Baiklah. ‘Orang orang pilihan’ itu akan dilantik. Mereka yang menyebut diri mereka wakil rakyat, [seharusnya] akan segera bertugas.

Mereka inilah yang dulu merayu rakyat. Mereka yang mengotori setiap sudut jalan dengan poster dan spanduk. Mereka yang mungkin telah menjual sebagian atau hampir seluruh harta bendanya. Mereka yang hanya wakil namun sangat senang dengan embel embel Yang Terhormat dibelakang nama sapaanya.

Mereka akan dilantik. Konon untuk acara pelantikan mereka, negara menganggarkan dana hingga 11 miliar Rupiah. Biaya mana termasuk akomodasi, uang saku, bahkan untuk membeli pakaian baru.

Mereka akan dilantik. Ditengah berita mengenai kelaparan yang melanda dan merenggut nyawa 200an warga di Papua, rumah serta puluhan warga Jawa Barat yang meninggal menjadi korban gempa. Ribuan korban semburan lumpur di Jawa Timur.

Mereka akan dilantik. Menggantikan mereka yang sebelumnya berdalih sedang berada ditengah kostituennya, sehingga tidak hadir pada saat rapat pleno pengesahan beberapa regulasi yang menyangkut banyak orang yang mereka wakili. Menggantikan wakil sebelumnya yang beberapa diantaranya sedang diperiksa terkait perkara suap yang sedang dihadapi. Menggantikan beberapa orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan telah ditahan, yang pada saat diperiksa KPK tidak bergelar wakil, namun menjadi oknum.

Mereka akan dilantik. Menggantikan mereka yang mengesahkan UU ITE yang mengakibatkan seorang ibu rumah tangga ditahan hanya karena ingin tahu penyakitnya. Menggantikan mereka yang mengesahkan UU Anti Pornografi yang membuat masyarakat lebih berhati hati kalau mau menjalankan beberapa kebudayaan asli milik bangsa.

Sudah pasti, mereka akan dilantik. Biaya 11miliar Rupiah hanya sebagian kecil dari biaya yang akan mereka kelola dan pergunakan. Masih miliaran bahkan triliunan Rupiah, uang yang akan mereka jadikan bancakan di Senayan sana.

Sebagai orang yang tidak memilih satupun diantara mereka yang akan dilantik, bahkan juga tidak memilih satupun diantara mereka yang mungkin ‘terganggu pikirannya’ karena tidak terpilih untuk dilantik, atau mendadak miskin karena ternyata tidak berhak dilantik, aku cuma bisa mengucapkan, Selamat dilantik deh.

Kerja yang baik ya. Terserah saja, untuk mengartikan kerja yang baik itu seperti apa. Toh, meski jabatan kalian hanya wakil, kalian lebih paham mengelola negara ini dibanding orang yang bisanya cuma menggerutu seperti aku.

Menurut pemikiranku yang awam dalam hal jurnalistik, penetapan judul dalam sebuah berita setidaknya mencerminkan kandungan dari berita yang ditulis. Sedapat mungkin, dengan membaca judul sebuah berita, pembaca mendapat gambaran akan berita dibawah judul tersebut. Menurutku, tiap-tiap media memiliki prosedur yang hampir sama dalam hal penulisan berita untuk kemudian tayang.

Aku kurang paham, bagaimana alur tayangnya sebuah berita. Tapi mungkin begini : wartawan meliput, kemudian menulis hasil liputannya, diserahkan kepada redaktur untuk dikoreksi, [mungkin] dikoreksi lagi oleh redaktur khusus bahasa, ditata dalam tatanan layak cetak untuk koran atau majalah [atau dalam bentuk lain untuk media lain], baru kemudian dicetak dan dikirim ke pembaca.

Kalau melihat alur ini [meski ini menurut pemikiranku sendiri] kesalahan dapat diminimumkan. Sehingga pada saat media tiba dihadapan pembaca, berita yang dibaca adalah berita yang mencerminkan keadaan sebenarnya yang ingin diwartakan oleh media tersebut.

Soal ini terpikir saat aku membaca Kompas Daring hari ini. Judul yang dipilih, langsung membuatku terkagum-kagum terhadap anggota Brigade Mobil yang bertugas menjadi eksekutor subuh tadi. Bayangkan, Eksekusi Amrozi dkk Menggunakan Satu Peluru. Yang terbayangkan buatku adalah, Amrozi dan kawan-kawan dijejerkan seperti menyusun domino. Saling merapat. Amrozi di depan. Di belakangnya menempel dengan ketat Kawan Amrozi1, disusul Kawan Amrozi2. Masih dengan posisi menempel dengan ketat!.

Setelah itu, ketiganya [yang menempel dengan ketat itu] akan dihadapkan atau membelakangi regu tembak yang sudah disiapkan. Setelah mendapat aba-aba dari komandan regu, DOR ! peluru akan menembus orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Mari berkhayal adegan ini difilimkan. Mungkin sutradara akan menunjukkan sebuah peluru yang melintasi dada ketiganya dalam gerak lambat.

Namun apakah demikian kejadiannya? Setahuku tidak. Karena dari yang pernah aku baca, apa yang terjadi adalah seperti ini. Untuk tiap satu orang terpidana mati yang akan ditembak mati, disediakan satu regu penembak. Kepada masing-masing anggota regu tembak ini, diberi senapan. Dari keseluruhan senapan yang dibagikan kepada regu tembak, hanya satu senapan yang berisikan peluru. Konon, tidak ada seorangpun diantara anggota regu tersebut yang tahu, apakah senapan yang digenggamnya berisikan peluru atau tidak.

Kalau kejadian subuh tadi adalah seperti apa yang aku sampaikan terakhir. Judul berita Kompas Daring ini jelas salah. Karena ternyata ada tiga regu tembak, dengan tiga senapan [masing-masing satu untuk satu regu] yang berisi peluru. Apabila ada tiga senapan berisi peluru, adalah suatu hal yang tidak mungkin bila dikatakan eksekusi Amrozi dkk menggunakan satu peluru.

Dan memang demikianlah adanya. Kandungan dari judul berita tersebut ternyata sebagai berikut, “Regu penembak jitu dari Brimob menembakkan satu peluru untuk masing-masing terpidana mati kasus bom Bali I“. Syukurlah. Ternyata Amrozi dan kawan-kawan tidak dijejerkan untuk kemudian ditembak dengan satu peluru seperti bayanganku di awal tulisan ini.

Mungkin memang tulisan ini tidak melewati alur penulisan berita jaman dulu sebagaimana aku pikirkan diatas, berita ini ditulis. Mungkin, karena bukan tulisan untuk koran atau majalah. Namun untuk media daring. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, mungkin sang wartawan langsung mengirim berita dari tempat kejadian, agar langusung tayang. Bukankah diakhir berita ditulis, “Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network.

Tapi ya sudahlah, ini cuma pikiran orang iseng. Aku tau apabila seorang teman kantor membaca tulisan ini, dia akan komentar, “yang penting esensi beritanya kan bisa ditangkep, bang…” Maup ma hita*

*idiom di daerah Tapanuli. Mungkin dalam bahasa masa kini bisalah disamakan dengan “cape deeeeh……“:-D

Beberapa hari lalu, dipagi hari setelah memarkir motor saat ke kantor, seperti biasa aku memeriksa telepon selularku. Siapa tau ada panggilan tak terjawab, yang luput karena pasti aku tidak mendengar ketika mengendarai motor.

Benar saja. Ada dua pesan muncul di layar. Satu pesan mengatakan ada satu panggilan tak terjawab. Pesan berikutnya, dari fasilitas yang disediakan penyedia jasa telepon selular. Yang memberi kabar bahwa, tadi pukul sekian ada satu panggilan tak terjawab. Tekan sekian sekian jika ingin mendengarkan pesan yang bersangkutan.

Pesan pertama, menyampaikan bahwa ada satu panggilan dari nomor tidak dikenal. Unknown. Bah!!!. Satu hal yang paling mengesalkan buatku untuk urusan telepon seluler. Panggilan dari nomor yang tidak memunculkan nomor apalagi nama pemanggilnya. Beruntung aku menggunakan telepon yang dilengkapi dengan fasilitas untuk langsung menolak panggilan seperti itu. Biasanya, jika ada panggilan seperti itu padaku, tidak akan sempat membunyikan nada dering karena secara otomatis akan ditolak.

Sepanjang hari itu, seingatku ada dua atau tiga panggilan berikutnya yang datang. Dan selalu begitu. Ditolak mentah-mentah oleh telepon pintarku itu. Besoknya kejadian sama masih berulang sebanyak dua kali.

Buatku ini aneh. Asumsiku, panggilan berulang itu masih dari orang yang sama. Juga, mungkin ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan. Kalau itu dari penyedia kartu kredit, yang akhir-akhir ini, dari berbagai perusahaan sedang semangat empat lima menawarkan beragam kemudahan, pasti tidak menggunakan nomor tidak dikenal. Yang aku alami, mereka telemarketing itu menggunakan telepon tetap. Aku menduga, panggilan aneh bin iseng ini berasal dari nomor telepon selular. Dugaan lain yang bisa langsung dieliminasi, panggilan ini berasal dari luar negeri sehingga tidak memunculkan nomor atau nama pemanggil. Dugaan terakhir ini aku dapat setelah bercerita pengalaman ini dengan teman kantor. Aku juga beranggapan, kalau memang ada hal yang penting yang hendak disampaikan, kenapa tidak mencoba menggunakan nomor lain?

Aku tau ada satu provider yang menyediakan fasilitas ini kepada pelanggannya. Yang mengaktifkannya, cukup dengan beberapa kali pencet tombol pada pesawat telepon kita. Aku juga tau, penyedia jasa jaringan lain yang menyediakan fasilitas ini, namun dengan syarat yang lebih ribet. Pengguna harus mengisi formulir dan membayar sejumlah biaya. Untuk kedua penyedia jasa layanan selular ini, aku tidak paham apa tujuan mereka menyediakan fasilitas menyebalkan seperti ini. Dan bukan berarti penyedia jasa layanan selular diluar keduanya tidak menyediakan hal sama.

Soal kenyamanan pengguna telepon selular ini terpikirku malam ini. Saat seorang teman, sampai menulis di situs fesbuk bahwa beliau “hanya akan memilih partai dan presiden yang mau dan mampu melarang perusahaan telekomunikasi mengirim iklan ke ponsel pribadi atau telpon rumah pribadi” Dan di statusnya beliau menulis “perusahaan jasa telekomunikasi stop kirim iklan ke ponsel pribadi dan telepon rumah!”

Terus terang aku berharap beliau menulis sesuatu di blognya yang bisa berakibat seperti bola salju. Sebagaimana aku tau dari situs fesbuk seorang teman yang berakibat dari perusahaan negara yang diulasnya di blog, melakukan perubahan bahkan hingga merasa perlu mengkontak sang teman secara langsung. Saat aku sedang fesbuking pagi ini dia menulis status “kaget, tulisan “Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin” telah menyebar ke banyak milis dan blog, termasuk blogdetik. Iklan pertamina tadi malam juga berubah”

Dan ternyata, harapanku terkabul. Hahahahaha. Temanku yang ‘protes’ itu akhirnya menulis soal ini di blognya. Sekarang, bolehlah aku berharap, efek bola salju berlaku lagi disini. Semoga!