Mungkin tidak ada korelasi langsung antara bulan Ramadan dengan kemacetan lalu lintas. Tidak serta merta jika bulan Ramadan tiba, lalu lintas akan sepi kemudian jalanan lengang. Toh bulan Ramadan tidak membuat semua aktivitas berhenti. Kantor atau sekolah mungkin libur sehari atau dua, namun tidak libur selama Ramadan. Ada juga beberapa kantor yang menetapkan jam kerja fleksibel selama Ramadan. 

Namun dua minggu ini, masih saja ada yang berusaha menghubungkannya. Ketika dalam dua minggu kerja Ramadan tahun ini, lalu lintas menuju Semanggi macet pada pagi hari. Sebagian menghubungkannya dengan pekerja yang berlomba menggunakan kendaraan pribadi. Mungkin selama ini menggunakan kendaraan umum, akhirnya menggunakan kendaraan pribadi demi mengejar waktu shalat taraweh yang dilaksanakan setiap malam Ramadan. Atau ada yang menghubungkannya dengan jam keberangkatan yang beragam, sebagai akibat dari fleksibelnya waktu kerja.

Mungkin tidak berhubungan langsung dengan hal tersebut, terasa memang dua minggu ini lalu lintas pada pagi hari terasa lebih macet dari biasanya sebelum Ramadan. Entah jika dibandingkan dengan masa jauh sebelum Ramadan tahun ini. Aku tidak memiliki data pembanding lengkap. Untuk lalu lintas dari Cawang menuju Semanggi/Slipi [jalan tol khususnya], aku melihat penyebabnya adalah pintu keluar Tegal Parang yang terletak di depan Medistra/Universitas Paramadina. Karena setelah melintasinya [melewatinya] kendaraan bisa ngebut ke arah Semanggi/Slipi. Mencoba menginventarisir, sepertinya banyak penyebab.

Pertama, Pengendara yang Kurang Tertib
Kurang lebih sebulan terakhir, pintu keluar Pancoran yang terletak di depan kantor pusat Bukopin ditutup karena ada pekerjaan pembangunan flyover Pancoran yang dari arah Cawang. Bisa jadi mereka yang tadinya menggunakan pintu keluar tersebut beralih keluar di Tegal Parang. Ditambah mereka yang biasa keluar Tegal Parang, antrian panjang tidak terhindarkan. Selain itu, kebiasaan pengendara yang tidak tertib turut memperparah kemacetan. Bukan rahasia lagi jika banyak yang menggunakan bahu jalan. Sejak dari Cawang, mungkin hal tersebut sudah dilakukan. Pengguna bahu jalan ini yang akan kaget dengan antrian keluar Tegal Parang. Setelah itu mereka akan berusaha berpindah ke lajur paling kiri yang akan mengagetkan dan memperlambat mereka yang sebelumnya ada di lajur paling kiri. Begitu seterusnya berakibat pada jalur sebelahnya sampai lajur paling kanan.

Kedua, Alur Lalu Lintas yang Semrawut
Bicara mengenai pintu keluar Tegal Parang, sebenarnya ada masalah lagi. Sekitar pintu keluar tersebut merupakan pertemuan dari beberapa arus lalu lintas. Selain kendaraan yang keluar dari tol, jalur tersebut juga digunakan oleh kendaraan yang melintas arteri Gatot Subroto [menuju Kuningan/Semanggi] dan kendaraan yang keluar dari Tendean arah Bank Mega/Mampang. Ditambah lagi jalur busway [plus] yang bersinggungan dengan mereka yang akan menggunakan flyover untuk menuju Semanggi/Slipi. Terbayang betapa runyamnya lalu lintas daerah itu. Pertemuan beragam arus lalu lintas tersebut memperlambat kendaraan yang keluar tol di Tegal Parang. Kondisi ini harus ditambah dengan kondisi sebagaimana penyebab pertama. Runyam!

Ketiga, Pembangunan Jalan Tambal Sulam
Kita sudah mahfum bahwa penataan kota Jakarta terutama jalan raya agak semrawut. Seperti tidak dibangun berdasarkan rencana besar [master plan]. Jalan seolah tumpang tindih. Seperti tambal sulam. Karena ternyata macet, dibangunlah flyover Kuningan dan Pancoran [dari arah Semanggi]. Setelah itu dibangunlah flyover pada lokasi sama dari sisi sebaliknya. Saat ini bahkan ditambah dengan under pass dari Mampang menuju Kuningan. Khusus pembangunan flyover pada dua titik itu [dan beberapa titik lain], kebetulan bersinggungan dengan pintu masuk atau pintu keluar tol. Pintu masuk depan Wisma Dirgantara dan pintu keluar Tegal Parang jika dari Cawang. Sisi sebaliknya, pintu masuk Tebet jika dari arah Semanggi. Pertemuan dua jalur mengakibatkan adanya perlambatan kendaraan yang bertemu. Perlambatan kendaraan mengakibatkan kemacetan di belakangnya. Menurut aku solusi yang bisa dilakukan adalah memperanjang jalur naik atau turun. Agar tidak bertemu langsung dengan arus lalu lintas yang hendak masuk atau keluar tol. Namun solusi ini pasti akan mahal, karena otomatis menambah biaya pembangunan. Atau jika ingin biaya lebih murah, bisa dilakukan dengan memindahkan atau menutup pintu masuk atau keluar tol. Agar persinggungan diminimkan. Solusi murah yang entah kenapa tidak dilakukan. 

Keempat, Kesigapan Petugas
Seperti selang yang dialiri air, jika ujung keluar lebih kecil dibandingkan dengan air yang akan melaluinya, bisa dipastikan selang akan melebar menampung pasokan air. Menggunakan analogi selang, yang bisa dilakukan adalah membuat [beberapa] lubang pada selang untuk membagi arus keluar. Kesigapan petugas untuk melihat ini dan membocorkan selang dibutuhkan. Atau jika tidak mau membocorkan selang, pasokan kendaraan dikecilkan, seperti yang biasa dilakukan oleh petugas di pintu tol Semanggi 1 ke arah Cawang. Yang kerap menutup pintu masuk tol dan mempersilahkan pengendara masuk pada pintu Semanggi 2.

Untuk kasus Semanggi, hal tersebut sebenarnya bagus dilakukan, namun menurutku masih kurang tepat sasaran. Karena terkadang dilakukan tanpa koordinasi. Pintu Semanggi 1 terletak di daerah pertemuan antara tiga arus lalu lintas. Mereka yang datang dari arah Slipi, mereka yang datang dari arah Blok M [setelah naik jembatan Semanggi] dan mereka yang datang dari arah jalan Thamrin. Seandainya saja sejak dari jauh pengendara yang berasal dari Slipi sudah mengetahui bahwa pintu Semanggi 1 ditutup, menurutku antrian panjang tidak akan ada. Namun karena seringkali pemberitahuan penutupan dilakukan dan diketahui setelah berada di dekat pintu tol Semanggi 1, Runyam! Mungkin jika sejak jauh pengendara yang berencana masuk di Semanggi 1 mengetahui mereka tidak diperbolehkan masuk, arus lalu lintas bisa lebih diurai. Kepadatan bisa dicairkan. Karena tahu sejak jauh, pengendara tidak bertumpuk di sisi kanan. Bagus lagi jika mengambil jalur alternatif dan menghindarinya.

Masih di seputar Semanggi, dari arah Cawang terdapat pintu keluar yang difungsikan entah dengan pertimbangan apa. Dulu ketika awal berkantor di SCBD, pintu keluar itu selalu terbuka. Aku bahkan lupa sudah berapa lama pintu keluar itu ditutup [permanen] dan dibuka untuk beberapa waktu saja pada waktu tertentu. Padahal dengan memperbanyak pintu keluar bisa jadi solusi mengurai kemacetan dalam tol. Selain itu juga bisa mencegah kemacetan yang terjadi di depan Mapolda. Dengan ditutupnya pintu keluar depan Ditjen Pajak itu, bis yang berasal dari Cawang terpaksa keluar di depan Mapolda. Jarak antara pintu keluar Semanggi depan Mapolda dengan halte tempat menurunkan penumpang terlalu pendek. Akibatnya bis atau kendaraan yang keluar Semanggi seolah memotong lajur jika harus merapat ke halte Mapolda. Ini mengakibatkan kendaraan yang datang dari arah Cawang menuju Slipi akan tersendat. Dengan dibukanya pintu keluar Pajak itu, sebenarnya kendaraan yang hendak mengambil arah ke SCBD atau ke arah Blok M bisa masuk area SCBD. Hal tersebut mengurai sedikit penumpukan depan Mapolda. Entahlah kenapa hal tersebut tidak dilakukan. Mungkin petugas punya pertimbangan lain yang lebih jitu dibandingkan dengan analisa abal abal penumpang angkutan umum gelap [omprengan] seperti aku ini 😜

Duduk di belakang sebagai ‘kasta paling rendah’ omprengan secara tidak langsung mengajarkan atau mempertontonkan seberapa toleran seseorang.

Ketika kendaraan mulai berjalan semua penumpang mulai merogoh saku, dompet atau tas masing masing. Untuk mengambil ongkos. Penumpang depan akan langsung memyerahkan kepada supir. Penumpang tengah dan belakang akan mengumpulkan uang, menyatukannya untuk kemudian menyerahkan ke depan, kepada supir.

Dari sini pertunjukan sikap itu sudah dimulai. Siapa yang akan dengan sukarela menjadi pengutip untuk kemudian menyerahkan ke supir dan menyerahkan kembalian kepada yang lain? Selama ini selalu ada yang dengan sukarela melakukannya. Biasanya adalah dia yang uangnya paling besar (lima puluh atau seratus ribu misalnya). Proses itu sepertinya alami saja. Karena dia butuh uang kecil milik penumpang lain sebagai kembalian uangnya. Proses pemilihan pengumpul selesai. Setelah itu dia akan mengatur pengembalian penumpang lain (jika ada). Untuk bagian belakang sebagai contoh, dia akan mengembalikan lima ribu jika ada yang menyerahkan dua puluh ribu. Atau tiga puluh lima ribu jika ada yang menyerahkan lima puluh ribu. Demikian seterusnya.

Jika semua telah terkumpul dan uang yang terkumpul lebih banyak dari yang seharusnya, dia akan menggeser ke depan uang tadi sambil menyebut kembalian yang dibutuhkan warga belakang beserta nominal yang dibutuhkan. Kembali sepuluh ribu, kembali enam puluh ribu receh (karena uang yang disetor ke depan terdiri dari tiga lima puluh ribuan). Si pengumpul biasanya mendahulukan kembalian penumpang lain daripada kembalian buat dirinya sendiri.

Biasanya lagi, sang pengumpul akan menunggu kembalian dari depan setelah supir menyerahkan. Entah karena memang supir menyediakan uang kecil atau setelah ‘menukar’ di dua pintu tol yang dilalui. Barulah sang pengumpul bisa tenang melanjutkan aktivitasnya seperti tidur, mendengar musik, membaca dan seterusnya. Sementara penumpang lain yang uangnya sudah kembali kadang sudah asyik sendiri bahkan mungkin sudah tidur.

Pagi ini tergelitik dengan kelakuan penumpang sebelah kiriku. Dia mengantongi kembalian uangnya terlebih dahulu baru kemudian menyerahkan seratus lima puluh ribu ke depan. “Kembali enam puluh” katanya untuk kemudian asyik dengan gawainya. Sepertinya mengabaikan enam puluh ribu kembalian milik penumpang lain. Entah karena merasa aneh dengan sikap si bapak pengumpul atau karena memang tulus, bapak yang duduk di depan pengumpul mengucap terima kasih kepada bapak pengumpul di sebelahku, bukan kepada ibu depan yang menyerahkan kembalian. Aku membacanya semacam sindiran.

Selain contoh di atas yang aku saksikan pagi ini, pernah juga seorang wanita yang terlihat dari bahasa tubuhnya sangat enggan mengambil peran sebagai pengumpul. Uang seratus ribu miliknya seolah dilepas dan justru disorongkan kepada penumpang lain yang terlebih dahulu menyerahkan lima belas ribu padanya. Akhirnya teori bahwa pemilik uang pecahan terbesar secata otomatis akan dipatahkan. Si mbak pemilik uang seratus ribu tadi, dengan santai akan melanjutkan aktivitasnya. Bukan merias wajah padahal. Kegiatan yang menurutku membuatnya menolak peran sebagai pengumpul. Dia memasang alat bantu dengar dan mengalunlah musik indah dari gawainya ☺️

Minggu lalu sekali aku mendapat tugas sebagai pengumpul. Berlima diantara penumpang belakang kami telah mengumpulkan uang. Aku sudah mengembalikan semua kembalian yang seharusnya. Sudah menyerahkan ke depan. Selang beberapa saat seorang ibu dengan gelagapan menyerahkan uang. Aku hanya menjawab, “Langsung ke depan saja bu. Kami sudah” diapun menyerahkan uang seratus ribu ke depan. Kami yang telah selesai dengan kembalian, asyik dengan kegiatan masing masing. Beliau masih menunggu kembalian di pintu tol Halim.

Kenapa sebagai pengumpul aku mengabaikan si ibu? Semata ingin memberi pelajaran. Dalam proses yang cukup waktu (sejak omprengan bergerak hingga hampir mencapai gerbang tol Jatibening) si ibu dengan asyiknya tetap bermain dengan gawainya. Ketika dalam ruang belakang mobil yang tidak sampai dua meter persegi itu sedang melakukan kegiatan mengumpul uang dia tidak peduli. Memang aku sengaja tidak menagih padanya. Aku kan pegawai Bursa!! Bukan kernet yang menagih ongkosnya 😀

Yang juga menarik dan harus disaksikan sendiri (hanya realita ditambah imajinasiku semata ☺️) adalah proses awal ketika omprengan mulai berjalan. Berenam kami di belakang akan saling mengintai. Uang siapa yang paling besar pecahannya. Untuk kemudian kepadanyalah kami serahkan beban sebagai pengumpul.

Pernahkah melintas jembatan bundaran Semanggi? Pernah memperhatikan rambu sekitarnya? Jika pernah, pasti paham bahwa Bundaran Semanggi tertutup bagi kendaraan roda dua sebelum pukul 22.00. Kendaraan roda dua hanya diperkenankan melintasinya pukul 22.00-06.00 keesokan harinya.

Jika sering melintasinya, mungkin pernah melihat pemandangan satu atau dua motor yang diberhentikan polisi pada bundaran (arah naik maupun turun) Semanggi ketika mereka melintas bukan pada jam yang telah ditentukan. Hal mana tidak terjadi ketika ada motor polisi melakukan hal sama. Baik polisi yang sedang mengenakan seragam maupun yang tidak (dia polisi atau bukan, terlihat dari atribut semisal sepatu yang dikenakan).

Ketika pelakunya adalah warga biasa, hampir pasti akan diberhentikan oleh polisi. Karena sepanjang yang aku amati, jarang sekali bundaran itu tidak dijaga oleh petugas polisi. Dapat dipastikan, proses selanjutnya adalah pengenaan sanksi kepada si pengendara motor. Kesalahan yang dikenakan adalah melanggar rambu lalu lintas. Terbitlah surat bukti pelanggaran.

Yang menimbulkan rasa penasaran adalah saat ada polisi, entah yang berseragam [sedang bertugas] atau tidak melintas ruas jalan yang sama pada waktu yang sama, perlakuannya berbeda. Mungkin ada dalih ketika hal tersebut dilakukan petugas berseragam. Bahwa beliau sedang bertugas dengan demikian berhak melanggar rambu. Namun ternyata hal tersebut berlaku bukan hanya untuk polisi pengendara motor yang sedang bertugas. Ketika ada polisi yang sedang tidak bertugas [terlihat dari pakaian dan perlengkapan yang digunakan] melakukan hal sama, tidak terlihat adanya proses pemberhentian yang disertai pengenaan bukti pelanggaran sebagaimana jika hal tersebut dilakukan bukan oleh polisi.

Untuk kasus bundaran Semanggi, jargon ‘ini negara hukum dan semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum’ yang selalu dikemukakan seolah hanya sebatas jargon. Sepanjang yang aku perhatikan, rambu lalu lintas pada bundaran Semanggi [mungkin juga di wilayah lain] tidak pernah memberi lambang bintang kecil di bawah rambunya. Untuk kemudian menuliskan kalimat dengan font tak kalah kecil sehingga hampir tidak terlihat, bertulis rambu ini tidak berlaku bagi polisi yang sedang bertugas maupun yang tidak bertugas.

Polisi adalah aparat penegak hukum. Tugasnya [sedapat mungkin] memastikan tidak terjadi pelanggaran hukum. Jika dugaan pelanggaran hukum terjadi, polisi yang bertugas menetapkan dugaan bahwa seseorang telah melanggar hukum untuk kemudian pengadilan akan memutuskan benar tidaknya adanya pelanggaran hukum, dan kemudian menjatuhkan sanksi atas pelanggaran yang terjadi. Apa mungkin karena ketika disumpah menjadi polisi, mereka disumpah untuk berlaku sebagai penegak hukum selama 24 jam dan 7 hari seminngu. Dengan demikian, alasan bahwa mereka tidak melanggar hukum ketika mereka menabrak rambu yang ada, dapat diterima? Sepertinya tidak.

Untuk kasus pelanggaran rambu, pasal 29 ayat (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan mengatur “Rambu larangan digunakan untuk menyatakan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh Pengguna Jalan” manakala pasal 1 butir 12 PP yang sama mengatur “Pengguna Jalan adalah orang yang menggunakan Jalan untuk berlalu lintas”. Dengan demikian, mengingat bahwa polisi adalah orang, sudah selayaknya mereka juga taat pada rambu yang ada. Agar posisi sebagai penegak hukum tetap memiliki arti. Apalah jadinya jika disebut penegak hukum namun sering melanggar hukum?

Order-Suryo
Untuk pertama kali aku mencoba Go-Jek pulang. Sebelumnya merasa gak tega kepada tukang ojeknya. Karena harus engantarku pulang ke ‘Planet Lain’ :-). Terbukti pengendara pertama yang ‘menangkap’ pesananku, menelepon dan bertanya apakah aku bersedia menunggu beliau yang dari arah seberang FX plaza. Sembari bertanya di daerah mana alamat tujuanku. Setelah aku beri tahu, beliau meminta maaf tidak bisa melayani pesananku karena tujuan terlalu jauh. Tahu diri dan dengan senang hati aku jawab, “tidak masalah pak” untuk kemudian membatalkan pesanan.

Segitu jauhnya daerah tujuan sampai seorang teman yang kebetulan melintas halte juga setengah tak percaya ketika aku beritahu sedang menunggu Go-Jek sebagai kendaraan pulang. “Ngojek ke Bekasi bang?” tanyanya. “Bukan. Ke Jatibening” sahutku 🙂

Akhirnya aku terima sms. Mengabarkan kalau seorang pengendara Go-Jek baru melintas di depanku dan diusir oleh security gedung.
sampai

Bukan hal aneh di gedung itu. Sudah beberapa kisah aku dengar, pengendara Go-Jek dipersulit di gedung ini. Mulai dari diusir dari halte sampai dipersulit masuk gedung untuk mengantar pesanan layanan Go-Send.

Aku balas sms pengendara Go-Jek, yang belakangan aku tahu bernama Suryo Pamungkas. Aku sebut belakangan, karena notifikasi beliau sebagai pengendara Go-Jek yang menangkap pesananku, baru bisa aku buka setelah di rumah. Mungkin lalu lintas data pada saat jam pulang sedang ramai sehingga kesulitan mendapat pesan apakah pesananku telah ada yang menangkap atau belum. Aku ketahui belakangan juga karena ada beberapa telepon dari nomor tidak terdaftar yang masuk.

Akhirnya pak Suryo memutar Pacific Place untuk menjemputku di halte. Sambil mengeluarkan helm beliau meminta maaf terlebih dahulu jika nantinya dalam berkendara aku kurang nyaman. Aku jawab tidak masalah sembari bertanya apakah beliau setuju dengan tujuan pengantaran. “Tidak apa” jawabnya. Jadilah aku diantar oleh beliau. Menyusur (sedikit) kemacetan Tendean dan Kalimalang yang sedang berantakan karena pembangunan jalan layang, aku pulang menumpang Go-Jek. Kuakui memang pak Suryo mengendara dengan pelan. Tidak masalah buatku karena aku sedang tidak mengejar waktu. Sembari menikmati suasana jalanan kota Jakarta lewat ojek. Beberapa kali ojek menemui jalan sulit. Setiap kali juga pak Suryo meminta maaf atas ketidaknyamanan yang aku alami. Dan selalu aku jawab “tidak apa pak”.

Sampai depan rumah, sembari turun dari ojek dan membuka helm, aku yang minta maaf kepada Pak Suryo. Mengingat perjalanan yang cukup jauh dari SCBD ke rumah. Katanya ini belum seberapa karena sebelumnya beliau pernah mengantar penumpang ke Priok yang mencapai batas maksimum pengantaran Go-Jek (25km). Sambil beliau bilang kalau beliau menyediakan kembalian ongkos seandainya dibutuhkan. Aku bilang tidak perlu sambil menyerahkan Rp25.000,-

“Banyak banget lebihnya pak”, katanya. “Tidak apa pak” sahutku. “Saya senang karena pertama kali naik Go-Jek pulang”. Sambil bilang bahwa tadinya agak sulit bagiku mendapat Go-Jek. Dan sepertinya ketika sudah naik ojek beliau ada beberapa panggilan yang aku terima yang sepertinya berasal dari pengendara yang menangkap pesananku. Hal tersebut membuat beliau sedikit kaget. “Lho, tadi Bapak sedang mengunggu ojek lain?” tanyanya. “Tidak apa pak. Mungkin sudah rejeki Bapak”. Aku menduga dia merasa gak enak dengan sesama pengendara Go-Jek.

Selesai meletakkan tas, aku terima sms dari pak Suryo. Ada syukur yang dituliskannya. Ada doa yang disampaikannya dalam sms tersebut. Terharu membaca isinya. Seketika aku membalas smsnya. Ucapan terima kasih dan pesan berhati hati.
terima kasih1
Tidak lama aku menerima sms masuk. Bukan dari beliau. Namun dari penyedia jasa layanan telepon yang menginformasikan ada pesan yang dikirim dari nomor pak Suryo namun karena pulsa beliau tidak mencukupi, kepadaku ditawarkan apakah bersedia membayar biaya pengiriman sms balasan dari pak Suryo tersebut. Tanpa pertimbangan aku bayar pulsa beliau yang tak seberapa itu. Sambil tak lupa memberi lima bintang untuk layanan yang diberikan.
YES
jawab
Pengalaman pertama menumpang Go-Jek mengajarkanku banyak hal. Bahwa berbagi kebahagiaan tidak perlu dengan biaya mahal. Bahwa bersyukur tidak perlu menunggu rejeki besar. Bahwa layanan prima tidak butuh fasilitas mahal. Bahwa berbagi bisa kita lakukan kapan saja. Bahwa di Jakarta masih banyak pribadi hebat.

Terima kasih pak Suryo ❤

Menyebar lewat media sosial, aksi heroik pesepeda menghentikan iringan pemotor gede. Umpatan menyeruak kepada pemilik motor gede. Seolah merekalah pesakitannya. Hingga lupa kadang kita kerap berada pada situasi sama dengan pemotor gede.
Kita lupa, juga kerap melanggar aturan. Hanya ketika tak ada yang mengawasi. Ketika tak jelas apa sanksinya. Dengan sadar. Dengan dalih yang hanya kita sendiri pemiliknya.

Menerobos lampu merah hanya karena jalanan sepi. Melintas bahu tol semata agar berada di antrian terdepan. Menerobos antrian masuk tol atau melintasi garis tak putus demi tujuan sama. Pengiring mobil pejabat ngiung ngiung meminta jalur kosong di jalan tol padat tak tekira dengan dalih urusan negara (padahal mungkin dia melakukannya ketika hendak pulang bertemu keluarganya). Bis dan truk seenaknya berpindah jalur, ketika rambu tol mengatakan mereka harus mengambil lajur paling kiri. Angkutan kota seenaknya berhenti bukan pada tempatnya. Bahkan untuk waktu lama.
Daripada bis, truk atau angkot, polisi lebih suka memberi tilang kepada mobil pribadi. Daripada motor bebek yang kadang pengemudinya lebih ingat menggunakan helm (kalaupun menggunakan helm) daripada otaknya, polisi tetap memilih menghukum mobil pribadi.
Kita kerap lupa, kitapun suka meniru pemotor gede di Jogja itu. Dengan senyum sumringah melanggar rambu lalu lintas ketika berada pada komunitas mirip. Komunitas motor (kecil atau besar), komunitas mobil (kuno, sederhana atau mewah), komunitas sepeda, komunitas lari, komunitas jalan kaki. Hanya karena kita dikawal polisi 😀
Siapa salah? Kita semua. Tak usah mencari kambing hitam. Hari ini ramai besok lusa terulang lagi. Tanpa perbaikan. Katanya karena bangsa kita pendek ingatan.
Penegak hukum masih pandang bulu. Pengguna jalan masih gak mau tahu. Dan kita masing masing setia dengan keadaan itu.
Merdeka bukan berarti bebas semaunya. Bukan itu yang diinginkan pendiri bangsa ini.