Media sosial ‘baru’ itu bernama Clubhouse. Disebut ‘baru’ karena meskipun naik daun awal tahun 2021, ternyata aplikasi ini sudah ada sejak tahun 2020. Pada level global, menjadi perhatian pada awal 2021 karena kemunculan Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX dalam aplikasi Clubhouse. Untuk ukuran lokal, ketenaran clubhouse di Indonesia terpicu kemunculan Wishnutama yang mantan menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang saat itu menjabat Komisaris Utama Telkomsel, hadir dalam salah satu diskusi berjudul “Ngobrol seru bahas startup” di Clubhouse pada 12 Februari 2021.

Sama dengan media sosial lain, pengguna clubhouse juga saling mengikuti (follow). Perbedaannya, platformnya, kalau twitter berbasis text, instagram berbasis gambar, atau gabungan keduanya (facebook), clubhouse berbasiskan suara. Pesertanya berinteraksi menggunakan suara. Seperti ngobrol saja. Perbedaan lainnya adalah menjadi pengguna clubhouse tidak dapat dengan serta merta dilakukan setelah mengunduh aplikasinya. Keberadaan kita harus dinominasikan oleh mereka yang telah menjadi pengguna terlebih dahulu. Selain itu pada awalnya clubhouse hanya tersedia pada aplikasi berbasis IOS milik apple. Baru pada bulan Mei 2021, pengguna Andorid bisa bergabung dan penggunanya pun menjadi lebih ramai.

Sebagai langkah awal, seorang pengguna baru akan diberitahu bahwa nomer kontak mereka adalah pengguna clubhouse. Setelah itu proses saling mengikuti terjadi. Selanjutnya ketika seorang pengguna ingin memulai, pada layar awal yang terlihat adalah ruang bicara yang muncul berdasarkan topik apa yang kita pilih ketika mulai clubhouse. Topik teknologi, olah raga, seni, keuangan dan sebagainya. Selain itu ruang bicara yang muncul adalah ruang bicara yang sedang diikuti oleh mereka yang kita follow.

Ketika tertarik dengan judul atau topik satu ruang bicara, kita bisa bergabung sebagai pendengar. Ketika tertarik untuk nimbrung sebagai pembicara kita bisa mengajukan diri (dengan mengangkat tangan) atau diundang oleh pembicara yang ada di ruang tersebut untuk naik sebagai pembicara. Disebut naik karena pada clubhouse, pembicara dan pendengar dipisah posisinya. Pembicara berada di atas ruang bicara sementara ‘pendengar’ berada di bawah. Ketika pada akhirnya kita merasa tidak tertarik akan topik pembicaraan, baik ketika sebagai pembicara maupun sebagai pendengar, kita bisa meninggalkan room tersebut. Mirip dengan di dunia nyata saja. Kalau ada sekumpulan orang yang sedang ngobrol, pada suatu tempat, kita bisa nimbrung untuk kemudian meninggalkannya.

Semakin hari, sepertinya clubhouse tidak seramai awal 2021. Entah karena sifatnya ekslusif di awal atau memang berbincang tidak semenarik berbagi text atau gambar. Meskipun sudah ada perluasan platform (dari hanya IOS ke Android) sepertinya tidak menolong. Terpikir apakah aplikasi ini akan mengikuti jejak (almarhum) path, yang akhirnya bubar karena pembatasan-pembatasan yang ada. Mungkin ini akan diuji dalam beberapa bulan ke depan. Karena per 22 Juli 2021, perluasan pengguna juga dilakukan oleh pengembang aplikasi. Karena katanya sudah tidak versi beta lagi, sekarang semua orang bisa langsung menjadi pengguna tanpa harus dinominasikan oleh pengguna sebelumnya.

Sudah kurang lebih dua puluh bulan sejak pemerintah China mengumumkan kasus COVID-19 pertama kali terjadi pada 17 November 2019. Kurang dari setahun, penyakit yang diakibatkan oleh virus bernama resmi Sars-Cov-2 ini menyebar ke seluruh dunia. Penyebaran yang begitu cepat, dampak yang begitu luas membuat akhirnya ditetapkan sebagai pandemi (pandemi/pan·de·mi/ /pandémi/ n wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas). Hampir semua negara di dunia mengalami.

World Health Organization (WHO), badan Perserikatan Bangsa Bangsa yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional, memberi perhatian khusus. Perusahaan farmasi berlomba dalam menemukan penangkalnya (vaksin). Angka statistik mereka yang terpapar, mereka yang dirawat, mereka yang menjadi korban, mereka yang sembuh seolah menjadi akrab dengan kita. diumumkan setiap hari, dibicarakan berbagai kalangan dan usia.

Untuk Indonesia, tanggal 2 Maret 2020 dianggap sebagai tanggal masuknya virus tersebut ke Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan diumumkannya dua warga yang berdomisili di Depok diketahui positif mengidap virus SARS Cov-2. Ini merupakan kasus pertama yang ditemukan di Indonesia. Kedua pengidap Covid-19 itu memiliki riwayat berinteraksi dengan warga negara Jepang yang diketahui lebih dulu menderita penyakit tersebut. Namun demikian, banyak pejabat (pemerintah) yang mengeluarkan pernyataan yang seolah menafikan keberadaan dan dampak virus tersebut. Beberapa menyampaikan bahwa kondisi akan baik-baik saja. Bahkan ada yang membuatnya menjadi kelakar :-(. Dari satu sisi mungkin bisa dipahami. Tujuannya untuk encegah kepanikan. Bahwa kita harus jernih meilhat masalah sebelum mencari solusi penanggulangannya. Namun pada sisi lain (entah benar atau tidak), hal tersebut ternyata membuat kita abai.

Pada awal pandemi beberapa negara mengetatkan pergerakan warga negara mereka. Termasuk kunjungan ke negara kita. Hal tersebut sempat membuat daerah tujuan wisata kita sepi. Pemerintah bergerak cepat. Atas nama pertumbuhan ekonomi, insentif diberikan agar sektor pariwisata tidak berdampak. Para penggaung yang dianggap pro pemerintah bahkan melakukan langkah blunder. Menganggap mereka yang membiacarakan Coronavirus dan Covid sedang menyebar issue. Sangat disayangkan. Meski pada saat bersamaan pemerintah akhirnya menetapkan dampaknya sebagai Bencana Nasional Non Alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana diberi tugas untuk mengatasinya. Jenderal Doni Monardo menjadi panglima penanganan. Isitlah baru dikampanyekan. Tiga M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Bersama dengan praktik tiga T (tracing, testing, treatment).

Seiring berjalannya waktu, pemerintah tidak tinggal diam. Perangkat hukum disiapkan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 diresmikan DPR sebagai undang-undang (UU). Perppu tersebut berisi tentang Kebijakan Keuangan dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan Covid-19. Pembatasan Pejabat negara setingkat menteri diberi tugas untuk berkeliling mencari vaksin. Sebuah upaya yang tidak mudah sebenarnya. Selain karena penyakitnya baru, dan vaksin masih dalam porses pembuatan, jumlah kebutuhan vaksin negara ini ternyata cukup besar mengingat jumlah penduduknya. Data menunjukkan kekebalan kelompok (herd immunity) akan tercapai ketika setidaknya 60-70 penduduk sudah mendapatkan vaksin. Bantuan sosial pun diberikan kepada mereka yang terdampak. Meskipun untuk ini ternyata masih ada pejabat yang tega berbuat curang dan mencari keuntungan :-(.

Beruntung kesigapan pemerintah membuahkan hasil. Mendahului banyak negara, secara bertahap vaksin pesanan kita berdatangan. Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang farmasi diberi mandat untuk memproduksi vaksin. Agar ketergantungan akan vaksin dari luar segera teratasi. Selain itu BUMN dan tentara juga ditugaskan untuk membangun fasilitas kesehatan tambahan. Karena untuk mengantisipasi menaiknya jumlah korban. Beberapa sarana milik pemerintah dialihfungsikan menjadi fasilitas kesehatan. Lahan kosong milik negara dibangun rumah sakit yang dikerjakan oleh BUMN karya.

Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil. Angka statistik menunjukkan trend menurun. Seiring dengan hal tersebut, persiapan menghadapi kondisi baru mulai dilonggarkan. Demikian juga pelonggaran penerbangan keluar dan masuk negara ini. masyarakat dibiarkan menentukan kenormalan baru buat dirinya sendiri. Musim lebaran tiba. Silang pendapat permainan kata-kata mulai dipertontonkan. Mudik tidak dilarang, hanya diimbau untuk tidak dilakukan. Atau dengan bentuk setengah hati muncul istilah, mudik dilarang namun wisata diperbolehkan.

Lebaran tahun 2021 menjadi semacam tontonan pertarungan opini di masyarakat. Mereka yang pro kenormalan baru melenggang di jalanan, berkerumun di daerah wisata. Atas nama silaturahmi dan bosan di rumah saja menjadi pilihan. Toh sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes), begitu mereka beralasan. Mereka yang masih berpikir bahwa kenormalan baru belum waktunya diterapkan, memaki mereka yang berkerumun. Banyak beredar foto kerumunan di berbagai tempat. Mereka yang berkerumun disebut covidiot.

Gabungan pelonggaran dan ketidakpedulian membuat negara ini harus mengalami gelombang kedua (second wave). Mirip dengan apa yang terjadi di negara India. Ditambah lagi adanya varian Delta yang konon berasal dari India dan memiliki daya tular tujuh kali lebih cepat dari varian awal. Bulan Juni dan Juli menjadi puncaknya. Angka statistik menunjukkan rekor tertingginya. Jumlah mereka yang terpapar semakin menggila. Termasuk tingkat kematian.

Keadaan menjadi lebih mencekam. Lelayu yang dahulu dibaca melalui media, sekarang semakin dekat. Terbaca melalui pesan whatsapp pertemanan dan keluarga. Instagram story yang dahulu berisi foto makanan atau perjalanan wisata, kini berisi permintaan tolong donor plasma konvalesen. Perburuan ruang rawat rumah sakit beredar pada berbagai kelompok percakapan whatsapp. Cerita kesulitan mencari obat menjadi berita biasa. Kelangkaan obat menjadi berita biasa. Ragam cara menanggulanginya beredar. Termasuk yang berakibat perburuan susu beruang. Bisa dipahami, di tengah kepanikan akan penyakit yang belum ada obatnya.

Akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan baru. Disebut Pembatasan Kegiatan Masyarakat (disingkat dengan PPKM). Keadaan darurat diterapkan di pulau Jawa dan Bali. Dikomandani oleh Menko Luhut. Untuk daerah lain diterapkan PPKM (tanpa darurat) dan dikomandani oleh Menko Hartarto. Namun ternyata menimbulkan masalah baru. Penyekatan jalan dan pembatasan aktivitas mendapat respon yang mungkin sudah diduga sebelumnya. Belum lagi pada tingkat pelaksanaan masih ada perbedaan yang terjadi. Ada aparat yang menerapkan peraturan dengan cara simpatik dan mendapat pujuan. Namun tidak sedikit aparat yang tidak pandang bulu menegakkan peraturan. Gesekan terjadi.

Apa yang bisa dilakukan sekarang? Mungkin sudah saatnya kita bersama menyadari. Bahwa ini bukan soal urusan pemerintah atau rakyat semata. Sudah menjadi urusan bersama. Ini musuh bersama. Mungkin memang tidak kelihatan. Tapi bisa kita hadapi kalau bersama. Tetaplah kembali pada semangat gotong royong.

Pemerintah sudah menyiapkan jutaan dosis vaksin. Tahapan pelaksanaan sudah ditetapkan. Semakin kesini juga vaksinasi atau imunisasi sudah dibantu banyak pihak (swasta). Semakin banyak titik yang bisa dipilih. Pelebaran rentang penerima juga sudah dilakukan. Awalnya kepada usia di atas 60, sekarang penduduk di atas 12 tahun sudah bisa menerima vaksin. Meskipun banyak pilihan vaksin tersedia, bukan saatnya memilih dan membandingkan vaksin mana yang terbaik. Karena dalam kondisi pandemi seperti sekarang, vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia untuk disuntikkan.

Bersamaan dengan itu, penerapan prokes bukan lagi sekadar tiga M. Sekarang sudah menjadi lima M dengan tambahan menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Mengurangi mobilitas mungkin hal yang paling sulit dilakukan. Namun sesulit apapun harus dilakukan untuk melandaikan kurva. Mereka yang sehari-hari masih harus melakukan mobilitas untuk mencari makan mungkin bisa diberi kebebasan. Namun haruslah diingat tetap dengan prokes yang ketat. Terutama menghindari kontak dengan orang lain. Karena hal tersebut bisa meminimalkan perpindahan virus. Untuk mereka yang masih bisa di rumah saja, bisa membantu dengan menyebarkan berita baik atau bergandeng tangan (bukan dalam arti sebenarnya) untuk membantu korban atau mengingatkan lingkar sekitar. Atau melakukan aktivitas ekonomi seperti berbelanja atau menggunakan layanan pesan antar untuk membantu mereka yang terkena pembatasan mobilitas.
Dengan demikian, Indonesia akan bisa pulih lebih cepat.

Duduk sendiri menatap purnama, perempuan itu mendesah. Entah sudah untuk kali keberapa. Ragam perasaan berkecamuk di dalam dada. Tak ada satupun yang nyaman buatnya.

Dia baru menyadari bahwa pilihannya salah. Apa yang dulu selalu dia agungkan tak seindah yang dibayangkan. Padahal untuk itu dia telah meninggalkan seorang lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Hanya karena lelaki itu bermulut lancang. Banyak hal, bahkan persoalan kecil bisa membuat lelaki pertamanya mengumbar serapah dengan gampang.

Sampai akhirnya dia menemukan lelaki lain. Yang santun bicara pintar merangkai kata. Tanpa banyak pertimbangan, perempuan itu memilihnya. Hari hari mereka jalani berdua. Sampai beberapa lama. Hingga akhirnya terkuak semua. Lelaki kedua ternyata lebih busuk dari yang pertama. Tidak ada apa apanya dibanding cinta pertama.

Lelaki pertama memang kasar berbicara. Namun dia bisa memanjakannya. Memberi kado entah sudah berapa. Beberapa kali mengajaknya tamasya ke manca negara. Selain romantis, lelaki pertama acap memperlakukannya bak putri raja.

Perempuan itu kembali mendesah, membayangkan semua.

Sementara dari lelaki kedua dia sering hanya merasa derita. Alih alih memberi kado, darinya si perempuan hanya mendapat nestapa bahkan air mata. Kata manis dan laku santun dulu, menguap entah ke mana.

Beranjak dari menatap purnama, perempuan itu beralih menatap kakinya. Menggoyangkan keduanya, membayangkannya seolah neraca. Kaki kiri adalah lelaki pertama. Yang kain lelaki kedua. Sampai ketika dia menatap arloji di pergelangan tangannya. Dia tersadar telah cukup lama duduk di sana. Gerobak pedagang makanan yang tadi ramai, hanya tinggal beberapa.

Diapun berdiri dan melangkah meninggalkan bangku. Berjalan tanpa ragu. Bahwa dia menyesal telah meninggalkan yang pertama. Meski kasar, cinta pertama ternyata baka. Sementara yang kedua hanya manis di mulut saja.

dari Timur Jakarta.

Kesamaan nama dan peristiwa hanya kebetulan belaka 😛😜😝


Sepanjang yang aku ingat, kariernya dimulai dari Indosiar. Kalau tidak salah beliau adalah penggagas acara Gebyar BCA. Ragam Pertunjukan (Variety Show) yang disponsori oleh BCA, bank yang saat itu terafiliasi dengan televisi Indosiar.

Pada masanya, bentuk Gebyar BCA sedikit berbeda dengan acara huburan lain di televisi. Menggabungkan nyanyi, wawancara dan ragam hiburan lain seperti sulap. Seingatku, acara itu lumayan berhasil. Mungkin karena perbedaan bentuk itu atau (artis) pengisi acaranya. Saat itu beliau adalah pengarah acara. Kurang paham juga apakah selain pengarah acara, beliau juga bertindak sebagai produser. Yang menentukan bentuk acara dari awal sampai disajikan kepada pemirsa.

Lepas dari Indosiar, Wishnutama nama anak muda itu, pindah ke televisi milik Chairul Tanjung (CT) konglomerat muda yang memulai bisnis konglomerasinya dari sebuah bank (Bank Mega). Di Trans TV lah, kariernya menanjak. Dimulai sebagai pengarah acara hingga memimpin dua televisi milik CT (Belakangan CT membeli TV7 milik Kompas Gramedia dan mengubah namanya menjadi Trans7).

Pada masa Tama (mas Tama, begitu beliau selalu disapa, dan sepanjang yang aku tahu beliau lebih suka disapa mas dari Bapak. Bahkan oleh anak buah sekalipun) duo Trans berjaya. Seolah menyalip televisi lain yang lebih dahulu berdiri. Apalagi waktu itu, manajemen Trans diperkuat juga oleh Ishadi SK. Mantan Direktur Televisi di Departemen Keuangan. Yang ketika menjadi kepala stasiun TVRI Jogja, juga membuat gebrakan di televisi stasiun daerah itu.
Kejayaan duo Trans justru bukan diperoleh dengan membeli program buatan Amerika Serikat atau Amerika Latin, kiblat televisi waktu itu. Justru oleh ragam acara buatan dapur sendiri (In House Program). Sepanjang yang aku ingat, dimulai dari Extravaganza yang berbentuk komedi situasi, Empat Mata (belakangan berubah menjadi Bukan Empat Mata karena kena semprit Komisi Penyiaran Indonesia), sampai Opera Van Java.

Acara berjaya, rating naik, iklan mengantri, jabatan Direktur Utama, tidak lekas membuat Tama berpuas diri. Dalam usia yang masih terhitung muda, Tama mengundurkan diri dari duo Trans. Banyak yang kaget ke televisi mana akhirnya dia berlabuh. 

Sampai akhirnya publik menyadari, dia membangun NET bersama Agus Lasmono, pemilik group Indika yang kebetulan putra dari Sudwikatmono yang dikenal sebagai raja bioskop (lewat jaringan 21). Kedua anak muda inilah yang membangun NET tiga tahun terakhir.

Di NET semua ide dan kreativitas seorang Tama dituangkan bebas. Mungkin karena sekarang posisinya bukan hanya sebagai eksekutif. Juga sebagai pemilik. Rekrutmen tenaga kerja diumumkan terbuka. Ribuan orang melamar. Beragam media (sosial) digunakan. Karyawan yang diterima, digembleng ala militer. Mereka menggunakan seragam kemeja hitam celana khaki dan sepatu ala militer pasukan perang gurun. Soal seragam ini juga diterapkan oleh Tama ketika di Trans. Mungkin karena berlatar belakang militer (konon orang tuanya adalah militer). 

Saat itu ada kebanggaan bagi awak Trans mengenakan seragam mereka. Mungkin itu yang menginspirasi, sehingga pelan pelan semua televisi mengenakan seragam kepada awaknya. Sempat terdengar komentar miring tentang kepemimpinan ala militer itu. Namun Tama bergeming. Toh sukses bisa diraih.

Mirip dengan strategi yang dijalankan ketika di Trans, NET pun banyak menjual program besutan sendiri. Tetangga Koq Gitu, OK JEK, Ini Talkshow, The Comment hingga Teka Teki Waktu Indonesia Bercanda adalah acara andalannya. Meski beberapa ditayangkan secara striping, acara bisa bertahan lama.

Selain dari kreativitas yang seolah tak ada matinya itu, yang membuatku kagum pada anak muda itu adalah konsistensinya dalam mendisiplinkan dan membuat bangga karyawannya. Beliau tidak hanya memerintahkan untuk mengenakan seragam, namun turut serta menggunakan seragam yang dia perintahkan dikenakan itu. COOL!

Si Doel sedang meradang. Berdiskusi dengan Babe seolah percuma. Kini dia dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan cita citanya untuk menjadi “Tukang Insinyur” atau meneruskan tradisi keluarga. Menarik Opelet.

Manjadi insinyur sudah merupakan cita citanya sejak lama. Kuliah (baca : perjalanan) yang dilalui sudah hampir tiba di ujung jalan. Tinggal menyelesaikan tugas akhir. Namun sepertinya Babe tidak sabar. Mungkin karena ketidaktahuan Babe akan proses yang harus dilalui atau karena Babe sudah tua, sehingga tidak memiliki tenaga untuk tetap meneruskan pekerjaan sebagai supir opelet. Meski sudah tua, opelet tidak boleh dibiarkan menganggur. Dapur harus ngebul. Memang ada warung enyak yang bisa menopang. Mungkin ada salon Atun yang bisa membantu. Tapi Babe sepertinya tidak mau tahu. Doel disuruh memilih. Kisah akhirnya (mungkin) happy ending. Doel akhirnya menyelesaikan sekolahnya. Menjadi Tukang Insinyur. Kuliah diselesaikan sambil sesekali menarik opelet bersama pamannya Mandra. Meski setelahnya persoalan lain muncul. Ternyata bekal gelar insinyur tidak cukup untuk mencari kerja.

Teringat Gibran pernah berkata kurang lebih,

Anakmu bukanlah anakmu. Dia datang dari padamu, tetapi dia bukan milikmu. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Pertama kali membaca sajak itu, mau tidak mau aku mengamini. Berkaca pada pengalaman sendiri, aku pernah menjalani prosesnya. Tidak lulus Ujian Masuk Pergirian Tinggi Negeri (UMPTN), mau tidak mau pilihan adalah kuliah di perguruan tinggi swasta. Pilihan jurusan di UMPTN adalah pilihanku sendiri. Tanpa campur tangan orang tua. Semangat menggebu membuatku mendaftar di Institut Pertanian Bogor. Mungkin pilihan gegabah. Karena persaingan ternyata cukup tinggi. Tidak satupun dari tiga pilihan yang aku ambil aku lulus. Berbicara melalui sambungan interlokal (karena waktu itu orang tua bertugas di luar kota) dengan bapak, malam (menjelang subuh tepatnya) setelah pengumuman UMPTN, beliau menghibur. “Sudah, jangan terlalu bersedih” katanya. “Kau daftar di Universitas Nommensen. Ambil jurusan akuntansi. Agar nanti gampang mencari kerja”.

Nasihat dan ucapan yang menyemangati. Tidak lama larut dalam kesedihan, aku menuruti sarannya. Tapi hanya untuk mendaftar di Nommensen. Bukan jurusan sesuai saran beliau. Aku mengambil jurusan manajemen. Karena waktu itu aku merasa akuntansi ilmu banci. Bukan ilmu pasti sebagaimana jurusanku yang fisika di SMA, Juga bukan ilmu sosial. Aku mantap memilih manajemen. Yang lebih pasti non eksaktanya. Bapak tidak pernah mempersoalkan. Entah kalau dalam hatinya ada penyesalan kenapa aku tidak menuruti keinginannya. Dan inilah aku sekarang. Mungkin tidak menjalani sarannya waktu itu. Namun apa yang aku jalani saat ini, melampaui capaiannya dalam beberapa hal. Aku yakin seandainya beliau masih ada, beliau sudah tidak ingat lagi soal beda saran dan jalan yang aku pilih. Semoga dia bangga.

Bapak seorang demokrat. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada kami anaknya. Kepada kami, beliau hanya ulang satu janji. Sebagaimana janji orang tua Batak lain sebagaimana lagu “Anakkonki Do Hamoraon di Ahu”. Kepada kami anak anaknya beliau berjanji akan menyekolahkan kami setinggi kami mau. Beliau akan membiayai. Meski untuk dua adikku, janji itu diteruskan oleh Mama. Sebegitu demokratnya, beliau juga tidak mempermasalahkan ketika adik nomer dua memilih untuk berhenti kuliah pada tahun kedua. Beliau mencarikan pekerjaan buatnya. Adik ini juga yang turut serta ‘memberi sangu’ padaku ketika memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa. Karena saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri. Sikap demokratis yang [mungkin] paling tidak masuk akal buat orang tua lain adalah beliau menantang adik bungsu. “Kalau merokok membuatmu menjadi lebih berprestasi di sekolah, sebut merek rokokmu, aku yang akan membelikan buatmu” tantangnya ketika mengetahui adik bungsu telah berkenalan dengan rokok bahkan ketika masih sekolah menengah atas. Selintas seperti tindakan gila. Alih alih melarang, Bapak malah mendukung. Tapi itulah Bapak yang kami kenal.

Sepenggalan kisah si Doel, dan kisahku teringat kembali ketika pagi ini mendengar bahwa pak Beye akhirnya mendorong putra sulungnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sebagai orang luar aku merasa pilihan yang sangat disayangkan. Mas Agus bukanlah tentara sembarangan. Beliau lulusan terbaik dalam angkatannya. Beragam pendidikan telah dijalani, baik dalam kemiliteran atau akademis. Metro TV lewat acara Mata Najwa pernah menyematkan ‘Pemimpin Masa Depan’ kepadanya. Bersama Anis Baswedan [mantan Menteri Pendidikan] dan Denny Indrayana [mantan wakil Menteri Kehakiman]. Saat ini pangkatnya Mayor. Perwira Menengah tentara. Dalam beberapa kesempatan, aku membaca bahwa cita cita setiap prajurit adalah mencapai bintang empat. Jika dalam urusan kepangkatan, mungkin menjadi Kepala Staf Angkatan atau bahkan Panglima. Mas Agus meneruskan tradisi keluarga berkarir di militer. Siapa yang tidak kenal kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo yang berperan besar dalam penumpasan Gerakan 30 September. Meski tidak pernah menjadi menteri di Pemerintahan Orde Baru yang ikut dia bangun, Letjend Sarwo merupakan tokoh berpengaruh pada masanya. Putra Sarwo Edhie juga meniti karier militer. Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Bahkan pak Beye ayahnya, berpangkat Letjend [terakhir naik pangkat menjadi Jenderal setelah menjadi Presiden] dan mennjabat sebagai Kepala Staf Sosial Politik sebelum akhirnya terjun ke dunia politik dan menjadi Menteri Pertambangan dan Energi pada masa pemerintahan Presiden Abdul Rahman Wahid dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

Dengan tradisi dan ‘darah biru’ militer begitu, agak sulit memahami pilihan mas Agus. Dengan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah, beliau harus melupakan karir militernya yang [konon dipuji banyak pihak sebagai] cemerlang. Berpangkat Mayor, masih beberapa tahap lagi yang harus dilalui untuk menyamai pangkat Eyang, Ayah atau jabatan Pamannya. Dan sekarang impian itu harus dikubur. Semoga pilihan yang diambil sudah dipikir matang. Semoga pilihan yang diambil adalah pilihan sendiri. Semoga pilihan yang diambil membawa kebaikan buat mas Agus dan keluarga kecilnya. Juga buat keluarga besarnya. Dan yang pasti terbaik buat Negara Kesatuan Indonesia!