Satu selasa malam, linimasa ramai tentang ulah dua orang pengacara yang kebetulan berasal dari Tapanuli. Ruhut ‘Poltak’ Sitompul dan Hotman Paris Hutapea. Ya, seperti pada Selasa malam sebelumnya, keduanya diundang oleh Karni Ilyas hadir dalam acara Indonesia Lawyers Club. Sebuah Talk Show, yang mengupas soal terkini yang sedang menjadi berita.

Entah untuk yang berapa kali, malam itu kembali membincangkan soal dugaan korupsi yang melanda petinggi partai pemenang pemilu terakhir. Ruhut mewakili partai, sementara Hotman mewakili seorang (mantan) pejabat partai itu yang sedang disidang. Seperti biasa juga, keduanya terlibat dalam adu mulut. Mungkin memang keduanya sudah dianggap memiliki daya tarik sendiri untuk acara seperti itu. Sehingga kerap diundang, apalagi kalau menyangkut kasus mantan petinggi partai itu.

Latar belakang keduanya yang berasal dari Tapanuli, membuat adu mulut mereka berdua ‘menarik’ untuk disimak. Apalagi keduanya berbicara dengan logat yang khas Tapanuli. Seperti anak-anak, keduanya bahkan saling meledek satu sama lain. Sering pembicara lain mengedepankan semangat. Mengkritik kemana mana. Ada beberapa hal yang bisa diambil sebagai pelajaran memang. Namun buatku, keseluruhan acaranya hanya sebagai sebuah tayangan televisi, buatku sekadar hiburan.

Yang menarik adalah, adu mulut keduanya dikomentari dengan beragam oleh penonton. Dari yang terlihat dalam jejaring sosialku, beberapa teman yang kebetulan berasal dari daerah yang sama denganku dan kedua pengacara itu, sepertinya merasa malu. Bahkan mereka menganggap bahwa keduanya mempertontonkan hal yang tidak selayaknya. Membuat malu daerah asal, begitu kurang lebih alasannya.

Saat hampir bersamaan, seorang teman dalam jejaring sosialku, menulis notes di akun facebooknya yang menyatakan kegundahannya. Sang teman bahkan sampai mengemukakan bahwa tekanan darahnya meningkat. Penyebabnya semata karena menurut sang teman, dia membaca komentar seorang wanita yang menyatakan bahwa wajah orang yang berasal dari Tapanuli, atau suku Batak,’marsuhi-suhi’. Persegi. sebuah istilah yang mungkin sudah melekat dalam kehidupan orang Batak. Artinya, istilah itu bukan baru. Minimal buatku. Sering sudah mendengarnya. Bahkan diucapkan oleh sesama orang Batak.

Membaca status sang teman, teman teman dalam jejaringnya merespon beragam. Ada yang bercanda ada yang serius. Bahkan aku membaca, ada ketersingungan, bukan hanya pada sang teman sang penulis status. Juga pada teman-temannya yang kebetulan juga berasal dari daerah yang sama.

Melihat dua situasi mirip, aku merasa heran. Membuatku berpikir. Sebenarnya tidak ada hal baru dari keduanya. Sudah sejak lama, orang Batak dikenal bicara apa adanya. Blak blakan. Sudah sejak lama juga kedua pengacara itu bertingkah seperti sesukanya. Bahkan, mungkin karena profesi keduanya sudah dianggap sebagai selebrita, acap keduanya diliput oleh beragam tayangan soal selebrita. Tidak ada yang baru. demikian juga komentar yang diperoleh sang teman di jejaring sosial, soal bentuk wajah yang persegi.

Buatku pribadi, mau dua, tiga atau lebih orang Batak berteriak mempertontonkan kebisaannya, yang dianggap memalkan orang lain. Atau ada yang mengatakan bahwa wajah orang Batak bersegi, entah empat, lima bahkan segi delapan sekalipun tidaklah menjadi masalah. Tidak serta merta membuatku merasa malu sebagai orang Batak. Karena aku percaya, kita adalah apa adanya kita. Bukan karena pendapat orang lain mengenai suku kita. Terserah orang mau berkata apa tentang diriku. Apalagi kalau hanya sekadar suku.

Baiklah. ‘Orang orang pilihan’ itu akan dilantik. Mereka yang menyebut diri mereka wakil rakyat, [seharusnya] akan segera bertugas.

Mereka inilah yang dulu merayu rakyat. Mereka yang mengotori setiap sudut jalan dengan poster dan spanduk. Mereka yang mungkin telah menjual sebagian atau hampir seluruh harta bendanya. Mereka yang hanya wakil namun sangat senang dengan embel embel Yang Terhormat dibelakang nama sapaanya.

Mereka akan dilantik. Konon untuk acara pelantikan mereka, negara menganggarkan dana hingga 11 miliar Rupiah. Biaya mana termasuk akomodasi, uang saku, bahkan untuk membeli pakaian baru.

Mereka akan dilantik. Ditengah berita mengenai kelaparan yang melanda dan merenggut nyawa 200an warga di Papua, rumah serta puluhan warga Jawa Barat yang meninggal menjadi korban gempa. Ribuan korban semburan lumpur di Jawa Timur.

Mereka akan dilantik. Menggantikan mereka yang sebelumnya berdalih sedang berada ditengah kostituennya, sehingga tidak hadir pada saat rapat pleno pengesahan beberapa regulasi yang menyangkut banyak orang yang mereka wakili. Menggantikan wakil sebelumnya yang beberapa diantaranya sedang diperiksa terkait perkara suap yang sedang dihadapi. Menggantikan beberapa orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan telah ditahan, yang pada saat diperiksa KPK tidak bergelar wakil, namun menjadi oknum.

Mereka akan dilantik. Menggantikan mereka yang mengesahkan UU ITE yang mengakibatkan seorang ibu rumah tangga ditahan hanya karena ingin tahu penyakitnya. Menggantikan mereka yang mengesahkan UU Anti Pornografi yang membuat masyarakat lebih berhati hati kalau mau menjalankan beberapa kebudayaan asli milik bangsa.

Sudah pasti, mereka akan dilantik. Biaya 11miliar Rupiah hanya sebagian kecil dari biaya yang akan mereka kelola dan pergunakan. Masih miliaran bahkan triliunan Rupiah, uang yang akan mereka jadikan bancakan di Senayan sana.

Sebagai orang yang tidak memilih satupun diantara mereka yang akan dilantik, bahkan juga tidak memilih satupun diantara mereka yang mungkin ‘terganggu pikirannya’ karena tidak terpilih untuk dilantik, atau mendadak miskin karena ternyata tidak berhak dilantik, aku cuma bisa mengucapkan, Selamat dilantik deh.

Kerja yang baik ya. Terserah saja, untuk mengartikan kerja yang baik itu seperti apa. Toh, meski jabatan kalian hanya wakil, kalian lebih paham mengelola negara ini dibanding orang yang bisanya cuma menggerutu seperti aku.

Proses penghitungan suara belum selesai, namun para politisi atau pimpinan partai seolah sudah punya gambaran akan hasil akhir. Berbekal hasil Quick Count, sehari setelah Pemilu Caleg, pimpinan partai sudah terlihat sibuk melakukan kunjungan kunjungan politik yang ujung ujungnya berarti koalisi. Kunjungan yang dirancang bahkan pada saat proses penghitungan suara oleh KPU belum dimulai.

Kunjungan kunjungan yang seolah memperlihatkan bahwa dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi, mereka saling menyambangi pimpinan partai yang tadinya menjadi lawan politiknya dalam Pemilu. Bukan hanya lawan politik, termasuk lawan ‘dalam arti sebenarnya’. Hari ini, media menayangkan foto dua orang mantan petinggi militer yang pernah dikabarkan berseberangan. Memperlihatkan pose akrab. Mesra.

Tiada lain yang dituju, hanya kepentingan untuk dapat mengajukan calon Presiden sebagaimana diatur dalam Undang Undang. Karena bila maju sendiri dengan bekal suara yang diperoleh (meski belum hasil akhir) sudah pasti partai yang bukan peringkat atas tersebut, tidak berhak mengajukan calon Presiden.

Bila sudah begini, mudah mudahan rakyat tidak bingung. Mudah mudahan rakyat tidak menyesal menitipkan suara pada mereka dalam pemilu kemarin. Karena ternyata, suara yang telah diberikan, hendak dibawa dan ‘disatukan’ dengan suara partai yang tidak mereka pilih kemarin.

Yang menjadi pertanyaan, tidakkah dengan pilihan partai yang sedemikian banyak, ditambah dengan syarat pengajuan calon Presiden yang demikian tinggi, menyadarkan mereka? Bahwa seharusnya partai yang berlaga di Pemilu, cukup maksimal lima saja? Ah….Politik memang membingungkan.

Terlepas dari DPT yang bermasalah, tingkat partisipasi Pemilu (Caleg) 9 April, yang rendah harusnya menjadi cermin buat puluhan (ratusan kalau yang tidak lolos verifikasi dihitung) partai yang ada. Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi ni negara ini semakin lama semakin muak dengan pesta (demokrasi) yang mereka adakan.

Alih alih membuat peraturan yang mensejahterakan rakyat, partai partai itu melalui fraksi di DPR malah sibuk dengan diri dan partai sendiri. Sibuk dengan peroalan remeh temeh yang gak berguna langsung buat rakyat. Sibuk mengembalikan dana kampanye dengan beragam dalih. Plus sibuk dengan syahwat yang gak ketulungan.

Pertengkaran soal persentase partai yang berhak mengusung calon Presiden sendiri, Undang Undang Pornografi yang mungkin menurut mereka bisa membuat rakyat kenyang, Jadi makelar proyek mulai dari Riau sampai Makassar, berfoto dan beradegan syuuur yang mereka pikir akan dinikmati oleh konstituennya.

Dengan semua tingkah laku mereka itu, mereka (Anggota Dewan) masih bangga disapa dengan ‘Yang Terhormat’. Padahal, rakyat sebagai pemegang kekuasaan dan mandatlah yang lebih pantas mendapat sebutan itu.

Dengan biaya triliunan rupiah (belum termasuk dana pribadi Caleg yang telah dikeluarkan), mereka mendapat sapaan yang terhormat. Sementara dilain tempat di Indonesia, masih ada rakyat (yang katanya mereka wakili) masih berebut selembar uang lima ribuan hingga meregang nyawa. Masih ada anak anak yang tengah malam berkeliaran di jalanan demi sekeping dua recehan dari pengendara.

Pengurus Partai Peringkat Atas, “Kami bersyukur diberi kepercayaan oleh masyarakat
Pengurus Partai Dibawah Peringkat Atas, “Siapkan materi gugatan, kita telah dicurangi
Pengurus Partai Yang Kadung Koalisi dan Doyan Koalisi, “Cari itu Pimpinan Golput, kita mesti ajak koalisi
Pengurus Partai Pendukung Syarat 20% Pencalonan Presiden, “Kayanya 20% musti diturunkan lagi neeeh…
Pengurus Partai Kutu Loncat, “Kayanya musti pindah ke partai itu tuh
Pengurus Partai Tidak Lolos Ambang Batas, “Nama apa ya yang cocok buat partai kita di Pemilu 2014?
Caleg Ngutang, “Kalo ada yang cari saya, bilang sedang keluar kota ya

Membaca dan berdiskusi pada status teman di facebook, membaca bahwa majelis ulama memberi fatwa haram untuk mereka yang memilih untuk tidak memilih pada Pemilihan Umum [Pemilu], membuat aku berpikir.

Berpikir bahwa sebenarnya banyak yang mau ikut Pemilu. Masalahnya belum ada pilihan yang dianggap layak untuk dipilih. Berpikir bahwa ternyata label Haram bisa dilekatkan pada sesuatu yang tidak nyata atau tidak terlihat, atau untuk tidak melakukan sesuatu.

Karena aku termasuk kelompok yang belum bisa menentukan pilihan, maka aku pikir aku harus membuat semacam daftar yang harus dipenuhi oleh siapapun yang akan aku pilih kelak di Pemilu.

Daftar dari apa yang aku harapkan bisa diberikan oleh seorang calon anggota Badan Legislatif [calon] yang akan aku pilih pada Pemilihan Umum [Pemilu] nanti. Daftar mana yang kalau ada yang bisa memenuhinya akan aku pertimbangkan untuk mencontreng namanya pada kertas suara kelak. Kalau tidak ada yang bisa memenuhinya, mungkin memang lebih baik memanfaatkan hari libur Pemilunya saja untuk nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah.

Sang calon, paling lama seminggu sebelum Pemilu harus mengumumkan daftar ini. Caranya, silahkan dipilih. Melalui koran berperedaran nasional, diselipkan diantara siaran sinetron yang memiliki rating paling tinggi saat ini, reality show paling digemari saat ini, atau melalui media lain yang dalam sekali tayang disaksikan sekaligus oleh jutaan orang. Syarat pengumuman ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari syarat yang aku tuntut. Jadi kalau daftarnya dibuat, terus kemudian hanya untuk konsumsi beberapa gelintir orang saja, aku lebih memilih untuk nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah.

Calon harus mengumumkan :
Target Pekerjaan Seratus Hari
Pengumuman harus mencakup apa yang akan dikerjakan selama seratus hari pertama si calon, bila telah menjadi anggota Badan Legislatif [Baleg]. Tentu saja, pekerjaan yang diumumkan harus bisa terukur. Pekerjaan tidak termasuk, pindah ke rumah dinas, menjahit jas dan/atau safari baru, mencari mobil dinas baru, apalagi membeli mesin cuci baru. Meski terukur, pekerjaan pekerjaan tersebut hanya berakibat pada si calon dan keluarganya. Bukan pada pemilihnya.

Nilai Kekayaan
Yang harus diumumkan adalah berapa kekayaannya sekarang saat belum terpilih, serta kekayaannya kelak setelah berakhir masa jabatannya. Tidak peduli, masa jabatannya berakhir setelah lima tahun, atau kurang dari lima tahun karena dipecat dari keanggotaan Baleg. Idealnya, pengumuman ‘kekayaan kelak’ dilakukan setelah yang bersangkutan tidak menjabat lagi. Namun bila ada yang bisa melakukannya seminggu sebelum Pemilu, tentu akan lebih bagus buat calon pemilih untuk menilai kinerja si calon. Minimal kinerja dalam mengumpulkan kekayaan.

Berbadan Sehat
Berbadan sehat bisa dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter atau rumah sakit yang biasa menjadi rujukan pemerintah. Berbadan sehat juga termasuk terbiasa hidup sehat. Terbiasa hidup sehat, bisa dengan tidur teratur misalnya. Jangan sampai, bila telah terpilih nanti, ruang sidang dipakai buat tidur. Atau juga sebaliknya, kamar tidur dipakai untuk rapat. Rapat dengan wanita lain yang bukan istrinya,misalnya.

Berbadan sehat juga termasuk pada apakah si calon memiliki ilmu olah kanuragan. Ini penting, agar petugas keamanan bisa mengantisipasi apabila saat sedang sidang, ada anggota Baleg yang mendadak mendatangi meja pimpinan lalu main jotos seenaknya kepada pimpinan sidang.

Berbadan sehat juga termasuk tidak ada kecenderungan jiwanya terganggu bila kelak tidak terpilih. Cukuplah sekali mengetahui ada calon pemimpin daerah yang berlari telanjang karena gagal dalam pilkada. Tentu saja kita tidak mau melihat ada ribuan orang yang melakukan aksi yang sama. Bisa masuk buku rekor dunia, negara ini.

Tidak Paham Teknologi
Secara tidak langsung masih terkait dengan alih fungsi kamar tidur sebagaimana disebutkan pada poin sebelumnya. Bukan apa-apa, capek-capek nyari gambar adegan mesum anggota Baleg, eh malah cuman setengah badan. Itupun masih dibantah dengan mengatakan bahwa saat itu difoto di kolam renang. Atau jangan sampai, niatnya bikin kenang-kenangan saat sedang bersama ‘artis’, malah mempertontonkan aurat yang ‘ukurannya gak seberapa’. Jadi lebih baik kalau mau menjadi anggota Baleg, gak perlu henpon berkamera atau memiliki kamera digital. Dengan demikian tidak banyak pemilih yang dikecewakan.

Memiliki Pengalaman Berorganisasi
Tujuannya adalah agar sang anggota, pada saat mengikuti sidang dan ditayangkan oleh televisi, beliau dapat berbahasa dengan baik. Dapat menyampaikan gagasan dengan terstruktur dan rapi. Hal ini penting, agar para pemilih tidak kecewa dan bingung. Apakah dulu memilih untuk anggota Baleg atau memilih untuk menjadi preman pasar.

Selain mengumumkan hal-hal tersebut, aku juga mensyaratkan sang calon anggota Baleg harus menandatangani surat pernyataan. Tidak perlulah diatas kertas bersegel atau bermeterai. Karena toh akan diumumkan sekaligus kepada jutaan orang. Juga, cukup diketik rapi atau tulisan tangan yang bisa dibaca. Pernyataan ini menyangkut :

Bersedia Mundur
Si calon harus bersedia mundur, apabila setelah diadakan evaluasi oleh pemilihnya, entah itu atas kinerja atau hal lain, ternyata sang calon dinilai dianggap tidak mampu oleh setengah plus satu dari suara yang dulu diperoleh si calon untuk lolos ke Senayan. Hal ini penting agar kelak tidak ada dalih, bahwa di negara ini tidak ada budaya mengundurkan diri.

Bersedia Tidak Punya Paspor
Bila saat ini si calon sudah memiliki paspor, silahkan dibatalkan. Bila belum, si calon tidak perlu membuat paspor selama menjadi anggota Baleg. Tujuannya adalah agar kelak,tidak bisa melakukan studi banding keluar negeri. Karena, daripada melakukan studi banding, lebih baik melakukan kunjungan kerja di daerah pemilihannya dan melakukan pertemuan dengan mereka yang telah memilih.

Biasa Makan di Warteg dan Ngopi di Warkop
Dengan demikian, lobi politik tidak harus dilakukan di hotel berbintang atau di cafe ternama. Tujuannya tentu saja agar ada penghematan. Agar gaji sang anggota Baleg, dapat lebih berguna. Berguna buat partai, karena ada setoran khusus buat partai asalnya. Dan tentu saja berguna buat keluarga. Karena dengan jadwal rapat dan materi bahasan yang luar biasa banyak, gaji yang diterima saat ini pastilah tidak cukup. Apalagi bila harus dipotong biaya lobi lobi politik mahal.

Bersedia Melakukan Reboisasi dan Membersihkan Lingkungan
Pernyataan ini penting kepada calon Baleg yang selama kampanye telah melukai pepohonan saat menempel poster atau gambar kampanye di pohon. Menempel stiker di tembok atau tiang listrik atau memasang spanduk besar-besar di persimpangan jalan. Karena setelah kampanye berakhir, maka poster,stiker atau baliho akan segera menjadi sampah.

Sementara itu dulu syarat dari aku. Kalau nanti terpikir yang baru, aku janji akan update. Demikian juga, jika kalian yang membaca punya syarat lain, monggo ditambah. Jadi kalau ada calon yang bisa memenuhi syarat seperti ini, aku akan mempertimbangkan membatalkan nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah pada saat Pemilu nanti.

Menurut pemikiranku yang awam dalam hal jurnalistik, penetapan judul dalam sebuah berita setidaknya mencerminkan kandungan dari berita yang ditulis. Sedapat mungkin, dengan membaca judul sebuah berita, pembaca mendapat gambaran akan berita dibawah judul tersebut. Menurutku, tiap-tiap media memiliki prosedur yang hampir sama dalam hal penulisan berita untuk kemudian tayang.

Aku kurang paham, bagaimana alur tayangnya sebuah berita. Tapi mungkin begini : wartawan meliput, kemudian menulis hasil liputannya, diserahkan kepada redaktur untuk dikoreksi, [mungkin] dikoreksi lagi oleh redaktur khusus bahasa, ditata dalam tatanan layak cetak untuk koran atau majalah [atau dalam bentuk lain untuk media lain], baru kemudian dicetak dan dikirim ke pembaca.

Kalau melihat alur ini [meski ini menurut pemikiranku sendiri] kesalahan dapat diminimumkan. Sehingga pada saat media tiba dihadapan pembaca, berita yang dibaca adalah berita yang mencerminkan keadaan sebenarnya yang ingin diwartakan oleh media tersebut.

Soal ini terpikir saat aku membaca Kompas Daring hari ini. Judul yang dipilih, langsung membuatku terkagum-kagum terhadap anggota Brigade Mobil yang bertugas menjadi eksekutor subuh tadi. Bayangkan, Eksekusi Amrozi dkk Menggunakan Satu Peluru. Yang terbayangkan buatku adalah, Amrozi dan kawan-kawan dijejerkan seperti menyusun domino. Saling merapat. Amrozi di depan. Di belakangnya menempel dengan ketat Kawan Amrozi1, disusul Kawan Amrozi2. Masih dengan posisi menempel dengan ketat!.

Setelah itu, ketiganya [yang menempel dengan ketat itu] akan dihadapkan atau membelakangi regu tembak yang sudah disiapkan. Setelah mendapat aba-aba dari komandan regu, DOR ! peluru akan menembus orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Mari berkhayal adegan ini difilimkan. Mungkin sutradara akan menunjukkan sebuah peluru yang melintasi dada ketiganya dalam gerak lambat.

Namun apakah demikian kejadiannya? Setahuku tidak. Karena dari yang pernah aku baca, apa yang terjadi adalah seperti ini. Untuk tiap satu orang terpidana mati yang akan ditembak mati, disediakan satu regu penembak. Kepada masing-masing anggota regu tembak ini, diberi senapan. Dari keseluruhan senapan yang dibagikan kepada regu tembak, hanya satu senapan yang berisikan peluru. Konon, tidak ada seorangpun diantara anggota regu tersebut yang tahu, apakah senapan yang digenggamnya berisikan peluru atau tidak.

Kalau kejadian subuh tadi adalah seperti apa yang aku sampaikan terakhir. Judul berita Kompas Daring ini jelas salah. Karena ternyata ada tiga regu tembak, dengan tiga senapan [masing-masing satu untuk satu regu] yang berisi peluru. Apabila ada tiga senapan berisi peluru, adalah suatu hal yang tidak mungkin bila dikatakan eksekusi Amrozi dkk menggunakan satu peluru.

Dan memang demikianlah adanya. Kandungan dari judul berita tersebut ternyata sebagai berikut, “Regu penembak jitu dari Brimob menembakkan satu peluru untuk masing-masing terpidana mati kasus bom Bali I“. Syukurlah. Ternyata Amrozi dan kawan-kawan tidak dijejerkan untuk kemudian ditembak dengan satu peluru seperti bayanganku di awal tulisan ini.

Mungkin memang tulisan ini tidak melewati alur penulisan berita jaman dulu sebagaimana aku pikirkan diatas, berita ini ditulis. Mungkin, karena bukan tulisan untuk koran atau majalah. Namun untuk media daring. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, mungkin sang wartawan langsung mengirim berita dari tempat kejadian, agar langusung tayang. Bukankah diakhir berita ditulis, “Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network.

Tapi ya sudahlah, ini cuma pikiran orang iseng. Aku tau apabila seorang teman kantor membaca tulisan ini, dia akan komentar, “yang penting esensi beritanya kan bisa ditangkep, bang…” Maup ma hita*

*idiom di daerah Tapanuli. Mungkin dalam bahasa masa kini bisalah disamakan dengan “cape deeeeh……“:-D

Pak Budiarto Shambazy, dalam kolom Politika Kompas hari ini memilih judul,”Gombal, tetapi benar” untuk menggambarkan upaya yang bisa dilakukan untuk memerangi korupsi di negara ini yang konon katanya sudah berjamaah. Kalau dulu dikatakan, korupsi berlangsung di bawah meja, sejak era reformasi, bahkan mejanya disikat sekalian.

Upaya yang bisa kita lakukan, menurut pak Bas, mirip dengan apa yang disebut oleh A’a Gym sebagai 3 (tiga) M. Mulai dari hal yang paling kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang!. Kata pak Bas, ”memang kedengarannya gombal, tetapi benar kan?”

Aku setuju. Tapi pada kenyataannya, ternyata tidak semudah itu. Saat mengurus SIM, kita disambut dengan spanduk ajakan untuk menghindari calo. Ternyata memang sudah tidak ada calo di Samsat Daan Mogot. Bersih. Karena ternyata calonya sekarang berseragam polisi. Mau mencoba peruntungan dengan mengurus sendiri? Dalam surat pembaca di Kompas, aku pernah baca kekesalan beberapa orang yang disuruh kembali lagi minggu berikutnya untuk mengulang proses ujian SIM karena tidak lulus.

Urusan pajak beda lagi, Ditjend Pajak memasang baliho besar-besar untuk mengajak orang membayar pajak, sekalian mengawasi penggunaannya. Kenyataannya? Pelapor penggelapan pajak di Asian Agri lebih dahulu masuk penjara daripada pihak yang dilaporkannya. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Wakil Presiden marah marah saat rumah susun yang dibayangkannya telah menjulang, ternyata belum beranjak dari tanah. Konon perijinannya sedang diproses. Urusan perijinan yang lama, juga merupakan salah satu ladang korupsi. Kaya iklan rokok yang ‘nakal’ itu, perlu melewati beberapa meja untuk dilewati oleh berkas perizinan. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Wakil wakil kita yang terhormat, harus diberi uang rapat untuk membahas Undang Undang bagi kepentingan rakyat. Padahal itu sudah tugas mereka. Bak tulisan di pantat truk Pantura, Ada uang abang sayang. Tak ada uang, abang kutendang. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Makanya aku salut dengan ulah sebagian anggota Partai Keadilan Sejahtera yang dengan rela menambal jalan berlubang di Jakarta, saat Gubernurnya yang katanya ahli itu mungkin sedang sibuk mengutak atik dana pembinaan media di APBD yang jumlahnya milyaran. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Seorang Jaksa Agung Muda harus rela melepaskan jabatannya karena seorang anak buahnya tertangkap basah sedang jual beli permata (permata lho…bukan perkara). Sementara Jaksa Agungnya sendiri hanya bilang, ”Apakah dengan saya mundur, masalah lantas selesai?” Padahal, yang jual beli permata itu masih berhubungan dengan perkara yang beberapa hari sebelumnya, di-lemari es-kan oleh institusinya. Bukan oleh institusi mudanya. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Perbincangan dengan beberapa teman siang ini, membicarakan kenapa Thailand yang rajin kudeta mengkudeta pemerintahan, lebih cepat pulih ekonominya daripada negara kita yang ‘tidak pernah ada kudeta’ sehingga dengan otomatis, mustinya pemerintahannya lebih stabil. Kesimpulan yang didapat, disana masih ada Raja yang masih dihormati oleh rakyat dan pemerintahannya. Sementara disini, terlalu banyak Raja yang berkantor di Senayan. Ironis? Benar. Gombal? Banget!

Aku rasa, apa yang bisa dilakukan oleh bangsa ini adalah meniru apa yang baru saja dilakukan oleh rakyat Malaysia. Mengurangi kepercayaan yang terlanjur diberikan kepada pemerintah yang tidak berhasil, dan memindahkan kepercayaan itu kepada barisan oposisi. Bukan kepada partai oposisi, karena pemimpin partai oposisi ini sedang sibuk mengamati orang lain, apakah menari poco-poco atau menari tor tor.

Partai-partai lain? Kayanya sih gak jauh beda. Karena ternyata ada juga yang dengan alasan hak asasi manusia,mengusulkan agar mereka yang sedang atau telah dipidana bisa menjadi Gubernur, bahkan Presiden.

Kalau pada saatnya, tahun 2009 belum ketemu yang cocok, biarlah pilihan itu ada di hati masing-masing. Tidak perlu perlu buru buru diantarkan ke Tempat Pemungutan Suara.

Pagi ini, aku membaca LPS [Layanan Pesan Singkat = Short Message Service] yang aku terima semalam. Isinya seperti ini :

From: 02198841xxx
Date: Wednesday 13th February 2008 22:50
——————————————————————
Unt syt bsk cinta indah jng lupa bw bj hitam adegan kuburan tx andre costum

Wah, pasti seperti biasa. Salah kirim LPS…
Tapi, sesampai di kantor, aku terima lagi LPS dari nomer tak terdaftar di buku teleponku dan sepertinya masih berhubungan dengan LPS sebelumnya.

From: +-6281319487xxx
Date: Thursday 14th February 2008 07:41
——————————————————————
Pagi pak edwin irwanyah,sy hendar unuit sinetron cinta indah mau kasih tahu kalau hari ini pak edwin syuting jam 10 pagi di PEMAKAMAN UMUM JL. Telkom cibubur

BAH !!! Apa-apaan ini…? Makin kacau aja. Kepada teman-teman, aku cerita sekaligus membalas LPS itu :

To: (+-6281319487xxx)
Date: Thursday 14th February 2008 08:13
——————————————————————
waduh maaf sekali nich.pagi ini saya interview di Metro TV

Karena aku yakin, itu orang akan sadar bahwa orang yang dikiriminya LPS bukanlah orang yang dicarinya. Eh, gak begitu lama masih saja ada balasan dari nomer itu :

From: +-6281319487xxx
Date: Thursday 14th February 2008 08:15
——————————————————————
SAMPAI JAM BERAPA PAK?

Lho ? ..Koq ?
Kata seorang teman, jangan-jangan dia juga sedang mempermainkan, loe..Bang? Aku pikir, bener juga….Tapi sepertinya enggak. Dia orang pasti sedang kalap, karena aktor yang diharapkan jam 10 bisa syuting di Cibubur, bakal ngaret.
Tapi ‘permainan’ aku teruskan :

To: (+6281319487xxx)
Date: Thursday 14th February 2008 08:18
——————————————————————
cuma setengah jam sebenarnya.tetapi habis itu saya harus ikut fit and proper test di Cikeas dgn SBY.mungkin setelah itu saya boleh singgah di Cibubur

Hahahahahaha…..aku berharap, dengan mengatakan bahwa aku akan fit and proper test di Cikeas, sang artist manager akan sadar bahwa orang yang ‘diganggunya’ bukanlah orang yang dicari. Ternyata enggak juga. Karena dia masih mengirim LPS :

From: +-6281319487xxx
Date: Thursday 14th February 2008 08:25+AAA-
——————————————————————
JAM BERAPA KIRA2 SELESAI DARI CIKEAS

BAH !!!!! Akhirnya aku menyerah. Kasihan juga kalo terus-terusan mempermainkan orang tersebut. Pesannya tidak aku tanggapi.

Ternyata sodara-sodara…………..Dia menelponku. Dan menyampaikan hal yang sama. Aku jawab, ‘Pak, saya Tambunan. Goklas Tambunan, kerja di Bursa…” dijawab sama dia, “Lho? Bukannya pak Edwin Irwanyah?” “Bukan, pak. Mungkin Bapak salah nomer. Coba dicek lagi” kataku.

Selesai? Ternyata belum. Karena melalui nomer lain, dia masih meneleponku……lima menit kemudian.

Selesai? belum juga. baru saja saat menulis postingan ini, orang tersebut menelepon lagi. Matheeeeeeeeeeeeek !

Lewat pertarungan tanpa penonton yang dilangsungkan di Bandung, akhirnya Sriwijaya FC keluar sebagai Juara Liga Indonesia. Tim Ayam Kinantan harus berbesar hati menempati posisi kedua. Selamat buat Laskar Wong Kito. Salut buat PSMS