Si Doel sedang meradang. Berdiskusi dengan Babe seolah percuma. Kini dia dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan cita citanya untuk menjadi “Tukang Insinyur” atau meneruskan tradisi keluarga. Menarik Opelet.

Manjadi insinyur sudah merupakan cita citanya sejak lama. Kuliah (baca : perjalanan) yang dilalui sudah hampir tiba di ujung jalan. Tinggal menyelesaikan tugas akhir. Namun sepertinya Babe tidak sabar. Mungkin karena ketidaktahuan Babe akan proses yang harus dilalui atau karena Babe sudah tua, sehingga tidak memiliki tenaga untuk tetap meneruskan pekerjaan sebagai supir opelet. Meski sudah tua, opelet tidak boleh dibiarkan menganggur. Dapur harus ngebul. Memang ada warung enyak yang bisa menopang. Mungkin ada salon Atun yang bisa membantu. Tapi Babe sepertinya tidak mau tahu. Doel disuruh memilih. Kisah akhirnya (mungkin) happy ending. Doel akhirnya menyelesaikan sekolahnya. Menjadi Tukang Insinyur. Kuliah diselesaikan sambil sesekali menarik opelet bersama pamannya Mandra. Meski setelahnya persoalan lain muncul. Ternyata bekal gelar insinyur tidak cukup untuk mencari kerja.

Teringat Gibran pernah berkata kurang lebih,

Anakmu bukanlah anakmu. Dia datang dari padamu, tetapi dia bukan milikmu. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Pertama kali membaca sajak itu, mau tidak mau aku mengamini. Berkaca pada pengalaman sendiri, aku pernah menjalani prosesnya. Tidak lulus Ujian Masuk Pergirian Tinggi Negeri (UMPTN), mau tidak mau pilihan adalah kuliah di perguruan tinggi swasta. Pilihan jurusan di UMPTN adalah pilihanku sendiri. Tanpa campur tangan orang tua. Semangat menggebu membuatku mendaftar di Institut Pertanian Bogor. Mungkin pilihan gegabah. Karena persaingan ternyata cukup tinggi. Tidak satupun dari tiga pilihan yang aku ambil aku lulus. Berbicara melalui sambungan interlokal (karena waktu itu orang tua bertugas di luar kota) dengan bapak, malam (menjelang subuh tepatnya) setelah pengumuman UMPTN, beliau menghibur. “Sudah, jangan terlalu bersedih” katanya. “Kau daftar di Universitas Nommensen. Ambil jurusan akuntansi. Agar nanti gampang mencari kerja”.

Nasihat dan ucapan yang menyemangati. Tidak lama larut dalam kesedihan, aku menuruti sarannya. Tapi hanya untuk mendaftar di Nommensen. Bukan jurusan sesuai saran beliau. Aku mengambil jurusan manajemen. Karena waktu itu aku merasa akuntansi ilmu banci. Bukan ilmu pasti sebagaimana jurusanku yang fisika di SMA, Juga bukan ilmu sosial. Aku mantap memilih manajemen. Yang lebih pasti non eksaktanya. Bapak tidak pernah mempersoalkan. Entah kalau dalam hatinya ada penyesalan kenapa aku tidak menuruti keinginannya. Dan inilah aku sekarang. Mungkin tidak menjalani sarannya waktu itu. Namun apa yang aku jalani saat ini, melampaui capaiannya dalam beberapa hal. Aku yakin seandainya beliau masih ada, beliau sudah tidak ingat lagi soal beda saran dan jalan yang aku pilih. Semoga dia bangga.

Bapak seorang demokrat. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada kami anaknya. Kepada kami, beliau hanya ulang satu janji. Sebagaimana janji orang tua Batak lain sebagaimana lagu “Anakkonki Do Hamoraon di Ahu”. Kepada kami anak anaknya beliau berjanji akan menyekolahkan kami setinggi kami mau. Beliau akan membiayai. Meski untuk dua adikku, janji itu diteruskan oleh Mama. Sebegitu demokratnya, beliau juga tidak mempermasalahkan ketika adik nomer dua memilih untuk berhenti kuliah pada tahun kedua. Beliau mencarikan pekerjaan buatnya. Adik ini juga yang turut serta ‘memberi sangu’ padaku ketika memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa. Karena saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri. Sikap demokratis yang [mungkin] paling tidak masuk akal buat orang tua lain adalah beliau menantang adik bungsu. “Kalau merokok membuatmu menjadi lebih berprestasi di sekolah, sebut merek rokokmu, aku yang akan membelikan buatmu” tantangnya ketika mengetahui adik bungsu telah berkenalan dengan rokok bahkan ketika masih sekolah menengah atas. Selintas seperti tindakan gila. Alih alih melarang, Bapak malah mendukung. Tapi itulah Bapak yang kami kenal.

Sepenggalan kisah si Doel, dan kisahku teringat kembali ketika pagi ini mendengar bahwa pak Beye akhirnya mendorong putra sulungnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sebagai orang luar aku merasa pilihan yang sangat disayangkan. Mas Agus bukanlah tentara sembarangan. Beliau lulusan terbaik dalam angkatannya. Beragam pendidikan telah dijalani, baik dalam kemiliteran atau akademis. Metro TV lewat acara Mata Najwa pernah menyematkan ‘Pemimpin Masa Depan’ kepadanya. Bersama Anis Baswedan [mantan Menteri Pendidikan] dan Denny Indrayana [mantan wakil Menteri Kehakiman]. Saat ini pangkatnya Mayor. Perwira Menengah tentara. Dalam beberapa kesempatan, aku membaca bahwa cita cita setiap prajurit adalah mencapai bintang empat. Jika dalam urusan kepangkatan, mungkin menjadi Kepala Staf Angkatan atau bahkan Panglima. Mas Agus meneruskan tradisi keluarga berkarir di militer. Siapa yang tidak kenal kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo yang berperan besar dalam penumpasan Gerakan 30 September. Meski tidak pernah menjadi menteri di Pemerintahan Orde Baru yang ikut dia bangun, Letjend Sarwo merupakan tokoh berpengaruh pada masanya. Putra Sarwo Edhie juga meniti karier militer. Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Bahkan pak Beye ayahnya, berpangkat Letjend [terakhir naik pangkat menjadi Jenderal setelah menjadi Presiden] dan mennjabat sebagai Kepala Staf Sosial Politik sebelum akhirnya terjun ke dunia politik dan menjadi Menteri Pertambangan dan Energi pada masa pemerintahan Presiden Abdul Rahman Wahid dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

Dengan tradisi dan ‘darah biru’ militer begitu, agak sulit memahami pilihan mas Agus. Dengan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah, beliau harus melupakan karir militernya yang [konon dipuji banyak pihak sebagai] cemerlang. Berpangkat Mayor, masih beberapa tahap lagi yang harus dilalui untuk menyamai pangkat Eyang, Ayah atau jabatan Pamannya. Dan sekarang impian itu harus dikubur. Semoga pilihan yang diambil sudah dipikir matang. Semoga pilihan yang diambil adalah pilihan sendiri. Semoga pilihan yang diambil membawa kebaikan buat mas Agus dan keluarga kecilnya. Juga buat keluarga besarnya. Dan yang pasti terbaik buat Negara Kesatuan Indonesia!

“Udah keras itu ikan terinya. Masih tetap kau bawa nasi? tanya Ompung Yeremia pagi ini. “Masih” jawabku. “Gak Masalah” lanjutku. Akupun bergegas mandi. “Perlu dibuatkan telur ceplok?” tanyanya lagi ketika aku telah selesai berpakaian, meski tadi sudah menjawab tidak masalah.

Iya sih. Semalam makan malam menggunakan lauk ikan perang itu. Ikan perang adalah sebutan ngasal kami dahulu. Ada ragam istilah yang kami buat dahulu. Ikan paku atau ikan labang [labang adalah bahasa Batak paku] karena bentuknya yang “lucu” seperti paku. Terutama ikan teri yang besar itu 🙂 Semalam sebelum makan malam, Ompung Yeremia seperti mengingatkan, “Adanya ikan teri tawar” katanya ketika aku membuka tudung saji. Buatku tak ada masalah.

Jarang aku mempermasalahkan makanan. Satu-satunya masalah buatku soal makanan adalah jika nasi dan lauknya masih panas. Selalu ketika hendak makan, aku akan mendahulukan mengambil nasi yang bukan berasal langsung dari penanak nasi listrik (rice coocker). Karena jika langsung dari penanak nasi, pasti masih mengepulkan asap. Dan memakannya aku akan merasa tersiksa karena tidak bisa langsung menikmati. Selain tangan panas, karena aku jarang menggunakan sendok kalau makan, aku juga harus meniup nasinya terlebih dahulu supaya dingin dan nyaman di mulut. Jika tidak ada lagi nasi dingin, aku akan mendinginkan sebentar, nasi yang aku ambil dari penanak nasi. Sering perilaku itu terganggu [terutama malam jika pulang dari kantor, misalnya] karena berdasar kebiasaan, Ompung Yeremia akan memanasi lauk terlebih dahulu. Ya sama saja bohong! 🙁

Kenapa aku bawa nasi ke kantor? Kembali lagi soal kebiasaan. Aku tak terbiasa ribet dengan urusan makanan. Saat makan siang tiba, aku tidak suka berpikir lama untuk memutuskan siang ini makan siapa, bersama siapa, atau di mana. Karena kebetulan kantor sudah menyiapkan makan siang. Aku tinggal masuk ruang makan, isi absen, ambil makanan. Semudah itu. Nah selama bulan Ramadhan, kalau tidak salah dua tahun terakhir, fasilitas itu ditiadakan. Barulah aku bingung. Di gedung kantor ini ada beberapa tempat makan. Di mall seberang kantor apalagi. Tapi kembali, aku gak mau ribet dengan sekadar urusan makan. Jalan paling mudah adalah membawa bekal dari rumah. Dengan segala konsekuensi, sebagaimana ikan paku di atas 🙂

Pembicaraan singkat soal ikan paku tadi pagi juga mengingatkan aku pada masa kecil. Teringat termos cokelat Bapak yang selalu dibawa ke kantor. Juga berisi makan siang.

Setahun terakhir anak anak lebih banyak beraktivitas ditemani ibuku (mereka menyebut ompung). Berangkat sekolah, pulang sekolah, mengerjakan PR dan seterusnya. Dalam beraktivitas sering mereka melakukan sesuatu yang mungkin akan mebahayakan atau melakukan sesuatu yang tidak pas. Sebagai orang tua tentu saja ompung suka mengingatkan. Tidak boleh begini tidak boleh begitu. Jangan begini atau jangan begitu.

Tujuannya tentu agar dapat dijadikan referensi untuk tindakan pada masa yang akan datang. Bahwa kalau melakukan ini tidak boleh. Melakukan itu tidak pantas. Dan sebenarnya inilah yang diharapkan. Dengan demikian mereka bisa mengerti mana yang benar mana yang tidak. Meski terkadang sebagaimana anak anak lain, kadang larangan dirasakan sebagai belenggu.

Menjadi persoalan ketika larangan yang ada diberlakukan sama rata untuk semuanya. Ketika hendak melakukan sesuatu, ada kekhawatiran bahwa nanti itu akan dimarahi ompung. Dan itulah yang terjadi. “Nanti dimarahin ompung” menjadi kalimat sakti ketika diminta melakukan sesuatu. Apapun itu.

Hal tersebut membuat ompung nelangsa [jiah…bahasnya KB sekali 😀] Sampai terucap satu saat, mengapa ompung selalu dijadikan kambing hitam. Istilah yang mungkin belum dipahami maknanya oleh pikiran kanak kanak Gabriel. Sehingga pada satu kesempatan, analogi kambing hitam digunakan untuk hal lain dengan terminologi berbeda.

Dalam sebuah percakapan bapak anak, aku sedang menasihati Yeremia. Tentang bagaimana berperilaku dengan teman di sekolah. Sambil aku juga mengingatkan Gabriel bahwa perilaku yang sama berlaku buat dia. Entah kenapa mendadak Gabriel nyeletuk, “Dengarin bang. Jangan Gabriel jadi kambing merah” Aku kaget. Bertanya latar belakang penyebutan demikian. Ibuku yang berada pada ruang yang sama menerangkan sepintas, asal mula sebutan kambing sebagaimana aku kisahkan di atas. Pembicaraan yang awalnya sok serius, buyar. Aku hanya bisa terbahak. Apalagi Gabriel melanjutkan penyebutan yang dikarangnya. Bahwa abangnya kambing kuning dan papinya kambing biru 🙈

Woody dan Buzz adalah dua tokoh utama dari film animasi Toy Story yang sudah mencapai jilid tiga. Dikisahkan, awalnya Woody adalah mainan favorit Andy. Sampai satu saat, Andy merayakan ulang tahun dan menerima Buzz sebagai hadiah.

Sedari awal, sebelum kedatangan Buzz, Woody sebagai ‘koordinator’ seluruh mainan yang dimiliki Andy, sudah merasa khawatir akan tersisih jika Andy menerima kado dalam bentuk mainan baru. Dia berusaha memprovokasi teman teman sesama mainan untuk membenci Buzz. Bahkan Woody dianggap menyisihkan Buzz, meski terjadi tanpa sengaja, agar perhatian Andy padanya tidak berkurang. Tanggung jawab sebagai pemimpin informal, diambil oleh Woody untuk mengembalikan Buzz ke kamar Andy.

Petualangan itulah yang diceritakan pada Toy Story awal. Meski awalnya ada kesombongan pada diri Buzz, akhirnya mereka berdua bisa berteman bahkan hingga sekuel ketiga Toy Story.Cerita pertemanan dalam film animasi Toy Story ini terpikir semalam hingga pagi ini. Awalnya adalah, ketika memberi kado kepada Gabriel dalam rangka hari ulang tahunnya yang ketiga kemarin, 16 Februari.

Aku memberi kado karakter Buzz kepada Gabriel dan Woody kepada abangnya, Yeremia. Entah sengaja atau tidak, komposisi itu yang terjadi. Bukan sebaliknya. Semalam ketika menyembunyikan mainan itu, aku merenungi lagi bahwa komposisinya sudah pas seperti itu.Woody seperti ejawantah dari Yeremia, dan Buzz ejawantah dari Gabriel.

Yeremia hadir lebih dahulu di keluarga kami. Gabriel adalah si bungsu yang hadir belakangan. Layaknya hubungan sulung dan bungsu di keluarga manapun [yeah,mungkin tidak seluruhnya], aku membaca ada semacam kekhawatiran pada Yeremia bahwa kasih sayang orangtuanya akan berkurang padanya. Beberapa kali, terlihat rasa cemburu padanya akan adiknya.

Terakhir sekali diungkapkannya minggu lalu, saat maminya sedang dinas keluar kota dan hanya ada kami bertiga. Aku,Yeremia dan Gabriel. Dalam perbincangan sebelum tidur, Yeremia mengungkapkan kenapa tidak ada lagi yang sayang padanya. Kenapa semua rasa sayang ada pada adiknya. Terus terang, bukan perkara sulit buatku untuk menerangkan. Karena hal seperti ini sudah beberapa kali diungkapkan terbuka.

Yang membuatku, sedikit sedih adalah dia hampir menangis mengucapkannya.Sebagai orangtuanya, tentu saja aku harus menerangkan, dengan bahasa yang lugas dan gampang dimengerti olehnya. Aku hanya mengajak dia berhitung dulu. “Umur Abang berapa?” Tanyaku. “Delapan tahun” katanya.
“Adek?”
“Tiga tahun”
“Delapan dikurang tiga,berapa bang?”
“Lima”
“Nah, selama lima tahun sebelum adik lahir, abang sudah mendapat banyak dari Papi dan Mami. Sementara, adek baru tiga tahun mendapat perhatian dari Papi dan Mami. Sekarang, lebih besar mana lima dan tiga?”
“Lima”
“Nah itu dia, sebenarnya abang sudah mendapat lebih banyak daripada adek. Abang tidak boleh bilang adek lebih disayang daripada abang. Abang lihat kalau papi dan mami selama ini gak pernah membedakan abang dan adek kan? Malah abang mendapat lebih banyak. Kadang, adek pakai baju bekas abang. Sementara abang dibeliin baju baru.Abang dibeliin mainan PSP, adek enggak. Kalau adek dibeliin mainan, abang pun begitu. Tidak ada yang dibedakan. Abang tahu,kan?”
“Iya,pi”
“Nah,sekarang abang berdoa,dan tidur.Katanya besok mau berenang?”
“Iya,pi” katanya.
Lantas diapun berdoa. Doa ‘standard’ yang senantiasa mengantarkannya tidur. Minta perlindungan juga terhadap papi, mami dan adek. Juga minta supaya tidak ada gempa lagi. Serius! 🙂

Begitulah, setelah berdoa diapun tidur menyusul adeknya yang sudah lebih dulu tidur. Papinya lanjut menonton teve.

Mungkin salah kalau aku bilang bahwa wajar bila memiliki dua anak laki, akan disibukkan dengan pertengkaran mereka. Tapi ini bukan bercerita soal salah benar. Namun soal bagaimana berkomunikasi dengan anak.

Ceritanya soal dua junior. Yeremia dan Gabriel. Cerita biasa. Bagaimana sulung diganggu si bungsu, serta bagaimana si bungsu tidak mau kalah terhadap si sulung. Kalau tidak berhati hati menyikapinya, bisa mempengaruhi sikap mereka berdua terhadap orangtuanya. Entah benar atau tidak, itulah pandanganku.

Bermula dari pesan singkat yang dikirim Yeremia [Y] : “Papi hukum si gabriel nakal pas abang main mobilan abang sudah cape”

Dengan pemilihan kata yang sangat hati hati aku balas pesan singkat itu [P] : “Nak.abang bisa bilang pelan pelan ke adek. Abang abang itu,harus bisa atur adeknya.gak boleh langsung dihukum”

[Y] : Iya abang tau tapi nakal.

[P] : Nanti papi bicara sama adek.kalau adek tidak mau diganggu abang,adek juga gak boleh ganggu abang kalau sedang bermain

[Y] : Papi gabriel tadi ganggu

Kalau sudah begini, aku selalu ingat bahwa sebagai orangtua tidak ada kata berhenti dalam belajar menghadapi mereka berdua yang sudah dipercayakan oleh sang pemberi hidup kepada kami.