Karena anak anak ditraktir mertua untuk jalan jalan ke manca negara, terpaksa mengurus paspor anak anak. Sesuatu yang tidak pernah terpikir buatku. Konon pulak mengurus paspor anak anak, mengurus paspor sendiri saja aku males jika tidak ada penugasan dari kantor.

Mengumpulkan dari sana sini, aku memperoleh informasi bahwa sekarang pengurusan paspor sudah lebih mudah. Mendaftar sudah bisa dilakukan daring (online). Aku pun mengunjungi laman web imigrasi. Ternyata laman pendaftaran tidak bisa diakses. Berdasarkan informasi, konon servernya disambar petir. HEH!?!? Beberapa minggu mencoba mengakses, perbaikan tak kunjung dilakukan. Akses masih belum bisa dilakukan. Akhirnya kuputuskan untuk mendaftar sendiri, di tempat.

Berdasarkan informasi juga, pendaftaran per hari dibatasi hanya beberapa nomor. Terbatas. Akupun menyiapkan anak anak untuk siap menghadapi situasi terburuk (JIAH!!). Gawai dibawa, baterai dan power bank terisi penuh. Jalan pagi hari dari rumah. Anak anak permisi tidak masuk sekolah. Pukul 07.00 pagi kami sudah mengantri. Di kantor imigrasi Jakarta Timur.

Entah karena laman web rusak atau karena travel fair baru berakhir, pendaftar membludak. Untuk mendapatkan nomor 185 dan 186, butuh waktu antri hampir dua jam! Selesai mengantri nomor, kami masuk ke ruang verifikasi dokumen. Tempatnya lumayan sejuk, namun tetap ramai. Kuperkirakan, ada 200an nomor yang mendaftar hari itu. Verifikasi dokumen berlangsung kurang lebih satu jam sejak masuk ruangan! Sekitar pukul 11.00 kami dipersilahkan naik ke lantai 2 untuk wawancara dan pengambilan foto. Dari informasi hasil tanya sana sini, aku memperoleh informasi, nomor yang sudah diproses masih hitungan puluhan. Dem!!

Di lantai dua antrian sudah ramai, meski semuanya duduk rapi dalam ruangan berpendingin udara, terbayang waktu yang kami butuhkan untuk melalui ini. Ada tujuh loket yang dibuka. Proses yang berlangsung membuatku menyesal kenapa tidak menggunakan calo saja. Meski harga yang ditawarkan lebih dari dua kali lipat tarif resmi yang hanya 655 ribu rupiah per satu paspor elektronik.

Setiap selesai mengurus satu pendaftar, petugas tidak langsung memanggil pendaftar berikutnya. Mereka ngobrol sesamanya, bercanda sekadarnya mungkin. Sesekali terlihat memeriksa telepon genggam. Mungkin memeriksa pesan masuk kemudian membalasnya. Manusiawi mungkin. Entahlah. Namun aku yang melihat (mungkin yang lain juga) sebel dibuatnya. Antrian semakin banyak padahal. Mereka yang selesai verifikasi dokumen beranjak naik ke atas.

Waktu makan siang tiba. Beberapa petugas bergesas meninggalkan loketnya. Hanya tersisa tiga loket yang melayani. Kelakuan hampir sama. Aku ragu. Aku bingung. Anak anak pasti lapar. Sementara petugas masih melayani dengan santainya. Aku tidak berharap petugas bekerja cepat tanpa berhati hati. Karena ini menyangkut dokumen negara. Minimal mereka tidak bercanda atau tidak berlama lama dengan telepon genggamnya.

Karena khawatir nomer terlewat plus agar anak anak adem dan biasa dengan suasana antrian, akhirnya aku memesan makanan melalui ojek daring. Aku turun ke bawah sebentar untuk mengambil pesanan makanan. Kami makan di area kosong di sebelah belakang ruang wawancara. Setelahnya menunggu lagi. Beruntung kedua pengaju paspor tidak terlalu mengeluh. Terima kasih kepada teknologi dan permintaan mereka agar segera dibuatkan paspor. Karena kedua hal tersebutlah yang bisa membuat mereka bersabar.

Selesai makan, kami masih menunggu. Aku yang mendampingi sudah dihinggapinrasa bosan dan kesal sejak tadi. Penantian aku isi dengan beberapa kali mondar mandir. Sesekali turun ke bawah meninggalkan anak anak di atas. Penyesalan mengapa tidak menggunakan calo beberapa kali muncul. Rasanya memberi uang sejuta untuk satu paspor, pantas saja jika melihat kondisi ini. Belum lagi mengingat urusan kantor yang aku tinggalin karena awalnya berpikir pengurusan ini bisa selesai dalam setengah hari.

Sekitar pukul 17.00 akhirnya keduanya selesai difoto. Karena paspor elektronik, petugas bilang bahwa paspor akan selesai dalam sebulan. APA?!?!?! Lega bercampur kesal atau sebaliknya. Aku menerima bukti pendaftaran dan nomor rekening untuk membayar biaya pengurusan. Tertulis catatan dalam pengambilan paspor. Bahwa pembayaran dilakukan paling lambat dalam 7 hari kerja. Pengambilan paspor 3 hari kerja setelah melakukan pembayaran. Apabila pemohon tidak datang kembali dalam 30 hari sejak tanggal permohonan, permohonan dinyatakan batal!. “Yeah, right” batinku mengingat waktu sebulan yang dijanjikan petugas foto.

Ketika pulang dan menunggu kendaraan, Gabriel hanya berucap, “we’ve been ten hours, here”. “Katanya mau dibikinin paspor…” jawabku. Dalam hati aku membatin, GILAK!!!!

Aku sempat mencatat nomor pengaduan yang dipampang pada dinding kantor imigrasi. Aku mengirim pesan untuk minta perhatian. Sampai kami kembali dari kantor imigrasi, pesanku (whatsapp) tidak dibaca!! Baru dibalas beberapa hari kemudian. GILAK!!!! (2). Ke mana yang namanya revolusi mental. Di mana yang disebut siap melayani? Satu hari terbuang percuma?!?!?

Hari ini aku kembali lagi ke kantor imigrasi. Karena sebagaimana janji, sebulan paspor akan selesai. Sambil berharap semua dimudahkan. Karena berdasarkan catatan pada lembar pembayaran, sudah lebih dari 30 hari sebenarnya. Karena tiba sudah pukul 11.00, tidak perlu mengantri mengambil nomor antrian. Karena loket pengambilan dibuka mulai pukul 10.00. Aku mendapat nomor 138 dan 139. Masih lebih pendek dari nomor antrian pembuatan. Lama menunggu, pukul 12.00 petugas mengumumkan waktu makan siang dan shalat telah tiba. Kami yang menunggu di dalam ruangan diminta kembali pada pukul 13.00, ketika nomor antrian sudah mencapai 130. Aku mencoba bertanya, apa tidak ada satu petugas yang bisa melayani? Sebagaimana loket foto di atas yang pelayanannya tidak berhenti sama sekali meski waktu makan siang tiba. Tidak ada kata petugas. Naseeb. 😔😔😔

Pukul 13.00 persis aku sudah kembali ke ruangan pengambilan. Melewatkan makan siang yang memikirkannya pun aku sudah tak selera. Selain karena leletnya pelayanan, juga karena rasanya masih kenyang sehabis makan sate dan empal gentong sisa acara seremoni tadi pagi.

Dan ketika petugas mulai memanggil kembali, dimulai dari 140!! HEH!?!? Beberapa pendaftar yang nomernya terlewati, berdiri serentak dan mendatangi petugas. untunglah petugas akhirnya menyadari kesalahannya.

Si Doel sedang meradang. Berdiskusi dengan Babe seolah percuma. Kini dia dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan cita citanya untuk menjadi “Tukang Insinyur” atau meneruskan tradisi keluarga. Menarik Opelet.

Manjadi insinyur sudah merupakan cita citanya sejak lama. Kuliah (baca : perjalanan) yang dilalui sudah hampir tiba di ujung jalan. Tinggal menyelesaikan tugas akhir. Namun sepertinya Babe tidak sabar. Mungkin karena ketidaktahuan Babe akan proses yang harus dilalui atau karena Babe sudah tua, sehingga tidak memiliki tenaga untuk tetap meneruskan pekerjaan sebagai supir opelet. Meski sudah tua, opelet tidak boleh dibiarkan menganggur. Dapur harus ngebul. Memang ada warung enyak yang bisa menopang. Mungkin ada salon Atun yang bisa membantu. Tapi Babe sepertinya tidak mau tahu. Doel disuruh memilih. Kisah akhirnya (mungkin) happy ending. Doel akhirnya menyelesaikan sekolahnya. Menjadi Tukang Insinyur. Kuliah diselesaikan sambil sesekali menarik opelet bersama pamannya Mandra. Meski setelahnya persoalan lain muncul. Ternyata bekal gelar insinyur tidak cukup untuk mencari kerja.

Teringat Gibran pernah berkata kurang lebih,

Anakmu bukanlah anakmu. Dia datang dari padamu, tetapi dia bukan milikmu. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Pertama kali membaca sajak itu, mau tidak mau aku mengamini. Berkaca pada pengalaman sendiri, aku pernah menjalani prosesnya. Tidak lulus Ujian Masuk Pergirian Tinggi Negeri (UMPTN), mau tidak mau pilihan adalah kuliah di perguruan tinggi swasta. Pilihan jurusan di UMPTN adalah pilihanku sendiri. Tanpa campur tangan orang tua. Semangat menggebu membuatku mendaftar di Institut Pertanian Bogor. Mungkin pilihan gegabah. Karena persaingan ternyata cukup tinggi. Tidak satupun dari tiga pilihan yang aku ambil aku lulus. Berbicara melalui sambungan interlokal (karena waktu itu orang tua bertugas di luar kota) dengan bapak, malam (menjelang subuh tepatnya) setelah pengumuman UMPTN, beliau menghibur. “Sudah, jangan terlalu bersedih” katanya. “Kau daftar di Universitas Nommensen. Ambil jurusan akuntansi. Agar nanti gampang mencari kerja”.

Nasihat dan ucapan yang menyemangati. Tidak lama larut dalam kesedihan, aku menuruti sarannya. Tapi hanya untuk mendaftar di Nommensen. Bukan jurusan sesuai saran beliau. Aku mengambil jurusan manajemen. Karena waktu itu aku merasa akuntansi ilmu banci. Bukan ilmu pasti sebagaimana jurusanku yang fisika di SMA, Juga bukan ilmu sosial. Aku mantap memilih manajemen. Yang lebih pasti non eksaktanya. Bapak tidak pernah mempersoalkan. Entah kalau dalam hatinya ada penyesalan kenapa aku tidak menuruti keinginannya. Dan inilah aku sekarang. Mungkin tidak menjalani sarannya waktu itu. Namun apa yang aku jalani saat ini, melampaui capaiannya dalam beberapa hal. Aku yakin seandainya beliau masih ada, beliau sudah tidak ingat lagi soal beda saran dan jalan yang aku pilih. Semoga dia bangga.

Bapak seorang demokrat. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada kami anaknya. Kepada kami, beliau hanya ulang satu janji. Sebagaimana janji orang tua Batak lain sebagaimana lagu “Anakkonki Do Hamoraon di Ahu”. Kepada kami anak anaknya beliau berjanji akan menyekolahkan kami setinggi kami mau. Beliau akan membiayai. Meski untuk dua adikku, janji itu diteruskan oleh Mama. Sebegitu demokratnya, beliau juga tidak mempermasalahkan ketika adik nomer dua memilih untuk berhenti kuliah pada tahun kedua. Beliau mencarikan pekerjaan buatnya. Adik ini juga yang turut serta ‘memberi sangu’ padaku ketika memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa. Karena saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri. Sikap demokratis yang [mungkin] paling tidak masuk akal buat orang tua lain adalah beliau menantang adik bungsu. “Kalau merokok membuatmu menjadi lebih berprestasi di sekolah, sebut merek rokokmu, aku yang akan membelikan buatmu” tantangnya ketika mengetahui adik bungsu telah berkenalan dengan rokok bahkan ketika masih sekolah menengah atas. Selintas seperti tindakan gila. Alih alih melarang, Bapak malah mendukung. Tapi itulah Bapak yang kami kenal.

Sepenggalan kisah si Doel, dan kisahku teringat kembali ketika pagi ini mendengar bahwa pak Beye akhirnya mendorong putra sulungnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sebagai orang luar aku merasa pilihan yang sangat disayangkan. Mas Agus bukanlah tentara sembarangan. Beliau lulusan terbaik dalam angkatannya. Beragam pendidikan telah dijalani, baik dalam kemiliteran atau akademis. Metro TV lewat acara Mata Najwa pernah menyematkan ‘Pemimpin Masa Depan’ kepadanya. Bersama Anis Baswedan [mantan Menteri Pendidikan] dan Denny Indrayana [mantan wakil Menteri Kehakiman]. Saat ini pangkatnya Mayor. Perwira Menengah tentara. Dalam beberapa kesempatan, aku membaca bahwa cita cita setiap prajurit adalah mencapai bintang empat. Jika dalam urusan kepangkatan, mungkin menjadi Kepala Staf Angkatan atau bahkan Panglima. Mas Agus meneruskan tradisi keluarga berkarir di militer. Siapa yang tidak kenal kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo yang berperan besar dalam penumpasan Gerakan 30 September. Meski tidak pernah menjadi menteri di Pemerintahan Orde Baru yang ikut dia bangun, Letjend Sarwo merupakan tokoh berpengaruh pada masanya. Putra Sarwo Edhie juga meniti karier militer. Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Bahkan pak Beye ayahnya, berpangkat Letjend [terakhir naik pangkat menjadi Jenderal setelah menjadi Presiden] dan mennjabat sebagai Kepala Staf Sosial Politik sebelum akhirnya terjun ke dunia politik dan menjadi Menteri Pertambangan dan Energi pada masa pemerintahan Presiden Abdul Rahman Wahid dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

Dengan tradisi dan ‘darah biru’ militer begitu, agak sulit memahami pilihan mas Agus. Dengan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah, beliau harus melupakan karir militernya yang [konon dipuji banyak pihak sebagai] cemerlang. Berpangkat Mayor, masih beberapa tahap lagi yang harus dilalui untuk menyamai pangkat Eyang, Ayah atau jabatan Pamannya. Dan sekarang impian itu harus dikubur. Semoga pilihan yang diambil sudah dipikir matang. Semoga pilihan yang diambil adalah pilihan sendiri. Semoga pilihan yang diambil membawa kebaikan buat mas Agus dan keluarga kecilnya. Juga buat keluarga besarnya. Dan yang pasti terbaik buat Negara Kesatuan Indonesia!

Sampai lulus Sekolah Menengah Pertama, harus kuakui aku bukanlah orang yang memiliki percaya diri tinggi. Entah karena sampai kelas tiga Sekolah Dasar aku bersekolah di ibukota kabupaten, untuk kemudian melanjutkan hingga lulus kuliah di ibukota Propinsi. Atau karena sebab lain.

Soal percaya diri atau malu untuk tampil (di depan orang banyak) berpengaruh pada nilai di raport. Ketika kelas satu sampai kelas tiga SD nilai kesenian di raportku selalu merah. Karena waktu itu penilaian hanya didasarkan pada penampilan bernyanyi di depan kelas. Barulah kelas empat sampai kelas enam ada pelajaran lain. Mengenal not angka maupun not balok. Ujian pun seputar itu. Bukan melulu soal kemampuan bernyanyi di depan kelas. Yeah. Beberapa diantara kalian yang mungkin mengenalku sekarang pasti tidak percaya soal ini ☺️

Ketika memasuki sekolah menengah pertama, bersama tiga orang teman (almarhum Mardut Pakpahan, Guluan Gultom dan Marsius Silaen) aku selalu kebagian duduk di kursi paling depan setiap tahun ajaran baru. Karena tinggi kami hampir sama. Diantara teman sekelas, kami berempat adalah orang yang kepalanya yang paling dekat dengan bumi ☺️. Mau mengambil tempat duduk di belakang sudah pasti bukan jatah kami. Karena pasti pandangan ke papan tulis akan terhalang oleh mereka yang lebih tinggi dari kami :-).

Namun jangan dikira rasa malu itu berlaku untuk semua hal. Sejak masuk SMP aku sudah terbiasa mendaftarkan diri sendiri ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Aku ingat waktu setelah lulus SD, kedua orang tuaku harus melakukan perjalanan ke luar kota. Menghadiri undangan kerabat di pulau Jawa. Mau tidak mau aku harus mendaftar sendiri ke SMP. Kebetulan memang masih satu yayasan dengan Sekolah Dasar. Sejak itulah aku melakukan pendaftaran sendiri. Ketika masuk SMA maupun masuk Perguruan Tinggi. Mulai urusan kelengkapan surat hingga soal bayar membayar aku lakukan sendiri. Mungkin faktor lain yang mendorongnya adalah, aku anak sulung. Terbiasa melakukan sendiri. Dan aku pikir harus menjadi contoh buat adik adikku.

Memasuki SMA aku belum seberani teman teman lain. Apalagi urusan perempuan. Katanya masa SMA adalah masa paling indah. Mungkin termasuk urusan cinta monyet. Suka pada lawan jenis. Meminjam istilah seorang teman, aku mengandalkan ilmu kebatinan. Cuma bisa membatin ketika suka pada teman wanita 😜. Sampai lulus SMA belum pernah dekat apalagi pacaran dengan wanita. Masa SMA juga mulai mengenal kegiatan berorganisasi. Wasahnya OSIS. Organisasi Siswa Intra Sekolah. Aku cuma mendengar si A adalah ketua OSIS. Si B yang ketua kelas kami dan si C yang sekretaris kelas kami dipercaya menjadi pengurus OSIS. Tanpa aku pernah terpilih menjadi ketua kelas, wakil atau jabatan lain. Bahkan sejak SD, aku hanya ‘warga’ biasa di kelas.

Rasa percaya diriku mulai muncul ketika sudah mulai kuliah. Seolah ‘dipaksa’ keadaan. Yang sampai saat ini pemaksaan itu tak pernah aku sesali, bahkan aku syukuri. Karena buatku pribadi memberi banyak manfaat dan bekal hingga menjalani dunia kerja.

Ceritanya organisasi kepemudaan gerejaku (kami menyebutnya NHKBP, Naposo Bulung Huria Kristen Batak Protestan) sedang mengadakan Pesta Parheheon. Semacam festival beberapa cabang olah raga dan seni. Acara rutin tahunan di gereja. Namun kali ini berbeda. Karena ada upaya untuk menggerakkan lebih banyak lagi pemuda gereja kami. Menggerakkan beberapa sektor yang menjadi wilayah layanan gereja. Kami menyebutnya wijk. Ada 17 wijk saat itu. Keluarga kami bertempat tinggal di Wijk Belakang Stadion. Stadion merujuk pada Stadion Teladan. Di wilayah belakang stadion yang pertama kali digunakan pada saat Pekan Olahraga Nasional ketiga (tahun 1953) itulah kami tinggal.

Oleh pengurus dan panitia pesta beberapa pemuda di wilayah kami diundang untuk membentuk kepengurusan wilayah. Dengan harapan pengurus wilayah inilah nantinya yang akan menggerakkan pemuda di wilayahnya masing masing untuk ikut pesta. Dan hasil pertemuan itu, aku didapuk sebagai sekretaris. Jabatan yang tak pernah aku duga. Mengingat statusku yang hanya sebagai warga biasa sejak SD.

Jabatan sekretaris itulah pembuka segalanya. Yang aku pahami dari yang aku baca, sekretaris adalah motor organisasi. Dialah yang menata sebagian besar organisasi. Kecuali bidang keuangan ditangani oleh bendahara. Ketua selain sebagai pemimpin organisasi, juga sebagai panutan. Tempat dimana semua akhirnya diputuskan. Untuk dijalankan oleh perangkat organisasi. Termasuk sekretaris, bendahara dan seksi seksi. Jabatan itu aku pegang selama dua periode. Satu periode berlangsung selama dua tahun. Sejak itu aku ikut juga di kepengurusan pusat. Disebut demikian untuk membedakan dengan kami yang ada di wilayah. Juga di beberapa kepanitiaan yang sifatnya temporer. Seturut kegiatan yang membutuhkan kepanitiaan.

Lewat mekanisme itulah aku belajar berbicara di depan orang banyak. Awalnya hanya di depan teman teman satu wilayah. Di depan teman teman antar wilayah, ketika misalnya kami melakukan rapat bersama. Bahkan berbicara di depan jemaat ketika kebaktian khusus pemuda. Atau di depan orang tua kami di wilayah, ketika kami harus menyampaikan program dan rencana kerja kami (pemuda wilayah). Masalah tampil dan berbicara di depan publik teratasi dengan sendirinya. Namun belum untuk bernyanyi, masalah terbesarku ketika SD. Beberapa kali memang aku tampil bernyanyi di depan publik. Namun secara beramai ramai. Dalam bentuk koor (choir) karena itulah kegiatan utama pemuda gereja waktu itu. Bukan sendiri, puluhan. Beberapa orang Sopran, Alto, Tenor dan Bas (pembagian suara di koor). Mulai dari tampil di gereja ketika kebaktian. Kegiatan ini bukan tampil di depan publik secara harafiah. Karena kami duduk membaur bersama jemaat lain. Yang benar benar tampil (bernyanyi) di depan publik adalah ketika kami ikut festival paduan suara. Pernah juga aku bernyanyi bukan bersama puluhan orang. Hanya berdelapan. Karena kami tampil dalam bentuk vocal group.

Kisah bagaimana perjalanan tumbuhnya rasa percaya diri itu mengalir lagi ketika sore ini harus mengantar sulungku ke gereja. Dia menyampaikan bahwa dia diajak sebagai salah satu seksi di kepanitiaan Natal kelasnya. Mengingat pengalamanku, tentu saja ini sebuah kebanggan. Tanpa bermaksud anak harus selalu mengikuti patron orang tuanya. Karena buatku inilah jalan buatnya untuk mulai melatih diri. Usia masih 13 tahun. Dia memulai lebih dulu daripada ketika bapaknya memulai. Tentu saja aku mendukung dan mendorongnya.

Apalagi mengingat keadaan ketika peringatan tujuh belasan terakhir di sekolahnya. Ada satu kejadian yang sepertinya membuatnya patah semangat. Tidak terpilih menjadi pasukan pengibar bendera. Aku menyemangatinya. Dalam beberapa hal ada kemiripanku dengannya. Kami sama sulung. Tanpa bermaksud membandingkan, sedikit berbeda dengan adiknya. Namun aku percaya masing masing anak punya talenta sendiri. Sulung suka menggambar. Bercita cita menjadi youtuber. Beberapa hasil karyanya di instagram aku rasa adalah keistimewaannya. Itu aku sampaikan padanya. Bahwa bahkan seusia sekarang, aku sebagai orang tuanya mungkin tidak. Isa menghasilkan karya sama.

Selain itu aku pun menceritakan beberapa kisah di atas. Bahwa bapaknya ini pun tak pernah terpilih sebagai pasukan pengibar bendera ketika bersekolah dulu. Bahkan tidak pernah terpilih menjadi ketua kelas. Sesuatu yang sudah dijalani oleh si bungsu bahkan ketika kelas satu SD.

Sebagai orang tua, aku sampaikan bahwa keberhasilan tidak semata dihasilkan oleh hal seperti itu. Keberhasilan bisa juga diperolehnya ketika dia giat belajar. Mungkin aku bukanlah contoh yang ideal. Namun aku ada di depannya. Kondisi yang dia bisa lihat langsung. Dan aku menyampaikan kepada si sulung bahwa bapaknya ini pun dulu hanya bersekolah di daerah. Anak daerah yang bisa sampai ke pulau Jawa. Bekerja di Jakarta dan bisa menyekolahkan mereka berdua. Aku hanya berharap apa yang aku sampaikan dan apa yang dilihatnya ditambah pengalaman yang sedang dijalani saat ini membuat rasa percaya dirinya bangkit. Buat bekalnya kelak. Amen!

Berdasarkan hukum kekerabatan adat Batak, aku menyapanya Nantulang. Berarti kurang lebih istri dari Tulang. Tulang adalah sapaan untuk saudara lelaki ibuku. Kebetulan nantulang ini adalah istri dari Tulang paling besar. Abang dari mama. Anak ompung paling besar. Kami menyebutnya Tulang Banggas. Anak anakku menyapanya Ompung Dokter. Kebetulan beliau seorang dokter dan bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan pengajar bahkan sempat menjadi Pembantu Dekan di Fakultas Kedokteran UKI

Usia Nantulang tidak terpaut jauh dari ibuku. Usia Tulang pun tak terpaut jauh dari usia almarhum Bapak. Sama seperti almarhum Bapak, Nantulang menjadi karyawan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. hanya beda penugasan saja. Bapak bertugas di Wilayah 01 yang meliputi wilayah Sumatera Utara dan Daerah Istimewa Aceh. Sementara Nantulang menghabiskan sebagian besar karirnya di Jakarta. Entah di Kantor Besar (demikian istilahnya untuk kantor pusat) atau di kantor cabang wilayah 10 yang meliputi Jabodetabek.

Tulang dan Nantulang termasuk yang sering mengunjungi kami di Medan waktu itu. Karena Ompung (orangtua mama) banyak tinggal di rumah kami di Medan atau Kabanjahe (sebelum kami pindah ke Medan). Intensitas pertemuan yang sering, membuat hubungan lebih akrab. Aku menyebutnya demikian karena aku merasa ada yang berbeda antara hubunganku dengan Tulang ini jika dibandingkan dengan hubunganku (dan keluargaku) dengan keluarga lain. Apalagi Nantulang dan Bapak belerja pada institusi yang sama. Ditambah beberapa kesamaan soal kesenangan mereka. Tanggal lahirnya pun hanya selisih satu hari. Bapak 12 Agustus, Nantulang 13 Agustus.

Di rumah Tulang di Jatikramat Bekasi pula aku tinggal ketika akhirnya memutuskan tinggal di pulau Jawa. Setelah sebelumnya tinggal di kediaman keluarga dari Bapak di Duren Sawit Jakarta Timur. Kedekatan hubungan dan ketersediaan satu kamar kosong di rumah Tulang menjadi alasan kuat. Sampai sebelum bekerja aku suka diberi uang saku. Untuk sekedar biaya fotocopy lamaran atau ongkos mengirim lamaran. Sambil menunggu panggilan dari lamaran yang aku kirim ke berbagai perusahaan yang ada di Jakarta, aku sering mendapat tugas mengantar Tulang atau Nantulang. Itung itung belajar mengetahui jalanan di Jabodetabek. Selain dari yang aku pelajari lewat menumpang bis ke berbagai penjuru.

Nantulang lah yang mengunformasikan kepadaku adanya lowongan di perusahaan tempatku bekerja sekarang. Informasi yang dia dapatkan dari HRD karena kebetulan pembayaran gaji perusahaan melalui BNI. Menurut Nantulang, beliau termasuk yang mendorong agar kantor cabang Semanggi yang awalnya berlokasi di gedung Veteran (sekarang Plaza Semanggi) pindah ke gedung Bursa Efek Jakarta (namanya waktu itu).

Setelah melewati serangkaian test (terakhir test TOEFL di LPPM daerah Tugu Tani, yang untuk mencapainya pun aku diantar oleh Tulang) akupun diterima bekerja di PT Bursa Efek Jakarta. Tinggal serumah dan bekerja di satu gedung yang sama membuat perjalanan ke kantor tidak mengalami kendala. Setiap hari aku ikut mobil Nantulang. Lumayan menghemat ongkos. Selain itu Nantulang tidak perlu ribet mencari joki three in one 😀. Dalam perjalanan Nantulang punya teman ngobrol. Kami membicarakan apa saja. Mulai dari kondisi pekerjaan, atau sekadar berita televisi.

Namun tidak berlangsung lama. Jalanan yang semakin macet, waktu kerja Nantulang yang lebih fleksibel dari jam kerjaku membuat aku harus mencari moda transportasi cadangan. Akhirnya akupun mulai menumpang omprengan yang ngetem di seputar pintu tol Jatibening. Untuk sore hari pun demikian. Kadang kalau Nantulang harus menghadiri meeting di luar kantor aku pulang sendiri. Menumpang bis hingga Cawang seberang UKI. Untuk kemudian menumpang angkot 461 ke rumah. Sering juga nongkrong seperlunya di warung warung depan UKI atau berbelanja apa saja di emperannya.

Ketika Nantulang berkenalan dengan golf, akupun sering diminta untuk mengantar ke lapangan pada hari Sabtu atau Minggu pagi. Atau sekadar mengantar ke daerah tertentu karena beliau berjanji dan menumpang mobil temannya. Beberapa kali aku nyasar ketika setelah mengantar aku harus pulang sendiri 😀. Namun aku anggap semuanya sebagai bagian mengenal jalanan ibukota. Selain Nantulang, Sabtu pagi aku kerap mengantar dua sepupuku ke sekolah. Atau ke acara dengan teman temannya.

Meskipun dalam hubungan kekerabatan, Tulang berada di posisi paling atas (Hula Hula dalam konsep Dalihan Na Tolu) aku dan adik adik dianggap sebagai anak sendiri. Hubungan yang dibangun tidak berjarak. Tulang dan Nantulang pulalah yang menemani keluarga kami ketika Bapak ‘pergi’. Saat keluarga lain hadir seperti tamu 😔. Hubungan yang dipertahankan hingga sekarang. Hubungan yang aku ajarkan juga kepada dua anakku. Sekarang Gabriel tidak akan sungkan untuk langsung masuk kamar tidur Tulang dan Nantulang, untuk sekadar ngadem karena ada pendingin ruangan, ketika kami berkunjung. Sering terdengar Tulang menyebut anak kita, menyebut diriku ketika berbicara dengan Nantulang. Bahkan aku ingat sekali pernah menyebut ‘mantu kita’. Aku dengar dari lantai atas. Karena kamarku terletak di lantai dua. Nantulang juga yang ‘memerintahkan’ aku untuk membawa mobil sedannya saja ketika aku meminta ijin menggunakan Kijang Tulang untuk bertamu pertama kali ke rumah calon mertua di Kebon Jeruk ☺️.

Mantu (menantu) kita merujuk pada posisiku yang adalah bere (anak laki laki dari saudara perempuan) Tulang. Karena berdasarkan hukum kekerabatan Batak, putri dari Tulang (yang aku sapa pariban) adalah wanita dengan prioritas tertinggi yang bisa aku nikahi. Kebiasaan yang semakin hari sudah ditinggalkan. Selain karena bukan lagi masa Siti Nurbaya, konon karena katanya bisa menyangkut incest ☺️. Mengingat hubungan demikianlah, mengakibatkan adanya kebiasaan untuk ‘permisi’ kepada Tulang ketika seorang lelaki Batak akan menikah. Prosesi yang ketika kami utarakan kepada Tulang, kami disuruh untuk melakukannya kepada Tulang yang paling kecil. Adiknya (plus adik lelaki ibuku) yang bertempat tinggal di Medan. Selain karena menurutku Tulang ini sudah menganggapku anak, beliau juga tidak terlalu suka dengan ‘keribetan’ adat Batak.

Hubungan kami, aku Nantulang dan keluargaku atau keluarga dari pihak mama tidaklah selalu berjalan mulus. Aku mengerti bahwa hubungan ipar keluarga manapun ada pasang surutnya. Hal yang lumrah. Lama tinggal dengan mereka (kurang lebih lima tahun sebelum akhirnya menikah dan pindah) sedikit banyak aku memahami sifat mereka berdua. Tidak banyak neko neko. Lempeng lempeng saja kalau kata orang Betawi. Kadang kalau menemani belanja ke ITC Mangga Dua, Nantulang belanja dengan cepat saja. Manakala keluarga lain masih memerlukan waktu untuk sekadar window shopping atau sekadar membandingkan harga antara dua toko bersebelahan, Nantulang tidak terlalu suka. Akhirnya aku akan menemani duduk di suatu tempat ketika keluarga lain masih asyik dengan window shopping 😁.

Itulah kenapa aku menggunakan caption “berfoto bersama mertua” untuk foto selfie kami berdua (aku dan Nantulang) ketika beliau bersama teman temannya sesama pensiunan Bank BNI ada acara di gedung Bursa. Begitu mengetahui beliau ada acara di gedung sama aku berusaha menemui. Ketika acara mereka selesai aku temani. Aku merasakan bagaimana bangganya Nantulang mengenalkanku kepada teman temannya. Sebangga beliau mengenalkan anaknya sendiri. Sesenang beliau ketika aku kabarkan bahwa bere yang dahulu dikenalkan ke perusahaan tempatku bekarja sekarang memeroleh promosi.

Sehat terus ya Tulang dan Nantulang ♥️

Ai damang do si jujung baringin
Di au amangmon
Jala ho do silehon dalan
Di anggi ibotomi

Ianggo anggi iboto mon ndang magoan. Hodo na magoan. Ho do ganti di bapa di halak on” Engkaulah yang kehilangan ayah. Adik adikmu tidak kehilangan. Sebab engkaulah yang akan menjadi bapak mereka. Itulah kalimat yang disampaikan pelayat kepadaku pada Mei 2000. Saat itu aku masih sendiri. Belum berkeluarga. Kata penghiburan kepada lelaki sulung keluarga Batak yang telah menikah akan dimodifikasi dengan menambahkan kalimat (wejangan) sama kepada istri si sulung. Bahwa sang istri akan berperan sebagai ibu bagi adik adik suaminya.

Sebagaimana potongan lagu Poda di atas, demikianlah peran anak sulung. Si jujung baringin. ‘Pembawa Bendera’ keluarga. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ketika bapak tiada, sulung akan menggantikan peran bapak. Bukan hanya keluarga Batak. Aku pikir posisi sama terjadi pada hampir seluruh keluarga tanpa melihat suku bangsa. Peran tersebut semakin bertambah ketika bicara soal adat. Karena Batak masih memegang erat adat istiadat.

Kadang terasa berat. Kenapa beban seberat itu harus disematkan di pundakku. Apalagi ketika itu aku belum berkeluarga. Setelah menikah dan secara otomatis memiliki tempat di adat Batak, dalam usia muda aku ‘terpaksa’ mengikuti adat. Menghadiri pesta unjuk (pernikahan) atau prosesi adat lainnya. Sesuatu yang saat ini masih dihindari oleh banyak keluarga muda Batak. Sering teman bertanya, “rajin kali lah kau ke adat?” Apa yang bisa aku katakan? Posisiku mewajibkannya. Ingin sebenarnya menolak, namun posisi sebagai sulung tidak memungkinkannya. Ditambah lagi, aku memang menyukai adat Batak. Meski oleh banyak kalangan dianggap ribet dan melelahkan, aku merasakan ada kearifan lokal yang bermanfaat darinya. Oleh sebab itu perlu dilestarikan.

Posisi sebagai sulung juga mewajibkanku untuk ‘menikahkan’ adik adikku. Meski dalam dua kesempatan aku hanya berperan kecil. Karena kediaman di pulau Jawa tidak memungkinkanku untuk banyak terlibat. Aku hanya mengandalkan mama. Dari jauh aku hanya bisa memantau dambil sesekali memberi sumbang saran. Syukur keduanya berjalan dengan baik. Meskipun pasti ada kekurangan.

Selain utusan adat, dalam beberapa hal lain aku juga terbeban untuk menjadi ‘si lehon dalan’ sang pemberi jalan. Mungkin semacam voorijder dalam sebuah iringan. Membantu adik adikku dalam hal apa saja. Tentu saja dalam batas kemampuan. Entah apakah apa yang aku lakukan berhasil atau enggak. Entah apakah aku bisa menjadi contoh yang baik kepada mereka sebagaimana doa dalam lagu Poda itu. Meski kadang terasa berat, lebih sering aku menikmatinya sebagai tanggung jawab yang harus aku pikul. Aku berharap bisa membantu mereka dalam mewujudkan keinginan orang tua kami. Terutama keinginan almarhum bapak yang hari ini (jika masih ada) berulang tahun ke-73 😔

*Poda adalah lagu yang berisi pesan orang tua kepada anak lelaki sulung