Apa yang akan kalian lakukan ketika di tengah berjalan di mall atau pusat keramaian bertemu seseorang dan dia menyampaikan “mas/mbak, retsletingnya terbuka” atau “pak/bu, ada upil ijo di atas bibirnya”

Apakah kalian langsung menampar orang tersebut? Apakah kalian langsung melaporkan dia menyampaikan hal itu kepada polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik? Atau melaporkannya dengan tuduhan telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan?

Mungkin kalau terjadi padaku, aku akan buru buru memeriksa celana. Atau buru buru menyeka wajah di atas hidung di bawah bibir (aku tak menemukan nama pas untuk bagian wajah itu 😁). Jika memang retsleting terbuka, aku akan kancingkan kembali. Jika ada upil berwarna hijau, aku akan bersihkan. Selanjutnya mengucap terima kasih kepada yang telah memberitahukan tadi. Mungkin sambil tersipu malu ☺️. Karena disampaikannya di area publik. Mungkin saja ada satu dua orang yang memperhatikan pembicaraan dua arah tadi. Mungkin saja ada yang mendengar perkataannya tadi.

Kondisi itu jika yang disampaikan benar adanya. Jika memang tidak benar, minimal aku terhindar dari sesuatu yang mungkin kurang elok terlihat di ruang publik. Dan ini pasti jarang terjadi pada mereka yang tidak saling kenal sebelumnya. Ngapain juga ngurusin orang. Demikian mungkin alasan yang sering kita pilih. Perbuatan mengingatkan itu lebih sering terjadi pada orang yang sudah saling mengenal.

Apa jadinya jika posisinya dibalik? Kalian yang melihat sesuatu yang tidak pantas pada orang lain. Apakah kalian akan langsung menyampaikan hal yang sama? Apakah kalian menyampaikan secara terbuka atau diam diam? Atau kalian akan membiarkan saja?

Kalau berada di posisi tersebut, kemungkinan aku akan menyampaikan kepada orang tersebut. Tentu saja dengan senyap. Terutama jika yang bersangkutan aku kenal. Karena ada yang perlu dijaga. Rasa malu orang tersebut misalnya.

Aku pikir itulah yang sedang dialami oleh Haris Azhar dengan aparat penegak hukum. Haris yang beruntung memiliki informasi mengenai kelakuan tidak patut dari aparat penegak hukum, sedang menghadapi gugatan dari lembaga yang disebut namanya. Melaporkan kepada aparat oenegak hukum. Mengesampingkan apakah yang disampaikan oleh Freddy Budiman bemar atau tidak, menurutku tidak perlulah aparat bereaksi sekeras itu.

Aku pikir seluruh komponen bangsa setuju bahwa narkoba itu membahayakan, merugikan, merusak. Dengan demikian pemberantasan peredarannya harus dilakukan serentak dan bersama sama. Karena korbannya sudah meluas. Bukan hanya kaum papa juga kaum berada. Bukan hanya anak muda juga orang tua. Bukan hanya orang biasa juga aparat negara.

Alangkah baiknya jika respon yang diberikan layaknya memeriksa retsleting tadi. Benarkah terbuka? Jika memang ada aparat yang terlibat, harus ditutup (aparat yang terlibat diproses untuk kemudian ditindak). Kepada yang menyampaikan beri ucapan terima kasih. Jika perlu disampaikan juga, “lain kali jangan teriak di depan umum dong boss. Kita kan jadi malu…☺️”

Sebagaimana biasa setiap awal tahun ajaran baru, aku menyampul buku anak-anak. Dimulai dari buku Gabriel (buku kelas 2 SD) karena buku abangnya belum diberikan oleh sekolah. Sambil menyampul aku tertarik mencari tahu, sebenarnya apa yang diajarkan pada mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Karena rasanya waktu satu tahun cukup untuk mengenalkan (budaya) Jakarta. Kenapa harus ada buku (pelajaran) untuk tahun kedua dan seterusnya.

Namun alangkah kagetnya ketika membaca satu (konon) cerita rakyat pada halaman 74 buku terbitan yudhistira tersebut. Judulnya “Cerita Bang Maman dari Kali Pasir”

Bang Maman adalah pedagang buah di Kali Pasir. Istrinya telah lama meninggal dunia. Bang Maman memiliki seorang putri bernama Ijah. Bang Mana berniat menjodohkan Ijah dengan Salim anak pak Darip, seorang kaya. Meski kaya, konon Salim anak baik dan tidak sombong.

Setelah mereka menikah, pak Darip meninggal dunia. Salim mendapat warisan. Karena tidak bisa mengurus warisan, Salim menyerahkan pengurusannya kepada Kusen orang kepercayaan pak Darip. Sampai satu saat, istri Kusen menyuruhnya untuk menjual seluruh warisan dan meninggalkan Salim. Salim pun jatuh miskin. Akhirnya menjadi pedagang buah. Bang Maman malu karena Ijah hidup miskin, lantas meminta bantuan Fatme untuk mengaku sebagai istri Salim dan menemui Ijah. Ijah marah pada Salim. Salim meninggalkan Ijah.

Ijah berkenalan dengan Ujang. Kemudian mereka menikah. Ketika pesta pernikahan, polisi menangkap Ujang karena ternyata Ujang seorang perampok. Bang Maman ikut ke kantor polisi sebagai saksi.

Disajikan dalam bentuk komik, seolah aku menonton sinetron yang ditayangkan di televisi lokal. Terus terang gak bisa paham, nilai luhur apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua sekolah dasar dengan setting cerita seperti ini. Jika ingin menonjolkan baik dan buruk, nusantara mengenal si kancil. Jika ingin lebih membumi (mengambil setting Betawi) dan menghindari penggunaan si kancil, bisa dengan alur cerita lain. Pemilihan setting Kali Pasir seolah dipaksakan semata agar pas dengan tempat di Jakarta. Semata agar pas dengan topik Cerita Rakyat Betawi. Mungkin karena aku bukan warga Betawi (Jakarta) cerita rakyat yang kukenal hanyalah si Pitung atau soal Nyai Desima.

Dalam pandanganku, mungkin PLBJ ini menjadi jalan mengajarkan kepada anak anak (Jakarta) pendidikan budi pekerti. Namun membaca cerita di atas, aku malah ragu dengan tujuan itu. Apa yang hendak diajarkan kepada anak kelas dua, ketika bang Maman sebagai orang tua yang tadinya menjodohkan putrinya dengan Salim, kemudian berbalik meminta bantuan Fatme untuk mengganggu rumah tangga Ijah ketika Salim akhirnya jatuh miskin?

lamar
fatme

Soal baik dan jahat mungkin soal sederhana. Yang baik akan sentosa, yang jahat akan celaka. Perampok adalah penjahat dan untuk itu layak diurus polisi, dan setelahnya layak untuk ditindaklanjuti dengan proses persidangan agar mendapat hukuman yang setimpal. Mungkin memang tidak cukup satu dua halaman komik untuk mejelaskannya. Atau mungkin anak kelas dua belum bisa menerima penjelasan yang oleh orang dewasa sendiri belum bisa memahaminya. Namun melakukan simplifikasi sebagaimana penutup komik di atas menurutku agak kurang pas.

Selama ini aku sudah cukup nyaman ketika anak anak tidak menonton sinetron di rumah. Tidak masalah keluar biaya sedikit untuk berlangganan tv kabel, dan anak anak lebih menonton tayangan non lokal. Namun kok ya malah kecolongan di sekolah dengan menyajikan cerita yang katanya cerita rakyat namun ternyata sebuah penggalan s*itnetron 🙁

Suatu siang aku menerima telepon dari seorang yang mengku investor. Beliau merasa dirugikan karena perdagangan saham yang dimilikinya sedang dihentikan perdagangannya. Dengan dihentikan perdagangannya, otomatis sang investor tidak bisa melakukan penjualan atas saham yang dimilikinya. Konon beliau merugi ratusan juta sebagaimana pengakuannya.

Jika merugi terkait dengan tidak bisa bertransaksi dan dengan demikian tidak memperoleh keuntungan dari aktivitas beli di harga rendah jual di harga tinggi, mungkin bapak itu benar. Namun jika merugi oleh sebab lain, nanti dulu. Sebab sampai dengan si bapak menjual seluruh saham miliknya, beliau masih tetap memiliki “sesuatu” Sebagai investor, beliau masih pemilik perusahaan.

Intinya si bapak menanyakan perkembangan penyebab dihentikannya perdagangan saham perusahaan miliknya. Beliau menuduh kami sebagai otoritas tidak memperhatikan kepentingan beliau dan investor lain sehingga mereka merugi. Sebagai otoritas, kami memang harus melakukan penghentian perdagangan saham perusahaan tersebut karena melihat terdapat beberapa hal yang harus diklarifikasi oleh manajemen perusahaan. Sambil menunggu klarifikasi selesai, agar perdagangan saham tidak liar akibat ketidakpastian informasi, perdagangannya dihentikan sementara. Sambil kami keminta agar pemilik (pemegang saham) perusahaan, memperhatikan segala keterbukaan informasi yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut. Kepada si bapak aku meminta bantuan. Sebagai pemilik perusahaan, beliau bisa menekan manajemen agar segera menyelesaikan apa yang harus dibenahi. Agar perdagangan saham dapat dibuka kembali. Si Bapak dapat bertransaksi.

Si bapak sepertinya tidak bisa menerima penjelasan. Beliau masih ngotot bahwa kami harus bertanggung jawab. Kepada si bapak aku menjelaskan bahwa sama seperti beliau, sebagai otoritas kami juga menunggu jawaban klarifikasi. Dan tidak bisa memberi tahu kapan akan selesai. Karena semua tergantung kepada manajemen perusahaan. Apakah bisa melakukan perbaikan atau klarifikasi dalam waktu yang sebentar atau waktu yang lama. Ternyata jawabanku tidak memuaskannya. Sampai sampai beliau bertanya, kepada pihak mana lagi dapat mengajukan pertanyaan dan mendapat jawaban yang memuaskannya. Kalau perlu hingga level tertinggi (beliau menyebutkan demikian).

Cukup lama kami berdua berdiskusi mengenai peran masing masing. Sampai aku masih mencoba menjelaskan kepada si bapak menggunakan analogi. Hubungan kepemilikan dengan otoritas penegak hukum. Aku terangkan kepada si bapak begini.

“Seandainya Bapak memiliki sebuah mobil, kemudian mobil tersebut bapak percayakan kepada orang lain untuk digunakan. Apakah bapak masih menjadi pemilik mobil?” “Tentu saja!” Jawabnya tegas. Aku melanjutkan analogiku, “Suatu saat dalam perjalanan malam hari, salah satu lampu depan mobil bapak, mati. Polisi melihatnya. Mobil bapak dihentikan di tengah jalan. Kepada supir yang membawanya, diminta dilakukan perbaikan atas apa yang tidak berjalan semestinya. Dalam hal ini harus mengganti lampu. Karena apabila lampu tidak diperbaiki, berpotensi mencelakakan orang lain. Menurut bapak, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap penggantian lampu agar polisi kembali memperkenankan mobil berjalan. Apakah bapak sebagai pemilik atau supir sebagai pembawa?” Sang bapak terdiam lama. “Apakah ketika mengetahui kondisi yang sedang dialami sopir dan mobil bapak, bapak diam saja? Bapak tidak punya kepentingan agar mobil berjalan lagi? Bapak diamkan saja si supir meletakkan mobil di pinggir jalan?”

Lama terdiam, sepertinya bapak mulai memahami posisinya dan posisi kami. Ujung ujungnya beliau menanyakan bagaimana bisa mengontak perusahaan. Dengan senang hati aku berikan alamat dan nomer kontak yang bisa dihubungi. Seraya berjanji bahwa sebagai polisi yang menghentikan ‘mobil’ tersebut, kami akan menagih perkembangannya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan, kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran atau perasaan. Sebuah kalimat diawali dengan huruf besar, diakhiri dengan titik. Dalam tata bahasa Indonesia terdapat dua jenis kalimat. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Pola dasar kalimat biasanya terdiri dari Subjek, Predikat plus Objek (jika ada).

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu subjek dan satu predikat, serta satu keterangan (jika perlu). Sementara kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu dengan melihat letak konjungsi [kata penghubung]. Dengan pemahaman demikian, kalimat tunggal harusnya hanya memiliki satu konsep pikiran atau perasaan. Kalaupun harus terdiri dari lebih dari satu pikiran atau perasaan, sudah disebut kalimat majemuk dan memenuhi persyaratan sebagai kalimat majemuk.

Susunan beberapa kalimat, menjadi sebuah paragraf [http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf]. Paragraf umumnya terdiri dari tiga hingga tujuh kalimat semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf tunggal. Aku sendiri dalam menyusun paragraf, berusaha untuk terdiri dari tiga kalimat. Hal ini karena aku senantiasa mengingat apa yang pernah disampaikan oleh salah satu dosen ketika kuliah dulu. Mungkin beliau menganalogikan dengan kalimat. Bahwa sebuah kalimat haruslah terdiri dari satu pokok pikiran, demikian juga paragraf.

Proses pembentukan kalimat [dan mungkin pembentukan paragraf] ini terpikir kembali olehku, ketika membaca majalah Rolling Sone [RS] terbaru. Kebetulan aku berlangganan dan rutin membaca setiap edisinya. Sudah lama sebenarnya aku merasa terganggu dengan kalimat dan paragraph yang ada pada setiap artikelnya. Terutama artikel yang ditulis sendiri oleh wartawan lokal. Kenapa wartawan lokal? Karena sebagai majalah yang memegang lisensi dari luar negeri, RS sering memuat artikel yang merupakan terjemahan dari RS edisi luar negeri.

Aku mengambil contoh artikel utama edisi terakhir, yang mengupas mengenai sebuah ban bertajuk SORE. Cobalah simak kalimat berikut :

Awan Garnida Kartadinata, kakak kelas Echa sewaktu SMP dan Bemby di SMA, serta bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Mungkin jika aku diminta untuk menulis ulang kalimat tersebut, aku akan menulis:

Awan Garnida Kartadinata, bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Ada beberapa kata yang menurutku tidak perlu diletakkan pada kalimat itu. Hubungan keluarga antar personil, tidak perlu masuk dalam kalimat ini. Mungkin bisa diletakkan pada awal tulisan. Karena artikel ini mengenai band satu band saja, informasi di awal tulisan cukup menjadi bekal pembaca untuk menelusuri isi artikel. Entah kalau tujuannya adalah untuk menunjukkan luasnya pengetahuan wartawan.

Kalimat lain :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi, tepatnya saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, band terbaik dan paling diminati di Indonesia yang khusus membawakan lagu-lagu The Beatles.

Terdapat 34 kata.

Alternatif menurutku :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi. Hal tersebut dilakukan saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, imitator Beatles terbaik di Indonesia.

MEnjadi 28 kata. Terdapat pengurangan 6 kata. Penghematan enam kata, cukup lumayan untuk satu artikel panjang. Penghematan kata – penghematan kalimat – penghematan tinta, dst…hehehehehe

Kalimat lain :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir, yakni Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Alternatif menurutku :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir. Keduanya adalah Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Dibagi menjadi dua kalimat. Daripada satu kalimat panjang.

Kalimat yang paling panjang menurutku adalah kalimat berikut.

Dialah Ramando “Mondo” Gascaro, pemain keyboard dan vokalis serta sosok yang bertanggung jawab dalam membentuk corak musik Sore yang indah dan kompleks pada album Centralismo (2003) dan Ports Of Lima (2008) semasa berada di band tersebut sejak didirikan -sebagaimana tercantum di kaus Ade- sebelum mengundurkan diri dari band yang didirikan bersama sahabat masa kecilnya, Ade dan Awan, tanpa penjelasan resmi apa pun selain “mereka cukup mengerti kenapa dan sudah waktunya” diwawancara ROLLING STONE pada tahun lalu.

Terdapat 70an kata dalam satu kalimat ini! Entah kalau orang lain membacanya. Aku merasa terengah engah ketika membaca. Tak sabar untuk bertemu dengan titik. Terlalu banyak pokok pikiran yang ingin disampaikan. Selain itu terdapat pengulangan penjelasan mengenai hubungan antar personil, yang seperti aku sebut sebelumnya, hal tersebut bisa diletakkan di awal tulisan.

Ya begitu deh. Mungkin apa yang disampaikan oleh majalah RS adalah standar baku bagi majalah tersebut. Terasa berbeda jika dibandingkan dengan artikel yang ada di TEMPO misalnya. Yang aku tau tetap setia dengan slogan Enak Dibaca dan Perlu.

Guru Besar Tata Negara Yusril Ihza Mahendra, dalam sebuah episode Indonesia Lawyer Club pernah berkata bahwa dalam mengajukan gugatan pada Mahkamah Konstitusi, beliau tidak perlu membawa banyak ahli hukum. Menurutnya, apa yang perlu dibawa cukuplah seorang ahli Bahasa Indonesia/Melayu. Menurutku, hal tersebut dilakukan, karena seringkali di persidangan yang terjadi bukan lagi debat mengenai semata soal hukum. Namun lebih kepada bagaimana memaknai kalimat dalam Undang Undang yang sedang diuji.

Kalau dipikir ada benarnya. Seringkali sebuah peraturan dimaknai berbeda oleh lebih dari seorang ahli hukum. Mungkin itu sebabnya ada kalimat yang menyatakan kurang lebih, “dalam diskusi dua orang ahli hukum, maka terdapat kemungkinan muncul tiga pendapat” (dengan segala hormat kepada para ahli hukum). Perdebatan, seringkali terjadi ketika para ahli hukum memaknai berbeda atas kalimat yang terdapat pada sebuah peraturan.

Bekerja pada sebuah institusi yang diserahi fungsi sebagai regulator, membuatku terbiasa menghadapi kalimat-kalimat hukum. Hal tersebut mau tidak mau harus dilakoni karena kami memiliki tugas untuk membuat peraturan dan memastikan peraturan tersebut dapat dijalankan serta dipatuhi oleh pihak yang diatur. Bukan saja harus mengenai peraturan yang kami buat sendiri. Juga peraturan lain yang terkait dengan pihak yang kami atur. Sering perbedaan pendapat terjadi ketika memaknai Ketentuan pada level undang undang yang dibuat oleh Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Salah satu undang undang yang terkait adalah Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Pasal 72 ayat (1) UUPT mengatur bahwa, Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan. Pasal ini terhitung cukup sering dimaknai berbeda. Kami memaknai begini, pihak yang diatur memaknai begitu. Bertolak belakang tergantung pada sudut pandang.

Menurutku, kalimat pada pasal tersebut haruslah dibaca sebagai dua klausa. Klausa pertama “Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir” sementara klausa kedua “sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sehingga dengan demikian, memaknainya haruslah bahwa “pembagian dividen interim dilakukan pada tahun yang sama dengan tahun buku yang mendasari pembagian dividen interim”. Ribet? Itulah bahasa hukum.

Sebagai contoh, dividen interim tahun buku 2013 misalnya, haruslah dibagikan pada tahun 2013. Rentang waktu pembagiannya dimulai sejak tanggal 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013. Sebab apabila dibagikan pada Januari 2014 apalagi setelahnya, sudah tidak sesuai dengan klausula “sebelum tahun buku berakhir”. Karena tahun buku berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 (dengan asumsi, tahun buku dimulai sejak 1 Januari 2013 dan berakhir 31 Desember 2013).

Masalah apakah dividen interim dapat dibagikan pada rentang waktu tersebut, harus mengacu pada klausa terakhir, “Sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sebab jika hal tersebut tidak diatur pada anggaran dasar, maka pembagian dividen interim tahun buku 2013 (meskipun dibagikan dalam rentang waktu 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013) tidak dapat dilakukan.

Untuk skala yang lebih kecil adalah apa yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Awal tahun, Perusahaan telah menetapkan penggunaan dua jenis seragam yang kami punya dengan ketentuan, “seragam merah digunakan pada Jumat minggu kedua. Sementara seragam biru digunakan pada Jumat minggu keempat”. Hari Kamis sore terdapat diskusi (yang pasti dimulai dengan kebingungan) mengenai hal tersebut. Apakah pada hari Jumat tanggal 7 Februari 2013, adalah jadwal pemakaian seragam merah?

Menurutku, kebingungan dimulai dari kalimat “Jumat minggu kedua”. Mencoba memaknai bahasanya, berbekal pengalaman sebagaimana aku tulis di atas, aku mencoba melirik pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

Ming·gu 1 hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; 2 (ditulis dengan huruf kecil) jangka waktu yang lamanya tujuh hari

Yang menyatakan bahwa tanggal 7 Februari adalah jadwal pemakaian seragam, melihat bahwa rentang waktu tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014, merupakan minggu kedua Februari. Karena meskipun tanggal 1 Februari 2014 jatuh di hari Sabtu, menurutnya cukup untuk menyatakan bahwa itu merupakan satu minggu. Padahal jika mengacu pada apa yang dinyatakan oleh KBBI di atas, pemakaian seragam pada bulan Februari 2014, haruslah dilakukan pada tanggal 14 Februari. Bukan pada tanggal 7 Februari. Karena waktu seminggu sebagaimana disebutkan dalam peraturan, baru tercapai pada rentang waktu sejak tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014. Demikian seterusnya sampai akhir bulan.

Namun, ternyata Jika konsisten dengan ketentuan tujuh hari dalam seminggu, tidak terlalu lama akan terjadi kebingungan baru. Bahkan ketika bulan Februari belum selesai. Karena ternyata tidak ada minggu keempat pada bulan Februari 2014. Karena ketentuan satu minggu terdiri dari tujuh hari tidak terpenuhi pada rentang tanggal 23 sampai 28 Februari. Meskipun pada rentang waktu tersebut terdapat satu hari Jumat di tanggal 28 Februari. Lantas kalau begini, harusnya seragam warna biru tidak akan pernah digunakan pada Bulan Februari 🙂

Aku pikir, seandainya kata “Jumat minggu kedua” diganti menjadi “Jumat kedua”, “Jumat ketiga” dan seterusnya, mungkin kebingungan itu tidak akan terjadi. Atau malah berpotensi masalah lagi di bulan selanjutnya? #ah…sudahlaaaah…