Apa yang akan kalian lakukan ketika di tengah berjalan di mall atau pusat keramaian bertemu seseorang dan dia menyampaikan “mas/mbak, retsletingnya terbuka” atau “pak/bu, ada upil ijo di atas bibirnya”

Apakah kalian langsung menampar orang tersebut? Apakah kalian langsung melaporkan dia menyampaikan hal itu kepada polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik? Atau melaporkannya dengan tuduhan telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan?

Mungkin kalau terjadi padaku, aku akan buru buru memeriksa celana. Atau buru buru menyeka wajah di atas hidung di bawah bibir (aku tak menemukan nama pas untuk bagian wajah itu 😁). Jika memang retsleting terbuka, aku akan kancingkan kembali. Jika ada upil berwarna hijau, aku akan bersihkan. Selanjutnya mengucap terima kasih kepada yang telah memberitahukan tadi. Mungkin sambil tersipu malu ☺️. Karena disampaikannya di area publik. Mungkin saja ada satu dua orang yang memperhatikan pembicaraan dua arah tadi. Mungkin saja ada yang mendengar perkataannya tadi.

Kondisi itu jika yang disampaikan benar adanya. Jika memang tidak benar, minimal aku terhindar dari sesuatu yang mungkin kurang elok terlihat di ruang publik. Dan ini pasti jarang terjadi pada mereka yang tidak saling kenal sebelumnya. Ngapain juga ngurusin orang. Demikian mungkin alasan yang sering kita pilih. Perbuatan mengingatkan itu lebih sering terjadi pada orang yang sudah saling mengenal.

Apa jadinya jika posisinya dibalik? Kalian yang melihat sesuatu yang tidak pantas pada orang lain. Apakah kalian akan langsung menyampaikan hal yang sama? Apakah kalian menyampaikan secara terbuka atau diam diam? Atau kalian akan membiarkan saja?

Kalau berada di posisi tersebut, kemungkinan aku akan menyampaikan kepada orang tersebut. Tentu saja dengan senyap. Terutama jika yang bersangkutan aku kenal. Karena ada yang perlu dijaga. Rasa malu orang tersebut misalnya.

Aku pikir itulah yang sedang dialami oleh Haris Azhar dengan aparat penegak hukum. Haris yang beruntung memiliki informasi mengenai kelakuan tidak patut dari aparat penegak hukum, sedang menghadapi gugatan dari lembaga yang disebut namanya. Melaporkan kepada aparat oenegak hukum. Mengesampingkan apakah yang disampaikan oleh Freddy Budiman bemar atau tidak, menurutku tidak perlulah aparat bereaksi sekeras itu.

Aku pikir seluruh komponen bangsa setuju bahwa narkoba itu membahayakan, merugikan, merusak. Dengan demikian pemberantasan peredarannya harus dilakukan serentak dan bersama sama. Karena korbannya sudah meluas. Bukan hanya kaum papa juga kaum berada. Bukan hanya anak muda juga orang tua. Bukan hanya orang biasa juga aparat negara.

Alangkah baiknya jika respon yang diberikan layaknya memeriksa retsleting tadi. Benarkah terbuka? Jika memang ada aparat yang terlibat, harus ditutup (aparat yang terlibat diproses untuk kemudian ditindak). Kepada yang menyampaikan beri ucapan terima kasih. Jika perlu disampaikan juga, “lain kali jangan teriak di depan umum dong boss. Kita kan jadi malu…☺️”

Investor Day dan Investor Summit adalah inisiatif yang digagas oleh PT Bursa Efek Indonesia bersama SRO (Self Regulatory Organization) lain, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai upaya mengenalkan pasar modal kepada masyarakat Indonesia. Ya. Mengenalkan!

Dalam sejarahnya, Bursa Efek sebagai tempat jual beli surat berharga sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia. Sejak Jakarta masih bernama Batavia. Baru tiga puluh sembilan tahun (10 Agustus 1977) lalu pemerintah mengaktifkannya kembali. Baru dua puluh empat tahun lalu (13 Juli 1992) PT Bursa Efek Jakarta sebagai perusahaan pengelola Bursa Efek Jakarta didirikan. Waktu yang belum bisa dikatakan lama jika dibandingkan dengan industri sejenis di belahan dunia lain.

Dalam perkembangannya jumlah Perusahaan Tercatat, jumlah investor, nilai kapitalisasi pasar, nilai transaksi sebagai ukuran yang digunakan untuk perbandingan dengan bursa lain, belum boleh dianggap menggembirakan. Meskipun jika diukur dari sejak berdirinya PT BEJ maupun diaktifkannya kembali pasar modal angkanya bolehlah membuat senang. Meskipun untuk itu banyak faktor yang mempengaruhinya.

Dari sisi supply belum banyak perusahaan yang mau berubah dari perusahaan pribadi (keluarga) menjadi perusahaan publik. Dari sisi demand belum banyak orang yang tertarik berinvestasi di perusahaan tercatat. Atau dengan bahasa lain, belum banyak orang yang mau menjadi pemilik perusahaan. Mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung menabung menjadi masyarakat berinvestasi butuh waktu lama.

Bukan hanya terjadi pada masyarakat awam saja. Sepertinya terjadi pada masyarakat terdidik. Ketika BEI memulai kampanye #YukNabungSaham, berdasar catatanku ada dua orang yang mempertanyakan penggunaan kata nabung. Menurut mereka penggunaan kata (me)nabung dalam kampanye ini kuranglah tepat. Karena menabung dan berinvestasi memiliki konsep yang berbeda. Tentu saja aku sepakat dengan hal ini. Namun sepertinya sang pemberi komentar belum memahami apa yang ingin dicapai dari kampanye ini. Satu lagi yang membuatku sedih keduanya merupakan mantan kolega di kantor. Aku hanya miris mendengar komentarnya. Berusaha menjelaskan juga sepertinya percuma. Mungkin mereka merasa lebih memahami. Mungkin karena mereka alumni perguruan tinggi di luar negeri.

Hampir dua tahun lalu aku ikut dalam kelas inspirasi. Program yang diniatkan untuk mengenalkan beragam profesi kepada peserta didik dasar (anak sekolah dasar). Sebuah tantangan yang berat buatku. Jangankan kepada anak sekolah dasar, mengenalkan pasar modal dan transaksi saham kepada mereka yang sudah dewasa dan sudah melewati pendidikan tinggi (universitas) aku masih sering mendapat pertanyaan “bukannya judi, bro?” Cape deh…

Aku tak kehilangan akal. Aku memulai dengan bercerita kepada anak sekolah dasar bahwa aku bekerja di perusahaan yang mengelola tempat berjual beli kepemilikan perusahaan yang sebenarnya sudah mereka kenal sehari hari. Aku bercerita bahwa sejak mulai bangun tidur mereka sudah akrab dengan perusahaan itu. Mandi menggunakan sabun, shampo dan odol yang diproduksi PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), mereka sarapan dengan roti yang diproduksi oleh PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. (ROTI), berangkat sekolah mereka bisa menggunakan taksi PT Blue Bird Tbk. (BIRD) atau PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI), menulis di sekolah mereka menggunakan buku produksi PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan seterusnya. Sepertinya mereka juga baru mengetahui akan hal tersebut. Dan aku yakin banyak pula diantara orang dewasa yang baru ngeh akan hal tersebut. Wajar.

Dari kenyataan tersebut, tanpa kita sadari sebenarnya kita dikelilingi atau lekat dan erat dengan perusahaan yang sudah tercatat di Bursa. Banyak yang kita kenal. Kita bisa melihat operasionalnya. Kita bisa mendalami kinerjanya melalui laporan keuangan yang wajib mereka publish minimal empatvkali selama setahun. Sebagai pemilik dan pemegang sahamnya kita bisa memberi masukan kepada manajemen yang sehari hari mengurus perusahaan tersebut melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham yang berdasarkan Undang Undang wajib diselenggarakan minimal sekali dalam setahun. Lantas apa yang kita takutkan?

Jika manajemen bekerja dengan baik, perusahaan mendapat keuntungan, sebagai pemegang saham kita boleh berharap mendapat pembagian keuntungan dalam bentuk dividen. Jika kita suatu saat membutuhkan dana untuk suatu keperluan, dengan cepat kepemilikan kita jual di pasar. Syukur dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan ketika kita membelinya. Dengan demikian kita memperoleh apa yang disebut capital gain. Menjual aset berbentuk saham jauh lebih cepat dilakukan dibandingkan jika kita menjual aset berbentuk properti (seperti bangunan atau tanah).

Eits, jangan langsung berkomentar bagaimana jika merugi. Karena sejatinya ketika kita memutuskan untuk membeli sebuah barang, kita tentu sudah mempertimbangkan dari segala aspek. Apakah layak untuk dibeli. Apakah barang ini bagus. Apakah gampang dijualnya. Dengan berbagai pertimbangan matang pembelian harusnya dengan risiko minimal. Kita tentu tidak mau membeli sebuah mobil jika mobil yang hendak kita beli tidak jelas. Dengan analogi sama kita bisa melakukan pembelian perusahaan (baca :saham).

Saham hanya satu dari produk yang diperjualbelikan di pasar modal Indonesia. Masih banyak yang lain. Ada Obligasi, Reksadana yang diperjual belikan (ETF), Efek Beragun Aset (EBA) dan seterusnya. Prosesnya sama. Kenali dulu apa yang hendak dibeli. Datangi perusahaan sekuritas. Simpan untuk waktu tertentu (tergantung tujuan investasi). Harusnya sih mudah.

Upaya mengenalkan semua itulah yang kami lakukan hampir setiap hari. Mungkin memang butuh waktu lama. Namun kami yakin satu saat pasar modal Indonesia akan sejajar dengan pasar modal di negara lain. Siang ini aku membaca kutipan komentar dari Hasan Zein Mahmud. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia ketika pertama kali didirikan. Orang yang dari tulisannya aku belajar banyak mengenai pasar modal ketika masih bersekolah di kota Medan. Kota yang ketika aku bersekolah sudah memiliki Pusat Informasi Pasar Modal, namun dengan keterbatasan informasi yang aku miliki belum menarik perhatianku. Siapa sangka tulisannya yang menginspirasi membawaku menjadi pegawai di perusahaan yang pernah dipimpinnya.

Kembali kepada kutipan, pak Hasan berujar yang cukup menohok

Kalau Warren Buffett pada umur 10 tahun membaca semua buku investasi di perpustakaan Kota Omaha, lalu mulai melakukan investasi pada umur 11 tahun; kalau di sekolah menengah atas di Hong Kong dan Singapura sudah diajarkan dan dipraktekkan stock picking, alangkah bebalnya kita membiarkan mayoritas masyarakat kita tetap buta investasi dan berulang-ulang menjadi korban investasi bodong……

Order-Suryo
Untuk pertama kali aku mencoba Go-Jek pulang. Sebelumnya merasa gak tega kepada tukang ojeknya. Karena harus engantarku pulang ke ‘Planet Lain’ :-). Terbukti pengendara pertama yang ‘menangkap’ pesananku, menelepon dan bertanya apakah aku bersedia menunggu beliau yang dari arah seberang FX plaza. Sembari bertanya di daerah mana alamat tujuanku. Setelah aku beri tahu, beliau meminta maaf tidak bisa melayani pesananku karena tujuan terlalu jauh. Tahu diri dan dengan senang hati aku jawab, “tidak masalah pak” untuk kemudian membatalkan pesanan.

Segitu jauhnya daerah tujuan sampai seorang teman yang kebetulan melintas halte juga setengah tak percaya ketika aku beritahu sedang menunggu Go-Jek sebagai kendaraan pulang. “Ngojek ke Bekasi bang?” tanyanya. “Bukan. Ke Jatibening” sahutku 🙂

Akhirnya aku terima sms. Mengabarkan kalau seorang pengendara Go-Jek baru melintas di depanku dan diusir oleh security gedung.
sampai

Bukan hal aneh di gedung itu. Sudah beberapa kisah aku dengar, pengendara Go-Jek dipersulit di gedung ini. Mulai dari diusir dari halte sampai dipersulit masuk gedung untuk mengantar pesanan layanan Go-Send.

Aku balas sms pengendara Go-Jek, yang belakangan aku tahu bernama Suryo Pamungkas. Aku sebut belakangan, karena notifikasi beliau sebagai pengendara Go-Jek yang menangkap pesananku, baru bisa aku buka setelah di rumah. Mungkin lalu lintas data pada saat jam pulang sedang ramai sehingga kesulitan mendapat pesan apakah pesananku telah ada yang menangkap atau belum. Aku ketahui belakangan juga karena ada beberapa telepon dari nomor tidak terdaftar yang masuk.

Akhirnya pak Suryo memutar Pacific Place untuk menjemputku di halte. Sambil mengeluarkan helm beliau meminta maaf terlebih dahulu jika nantinya dalam berkendara aku kurang nyaman. Aku jawab tidak masalah sembari bertanya apakah beliau setuju dengan tujuan pengantaran. “Tidak apa” jawabnya. Jadilah aku diantar oleh beliau. Menyusur (sedikit) kemacetan Tendean dan Kalimalang yang sedang berantakan karena pembangunan jalan layang, aku pulang menumpang Go-Jek. Kuakui memang pak Suryo mengendara dengan pelan. Tidak masalah buatku karena aku sedang tidak mengejar waktu. Sembari menikmati suasana jalanan kota Jakarta lewat ojek. Beberapa kali ojek menemui jalan sulit. Setiap kali juga pak Suryo meminta maaf atas ketidaknyamanan yang aku alami. Dan selalu aku jawab “tidak apa pak”.

Sampai depan rumah, sembari turun dari ojek dan membuka helm, aku yang minta maaf kepada Pak Suryo. Mengingat perjalanan yang cukup jauh dari SCBD ke rumah. Katanya ini belum seberapa karena sebelumnya beliau pernah mengantar penumpang ke Priok yang mencapai batas maksimum pengantaran Go-Jek (25km). Sambil beliau bilang kalau beliau menyediakan kembalian ongkos seandainya dibutuhkan. Aku bilang tidak perlu sambil menyerahkan Rp25.000,-

“Banyak banget lebihnya pak”, katanya. “Tidak apa pak” sahutku. “Saya senang karena pertama kali naik Go-Jek pulang”. Sambil bilang bahwa tadinya agak sulit bagiku mendapat Go-Jek. Dan sepertinya ketika sudah naik ojek beliau ada beberapa panggilan yang aku terima yang sepertinya berasal dari pengendara yang menangkap pesananku. Hal tersebut membuat beliau sedikit kaget. “Lho, tadi Bapak sedang mengunggu ojek lain?” tanyanya. “Tidak apa pak. Mungkin sudah rejeki Bapak”. Aku menduga dia merasa gak enak dengan sesama pengendara Go-Jek.

Selesai meletakkan tas, aku terima sms dari pak Suryo. Ada syukur yang dituliskannya. Ada doa yang disampaikannya dalam sms tersebut. Terharu membaca isinya. Seketika aku membalas smsnya. Ucapan terima kasih dan pesan berhati hati.
terima kasih1
Tidak lama aku menerima sms masuk. Bukan dari beliau. Namun dari penyedia jasa layanan telepon yang menginformasikan ada pesan yang dikirim dari nomor pak Suryo namun karena pulsa beliau tidak mencukupi, kepadaku ditawarkan apakah bersedia membayar biaya pengiriman sms balasan dari pak Suryo tersebut. Tanpa pertimbangan aku bayar pulsa beliau yang tak seberapa itu. Sambil tak lupa memberi lima bintang untuk layanan yang diberikan.
YES
jawab
Pengalaman pertama menumpang Go-Jek mengajarkanku banyak hal. Bahwa berbagi kebahagiaan tidak perlu dengan biaya mahal. Bahwa bersyukur tidak perlu menunggu rejeki besar. Bahwa layanan prima tidak butuh fasilitas mahal. Bahwa berbagi bisa kita lakukan kapan saja. Bahwa di Jakarta masih banyak pribadi hebat.

Terima kasih pak Suryo ❤