabtu, kami sepakat melawan. Semata ingin memberi pelajaran. Agar kelak, tidak ada lagi perbuatan tidak menyenangkan yang dialami oleh orang lain oleh si bos dan perusahaan itu. Beberapa teman kami mintai pendapat. Semua mendukung agar melawan. Termasuk keluarga besar. Namun kami sepakat agar perlawanan dilakukan setelah melahirkan. Agar emosi istri sedikit terkendali. Untuk itu kami sepakat untuk mendiamkan.

Namun ternyata tidak berjalan dengan baik. Gangguan datang dari perusahaan. Pertanyaan, kapan fasilitas kantor akan dikembalikan? adalah pemicunya. Reaksi yang seharusnya timbul dari aksi mereka, memberikan kompensasi yang telah disepakati. Terus seperti itu. Hingga akhirnya kami tidak tahan lagi.

Dengan mempertimbangkan ketentuan yang telah diatur oleh pemerintah, akhirnya kami mengirimkan surat elektronik kepada perusahaan. Kami mengajukan apa yang telah diatur. Yang ternyata belum sesuai dengan keinginan dari perusahaan. Beberapa hari tarik ulur soal itu. Si bos dan antek-anteknya sempat memberi gertakan akan menyerahkan urusan ini kepada pengacara. Kami tak kalah gertak. Kami juga bisa siapkan pengacara. Emosi serasa disulut oleh sikap pongah yang ditunjukkan oleh anak buah si bos. Termasuk ketika kepadanya aku katakan, silahkan mempersiapkan diri kalau satu saat akan dipanggil polisi oleh pengaduan perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukannya terhadap istri.

Entah karena takut, akhirnya mereka bersedia memberi apa yang kami tuntut. Istri datang ke kantor mereka dengan ditemani adik ipar yang dari perawakannya kelihatan sangar. Dan pemilik perusahaan, si bos dan anak buah yang menggertak tadi tidak terlihat. Urusan diselesaikan dengan sekretaris.

Begitulah akhirnya penyelesaiannya. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang bisa kami tempuh dengan kondisi seperti sekarang ini. Mungkin tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, perlawanan yang kami berikan. Namun ada hal yang perlu kami pertimbangkan. Yang pasti kami menarik pelajaran berharga dari kejadian ini. Bahwa manusia bisa menjadi bukan manusia bila memiliki kuasa dan uang. Bahwa bukan hanya teman-teman bang Napi yang bisa menjadi pembunuh. Mereka yang setiap hari rapi dan bekerja di depan komputer pun berpeluang menjadi pembunuh.

Cerita tangan pertama : ada disini

Aku pernah kagum pada seorang di jaringan pertemananku yang kebetulan selebrita. Dia yang akan aku sebut saja sahabat selebrita, seorang penyanyi,penggubah lagu dan seorang penulis. Aku kagum padanya karena disaat dia sedang menghadapi masalah, posisi yang dipilihnya untuk mensikapi permasalahan tersebut berbeda dari orang lain yang kebetulan memiliki posisi seperti dia.

Selebrita lain, mungkin akan mengadakan konfrensi pers. Mengundang wartawan dan menjelaskan duduk persoalan [minimal versi dia]. Atau paling tidak, rekaman komentarnya dalam beberapa angel kamera berbeda, akan diulang sejak pagi hingga hampir pagi lagi, dalam beberapa hari dalam ragam infotainment. Yeah, bisa terjadi seperti itu karena terkadang dari satu rumah produksi, muncul infotaiment yang hanya dibedakan nama serta pembawa acaranya. Isinya ya itu-itu juga.

Untuk kasus serupa sahabat selebrita, yang kebetulan mengenai perpisahan dengan pasangannya, pertanyaan yang biasanya beredar adalah penyebab perpisahan. Apakah ada orang ketiga, apakah karena soal prinsip, atau sebab-sebab lain. Jawaban yang diberi biasanya juga bermacam-macam, tidak ada orang ketiga, perpisahan ini karena perbedaan prinsip, atau semacam, kami sedang mencari cara untuk saling memikirkan lagi arah hubungan ini…dan sebagainya.

Namun apa yang terjadi kepada sahabat selebrita, sedikit berbeda. Dia tidak seperti selebrita kebanyakan. Satu dua kali adalah wajar memberi jawaban kepada pemburu info. Karena mungkin dia memang harus mengklarifikasi apa yang terjadi padanya, agar orang tau hal yang sebenarnya [versi dia tentu saja]. Apa boleh buat, itu adalah konsekuensi dari posisi dia yang kebetulan selebrita. Dia merasa cukup dengan itu. Selebihnya dia diam. Aku sepakat dengan posisi yang diambilnya. Karena, menurutku, memang hanya itu yang bisa disampaikannya. Meski dia seorang selebrita, dia juga berhak atas privasi yang merupakan hak asasi setiap manusia, termasuk selebrita seperti dia.

Sikap diamnya sudah pasti membuat pemburu infomenjadi semakin ‘bernafsu’. Atas nama rating dan keingintahuan pemirsa, para pemburu info mengejar beragam informasi mengenainya, dengan berbagai cara. Hingga ada informasi yang menurut sahabat selebrita kurang tepat, namun terlanjung tayang di media. Hal ini, akhirnya mengusik sahabat selebrita.

Mungkin meminjam prinsip cover both story milik media, sahabat selebrita memberi jawaban atas apa yang terlanjur berkembang. Uniknya, jawaban yang diberikan, tidak melalui media yang sama dengan yang memuat informasi kurang tepat tadi. Sahabat selebrita memilih untuk memanfaatkan media baru. Blog. Media yang oleh seorang pakar dianggap hanya trend sesaat. Melalui media itu, sahabat selebrita meluruskan dan menjelaskan secara tuntas. Aku menangkap kesan, ada kemarahan disana. Pilihan bagus yang diambilnya. Meski memang, tidak semua penyaksi infotaiment yang sebelumnya mendapat informasi salah, mendapatkan informasi ‘benar’ tersebut. Lantaran akses media baru tersebut belum ‘sebebas’ televisi, tempat dimana infotainment tersebut ditayangkan, yang lebih bebas memasuki ruang-ruang rumah kita.

Hingga saat membaca blog sahabat selebrita itu, yang memberi ‘penjelasan gamblang’ atas apa yang terjadi, aku kagum padanya. Meski apa yang menjadi keputusannya, masih tabu dalam budaya yang mungkin sama-sama kami akrabi sejak kecil. Dengan latar belakang budaya yang sama itu pula, aku mencoba berempati kepadanya, dan sempat memberi semacam dukungan buatnya.

Namun, mendengar berita bahwa akhirnya dia memilih mengakhiri kesendiriannya, aku kecewa. Bukan saja karena akhirnya dia memilih seseorang yang menjadi ‘tersangka’ penyebab perpisahannya dengan pasangan sebelumnya. Juga karena menurutku, keputusan yang diambilnya terlalu cepat. Meski mungkin, bisa saja dia akan mengatakan bahwa ‘perpisahan’ dulu sudah terjadi sejak jauh hari.sebelum berita itu tayang di media.

Jika sebelumnya aku dan beberapa teman membayangkan ‘lagu jagoan’ dari ‘album tak biasa’ dia yang baru saja terbit, adalah semacam curhat dari sisi dia, sekarang aku merasa lagu itu lebih pas dibawakan oleh sang pasangan sebelumnya. Tapi entahlah, mungkin seperti katanya, malaikat yang tahu.

p.s. aku membutuhkan waktu cukup lama menulis postingan ini. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya, ketidakbisaanku melihat lebih dalam tentang apa yang sedang terjadi. Mungkin, bila sahabat selebritaku itu membaca postingan ini, ada beberapa hal yang tidak tepat. Namun budaya yang aku akrabi sejak kecil mengajarkan satu hal dalam sebuah pepatah, “siboru puas siboru bangkara, molo dung puas sae so ada mara” yang berarti kurang lebih, lebih baik bila uneg-uneg dinyatakan saja, daripada disimpan dalam hati. Karena setelah itu legalah perasaan, tiada lagi ada yang mengganjal.