Boleh dianggap sebuah pembenaran,boleh tidak. Tapi sejak maraknya jejaring sosial bernama twitter,buatku waktu untuk membaca buku semakin berkurang. Rasanya, membaca tulisan para pekicau itu lebih seru daripada membaca buku.

Pertama,temanya lebih beragam. Kedua, penggunaan karakter yang hanya 140 dalam sekali kirim membuat membacanya lebih cepat. Kecuali akun yang suka memberi (apa yang akhirnya disebut) kultwit. Kuliah melalui twitter. Tanpa perlu menyandang gelar akademisi. Berikutnya, membaca melalui twitter, memungkinkan mendapat berita yang paling mutakhir. Apa saja yang terjadi di belahan dunia sebelah sana, langsung diketahui saat ini juga.

Melalui akun twitter jugalah, aku mendapat informasi bahwa seorang penulis dari masa puluhan tahun lalu menerbitkan buku. Agak lebay? Yeah,setidaknya aku mengenal dia melalui tulisan tulisannya ketika masih sekolah dulu. Mungkin sedikit bersamaan eranya dengan Hilman (Lupus) atau Gola Gong (Si Roy). Zara Zettira ZR,namanya.

Melalui akun twitternya,Zara menginformasikan akan menerbitkan sebuah buku. Buku tersebut sudah dapat dipesan lebih dahulu dan akan tiba pada pertengahan November katanya. Pemesan awal akan mendapat buku dengan tanda tangan penulisnya,janjinya pula. Aku tertarik. Aku ikuti prosedur pemesanan yang disyaratkan. Kurang lebih akhir November, bukunya pun tiba.

Pada pengantar, Zara kurang lebih mengatakan bahwa buku (novel) Loe Gue End! (LGE!) merupakan karyanya bersama Alana. Konon Alana adalah seorang pengunjung blognya, yang rutin mengirim puluhan email yang bercerita tentang dirinya (Alana). Artinya, kisah dalam novel ini merupakan kisah nyata. Puluhan email tersebut sempat terbengkalai dan tidak direspon sehingga akhirnya membuat Alana marah dan mengirim email ‘penutup’ yang mengungkap kekesalannya karena tidak direspon. Pada akhir emailnya,Alana bilang kepada Zara,”Loe Gue End!”. Kalimat yang akhirnya dipilih menjadi judul novelnya.

Aku tidak terlalu mengetahui sampai sejauh mana keterlibatan Zara dalam novel ini. Apakah sekadar mengedit puluhan email dari Alana, yang berarti Zara bertindak sebagai editor. Atau membuat puluhan email itu sebagai inspirasi novelnya, yang berarti Zara sebagai penulis novel LGE! ini.

Kalau penerbitan, berdasar informasi dari novel, LGE! merupakan novel pertama Zara yang diterbitkan sendiri. Terus terang aku gak terlalu mengikuti perjalanan penerbitan buku Zara. Yang aku tahu, bukunya dahulu diterbitkan penerbit besar dari kawasan Palmerah.

Kembali pada masalah penulisan, aku merasa bahwa apa yang terjadi pada novel ini adalah, Zara hanya sebagai editor. Dia sekadar menyusun ulang atau merekonstruksi puluhan email dari Alana agar layak diterbitkan sebagai sebuah novel. Alasannya adalah, gaya bercerita yang aku temui tidak terlalu nyaman untuk dibaca. Tidak membuat penasaran untuk membaca lanjutannya.

Karena, kembali seperti apa yang aku sampaikan di awal, kegiatan membacaku diselingi oleh kegiatan membaca kicauan di jejaring sosial twitter. Sampai buku tersebut aku miliki beberapa minggu, aku belum tuntas sepenuhnya membacanya. Padahal, tema yang diangkat boleh dibilang termasuk ‘berat’. Selain bercerita soal kisah nyata (meski pelaku disebut anonim) novel ini bercerita mengenai dunia astral. Yang kalau (sekali lagi menurutku) tidak dikemas dengan baik dalam penuturannya, membuat pembaca bingung. Semoga aku salah. Dan semoga tidak terlalu cepat ‘menuduh’, karena aku memberi komentar seperti ini, saat aku belum tuntas membaca novelnya.

Oh iya, selain gaya penulisan, menurutku ada pemenggalan yang agak aneh. Lupa persisnya pada bab berapa (mungkin bab duapuluhan. Karena aku menulis ini di kantor disela istirahat Jumat, sementara bukunya ada di rumah) ada kalimat yang muncul di awal bab baru, padahal kalimat tersebut merupakan bagian dari bab sebelumnya.

Untuk Zara, tulisan ini untuk menepati janji memberi kesan dan pesan sebagaimana aku sampaikan di twitter beberapa hari lalu. Bagaimanapun aku menunggu kisah berikutnya. Soal pramugari?. Sukses terus ya :-)

Sepanjang yang aku ketahui dalam setiap rumah adat Batak [Toba], selalu terdapat simbol atau lambang seekor hewan yang tidak pernah ketinggalan. Lambang tersebut adalah hewan cicak. Yang dalam budaya Batak disebut “Boraspati”. Boraspati, melambangkan kesuburan. Bukan hanya kesuburan tanah, juga kesuburan penghuni rumah tersebut. Kesuburan berarti kemakmuran. Dan aku rasa itulah yang mendorong leluhurku dulu memajang cicak di rumah mereka. Harapan akan kemakmuran.

Dua minggu terakhir ini, sang boraspati sedang naik daun di ranah internet [facebook/blog?]. Setahuku, pemicunya adalah sebuah posting di politikana yang mengingatkan akan adanya perkataan seorang petinggi kepolisian di sebuah majalah berita ternama. Ucapan tersebut [meski telah dibantah] tidak pelak memicu gelombang dukungan terhadap lembaga yang ditengarai disebut cicak. Bahkan cicak sendiri menjadi akronim yang mendukung adanya lembaga tersebut.

Buatku pribadi, sebenarnya kehadiran lembaga tersebut tidak terlalu diperlukan. Karena sebenarnya fungsinya telah ada di lembaga sebelumnya yang terlebih dahulu ada. Namun karena pada perkembangannya lembaga-lembaga tersebut dianggap tidak bekerja maksimal [termasuk sang buaya sendiri dan ‘kampung maling’ yang pernah dipimpin seorang ustadz] bahkan beberapa oknumnya menjadi ‘santapan’ cicak, ditambah dorongan reformasi, dibentuklah lembaga cicak ini.

Dihubungkan dengan boraspati diawal tulisan ini, aku mendukung gerakan cicak yang akan dideklarasikan besok, 12 Juli 2009. Bukan karena tidak suka dengan buaya. Tapi lebih kepada harapan kepada sang cicak yang bisa member harapan, kembalinya kesuburan dan kemakmuran bangsa ini.

Salam, CICAK

cicak di dinding :
“…cicak kok mau melawan buaya…”
Gerakan Cicak Vs Buaya Ramai di Facebook
KPK Enggan Tanggapi Soal Isu ‘Cicak Vs Buaya’

Satu lagi contoh bahwa, bahkan wartawan media ngetop juga belum mengerti sepenuhnya mengenai Pasar Modal.

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | Transaksi IHSG Cuma Rp 1 Triliun

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Apa yang diperdagangkan di Bursa dan diambil sebagai barometer aktivitas transaksi pasar modal, hingga saat ini barulah efek. Efek bisa berarti saham, right, waran, obligasi dan lainnya. Hingga dengan tulisan ini diposting, di Bursa Efek Indonesia, efek bernama IHSG belum pernah ditransaksikan….

Menurut pemikiranku yang awam dalam hal jurnalistik, penetapan judul dalam sebuah berita setidaknya mencerminkan kandungan dari berita yang ditulis. Sedapat mungkin, dengan membaca judul sebuah berita, pembaca mendapat gambaran akan berita dibawah judul tersebut. Menurutku, tiap-tiap media memiliki prosedur yang hampir sama dalam hal penulisan berita untuk kemudian tayang.

Aku kurang paham, bagaimana alur tayangnya sebuah berita. Tapi mungkin begini : wartawan meliput, kemudian menulis hasil liputannya, diserahkan kepada redaktur untuk dikoreksi, [mungkin] dikoreksi lagi oleh redaktur khusus bahasa, ditata dalam tatanan layak cetak untuk koran atau majalah [atau dalam bentuk lain untuk media lain], baru kemudian dicetak dan dikirim ke pembaca.

Kalau melihat alur ini [meski ini menurut pemikiranku sendiri] kesalahan dapat diminimumkan. Sehingga pada saat media tiba dihadapan pembaca, berita yang dibaca adalah berita yang mencerminkan keadaan sebenarnya yang ingin diwartakan oleh media tersebut.

Soal ini terpikir saat aku membaca Kompas Daring hari ini. Judul yang dipilih, langsung membuatku terkagum-kagum terhadap anggota Brigade Mobil yang bertugas menjadi eksekutor subuh tadi. Bayangkan, Eksekusi Amrozi dkk Menggunakan Satu Peluru. Yang terbayangkan buatku adalah, Amrozi dan kawan-kawan dijejerkan seperti menyusun domino. Saling merapat. Amrozi di depan. Di belakangnya menempel dengan ketat Kawan Amrozi1, disusul Kawan Amrozi2. Masih dengan posisi menempel dengan ketat!.

Setelah itu, ketiganya [yang menempel dengan ketat itu] akan dihadapkan atau membelakangi regu tembak yang sudah disiapkan. Setelah mendapat aba-aba dari komandan regu, DOR ! peluru akan menembus orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Mari berkhayal adegan ini difilimkan. Mungkin sutradara akan menunjukkan sebuah peluru yang melintasi dada ketiganya dalam gerak lambat.

Namun apakah demikian kejadiannya? Setahuku tidak. Karena dari yang pernah aku baca, apa yang terjadi adalah seperti ini. Untuk tiap satu orang terpidana mati yang akan ditembak mati, disediakan satu regu penembak. Kepada masing-masing anggota regu tembak ini, diberi senapan. Dari keseluruhan senapan yang dibagikan kepada regu tembak, hanya satu senapan yang berisikan peluru. Konon, tidak ada seorangpun diantara anggota regu tersebut yang tahu, apakah senapan yang digenggamnya berisikan peluru atau tidak.

Kalau kejadian subuh tadi adalah seperti apa yang aku sampaikan terakhir. Judul berita Kompas Daring ini jelas salah. Karena ternyata ada tiga regu tembak, dengan tiga senapan [masing-masing satu untuk satu regu] yang berisi peluru. Apabila ada tiga senapan berisi peluru, adalah suatu hal yang tidak mungkin bila dikatakan eksekusi Amrozi dkk menggunakan satu peluru.

Dan memang demikianlah adanya. Kandungan dari judul berita tersebut ternyata sebagai berikut, “Regu penembak jitu dari Brimob menembakkan satu peluru untuk masing-masing terpidana mati kasus bom Bali I“. Syukurlah. Ternyata Amrozi dan kawan-kawan tidak dijejerkan untuk kemudian ditembak dengan satu peluru seperti bayanganku di awal tulisan ini.

Mungkin memang tulisan ini tidak melewati alur penulisan berita jaman dulu sebagaimana aku pikirkan diatas, berita ini ditulis. Mungkin, karena bukan tulisan untuk koran atau majalah. Namun untuk media daring. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, mungkin sang wartawan langsung mengirim berita dari tempat kejadian, agar langusung tayang. Bukankah diakhir berita ditulis, “Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network.

Tapi ya sudahlah, ini cuma pikiran orang iseng. Aku tau apabila seorang teman kantor membaca tulisan ini, dia akan komentar, “yang penting esensi beritanya kan bisa ditangkep, bang…” Maup ma hita*

*idiom di daerah Tapanuli. Mungkin dalam bahasa masa kini bisalah disamakan dengan “cape deeeeh……“:-D

Beberapa hari lalu, dipagi hari setelah memarkir motor saat ke kantor, seperti biasa aku memeriksa telepon selularku. Siapa tau ada panggilan tak terjawab, yang luput karena pasti aku tidak mendengar ketika mengendarai motor.

Benar saja. Ada dua pesan muncul di layar. Satu pesan mengatakan ada satu panggilan tak terjawab. Pesan berikutnya, dari fasilitas yang disediakan penyedia jasa telepon selular. Yang memberi kabar bahwa, tadi pukul sekian ada satu panggilan tak terjawab. Tekan sekian sekian jika ingin mendengarkan pesan yang bersangkutan.

Pesan pertama, menyampaikan bahwa ada satu panggilan dari nomor tidak dikenal. Unknown. Bah!!!. Satu hal yang paling mengesalkan buatku untuk urusan telepon seluler. Panggilan dari nomor yang tidak memunculkan nomor apalagi nama pemanggilnya. Beruntung aku menggunakan telepon yang dilengkapi dengan fasilitas untuk langsung menolak panggilan seperti itu. Biasanya, jika ada panggilan seperti itu padaku, tidak akan sempat membunyikan nada dering karena secara otomatis akan ditolak.

Sepanjang hari itu, seingatku ada dua atau tiga panggilan berikutnya yang datang. Dan selalu begitu. Ditolak mentah-mentah oleh telepon pintarku itu. Besoknya kejadian sama masih berulang sebanyak dua kali.

Buatku ini aneh. Asumsiku, panggilan berulang itu masih dari orang yang sama. Juga, mungkin ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan. Kalau itu dari penyedia kartu kredit, yang akhir-akhir ini, dari berbagai perusahaan sedang semangat empat lima menawarkan beragam kemudahan, pasti tidak menggunakan nomor tidak dikenal. Yang aku alami, mereka telemarketing itu menggunakan telepon tetap. Aku menduga, panggilan aneh bin iseng ini berasal dari nomor telepon selular. Dugaan lain yang bisa langsung dieliminasi, panggilan ini berasal dari luar negeri sehingga tidak memunculkan nomor atau nama pemanggil. Dugaan terakhir ini aku dapat setelah bercerita pengalaman ini dengan teman kantor. Aku juga beranggapan, kalau memang ada hal yang penting yang hendak disampaikan, kenapa tidak mencoba menggunakan nomor lain?

Aku tau ada satu provider yang menyediakan fasilitas ini kepada pelanggannya. Yang mengaktifkannya, cukup dengan beberapa kali pencet tombol pada pesawat telepon kita. Aku juga tau, penyedia jasa jaringan lain yang menyediakan fasilitas ini, namun dengan syarat yang lebih ribet. Pengguna harus mengisi formulir dan membayar sejumlah biaya. Untuk kedua penyedia jasa layanan selular ini, aku tidak paham apa tujuan mereka menyediakan fasilitas menyebalkan seperti ini. Dan bukan berarti penyedia jasa layanan selular diluar keduanya tidak menyediakan hal sama.

Soal kenyamanan pengguna telepon selular ini terpikirku malam ini. Saat seorang teman, sampai menulis di situs fesbuk bahwa beliau “hanya akan memilih partai dan presiden yang mau dan mampu melarang perusahaan telekomunikasi mengirim iklan ke ponsel pribadi atau telpon rumah pribadi” Dan di statusnya beliau menulis “perusahaan jasa telekomunikasi stop kirim iklan ke ponsel pribadi dan telepon rumah!”

Terus terang aku berharap beliau menulis sesuatu di blognya yang bisa berakibat seperti bola salju. Sebagaimana aku tau dari situs fesbuk seorang teman yang berakibat dari perusahaan negara yang diulasnya di blog, melakukan perubahan bahkan hingga merasa perlu mengkontak sang teman secara langsung. Saat aku sedang fesbuking pagi ini dia menulis status “kaget, tulisan “Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin” telah menyebar ke banyak milis dan blog, termasuk blogdetik. Iklan pertamina tadi malam juga berubah”

Dan ternyata, harapanku terkabul. Hahahahaha. Temanku yang ‘protes’ itu akhirnya menulis soal ini di blognya. Sekarang, bolehlah aku berharap, efek bola salju berlaku lagi disini. Semoga!

Terus terang aku tidak terlalu paham pengertian dari judul yang aku pilih. Namun dua kata, manfaat dan mudarat lah yang terpikir saat online malam ini. Saat mengunjungi blog beberapa teman dan saat berkunjung ke sebuah portal berita.

Ini soal internet. Seorang ‘teman’ yang kebetulan pendeta, melakukan terobosan dengan mendirikan sebuah serikat yang beliau sebut Sarikat Gadong Manginsir. Yang secara harafiah berarti, serikat ubi jalar. Oleh pak Pendeta, organisasi ini diniatkan untuk menyebar komputer ke kampung halamannya di Tapanuli sana. Niat yang tujuan akhir yang aku tangkap [kurang lebih], bahkan di Tapanuli yang dulu disematkan istilah Peta Kemiskinan, internet bukan barang baru. Sebuah mimpi yang mulia. Bahkan sudah dimulai oleh seorang teman [Tulang tepatnya] melalui Berita dari Balige.

Oleh abang dari pak Pendeta itu, niat mulia adiknya ditulis di blog si abang. Dengan judul Pendeta dan Komputer. Yang menarik dari tulisan si abang, kalau dibaca sepintas, yang kelihatan adalah beliau bercerita soal ‘pendeta biasa’. Pendeta biasa, maksudnya bukan adiknya. Sebuah pertemanan yang manis dari dua orang bersaudara kandung..Hehehehehe..

Dua abang beradik ini, hanya aku kenal lewat fasilitas internet. Belum pernah bertemu sama sekali. Aku kenal dari kenal adiknya terlebih dahulu, di milis sebuah gereja beberapa tahun lalu. Beliau cukup sering posting. Yang terus terang -sangkin panjangnya postingannya- jarang aku baca satu persatu sampai habis. Sesuai misi yang diembannya sebagai seorang gembala, sang adik beberapa kali pindah. Terakhir melayani di Serpong. Setahun terakhir, sang adik ‘melayani’ juga dengan memanfaatkan internet. Beliau membangun rumah sendiri yang diberi tajuk rumametmet yang berarti rumah kecil. Namun tidak seperti namanya, rumah ini tidak bisa dianggap kecil. Belum setahun, total kunjungan kesana sudah 65.000an. Sebuah prestasi yang bukan main-main untuk blog bertema ‘berat’.

Sang abang, aku kenal pertama kali lewat tulisan beberapa paragraf yang buatku tidak asing. Karena terkadang menceritakan suasana di kampung halamannya yang kebetulan juga kampung halamanku. Mulai dari kwetiau polos, kolor bupati, kampung baru atau perguruan Immanuel. Yang buatku sebagai orang Medan, bukanlah hal asing. Pernah aku iseng bertanya pada google, mencari informasi tentang sang Abang. Yang aku dapat, beliau berkegiatan di bidang penerbitan. Aku lupa persisnya, akhirnya aku ‘bertemu’ dengan sang abang yang teranyata telah memiliki blog sendiri. Tulisan-tulisan yang aku rasa tadinya tercecer, telah disatukan disana.

Kedua abang beradik ini, meski usianya jauh diatasku [sang abang bahkan sudah menjadi seorang kakek] menjadi temanku pula di jaringan pertemanan yang konon paling ngetop saat ini.

Bukan hanya abang adik ini yang menjadi temanku di jaringan pertemanan tersebut. Juga seorang musisi yang dulu dikenal menjadi ‘trio dahsyat’ bersama Almarhum Chrisye dan Eros Djarot. Sang musisi, sebelum di jaringan pertemanan yang ngetop itu, lebih dulu menjadi temanku di jaringan pertemanan satunya lagi. Yang sering digunakan orang untuk berbagi musik berformat mp3. Sang musisi, di jaringan satunya sedang menggelorakan apa yang disebut gerakan kepatutan. Intinya [kalau aku tidak salah] adalah soal kembali ke hati nurani. Tapi aku yakin, beliau tidak ada urusan dengan pak Jendral yang sedang mewakafkan sisa usianya untuk bangsa ini.

Selain sang musisi, kemarin aku juga menambahkan seorang seniman [yang ahli menirukan suara mantan Presiden negara ini] dari Jogja sebagai teman di jaringan ngetop itu. Sang seniman sudah mengkonfirmasi permintaan pertemananku. Dan hari ini aku tau mereka berdua saling menulis di dinding masing-masing. Sang seniman bahkan iseng bilang, adalah lucu dua orang manula ‘bermain’ jaringan ngetop itu.

Mengalami apa yang aku ceritakan itu, aku tidak heran saat sebuah portal berita menulis tentang Popularitas Situs Porno Tergeser Situs Jejaring. Sekaligus tidak habis pikir kenapa ada kebijakan pembatasan internet di beberapa instansi [ppssst..soal yang terakhir ini, mungkin 'titipan' atau simpati kepada seorang teman dekatku :-) ]. Karena ternyata internet bisa bermanfaat juga.

Sejatinya toko daring, ditujukan untuk mempermudah transaksi. Yang paling terasa bedanya adalah, Mudah dalam hal memesan, sebab tidak perlu datang ke toko yang sebenarnya untuk membeli. Tinggal klik beberapa kali, barang yang dipesan tinggal kita tunggu kedatangannya. Harusnya, proses yang terjadi di sisi toko bukunya juga demikian adanya. Sebab, ketika pembeli telah menyelesaikan pesanannya, pihak penjual telah mendapat data lengkap mengenai pemesanan, hingga kepada alamat pengiriman. Namun kenyataan yang aku alami, tidaklah demikian.

Hari Rabu kemarin, aku memesan tiga buah buku dari inibuku dot com. Sebagaimana biasa, aku mengisi data yang diminta, termasuk alamat email dan nomor telepon genggam. Entah kenapa, respon yang aku terima baru pada keesokan harinya. Kamis 4 September 2008.

From: inibuku@gmail.com [mailto:inibuku@gmail.com]
Sent: Thursday, September 04, 2008 9:20 AM
To: Goklas Tambunan; inibuku@gmail.com
Subject: inibuku – konfirmasi penerimaan pesanan

Bapak/Ibu Goklas Tambunan Yth,
Terima kasih, kami telah menerima pesanan Anda dengan rincian sebagai berikut:
———————————————
1. Shit Happens : Christian Simamora : 1 expl
2. The Last Lecture : Randy Pausch : 1 expl
3. Parlemen Undercover : Abu Semar : 1 expl
———————————————

Pesanan Anda dikirimkan kepada : Goklas Tambunan

PT Bursa Efek Indonesia, Gedung BEI Lt.4
Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53
Jakarta
Jakarta 12190
Tel. 68634315
Cel.
Apabila terdapat informasi yang tidak sesuai kami persilakan untuk menghubungi kami, dengan mereply email ini.
Demikian kami sampaikan.
Terima kasih dan salam

www.inibuku.com
Tel. +6221-4212057 & +6221-4229857

Sampai disini, tidak ada masalah. Mungkin karena aku melakukan pemesanan sore hari, mereka baru merespon pada pagi hari. Meski tidak teralalu sejalan dengan semangat toko buku mereka yang duapuluh empat jam. Menerima email konfirmasi tersebut, serta berkaca pada pengalaman sebelumnya, aku yakin pengiriman buku tidak akan dilakukan pada hari Kamis, saat email telah dikirimkan. Mungkin Jumat besok, batinku. Okelah. Gak terlalu jelek.

Jumat, 5 September sekitar pukul 10.30, pihak inibuku menelpon. Memberitahu aku, kalau buku “Shit Happens” yang aku pesan sedang tidak ada. Sebagaimana beberapa bulan yang lalu, pada saat aku pesan buku yang sama. Aku bilang, gak apa. Kirimin yang dua lainnya saja. Dijawab sama inibuku, wah kurir kita keburu jalan tadi pagi, Pak. Mungkin, Senin baru bisa kita kirim. Yang langsung terpikir buatku adalah, judul buku yang tidak ada itu. Shit Happens ! Butuh selama itukah untuk memesan hanya tiga buku ?. Kalau memang mereka serius mau berjualan, mestinya sebelum kurirnya jalan mereka sudah memberi kabar mengenai pesananku yang kurang lengkap. Dengan demikian aku bisa mendapat buku yang aku pesan, meski kurang. Tapi, kalau untuk tiga buku saja aku harus menunggu selama itu, mungkin lebih baik beli di toko buku biasa saja. Tidak perlu ke toko buku daring seperti inibuku itu.


Aku lupa persisnya kapan bermula, namun akhir-akhir ini media [infotainment] sedang ramai memberitakan berita perpisahan antara Marcell dan Dewi Lestari. Dua orang yang kebetulan dikenal publik. Marcell adalah penyanyi [sebelumnya pemain drum sebuah group band Indie] yang pertama kali dikenal karena duetnya dengan Shanty. Dewi Lestari, pertama kali dikenal, juga seorang penyanyi dalam kelompok Rida Sita Dewi. Terakhir dikenal sebagai penulis novel dengan Supernova sebagai karya perdana dan langsung menjadi pembicaraan orang.

Aku sedang tidak membahas perpisahan mereka, dan kenapa akhirnya keputusan itu harus diambil. Yang menurutku menarik adalah, di jaman infotainment sedang merajalela di negara ini, Dee [demikian Dewi kerap disapa] memilih jalur blog untuk menyampaikan ‘hak jawab’ nya atas apa yang terjadi. Sebagai seorang penulis, Dee tidak mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan yang menurutku sangat gamblang. Meski beberapa bagian, dapat saja memancing kontroversi.

Menarik melihat pilihan Dee untuk memanfaatkan blog sebagai media penyampaian hak jawabnya. Aku pikir, pasti tidak sedikit media yang menawarkan untuk melakukan wawancara eksklusif kepadanya [mungkin juga kepada Marcell] untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Aku gak tau persis juga, apakah hal tersebut [wawancara deengan media infotainment] telah pernah dilakukan atau akan dilakukan kelak.

Menurutku, menjawab melalui media blog merupakan pilihan paling masuk akal ditengah menjamurnya infotainment yang kadang kehabisan ide untuk pemberitaannya. aku kaatakan kehabisan ide, karena setahuku infotainment diniatkan untuk memberitakan apa yang terjadi di dunia hiburan. Informasi dari dunia entertainment [disingkat dengan seenaknya menjadi infotainment :-D ]. Bagaimana tidak kehabisan ide, infotainment juga memberitakan mengenai meninggalnya [tanpa mengurangi rasa duka dan hormatku pada] Pungkas Tri Baruna, setelah mengibarkan Merah Putih di puncak Mc Kinley pegunungan Alaska, Amerika Utara, memberitakan mengenai Tante Ayin yang ternyata memiliki niat mulia menjadi seorang ‘ibu guru‘, atau Al Amin yang bilang kalau cewek berbaju putih itu tidak bagus. Dengan situasi seperti itu, menjawab melalui blog adalah pilihan paling netral buatku.

Selengkapnya hak Jawab Dewi Lestari

Dewan Perwaklilan Rakyat telah mensahkan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik [UU ITE]. Apabila telah diundangkan kelak, sepertinya ini merupakan Undang Undang dunia maya (cyber Law) pertama yang dimiliki negara ini. Belum diundangkan, peraturan ini telah menuai kehebohan. Pasalnya, situs Departemen Komunikasi dan Informasi dan situs Partai Golongan Karya, sempat ‘dikerjai’. Dan media, seperti biasa bertanya pada narasumber yang terpercaya. Seorang selebriti yang senang disebut pakar multimedia. Komentarnya menyinggung soal blogger [juga hacker]. Entah kalau dia ngerti perbedaan hacker atau cracker. Seperti biasa, segala sesuatu yang keluar dari mulutnya memancing reaksi dari blogger. Muncullah kosa kata baru di blogsphere. ‘Tunggu Aksi Saya’ menemani 68% yang pernah dia gunakan dulu, untuk menyebut jumlah blogger dan pemilik akun friendster yang tidak benar.

Urusan dialah itu. Mudah-mudahan satu saat apa yang dia sampaikan benar adanya. Sebab dengan demikian, gelar pakar yang disandangnya tidak sia-sia.

Salah satu yang menarik dari UU ITE ini, konon katanya adalah upaya pemerintah untuk memblokir situs situs porno. Kalau ini benar adanya, menurutku sesuatu yang sia-sia. Sebagaimana selalu aku tulis di blog ini, pemerintah yang didukung oleh anggota Dewan yang terhormat, terlalu sering mengurusi persoalan remeh temeh. Ya, menurutku soal situs porno adalah soal kecil. Masih banyak persoalan besar yang luput dari perhatian, da belum terselesakan. Ratusan Triliun uang BLBI, harga sembako yang tidak terkendali yang bahkan membuat beberapa orang nekat membunuh, lumpur Lapindo yang merampas rumah tinggal ribuan orang adalah beberapa diantaranya.

Entah apa urgensnya sehingga negara merasa perlu mengurusi soal porno ini. Dan hal ini semakin lucu saat dalam acara resmi sebuah departemen, Ayu Azhari tampil dengan pakaian yang mempertontonkan secara samar [maaf] puting susunya. Bandingkan dengan kejadian dulu saat Band Ungu tidak bisa tampil di istana hanya karena mereka menggunakan jins.

Jadi, marilah kita menikmati suasana hidup di negara porno. Sambil menunggu peraturan [baca Undang Undang] soal porno ini disahkan.

Kalau aku punya Eee PC, yang pertama aku lakukan adalah mempelajari sistem operasinya. Karena dari yang aku tahu, laptop murah ini tidak menggunakan sistem operasi buatan Microsoft yang sudah terbiasa aku [dan sebagaian orang Indonesia] gunakan. Setelah itu, aku akan mencari program-program tambahan yang cocok dengan sistem operasi yang ada yang memungkinkan aku dapat tersambung ke internet.

Setelah aku terbiasa dengan program-programnya dan aku bisa mengakses internet dari Eee PC yang aku punyai, pelan-pelan aku akan lebih fokus pada fungsi communicator pada perangkat telepon yang selama ini aku gunakan. Karena sekarang aku memiliki Eee PC yang sudah dapat menggantikan, fungsinya yang selama ini aku gunakan untuk menulis beberapa postinganku ke blog.

Setelah itu, karena ukurannya yang lumayan ramping, akan lebih mudah buatku untuk membawanya setiap hari dalam ranselku. Tentu saja untuk beberapa aktivitas kecil yang membutuhkan komputer, aku bisa memanfaatkan Eee PC-ku ini. Namun diluar itu, tentu saja aku masih menggunakan komputer pribadi yang ada di kantor, atau yang di rumah. Tapi mungkin bukan dengan alasan itu saja. Karena kalau tulisan terpilih dalam kompetisi, dalam rangka menyambut peluncuran Eee PC, mungkin aku termasuk diantara sedikit orang Indonesia pertama yang menenteng laptop ini :-D .