martabe

melihat daftar menu minuman yang ada di meja ketika sarapan di hotel santika di surabaya, ada sedikit rasa bangga. betapa tidak. mereka menyajikan minuman bernama martabe.

martabe sendiri adala singkatan dari marsipature huta na be. gerakan yang digagas oleh raja inal nasution ketika menjadi gubernur sumatera utara, beberapa tahun lalu. semangatnya adalah, mengajak para perantau yang berasal dari sumatera utara, tapanuli khususnya untuk mengingat dan membangun kampung halamannya masing masing. sepintas terdengar terlalu arogan. mungkin egois. namun dibalik itu, gerakan yang digagas menurutku bagus.

sebuah gerakan kecil, yang dilakukan secara bersama sama, pasti akan berdampak besar. dan apabila dilakukan secara terus menerus, niscaya akan berhasil mengubah wajah tapanuli. dari yang semula disebut sebagai peta kemiskinan, menjadi sejajar dengan daerah lain. minimal untuk wilayah sumatera utara. sayangnya, gerakan bagus itu sepertinya terhenti. yang ada, tapanuli berlomba memekarkan wilayahnya. seolah pemekaran adalah satu satunya jalan untuk memajukan tapanuli. sayangnya, tujuan itu seolah semakin jauh dari jangkauan. yang tersisa hanya istilah martabe itu. yang kini disematkan pada minuman yang berasal dari buah yang di sumatera utara terkenal dengan nama terung belanda. entah kenapa disebut demikian.

dan ketika di hotel itu aku menanya kepada pelayan, materi dari minuman yang ditawarkan di menu itu, si mbak langsung tersenyum dan berkata kepadaku, “bapak dari medan ya?”. akupun menjawab dengan rasa bangga, “iya mbak :-)

Ini cerita dari perjalanan pulang. Dengan VarioBiru, melintas rute seperti biasa. Menjelang perempatan Otista, jalan sedikit tersendat sebelum kolong jalan tol di sekitar Cawang itu. Sudah bisa dipastikan, disebabkan antrian yang naik jalan layang yang mengarah ke tol Cikampek.

Di kolong, terdengar klakson mobil dan motor bersahutan. Seperti biasa mungkin karena semua tidak sabar dan merasa harus berada di depan. Buatku yang mengendarai motor, yang paling terasa mengganggu adalah klakson sebuah sedan putih di sebelah paling kiri jalan. Suara klakson yang cukup besar, karena mungkin pelantam klaksonnya sudah dimodifikasi menjadi yang seperti suara BMW. Entah karena tidak sabar, atau mungkin karena telapak tangannya terlalu gatal sehingga harus digarukkan ke kemudi mobilnya, sedan ini rajin sekali membunyikan klakson. Jalur paling kiri yang dipilihnya.

Aku biarkan dia berada pada jalur paling kiri sampai sebelum jembatan penyeberangan depan gedung BNN. Mungkin dia mau ke arah by pass, pikirku. Aku berada disebelah kanan belakang sedan putih itu. Persis di bawah jembatan penyeberangan supir yg telapak tangannya gatal itu mulai memasang lampu minta jalan ke kanan. Bah! Aku pikir dia mau terus ambil posisi kiri. Ternyata dia sedang teringat dengan profesi lamanya. Entah supir metromini atau angkot, mengambil jalur paling kiri untuk memotong antrian yang menuju halim atau tol Cikampek.

Naluri iseng muncul dalam benakku. Sedan putih tadi aku sejajarkan dengan motorku. Tentu saja tetap dengan jarak cukup aman. Begitu mobilnya dibelokkan ke arah kanan untuk memotong antrian naik, aku bunyikan klakson motorku yang juga sudah dimodifikasi. Entah karena kaget atau karena telapak tangannya kembali gatal, dia membalas klakson. Tidak sampai lima meter aku memepetnya untuk tidak memberi kesempatan memotong antrian. Aku pikir, biar sampai dia kesal. Kalau dia menyenggol atau menabrakku, aku sudah siap memberhentikan motor dan beradu mulut dengannya.

Tenang. Hal itu tidak terjadi. Sepertinya dia cukup sadar dengan ‘teguran’ku atas gaya menyetirnya yang ugal ugalan. Dia memperlambat mobilnya, aku memacu VarioBiru di jalan seharusnya. Belok kiri ke arah by pass untuk kemudian belok kanan setelah gedung WIKA. Minimal dia sudah aku ingatkan. Yeah, entah dia sadar atau masih terbawa naluri nyetir angkot atau metromini, biarlah. Aku juga masih harus menyusur jalan kalimalang menuju rumah.

Namun satu hal yang harusnya disadari, kesemrawutan jalanan di Jakarta, tidak semata disebabkan oleh pengemudi motor seperti dikatakan banyak orang, termasuk pengemudi mobil. Mereka yang terbiasa mengendarai metromini atau angkot, atau mereka yang belum pantas memperoleh Surat Ijin Mengemudi A, juga ambil bagian dalam kesemrawutan jalanan :-p

Tuhankah mereka, sehingga berhak menyerang orang lain yang tidak sealiran dengan mereka?

Apa yang salah dengan Yahudi? Apa karena pemerintah Israel, melakukan kejahatan terhadap warga Palestina [kemudian dianggap Yahudi yang bersalah], sehingga Yahudi atau Israel, pantas dan layak dimusuhi? Apa bedanya mereka dengan Yahudi? Karena ternyata, saat ada yang tidak setuju dengan tindakan mereka, lantas menyebut orang tersebut dengan antek Yahudi?

Benarkah mereka mengakui kebesaran Tuhan? Kareena mereka menyerang bahkan melukai orang lain dengan terlebih dahulu meneriakkan kebesaran Tuhan.

Keyakinanku menyatakan bahwa pemerintah adalah pengejawantahan dari Tuhan di dunia. Apakah dengan demikian Presiden atau pemerintah, pantas dituntut untuk menetapkan status keagamaan sekelompok orang?

Aku teringat pada satu cerita di Kitab Suci agama yang kuyakini. Ada sekelompok orang yang ingin menghukum seorang wanita yang mereka anggap berdosa dengan cara dirajam [dilempari dengan batu hingga meninggal]. Saat ‘seseorang’ mempersilahkan wanita tersebut dirajam, dengan syarat dia yang tidak berdosa adalah yang pertama melemparkan batu kepada wanita tersebut. Perlahan, satu per satu dari orang-orang yang ingin merajam tersebut meninggalkan wanita itu sendirian. Tanpa jadi menghukum.

Pagi ini dalam perjalanan ke kantor, aku sempat dibuat kesal dengan ulah pengemudi bis yang -terlihat dari logo di dinding belakang bis itu- sepertinya milik Peruri. Perusahaan percetakan milik negara. Pasalnya di jalur busway di Pancoran arah ke Semanggi, sang bis terlihat hendak menabrak pengemudi motor yang berkerumun di depannya.

Aku sendiri berada di belakang bis itu, sama-sama berada di jalur busway. Benar, aku dan para pengemudi motor lain serta bis Peruri itu dan mobil lain yang berada di jalur busway, saat itu bersalah. Memasuki jalan yang bukan jalan umum. Namun, entah dengan pengemudi lain, meski harus bermepet-mepet ria dan berbagi jalur yang sudah sempit itu, pilihan itu adalah pilihan ‘waras’ daripada melintasi jalanan yang berlubang. Dan kalaupun tidak berlubang, ditambal ala kadarnya dengan kerataan yang tidak sempurna sehingga jalanan tidak rata bahkan ‘menggelembung’ di sana sini.

Yang membuat kesal adalah, pengemudi bis yang arogan itu seolah merasa dialah yang paling berhak berada di jalur itu dibanding pengemudi motor. Padahal sudah sama-sama salah. Mbok,ya sesama pesalah jangan saling ganggu. Siapapun pasti ingin berada di tempat tujuan lebih cepat. Bahkan, bila sang pengemudi motor tersebut salah dan pengemudi bis Peruri yang benar, bukan menjadi alasan buat pengemudi bis Peruri itu menabrak si pengemudi motor.

Terus terang saat itu, terpikir buatku untuk ngerjai itu bis. Yang terpikir adalah, mungkin besok-besok aku perlu bawa benda tajam atau semacam ‘ranjau paku’ untuk ditancapkan di salah satu ban bis yang arogan seperti itu. Niatku jahat? Terus terang kuakui, iya. Namun untuk menghadapi orang jahat, kadang aku pikir sesekali perlu jahat. Karena mungkin saja apa yang pernah dikatakan ibuku secara bercanda,benar. Surga sudah penuh. Jadi kalau toh gak kebagian kapling di surga, gak ada salahnya berjahat-jahat. Toh ujung-ujungnya berujung di neraka juga. Hahahahahahaha

Pagi ini, aku terpaksa naik omprengan ke kantor. Penyebabnya, sayap depan Varioku rusak sedikit karena dalam perjalanan pulang semalam, aku disenggol orang di jalan Kalimalang depan Universitas Borobudur.

Seperti biasa, bikers ugal-ugalan. Jalan raya Kalimalang yang kalau malam tidak terlalu terang, masih dijadikan ajang unjuk kebolehan mempermainkan gas motornya.

Ceritanya, ada orang menyeberang. Aku, yang dari jauh sudah melihat penyeberang itu, sudah memelankan laju motorku. Namun aku mendengar ada suara motor yang direm terpaksa dari sebelah kanan di belakangku. Benar saja. Tidak sampai hitungan menit, motorku sudah dihajar dua roda motor besar jenis sport yang slip karena direm mendadak. Sebegitu cepat kejadiannya berlangsung. Yang aku ingat, aku terjepit motorku sendiri dan motor orang itu. Aku tidak bisa langsung berdiri karenanya. Untung saja ada penjual rokok yang menolong menggeser Varioku untuk kemudian membawanya ke tepi jalan di depan warungnya. Begitu juga dengan si motor sport yang masih satu merek dengan Varioku itu.

Si pengendara motor sport itu minta maaf. Aku memarahinya sebentar untuk kemudian meminta Surat Ijin Mengemudinya. Ternyata, dia yang hanya menggunakan celana pendek masih anak-anak. Kelahiran tahun 1990. Entah, apakah dia mengalami luka. Yang pasti lututku, tergores aspal dan sepertinya merusak celana kerja. Aku minta dia datang ke rumahku untuk menyelesaikan persoalan. Ternyata lagi, dia tinggal sekitar 300 meter dari komplek aku tinggal.

Di rumah, setelah luka dibersihkan dan diobati, aku mendapati kalau sayap depan motorku ada yang patah. Aku tunjukkan itu pada si pengendara motor sport. Meski menyesak dada, aku minta dia ganti sayap itu dengan dengan yang baru saat teman yang dibawanya menawarkan untuk dilem saja.

Semalam dia berjanji akan mencari gantinya malam itu juga. Namun seperti diduga, tiada lagi toko yang buka jam segitu. Akhirnya motor aku tinggal, karena dia berjanji akan menyelesaikannya hari ini.


Beberapa kali melewati baliho perusahaan rokok yang dibuat untuk promosi mereka menyeponsori kegiatan sepakbola tanah air, aku gak memperhatikan apa yang menarik dari iklan itu. Namun memperhatikan di cawang dalam kemacetan tol dalam kota menuju kantor beberapa waktu yang lalu, aku tersadar kalau ada benang merah antara gambar itu dengan perusahaan pemasangnya.

Kalau diperhatikan, nomer punggung para pemain itu semuanya menuju ke satu arah. angka 9 (sembilan) sebagai sebuah angka yang dipercaya oleh keluarga pemilik sebelumnya. Ya, meski sekarang PT HM Sampoerna Tbk. mayoritas dimiliki oleh Phillip Morris yang dari negeri Paman Sam, ternyata anga sembilan tetap dipercaya memiliki berkah.

Jakarta bukan tempat yang aman buat pengendara Sepeda Motor. Ini kondisi yang terjadi bila keinginan Gubernur DKI untuk melarang sepeda motor masuk jalan protokol jadi dilaksanakan. Dasar pemikiran aturan ini -sebagaimana dikutip berbagai media- karena menurut Bang Yos, kendaraan roda dua ini menjadi biang kemacetan jalanan di Ibukota. Katanya beliau sudah melihat hal serupa di Hanoi. Kontan saja wacana ini menuai pro dan kontra. Yang pro [mungkin] mereka yang selama ini mengendarai mobil [pribadi] dan merasa terganggu dengan aktivitas jalanan para pengendara motor yang berada pada posisi kontra.

Sejatinya, memang benar bahwa jalanan di kota Jakarta dan kota-kota setelit di sekitarnya sudah dipenuhi oleh berbagai jenis merek motor. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Yang pertama adalah soal kemaetan itu sendiri. Dengan mengendarai motor, kemacetan bisa ‘ditembus’ dengan demikian jarak tempuh menjadi semakin singkat. Yang berikutnya adalah proses kepemilikan motor semakin hari semakin mudah. Ini terkait dengan alasan pertama. Permintaan banyak, penawaran juga bertambah. Hanya dengan bermodal lima ratus ribu Rupiah seseorang bisa memiliki motor. Saat ini diperkirakan setiab bulan ada 20.000 motor baru yang mengisi jalanan kota Jabodetabek. Dapat dibayangkan dengan pertambahan sebanyak itu bagaimana penuhnya jalanan.

Tapi, apakah benar pengemudi motor yang membuat jalanan Jakarta macet ?. Enggak juga. Ketaatan pengemudilah yang utama. Berhenti kalau lampu lalu lintas berwarna merah, dan jalan kalau sudah hijau, juga kalau lampu merah, berhenti di belakang garis atau kalau ditentukan lain oleh bapak Polisi yang kebetulan mengatur lalu lintas. Juga tidak main serobot sana sini, tidak zig-zag di jalanan, tidak berhenti atau ngetem di sembarang tempat. Kalau di jalan tol, jangan mengambil bahu jalan meski sedang macet, kalau mau jalan lambat jangan pernah mengambil sisi kanan, Bis atau truk mengambil jalur kiri dan jangan ikutan zig-zag.

Sebagai seorang yang sering mengendarai motor, aku sedang tidak membela sesama pengendara motor. Karena kenyataannya, saat melintas pagi dan sore melewati jalan Tarum Barat [alias Kalimalang] banyak juga pengendara motor yang seenak perutnya dalam berkendara. Oleh sebab itu ada baiknya semua pengendara [entah motor, mobil pribadi, angkutan umum] bisa menahan diri untuk tertib di jalanan. Bak kata seorang Da’i kondang, mulailah dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang. Dijamin gak akan ada yang namanya macet.

[gambar diambil di Simpang susun Cawang, 30 November 2006 pagi]

Masih tentang etika berkendara. Siang ini bersama istri dan Yeremia belanja di Metropolitan Mall Bekasi. Selesai belanja kembali ke mobil. Ternyata di belakang mobil kita terparkir dengan manisnya Honda Jazz hitam dengan no polisi B 8446 EY. Waktu petugas parkir dari Secure Parking hendak menggeser, ternyata rem tangan mobilnya diaktifkan. Gila! Udah malangin mobil orang, masih iseng lagi dengan rem tangan. Ngintip ke dalam, ternyata mobilnya matic. Pantes aja rem tangannya dipasang. Mau keluar dari depan, ada Xenia yg menghalangi.

Dipanggil lewat car call, setengah jam yang punya mobil tidak muncul-muncul. Kesal juga nungguin orang goblok yang gak tau aturan. Satu jam lebih menunggu aku pergi ke car call lagi. Sampe petugasnya bilang dia sudah hapal nomer polisi mobil itu.

Akhirnya ke Gramedia. Beli spidol permanen warna hitam dan paper clip. Niatnya mo ngerjain tuh orang. Spidol buat ninggalin ‘pesan’ di kaca mobil. Paper clip buat ditempelin di ban. Gembos, gembos dech tuh ban. Jalan ke parkiran, istriku telpon bilang kalo mobil di depan udah keluar. Jadi kita udah boleh keluar.

Meski di spion dalam tergantung tanda pangkat taruna akademi militer, aku tinggalin pesan buat si goblok itu. ‘Kalo parkir yang benar, Mas…..’. Gak apa-apa paper clipnya batal, yang penting dia akan keluar tenaga untuk ngebersihin kacanya. Puas !!!!!!

Dalam perjalanan menuju dan pulang dari kantor, aku dan istri sering membahas kelakuan berlalulintas orang-orang. Sekalian menikmati kemacetan yang seolah sudah menjadi hal yang biasa di Ibukota ini.

Pagi ini kami iseng menggoda pengemudi Vios merah yang sejak pintu tol Halim sudah ‘cari masalah’. Main selonong saja diantara dua antrian mobil yang akan membayar tol. Pengemudinya perempuan berkerudung. Kalau sudah begini, kami berdua [aku dan istri] selalu sepakat untuk tidak pernah memberi peluang menyalip untuk mereka yang memotong antrian. Meski kadang istriku suka nyaranin aku untuk mengalah juga. Hal ini sering kami lakukan di pintu tol depan Medistra kalau pulang kantor. Bukan apa-apa. Niatnya cuman ‘memberi pelajaran’ buat mereka-mereka yang suka nyelonong saat orang lain antri dengan tertib.

Kembali ke Vios merah tadi, ternyata bis di belakang kami memberi kesempatan dia untuk menyelinap di antrian. Hehehehe…tak apalah…Lepas dari bayar tol aku ambil sisi sebelah kanan. Karena biasanya sebelum simpang susun Cawang, lalu lintas akan tersendat sebelum percabangan yang ke Priok. Penyebabnya, lagi-lagi karena tidak semua taat aturan. Arah Priok yang hanya satu jalur, layaknya leher botol. Kadang lebih dari dua jalur yang menuju ke Priok. Dan sudah pasti ini membuat macet dan memperlambat kendaraan yang ke arah Grogol. Ternyata kami mendahului si Vios merah tadi.

Begitu melewati jalan yang bercabang itu [biasanya ada mobil patroli polisi disini], Vios merah kembali bikin ulah. Menyalip kami dan ambil jalur paling kiri [bahu jalan !]. Memang kecenderungannya ambil jalur kiri [bahu jalan itu] akan lebih cepat karena di depan, mobil yang melewatinya akan diberi kesempatan kembali ke jalan yang benar oleh mobil yang di jalur kiri. Dan aku yakin si Vios merah itu akan mendahului kami.

Ternyata setelah menara Saidah sebelum Pancoran, masih ketemu dia lagi….he…he…he…Kemana aja mbak ? Perasaan udah dari tadi dech, ngedahuluin kita :-p. Karena dia ambil jalur tengah, aku ambil jalur kanan seperti biasa. Dan saat mobil kita beriringan, istriku kembali ‘menggoda’ si mbak Vios merah. Bahkan sampai buka kaca jendela sebelah kiri. Kita beriringan sampai sebelum tanjakan Pancoran. Untuk kemudian dia ambil jalur kiri dan mendahului…wus….wus….wus…bye…bye……Lady in Red :-) .

Waktu berjalan kaki dari Plasa Mandiri menuju kantor aku menemukan satu Vios yang sifat supirnya bertolak belakang dengan Vios merah tadi. Dia sudah memperlambat mobilnya saat melihat aku dan beberapa pekerja melangkah di garis penyeberangan [zebra cross].

Mahasiswa lagi rame-rame nuntut biar pemerintah nurunkan harga BBM. Ternyata ada tips menarik agar BBM tetap irit. Simak aja tips kiriman Baby berikut ini :

1. Perkecil ukuran Tanki Kendaraan anda hingga seperempatnya. Anda pasti akan berpikir dua kali kalau mau pergi jauh.
2. Perbaiki kondisi jalanan dari rumah ke kantor anda. Biaya perbaikan jalan memang mahal, yang penting khan irit BBM.
3. Hindarilah macet dengan berangkat lebih pagi, misalnya jam tiga pagi, dan pulang lebih malam, kalau perlu sesekali ajak anak isteri menginap di kantor.
4. Lepaskan Kabel Accu selama lima menit kemudian pasang lagi. Tunggu beberapa saat, lantas pasang lagi. Begitu seterusnya, jangan berhenti.
5. Mainkan pedal gas, kopling dan rem sehalus mungkin. Lakukan terus secara bergantian. Dijamin irit BBM, asalkan mobil nggak distarter.
6. Jangan cari rumah yang dekat kantor. Mahal! Mendingan cari kantor yang dekat rumah, misalnya Kantor Kelurahan atau Kantor Polisi
7. Contohlah Angkot atau Bis Kota yang mampu mengoptimalkan jumlah penumpang sebanyak mungkin. Kalau ngantor bawa mobil ajaklah anak isteri, adik, kakak, om, tante, teteh, aa, kakek, nenek dan juga tetangga seRT.
8. Pakailah kendaraan alternatif, misalnya Gantole. Disamping hemat BBM, Gantole adalah kendaraan bebas macet.
9. Tabrakin saja mobil anda ke pohon, terus minta diderek ke kantor. Mobil anda memang penyok, tapi yang penting khan bensin di mobil masih utuh.
10. Carilah Pom Bensin yang lagi gelar Discount atau Sale. Dijamin nggak bakalan nemuin, lagian bensin anda keburu habis.
11. Belilah BBM dengan Mata Uang Dollar. Bayangkan anda sedang berada di Amrik, pasti rasanya murah.
12. Gantilah bensin dengan Minyak Tanah atau Minyak Tawon. BBM anda akan tetap awet, karena anda nggak kemana-mana.
13. Taruh mobil anda di jalanan tanpa dikunci. Anda nggak perlu repot-repot mikirin BBM lagi.