balintang

Kotamadya Bekasi sedang persiapan menghadapi pemilihan Walikota dan Wakilnya. Walikota sekarang, yang meneruskan jabatan pejabat sebelumnya yang tersangkut kasus korupsi, akan bertarung lagi. Berpasangan dengan rivalnya pada pemilihan untuk periode sekarang ini. Pepen (sapaan sang calon Walikota) berpasangan dengan Ahmad Saikhu. Dan mereka memilih PAS sebagai tagline.

Pendukung pasangan yang mendapat nomor urut 4 menggunakan media serupa tabloid untuk kampanye. Media itu, diberi judul Kabar4, sesuai dengan nomor urut pasangan. Media itulah yang mampir di teras rumah minggu kemarin. Jika melihat isi tabloid tersebut, ternyata tidak sepenuhnya sama dengan judulnya. Karena ternyata hanya berisi profil sang wakil. Mulai dari profil umum (seperti tanggal lahor, riwayat pendidikan, istri dan enam orang anak,dll), tulisan atau pendapat beberapa orang mengenai sang calon wakil walikota, hingga foto sang calon bersama beberapa komunitas yang ada di Bekasi.

Yang menarik adalah, terdapat tulisan sang calon wakil walikota menghadiri pelantikan Praeses (pada tabloid, disebut Prises) di Bekasi. Praeses merupakan salah satu unsur pimpinan gereja HKBP. Gereja Batak yang konon, paling besar (paling tidak dari jumlah jemaat) di Indonesia. Menurutku, hal ini sengaja ditampilkan, mengingat latar belakang sang calon wakil walikota yang berasal dari partai yang dekat dengan Islam.

Pada halaman yang sama dengan ‘liputan’ mengenai acara HKBP itu, terdapat umpasa (pantun Batak) yang menurutku diartikan dengan sesuka hati. Bahkan (dengan segala hormat) terkesan dipaksakan mendekati situasi sang calon. Pantun tersebut, “Balintang ma pagabe, tumandangkon sitodoan. Arinta ma gabe molo masi paolo-oloan”

Meski berdarah Batak, pengguna aktif Bahasa Batak dan sering mendengar umpasa tersebut, terus terang aku kesulitan menerangkan baris sampiran. Dan lazimnya pantun, pesan yang akan disampaikan lewat umpasa tersebut, terdapat pada kalimat setelah sampiran. Justru disinilah mulai kesalahan penerjemahan muncul.

Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon merupakan tiga “cita-cita” orang Batak. Hamoraon berarti kekayaan, Hasangapon kurang lebih kehormatan. Manakala kata Hagabeon, berasal dari kata dasar ‘gabe’. Mengacu pada “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A.Marbun dan I.M.T.Hutapea, kata gabe berarti : mempunyai banyak keturunan putra dan putri. Masih kamus yang sama menuliskan, “istilah gabe bukan hanya dipakai mengenai manusia melainkan juga mengenai mata pencaharian yang berhasil baik”.

Terus terang, agak sulit buatku untuk mencari padanan yang pas untuk istilah hagabeon. Memang pada masanya dahulu soal keturunan merupakan sebuah ‘syarat’ yang harus dipenuhi sebagai sebuah bentuk ‘kesempurnaan’ di keluarga Batak. Dan atas dasar itulah (untuk sementata) aku merasa lebih pas untuk menggunakan istilah diberkati untuk kata gabe atau hagabeon.

Menurutku, penerjemahan haruslah per kalimat, dan tidak dipenggal. Sehingga jika aku bisa menerjemahkan kalimat umpasa setelah sampiran akan menjadi “Hari kita akan diberkati, jika saling seia sekata. Bukan malah ajakan untuk memiliki banyak anak, sebagaimana disebutkan pada tabloid itu :-D

Buatku yang menghabiskan masa remaja hingga selesai kuliah di kota Medan, kalimat “Jangan kayak menunggu tahi hanyut” membuat kenangan masa kecil terbayang lagi. Kalau bermain sepakbola, kalimat tersebut akan diucapkan pada siapa saja yang alih alih “mengejar” bola yang sedang dikuasai lawan, namun hanya menunggu di depan gawang lawan menunggu operan bola dari teman satu tim, untuk kemudian berusaha menggolkannya. Kalimat yang pantas diucapkan kepada mereka yang tidak mau bersusah payah.

Kalimat itulah yang dipakai KI (demikian tokoh yang kisah hidupnya ditulis dalam buku ini biasa disapa) sebagai kalimat pembuka pengantar biografi bertajuk “40 Tahun Jadi Wartawan, Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” ini. Kalimat yang pasti memiliki arti sendiri buat wartawan yang pernah bekerjasama dengannya atau pernah menjadi bawahannya. Konon kalimat tersebut akan diungkapkan kepada wartawan yang hasil kerjanya tidak memuaskan tokoh yang tahun ini genap empat puluh tahun berkarir sebagai wartawan.

Bukan tanpa alasan Karni Ilyas mengucapkan kalimat tersebut kepada wartawannya. Pengalaman panjang sebagai wartawanlah yang mendorongnya untuk mengucapkan kalimat tersebut. Berlatar pendidikan Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Karni yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di Sumatera Barat, mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Mewujudkan cita-citanya untuk menjadi orang terkenal dengan menjadi seorang wartawan.

Awalnya Karni bersekolah di Sekolah Tinggi Publisistik. Kuliah dijalani sambil bekerja apa saja, termasuk menulis untuk harian Abadi. Kegiatan terakhir ini dijalani setelah Karni dihadapkan pada pertanyaan, “mau sekolah atau mau kerja?”. Namun, meski dibebaskan menulis soal apa saja di Abadi, Karni merasa belum cukup puas. Akhirnya, berbekal “surat sakti” dari Novyan Kaman, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kebetulan adalah sahabat ayahnya, Karni mendatangi Rahman Tolleng yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Suara Karya.

Karni yang sedari kecil sudah ditinggal mati oleh ibunya, tetap menunggu Rahman Tolleng di kantornya meskipun kepadanya diminta untuk meninggalkan saja surat sakti yang dibawanya. Disuruh menunggu sampai seharian, tidak menyurutkan langkahnya untuk bertemu langsung dengan Rahman Tolleng. Meski sudah menunggu hampir seharian, kegigihan seorang Karni Ilyas masih harus diuji. Surat sakti yang dianggap bisa memudahkan langkahnya menjadi wartawan Suara Karya, dibuang begitu saja ke tong sampah. Rupanya kegigihannya masih harus diuji. Karni tidak langsung berbalik ketika Rahman Tolleng menyampaikan bahwa tidak ada lowongan di Suara Karya.

“Kalau saya kalah mental waktu itu dan pilih pulang, habislah. Enggak jadi apa apa” Katanya. Ternyata kegigihannya mendapat sambutan baik dari Rahman Tolleng. Dia langsung disuruh kerja hari berikutnya. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah sumber pertama berita yang dituju. Hal itu karena kepada Rahman Tolleng, Karni menyebut bahwa soal hukum belum masuk di harian Suara Karya. Namun ternyata, diterima bekerja di Suara Karya, tidak serta merta memudahkan semuanya. Rahman Tolleng, sepertinya lupa untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan rekrutmen karyawan baru. Seperti ruang dan peralatan kerja bahkan urusan penggajian. Rahman Tolleng sampai harus mengeluarkan uang pribadinya sebagai gaji pertama Karni. Karena ternyata namanya belum tercatat sebagai karyawan di bagian personalia.

Menjadi wartawan, membuat pergaulan Karni sangat luas. Dia berteman dengan siapa saja. Dari menteri, jaksa, polisi, hakim, pengacara sampai preman. Satu hal yang kemudian hari ternyata banyak manfaatnya karena bukan hanya banyak membantunya dalam pekerjaannya sebagai wartawan, namun juga membantunya dalam membantu sesama. Beberapa kali dia mendapat berita berdasarkan informasi yang didengar dari sahabatnya. Bahkan keluwesan dalam bergaul juga yang membuatnya berhasil meyakinkan pejabat hukum untuk membebaskan terdakwa yang salah vonis.

Keluwesan dalam pertemanan pulalah yang kemudian “menyelamatkan” Karni Ilyas. Ketika didepak keluar dari majalah Forum Keadilan yang dibesarkannya, seorang sahabat yang kebetulan pengusaha menawarkannya jabatan komisaris di perusahaannya. Namun jiwa dan cita-cita sebagai wartawan tetap dipertahankannya. Jabatan tersebut tidak lama didudukinya. Seorang sahabat lain memintanya untuk membenahi SCTV yang sedang kesusahan. Diapun kembali ke habitatnya sebagai wartawan dengan menjadi pemimpin redaksi Program Liputan 6.

Pengalaman puluhan tahun sebagai wartawan media cetak, dimulai dari harian Suara Karya, majalah Tempo hingga majalah Forum Keadilan, tidak membuat seorang KI gagap dalam menjalani peran barunya. Di tangannya, Liputan 6 yang sebenarnya sudah ada sebelum dia masuk SCTV semakin dikenal. Bahkan, memperoleh beberapa kali penghargaan sebagai program berita terbaik. Di Liputan 6 pula lah, Karni dianggap berjasa mengantarkan SBY terpilih sebagai Presiden. Bahkan mengantarkan SCTV sebagai stasiun televisi nomor satu.

Didorong oleh solidaritas kepada teman yang mengajaknya ke SCTV, Karni memilih keluar dari SCTV ketika sang teman tidak lagi menjadi pemilik SCTV. Pertemanan pulalah yang kembali mengantarkannya masuk ke ANteve. Selesai membenahi ANteve, Karni pindah TVOne, televisi lain yang masih merupakan satu group. Karni berhasil memoles berita yang bukan merupakan program unggulan menjadi unggulan. Boleh dibilang, di televisi inilah Karni semakin dikenal orang. Melalui program Indonesia Lawyers Club, yang cikal bakalnya berasal dari organisasi Jakarta Lawyers Club, yang didirikannya bersama beberapa pengacara sahatanya.

Sebagai sebuah biografi, buku yang ditulis oleh Fenty Effendy ini cukup lengkap menggambarkan perjalanan hidup seorang Karni Ilyas. Dimulai dari kisah orang tua dan kelahirannya, masa kecil di tengah berkecamuknya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, keluar masuk gang sempit dengan sepeda motor inventaris kantor, menerapkan prinsip ekonomi ketika berjualan rokok, hingga menjadi direktur dan pemimpin redaksi berita di tiga televisi. Melalui buku ini pulalah, pembaca mengetahui mengenai berdirinya Jakarta Lawyers Club atau sejarah diaktifkannya kembali upaya hukum Peninjauan Kembali.

Buku ini juga menceritakan, ternyata Karni Ilyas pernah dinominasikan untuk memperoleh Bintang Mahaputra dari Presiden, hingga pernah hendak ditawari menjadi Jaksa Agung pada masa pemerintahan Megawati. Buku ini, juga bercerita bagaimana seni mencari berita yang diajarkannya kepada wartawannya, membuat seorang anak buahnya lebih memilih untuk mengejar narasumber berita, daripada mengikuti ujian dalam rangka memperoleh beasiswa.

Untuk menguatkan karakter sang tokoh yang biografinya ditulis, penulis juga menyertakan beberapa potongan berita koran atau majalah ‘karya’ sang tokoh. Termasuk beberapa Catatan Hukum, yang merupakan kolom tetap Karni Ilyas ketika menjadi wartawan di Forum Keadilan. Untuk menggambarkan beberapa peristiwa yang terjadi pada masa lampau, penulis juga melengkapi tulisannya dengan melakukan riset. Entah pada buku atau media yang dianggap dapat menggambarkan suasana pada saat itu. Bahkan pada buku yang merupakan biografi beberapa tokoh lain.

Sebagai sebuah kisah mengenai perjalanan karir seorang wartawan, buku ini sangat layak untuk dibaca bukan saja oleh mereka yang bercita-cita menjadi atau merupakan seorang wartawan. Juga mereka yang percaya bagaimana niat yang kuat, kerja keras, sikap pantang menyerah serta sikap konsisten bisa menjadi bekal untuk menjadi terkenal…eh berhasil…:-)

Bona Pasogit adalah kosakata Batak yang berarti kampung halaman. Kampung halaman sendiri, sering diartikan sebagai daerah tempat kelahiran.Namun buatku, istilah itu berbeda arti. Aku lahir di Tanah Karo. Menjalani sekolah dasar sampai kelas tiga di sana. Melanjutkan kelas empat hingga lulus perguruan tinggi, aku mengikuti orangtua di kota Medan.

Dengan kenyataan demikian, sebagaimana pernah aku tulis, kota Medan lah kampung halamanku. Namun sebagai keturunan dari si Raja Batak, tentu saja aku memiliki ikatan emosional khusus dengan wilayah Tapanuli. Daerah dimana keturunan si Raja Batak awalnya bermukim, sebelum akhirnya berpindah ke ragam penjuru.

Ikatan emosional itu pulalah yang membuatku senantiasa belajar segala sesuatu tentang Tapanuli. Belajar segala sesuatu mengenai adat dan budaya Batak. Meski tidak dilahirkan di Tapanuli, beberapa kali, aku pernah ke Tapanuli. Secara geografi, wilayah Tapanuli terbilang kaya. Beberapa wilayah diantaranya terkenal sebagai penghasil tanaman bernilai ekonomi tinggi. Belakangan, beberapa wilayah lain, memiliki kandungan mineral yang tak kalah ternilai.

Secara demografi, penduduknya juga terkenal bicara lugas, apa adanya. Beberapa pernah menjadi pemimpin di negara ini. Sementara puluhan tahun sebelumnya, seorang puteranya mendapat gelar Pahlawan Nasional, karena sifat heroiknya menentang penjajahan yang dialami Tapanuli. Sayangnya, entah kenapa, beberapa tahun lalu wilayah ini sempat mendapat julukan tak sedap. Sebagai daerah miskin.Bukan saatnya membahas, mengapa hal tersebut bisa terjadi. Buatku, yang lebih penting adalah berbuat sesuatu agar gambaran tidak terlalu bagus mengenai Tapanuli, segera berubah.

Alasan itulah yang terpikir, ketika seorang pengarang sekaligus penerbit buku mengumumkan terbitnya buku baru karangannya. Dalam diskusi di dinding facebook beliau, terlontar ide bagaimana jika buku yang beliau terbitkan bisa dibaca oleh pelajar di Bona Pasogit. Dari diskusi yang berkembang, tercetus semacam gerakan untuk patungan dan bahu membahu mewujudkannya. Ide yang segera direspon baik oleh sang penulis. Ini memang langkah kecil dan mungkin tak berarti apa apa bagi perubahan Tapanuli. Namun, untukku sendiri, gerakan memberi bahan bacaan, merupakan langkah awal gerakan mengubah gambaran yang kurang bagus mengenai Tapanuli.

Oleh karenanya, jika ada yang tertarik, silahkan melihat halaman pengarangnya disini. Dan mengambil bagian dalam langkah kecil itu.

Boleh dianggap sebuah pembenaran,boleh tidak. Tapi sejak maraknya jejaring sosial bernama twitter,buatku waktu untuk membaca buku semakin berkurang. Rasanya, membaca tulisan para pekicau itu lebih seru daripada membaca buku.

Pertama,temanya lebih beragam. Kedua, penggunaan karakter yang hanya 140 dalam sekali kirim membuat membacanya lebih cepat. Kecuali akun yang suka memberi (apa yang akhirnya disebut) kultwit. Kuliah melalui twitter. Tanpa perlu menyandang gelar akademisi. Berikutnya, membaca melalui twitter, memungkinkan mendapat berita yang paling mutakhir. Apa saja yang terjadi di belahan dunia sebelah sana, langsung diketahui saat ini juga.

Melalui akun twitter jugalah, aku mendapat informasi bahwa seorang penulis dari masa puluhan tahun lalu menerbitkan buku. Agak lebay? Yeah,setidaknya aku mengenal dia melalui tulisan tulisannya ketika masih sekolah dulu. Mungkin sedikit bersamaan eranya dengan Hilman (Lupus) atau Gola Gong (Si Roy). Zara Zettira ZR,namanya.

Melalui akun twitternya,Zara menginformasikan akan menerbitkan sebuah buku. Buku tersebut sudah dapat dipesan lebih dahulu dan akan tiba pada pertengahan November katanya. Pemesan awal akan mendapat buku dengan tanda tangan penulisnya,janjinya pula. Aku tertarik. Aku ikuti prosedur pemesanan yang disyaratkan. Kurang lebih akhir November, bukunya pun tiba.

Pada pengantar, Zara kurang lebih mengatakan bahwa buku (novel) Loe Gue End! (LGE!) merupakan karyanya bersama Alana. Konon Alana adalah seorang pengunjung blognya, yang rutin mengirim puluhan email yang bercerita tentang dirinya (Alana). Artinya, kisah dalam novel ini merupakan kisah nyata. Puluhan email tersebut sempat terbengkalai dan tidak direspon sehingga akhirnya membuat Alana marah dan mengirim email ‘penutup’ yang mengungkap kekesalannya karena tidak direspon. Pada akhir emailnya,Alana bilang kepada Zara,”Loe Gue End!”. Kalimat yang akhirnya dipilih menjadi judul novelnya.

Aku tidak terlalu mengetahui sampai sejauh mana keterlibatan Zara dalam novel ini. Apakah sekadar mengedit puluhan email dari Alana, yang berarti Zara bertindak sebagai editor. Atau membuat puluhan email itu sebagai inspirasi novelnya, yang berarti Zara sebagai penulis novel LGE! ini.

Kalau penerbitan, berdasar informasi dari novel, LGE! merupakan novel pertama Zara yang diterbitkan sendiri. Terus terang aku gak terlalu mengikuti perjalanan penerbitan buku Zara. Yang aku tahu, bukunya dahulu diterbitkan penerbit besar dari kawasan Palmerah.

Kembali pada masalah penulisan, aku merasa bahwa apa yang terjadi pada novel ini adalah, Zara hanya sebagai editor. Dia sekadar menyusun ulang atau merekonstruksi puluhan email dari Alana agar layak diterbitkan sebagai sebuah novel. Alasannya adalah, gaya bercerita yang aku temui tidak terlalu nyaman untuk dibaca. Tidak membuat penasaran untuk membaca lanjutannya.

Karena, kembali seperti apa yang aku sampaikan di awal, kegiatan membacaku diselingi oleh kegiatan membaca kicauan di jejaring sosial twitter. Sampai buku tersebut aku miliki beberapa minggu, aku belum tuntas sepenuhnya membacanya. Padahal, tema yang diangkat boleh dibilang termasuk ‘berat’. Selain bercerita soal kisah nyata (meski pelaku disebut anonim) novel ini bercerita mengenai dunia astral. Yang kalau (sekali lagi menurutku) tidak dikemas dengan baik dalam penuturannya, membuat pembaca bingung. Semoga aku salah. Dan semoga tidak terlalu cepat ‘menuduh’, karena aku memberi komentar seperti ini, saat aku belum tuntas membaca novelnya.

Oh iya, selain gaya penulisan, menurutku ada pemenggalan yang agak aneh. Lupa persisnya pada bab berapa (mungkin bab duapuluhan. Karena aku menulis ini di kantor disela istirahat Jumat, sementara bukunya ada di rumah) ada kalimat yang muncul di awal bab baru, padahal kalimat tersebut merupakan bagian dari bab sebelumnya.

Untuk Zara, tulisan ini untuk menepati janji memberi kesan dan pesan sebagaimana aku sampaikan di twitter beberapa hari lalu. Bagaimanapun aku menunggu kisah berikutnya. Soal pramugari?. Sukses terus ya :-)

Dua minggu terakhir, aku ikut ambil bagian melakukan wawancara terhadap calon karyawan untuk mengisi kekosongan personil di divisi mana aku berada. Salah satu pertanyaan ‘standar’ yang selalu kami ajukan kepada kandidat adalah, bagaimana orang terdekat menggambarkan sang kandidat. Sebuah pertanyaan yang [menurutku] minimal menggambarkan dua hal. Pertama adalah kejujuran sang kandidat. Yang berikutnya, pewawancara mengetahui sifat sang kandidat [entah sikap yang positif atau yang negatif] berdasarkan pendapat orang lain.

Buatku pribadi, tujuan kedua agak sulit juga dicapai. Karena, pasti akan bias. Bisa saja, dengan niat ‘menjual diri’, sang kandidat akan memberi jawaban yang bagus saja. Atau bisa juga dengan latar belakang sungkan, sang kandidat tidak mengungkapkan apa adanya. Selain itu, entah mengapa, menurutku latar belakang budaya sebagai bangsa timur, membuat seseorang [mungkin tidak semua orang] tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang menjadi kelebihannya [juga termasuk kekurangannya].

Dengan demikian, aku percaya bahwa bila ingin melihat kepribadian atau sifat seseorang, cobalah lihat atau tanya pendapat orang lain tentang dia. Bukan semata dari apa yang disampaikan orang yang hendak kita nilai. Dengan demikian, kesan subjektif bisa dibuang.

Terkait dengan itu, saat ini aku juga sedang membaca dua buku tentang dua orang pemimpin bangsa ini. Presiden dan Wakil Presiden periode sebelum sekarang. Dua buku yang hampir mirip. Dua buku yang terbit hampir bersamaan, memuat pendapat orang lain tentang sang tokoh. Buku pertama, “Energi Positif” bercerita tentang sang presiden. Sementara sebagaimana judulnya yang, “Mereka Bicara JK” bercerita soal sang wakil. Keduanya ditulis oleh beragam tokoh. Mulai dari birokrat, tokoh politik, tokoh agama, wartawan, kalangan dekat dan sebagainya.

Terus terang aku belum selesai membaca keduanya. Karena aku membaca tidak seperti membaca fiksi yang runut dari awal hingga akhir. Namun langsung kepada tulisan orang per orang mengenai sang tokoh. Namun yang aku tangkap dari apa yang aku baca, menurutku menggambarkan bagaimana sang tokoh yang sedang dibahas.

Membaca dan membandingkan kedua buku, mau tak mau pikiranku langsung tertuju pada keseharian mereka berdua. Yeah, setidaknya yang terlihat di media pastinya. Karena hanya itu sarana yang aku punya. Membaca kedua buku membuatku berpikir bahwa bukunya sendiri seperti sang tokoh.

Energi Positif, menyambut ditetapkannya sang presiden sebagai tokoh berpengaruh versi sebuah majalah berita ternama. Diisi dengan tulisan yang, menurutku lebih mirip buku teks yang kalau tidak sedang menghadapi ujian bisa dilupakan. Beberapa bagian tulisan malah bercerita soal lain, bukan soal sang tokoh.

Alih alih bercerita soal tokoh, seorang penulis malah lebih banyak bercerita soal krisis keuangan global termasuk PDB dan nilai tukar rupiah di halaman 136 sampai 144. Bah! Mungkin memang keahlian penulis ada disana. Terbukti beliau termasuk yang dipilih menjadi pembantu sang Presiden diperiode kedua. Meski sempat ‘dipermainkan’ saat pelantikan dan ketika hendak mengikuti sidang kabinet. Kesan menggambarkan sang Presiden, aku buang dengan sub judul buku itu, ‘Opini 100 Tokoh Mengenai Indonesia di Era SBY’.

Berbeda dengan Energi Positif, Mereka Bicara, seperti melihat keseharian JK yang bersahaja, apa adanya dan blak blakan. Terkesan tidak suka dengan aturan protokoler. Tulisan yang ada juga apa adanya. Mulai dari pemilihan judul hingga materi tulisan. Lihatlah misalnya ada yang menulis dengan judul, ‘Dia Tak Punya Naluri Politikus’ (halaman 53). Atau lihat juga tulisan mantan rektor perguruan tinggi ternama yang dengan bebas bilang, “…Kalau kesal, ya kesal sekali waktu JK bilang ‘bubarkan Ristek’ itu. Empet banget! Kalimat kalimat menohok beliau….”

Demikianlah. Seperti yang sudah sampaikan,membaca kedua buku [terlepas dari tujuan penerbitan dan sub judul buku pertama diatas], seperti berhadapan langsung dengan sang tokoh. Yang satu lebih kepada persoalan makro dan gambaran besar. Sementara yang lain bicara langsung kepada tujuan dan apa adanya.

LOMBA KARYA TULIS TOBALOVER
Jurus Baru Penyelamatan Danau Toba

Tobalover, sebuah komunitas berbasis jejaring sosial Facebook, akan menyelenggarakan Lomba Karya Tulis (LKT) bagi pelajar SLTP dan SLTA di tujuh kabupaten seputar Danau Toba. Lomba berhadiah total Rp 25.000.000 ini, bertujuan menanamkan sejak dini kepedulian terhadap pelestarian Danau Toba dan lingkungan sekitarnya.

Menurut Ketua Panitia LKT Tobalover, Robert Manurung, lomba bertema “Danau Toba Yang Kucinta” ini mencakup tujuh kabupaten yang bersinggungan langsung dengan Danau Toba, yaitu Simalungun, Tanah Karo, Tobasa, Tapanuli Utara, Samosir, Humbang Hasundutan, dan Dairi. Lomba ini berlangsung sejak 21 Agustus hingga 1 Oktober 2009. Pemenangnya akan diumumkan tanggal 22 Oktober, sedangkan penyerahan hadiah dilaksanakan pada perayaan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2009.

”Kita menyadari, upaya penyelamatan Danau Toba tidak akan berhasil selama penduduk setempat hanya sebagai penonton atau pelengkap penderita seperti selama ini” jelas Robert Manurung seraya menegaskan, ”Melalui penyelenggaraan lomba ini, kita ingin mendorong tumbuhnya kepedulian di kalangan remaja dan pemuda di tujuh kabupaten itu untuk melestarikan Danau Toba dan lingkungan sekitarnya.”

Ditegaskannya, melalui lomba ini TobaLover ingin mendorong upaya penyelamatan Danau Toba bersifat bottom up. “Jurus baru” ini diyakini lebih layak diandalkan dan diharapkan dibanding pendekatan top down, yang sifatnya elitis dan sarat KKN seperti dianut selama ini. “Kenapa sebelumnya tidak pernah diadakan lomba semacam ini ? Karena sumber dana organisasi-organisasi penyelamatan Danau Toba adalah pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut merusak danau itu dan lingkungan di sekitarnya. Makanya, dalam penyelenggaraan LKT ini, kita akan mengutamakan donasi dari mastyarakat, khususnya para pecinta Danau Toba yang berkecimpung didunia maya” jelas Robert.

Dalam lomba ini, peserta diminta memaparkan peranan nyata yang dapat mereka lakukan, guna mengatasi tiga masalah besar`yang menyebabkan krisis lingkungan di Danau Toba dan sekitarnya. Ketiga masalah besar itu adalah penggundulan hutan yang mengakibatkan kian menipisnya daerah tangkapan air, kebiasaan penduduk membuang sampah ke danau, dan pencemaran air danau oleh limbah pakan ikan (pelet) dari kerambah apung yang kian menjamur di sana.

Dewan Juri lomba ini, jelas Robert, terdiri dari para wartawan, penulis, dan blogger kawakan. Ketua Dewan Juri adalah penulis novel Sordam, Suhunan Situmorang; yang didukung oleh wartawan sekaligus blogger kawakan Toga Nainggolan sebagai Sekretaris Dewan Juri.

Bersamaan dengan penyelenggaraan lomba ini, TobaLover berencana mengadakan program pelatihan singkat bagi para penggiat dan relawan lingkungan di tujuh kabupaten tadi. Tujuannya untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan strategi mengedukasi masyarakat. Program ini akan diberikan oleh Yuyun Ismawati, penggiat lingkungan di Bali yang belum lama berselang mendapat penghargaan internasional Goldman Environmental Prize 2009–yang sering pula disebut sebagai Nobel Lingkungan.

Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang.

Entah kenapa, aku langsung klop saat ‘bertemu’ dengan sepenggal kalimat Gibran itu ketika mesin pencari Google menunjukkannya padaku. Saat aku mencari kalimat bijak soal memahami.

Dipenghujung hari ini, aku merasa harusnya dunia akan aman bila banyak orang yang bisa benar-benar mengerti dan menjalankannya. Bukan sedang sok bijak, tapi aku yakin, pekerjaan memahami tidak sesederhana susunan kata-katanya yang hanya terdiri dari 5 (lima) huruf.

Mungkin semua kita ingin menjalankannya. Namun kadang, ego mengalahkan niat untuk memahami. Saat kita merasa kepentingan pribadi kita akan terganggu oleh perbuatan orang lain, entah itu langsung atau tidak langsung terhadap kita, secara spontan niat untuk memahami seakan lenyap tak berbekas. Ujung-ujungnya sebuah sikap perlawanan yang kita kedepankan. Kalau sudah begini, gesekan dalam hubungan tak mungkin dihindarkan.

Saat mulai menulis ini, aku juga teringat satu kata yang mirip. Empati. Mungkin pilihan bahasanya terlalu ‘tinggi’ dan sulit dipahami. Namun, sejatinya empati berarti perasaan dimana kita ikut merasakan dan memahami orang lain. Atau gampangnya, empati berarti menempatkan diri seolah-olah orang lain.

Aku pikir, kurang lebih seperti ini. Jangan perbuat kepada orang apa yang kamu tidak ingin diperbuat orang kepadamu. Kalau dirimu tidak mau ditampar orang, maka jangan pernah menampar orang. Itu kalau kalimat negatifnya. Mungkin kalau kalimat positifnya menjadi, perbuatlah kepada orang lain, apa yang kamu ingin diperbuat orang lain kepada kamu.

Kalau dirimu ingin dicintai orang lain, maka mulailah mencintai orang lain. Atau kalau ‘kembali’ kepada kutipan diatas, mulailah mencintai diri sendiri dulu. Setelah itu, belajarlah mencintai orang lain. Bila keduanya bisa berjalan dengan baik, percayalah pada satu hal. Akan banyak cinta yang mengalir kepadamu.

Memilih judul, Presiden Ke-7 Indonesia, Kompas memuat tulisan dari Buya Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Menurut aku tulisan ini dimuat dalam rangka menyambut pemilihan Presiden yang diselenggarakan pada hari ini. Secara materi, isinya juga semacam pengantar bagi pemilih untuk melaksanakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Namun bila diperhatikan mulai dari judul, hingga kutipan satu alinea didalamnya, terasa mengganjal. Perhatikanlah kalimat ini :

Saya sungguh berharap, presiden ke-7 Indonesia dan wakil presiden ke-10 yang kita pilih hari ini benar-benar akan punya kepekaan tinggi terhadap keindonesiaan kita yang masih jauh dari keadilan dan kenyamanan.

Menurut hitungan ‘resmi‘ Indonesia hingga saat ini baru memiliki 6 (enam) Presiden. Mulai dari Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Pak Dur, Ibu Mega dan Pak SBY yang sedang menjabat. Artinya, kalau pemilu hari ini memunculkan nama selain daripada nama tersebut, maka dialah Presiden ke-7 (tujuh) Indonesia. Namun jika yang terpilih adalah salah satu diantara dua calon yang sedang atau sudah pernah menjabat Presiden, maka yang terpilih tidak serta merta menjadi Presiden ke-7.

Entah apakah ini kesalahan dari editor Kompas atau ada unsur ‘kesengajaan’ dari Buya yang kita tau membuat testimoni buat salah satu kandidat dalam masa kampanye kemaren…

gambar dari picture2blog

Yang tinggal atau akhir-akhir ini pernah ke Jakarta, tentu pernah melihat barisan rambu seperti gambar diatas. Rambu tersebut, biasanya diletakkan di jalur khusus yang hanya bisa dilewati oleh bis TransJakarta. Jalur khusus itu disebut busway atau kurang lebih berarti jalur bis. Jalur khusus ini dibangun diatas jalan yang sudah ada. Biasanya dibangun menempel dengan median [jalur tengah] jalan raya yang dilalui. Atau berada pada jalur paling kanan jalan. Pembedanya dengan jalan biasa adalah diantara busway dan jalan biasa diberi separator [pemisah] atau diwarnai berbeda dengan jalan raya biasa.

Meski disebut jalur bis, tidak semua bis bisa melintasinya. Karena jalur tersebut dibangun khusus untuk bis yang diperuntukkan untuk itu. Ya bis TransJakarta itu. Busway dan TransJakarta, dibangun khusus untuk menjadi angkutan cepat massal mengatasi kemacetan yang semakin hari semakin parah di Jakarta. Kalau ada bis selain TransJakarta yang melintas, bisa dipastikan akan kena sanksi oleh pihak yang berwajib. Bukan hanya bis biasa yang diharamkan melaluinya. Semua jenis kendaraan selain bis khusus yang disediakan untuk itu yang disebut TransJakarta. Jangankan bis. Seorang petinggi Republik ini bahkan sempat menjadi bulan-bulanan media saat satu kali, kendaraan dinasnya melintas busway dengan alasan kemacetan dan musti menghemat waktu mengejar sesuatu.

Namun pernahkah ada yang memperhatikan ketidakkonsistenan pemasang rambu itu? Baiklah, kita coba perhatikan dari kiri ke kanan gambar yang ada.

Disebelah kiri ada rambu lalu lintas dengan tanda seru dengan tulisan “Separator Busway” di bawahnya. Mungkin kurang lebih artinya, hati hati,lho…ada separator busway”. Rambu tersebut mengingatkan pengguna jalan raya untuk berhati-hati. Berhati-hati karena ada separator yang bisa setinggi kurang lebih sepuluh hingga duapuluh sentimeter diatas jalan raya. Yang bisa mencelakakan kendaraan yang melindasnya dalam kecepatan tinggi. Dalam konteks ini, aku berpikir tentulah yang dimaksud sebagai busway di rambu kiri itu adalah jalurnya. Jalur bis itu.

Namun coba perhatikan lagi, rambu disebelahnya. Rambu yang berada persis diatas jalur bis yang dibangun. Dibalik selubung, rambu tersebut adalah tanda dilarang masuk. Ditambah tulisan, Kecuali Busway. Sampai disini, kebingungan melanda. Benar kalau jalur itu tertutup dari kendaraan. Hanya bis TransJakarta yang bisa melintas diatas jalur tersebut. Makanya tanda dilarang masuk, harus dipasangkan dengan tulisan Kecuali Busway. Pembaca rambu, mustinya mahfum bahwa untuk jalur dibawah rambu itu, haram bagi kendaraan. Tdak haram bagi bbis khusus/b. Namun kenapa pula ditulis Kecuali Busway?

Masih ada hubungan dengan rambu, jalur dan bis khusus tersebut, karena biasanya dibangun ditengah kota, pemerintah daerah menetapkan beberapa bis umum sebagai pengumpan bagi bis khusus tersebut. Maksudnya, bis pengumpan ini menjadi bis penghubung daerah pinggiran Jakarta dengan halte bis khusus tadi. Mungkin supaya terkesan keren, gengsi penumpang bis tidak melorot, bis jenis ini diberi nama Feeder.

Beberapa pengembang perumahan yang berada di pinggir Jakarta, juga menyediakan fasilitas ini. Biasanya pengembang itu menyediakan bis khusus yang diberi nama kompleks perumahan asal, sebagai promosi. Jadi tidak menggunakan bis umum. Namun dua hari lalu aku menemukan ada iklan pengembang perumahan yang mencantumkan fasilitas tersebut. Namun dengan kata-kata, Tersedia Feader Busway. Kalau sudah begini, aku ingat satu jargon. Mau aksi malah bau terasi…..

Aku adalah cucu pertama dari anak pertama di keluarga Tambunan. Sedikit berbeda, dari keluarga Siahaan [ibuku] juga, aku adalah cucu pertama. Bedanya, bukan dari anak pertama. Karena, sebelum ibuku, Ompung sudah lebih dahulu memiliki Tulang dan Inang Tua [uwak] yang belum menikah pada saat aku lahir. Dengan posisi demikian, wajar kehadiranku disambut dengan penuh sukacita. Baik oleh keluarga Tambunan maupun oleh keluarga Siahaan. Konon, itu pulalah yang menyebabkan orangtuaku memberi nama Goklas padaku. Sebuah kata dalam bahasa Batak yang dibangun dari dua kata. Gok yang berarti penuh dan Las yang berarti sukacita. Kata las sendiri bisa bermakna panas. Namun dalam konteks namaku, gabungan kedua kata tersebut [Gok dan Las] serta dalam penggunaan sehari-hari, Goklas lebih sering berarti penuh sukacita.

Aku tidak terlalu ingat, kapan persisnya aku mengetahui dengan benar pengertian namaku ini. Karena ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar, aku masih sempat salah mengira kalau namaku berarti penuh panas. Sebagaimana juga beberapa warga Batak yang nota bene, berbahasaibukan bahasa Batak, sering salah mengartikan nama itu. Mungkin hampir sama banyaknya dengan mereka yang salah dalam mengucapkan nama itu menjadi g o l k a s, dan tidak menyadari ada makna dalam gabungan dua kata itu :-( .

Sewaktu kanak-kanak, sempat juga aku merasa seperti ‘terbebani’ oleh nama itu. Beban dalam pengertian, aku sempat kecewa kenapa harus bernamakan ‘aneh’ seperti itu. Tidak seperti nama teman yang menggunakan David, Robert, Kristian atau nama keren lain. Rasa kecewa itu sempat terobati saat kelas empat SD dan tinggal di sekitar Simpang Limun Medan, aku bertetangga dengan seorang anak yang bernamakan sama. Sejak saat itu, aku seolah memasang telinga mencaritau, seberapa banyak sebenarnya orang yang bernama sama denganku. Ternyata pekerjaan iseng ini membuahkan hasil. Dari yang aku dengar dan baca, banyak juga yang bernamakan Goklas. Semasa SMP, aku pernah membaca sebuah nama yang sama di majalah HAI. Pernah juga aku add seseorang di jaringan pertemanan, hanya karena nama kami sama. Tanpa pernah tau atau kenal sebelumnya dengan dia.

Terkait dengan penyebutan yang salah oleh mereka yang berbahasaibu Batak, aku pernah ngotot pada saat ngobrol dengan seorang Direktur di tempatku bekerja. Ngotot, karena aku mengetahui, Beliau ini berasal dari kota yang sama dengan orang tuaku Balige [Kabupaten Toba Samosir]. Selama berbincang dengannya, sempat dua kali aku ‘protes’ terhadap sapaannya terhadapku yang menjadi N i k o l a s. Pertama aku koreksi, sepertinya dia mengerti. Namun, saat dalam pembicaraan seterusnya beliau masih salah dalam menyebut namaku, aku sampai mengingatkan kalau namaku punya makna indah. Aku sampai ingatkan kalau nama itu, adalah satu kata dari bahasa Batak. Namun tetap saja si Bapak menyapaku dengan Nikolas. HUH. Padahal aku tau beliau juga memiliki nama yang berasal dari bahasa Batak. Belakangan aku ketahui dari beberapa teman, setelah menceritakan ‘kekesalanku’ terhadap kesalahan itu, bahwa si Bapak memang senang mengganti nama orang :-p.

Setelah pernah merasa terbebani menyandang nama itu, seiring dengan pertambahan usia, ada rasa bangga karena menyandang nama itu. Rasa bangga itu, bahkan aku ungkapkan dengan ‘marah’ saat mereka yang satu suku denganku, menyebut artinya dengan penuh panas. Namun aku masih bisa memaklumi apabila mereka yang salah itu, hanya sekedar satu suku denganku. Aku akan lebih ‘marah’ lagi apabila kesalahmengertian makna itu dilakukan mereka yang aku tau berbahasaibukan Batak.

Rasa marah itu juga sering aku tunjukkan saat menjawab panggilan telepon. Bila saat menjawab telepon, aku mendengar “Boleh bicara dengan Bapak Golkas Tambunan?” aku akan langsung bilang, “Maaf….tidak ada yang bernama Golkas Tambunan disini. Adanya G o k l a s Tambunan”. Kalau sudah begini, biasanya buru-buru penelepon akan minta maaf.

Hari ini aku terpikir, memiliki nama unik, ternyata punya berkah sendiri. Dari mailing list dan jaringan pertemanan aku mendapat beberapa teman baru karena nama unik itu. Diawali dari mereka menyangka aku adalah teman mereka pada beberapa waktu lalu. Namun setelah aku melakukan klarifikasi, dan sedikit menerangkan tentang diriku, ketahuan bahwa ternyata aku disangka temannya. Biasanya setelah itu aku dan mereka yang salah sangka di awal itu akan menjadi sahabat meski baru melalui dunia maya :-) .