Sebagaimana biasa setiap awal tahun ajaran baru, aku menyampul buku anak-anak. Dimulai dari buku Gabriel (buku kelas 2 SD) karena buku abangnya belum diberikan oleh sekolah. Sambil menyampul aku tertarik mencari tahu, sebenarnya apa yang diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Karena rasanya waktu satu tahun cukup untuk mengenalkan (budaya) Jakarta. Kenapa harus ada buku (pelajaran) untuk tahun kedua dan seterusnya.

Namun alangkah kagetnya ketika membaca satu (konon) cerita rakyat pada halaman 74 buku terbitan yudhistira tersebut. Judulnya “Cerita Bang Maman dari Kali Pasir”

Bang Maman adalah pedagang buah di Kali Pasir. Istrinya telah lama meninggal dunia. Bang Maman memiliki seorang putri bernama Ijah. Bang Mana berniat menjodohkan Ijah dengan Salim anak pak Darip, seorang kaya. Meski kaya, konon Salim anak baik dan tidak sombong.

Setelah mereka menikah, pak Darip meninggal dunia. Salim mendapat warisan. Karena tidak bisa mengurus warisan, Salim menyerahkan pengurusannya kepada Kusen orang kepercayaan pak Darip. Sampai satu saat, istri Kusen menyuruhnya untuk menjual seluruh warisan dan meninggalkan Salim. Salim pun jatuh miskin. Akhirnya menjadi pedagang buah. Bang Maman malu karena Ijah hidup miskin, lantas meminta bantuan Fatme untuk mengaku sebagai istri Salim dan menemui Ijah. Ijah marah pada Salim. Salim meninggalkan Ijah.

Ijah berkenalan dengan Ujang. Kemudian mereka menikah. Ketika pesta pernikahan, polisi menangkap Ujang karena ternyata Ujang seorang perampok. Bang Maman ikut ke kantor polisi sebagai saksi.

Disajikan dalam bentuk komik, seolah aku menonton sinetron yang ditayangkan di televisi lokal. Terus terang gak bisa paham, nilai luhur apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua sekolah dasar dengan setting cerita seperti ini. Jika ingin menonjolkan baik dan buruk, nusantara mengenal si kancil. Jika ingin lebih membumi (mengambil setting Betawi) dan menghindari penggunaan si kancil, bisa dengan alur cerita lain. Pemilihan setting Kali Pasir seolah dipaksakan semata agar pas dengan tempat di Jakarta. Semata agar pas dengan topik Cerita Rakyat Betawi. Mungkin karena aku bukan warga Betawi (Jakarta) cerita rakyat yang kukenal hanyalah si Pitung atau soal Nyai Desima.

Dalam pandanganku, mungkin PLBJ ini menjadi jalan mengajarkan kepada anak anak (Jakarta) pendidikan budi pekerti. Namun membaca cerita di atas, aku malah ragu dengan tujuan itu. Apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua, ketika bang Maman sebagai orang tua yang tadinya menjodohkan putrinya dengan Salim, kemudian berbalik meminta bantuan Fatme untuk mengganggu rumah tangga Ijah ketika Salim akhirnya jatuh miskin?

lamar
fatme

Soal baik dan jahat mungkin soal sederhana. Yang baik akan sentosa, yang jahat akan celaka. Perampok adalah penjahat dan untuk itu layak diurus polisi, dan setelahnya layak untuk ditindaklanjuti dengan proses persidangan agar mendapat hukuman yang setimpal. Mungkin memang tidak cukup satu dua halaman komik untuk mejelaskannya. Atau mungkin anak kelas dua belum bisa menerima penjelasan yang oleh orang dewasa sendiri belum bisa memahaminya. Namun melakukan simplifikasi sebagaimana penutup komik di atas menurutku agak kurang pas.

Selama ini aku sudah cukup nyaman ketika anak anak tidak menonton sinetron di rumah. Tidak masalah keluar biaya sedikit untuk berlangganan tv kabel, dan anak anak lebih menonton tayangan non lokal. Namun kok ya malah kecolongan di sekolah dengan menyajikan cerita yang katanya cerita rakyat namun ternyata sebuah penggalan s*itnetron 🙁

man-of-honor

Selesai juga membaca “Man of Honor Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya”. Sebuah buku biografi yang menurutku cukup enak dibaca. Kisah jatuh bangun seorang yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia. Selain itu, banyak kisah inspiratif yang bisa dipetik.

Mungkin tidak terlalu banyak yang mengenal sosok seorang William Soeryadjaja. Mungkin lebih banyak yang mengenal warisan yang ditinggalkannya. Sebuah (group) perusahaan bernama PT Astra International Tbk. Perusahaan publik yang saat ini berkapitalisasi pasar 300 triliun rupiah. Perusahaan yang dimulai hanya dengan empat karyawan, sekarang memiliki ratusan ribu karyawan. Pemilihan kata dimulai, bukan didirikan aku gunakan karena sebenarnya Astra bukan didirikan langsung oleh Oom William (begitu tokoh ini disebut di buku ini, dan begitu juga sapaan karyawannya kepadanya). Cikal bakal Astra adalah sebuah perusahaan yang dibeli oleh William, kemudian didandani sehingga menjadi besar dan beranak pinak.

Buku Man of Honor menceritakan bagaimana sejarah seorang William. Mulai dari masa kecilnya di Majalengka, menikah dan memulai usaha, “dikerjai” hingga pernah mendekam dalam penjara, bangkrut dan memulai lagi bisnis baru. Untuk memulai bisnis baru, bahkan sampai dilakukan dua kali olehnya. Terakhir ketika harus menyerahkan sepenuhnya Astra, untuk keluar dari kesulitan yang dialami oleh putranya.

Sebagai sebuah biografi, buku ini lebih menceritakan kiprah William sebagai seorang pelaku usaha. Hanya sebagian kecil yang menceritakan William sebagai sosok seorang anak, ayah, atau kakek. Karena sepertinya sisi itulah yang ingin diangkat. Hal itu terlihat dari pemilihan judul besarnya, jika dibandingkan dengan langkah heroik yang dilakukannya untuk “menyelamatkan” (bisnis) anak lelakinya.

Buku inipun tidak terlalu banyak menceritakan mengenai keluarganya. Kecuali anggota keluarga yang bersentuhan langsung dengan usahanya. Seperti Edwin, putranya yang menjadi pengurus di Astra. Atau istrinya, Lily yang saat awal mulainya Astra sempat menjadi “penyedia” katering buat karyawan Astra, dengan memasak makan siang. Bahkan sosok Edward, putra yang diselamatkan olehnya pun disinggung lebih sedikit dibanding Edwin. Bahkan lebih banyak bercerita tentang dua adik laki lakinya yang membantunya dalam membangun kerajaan bisnisnya.

Untuk yang mengenal sedikit sosok William dari sepak terjangnya di dunia bisnis sebagaimana dikabarkan di media massa, buatku buku ini cukup memberi inspirasi. Banyak sisi lain seorang William yang baru kuketahui setelah membaca buku ini. Bagaimana besarnya rasa nasionalismenya (meskipun dia seorang keturunan Cina), bagaimana kesukaannya pada makanan khas Indonesia seperti sate kambing misalnya, bagaimana sifat dermawannya (yang suka memberi ‘salam tempel kepada siapa saja yang dia temui), bagaimana rasa sayangnya kepada karyawannya, dan seterusnya. juga melalui buku ini, pembaca mengetahui bahwa ternyata seorang Wiliam Soeryadjaja kadang suka iseng pada anak buahnya.

Juga bagaimana William telah menerapkan apa yang saat ini banyak dilakukan dan menjadi trend dalam dunia usaha. Penerapan prinsip Good Corporate Governance pada perusahaannya. Hal tersbut tercermin misalnya bagaimana dia merekrut tenaga tenaga profesional untuk mengelola Astra. Mendukung program pelestarian lingkungan hidup yang dikelola oleh Emil Salim (mantan menteri lingkungan hidup). Om William juga telah menerapkan Total Quality Control bahkan dianggap sebagai pelopor. Memberi sebagian saham perusahaan kepada direksi (saat ini dikenal dengan nama Management Stock Option atau Stock Allocation). Meskipun beberapa diantara jenderalnya (begitu manajemen disebut pada satu bab buku) tersebut merupakan keponakannya sendiri, ternyata diperlakukan sama dengan profesional lain. Bahkan para profesional itu, juga karyawan justru diperlakukan sebagaimana keluarga.

William juga mengharamkan Pemutusan Hubungan Kerja di perusahaan yang dikelolanya. Ketika menghadapi krisis, perusahaan tidak serta merta ditutup atau dirampingkan organisasinya. William justru mendorong agar manajemen yang telah diberi kepercayaan olehnya untuk memikirkan solusi keluar dari masalah. Dengan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan sehingga perusahaan tidak bangkrut. Yang penting tidak rugi, ujarnya. Dalam menghadapi hal semacam ini, dari buku ini pembaca tahu sejarah awalnya sepeda bermerek Federal. Sesuatu yang awalnya diremehkan oleh manajemennya, akhirnya menjadi bisnis yang lumayan memberi hasil.

Dikisahkan pula dalam buku ini, bagaimana ketika perusahaanya sudah dijalankan oleh profesional, William hanya mencari peluang bisnis baru untuk kemudian menyerahkan kepada jenderalnya untuk mengeksekusi. Memang tidak semua peluang bisnis yang ditawarkan, disambut dengan baik oleh para jenderalnya. Ada juga yang ditolak dengan berbagai argumen. Jika itu yang terjadi seringkali Om William malah jalan sendiri dengan kocek pribadi. Kelak ada diantara peeusahaan pribadi itu yang justru cemerlang dan akhirnya digabung ke dalam Astra. Ada pula yang tetep menjadi milik pribadi si Om. Tipe perusahaan terakhir, kelak menjadi penyelamat si Om ketika akhirnya beliau harus melepas Astra.

Buku yang ditulis oleh wartawan majalah SWA ini, ditulis dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Kalau boleh menyebut kekurangannya, hanyalah pada kurangnya informasi mengenai nama nama selain keluarga yang mengiringi perjalanan hidup si Om. Nama nama seperti Teddy P Rachmat, Tossin Himawan, Maruli Gultom, Gerry Kasih dan seterusnya. Menurutku akan lebih informatif lagi kalau ketika memunculkan nama-nama tersebut, penulis menyertakan catatan kaki untuk menceritakan latar belakang tokoh dalam buku. Karena ternyata beberapa diantara tokoh tersebut, menjadi pengusaha sukses setelah lepas dari Astra. Bahkan beberapa diantaranya disebut sebagai orang terkaya di Indonesia.

Akhir akhir ini aku senang membaca biografi beberapa tokoh. Yang teringat, mulai dari cerita Dahlan Iskan lewat Sepatu Dahlan, Chairul Tanjung, Kiki Syahnakri, hingga terakhir adalah kisah tentang perjalanan hidup J.B. Sumarlin sebagaimana posting sebelum ini. Terus terang tidak semua kisah enak dibaca.

Meskipun beberapa diantaranya ditulis oleh wartawan, mereka yang biasa menulis untuk media, tidak serta merta buku tersebut enak dibaca. Bahkan gaya bertutur seorang tentara berpangkat Jenderal (Kiki Syahnakri) menurutku lebih menarik daripada membaca kisah sang anak singkong (Chairul Tanjung). Kisah anak singkong pun tentu saja masih kalah jika dibandingkan dengan kisah Sumarlin yang ditulis oleh Bondan Winarno, yang sudah teruji puluhan tahun melalui penulisan novel, kolom dan beberapa buku.

Terakhir aku membeli buku Sutiyoso, The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando. Terus terang ketertarikan dimulai setelah membaca kisah Jenderal Kiki yang menceritakan Untold Story dalam perjalanan karir militernya. Aku berharap mendapat kisah yang mirip. Apalagi dibandingkan Jenderal Kiki, Jenderal Sutiyoso lebih tenar, terutama karena pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta selama dua periode. Dibalut dengan sampul berwarna hijau tentara, dengan foto Sutiyoso di sampul depan mengenakan Pakaian Dinas Harian lengkap dengan baret merah kebanggaan prajurit Kopassus.

Namun, ternyata harapanku tidak terwujud. Memang bukunya berkisah sejak Sutiyoso masih kecil. Meskipun tidak mendapat porsi yang banyak. Diikuti dengan kisah bagaimana Sutiyoso sempat masuk perguruan tinggi, masuk Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus di Semarang. Bahkan sempat hendak pindah jurusan ke Fakultas Kedokteran. Sampai akhirnya Sutiyoso ‘terdampar’ di Akademi Militer. Kisah dilanjutkan dengan kisah penugasan militer yang dijalaninya. Penugasan di Kalimantan, Timor Timur, menghadapi Gerakan Ceh Merdeka.

Selain penugasan tempur, Sutiyoso juga diberi tugas dalam reorganisasi Kopassus dan Kostrad, menjadi Komandan Resort Militer di Bogor yang membuatnya bersentuhan dengan acara kenegaraan semacam KTT APEC maupun konflik Partai Demokrasi Indonesia yang diakhiri dengan peristiwa 27 Juli, hingga akhirnya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Penugasan terakhir, ternyata sempat mengecewakan seorang Sutiyoso. Prajurit Infanteri yang menghabiskan sebagian besar karir militernya di dunia keprajuritan. Hal tersebut merupakan satu kekecewaan yang diungkap dalam buku ini.

Membaca buku ini, menurutku tidak terlihat apakah buku ini berasal dari inisiatif seorang Sutiyoso ataukah inisiatif sang penulis. Hal tersebut misalnya terlihat dari tidak adanya kata pengantar dari sang tokoh yang kisahnya dijadikan buku. Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno didaulat untuk memberi kata pengantar. Penulis memilih gaya menulis sebagaimana layaknya menulis berita. Mungkin karen penulisnya merupakan mantan wartawan.

Satu hal yang menurutku menjadi kekurangan buku ini adalah editingnya. Pada beberapa bagian terdapat beberapa pengulangan yang tidak perlu. Yang kalau dirapikan, mungkin akan lebih menarik lagi. Penulis juga melengkapi tulisannya dengan beberapa catatan kaki. Entah itu sebagai daftar pustaka, maupun referensi yang menerangkan beberapa hal. Hal tersebut, misalnya digunakan untuk menerangkan beberapa istilah entah teknis ataupun istilah kemiliteran, atau menjelaskan bahwa beberapa bagian merupakan hasil wawancara tim penulis pada beberapa pihak yang disebut dalam bab tersebut. Catatan kaki juga digunakan untuk menjelaskan beberapa nama yang terkait dengan perjalanan karir Sutiyoso.

Namanya catatan kaki, pastilah diletakkan di bawah setiap bab yang memuat hal yang perlu diperjelas lewat catatan kaki tersebut. Namun entah kenapa, sang penulis merasa perlu mengumpulkan catatan catatan kaki tersebut dalam satu bagian sendiri di akhir buku ini. Sebuah pengulangan yang sia, sia menurutku. Satu hal yang kalau dihindari, pastilah bisa menghemat beberapa lembar kertas 😉

Yang terpikir padaku ketika mendengar kata atau nama Sumarlin adalah istilah Tight Money Policy. Gerakan Pengetatan Uang (jumlah) beredar. Konon pada tahun 1987, perekonomian Indonesia menghadapi kesulitan. Terjadi defisit pada neraca pembayaran, harga berbagai komoditi ekspor menurun, terjadi spekulasi di pasar valuta asing. menghadapi kondisi ini, pemerintah bersama Bank Indonesia melakukan pengetatan moneter yang biasa dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I. Pengetatan dilakukan diantaranya dengan cara manaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Pemerintah juga ‘memaksa’ Badan Usaha Milik Negara untuk mengalihkan dana mereka yang sebelumnya ditempatkan di bank, dibelikan SBI. Kebijakan ini terbukti berhasil medibelikan yang dimilikinya BUMN) pada perbankan untuk ditempatkan pada SBI. Tindakan yang dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I ini – karena dilakukan oleh Menteri Keuangan Sumarlin. Uniknya hal tersebut dilakukan ketika Sumarlin menjabat sebagai Menteri Keuangn ad interim. Karena Menteri Keuangan sesungguhnya, Radius Prawiro, sedang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Jabatan sesungguhnya yang saat itu diemban oleh Sumarlin adalah Menteri/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Menurutku, sepenggal kisah perjalanan hidup Sumarlin tersebut, cukup untuk menunjukkan kecakapan seorang Sumarlin. Seorang anak desa yang kiprahnya akhirnya mendunia. Bahkan pernah diganjar sebagai Menteri Keuangan terbaik pada tahun 1989 oleh majalah berpengaruh Euromoney. Dilanjutkan mendapatkan gelar yang sama pada tahun 1990 dari majalan Asia Money. Satu diantara sedikit orang Asia yang dianugerahi gelar serupa.

Sumarlin sendiri, ternyata merupakan pembantu Presiden Soeharto yang paling sering mendapat jabatan rangkap. Sumarlin dua kali menjadi Mendikbud ad interim, dua kali menjadi Menteri Pertambangan dan Energi ad interim, dua kali menjadi Menteri Perhubungan, tiga kali menjadi Menteri Perdagangan, dan tiga kali menjadi Menteri Transmigrasi dan Koperasi. Dan sebagaimana kisah Gebrakan Sumarlin I di atas, justru pada saat menjabat sebagai menteri ad interim, Sumarlin hampir selalu melakukan gebrakan-gebrakan yang mengejutkan.

Satu kisah gebrakan lain yang dilakukan Sumarlin ketika menjabat Menteri ad interim adalah, ketika beliau menggantikan Nugroho Notosusanto sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelum Presiden menunjuk Fuad Hasan sebagai menteri definitif, pak Harto menunjuk Sumarlin sebagai pengganti Nugroho. Saat inilah Sumarlin memutuskan untuk menghapus kebijakan larangan bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar ke luar negeri.

Buku yang ditulis oleh Bondan Winarno ini, secara lengkap menceritakan perjalanan hidup Sumarlin sejak kelahirannya. Sebagaimana sub judul buku ini, Cabe Rawit yang Lahir di Sawah, benar benar dilahirkan di tengah sawah, Sumarlin sempat diberi nama Katoebin (Akad-akad metu neng sabin yang konon berarti, lahir di sawah pada hari Minggu). Dan sbagaimana lazimnya pada masa itu, sering menderita sakit pada saat bayi membuat keluarga mengganti namanya. Dan sang kakek dari pihak ibu yang memilihkan nama Sumarlin pada sang cucu.

Buku ini juga berkisah bagaimana Sumarlin harus mengalami apa yang disebut sebagai broken family, karena pada usia 5 tahun ayah dan ibunya bercerai. Bagaimana kedekatannya dengan keluarga pamannya, hingga menjadi pegawai perusahaan swasta di Jakarta. Ketika menjadi pegawai inilah, perkenalan Sumarlin dengan ekonomi dimulai. Karena selain bekerja sebagai pegawai, Sumarlin juga menyempatkan diri untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dunia dimana akhirnya kecermelangannya mendapat perhatian Soemitro Djojohadikusumo sehinggai diangkat sebagai asisten dosen (yang didahului menjadi sebagai tutor untuk adik kelasnya meski gelar sarjana muda belum diraih).

Sejara runut, buku yang dibagi dalam bab yang diberi judul dengan bagian tumbuhan (mulai akar untuk bab 1, batang untuk bab 2, dahan, cabang, daun, bunga dan buah untuk bab selanjutnya) menceritakan perjalanan hidup seorang Sumarlin. Pada beberapa bagian, ditambahkan juga data yang bersumber dari hasil riset yang dilakukan oleh penulis. Namun ada beberapa data yang menurutku kurang pas dan harus diperiksa lagi.

Yang pertama adalah perihal Jenderal M.Jusuf. Pada halaman 294 saat menceritakan pengangkatan pak Marlin sebagai ketua Badan Pemeriksa Keuangan menggantikan M. Jusuf, disebutkan bahwa pak Jusuf pernah menjabat sebagai Kepala Staf angkatan Darat. Padahal seingatku, meski pak Jusuf mengakhiri karir militernya sebagai Panglima ABRI, pak Jusuf belum pernah menjabat sebagai KASAD. Semoga sumber dataku salah.

Catatan berikutnya adalah, pada halaman 312. Disebutkan Bank Bali digabungkan dengan Bank Danamon, dan kini menjadi salah satu bank swasta terbesar Indonesia. Nama Bank Bali memang sudah tidak ada di industri perbankan Indonesia. Sekarang namanya menjadi Bank Permata. Bank ini merupakan hasil merger dari 5 bank di bawah pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yakni PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Prima Express, PT Bank Artamedia, dan PT Bank Patriot pada tahun 2002.

Sementara Bank Danamon sendiri, menerima hasil peleburan beberapa bank yang terdiri dari PT Bank PDFCI, Bank Tiara, PT Bank Duta Tbk, PT Bank Rama Tbk, PT Bank Tamara Tbk, PT Bank Nusa Nasional Tbk, PT Bank Pos Nusantara, PT Jayabank International dan PT Bank Risjad Salim Internasional. Saat ini bank ini bernama PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

Buatku yang menghabiskan masa remaja hingga selesai kuliah di kota Medan, kalimat “Jangan kayak menunggu tahi hanyut” membuat kenangan masa kecil terbayang lagi. Kalau bermain sepakbola, kalimat tersebut akan diucapkan pada siapa saja yang alih alih “mengejar” bola yang sedang dikuasai lawan, namun hanya menunggu di depan gawang lawan menunggu operan bola dari teman satu tim, untuk kemudian berusaha menggolkannya. Kalimat yang pantas diucapkan kepada mereka yang tidak mau bersusah payah.

Kalimat itulah yang dipakai KI (demikian tokoh yang kisah hidupnya ditulis dalam buku ini biasa disapa) sebagai kalimat pembuka pengantar biografi bertajuk “40 Tahun Jadi Wartawan, Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” ini. Kalimat yang pasti memiliki arti sendiri buat wartawan yang pernah bekerjasama dengannya atau pernah menjadi bawahannya. Konon kalimat tersebut akan diungkapkan kepada wartawan yang hasil kerjanya tidak memuaskan tokoh yang tahun ini genap empat puluh tahun berkarir sebagai wartawan.

Bukan tanpa alasan Karni Ilyas mengucapkan kalimat tersebut kepada wartawannya. Pengalaman panjang sebagai wartawanlah yang mendorongnya untuk mengucapkan kalimat tersebut. Berlatar pendidikan Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Karni yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di Sumatera Barat, mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Mewujudkan cita-citanya untuk menjadi orang terkenal dengan menjadi seorang wartawan.

Awalnya Karni bersekolah di Sekolah Tinggi Publisistik. Kuliah dijalani sambil bekerja apa saja, termasuk menulis untuk harian Abadi. Kegiatan terakhir ini dijalani setelah Karni dihadapkan pada pertanyaan, “mau sekolah atau mau kerja?”. Namun, meski dibebaskan menulis soal apa saja di Abadi, Karni merasa belum cukup puas. Akhirnya, berbekal “surat sakti” dari Novyan Kaman, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kebetulan adalah sahabat ayahnya, Karni mendatangi Rahman Tolleng yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Suara Karya.

Karni yang sedari kecil sudah ditinggal mati oleh ibunya, tetap menunggu Rahman Tolleng di kantornya meskipun kepadanya diminta untuk meninggalkan saja surat sakti yang dibawanya. Disuruh menunggu sampai seharian, tidak menyurutkan langkahnya untuk bertemu langsung dengan Rahman Tolleng. Meski sudah menunggu hampir seharian, kegigihan seorang Karni Ilyas masih harus diuji. Surat sakti yang dianggap bisa memudahkan langkahnya menjadi wartawan Suara Karya, dibuang begitu saja ke tong sampah. Rupanya kegigihannya masih harus diuji. Karni tidak langsung berbalik ketika Rahman Tolleng menyampaikan bahwa tidak ada lowongan di Suara Karya.

“Kalau saya kalah mental waktu itu dan pilih pulang, habislah. Enggak jadi apa apa” Katanya. Ternyata kegigihannya mendapat sambutan baik dari Rahman Tolleng. Dia langsung disuruh kerja hari berikutnya. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah sumber pertama berita yang dituju. Hal itu karena kepada Rahman Tolleng, Karni menyebut bahwa soal hukum belum masuk di harian Suara Karya. Namun ternyata, diterima bekerja di Suara Karya, tidak serta merta memudahkan semuanya. Rahman Tolleng, sepertinya lupa untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan rekrutmen karyawan baru. Seperti ruang dan peralatan kerja bahkan urusan penggajian. Rahman Tolleng sampai harus mengeluarkan uang pribadinya sebagai gaji pertama Karni. Karena ternyata namanya belum tercatat sebagai karyawan di bagian personalia.

Menjadi wartawan, membuat pergaulan Karni sangat luas. Dia berteman dengan siapa saja. Dari menteri, jaksa, polisi, hakim, pengacara sampai preman. Satu hal yang kemudian hari ternyata banyak manfaatnya karena bukan hanya banyak membantunya dalam pekerjaannya sebagai wartawan, namun juga membantunya dalam membantu sesama. Beberapa kali dia mendapat berita berdasarkan informasi yang didengar dari sahabatnya. Bahkan keluwesan dalam bergaul juga yang membuatnya berhasil meyakinkan pejabat hukum untuk membebaskan terdakwa yang salah vonis.

Keluwesan dalam pertemanan pulalah yang kemudian “menyelamatkan” Karni Ilyas. Ketika didepak keluar dari majalah Forum Keadilan yang dibesarkannya, seorang sahabat yang kebetulan pengusaha menawarkannya jabatan komisaris di perusahaannya. Namun jiwa dan cita-cita sebagai wartawan tetap dipertahankannya. Jabatan tersebut tidak lama didudukinya. Seorang sahabat lain memintanya untuk membenahi SCTV yang sedang kesusahan. Diapun kembali ke habitatnya sebagai wartawan dengan menjadi pemimpin redaksi Program Liputan 6.

Pengalaman puluhan tahun sebagai wartawan media cetak, dimulai dari harian Suara Karya, majalah Tempo hingga majalah Forum Keadilan, tidak membuat seorang KI gagap dalam menjalani peran barunya. Di tangannya, Liputan 6 yang sebenarnya sudah ada sebelum dia masuk SCTV semakin dikenal. Bahkan, memperoleh beberapa kali penghargaan sebagai program berita terbaik. Di Liputan 6 pula lah, Karni dianggap berjasa mengantarkan SBY terpilih sebagai Presiden. Bahkan mengantarkan SCTV sebagai stasiun televisi nomor satu.

Didorong oleh solidaritas kepada teman yang mengajaknya ke SCTV, Karni memilih keluar dari SCTV ketika sang teman tidak lagi menjadi pemilik SCTV. Pertemanan pulalah yang kembali mengantarkannya masuk ke ANteve. Selesai membenahi ANteve, Karni pindah TVOne, televisi lain yang masih merupakan satu group. Karni berhasil memoles berita yang bukan merupakan program unggulan menjadi unggulan. Boleh dibilang, di televisi inilah Karni semakin dikenal orang. Melalui program Indonesia Lawyers Club, yang cikal bakalnya berasal dari organisasi Jakarta Lawyers Club, yang didirikannya bersama beberapa pengacara sahatanya.

Sebagai sebuah biografi, buku yang ditulis oleh Fenty Effendy ini cukup lengkap menggambarkan perjalanan hidup seorang Karni Ilyas. Dimulai dari kisah orang tua dan kelahirannya, masa kecil di tengah berkecamuknya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, keluar masuk gang sempit dengan sepeda motor inventaris kantor, menerapkan prinsip ekonomi ketika berjualan rokok, hingga menjadi direktur dan pemimpin redaksi berita di tiga televisi. Melalui buku ini pulalah, pembaca mengetahui mengenai berdirinya Jakarta Lawyers Club atau sejarah diaktifkannya kembali upaya hukum Peninjauan Kembali.

Buku ini juga menceritakan, ternyata Karni Ilyas pernah dinominasikan untuk memperoleh Bintang Mahaputra dari Presiden, hingga pernah hendak ditawari menjadi Jaksa Agung pada masa pemerintahan Megawati. Buku ini, juga bercerita bagaimana seni mencari berita yang diajarkannya kepada wartawannya, membuat seorang anak buahnya lebih memilih untuk mengejar narasumber berita, daripada mengikuti ujian dalam rangka memperoleh beasiswa.

Untuk menguatkan karakter sang tokoh yang biografinya ditulis, penulis juga menyertakan beberapa potongan berita koran atau majalah ‘karya’ sang tokoh. Termasuk beberapa Catatan Hukum, yang merupakan kolom tetap Karni Ilyas ketika menjadi wartawan di Forum Keadilan. Untuk menggambarkan beberapa peristiwa yang terjadi pada masa lampau, penulis juga melengkapi tulisannya dengan melakukan riset. Entah pada buku atau media yang dianggap dapat menggambarkan suasana pada saat itu. Bahkan pada buku yang merupakan biografi beberapa tokoh lain.

Sebagai sebuah kisah mengenai perjalanan karir seorang wartawan, buku ini sangat layak untuk dibaca bukan saja oleh mereka yang bercita-cita menjadi atau merupakan seorang wartawan. Juga mereka yang percaya bagaimana niat yang kuat, kerja keras, sikap pantang menyerah serta sikap konsisten bisa menjadi bekal untuk menjadi terkenal…eh berhasil…:-)