Setelah sekian lama (empat tahun) tiarap, akhirnya blog ini berdiri lagi. Siap untuk melangkah lagi.
Sudah selayaknya aku mengucap terima kasih kepada bang Mark Sibarani (@ybsmee). Karena ybs-lah ? yang sudah memperbaiki kesalahan yang ada pada mesin. Terima kasih juga sudah menyarankan hosting yang patut untuk dipertimbangkan.

Semoga setelah ini, blog ini bisa menampung apa yang terpikir. Melanjutkan semboyan writing for healing.
Writing for healing ini adalah konsep menggunakan tulisan sebagai katarsis, jadi tempat sampah. Karena apapun yang kita pikirkan itu harus diekspresikan sebenernya. Kalau disimpen aja, ya istilahnya sampah kalau disimpen kan jadi ngeganggu stabilitas kita secara mental.

Apa Itu “Writing for Healing”?

Ternyata ada juga gunanya tidak perlu ngoyo dan terburu buru naik ke pesawat. Setidaknya kali ini menjadi berkah tersendiri.

Setelah kemarin penerbangan ditunda selama kurang lebih tiga jam. Hari ini penerbangan kembali ke Jakarta pun memgalami penundaan. Menurut jadwal, penerbangan GA247 yang akan membawaku pulang, terbang pada pukul 19.25 WIB. Mendatangi meja pendaftaran sambil menyerahkan tiket elekteonik, aku bertanya apakah pesawat sesuai jadwal. “Terlambat kurang lebih dua puluh menit pak” jawab mbak petugas. “Penerbangan sebelumnya?” tanyaku. “Juga terlambat. Mungkin nanti keberangkatannya tidak akan berbeda jauh”. Aku mengasumsikan ini akibat dari belum beriperasinya Terminal 3 Ultimate yang resmi digunakan sejak kemarin. Hal itu dikuatkan dengan obrolan dengan penumpang lain yang menunggu di ruang tunggu.

Boarding Pass yang telah dicetak, langsung aku lipat bersama dengan kartu tanda penduduk. Persiapan untuk pemeriksaan di pintu masuk ruang tunggu dan pintu menuju pesawat. Akupun menunggu dan berbaur dengan beberapa penumpang lain yang ternyata menghadiri acara yang sama dengan yang aku hadiri hari ini. Bahkan juga manajemen perusahaan pengundang.

Panggilan yang ditunggu ratusan penumpang pun terdengar. Wajah muram dan malas karena menunggu meski telah diberikan sekotak makanan ringan, langsung sumringah. Kami bergegas menuju pintu dua. Seperti biasa aku mempersilahkan penumpang lain untuk berbaris di depan. “Ayo bang” ajak seorang teman yang sudah kukenal lama dan baru bertemu sore ini meski tadi siang berada di acara yang sama. “Silahkan duluan” jawabku. Nanti aku menyusul. Kita bertemu di Cengkareng” tambahku.

Ketika tersisa dua orang sebelum meja pemeriksaan terakhir, baru aku sadari bahwa nama yang tertera di Boarding Pass ternyata bukan namaku. Nama akhir sama Tambunan. Bedanya di nama depan, tertulis Junjungan. “Mungkin si mbak salah baca” pikirku dalam hati. Aku sodorkan boarding pass dan KTP. Aku melangkah keluar gedung. Sayangnya tentengam oleh oleh ditahan petugas dengan alasan penumpang penuh. Kata mereka, akan dimasukkan bagasi. Meski berusaha menawar dengan mengatakan akan meletakkannya di bawah kursi, petugas tetap meminta. Akhirnya aku mengalah. Melangkah santai ke tangga pesawat. Terlihat dari bawah sebagian besar kursi telah terisi.

Melangkah masuk pesawat, aku memperhatikan dan menduga posisi kursi 28C sebagaimana tertulis di boarding pass. “Lho! Kenapa sudah terisi?” Batinku. Sesampai di kursi yang dituju aku menunjukkan boarding pas kepada pramugari yang kebetulan menjaga di baris 29. Dan meminta boarding pas penumpang yang duduk di 28C. Sekilas terlihat namanya sama. “Gawat” batinku. Namun tetap tenang. Mbak pramugari membawa boarding pass ku ke depan. Aku mengikuti karena tidak nyaman berada di kursi kosong sebelah 28C sementara ada satu dua orang penumpang yang sedang menuju kursi belakang. Aku menuju pintu masuk di depan. Dekat pintu kokpit. Sambil memperhatikan petugas darat saling berkomunikasi. Seorang pramugari bertanya. Aku menerangkan singkat masalahnya. “Tenang saja pak tunggu di sini” katanya seolah memberi harapan. “Sepanjang aku tidak diminta terbang dengan penerbangan berikut” jawabku getir. Membayangkan semakin malamnya perjalanan pulang.

Kemudian salah seorang petugas darat mendatangiku. Sepertinya masalah selesai. “Silahkan bapak duduk di kursi 8C” kata si petugas. “Heh!?” Akhirnya solusi itu yang dipilih. Akhirnya aku duduk di satu satu satunya kursi kelas bisnis yang tersisa. Sambil kagok ini bagaimana mengoperasikannya? Sudah sepuluh tahun lebih tidak duduk di kelas bisnis. Pertama kalinya ketika almarhum bapak ‘pergi’. Karena mendadak memesan tiket, akhirnya aku membeli kursi penerbangan Garuda yang tersisa.

Minum ditawarkan. Biasanya pakai cangkit plastik, kali ini pakai gelas. Handuk panas ditawarkan. Biasanya pakai tisu basah penyegar. Makanan ringan ditawarkan. Dalam nampan dengan serbet. Biasanyabkotakan. Perasaan kagok semakin menjadi ketika aku tidak bisa melipat meja dengan sempurna. Dua tiga kali mencoba hampir keringat dingin dan malu kepada bapak yang duduk di kursi 8H sebelahku. “Ya…maaf. Saya biasa naik omprengan pak. Itu juga di posisi kasta terendah. Yang ongkosnya lima belas ribu, dan kadang kaki kesemutan karena menahan posisi duduk yang tak nyaman” batinku dalam hati ☺️

Mendadak aku teringat, dua direktur perusahaan yang mengundang untuk acara hari ini duduk di kelas ekonomi 😆

image
Aku sampai bertanya pada seorang teman sambil menunjukkan foto buahnya, untuk meyakinkan nama buah ini apa. Yang selalu terngiang di kepalaku namanya Roppah. Ya! Itulah nama yang selalu aku ingat. Terbawa dari masa kecilku di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo di Sumatera Utara.

Waktu itu di seberang rumah kami ada tetangga yang menanamnya. Karena tumbuhannya menjalar, oleh pemilik dibuatlah beberapa tiang dari bambu untuk tempat pohon buah itu menjalar. Ketika bermain atau mengeringkan benang gelasan diantara tiang bambu itu, kerap aku melihat buah Roppah atau Labu Siam itu berjatuhan di tanah. Selanjutnya buah yang berjatuhan itu akan dikutip oleh pemiliknya untuk kemudian digunakan sebagai makanan ternak. Babi tepatnya. Karena tinggal di kampung, itulah ternak yang diberi makan buah labu itu.

Labu Siam yang aku kenal sejak kecil hanya sebagai makanan babi. Jarang melihatnya digunakan sebagai sayuran. Berbeda dengan kenyataan yang aku temui setelah merantau ke pulau Jawa ini. Oleh penduduk di Jawa, mungkin Jawa Barat lebih tepat, buah yang sama dibuat sebagai lalapan. Memang bukan buah sebagaimana dulu aku lihat ketika kecil. Karena yang dibuat sebagai lalap setelah (boleh juga) direbus terlebih dahulu, masih berukuran kecil kecil. Yang aku cukup ingat pucuk daunnya lah yang pernah aku santap sebagai sayur. Dengan diberi santan, mungkin mirip seperti sayur pakis kalau di Jawa.

Sedang menyantap makanan ternak babilah yang terpikir olehku siang ini. Ketika aku dibekali ‘sayur’ sama dari rumah untuk bekal makan siang 🙈

Aku lupa persisnya kapan mulai menyukainya. Yang aku tahu, aku suka minum karena dulu bapak juga peminumnya. Kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang. Yang aku maksud, minum kopi.

Kurang pas rasanya jika memulai hari tanpa terlebih dahulu meminum kopi. Mungkin memang salah. Karena seringkali aku mendahulukan kopi daripada meminum air putih. Mungkin sehari bisa sampai lebih dari tiga cangkir. Dimulai pagi hari, siang dan malam.

Malam juga? Iya! Dan kebiasaan itu entah kenapa tidak memengaruhi jadwal tidurku. Meski malam hari meminum kopi, tidak serta merta membuatku kesulitan tidur. Ketika kantuk datang, aku tertidur kurang dari pukul 12 malam yang mungkin jadi batas waktu sebelum disebut begadang. Padahal yang aku suka minum, mungkin dikateorikan jenis konvensional. Kopi tanpa campuran krim atau susu. Kopi tubruk. Dengan bubuk.

Hal menarik lain, karena aku memulai minum kopi sejak tinggal di Medan, aku lebih memilih untuk minum kopi yang berasal dari sana. Entah apakah kopi yang kuminum adalah jenis kopi Sidikalang yang terkenal itu. Meski pada kemasannya disebutkan demikian, aku tak terlalu peduli. Buatku, rasa pahitnya pas. Ya, karena aku tak terlalu suka kopi yang gulanya terlalu banyak.

Kesukaan itu memaksaku untuk menyediakan kopi yang dikirim dari Medan. Meski mungkin harganya tak semahal kopi kemasan pabrik besar, buatku tak menjadi masalah. Karena yang penting rasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan kopi yang dijual kedai kopi terkenal, sepanjang aku masih bisa menyeduh bubuk kopi yang kudatangkan dari Medan, aku lebih memilih kopiku sendiri.

Mungkin untuk keadaan darurat bolehlah. Ketika aku tidak memiliki akses pada bubuk kopiku. Atau ketika sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sementara keinginan untuk minum kopi begitu besarnya, aku pasrah pada kopi yang dijual di kedai kopi itu. Atau minum kopi yang tersedia di hotel tempat menginap. Atau membeli kopi kemasan. Dan selalu, sedapat mungkin dalam bentuk kopi hitam. Tanpa krim tanpa susu.

Konon katanya, suhu air dalam menyeduh kopi, cukup 78 derajat celcius. Entahlah. Buatku tak terlalu penting. Ketika air mendidih, hal itu sudah cukup untuk menyeduh bubuk kopi. Dan dengan kondisi demikian, bubuk kopi yang berwarna hitam, akan menghasilkan cairan kopi berwarna cokelat karena buih. Ditambah aroma yang menggoda.

Ada satu cara membuat minuman kopi yang aku ketahui dari ibuku. Cara yang sama ternyata digunakan di kedai kopi dimana minum kopi menjadi kebiasaan dan ajang pergaulan. Seperti di kota Medan, Pematang Siantar dan terakhir aku ketahui di kota Bangka. Mungkin juga kota lain. Aku tak punya cukup bukti untuk mengatakannya. Caranya adalah, bubuk kopi dimasukkan dalam air putih yang mentah untuk kemudian dimasak sampai mendidih. Jadi mungkin kurang tepat jika disebut menyeduh kopi. Karena matangnya bersamaan.

Satu lagi yang unik yang dulu sering aku praktekkan, sekarang tidak pernah lagi. Aku melakukannya karena pernah membaca dalam satu artikel singkat. Semacam tips. Menurut artikel itu, flu dapat diatasi dengan meminum kopi yang diberi es. Aneh? Entahlah. Ketika masih sekolah menengah hal ini sering aku praktekkan. Lumayan ampuh. Silahkan kalau mau dicoba.

@goklastambunan
https://www.facebook.com/goklas.tambunan

Mengkel Nama Ahu – Tongam Sirait ft. Viky Sianipar

Jumpang ari, jumpang bulan
Jumpang nang taon muse
Ari-ari tapasuda,
So adong namoru hape

Nunga lam suda ari-arikku
Nunga lam loja mamingkiri
So adong namuba dope

**
Hape umur nunga lam matua so tarulahan
Hape daging pe nunga lam loja so tarambatan
So adong nahudapot dope
Mengkel nama au..unang holsoan au
Mengkel nama au ..unang marsak au
Iee..iee..

Nunga lam suda ari-arikku
Nunga lam loja mamingkiri
So adong namuba dope

Horas..Horas..
Horas…Horas..
Asal ma sai Horas..

Ada umpasa (pepatah) Batak yang bilang, “ndang tartangishon, tumagonan ma tinortorhon“. Artinya kurang lebih, “(apa yang sudah berlalu) tak bisa disesali, lebih baik dibawa gembira”

Mungkin itu yang hendak disampaikan lagu Tongam Sirait (featuring Viky Sianipar) dalam lagu di atas. Mengkel nama Ahu atau Ketawa Sajalah. Yang sudah berlalu takkan kembali. Bagaimana ke depan saja. Mari hadapi dengan sukacita. Berikut terjemahan bebasnya. tentu saja ala Amani Dimpos
—————
Hari berganti, bulan pun demikian
Tahun berganti lagi.
Kita habiskan hari
tiada yang berkurang ternyata

hari hariku semakin menipis
semakin lelah memikirkannya
tiada yang berubah

**
Padahal umur semakin menua
Takkan terulang
Padahal tubuh semakin lelah
Tak bisa ditahan
Belum ada yang kudapat
ku hanya tertawa..biar tak menyesal
Ku hanya tertawa..biar tak bersedih

hari hariku semakin menipis
semakin lelah memikirkannya
tiada yang berubah