balintang

Kotamadya Bekasi sedang persiapan menghadapi pemilihan Walikota dan Wakilnya. Walikota sekarang, yang meneruskan jabatan pejabat sebelumnya yang tersangkut kasus korupsi, akan bertarung lagi. Berpasangan dengan rivalnya pada pemilihan untuk periode sekarang ini. Pepen (sapaan sang calon Walikota) berpasangan dengan Ahmad Saikhu. Dan mereka memilih PAS sebagai tagline.

Pendukung pasangan yang mendapat nomor urut 4 menggunakan media serupa tabloid untuk kampanye. Media itu, diberi judul Kabar4, sesuai dengan nomor urut pasangan. Media itulah yang mampir di teras rumah minggu kemarin. Jika melihat isi tabloid tersebut, ternyata tidak sepenuhnya sama dengan judulnya. Karena ternyata hanya berisi profil sang wakil. Mulai dari profil umum (seperti tanggal lahor, riwayat pendidikan, istri dan enam orang anak,dll), tulisan atau pendapat beberapa orang mengenai sang calon wakil walikota, hingga foto sang calon bersama beberapa komunitas yang ada di Bekasi.

Yang menarik adalah, terdapat tulisan sang calon wakil walikota menghadiri pelantikan Praeses (pada tabloid, disebut Prises) di Bekasi. Praeses merupakan salah satu unsur pimpinan gereja HKBP. Gereja Batak yang konon, paling besar (paling tidak dari jumlah jemaat) di Indonesia. Menurutku, hal ini sengaja ditampilkan, mengingat latar belakang sang calon wakil walikota yang berasal dari partai yang dekat dengan Islam.

Pada halaman yang sama dengan ‘liputan’ mengenai acara HKBP itu, terdapat umpasa (pantun Batak) yang menurutku diartikan dengan sesuka hati. Bahkan (dengan segala hormat) terkesan dipaksakan mendekati situasi sang calon. Pantun tersebut, “Balintang ma pagabe, tumandangkon sitodoan. Arinta ma gabe molo masi paolo-oloan”

Meski berdarah Batak, pengguna aktif Bahasa Batak dan sering mendengar umpasa tersebut, terus terang aku kesulitan menerangkan baris sampiran. Dan lazimnya pantun, pesan yang akan disampaikan lewat umpasa tersebut, terdapat pada kalimat setelah sampiran. Justru disinilah mulai kesalahan penerjemahan muncul.

Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon merupakan tiga “cita-cita” orang Batak. Hamoraon berarti kekayaan, Hasangapon kurang lebih kehormatan. Manakala kata Hagabeon, berasal dari kata dasar ‘gabe’. Mengacu pada “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A.Marbun dan I.M.T.Hutapea, kata gabe berarti : mempunyai banyak keturunan putra dan putri. Masih kamus yang sama menuliskan, “istilah gabe bukan hanya dipakai mengenai manusia melainkan juga mengenai mata pencaharian yang berhasil baik”.

Terus terang, agak sulit buatku untuk mencari padanan yang pas untuk istilah hagabeon. Memang pada masanya dahulu soal keturunan merupakan sebuah ‘syarat’ yang harus dipenuhi sebagai sebuah bentuk ‘kesempurnaan’ di keluarga Batak. Dan atas dasar itulah (untuk sementata) aku merasa lebih pas untuk menggunakan istilah diberkati untuk kata gabe atau hagabeon.

Menurutku, penerjemahan haruslah per kalimat, dan tidak dipenggal. Sehingga jika aku bisa menerjemahkan kalimat umpasa setelah sampiran akan menjadi “Hari kita akan diberkati, jika saling seia sekata. Bukan malah ajakan untuk memiliki banyak anak, sebagaimana disebutkan pada tabloid itu :-D

Ini cerita dari perjalanan pulang. Dengan VarioBiru, melintas rute seperti biasa. Menjelang perempatan Otista, jalan sedikit tersendat sebelum kolong jalan tol di sekitar Cawang itu. Sudah bisa dipastikan, disebabkan antrian yang naik jalan layang yang mengarah ke tol Cikampek.

Di kolong, terdengar klakson mobil dan motor bersahutan. Seperti biasa mungkin karena semua tidak sabar dan merasa harus berada di depan. Buatku yang mengendarai motor, yang paling terasa mengganggu adalah klakson sebuah sedan putih di sebelah paling kiri jalan. Suara klakson yang cukup besar, karena mungkin pelantam klaksonnya sudah dimodifikasi menjadi yang seperti suara BMW. Entah karena tidak sabar, atau mungkin karena telapak tangannya terlalu gatal sehingga harus digarukkan ke kemudi mobilnya, sedan ini rajin sekali membunyikan klakson. Jalur paling kiri yang dipilihnya.

Aku biarkan dia berada pada jalur paling kiri sampai sebelum jembatan penyeberangan depan gedung BNN. Mungkin dia mau ke arah by pass, pikirku. Aku berada disebelah kanan belakang sedan putih itu. Persis di bawah jembatan penyeberangan supir yg telapak tangannya gatal itu mulai memasang lampu minta jalan ke kanan. Bah! Aku pikir dia mau terus ambil posisi kiri. Ternyata dia sedang teringat dengan profesi lamanya. Entah supir metromini atau angkot, mengambil jalur paling kiri untuk memotong antrian yang menuju halim atau tol Cikampek.

Naluri iseng muncul dalam benakku. Sedan putih tadi aku sejajarkan dengan motorku. Tentu saja tetap dengan jarak cukup aman. Begitu mobilnya dibelokkan ke arah kanan untuk memotong antrian naik, aku bunyikan klakson motorku yang juga sudah dimodifikasi. Entah karena kaget atau karena telapak tangannya kembali gatal, dia membalas klakson. Tidak sampai lima meter aku memepetnya untuk tidak memberi kesempatan memotong antrian. Aku pikir, biar sampai dia kesal. Kalau dia menyenggol atau menabrakku, aku sudah siap memberhentikan motor dan beradu mulut dengannya.

Tenang. Hal itu tidak terjadi. Sepertinya dia cukup sadar dengan ‘teguran’ku atas gaya menyetirnya yang ugal ugalan. Dia memperlambat mobilnya, aku memacu VarioBiru di jalan seharusnya. Belok kiri ke arah by pass untuk kemudian belok kanan setelah gedung WIKA. Minimal dia sudah aku ingatkan. Yeah, entah dia sadar atau masih terbawa naluri nyetir angkot atau metromini, biarlah. Aku juga masih harus menyusur jalan kalimalang menuju rumah.

Namun satu hal yang harusnya disadari, kesemrawutan jalanan di Jakarta, tidak semata disebabkan oleh pengemudi motor seperti dikatakan banyak orang, termasuk pengemudi mobil. Mereka yang terbiasa mengendarai metromini atau angkot, atau mereka yang belum pantas memperoleh Surat Ijin Mengemudi A, juga ambil bagian dalam kesemrawutan jalanan :-p

Mas Ibas akan menikah dengan mbak Aliya. Sebenarnya sebuah peristiwa biasa. Bukankah selayaknya lelaki dewasa,seumuran dia sudah pantas menikah? Jodohnya sudah ada. Ya,mbak Aliya itu. Namun pikiran isengku sedang menganalisa ini menjadi, peristiwa biasa yang bisa berakibat luar biasa. Dasar analisanya adalah konsep Dalihan Na Tolu (DNT) yang sedikit aku pahami.

Terus terang, aku tidak terlalu tahu apakah pak Beye sudah resmi diangkat menjadi warga DNT sewaktu diberi marga ketika mengunjungi proyek pak Tebe kemarin. Jadi analisa ini berangkat dari asumsi bahwa pak Beye sudah merupakan warga DNT yang taat pada hukum DNT. Kalau bahasa Bataknya,”Ruhut Dalihan Na Tolu” (ah…jadi ingat abang satu itu :-p)

Ada tiga hal yang menjadi dasar hukum DNT yang dirangkai menjadi satu kalimat. Somba marhula hula,manat mardongan tubu,elek marboru. Hula hula,Dongan Tubu dan Boru adalah tiga (tolu) unsur dari DNT.

Supaya lebih mudah memahami, salah satu (atau dua) pengertian hula hula adalah keluarga dari istri kita, atau keluarga dari ibu kita. Dongan tubu adalah mereka yang semarga dengan kita, atau serumpun marga dengan kita. Sekadar memberi contoh, untukku Sianipar adalah hula hula, karena aku memperistri wanita bermarga Sianipar. Siahaan juga kusebut hula hula, karena ibuku bermarga Siahaan.

Selanjutnya, masih pada posisiku, semua yang bermarga Tambunan adalah dongan tubuku. Mereka yang bermarga Silalahi, Sihaloho, Sinurat atau Tambun (ingat,bukan Tambunan) juga dongan tubuku. Karena jika ditarik beberapa generasi keatas, kami masih merupakan satu rumpun marga yang disebut Silahisabungan. Unsur ketiga dari DNT, adalah boru. Gampangnya, boru itu kebalikan dari hula hula. Sianipar dan Siahaan akan menganggap aku borunya. Atau agak sedikit rumit, suami dari saudara perempuanku, dalam hal ini marga Sidabutar, merupakan boruku. Sidabutar ini menyapa aku dengan sebutan hula hula.

Sedikit njelimet? Mudah mudahan enggak. Karena aku sudah berusaha menerangkan dengan bahasa yang paling gampang. Tidak rumit jika sudah membuka hati dan menjalaninya ;-)

Elek marboru berarti, sikap ngemong pada boru kita. Manat mardongan tubu kurang lebih berarti bersikap hati hati kepada teman semarga. Sementara somba marhula hula berarti, menaruh hormat pada hula hula. Yang terakhir dikarenakan, posisi sebagai hula hula merupakan ‘posisi tertinggi’ dalam konsep DNT. Namun bukan berarti harga mati. Artinya, Sianipar atau Siahaan tidak serta merta dan selalu berada dalam posisi tertinggi. Benar kalau melihatnya dari sisi aku. Namun kalau melihat dari sisi Sianipar atau Siahaan, selalu ada saat dimana kedua marga hula hulaku ini, berada pada posisi Dongan Tubu atau bahkan Boru (posisi ‘terendah’).

Demikian juga denganku. Bila di keluarga Sianipar atau Siahaan, aku di posisi boru, jika dibandingkan dengan Sidabutar misalnya, aku berada pada posisi ‘tertinggi’ karena aku hula hula dari Sidabutar. Demikian seterusnya. Tentu tidak segampang itu analoginya. Ada ikatan kekerabatan lain yang menyebabkan seseorang berada pada posisi hula hula, dongan tubu, maupun boru.

Kembali pada ‘peristiwa biasa’ di atas, dihubungkan dengan konsep DNT, bila pernikahan itu kelak terlaksana, maka posisi mas Ibas (juga papanya,pak Beye itu) akan menjadi boru di keluarga pak Rajasa. Sementara posisi pak Rajasa akan menjadi hula hula di keluarga pak Beye. Mirip dengan posisi pak Pohan di keluarga pak Beye. Pak Pohan sebagai hula hulanya. Karena mas Agus menikahi puteri pak Pohan, mbak Anissa yang cantik itu ;-) .

Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kelak pernikahan ini berlangsung, keluarga pak Beye pasti senantiasa menaruh hormat pada pak Rajasa. Bisa jadi, pak Beye akan selalu menyokong kegiatan pak Rajasa. Lihatlah perbedaannya. Dalam pemerintahan, pak Rajasa adalah pembantu pak Beye. Kalau mengambil analogi DNT, dalam struktur kabinet, pak Rajasa adalah boru pak Beye. Sementara pak Beye adalah hula hula dari pak Rajasa.

Hal itu terbalik bila dilihat pada tatanan berkeluarga dalam konsep DNT. Pak Beye menjadi boru, pak Rajasa menjadi hula hula. Apakah bila sudah tak menjabat kelak, pak Beye sebagai boru akan tetap menyokong pak Rajasa, sebagaimana yang digunjingkan selama ini? Biarlah pak Beye,pak Rajasa atau mas Ibas yang menjawab.

Pengurus Partai Peringkat Atas, “Kami bersyukur diberi kepercayaan oleh masyarakat
Pengurus Partai Dibawah Peringkat Atas, “Siapkan materi gugatan, kita telah dicurangi
Pengurus Partai Yang Kadung Koalisi dan Doyan Koalisi, “Cari itu Pimpinan Golput, kita mesti ajak koalisi
Pengurus Partai Pendukung Syarat 20% Pencalonan Presiden, “Kayanya 20% musti diturunkan lagi neeeh…
Pengurus Partai Kutu Loncat, “Kayanya musti pindah ke partai itu tuh
Pengurus Partai Tidak Lolos Ambang Batas, “Nama apa ya yang cocok buat partai kita di Pemilu 2014?
Caleg Ngutang, “Kalo ada yang cari saya, bilang sedang keluar kota ya

Membaca dan berdiskusi pada status teman di facebook, membaca bahwa majelis ulama memberi fatwa haram untuk mereka yang memilih untuk tidak memilih pada Pemilihan Umum [Pemilu], membuat aku berpikir.

Berpikir bahwa sebenarnya banyak yang mau ikut Pemilu. Masalahnya belum ada pilihan yang dianggap layak untuk dipilih. Berpikir bahwa ternyata label Haram bisa dilekatkan pada sesuatu yang tidak nyata atau tidak terlihat, atau untuk tidak melakukan sesuatu.

Karena aku termasuk kelompok yang belum bisa menentukan pilihan, maka aku pikir aku harus membuat semacam daftar yang harus dipenuhi oleh siapapun yang akan aku pilih kelak di Pemilu.

Daftar dari apa yang aku harapkan bisa diberikan oleh seorang calon anggota Badan Legislatif [calon] yang akan aku pilih pada Pemilihan Umum [Pemilu] nanti. Daftar mana yang kalau ada yang bisa memenuhinya akan aku pertimbangkan untuk mencontreng namanya pada kertas suara kelak. Kalau tidak ada yang bisa memenuhinya, mungkin memang lebih baik memanfaatkan hari libur Pemilunya saja untuk nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah.

Sang calon, paling lama seminggu sebelum Pemilu harus mengumumkan daftar ini. Caranya, silahkan dipilih. Melalui koran berperedaran nasional, diselipkan diantara siaran sinetron yang memiliki rating paling tinggi saat ini, reality show paling digemari saat ini, atau melalui media lain yang dalam sekali tayang disaksikan sekaligus oleh jutaan orang. Syarat pengumuman ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari syarat yang aku tuntut. Jadi kalau daftarnya dibuat, terus kemudian hanya untuk konsumsi beberapa gelintir orang saja, aku lebih memilih untuk nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah.

Calon harus mengumumkan :
Target Pekerjaan Seratus Hari
Pengumuman harus mencakup apa yang akan dikerjakan selama seratus hari pertama si calon, bila telah menjadi anggota Badan Legislatif [Baleg]. Tentu saja, pekerjaan yang diumumkan harus bisa terukur. Pekerjaan tidak termasuk, pindah ke rumah dinas, menjahit jas dan/atau safari baru, mencari mobil dinas baru, apalagi membeli mesin cuci baru. Meski terukur, pekerjaan pekerjaan tersebut hanya berakibat pada si calon dan keluarganya. Bukan pada pemilihnya.

Nilai Kekayaan
Yang harus diumumkan adalah berapa kekayaannya sekarang saat belum terpilih, serta kekayaannya kelak setelah berakhir masa jabatannya. Tidak peduli, masa jabatannya berakhir setelah lima tahun, atau kurang dari lima tahun karena dipecat dari keanggotaan Baleg. Idealnya, pengumuman ‘kekayaan kelak’ dilakukan setelah yang bersangkutan tidak menjabat lagi. Namun bila ada yang bisa melakukannya seminggu sebelum Pemilu, tentu akan lebih bagus buat calon pemilih untuk menilai kinerja si calon. Minimal kinerja dalam mengumpulkan kekayaan.

Berbadan Sehat
Berbadan sehat bisa dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter atau rumah sakit yang biasa menjadi rujukan pemerintah. Berbadan sehat juga termasuk terbiasa hidup sehat. Terbiasa hidup sehat, bisa dengan tidur teratur misalnya. Jangan sampai, bila telah terpilih nanti, ruang sidang dipakai buat tidur. Atau juga sebaliknya, kamar tidur dipakai untuk rapat. Rapat dengan wanita lain yang bukan istrinya,misalnya.

Berbadan sehat juga termasuk pada apakah si calon memiliki ilmu olah kanuragan. Ini penting, agar petugas keamanan bisa mengantisipasi apabila saat sedang sidang, ada anggota Baleg yang mendadak mendatangi meja pimpinan lalu main jotos seenaknya kepada pimpinan sidang.

Berbadan sehat juga termasuk tidak ada kecenderungan jiwanya terganggu bila kelak tidak terpilih. Cukuplah sekali mengetahui ada calon pemimpin daerah yang berlari telanjang karena gagal dalam pilkada. Tentu saja kita tidak mau melihat ada ribuan orang yang melakukan aksi yang sama. Bisa masuk buku rekor dunia, negara ini.

Tidak Paham Teknologi
Secara tidak langsung masih terkait dengan alih fungsi kamar tidur sebagaimana disebutkan pada poin sebelumnya. Bukan apa-apa, capek-capek nyari gambar adegan mesum anggota Baleg, eh malah cuman setengah badan. Itupun masih dibantah dengan mengatakan bahwa saat itu difoto di kolam renang. Atau jangan sampai, niatnya bikin kenang-kenangan saat sedang bersama ‘artis’, malah mempertontonkan aurat yang ‘ukurannya gak seberapa’. Jadi lebih baik kalau mau menjadi anggota Baleg, gak perlu henpon berkamera atau memiliki kamera digital. Dengan demikian tidak banyak pemilih yang dikecewakan.

Memiliki Pengalaman Berorganisasi
Tujuannya adalah agar sang anggota, pada saat mengikuti sidang dan ditayangkan oleh televisi, beliau dapat berbahasa dengan baik. Dapat menyampaikan gagasan dengan terstruktur dan rapi. Hal ini penting, agar para pemilih tidak kecewa dan bingung. Apakah dulu memilih untuk anggota Baleg atau memilih untuk menjadi preman pasar.

Selain mengumumkan hal-hal tersebut, aku juga mensyaratkan sang calon anggota Baleg harus menandatangani surat pernyataan. Tidak perlulah diatas kertas bersegel atau bermeterai. Karena toh akan diumumkan sekaligus kepada jutaan orang. Juga, cukup diketik rapi atau tulisan tangan yang bisa dibaca. Pernyataan ini menyangkut :

Bersedia Mundur
Si calon harus bersedia mundur, apabila setelah diadakan evaluasi oleh pemilihnya, entah itu atas kinerja atau hal lain, ternyata sang calon dinilai dianggap tidak mampu oleh setengah plus satu dari suara yang dulu diperoleh si calon untuk lolos ke Senayan. Hal ini penting agar kelak tidak ada dalih, bahwa di negara ini tidak ada budaya mengundurkan diri.

Bersedia Tidak Punya Paspor
Bila saat ini si calon sudah memiliki paspor, silahkan dibatalkan. Bila belum, si calon tidak perlu membuat paspor selama menjadi anggota Baleg. Tujuannya adalah agar kelak,tidak bisa melakukan studi banding keluar negeri. Karena, daripada melakukan studi banding, lebih baik melakukan kunjungan kerja di daerah pemilihannya dan melakukan pertemuan dengan mereka yang telah memilih.

Biasa Makan di Warteg dan Ngopi di Warkop
Dengan demikian, lobi politik tidak harus dilakukan di hotel berbintang atau di cafe ternama. Tujuannya tentu saja agar ada penghematan. Agar gaji sang anggota Baleg, dapat lebih berguna. Berguna buat partai, karena ada setoran khusus buat partai asalnya. Dan tentu saja berguna buat keluarga. Karena dengan jadwal rapat dan materi bahasan yang luar biasa banyak, gaji yang diterima saat ini pastilah tidak cukup. Apalagi bila harus dipotong biaya lobi lobi politik mahal.

Bersedia Melakukan Reboisasi dan Membersihkan Lingkungan
Pernyataan ini penting kepada calon Baleg yang selama kampanye telah melukai pepohonan saat menempel poster atau gambar kampanye di pohon. Menempel stiker di tembok atau tiang listrik atau memasang spanduk besar-besar di persimpangan jalan. Karena setelah kampanye berakhir, maka poster,stiker atau baliho akan segera menjadi sampah.

Sementara itu dulu syarat dari aku. Kalau nanti terpikir yang baru, aku janji akan update. Demikian juga, jika kalian yang membaca punya syarat lain, monggo ditambah. Jadi kalau ada calon yang bisa memenuhi syarat seperti ini, aku akan mempertimbangkan membatalkan nonton tivi kabel, berkebun atau tidur seharian di rumah pada saat Pemilu nanti.

Seperti biasa hari Jumat, setelah menyantap jatah makan siang yang disediakan di kantin oleh perusahaan, aku nongkrong di sebuah kedai kopi yang terletak di lantai satu gedung dimana kantorku berada. Tujuannya, selain untuk bisa merokok sambil menyesap kopi, juga sekadar bersosialisasi dengan kolega sekantor sambil ngomong ngalor ngidul tentang apa saja. Tentu saja diselingi canda dan tawa.

Begitu juga siang ini. Saat pesananku datang, melintas di hadapanku tiga orang pengunjung. Seorang perempuan ditemani dua orang laki laki yang menenteng minuman dari kedai kopi lain. Kedai kopi yang terkenal dengan logo lingkaran hijaunya. Dan sepertinya sudah menjadi lebih dari gaya hidup daripada menjual produk dasarnya. Kenapa aku katakan seperti itu, karena akhir akhir ini sepertinya semakin banyak warga Jakarta, terutama di daerah perkantoran atau kawasan bisnis yang percaya diri kalau berjalan sambil menenteng cangkir kertas berlogo kedai kopi tersebut.

Kenapa aku bilang gaya hidup, begitulah kenyataannya. Orang tidak akan sepercaya diri itu menenteng minuman sambil jalan bila di cangkirnya tidak ada logo lingkaran hijau tersebut. Bahkan apabila cangkirnya terbuat dari bahan bukan kertas, sebagaimana layaknya tempat minum. Mungkin atas nama gaya hidup pulalah kedua lelaki yang melintas barusan masuk kedai kopi ini, bukan menenteng minuman dari kedai kopi yang dimasukinya.

Aku bukan sedang iri atau cemburu dengan mereka yang nyaman masuk kedai kopi ini dengan menenteng produk kedai lain. Jadi bukan karena sirik tanda tak mampu. Ibarat kata anak Medan, ”Berapalah kopi logo hijau itu. Aku bayar pakai selembar foto I Gusti Ngurah Rai, uangku masih ada kembalian” :-) . Dan yang terpenting, buatku belum ada kopi yang bisa mengalahkan nikmatnya kopi dari Simpang Limun di Medan sana dalam hal rasa. Makanya hingga saat sepuluh tahun lebih keberadaanku di ibukota ini, aku masih ‘mengimport’ langsung persediaan dirumah.

Buatku, masalahnya adalah soal etika. Sudah jamak diingatkan oleh pemilik tempat makan atau kedai kopi seperti ini, bahwa pengunjung diharapkan tidak membawa makanan dan/atau minuman dari luar. Sebuah himbauan yang wajar. Pemilik tempat makan atau minum tentu saja ingin penjualannya banyak. Itu sebabnya, mungkin di ruang kedai kopi ini merokok masih diperbolehkan. Sebab, sebagaimana aku dan teman temanku yang biasa ngumpul disini, kesempatan itulah yang kami cari yang tidak didapat oleh dua laki laki tadi apabila mereka belanja dan minum di kedai kopi logo hijau tersebut.

Kalau sudah begini, apa yang terpikir olehku adalah, dua orang laki laki tadi, bisa jadi bukan orang biasa di gedung ini. Mungkin mereka pekerja di perusahaan asing. Atau memiliki pendidikan, jabatan atau penghasilan lumayan tinggi. Meski begitu, mereka telah melupakan etika atas nama gaya hidup.

Menurut pemikiranku yang awam dalam hal jurnalistik, penetapan judul dalam sebuah berita setidaknya mencerminkan kandungan dari berita yang ditulis. Sedapat mungkin, dengan membaca judul sebuah berita, pembaca mendapat gambaran akan berita dibawah judul tersebut. Menurutku, tiap-tiap media memiliki prosedur yang hampir sama dalam hal penulisan berita untuk kemudian tayang.

Aku kurang paham, bagaimana alur tayangnya sebuah berita. Tapi mungkin begini : wartawan meliput, kemudian menulis hasil liputannya, diserahkan kepada redaktur untuk dikoreksi, [mungkin] dikoreksi lagi oleh redaktur khusus bahasa, ditata dalam tatanan layak cetak untuk koran atau majalah [atau dalam bentuk lain untuk media lain], baru kemudian dicetak dan dikirim ke pembaca.

Kalau melihat alur ini [meski ini menurut pemikiranku sendiri] kesalahan dapat diminimumkan. Sehingga pada saat media tiba dihadapan pembaca, berita yang dibaca adalah berita yang mencerminkan keadaan sebenarnya yang ingin diwartakan oleh media tersebut.

Soal ini terpikir saat aku membaca Kompas Daring hari ini. Judul yang dipilih, langsung membuatku terkagum-kagum terhadap anggota Brigade Mobil yang bertugas menjadi eksekutor subuh tadi. Bayangkan, Eksekusi Amrozi dkk Menggunakan Satu Peluru. Yang terbayangkan buatku adalah, Amrozi dan kawan-kawan dijejerkan seperti menyusun domino. Saling merapat. Amrozi di depan. Di belakangnya menempel dengan ketat Kawan Amrozi1, disusul Kawan Amrozi2. Masih dengan posisi menempel dengan ketat!.

Setelah itu, ketiganya [yang menempel dengan ketat itu] akan dihadapkan atau membelakangi regu tembak yang sudah disiapkan. Setelah mendapat aba-aba dari komandan regu, DOR ! peluru akan menembus orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Mari berkhayal adegan ini difilimkan. Mungkin sutradara akan menunjukkan sebuah peluru yang melintasi dada ketiganya dalam gerak lambat.

Namun apakah demikian kejadiannya? Setahuku tidak. Karena dari yang pernah aku baca, apa yang terjadi adalah seperti ini. Untuk tiap satu orang terpidana mati yang akan ditembak mati, disediakan satu regu penembak. Kepada masing-masing anggota regu tembak ini, diberi senapan. Dari keseluruhan senapan yang dibagikan kepada regu tembak, hanya satu senapan yang berisikan peluru. Konon, tidak ada seorangpun diantara anggota regu tersebut yang tahu, apakah senapan yang digenggamnya berisikan peluru atau tidak.

Kalau kejadian subuh tadi adalah seperti apa yang aku sampaikan terakhir. Judul berita Kompas Daring ini jelas salah. Karena ternyata ada tiga regu tembak, dengan tiga senapan [masing-masing satu untuk satu regu] yang berisi peluru. Apabila ada tiga senapan berisi peluru, adalah suatu hal yang tidak mungkin bila dikatakan eksekusi Amrozi dkk menggunakan satu peluru.

Dan memang demikianlah adanya. Kandungan dari judul berita tersebut ternyata sebagai berikut, “Regu penembak jitu dari Brimob menembakkan satu peluru untuk masing-masing terpidana mati kasus bom Bali I“. Syukurlah. Ternyata Amrozi dan kawan-kawan tidak dijejerkan untuk kemudian ditembak dengan satu peluru seperti bayanganku di awal tulisan ini.

Mungkin memang tulisan ini tidak melewati alur penulisan berita jaman dulu sebagaimana aku pikirkan diatas, berita ini ditulis. Mungkin, karena bukan tulisan untuk koran atau majalah. Namun untuk media daring. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, mungkin sang wartawan langsung mengirim berita dari tempat kejadian, agar langusung tayang. Bukankah diakhir berita ditulis, “Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network.

Tapi ya sudahlah, ini cuma pikiran orang iseng. Aku tau apabila seorang teman kantor membaca tulisan ini, dia akan komentar, “yang penting esensi beritanya kan bisa ditangkep, bang…” Maup ma hita*

*idiom di daerah Tapanuli. Mungkin dalam bahasa masa kini bisalah disamakan dengan “cape deeeeh……“:-D

Beberapa hari lalu, dipagi hari setelah memarkir motor saat ke kantor, seperti biasa aku memeriksa telepon selularku. Siapa tau ada panggilan tak terjawab, yang luput karena pasti aku tidak mendengar ketika mengendarai motor.

Benar saja. Ada dua pesan muncul di layar. Satu pesan mengatakan ada satu panggilan tak terjawab. Pesan berikutnya, dari fasilitas yang disediakan penyedia jasa telepon selular. Yang memberi kabar bahwa, tadi pukul sekian ada satu panggilan tak terjawab. Tekan sekian sekian jika ingin mendengarkan pesan yang bersangkutan.

Pesan pertama, menyampaikan bahwa ada satu panggilan dari nomor tidak dikenal. Unknown. Bah!!!. Satu hal yang paling mengesalkan buatku untuk urusan telepon seluler. Panggilan dari nomor yang tidak memunculkan nomor apalagi nama pemanggilnya. Beruntung aku menggunakan telepon yang dilengkapi dengan fasilitas untuk langsung menolak panggilan seperti itu. Biasanya, jika ada panggilan seperti itu padaku, tidak akan sempat membunyikan nada dering karena secara otomatis akan ditolak.

Sepanjang hari itu, seingatku ada dua atau tiga panggilan berikutnya yang datang. Dan selalu begitu. Ditolak mentah-mentah oleh telepon pintarku itu. Besoknya kejadian sama masih berulang sebanyak dua kali.

Buatku ini aneh. Asumsiku, panggilan berulang itu masih dari orang yang sama. Juga, mungkin ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan. Kalau itu dari penyedia kartu kredit, yang akhir-akhir ini, dari berbagai perusahaan sedang semangat empat lima menawarkan beragam kemudahan, pasti tidak menggunakan nomor tidak dikenal. Yang aku alami, mereka telemarketing itu menggunakan telepon tetap. Aku menduga, panggilan aneh bin iseng ini berasal dari nomor telepon selular. Dugaan lain yang bisa langsung dieliminasi, panggilan ini berasal dari luar negeri sehingga tidak memunculkan nomor atau nama pemanggil. Dugaan terakhir ini aku dapat setelah bercerita pengalaman ini dengan teman kantor. Aku juga beranggapan, kalau memang ada hal yang penting yang hendak disampaikan, kenapa tidak mencoba menggunakan nomor lain?

Aku tau ada satu provider yang menyediakan fasilitas ini kepada pelanggannya. Yang mengaktifkannya, cukup dengan beberapa kali pencet tombol pada pesawat telepon kita. Aku juga tau, penyedia jasa jaringan lain yang menyediakan fasilitas ini, namun dengan syarat yang lebih ribet. Pengguna harus mengisi formulir dan membayar sejumlah biaya. Untuk kedua penyedia jasa layanan selular ini, aku tidak paham apa tujuan mereka menyediakan fasilitas menyebalkan seperti ini. Dan bukan berarti penyedia jasa layanan selular diluar keduanya tidak menyediakan hal sama.

Soal kenyamanan pengguna telepon selular ini terpikirku malam ini. Saat seorang teman, sampai menulis di situs fesbuk bahwa beliau “hanya akan memilih partai dan presiden yang mau dan mampu melarang perusahaan telekomunikasi mengirim iklan ke ponsel pribadi atau telpon rumah pribadi” Dan di statusnya beliau menulis “perusahaan jasa telekomunikasi stop kirim iklan ke ponsel pribadi dan telepon rumah!”

Terus terang aku berharap beliau menulis sesuatu di blognya yang bisa berakibat seperti bola salju. Sebagaimana aku tau dari situs fesbuk seorang teman yang berakibat dari perusahaan negara yang diulasnya di blog, melakukan perubahan bahkan hingga merasa perlu mengkontak sang teman secara langsung. Saat aku sedang fesbuking pagi ini dia menulis status “kaget, tulisan “Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin” telah menyebar ke banyak milis dan blog, termasuk blogdetik. Iklan pertamina tadi malam juga berubah”

Dan ternyata, harapanku terkabul. Hahahahaha. Temanku yang ‘protes’ itu akhirnya menulis soal ini di blognya. Sekarang, bolehlah aku berharap, efek bola salju berlaku lagi disini. Semoga!

Selamat ulangtahun, Bapak Presiden.

Selamat ulangtahun juga untuk Partai Bapak. Ku ingat, pemilu 2004 partai Bapak memperoleh cukup banyak suara sebagai partai baru peserta pemilu. Partai yang didirikan pada tanggal yang sama dengan tanggal lahir Bapak [Bapak dilahirkan di 9 September 1949 kan?], yang deklarasinya ditandatangani oleh 99 orang. Melihat angka-angka yang dekat dengan Bapak tersebut, terus terang membuatku berpikir mungkin Bapak ini seorang yang senang dengan hal-hal yang unik. Sehingga sempat terpikirkanku, Bapak belum akan menjadi Presiden di tahun 2004, tapi di tahun 2009 :-) .

Ternyata dugaanku salah. Pilihan rakyat berkata lain. Bapak menjadi Presiden melalui dua putaran pemilu. Aku tidak tau persis apa yang menjadi alasan rakyat memilih Bapak. Mungkin karena rakyat pemilih suka melihat Bapak yang [katanya] ganteng. Atau karena mereka ‘kasihan’ melihat Bapak yang sedang di’dzolimi’ oleh suami Presiden saat itu. Atau, mungkin juga karena suka melihat figur Bapak yang katanya selama aktif di tentara, termasuk figur tentara pemikir. Untuk yang terakhir, aku pikir ada benarnya. Terbukti, beberapa saat menjelang Pemilu, Bapak memperoleh gelar Doktor dari Institut Pertanian Bogor. Sebuah gelar akademis tertinggi. Tapi, apapun alasan mereka memilih Bapak, terus terang aku tidak tau, karena saat itu aku tidak memilih Bapak :-) .

Pak, soal gelar akademis ini terpikir olehku lagi akhir-akhir ini. Seharusnya, seorang Doktor menggunakan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan seperti yang diberitakan selama ini. Beberapa hari lalu mencuat berita mengenai padi Super Toy yang ternyata letoy. Seolah Bapak teledor, melakukan penanaman padi yang belum bersertifikat dari instansi berwenang. Seolah menjadi lanjutan dari ceritera beberapa bulan lalu. Dimana Bapak meresmikan penggunaan energy alternatif yang disebut Blue Energy. Dimana mobil bisa digerakkan oleh energi yang berasal dari air. Sementara belum ada penelitian resmi oleh instansi resmi soal keabsahan Blue Energy ini.

Soal angka sembilan yang unik diatas, terpikir juga buatku saat peringatan ke 63 [jumlah angka ini sembilan lho, pak] kemerdekaan bangsa kita. Karena tepat tanggal 17 Agustus 2008, cucu Bapak lahir. Kemudian juru bicara Istana merasa perlu melakukan klarifikasi bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam pemilihan tanggal kelahiran putri dari mas Agus itu.

Yeah, begitulah Pak. Itu yang terpikir saat hari ini Bapak berulangtahun. Mudah-mudahan pikiranku itu hanya pikiran orang iseng. Karena biar aku tidak memilih Bapak di Pemilu kemarin, bagaimanapun Bapak adalah Presiden ku. Jadi jangan marah, ya Pak. Sekali lagi, aku ucapkan Selamat Ulang Tahun. Panjang usia dan sehat selalu mengantarkan Bangsa ini ke arah yang dicitacitakan.

Aku sedang berkunjung ke facebook saat melihat kotak kecil berisi sebaris kalimat iklan

Metode Alternatif Tanpa Obat, Tanpa Alat! Mengungkap Teknik Pembesar Mr.P 1 s/d 6 cm dan Rahasia Tahan Lama

Kalau mau tau lanjutannya, pengunjung diberitahu alamat situsnya. Silahkan berkunjung ke solusi pria dot net. Entah kenapa aku tidak bisa membuka alamat yang diberi.

Bukan. Aku bukan sedang membahas teknik yang ditawarkan, apalagi mengajak orang untuk bersama-sama menggunakannya. Karena terus terang buatku, iklan semacam itu, dan fenomena si emak yang meninggal beberapa waktu lalu, hanya memanfaatkan obsesi banyak orang [Indonesia ?] terhadap ‘ukuran’. Tanpa peduli pria atau wanita. Aku ingin membahas bahasa iklannya. Mari sama-sama menarik logikanya kata per kata.

Mr.P : Sudah pasti yang sedang dibicarakan adalah alat kelamin pria. Entah siapa yang mulai menggunakan istilah-istilah ini. Tapi terus terang aku mengenal istilah ini di sebuah majalah wanita Mr. Happy untuk milik pria, Ms. Cheerful untuk milik wanita. Di sebuah tabloid aku pernah menemukan padanannya. Mr.P untuk milik pria dan Ms.V untuk kepunyaan wanita.

Pembesar : Mungkin maksudnya adalah memperbesar, dan bukan pembesar sebagaimana kalimat ini “Acara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan dihadiri oleh pembesar negara”. Karena kalau istilah yang terakhir, pikiran orang akan tertuju pada pejabat. Tokoh pemerintahan.

Aku tidak tau apakah yang ditawarkan adalah membesarkan atau memanjangkan. Ingat, kita sedang membahas sesuatu yang sering diasosiasikan besar dan panjang adalah mantab. Atau besar saja atau panjang saja juga mantab :-D .

Kalau yang dimaksud dengan pembesar itu sama dengan memanjangkan mungkin masuk akal apabila onderdil itu bertambah sepanjang 1 s/d 6 cm. Tidak perduli startnya dimulai dari ukuran rata-rata. Atau dari ukuran rata-rata. Yang pasti, dari kalimat itu calon konsumen diajak berpikir, dengan teknik mereka milik anda akan bertambah sepanjang satu hingga enam sentimeter.

Nah, aku tidak berpikir kata pembesar itu berhubungan dengan panjang pendek. Tapi berhubungan dengan besar yang sebenarnya. Kesamping! Aku berpikir, dengan bantuan Metode Alternatif ini, Mr.P akan membesar sebesar satu sentimeter. OK. Karena yang kita bicarakan berbentuk silinder [aku pikir lebih tepat disebut demikian daripada berbentuk batang sebagaimana stensilan itu :-D ], satu sentimeter itu untuk jari-jari [= r bila oleh matematikawan] atau diameter [garis tengah atau D]. Apabila yang dimaksud oleh iklan adalah r, maka penambahan jari-jari satu sentimeter akan lebih banyak dari penambahan diameter satu sentimeter. Karena penambahan jari-jari satu senti, secara langsung akan menambah diameter dua senti !

Silahkan membayangkan sendiri. Aku tak peduli, anda pembaca laki atau perempuan. Untuk pembaca perempuan aku tak peduli apakah sudah menikah. Belum menikah tapi sudah berkenalan dengan Mr.P ;-) . Kalau belum menikah dan belum pernah berkenalan, silahkan ingat kembali pelajaran biologi di Sekolah Menengah. Penambahan besar diameter satu senti sudah cukup membuat Mr.P besar. Artinya jari-jarinya hanya bertambah setengah senti. Apalagi kalau yang bertambah adalah jari-jari satu senti, maka diameter bertambah dua senti. Hmmmm…

Dan mohon diingat bahwa penambahan besar satu sentimeter itu adalah startnya, Pengiklan berani menawarkan penambahan besar hingga enam sentimeter! Mari berharap bahwa apa yang ditawarkannya adalah penambahan diameter, karena dengan demikian jari-jarinya hanya bertambah tiga senti. Biar tidak semakin mengilukan mari berharap bahwa yang ditawarkan adalah Teknin Memperpanjang. Karena apabila yang ditawarkan adalah teknik memperbesar, diameter enam sentimeter itu kurang lebih setara dengan ukuran botol sebuah merek teh yang sudah generik. Dan itu pertambahannya lho !