img_1917

Selain Indonesia Jaya ciptaan Chaken M yang dibawakan oleh Harvey Malaihollo, lagu Doa Anak Negeri adalah lagu yang paling cepat ditangkap telinga ketika diperdengarkan dalam Festival Lagu Pembangunan tahun 1987.

Indonesia Jaya masih sering diperdengarkan dalam acara resmi. Seringkali dibawakan dalam bentuk paduan suara. Entah karena kurang gaul, justru aku jarang mendengar lagu Doa Anak Negeri diperdengarkan kepada publik.

Ketika Festival diadakan, lagu ciptaan Donny Hardono dan syair oleh D. Prasetyo, tersebut dibawakan oleh almarhum Chrisye. Liriknya tidak terlalu patriotis menurutku. Namun cukup menggugah semangat cinta negeri ketika diperdengarkan.

Menulis lirik patriotis pasti membutuhkan keahlian sendiri. Wage Rudolf Supratman, H. Mutahar, Kusbini, Cornel Simanjuntak, Ibu Soed dan yang lain sudah membuktikan. Setelah era mereka, ada Gombloh dengan Kebyar Kebyar. Dan yang paling baru mungkin Eros yang menciptakan Bendera. Yang dengan aransemen Cokelat, menjadikan lagu itu sebagai lagu paling patriotik pada tahun 90an menurutku.

Mungkin memang harus dipadukan antara lirik, lagu dan aransemen. Agar lagu yang diciptakan tidak terjebak menjadi slogan kosong, apalagi menjadi lagu mendayu dayu. Yang terakhir inilah yang dikhawatirkan ketika lagu doa dibawakan oleh Chrisye. Namun kembali pada rumus pendukung, sebagaimana aku sampaikan di awal paragraf, kelengkapan elemen itu menjadikan lagu ini semacam lantunan doa dari anak negeri. Doa yang terasa pas untuk kondisi negeri seperti sekarang.

DOA ANAK NEGERI

Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
S’moga lestari s’moga abadi
Doa kami dari anak neg’ri
Puji dan syukur kami berikan
Neg’ri ini tentram sentosa
Bangunlah semua, satukan cita
Tuk neg’ri tercinta Indonesia

Reff :
Doa kami dari anak neg’ri
Bangga kami pada Pertiwi
T’rimakasih kepadamu neg’ri
Pembangunan ini milik kami

Doa dari kami anak negeri
S’moga engkau melangkah pasti
Dan teruskanlah pembangunan ini,
Dari generasi ke generasi

Doa kami anak neg’ri
Doa kami sejati
Doa kami anak neg’ri
Doa kami tulus dan suci

“Saya lebih baik memiliki 20 persen perusahaan bernilai 1 triliun daripada memiliki perusahaan bernilai 100 miliar”

Kata kata itu diucapkan di hadapan puluhan orang pemilik perusahaan oleh seorang anak muda yang belum genap berusia 40 tahun. Witjaksono demikian nama anak muda tersebut, merupakan satu dari lima orang pendiri PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. (DPUM) perusahaan pengolahan ikan yang berasal dari Pati. Sebuah kota kecil di Propinsi Jawa Tengah. Sama dengan Witjaksono yang dipercaya sebagai Presiden Komisaris, empat orang lainnya berusia tidak jauh berbeda. “Kami telah mempelajari bahwa hampir sebagian besar perusahaan terkemuka dunia, besar melalui pasar modal” demikian Witjaksono menambahkan. Kalimat yang menggetarkan buatku sebagai pegawai yang berkecimpung di industri pasar modal.

Kalimat itu terngiang kembali ketika hari ini, pabrik yang dana pembangunannya diperoleh melalui Penawaran Umum Perdana saham. Perusahaan yang didirikan pada 9 Mei 2012, reami tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8 Desember 2015. Saat ini perusahaan tersebut telah bernilai hampir 5 triliun rupiah! Nolnya ada 12! Mereka berlina yang memulai dari bisnis fotokopi, saat ini memiliki kekayaan masing masing 1 triliun! (Dengan asumsi meniadakan pemegang saham lain)

Bukan tidak mungkin nilai perusahaan ini semakin hari akan meningkat. Seiring berkembangnya bisnis mereka dengan diresmikannya pabrik baru mereka oleh Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. Pabrik yang mampu mengolah ikan, udang dan bayi gurita puluhan ribu ton sehari. Pabrik yang mampu menghidupi 4 ribu karyawan, ratusan (mungkin ribuan) nelayan, menjadi mitra dari ratusan Usaha Kecil Menengah di sekitarnya.

“Saat seusia kalian, saya belum bisa menghasilkan apa yang kalian capai saat ini” ujar pak Luhut dalam sambutannya. “Teruslah menjaga disiplin dan membantu UKM. Jika kalian butuh bantuan, sulahkan datang ke kantor. Kami akan bantu. Saya juga titip kepada Pangdam dan Kapolda untuk menjaga mereka” tambah Luhut. Kalimat kalimat yang buatku pribadi sangat menggetarkan. Apalagi buat Pandawa (merek dagang yang dipilih untuk produk mereka. Mungkin menganalogikan dengan jumlah Pandawa yang juga lima). Tak terbayang betapa bangganya keluarga mereka yang berdasarkan asumsiku, juga hadir di tempat acara.

Aku berharap banyak media yang meliput acara tersebut. Sehingga lebih banyak lagi anak muda yang terinspirasi. Lebih banyak lagi pemilik perusahaan yang memanfaatkan pasar modal untuk membesarkan perusahaanya. Memberi kehidupan kepada lebih banyak orang. Memberi pajak kepada negara. Menambah devisa buat negara. Mengharumkan nama Indonesia.

Buatku yang bekerja di industri pasar modal, momentum hari ini juga menggetarkan. Karena ketika di Jakarta dilakukan peringatan 39 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, di Pati kota kecil di tengah pulau Jawa, ada perusahaan yang besar dengan memanfaatkan dana pasar modal. Maju terus pasar modal Indonesia!

Investor Day dan Investor Summit adalah inisiatif yang digagas oleh PT Bursa Efek Indonesia bersama SRO (Self Regulatory Organization) lain, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai upaya mengenalkan pasar modal kepada masyarakat Indonesia. Ya. Mengenalkan!

Dalam sejarahnya, Bursa Efek sebagai tempat jual beli surat berharga sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia. Sejak Jakarta masih bernama Batavia. Baru tiga puluh sembilan tahun (10 Agustus 1977) lalu pemerintah mengaktifkannya kembali. Baru dua puluh empat tahun lalu (13 Juli 1992) PT Bursa Efek Jakarta sebagai perusahaan pengelola Bursa Efek Jakarta didirikan. Waktu yang belum bisa dikatakan lama jika dibandingkan dengan industri sejenis di belahan dunia lain.

Dalam perkembangannya jumlah Perusahaan Tercatat, jumlah investor, nilai kapitalisasi pasar, nilai transaksi sebagai ukuran yang digunakan untuk perbandingan dengan bursa lain, belum boleh dianggap menggembirakan. Meskipun jika diukur dari sejak berdirinya PT BEJ maupun diaktifkannya kembali pasar modal angkanya bolehlah membuat senang. Meskipun untuk itu banyak faktor yang mempengaruhinya.

Dari sisi supply belum banyak perusahaan yang mau berubah dari perusahaan pribadi (keluarga) menjadi perusahaan publik. Dari sisi demand belum banyak orang yang tertarik berinvestasi di perusahaan tercatat. Atau dengan bahasa lain, belum banyak orang yang mau menjadi pemilik perusahaan. Mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung menabung menjadi masyarakat berinvestasi butuh waktu lama.

Bukan hanya terjadi pada masyarakat awam saja. Sepertinya terjadi pada masyarakat terdidik. Ketika BEI memulai kampanye #YukNabungSaham, berdasar catatanku ada dua orang yang mempertanyakan penggunaan kata nabung. Menurut mereka penggunaan kata (me)nabung dalam kampanye ini kuranglah tepat. Karena menabung dan berinvestasi memiliki konsep yang berbeda. Tentu saja aku sepakat dengan hal ini. Namun sepertinya sang pemberi komentar belum memahami apa yang ingin dicapai dari kampanye ini. Satu lagi yang membuatku sedih keduanya merupakan mantan kolega di kantor. Aku hanya miris mendengar komentarnya. Berusaha menjelaskan juga sepertinya percuma. Mungkin mereka merasa lebih memahami. Mungkin karena mereka alumni perguruan tinggi di luar negeri.

Hampir dua tahun lalu aku ikut dalam kelas inspirasi. Program yang diniatkan untuk mengenalkan beragam profesi kepada peserta didik dasar (anak sekolah dasar). Sebuah tantangan yang berat buatku. Jangankan kepada anak sekolah dasar, mengenalkan pasar modal dan transaksi saham kepada mereka yang sudah dewasa dan sudah melewati pendidikan tinggi (universitas) aku masih sering mendapat pertanyaan “bukannya judi, bro?” Cape deh…

Aku tak kehilangan akal. Aku memulai dengan bercerita kepada anak sekolah dasar bahwa aku bekerja di perusahaan yang mengelola tempat berjual beli kepemilikan perusahaan yang sebenarnya sudah mereka kenal sehari hari. Aku bercerita bahwa sejak mulai bangun tidur mereka sudah akrab dengan perusahaan itu. Mandi menggunakan sabun, shampo dan odol yang diproduksi PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), mereka sarapan dengan roti yang diproduksi oleh PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. (ROTI), berangkat sekolah mereka bisa menggunakan taksi PT Blue Bird Tbk. (BIRD) atau PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI), menulis di sekolah mereka menggunakan buku produksi PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan seterusnya. Sepertinya mereka juga baru mengetahui akan hal tersebut. Dan aku yakin banyak pula diantara orang dewasa yang baru ngeh akan hal tersebut. Wajar.

Dari kenyataan tersebut, tanpa kita sadari sebenarnya kita dikelilingi atau lekat dan erat dengan perusahaan yang sudah tercatat di Bursa. Banyak yang kita kenal. Kita bisa melihat operasionalnya. Kita bisa mendalami kinerjanya melalui laporan keuangan yang wajib mereka publish minimal empatvkali selama setahun. Sebagai pemilik dan pemegang sahamnya kita bisa memberi masukan kepada manajemen yang sehari hari mengurus perusahaan tersebut melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham yang berdasarkan Undang Undang wajib diselenggarakan minimal sekali dalam setahun. Lantas apa yang kita takutkan?

Jika manajemen bekerja dengan baik, perusahaan mendapat keuntungan, sebagai pemegang saham kita boleh berharap mendapat pembagian keuntungan dalam bentuk dividen. Jika kita suatu saat membutuhkan dana untuk suatu keperluan, dengan cepat kepemilikan kita jual di pasar. Syukur dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan ketika kita membelinya. Dengan demikian kita memperoleh apa yang disebut capital gain. Menjual aset berbentuk saham jauh lebih cepat dilakukan dibandingkan jika kita menjual aset berbentuk properti (seperti bangunan atau tanah).

Eits, jangan langsung berkomentar bagaimana jika merugi. Karena sejatinya ketika kita memutuskan untuk membeli sebuah barang, kita tentu sudah mempertimbangkan dari segala aspek. Apakah layak untuk dibeli. Apakah barang ini bagus. Apakah gampang dijualnya. Dengan berbagai pertimbangan matang pembelian harusnya dengan risiko minimal. Kita tentu tidak mau membeli sebuah mobil jika mobil yang hendak kita beli tidak jelas. Dengan analogi sama kita bisa melakukan pembelian perusahaan (baca :saham).

Saham hanya satu dari produk yang diperjualbelikan di pasar modal Indonesia. Masih banyak yang lain. Ada Obligasi, Reksadana yang diperjual belikan (ETF), Efek Beragun Aset (EBA) dan seterusnya. Prosesnya sama. Kenali dulu apa yang hendak dibeli. Datangi perusahaan sekuritas. Simpan untuk waktu tertentu (tergantung tujuan investasi). Harusnya sih mudah.

Upaya mengenalkan semua itulah yang kami lakukan hampir setiap hari. Mungkin memang butuh waktu lama. Namun kami yakin satu saat pasar modal Indonesia akan sejajar dengan pasar modal di negara lain. Siang ini aku membaca kutipan komentar dari Hasan Zein Mahmud. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia ketika pertama kali didirikan. Orang yang dari tulisannya aku belajar banyak mengenai pasar modal ketika masih bersekolah di kota Medan. Kota yang ketika aku bersekolah sudah memiliki Pusat Informasi Pasar Modal, namun dengan keterbatasan informasi yang aku miliki belum menarik perhatianku. Siapa sangka tulisannya yang menginspirasi membawaku menjadi pegawai di perusahaan yang pernah dipimpinnya.

Kembali kepada kutipan, pak Hasan berujar yang cukup menohok

Kalau Warren Buffett pada umur 10 tahun membaca semua buku investasi di perpustakaan Kota Omaha, lalu mulai melakukan investasi pada umur 11 tahun; kalau di sekolah menengah atas di Hong Kong dan Singapura sudah diajarkan dan dipraktekkan stock picking, alangkah bebalnya kita membiarkan mayoritas masyarakat kita tetap buta investasi dan berulang-ulang menjadi korban investasi bodong……

Seorang teman pernah memberi masukan bahwa satu hal yang perlu diubah dariku adalah aku sedikit kaku. Kalau dipikir ada benarnya. Bekerja di regulator (mungkin) membuatku terbawa suasana. Entahlah.

Sepanjang yang aku ingat kekakuan itu tertanam sejak dini. Yang masih lekat dalam ingatan adalah soal berpakaian. Puluhan tahun lalu ketika mulai kuliah, kami mahasiswa baru diingatkan oleh dosen agar berpakaian rapi. Peringatan itu dilakukan ketika masa ordik (orientasi pendidikan). Semacam masa ospek atau MOS kalau jaman sekarang. Disebutkan berpakaian rapi itu adalah berkemeja dan bercelana bahan (untuk membedakan dengan celana denim dan sejenisnya). Sepanjang lima tahun di kampus (sampai saat terakhir ketika mengurus ijazah ketika telah lulus meja hijau) aku tetap pada ketentuan ini. Lupa apakah hal tersebut tertulis pada buku peraturan atau tata tertib berkuliah, namun aku ikut aturan itu. Bahkan saat akhir perkuliahaan ketika teman teman seangkatan telah mulai menggunakan denim dan kaos (baik dengan kerah atau oblong) ke kampus.

Entah ketika itu teman teman berpendapat apa. Yang aku ingat ada satu teman yang akhirnya mendapat julukan ‘si camat’ karena ternyata berperilaku ‘lebih rapi’ lagi dari aku. Teman ini tidak pernah menggulung lengan panjang kemejanya (aku masih menggulung) bersepatu pantofel mengkilap dan buku selalu ditenteng (tak pernah menenteng tas atau ransel). Sementara aku bersepatu kets saja dan selalu menenteng ransel ke kampus.

Padahal aku juga ingat waktu itu ada dosen yang dengan santainya mengenakan denim ketika mengajar. Memelihara kuncir yang dibiarkan tergerai, terlihat ketika beliau menulis di papan dan membelakangi kami mahasiswanya. Merokok di ruang kelas (saat itu soal merokok memang belum seperti sekarang. Selain itu struktur gedung kami yang unik juga tidak memerlukan pendingin ruangan sehingga dimungkinkan untuk merokok di kelas). Waktu itu aku mencoba memahami latar belakang pendidikan sang dosen yang katanya baru kembali dari Amerika menyelesaikan program doktornya. Terbiasa lebih bebas di negara Amerika yang liberal membuatku seperti memaklumi penampilan pak dosen.

Kebiasaan sama terbawa ketika berkebaktian di gereja. Aku selalu berpegangan bahwa ke gereja adalah berkunjung ke rumah Tuhan. Karena demikian agama mengajarkan sejak masih Sekolah Minggu. Yang aku ingat, doktrin yang aku dapat, berkunjung ke rumah Tuhan sudah pasti harus sopan. Lha wong bertamu ke rumah orang saja kita harus sopan? Masa bertamu menggunakan celana pendek? Bertamu artinya kita menghargai yang kita kunjungi. Berpakaian rapi ketika berkunjung ke rumah Tuhan merupakan hal yang wajib dijalankan. Aku juga ingat ketika itu aku juga tidak pernah mengunyah permen ketika sedang berkebaktian. Alasannya sederhana, kebaktian adalah proses berkomunikasi dengan Tuhan. Bagaimana kita misalnya berkomunikasi (berbicara) dengan seseorang yang lebih tua (sebagai contoh ekstrim) sambil mengunyah sesuatu?

Dengan latar belakang seperti itu perilakuku terbawa ke dunia kerja. Meski dengan sedikit modifikasi. Awal kerja masih menggunakan dasi. Tiga tahun bekerja aku mulai malas menggunakan dasi dalam bekerja (meski peraturan masih mengharuskan menggunakannya). Aku juga selalu mengenakan kemeja lengan panjang yang lengannya selalu digulung. Bukan apa apa sedikit mengganggu buatku dalam bekerja dengan lengan kemeja tidak digulung. Kebiasaan menggulung lengan kemeja ini terbawa juga bahkan ketika mengenakan batik lengan panjang 😔.

Bahkan ketika mengenakan denim ke kantor sudah diperbolehkan, hanya sekali aku melakukannya. Itu juga sebagai bentuk ‘protes’ karena sepertinya berpakaian pantas sudah mulai tidak dipedulikan lagi. Bercelana denim dan berkaos polo aku lakukan bahkan ketika aturan mengenai diijinkannya penggunaan denim diberlakukan. Justru setelah pengenaan denim ketika hari Jumat diberlakukan, aku tidak pernah mengambil kesempatan itu. Karena kembali sebagaimana dua contoh pada masa lalu, menurutku aku harus menghargai lembaga tempatku bekerja. Menghargai tamu yang mungkin akan kami temui ketika bekerja.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya aku terbiasa ‘gatal mata’ dan ‘gatal bicara’ untuk kemudian berkomentar. Beberapa kali kepada teman satu tim yang kepadaku diserahi beban untuk menjadi penyelia, aku akan menegur untuk mengingatkan. Aku juga pernah ditegur oleh atasan karena ketika melakukan pertemuan dengan pihak luar mengenakan jaket yang terbuat dari bahan denim. Saat itu aku merasa aku dan atasan berada di jalur yang sama. Bahwa ada yang tetap harus dijaga soal berpakaian.

Pagi ini aku menemukan kejadian yang membuat aku berkomentar. Seorang pekerja wanita menggunakan celana panjang 7/8 ( begitu kurang lebih istilahnya). Sesuatu yang sebenarnya berdasarkan aturan diperbolehkan, namun hanya di hari Jumat sebagaimana penggunaan denim. Masalahnya adalah ini hari Senin. Mengenakan pakaian kasual (begitu istilahnya) diharamkan pada hari Senin. Melempar isu ini di group diskusi, sepertinya aku sendiri. Teman lain tidak melihat itu sebagai masalah. Mungkin memang aku terlalu kaku. Mungkin memang ada yang aneh dalam prinsip yang aku anut. Entahlah ☺️

Aku pernah menulis perihal bagaimana mendapatkan sebuah mobil baru disini. Intinya sih peringatan atas iming iming mendapat mobil Fortuner baru seharga 399 juta. Aku yakin penyelenggara sudah mempersiapakan diri sedemikian rupa sehingga kelak jika ada tuntutan, mereka sudah terproteksi.

Peringatan yang aku berikan direspon dengan beragam cara. Ada yang optimis, ada yang pesimis. Bahkan eksekutif penyelenggara pernah mengirim email kepadaku bahwa mereka siap memperkarakan aku ke pengadilan jika masih membiarkan komen bebas di postingan tersebut. Karena sepertinya beliau merasa tertanggu dengan satu komentar yang juga memuat nomor ponsel beliau. Kayanya program promosinya menuai protes kemarahan. Dengan senang hati aku hapus komentar dimaksud.

Sejauh itu postingan tersebut merupakan satu satunya postingan di blog aku yang menuai ratusan komentar. Mencapai lebih dari 500! Walaupun terdapat beberapa pengulangan komentar. Baik yang jelas maupun tak jelas. Beragam komentarnya. Sebagian besar mungkin kekecewaan. Penyelenggara tidak dapat disalahkan. Peserta juga.

Apa yang terjadi menurutku karena kita terbiasa dengan segala sesuatu yang berbau instan. Ingin mendapat mobil seharga 399 juta rupiah, dengan pengorbanan yang sedikit. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali mendapatkannya melalui undian atau menang besar togel!!

Ini bukan kali pertama terjadi. Sepertinya penyelenggara sudah melakukan dengan beragam nama perusahaan. Beragam produk mahal sebagai iming iming. Namun sepertinya tidak ada efek jera. Korban sebelumnya, belum dianggap sebagai pelajaran bagi calon korban selanjutnya. Ini bukan kali pertama terjadi. Dimana orang berharap rejeki nomplok tanpa perlu kerja keras. Bahkan yang berkedok investasi. Dengan nilai total kerugian miliaran rupiah!

Kalau mau disebut korban, bukan hanya berasal dari satu golongan masyarakat tertentu. Mulai dari kalangan bawah sampai golongan atas. Mulai dari yang berpendidikan (maaf) rendah, sampai pendidikan tinggi. Mulai karyawan kecil hingga pejabat tinggi.

Padahal kalau mau mendapat kemewahan kekayaan, caranya cuma satu. Kerja keras. Berusaha. Tidak ada cara instan. Apalagi berharap pada undian.

Jadi pengusaha bisa jadi salah satu cara. Yang sukses tentu saja. Gagal sekali sudah biasa. Bisa dicoba lagi. Tapi bukan berarti karyawan tidak bisa kaya. Bisa. Bagaimana caranya? Hampir mirip, miliki badan usaha! Kapan sempat mengurusnya kalau status masih sebagai karyawan? Bisa! Beli perusahaan yang bagus. Bagaimana caranya? Here we go….

Di Bursa Efek Indonesia terdapat lebih dari 500 perusahaan yang diperjualbelikan setiap hari. Pilih satu atau dua sesuai kemampuan [keuangan]. Perusahaan tersebut sudah berjalan layaknya sebuah perusahaan. Sudah ada perangkatnya biar menghasilkan keuntungan. Sudah ada manajemen yang mengurusnya. Sudah ada karyawan yang siap bekerja untuk anda. intinya biarkan orang lain yang mengurusnya.

Mahal? Tergantung besar kecilnya perusahaan yang hendak dibeli. Harga perusahaan tersebut telah dipecah menjadi harga per saham. Satu perusahaan berharga [tidak semuanya] jumlah saham tercatat dikali harga satu saham. Jika ingin membeli minimal seharga 100 unit saham masing masing perusahaan. Harga masing masing perusahaan hampir setiap hari diumumkan pada media bisnis dan keuangan. Bisnis Indonesia dan Investor Indonesia hanyalah contoh.

Bagaimana mengenal lebih dekat perusahaan yang akan dibeli? Oleh peraturan mereka diwajibkan mengumumkan laporan keuangan setiap tiga bulan. Silahkan dibaca dan dipahami. Oleh peraturan mereka diwajibkan memaparkan kinerja perusahaan masing masing. Jika sudah menjadi pemilik, pemegang saham berhak bertanya atas bagaimana perusahaan dijalankan. Pemegang saham berhak menyuarakan keinginannya [melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham] kepada manajemen perusahaan.

Pertanyaan selanjutnya, sebagai karyawan tentu punya keterbatasan dana untuk membeli perusahaan. Pasti. Tapi kita tentu ingat pepatah [terkait menabung] sedikit demi sedikit, lama menjadi bukit. Dana yang sedikit itu kita belikan saham perusahaan. Sedikit tetapi rutin, lama lama menjadi bukit saham. Yuk, Menabung Saham!

Tertarik? Jika tertarik, silahkan berkunjung ke gedung Bursa Efek Indonesia mulai tanggal 9-13 November 2015. Terdapat puluhan perusahaan tercatat yang akan memaparkan kinerja mereka. Terdapat puluhan perusahaan efek yang dapat memfasilitasi jika ingin membeli perusahaan. Acaranya, gratis! Hanya dibutuhkan pendaftaran di pintu masuk area. Sampai jumpa ya di sana 🙂