Karena anak anak ditraktir mertua untuk jalan jalan ke manca negara, terpaksa mengurus paspor anak anak. Sesuatu yang tidak pernah terpikir buatku. Konon pulak mengurus paspor anak anak, mengurus paspor sendiri saja aku males jika tidak ada penugasan dari kantor.

Mengumpulkan dari sana sini, aku memperoleh informasi bahwa sekarang pengurusan paspor sudah lebih mudah. Mendaftar sudah bisa dilakukan daring (online). Aku pun mengunjungi laman web imigrasi. Ternyata laman pendaftaran tidak bisa diakses. Berdasarkan informasi, konon servernya disambar petir. HEH!?!? Beberapa minggu mencoba mengakses, perbaikan tak kunjung dilakukan. Akses masih belum bisa dilakukan. Akhirnya kuputuskan untuk mendaftar sendiri, di tempat.

Berdasarkan informasi juga, pendaftaran per hari dibatasi hanya beberapa nomor. Terbatas. Akupun menyiapkan anak anak untuk siap menghadapi situasi terburuk (JIAH!!). Gawai dibawa, baterai dan power bank terisi penuh. Jalan pagi hari dari rumah. Anak anak permisi tidak masuk sekolah. Pukul 07.00 pagi kami sudah mengantri. Di kantor imigrasi Jakarta Timur.

Entah karena laman web rusak atau karena travel fair baru berakhir, pendaftar membludak. Untuk mendapatkan nomor 185 dan 186, butuh waktu antri hampir dua jam! Selesai mengantri nomor, kami masuk ke ruang verifikasi dokumen. Tempatnya lumayan sejuk, namun tetap ramai. Kuperkirakan, ada 200an nomor yang mendaftar hari itu. Verifikasi dokumen berlangsung kurang lebih satu jam sejak masuk ruangan! Sekitar pukul 11.00 kami dipersilahkan naik ke lantai 2 untuk wawancara dan pengambilan foto. Dari informasi hasil tanya sana sini, aku memperoleh informasi, nomor yang sudah diproses masih hitungan puluhan. Dem!!

Di lantai dua antrian sudah ramai, meski semuanya duduk rapi dalam ruangan berpendingin udara, terbayang waktu yang kami butuhkan untuk melalui ini. Ada tujuh loket yang dibuka. Proses yang berlangsung membuatku menyesal kenapa tidak menggunakan calo saja. Meski harga yang ditawarkan lebih dari dua kali lipat tarif resmi yang hanya 655 ribu rupiah per satu paspor elektronik.

Setiap selesai mengurus satu pendaftar, petugas tidak langsung memanggil pendaftar berikutnya. Mereka ngobrol sesamanya, bercanda sekadarnya mungkin. Sesekali terlihat memeriksa telepon genggam. Mungkin memeriksa pesan masuk kemudian membalasnya. Manusiawi mungkin. Entahlah. Namun aku yang melihat (mungkin yang lain juga) sebel dibuatnya. Antrian semakin banyak padahal. Mereka yang selesai verifikasi dokumen beranjak naik ke atas.

Waktu makan siang tiba. Beberapa petugas bergesas meninggalkan loketnya. Hanya tersisa tiga loket yang melayani. Kelakuan hampir sama. Aku ragu. Aku bingung. Anak anak pasti lapar. Sementara petugas masih melayani dengan santainya. Aku tidak berharap petugas bekerja cepat tanpa berhati hati. Karena ini menyangkut dokumen negara. Minimal mereka tidak bercanda atau tidak berlama lama dengan telepon genggamnya.

Karena khawatir nomer terlewat plus agar anak anak adem dan biasa dengan suasana antrian, akhirnya aku memesan makanan melalui ojek daring. Aku turun ke bawah sebentar untuk mengambil pesanan makanan. Kami makan di area kosong di sebelah belakang ruang wawancara. Setelahnya menunggu lagi. Beruntung kedua pengaju paspor tidak terlalu mengeluh. Terima kasih kepada teknologi dan permintaan mereka agar segera dibuatkan paspor. Karena kedua hal tersebutlah yang bisa membuat mereka bersabar.

Selesai makan, kami masih menunggu. Aku yang mendampingi sudah dihinggapinrasa bosan dan kesal sejak tadi. Penantian aku isi dengan beberapa kali mondar mandir. Sesekali turun ke bawah meninggalkan anak anak di atas. Penyesalan mengapa tidak menggunakan calo beberapa kali muncul. Rasanya memberi uang sejuta untuk satu paspor, pantas saja jika melihat kondisi ini. Belum lagi mengingat urusan kantor yang aku tinggalin karena awalnya berpikir pengurusan ini bisa selesai dalam setengah hari.

Sekitar pukul 17.00 akhirnya keduanya selesai difoto. Karena paspor elektronik, petugas bilang bahwa paspor akan selesai dalam sebulan. APA?!?!?! Lega bercampur kesal atau sebaliknya. Aku menerima bukti pendaftaran dan nomor rekening untuk membayar biaya pengurusan. Tertulis catatan dalam pengambilan paspor. Bahwa pembayaran dilakukan paling lambat dalam 7 hari kerja. Pengambilan paspor 3 hari kerja setelah melakukan pembayaran. Apabila pemohon tidak datang kembali dalam 30 hari sejak tanggal permohonan, permohonan dinyatakan batal!. “Yeah, right” batinku mengingat waktu sebulan yang dijanjikan petugas foto.

Ketika pulang dan menunggu kendaraan, Gabriel hanya berucap, “we’ve been ten hours, here”. “Katanya mau dibikinin paspor…” jawabku. Dalam hati aku membatin, GILAK!!!!

Aku sempat mencatat nomor pengaduan yang dipampang pada dinding kantor imigrasi. Aku mengirim pesan untuk minta perhatian. Sampai kami kembali dari kantor imigrasi, pesanku (whatsapp) tidak dibaca!! Baru dibalas beberapa hari kemudian. GILAK!!!! (2). Ke mana yang namanya revolusi mental. Di mana yang disebut siap melayani? Satu hari terbuang percuma?!?!?

Hari ini aku kembali lagi ke kantor imigrasi. Karena sebagaimana janji, sebulan paspor akan selesai. Sambil berharap semua dimudahkan. Karena berdasarkan catatan pada lembar pembayaran, sudah lebih dari 30 hari sebenarnya. Karena tiba sudah pukul 11.00, tidak perlu mengantri mengambil nomor antrian. Karena loket pengambilan dibuka mulai pukul 10.00. Aku mendapat nomor 138 dan 139. Masih lebih pendek dari nomor antrian pembuatan. Lama menunggu, pukul 12.00 petugas mengumumkan waktu makan siang dan shalat telah tiba. Kami yang menunggu di dalam ruangan diminta kembali pada pukul 13.00, ketika nomor antrian sudah mencapai 130. Aku mencoba bertanya, apa tidak ada satu petugas yang bisa melayani? Sebagaimana loket foto di atas yang pelayanannya tidak berhenti sama sekali meski waktu makan siang tiba. Tidak ada kata petugas. Naseeb. 😔😔😔

Pukul 13.00 persis aku sudah kembali ke ruangan pengambilan. Melewatkan makan siang yang memikirkannya pun aku sudah tak selera. Selain karena leletnya pelayanan, juga karena rasanya masih kenyang sehabis makan sate dan empal gentong sisa acara seremoni tadi pagi.

Dan ketika petugas mulai memanggil kembali, dimulai dari 140!! HEH!?!? Beberapa pendaftar yang nomernya terlewati, berdiri serentak dan mendatangi petugas. untunglah petugas akhirnya menyadari kesalahannya.


Sepanjang yang aku ingat, kariernya dimulai dari Indosiar. Kalau tidak salah beliau adalah penggagas acara Gebyar BCA. Ragam Pertunjukan (Variety Show) yang disponsori oleh BCA, bank yang saat itu terafiliasi dengan televisi Indosiar.

Pada masanya, bentuk Gebyar BCA sedikit berbeda dengan acara huburan lain di televisi. Menggabungkan nyanyi, wawancara dan ragam hiburan lain seperti sulap. Seingatku, acara itu lumayan berhasil. Mungkin karena perbedaan bentuk itu atau (artis) pengisi acaranya. Saat itu beliau adalah pengarah acara. Kurang paham juga apakah selain pengarah acara, beliau juga bertindak sebagai produser. Yang menentukan bentuk acara dari awal sampai disajikan kepada pemirsa.

Lepas dari Indosiar, Wishnutama nama anak muda itu, pindah ke televisi milik Chairul Tanjung (CT) konglomerat muda yang memulai bisnis konglomerasinya dari sebuah bank (Bank Mega). Di Trans TV lah, kariernya menanjak. Dimulai sebagai pengarah acara hingga memimpin dua televisi milik CT (Belakangan CT membeli TV7 milik Kompas Gramedia dan mengubah namanya menjadi Trans7).

Pada masa Tama (mas Tama, begitu beliau selalu disapa, dan sepanjang yang aku tahu beliau lebih suka disapa mas dari Bapak. Bahkan oleh anak buah sekalipun) duo Trans berjaya. Seolah menyalip televisi lain yang lebih dahulu berdiri. Apalagi waktu itu, manajemen Trans diperkuat juga oleh Ishadi SK. Mantan Direktur Televisi di Departemen Keuangan. Yang ketika menjadi kepala stasiun TVRI Jogja, juga membuat gebrakan di televisi stasiun daerah itu.
Kejayaan duo Trans justru bukan diperoleh dengan membeli program buatan Amerika Serikat atau Amerika Latin, kiblat televisi waktu itu. Justru oleh ragam acara buatan dapur sendiri (In House Program). Sepanjang yang aku ingat, dimulai dari Extravaganza yang berbentuk komedi situasi, Empat Mata (belakangan berubah menjadi Bukan Empat Mata karena kena semprit Komisi Penyiaran Indonesia), sampai Opera Van Java.

Acara berjaya, rating naik, iklan mengantri, jabatan Direktur Utama, tidak lekas membuat Tama berpuas diri. Dalam usia yang masih terhitung muda, Tama mengundurkan diri dari duo Trans. Banyak yang kaget ke televisi mana akhirnya dia berlabuh. 

Sampai akhirnya publik menyadari, dia membangun NET bersama Agus Lasmono, pemilik group Indika yang kebetulan putra dari Sudwikatmono yang dikenal sebagai raja bioskop (lewat jaringan 21). Kedua anak muda inilah yang membangun NET tiga tahun terakhir.

Di NET semua ide dan kreativitas seorang Tama dituangkan bebas. Mungkin karena sekarang posisinya bukan hanya sebagai eksekutif. Juga sebagai pemilik. Rekrutmen tenaga kerja diumumkan terbuka. Ribuan orang melamar. Beragam media (sosial) digunakan. Karyawan yang diterima, digembleng ala militer. Mereka menggunakan seragam kemeja hitam celana khaki dan sepatu ala militer pasukan perang gurun. Soal seragam ini juga diterapkan oleh Tama ketika di Trans. Mungkin karena berlatar belakang militer (konon orang tuanya adalah militer). 

Saat itu ada kebanggaan bagi awak Trans mengenakan seragam mereka. Mungkin itu yang menginspirasi, sehingga pelan pelan semua televisi mengenakan seragam kepada awaknya. Sempat terdengar komentar miring tentang kepemimpinan ala militer itu. Namun Tama bergeming. Toh sukses bisa diraih.

Mirip dengan strategi yang dijalankan ketika di Trans, NET pun banyak menjual program besutan sendiri. Tetangga Koq Gitu, OK JEK, Ini Talkshow, The Comment hingga Teka Teki Waktu Indonesia Bercanda adalah acara andalannya. Meski beberapa ditayangkan secara striping, acara bisa bertahan lama.

Selain dari kreativitas yang seolah tak ada matinya itu, yang membuatku kagum pada anak muda itu adalah konsistensinya dalam mendisiplinkan dan membuat bangga karyawannya. Beliau tidak hanya memerintahkan untuk mengenakan seragam, namun turut serta menggunakan seragam yang dia perintahkan dikenakan itu. COOL!

Duduk di belakang sebagai ‘kasta paling rendah’ omprengan secara tidak langsung mengajarkan atau mempertontonkan seberapa toleran seseorang.

Ketika kendaraan mulai berjalan semua penumpang mulai merogoh saku, dompet atau tas masing masing. Untuk mengambil ongkos. Penumpang depan akan langsung memyerahkan kepada supir. Penumpang tengah dan belakang akan mengumpulkan uang, menyatukannya untuk kemudian menyerahkan ke depan, kepada supir.

Dari sini pertunjukan sikap itu sudah dimulai. Siapa yang akan dengan sukarela menjadi pengutip untuk kemudian menyerahkan ke supir dan menyerahkan kembalian kepada yang lain? Selama ini selalu ada yang dengan sukarela melakukannya. Biasanya adalah dia yang uangnya paling besar (lima puluh atau seratus ribu misalnya). Proses itu sepertinya alami saja. Karena dia butuh uang kecil milik penumpang lain sebagai kembalian uangnya. Proses pemilihan pengumpul selesai. Setelah itu dia akan mengatur pengembalian penumpang lain (jika ada). Untuk bagian belakang sebagai contoh, dia akan mengembalikan lima ribu jika ada yang menyerahkan dua puluh ribu. Atau tiga puluh lima ribu jika ada yang menyerahkan lima puluh ribu. Demikian seterusnya.

Jika semua telah terkumpul dan uang yang terkumpul lebih banyak dari yang seharusnya, dia akan menggeser ke depan uang tadi sambil menyebut kembalian yang dibutuhkan warga belakang beserta nominal yang dibutuhkan. Kembali sepuluh ribu, kembali enam puluh ribu receh (karena uang yang disetor ke depan terdiri dari tiga lima puluh ribuan). Si pengumpul biasanya mendahulukan kembalian penumpang lain daripada kembalian buat dirinya sendiri.

Biasanya lagi, sang pengumpul akan menunggu kembalian dari depan setelah supir menyerahkan. Entah karena memang supir menyediakan uang kecil atau setelah ‘menukar’ di dua pintu tol yang dilalui. Barulah sang pengumpul bisa tenang melanjutkan aktivitasnya seperti tidur, mendengar musik, membaca dan seterusnya. Sementara penumpang lain yang uangnya sudah kembali kadang sudah asyik sendiri bahkan mungkin sudah tidur.

Pagi ini tergelitik dengan kelakuan penumpang sebelah kiriku. Dia mengantongi kembalian uangnya terlebih dahulu baru kemudian menyerahkan seratus lima puluh ribu ke depan. “Kembali enam puluh” katanya untuk kemudian asyik dengan gawainya. Sepertinya mengabaikan enam puluh ribu kembalian milik penumpang lain. Entah karena merasa aneh dengan sikap si bapak pengumpul atau karena memang tulus, bapak yang duduk di depan pengumpul mengucap terima kasih kepada bapak pengumpul di sebelahku, bukan kepada ibu depan yang menyerahkan kembalian. Aku membacanya semacam sindiran.

Selain contoh di atas yang aku saksikan pagi ini, pernah juga seorang wanita yang terlihat dari bahasa tubuhnya sangat enggan mengambil peran sebagai pengumpul. Uang seratus ribu miliknya seolah dilepas dan justru disorongkan kepada penumpang lain yang terlebih dahulu menyerahkan lima belas ribu padanya. Akhirnya teori bahwa pemilik uang pecahan terbesar secata otomatis akan dipatahkan. Si mbak pemilik uang seratus ribu tadi, dengan santai akan melanjutkan aktivitasnya. Bukan merias wajah padahal. Kegiatan yang menurutku membuatnya menolak peran sebagai pengumpul. Dia memasang alat bantu dengar dan mengalunlah musik indah dari gawainya ☺️

Minggu lalu sekali aku mendapat tugas sebagai pengumpul. Berlima diantara penumpang belakang kami telah mengumpulkan uang. Aku sudah mengembalikan semua kembalian yang seharusnya. Sudah menyerahkan ke depan. Selang beberapa saat seorang ibu dengan gelagapan menyerahkan uang. Aku hanya menjawab, “Langsung ke depan saja bu. Kami sudah” diapun menyerahkan uang seratus ribu ke depan. Kami yang telah selesai dengan kembalian, asyik dengan kegiatan masing masing. Beliau masih menunggu kembalian di pintu tol Halim.

Kenapa sebagai pengumpul aku mengabaikan si ibu? Semata ingin memberi pelajaran. Dalam proses yang cukup waktu (sejak omprengan bergerak hingga hampir mencapai gerbang tol Jatibening) si ibu dengan asyiknya tetap bermain dengan gawainya. Ketika dalam ruang belakang mobil yang tidak sampai dua meter persegi itu sedang melakukan kegiatan mengumpul uang dia tidak peduli. Memang aku sengaja tidak menagih padanya. Aku kan pegawai Bursa!! Bukan kernet yang menagih ongkosnya 😀

Yang juga menarik dan harus disaksikan sendiri (hanya realita ditambah imajinasiku semata ☺️) adalah proses awal ketika omprengan mulai berjalan. Berenam kami di belakang akan saling mengintai. Uang siapa yang paling besar pecahannya. Untuk kemudian kepadanyalah kami serahkan beban sebagai pengumpul.

Seorang teman pernah memberi masukan bahwa satu hal yang perlu diubah dariku adalah aku sedikit kaku. Kalau dipikir ada benarnya. Bekerja di regulator (mungkin) membuatku terbawa suasana. Entahlah.

Sepanjang yang aku ingat kekakuan itu tertanam sejak dini. Yang masih lekat dalam ingatan adalah soal berpakaian. Puluhan tahun lalu ketika mulai kuliah, kami mahasiswa baru diingatkan oleh dosen agar berpakaian rapi. Peringatan itu dilakukan ketika masa ordik (orientasi pendidikan). Semacam masa ospek atau MOS kalau jaman sekarang. Disebutkan berpakaian rapi itu adalah berkemeja dan bercelana bahan (untuk membedakan dengan celana denim dan sejenisnya). Sepanjang lima tahun di kampus (sampai saat terakhir ketika mengurus ijazah ketika telah lulus meja hijau) aku tetap pada ketentuan ini. Lupa apakah hal tersebut tertulis pada buku peraturan atau tata tertib berkuliah, namun aku ikut aturan itu. Bahkan saat akhir perkuliahaan ketika teman teman seangkatan telah mulai menggunakan denim dan kaos (baik dengan kerah atau oblong) ke kampus.

Entah ketika itu teman teman berpendapat apa. Yang aku ingat ada satu teman yang akhirnya mendapat julukan ‘si camat’ karena ternyata berperilaku ‘lebih rapi’ lagi dari aku. Teman ini tidak pernah menggulung lengan panjang kemejanya (aku masih menggulung) bersepatu pantofel mengkilap dan buku selalu ditenteng (tak pernah menenteng tas atau ransel). Sementara aku bersepatu kets saja dan selalu menenteng ransel ke kampus.

Padahal aku juga ingat waktu itu ada dosen yang dengan santainya mengenakan denim ketika mengajar. Memelihara kuncir yang dibiarkan tergerai, terlihat ketika beliau menulis di papan dan membelakangi kami mahasiswanya. Merokok di ruang kelas (saat itu soal merokok memang belum seperti sekarang. Selain itu struktur gedung kami yang unik juga tidak memerlukan pendingin ruangan sehingga dimungkinkan untuk merokok di kelas). Waktu itu aku mencoba memahami latar belakang pendidikan sang dosen yang katanya baru kembali dari Amerika menyelesaikan program doktornya. Terbiasa lebih bebas di negara Amerika yang liberal membuatku seperti memaklumi penampilan pak dosen.

Kebiasaan sama terbawa ketika berkebaktian di gereja. Aku selalu berpegangan bahwa ke gereja adalah berkunjung ke rumah Tuhan. Karena demikian agama mengajarkan sejak masih Sekolah Minggu. Yang aku ingat, doktrin yang aku dapat, berkunjung ke rumah Tuhan sudah pasti harus sopan. Lha wong bertamu ke rumah orang saja kita harus sopan? Masa bertamu menggunakan celana pendek? Bertamu artinya kita menghargai yang kita kunjungi. Berpakaian rapi ketika berkunjung ke rumah Tuhan merupakan hal yang wajib dijalankan. Aku juga ingat ketika itu aku juga tidak pernah mengunyah permen ketika sedang berkebaktian. Alasannya sederhana, kebaktian adalah proses berkomunikasi dengan Tuhan. Bagaimana kita misalnya berkomunikasi (berbicara) dengan seseorang yang lebih tua (sebagai contoh ekstrim) sambil mengunyah sesuatu?

Dengan latar belakang seperti itu perilakuku terbawa ke dunia kerja. Meski dengan sedikit modifikasi. Awal kerja masih menggunakan dasi. Tiga tahun bekerja aku mulai malas menggunakan dasi dalam bekerja (meski peraturan masih mengharuskan menggunakannya). Aku juga selalu mengenakan kemeja lengan panjang yang lengannya selalu digulung. Bukan apa apa sedikit mengganggu buatku dalam bekerja dengan lengan kemeja tidak digulung. Kebiasaan menggulung lengan kemeja ini terbawa juga bahkan ketika mengenakan batik lengan panjang 😔.

Bahkan ketika mengenakan denim ke kantor sudah diperbolehkan, hanya sekali aku melakukannya. Itu juga sebagai bentuk ‘protes’ karena sepertinya berpakaian pantas sudah mulai tidak dipedulikan lagi. Bercelana denim dan berkaos polo aku lakukan bahkan ketika aturan mengenai diijinkannya penggunaan denim diberlakukan. Justru setelah pengenaan denim ketika hari Jumat diberlakukan, aku tidak pernah mengambil kesempatan itu. Karena kembali sebagaimana dua contoh pada masa lalu, menurutku aku harus menghargai lembaga tempatku bekerja. Menghargai tamu yang mungkin akan kami temui ketika bekerja.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya aku terbiasa ‘gatal mata’ dan ‘gatal bicara’ untuk kemudian berkomentar. Beberapa kali kepada teman satu tim yang kepadaku diserahi beban untuk menjadi penyelia, aku akan menegur untuk mengingatkan. Aku juga pernah ditegur oleh atasan karena ketika melakukan pertemuan dengan pihak luar mengenakan jaket yang terbuat dari bahan denim. Saat itu aku merasa aku dan atasan berada di jalur yang sama. Bahwa ada yang tetap harus dijaga soal berpakaian.

Pagi ini aku menemukan kejadian yang membuat aku berkomentar. Seorang pekerja wanita menggunakan celana panjang 7/8 ( begitu kurang lebih istilahnya). Sesuatu yang sebenarnya berdasarkan aturan diperbolehkan, namun hanya di hari Jumat sebagaimana penggunaan denim. Masalahnya adalah ini hari Senin. Mengenakan pakaian kasual (begitu istilahnya) diharamkan pada hari Senin. Melempar isu ini di group diskusi, sepertinya aku sendiri. Teman lain tidak melihat itu sebagai masalah. Mungkin memang aku terlalu kaku. Mungkin memang ada yang aneh dalam prinsip yang aku anut. Entahlah ☺️

“Udah keras itu ikan terinya. Masih tetap kau bawa nasi? tanya Ompung Yeremia pagi ini. “Masih” jawabku. “Gak Masalah” lanjutku. Akupun bergegas mandi. “Perlu dibuatkan telur ceplok?” tanyanya lagi ketika aku telah selesai berpakaian, meski tadi sudah menjawab tidak masalah.

Iya sih. Semalam makan malam menggunakan lauk ikan perang itu. Ikan perang adalah sebutan ngasal kami dahulu. Ada ragam istilah yang kami buat dahulu. Ikan paku atau ikan labang [labang adalah bahasa Batak paku] karena bentuknya yang “lucu” seperti paku. Terutama ikan teri yang besar itu 🙂 Semalam sebelum makan malam, Ompung Yeremia seperti mengingatkan, “Adanya ikan teri tawar” katanya ketika aku membuka tudung saji. Buatku tak ada masalah.

Jarang aku mempermasalahkan makanan. Satu-satunya masalah buatku soal makanan adalah jika nasi dan lauknya masih panas. Selalu ketika hendak makan, aku akan mendahulukan mengambil nasi yang bukan berasal langsung dari penanak nasi listrik (rice coocker). Karena jika langsung dari penanak nasi, pasti masih mengepulkan asap. Dan memakannya aku akan merasa tersiksa karena tidak bisa langsung menikmati. Selain tangan panas, karena aku jarang menggunakan sendok kalau makan, aku juga harus meniup nasinya terlebih dahulu supaya dingin dan nyaman di mulut. Jika tidak ada lagi nasi dingin, aku akan mendinginkan sebentar, nasi yang aku ambil dari penanak nasi. Sering perilaku itu terganggu [terutama malam jika pulang dari kantor, misalnya] karena berdasar kebiasaan, Ompung Yeremia akan memanasi lauk terlebih dahulu. Ya sama saja bohong! 🙁

Kenapa aku bawa nasi ke kantor? Kembali lagi soal kebiasaan. Aku tak terbiasa ribet dengan urusan makanan. Saat makan siang tiba, aku tidak suka berpikir lama untuk memutuskan siang ini makan siapa, bersama siapa, atau di mana. Karena kebetulan kantor sudah menyiapkan makan siang. Aku tinggal masuk ruang makan, isi absen, ambil makanan. Semudah itu. Nah selama bulan Ramadhan, kalau tidak salah dua tahun terakhir, fasilitas itu ditiadakan. Barulah aku bingung. Di gedung kantor ini ada beberapa tempat makan. Di mall seberang kantor apalagi. Tapi kembali, aku gak mau ribet dengan sekadar urusan makan. Jalan paling mudah adalah membawa bekal dari rumah. Dengan segala konsekuensi, sebagaimana ikan paku di atas 🙂

Pembicaraan singkat soal ikan paku tadi pagi juga mengingatkan aku pada masa kecil. Teringat termos cokelat Bapak yang selalu dibawa ke kantor. Juga berisi makan siang.