balintang

Kotamadya Bekasi sedang persiapan menghadapi pemilihan Walikota dan Wakilnya. Walikota sekarang, yang meneruskan jabatan pejabat sebelumnya yang tersangkut kasus korupsi, akan bertarung lagi. Berpasangan dengan rivalnya pada pemilihan untuk periode sekarang ini. Pepen (sapaan sang calon Walikota) berpasangan dengan Ahmad Saikhu. Dan mereka memilih PAS sebagai tagline.

Pendukung pasangan yang mendapat nomor urut 4 menggunakan media serupa tabloid untuk kampanye. Media itu, diberi judul Kabar4, sesuai dengan nomor urut pasangan. Media itulah yang mampir di teras rumah minggu kemarin. Jika melihat isi tabloid tersebut, ternyata tidak sepenuhnya sama dengan judulnya. Karena ternyata hanya berisi profil sang wakil. Mulai dari profil umum (seperti tanggal lahor, riwayat pendidikan, istri dan enam orang anak,dll), tulisan atau pendapat beberapa orang mengenai sang calon wakil walikota, hingga foto sang calon bersama beberapa komunitas yang ada di Bekasi.

Yang menarik adalah, terdapat tulisan sang calon wakil walikota menghadiri pelantikan Praeses (pada tabloid, disebut Prises) di Bekasi. Praeses merupakan salah satu unsur pimpinan gereja HKBP. Gereja Batak yang konon, paling besar (paling tidak dari jumlah jemaat) di Indonesia. Menurutku, hal ini sengaja ditampilkan, mengingat latar belakang sang calon wakil walikota yang berasal dari partai yang dekat dengan Islam.

Pada halaman yang sama dengan ‘liputan’ mengenai acara HKBP itu, terdapat umpasa (pantun Batak) yang menurutku diartikan dengan sesuka hati. Bahkan (dengan segala hormat) terkesan dipaksakan mendekati situasi sang calon. Pantun tersebut, “Balintang ma pagabe, tumandangkon sitodoan. Arinta ma gabe molo masi paolo-oloan”

Meski berdarah Batak, pengguna aktif Bahasa Batak dan sering mendengar umpasa tersebut, terus terang aku kesulitan menerangkan baris sampiran. Dan lazimnya pantun, pesan yang akan disampaikan lewat umpasa tersebut, terdapat pada kalimat setelah sampiran. Justru disinilah mulai kesalahan penerjemahan muncul.

Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon merupakan tiga “cita-cita” orang Batak. Hamoraon berarti kekayaan, Hasangapon kurang lebih kehormatan. Manakala kata Hagabeon, berasal dari kata dasar ‘gabe’. Mengacu pada “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A.Marbun dan I.M.T.Hutapea, kata gabe berarti : mempunyai banyak keturunan putra dan putri. Masih kamus yang sama menuliskan, “istilah gabe bukan hanya dipakai mengenai manusia melainkan juga mengenai mata pencaharian yang berhasil baik”.

Terus terang, agak sulit buatku untuk mencari padanan yang pas untuk istilah hagabeon. Memang pada masanya dahulu soal keturunan merupakan sebuah ‘syarat’ yang harus dipenuhi sebagai sebuah bentuk ‘kesempurnaan’ di keluarga Batak. Dan atas dasar itulah (untuk sementata) aku merasa lebih pas untuk menggunakan istilah diberkati untuk kata gabe atau hagabeon.

Menurutku, penerjemahan haruslah per kalimat, dan tidak dipenggal. Sehingga jika aku bisa menerjemahkan kalimat umpasa setelah sampiran akan menjadi “Hari kita akan diberkati, jika saling seia sekata. Bukan malah ajakan untuk memiliki banyak anak, sebagaimana disebutkan pada tabloid itu :-D

Dua hari ini aku mengikuti sebuah pelatihan yang diselenggarakan kantor. Judulnya Legal Drafting. Materi dan tujuan diadakannya pelatihan kurang lebih, bagaimana menyusun sebuah peraturan. Keikutsertaanku, karena kebetulan aku ditugaskan pada divisi yang banyak bersinggungan dengan peraturan. Meskipun peraturan tersebut mengikat pada kalangan terbatas. Perusahaan Tercatat.

Hari pertama pelatihan, lebih membahas bagaimana menyampaikan sebuah gagasan. Komunikasi tepatnya. Barulah di hari kedua, pelatihan masuk kepada teknis. Peraturan itu sendiri. Sama seperti diriku, sebagian (besar) peserta pelatihan tidak memiliki latar belakang pendidikan bidang hukum. Bukan sarjana hukum. Keikutsertaan kami, sekali lagi, semata karena masing masing sering bersinggungan dengan peraturan dan penerapannya.

Sesi kedua pelatihan di hari kedua membicarakan bagaimana susunan sebuah peraturan. Pemateri menyampaikan bahwa apa yang kami miliki, memiliki bentuk dan susunan yang tidak biasa. Meskipun beliau tidak menyebut bahwa hal itu salah. Karena, setelahnya beliau menyebut, banyak peraturan lain yang memiliki bentuk serupa. Dan itu sah sah saja.

Entah diawali oleh komentar peserta yang mana, diskusi menjadi ramai. Sebagian mengamini pemateri. Sebagian menanyakan bagaimana seharusnya. Sebagian kecil menyebut, bahwa aturan yang ada dan sang pemateri sebutkan, tidaklah seperti itu. Seingatku, diskusi yang terjadi baru pada apa yang harusnya awal disampaikan. Kalau menganalogikan banyaknya materi yang akan disampaikan adalah sebanyak slide power point yang dipampangkan di depan, diskusi seru ini berada pada slide kedua atau ketiga. Jadi memang masih awal sekali. Serunya diskusi membuat waktu terbuang. Sebagaimana biasa, hari Jumat adalah hari kerja yang pendek.

Yang aku sayangkan dari pemateri hari ini adalah, beliau ternyata tidak bisa menerapkan apa yang disampaikan oleh pemateri hari pertama yang membicarakan komunikasi. Beliau tidak mengemas materi yang dibawakannya dengan baik sehingga yang mengemuka adalah, penilaian beliau terhadap aturan yang kami punya. Meskipun akhirnya beliau menyampaikan bahwa apa yang disampaikannya bukan merupakan penilaian atas benar atau salah.

Sepertinya peserta juga sebagian memahami. Apalagi, latar belakang peserta yang tidak semuanya lulusan fakultas hukum. Namun yang sangat aku sayangkan, menanggapi diskusi yang berkembang, sang pemateri sampai melontarkan kalimat,”kalau memang begitu,untuk apa saya di sini?”. Hei?! Bukankah tugas sampeyan sudah jelas dalam kontrak kerja sama penyelenggaraan pelatihan. Dan bukankah seharusnya, sampeyan bisa mengarahkan peserta. Karena sampeyan berada di depan, bukan hanya sebagai pemateri. Namun juga sebagai pemimpin semua peserta, mau dibawa kemana semua peserta yang ada di ruangan. Apakah akan tetap pada pengetahuannya yang ada selama ini, atau bergerak ke arah bagaimana peserta mendapat sesuatu yang baru?

Tindakan yang dilakukan pemateri tersebut, harusnya tidak terjadi bila beliau memahami benar materi komunikasi yang disampaikan di hari pertama. Bagaimana membungkus sebuah informasi agar tidak terkesan negatif. Apalagi informasi ‘negatif’ tersebut disampaikan kepada pemilik sesuatu yang dianggap ‘negatif’. Menurutku, wajar saja kalau ada pandangan berbeda atas sebuah hal. Karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama. Satu hal lagi, beliau sempat melontarkan kalimat bahwa beliau juga seorang dosen. Seorang guru. Posisinya yang seorang guru semakin membuatku merasa, tidak selayaknya beliau menunjukkan sikap reaktif dan terkesan negatif.

Sang pemateri menyebutkan bahwa sistematika peraturan yang kami miliki, berpotensi membuat bingung pembaca. Yang terpikir bagiku saat berada di ruangan adalah, sebuah aturan yang sistematikanya sudah baku saja bisa menimbulkan perbedaan pada saat membacanya. Dan dengan segala hormat kepada seluruh Sarjana Hukum yang ada, dengan mengasumsikan bahwa beliau memiliki latar belakang hukum, tepatnya seorang sarjana hukum, aku langsung teringat sebuah pameo yang menyatakan bahwa,”Jika ada dua sarjana hukum berkumpul, akan memunculkan tiga pendapat?” :D

Kemarin, sesuai janji aku mengajak dua jagoan sekadar window shopping ke Plasa Semanggi. Sebenarnya, menunaikan janji kepada Yeremia. Karena sebelumnya dia menagih untuk Sabtu berenang dan Minggu ke Plasa Semanggi. Alasannya, mau beli game untuk PSP Go yang dia punya. Sudah seminggu dia pengen main game pesawat. Mencari di internet tidak ketemu.

Begitulah, petualangan kami bertiga usai sekitar pukul 17.00 sore. Kamipun beranjak pulang. Dengan dua jagoan masing masing menenteng plastik belanjaan Centro. Berisi mainan masing-masing. Abang Yeremia dengan action figure, Ben-10 dan adek Gabriel dengan dua pesawat kecil Transformer.

Seperti biasa, AvanzaHitam tidak lupa memperdengarkan i-radio. Yeah, karena papinya mereka terlalu suka dengan musik Indonesia. Eh, gak terlalu persis begitu alasannya. Karena papi mereka tidak terlalu mengerti lagu berbahasa asing tepatnya.

Keluar tol Jatiwaringin, tibalah waktu Magrib. Radio segera berganti dengan musik dari flash disk. Dan pilihan pertama papi Yeremia, selalu musik Batak. Tentu saja dari Viky Sianipar. Memutar lagu dari album Tobatak yang sudah dikonversi bentuknya menjadi MP3.

Tanpa diduga, abang Yeremia turut menyenandungkan lagu Boan Ma Salendang. Lagu pertama yang diperdengarkan. Aku tahu, kalau Yeremia juga berusaha ikut melantunkan syairnya yang berbahasa Batak. Meski terdengar tidak pas dengan syair yang dinyanyikan, kedengaran kalau dia berusaha melagukannya. Iramanya dapat. Namun syairnya, belum. Bisa dimaafkan. Karena akupun belum terlalu hafal dengan syairnya, meski akupun turut melagukan bagian yang aku tahu syairnya.

Aku tak mau mengganggu dengan memberi komentar atas senandung anak buha bajuku itu. Aku biarkan dia melagukan sesukanya. Sambil di antara lagu, dia bertanya, “ini Viky Sianipar kan papi?”. Iya nak”, jawabku. Dia masih terus menyenandungkan lagu itu. Juga masih belum pas syairnya. Tentu saja, aku senang tidak kepalang.

Semakin senang lagi, semakin mendekati rumah, lagu berikutnya adalah “Dos Nangkokna, Dos Tuatna”. Sebuah lagu dengan beat yang tak kalah menghentak dengan lagu pertama. Sebagaimana biasa kalau mendengarkan lagu itu sendirian dalam perjalanan pulang pergi kantor rumah, aku bergoyang. Yeah, sambil tetap menyetir dengan hati-hati tentu saja. Abang Yeremia tak mau ketinggalan. Di belakang, adek Gabriel pun aku ajak untuk ikut menggerakkan tangan seperti layaknya manortor. Tanpa aku duga, adek Gabriel mengikuti gerakan tanganku. Seperti manortor. Semakin senang tidak kepalang rasanya. Dua Tambunan kecil itu, suka dengan musik tradisional leluhurnya yang digarap dengan serius.

Aku cuma bisa berharap, sampai nanti mereka dewasa, mereka suka dengan budaya leluhur mereka. Tanpa ada unsur paksaan dari orang lain, apalagi aku sebagai orang tuanya.

Kisah nyata. Terjadi sore ini. Pintu lift terbuka. Hanya seorang berada didalamnya. Teman sekantor. Kami saling menyapa. Dia keluar, akupun masuk sambil terus membaca email yang masuk lewat BerryItem.

Pintu lift menutup, seiring aroma tak sedap menyeruak. Ups…sepertinya ada yang baru buang angin! Lift berhenti di Ground Floor. Pintu terbuka. Seorang karyawati Bank Mandiri yang cukup manis masuk. Gawat! pikirku sambil mencari alasan untuk pura pura tidak tau ada bau busuk, sambil terus menggeser trackball.

Benar saja. Baru saja pintu lift menutup, hidung si manis juga tertutup. Jempol dan telunjuk tangan kirinya bekerja untuk itu. Lift serasa lambat bergerak menuju lantai empat dimana ruanganku berada. Selama lift bergerak dengan lemah gemulainya, si manis menambah pertahanan. Bukan hanya menutup hidung, juga mengibasngibaskan amplop coklat yang dibawanya.

Suasana sangat mencekam. Selain karena bau busuk yang memenuhi setengah ruangan lift [yeah...kurang lebih...karena kalau penuh kami pasti sudah pingsan sebelum lantai dua], juga karena lift betah hanya mengangkut kami didalamnya. Aku gelisah diantara bau busuk yang kurang ajar, sambil terus menggeser trackball yang tak berguna apa apa. Karena semua email sudah aku baca.

Tiba di lantai tiga, pintu lift terbuka. Si Manis keluar. Sepertinya dia lega sekali. Tangan kiri sudah melepas hidung, namun tangan kanan masih mengibas amplop. Dem!! Buru buru aku pencet tombol penutup. Agar lift segera melaju ke lantai empat.

Mungkin ini yang disebut gede rasa, atau GR karena aku merasa, pasti si manis berpikir akulah yang menyebar bau laknat tadi. Semakin GR, membayangkan dia akan langsung bercerita kepada teman teman sekantornya. Wanita wanita yang sehari hari bertemu di lift ini. Yang beberapa diantaranya pasti sering aku temui, saat melakukan transaksi di Bank Mandiri.

Rasa GRku tadi cepat berganti dengan rasa kasihan kepada diri sendiri. Karena ketahuan bertahan dalam pusaran badai amoniak dalam lift. Saling bergantian dengan perasaan menyesal, kenapa tidak keluar lift begitu pintu terbuka di Ground Floor.

Memilih judul, Presiden Ke-7 Indonesia, Kompas memuat tulisan dari Buya Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Menurut aku tulisan ini dimuat dalam rangka menyambut pemilihan Presiden yang diselenggarakan pada hari ini. Secara materi, isinya juga semacam pengantar bagi pemilih untuk melaksanakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Namun bila diperhatikan mulai dari judul, hingga kutipan satu alinea didalamnya, terasa mengganjal. Perhatikanlah kalimat ini :

Saya sungguh berharap, presiden ke-7 Indonesia dan wakil presiden ke-10 yang kita pilih hari ini benar-benar akan punya kepekaan tinggi terhadap keindonesiaan kita yang masih jauh dari keadilan dan kenyamanan.

Menurut hitungan ‘resmi‘ Indonesia hingga saat ini baru memiliki 6 (enam) Presiden. Mulai dari Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Pak Dur, Ibu Mega dan Pak SBY yang sedang menjabat. Artinya, kalau pemilu hari ini memunculkan nama selain daripada nama tersebut, maka dialah Presiden ke-7 (tujuh) Indonesia. Namun jika yang terpilih adalah salah satu diantara dua calon yang sedang atau sudah pernah menjabat Presiden, maka yang terpilih tidak serta merta menjadi Presiden ke-7.

Entah apakah ini kesalahan dari editor Kompas atau ada unsur ‘kesengajaan’ dari Buya yang kita tau membuat testimoni buat salah satu kandidat dalam masa kampanye kemaren…

Proses penghitungan suara belum selesai, namun para politisi atau pimpinan partai seolah sudah punya gambaran akan hasil akhir. Berbekal hasil Quick Count, sehari setelah Pemilu Caleg, pimpinan partai sudah terlihat sibuk melakukan kunjungan kunjungan politik yang ujung ujungnya berarti koalisi. Kunjungan yang dirancang bahkan pada saat proses penghitungan suara oleh KPU belum dimulai.

Kunjungan kunjungan yang seolah memperlihatkan bahwa dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi, mereka saling menyambangi pimpinan partai yang tadinya menjadi lawan politiknya dalam Pemilu. Bukan hanya lawan politik, termasuk lawan ‘dalam arti sebenarnya’. Hari ini, media menayangkan foto dua orang mantan petinggi militer yang pernah dikabarkan berseberangan. Memperlihatkan pose akrab. Mesra.

Tiada lain yang dituju, hanya kepentingan untuk dapat mengajukan calon Presiden sebagaimana diatur dalam Undang Undang. Karena bila maju sendiri dengan bekal suara yang diperoleh (meski belum hasil akhir) sudah pasti partai yang bukan peringkat atas tersebut, tidak berhak mengajukan calon Presiden.

Bila sudah begini, mudah mudahan rakyat tidak bingung. Mudah mudahan rakyat tidak menyesal menitipkan suara pada mereka dalam pemilu kemarin. Karena ternyata, suara yang telah diberikan, hendak dibawa dan ‘disatukan’ dengan suara partai yang tidak mereka pilih kemarin.

Yang menjadi pertanyaan, tidakkah dengan pilihan partai yang sedemikian banyak, ditambah dengan syarat pengajuan calon Presiden yang demikian tinggi, menyadarkan mereka? Bahwa seharusnya partai yang berlaga di Pemilu, cukup maksimal lima saja? Ah….Politik memang membingungkan.

Seperti biasa hari Jumat, setelah menyantap jatah makan siang yang disediakan di kantin oleh perusahaan, aku nongkrong di sebuah kedai kopi yang terletak di lantai satu gedung dimana kantorku berada. Tujuannya, selain untuk bisa merokok sambil menyesap kopi, juga sekadar bersosialisasi dengan kolega sekantor sambil ngomong ngalor ngidul tentang apa saja. Tentu saja diselingi canda dan tawa.

Begitu juga siang ini. Saat pesananku datang, melintas di hadapanku tiga orang pengunjung. Seorang perempuan ditemani dua orang laki laki yang menenteng minuman dari kedai kopi lain. Kedai kopi yang terkenal dengan logo lingkaran hijaunya. Dan sepertinya sudah menjadi lebih dari gaya hidup daripada menjual produk dasarnya. Kenapa aku katakan seperti itu, karena akhir akhir ini sepertinya semakin banyak warga Jakarta, terutama di daerah perkantoran atau kawasan bisnis yang percaya diri kalau berjalan sambil menenteng cangkir kertas berlogo kedai kopi tersebut.

Kenapa aku bilang gaya hidup, begitulah kenyataannya. Orang tidak akan sepercaya diri itu menenteng minuman sambil jalan bila di cangkirnya tidak ada logo lingkaran hijau tersebut. Bahkan apabila cangkirnya terbuat dari bahan bukan kertas, sebagaimana layaknya tempat minum. Mungkin atas nama gaya hidup pulalah kedua lelaki yang melintas barusan masuk kedai kopi ini, bukan menenteng minuman dari kedai kopi yang dimasukinya.

Aku bukan sedang iri atau cemburu dengan mereka yang nyaman masuk kedai kopi ini dengan menenteng produk kedai lain. Jadi bukan karena sirik tanda tak mampu. Ibarat kata anak Medan, ”Berapalah kopi logo hijau itu. Aku bayar pakai selembar foto I Gusti Ngurah Rai, uangku masih ada kembalian” :-) . Dan yang terpenting, buatku belum ada kopi yang bisa mengalahkan nikmatnya kopi dari Simpang Limun di Medan sana dalam hal rasa. Makanya hingga saat sepuluh tahun lebih keberadaanku di ibukota ini, aku masih ‘mengimport’ langsung persediaan dirumah.

Buatku, masalahnya adalah soal etika. Sudah jamak diingatkan oleh pemilik tempat makan atau kedai kopi seperti ini, bahwa pengunjung diharapkan tidak membawa makanan dan/atau minuman dari luar. Sebuah himbauan yang wajar. Pemilik tempat makan atau minum tentu saja ingin penjualannya banyak. Itu sebabnya, mungkin di ruang kedai kopi ini merokok masih diperbolehkan. Sebab, sebagaimana aku dan teman temanku yang biasa ngumpul disini, kesempatan itulah yang kami cari yang tidak didapat oleh dua laki laki tadi apabila mereka belanja dan minum di kedai kopi logo hijau tersebut.

Kalau sudah begini, apa yang terpikir olehku adalah, dua orang laki laki tadi, bisa jadi bukan orang biasa di gedung ini. Mungkin mereka pekerja di perusahaan asing. Atau memiliki pendidikan, jabatan atau penghasilan lumayan tinggi. Meski begitu, mereka telah melupakan etika atas nama gaya hidup.

Satu lagi contoh bahwa, bahkan wartawan media ngetop juga belum mengerti sepenuhnya mengenai Pasar Modal.

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | Transaksi IHSG Cuma Rp 1 Triliun

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Apa yang diperdagangkan di Bursa dan diambil sebagai barometer aktivitas transaksi pasar modal, hingga saat ini barulah efek. Efek bisa berarti saham, right, waran, obligasi dan lainnya. Hingga dengan tulisan ini diposting, di Bursa Efek Indonesia, efek bernama IHSG belum pernah ditransaksikan….

Menurut pemikiranku yang awam dalam hal jurnalistik, penetapan judul dalam sebuah berita setidaknya mencerminkan kandungan dari berita yang ditulis. Sedapat mungkin, dengan membaca judul sebuah berita, pembaca mendapat gambaran akan berita dibawah judul tersebut. Menurutku, tiap-tiap media memiliki prosedur yang hampir sama dalam hal penulisan berita untuk kemudian tayang.

Aku kurang paham, bagaimana alur tayangnya sebuah berita. Tapi mungkin begini : wartawan meliput, kemudian menulis hasil liputannya, diserahkan kepada redaktur untuk dikoreksi, [mungkin] dikoreksi lagi oleh redaktur khusus bahasa, ditata dalam tatanan layak cetak untuk koran atau majalah [atau dalam bentuk lain untuk media lain], baru kemudian dicetak dan dikirim ke pembaca.

Kalau melihat alur ini [meski ini menurut pemikiranku sendiri] kesalahan dapat diminimumkan. Sehingga pada saat media tiba dihadapan pembaca, berita yang dibaca adalah berita yang mencerminkan keadaan sebenarnya yang ingin diwartakan oleh media tersebut.

Soal ini terpikir saat aku membaca Kompas Daring hari ini. Judul yang dipilih, langsung membuatku terkagum-kagum terhadap anggota Brigade Mobil yang bertugas menjadi eksekutor subuh tadi. Bayangkan, Eksekusi Amrozi dkk Menggunakan Satu Peluru. Yang terbayangkan buatku adalah, Amrozi dan kawan-kawan dijejerkan seperti menyusun domino. Saling merapat. Amrozi di depan. Di belakangnya menempel dengan ketat Kawan Amrozi1, disusul Kawan Amrozi2. Masih dengan posisi menempel dengan ketat!.

Setelah itu, ketiganya [yang menempel dengan ketat itu] akan dihadapkan atau membelakangi regu tembak yang sudah disiapkan. Setelah mendapat aba-aba dari komandan regu, DOR ! peluru akan menembus orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Mari berkhayal adegan ini difilimkan. Mungkin sutradara akan menunjukkan sebuah peluru yang melintasi dada ketiganya dalam gerak lambat.

Namun apakah demikian kejadiannya? Setahuku tidak. Karena dari yang pernah aku baca, apa yang terjadi adalah seperti ini. Untuk tiap satu orang terpidana mati yang akan ditembak mati, disediakan satu regu penembak. Kepada masing-masing anggota regu tembak ini, diberi senapan. Dari keseluruhan senapan yang dibagikan kepada regu tembak, hanya satu senapan yang berisikan peluru. Konon, tidak ada seorangpun diantara anggota regu tersebut yang tahu, apakah senapan yang digenggamnya berisikan peluru atau tidak.

Kalau kejadian subuh tadi adalah seperti apa yang aku sampaikan terakhir. Judul berita Kompas Daring ini jelas salah. Karena ternyata ada tiga regu tembak, dengan tiga senapan [masing-masing satu untuk satu regu] yang berisi peluru. Apabila ada tiga senapan berisi peluru, adalah suatu hal yang tidak mungkin bila dikatakan eksekusi Amrozi dkk menggunakan satu peluru.

Dan memang demikianlah adanya. Kandungan dari judul berita tersebut ternyata sebagai berikut, “Regu penembak jitu dari Brimob menembakkan satu peluru untuk masing-masing terpidana mati kasus bom Bali I“. Syukurlah. Ternyata Amrozi dan kawan-kawan tidak dijejerkan untuk kemudian ditembak dengan satu peluru seperti bayanganku di awal tulisan ini.

Mungkin memang tulisan ini tidak melewati alur penulisan berita jaman dulu sebagaimana aku pikirkan diatas, berita ini ditulis. Mungkin, karena bukan tulisan untuk koran atau majalah. Namun untuk media daring. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, mungkin sang wartawan langsung mengirim berita dari tempat kejadian, agar langusung tayang. Bukankah diakhir berita ditulis, “Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network.

Tapi ya sudahlah, ini cuma pikiran orang iseng. Aku tau apabila seorang teman kantor membaca tulisan ini, dia akan komentar, “yang penting esensi beritanya kan bisa ditangkep, bang…” Maup ma hita*

*idiom di daerah Tapanuli. Mungkin dalam bahasa masa kini bisalah disamakan dengan “cape deeeeh……“:-D

Terus terang aku tidak terlalu paham pengertian dari judul yang aku pilih. Namun dua kata, manfaat dan mudarat lah yang terpikir saat online malam ini. Saat mengunjungi blog beberapa teman dan saat berkunjung ke sebuah portal berita.

Ini soal internet. Seorang ‘teman’ yang kebetulan pendeta, melakukan terobosan dengan mendirikan sebuah serikat yang beliau sebut Sarikat Gadong Manginsir. Yang secara harafiah berarti, serikat ubi jalar. Oleh pak Pendeta, organisasi ini diniatkan untuk menyebar komputer ke kampung halamannya di Tapanuli sana. Niat yang tujuan akhir yang aku tangkap [kurang lebih], bahkan di Tapanuli yang dulu disematkan istilah Peta Kemiskinan, internet bukan barang baru. Sebuah mimpi yang mulia. Bahkan sudah dimulai oleh seorang teman [Tulang tepatnya] melalui Berita dari Balige.

Oleh abang dari pak Pendeta itu, niat mulia adiknya ditulis di blog si abang. Dengan judul Pendeta dan Komputer. Yang menarik dari tulisan si abang, kalau dibaca sepintas, yang kelihatan adalah beliau bercerita soal ‘pendeta biasa’. Pendeta biasa, maksudnya bukan adiknya. Sebuah pertemanan yang manis dari dua orang bersaudara kandung..Hehehehehe..

Dua abang beradik ini, hanya aku kenal lewat fasilitas internet. Belum pernah bertemu sama sekali. Aku kenal dari kenal adiknya terlebih dahulu, di milis sebuah gereja beberapa tahun lalu. Beliau cukup sering posting. Yang terus terang -sangkin panjangnya postingannya- jarang aku baca satu persatu sampai habis. Sesuai misi yang diembannya sebagai seorang gembala, sang adik beberapa kali pindah. Terakhir melayani di Serpong. Setahun terakhir, sang adik ‘melayani’ juga dengan memanfaatkan internet. Beliau membangun rumah sendiri yang diberi tajuk rumametmet yang berarti rumah kecil. Namun tidak seperti namanya, rumah ini tidak bisa dianggap kecil. Belum setahun, total kunjungan kesana sudah 65.000an. Sebuah prestasi yang bukan main-main untuk blog bertema ‘berat’.

Sang abang, aku kenal pertama kali lewat tulisan beberapa paragraf yang buatku tidak asing. Karena terkadang menceritakan suasana di kampung halamannya yang kebetulan juga kampung halamanku. Mulai dari kwetiau polos, kolor bupati, kampung baru atau perguruan Immanuel. Yang buatku sebagai orang Medan, bukanlah hal asing. Pernah aku iseng bertanya pada google, mencari informasi tentang sang Abang. Yang aku dapat, beliau berkegiatan di bidang penerbitan. Aku lupa persisnya, akhirnya aku ‘bertemu’ dengan sang abang yang teranyata telah memiliki blog sendiri. Tulisan-tulisan yang aku rasa tadinya tercecer, telah disatukan disana.

Kedua abang beradik ini, meski usianya jauh diatasku [sang abang bahkan sudah menjadi seorang kakek] menjadi temanku pula di jaringan pertemanan yang konon paling ngetop saat ini.

Bukan hanya abang adik ini yang menjadi temanku di jaringan pertemanan tersebut. Juga seorang musisi yang dulu dikenal menjadi ‘trio dahsyat’ bersama Almarhum Chrisye dan Eros Djarot. Sang musisi, sebelum di jaringan pertemanan yang ngetop itu, lebih dulu menjadi temanku di jaringan pertemanan satunya lagi. Yang sering digunakan orang untuk berbagi musik berformat mp3. Sang musisi, di jaringan satunya sedang menggelorakan apa yang disebut gerakan kepatutan. Intinya [kalau aku tidak salah] adalah soal kembali ke hati nurani. Tapi aku yakin, beliau tidak ada urusan dengan pak Jendral yang sedang mewakafkan sisa usianya untuk bangsa ini.

Selain sang musisi, kemarin aku juga menambahkan seorang seniman [yang ahli menirukan suara mantan Presiden negara ini] dari Jogja sebagai teman di jaringan ngetop itu. Sang seniman sudah mengkonfirmasi permintaan pertemananku. Dan hari ini aku tau mereka berdua saling menulis di dinding masing-masing. Sang seniman bahkan iseng bilang, adalah lucu dua orang manula ‘bermain’ jaringan ngetop itu.

Mengalami apa yang aku ceritakan itu, aku tidak heran saat sebuah portal berita menulis tentang Popularitas Situs Porno Tergeser Situs Jejaring. Sekaligus tidak habis pikir kenapa ada kebijakan pembatasan internet di beberapa instansi [ppssst..soal yang terakhir ini, mungkin 'titipan' atau simpati kepada seorang teman dekatku :-) ]. Karena ternyata internet bisa bermanfaat juga.