Mungkin tidak ada korelasi langsung antara bulan Ramadan dengan kemacetan lalu lintas. Tidak serta merta jika bulan Ramadan tiba, lalu lintas akan sepi kemudian jalanan lengang. Toh bulan Ramadan tidak membuat semua aktivitas berhenti. Kantor atau sekolah mungkin libur sehari atau dua, namun tidak libur selama Ramadan. Ada juga beberapa kantor yang menetapkan jam kerja fleksibel selama Ramadan. 

Namun dua minggu ini, masih saja ada yang berusaha menghubungkannya. Ketika dalam dua minggu kerja Ramadan tahun ini, lalu lintas menuju Semanggi macet pada pagi hari. Sebagian menghubungkannya dengan pekerja yang berlomba menggunakan kendaraan pribadi. Mungkin selama ini menggunakan kendaraan umum, akhirnya menggunakan kendaraan pribadi demi mengejar waktu shalat taraweh yang dilaksanakan setiap malam Ramadan. Atau ada yang menghubungkannya dengan jam keberangkatan yang beragam, sebagai akibat dari fleksibelnya waktu kerja.

Mungkin tidak berhubungan langsung dengan hal tersebut, terasa memang dua minggu ini lalu lintas pada pagi hari terasa lebih macet dari biasanya sebelum Ramadan. Entah jika dibandingkan dengan masa jauh sebelum Ramadan tahun ini. Aku tidak memiliki data pembanding lengkap. Untuk lalu lintas dari Cawang menuju Semanggi/Slipi [jalan tol khususnya], aku melihat penyebabnya adalah pintu keluar Tegal Parang yang terletak di depan Medistra/Universitas Paramadina. Karena setelah melintasinya [melewatinya] kendaraan bisa ngebut ke arah Semanggi/Slipi. Mencoba menginventarisir, sepertinya banyak penyebab.

Pertama, Pengendara yang Kurang Tertib
Kurang lebih sebulan terakhir, pintu keluar Pancoran yang terletak di depan kantor pusat Bukopin ditutup karena ada pekerjaan pembangunan flyover Pancoran yang dari arah Cawang. Bisa jadi mereka yang tadinya menggunakan pintu keluar tersebut beralih keluar di Tegal Parang. Ditambah mereka yang biasa keluar Tegal Parang, antrian panjang tidak terhindarkan. Selain itu, kebiasaan pengendara yang tidak tertib turut memperparah kemacetan. Bukan rahasia lagi jika banyak yang menggunakan bahu jalan. Sejak dari Cawang, mungkin hal tersebut sudah dilakukan. Pengguna bahu jalan ini yang akan kaget dengan antrian keluar Tegal Parang. Setelah itu mereka akan berusaha berpindah ke lajur paling kiri yang akan mengagetkan dan memperlambat mereka yang sebelumnya ada di lajur paling kiri. Begitu seterusnya berakibat pada jalur sebelahnya sampai lajur paling kanan.

Kedua, Alur Lalu Lintas yang Semrawut
Bicara mengenai pintu keluar Tegal Parang, sebenarnya ada masalah lagi. Sekitar pintu keluar tersebut merupakan pertemuan dari beberapa arus lalu lintas. Selain kendaraan yang keluar dari tol, jalur tersebut juga digunakan oleh kendaraan yang melintas arteri Gatot Subroto [menuju Kuningan/Semanggi] dan kendaraan yang keluar dari Tendean arah Bank Mega/Mampang. Ditambah lagi jalur busway [plus] yang bersinggungan dengan mereka yang akan menggunakan flyover untuk menuju Semanggi/Slipi. Terbayang betapa runyamnya lalu lintas daerah itu. Pertemuan beragam arus lalu lintas tersebut memperlambat kendaraan yang keluar tol di Tegal Parang. Kondisi ini harus ditambah dengan kondisi sebagaimana penyebab pertama. Runyam!

Ketiga, Pembangunan Jalan Tambal Sulam
Kita sudah mahfum bahwa penataan kota Jakarta terutama jalan raya agak semrawut. Seperti tidak dibangun berdasarkan rencana besar [master plan]. Jalan seolah tumpang tindih. Seperti tambal sulam. Karena ternyata macet, dibangunlah flyover Kuningan dan Pancoran [dari arah Semanggi]. Setelah itu dibangunlah flyover pada lokasi sama dari sisi sebaliknya. Saat ini bahkan ditambah dengan under pass dari Mampang menuju Kuningan. Khusus pembangunan flyover pada dua titik itu [dan beberapa titik lain], kebetulan bersinggungan dengan pintu masuk atau pintu keluar tol. Pintu masuk depan Wisma Dirgantara dan pintu keluar Tegal Parang jika dari Cawang. Sisi sebaliknya, pintu masuk Tebet jika dari arah Semanggi. Pertemuan dua jalur mengakibatkan adanya perlambatan kendaraan yang bertemu. Perlambatan kendaraan mengakibatkan kemacetan di belakangnya. Menurut aku solusi yang bisa dilakukan adalah memperanjang jalur naik atau turun. Agar tidak bertemu langsung dengan arus lalu lintas yang hendak masuk atau keluar tol. Namun solusi ini pasti akan mahal, karena otomatis menambah biaya pembangunan. Atau jika ingin biaya lebih murah, bisa dilakukan dengan memindahkan atau menutup pintu masuk atau keluar tol. Agar persinggungan diminimkan. Solusi murah yang entah kenapa tidak dilakukan. 

Keempat, Kesigapan Petugas
Seperti selang yang dialiri air, jika ujung keluar lebih kecil dibandingkan dengan air yang akan melaluinya, bisa dipastikan selang akan melebar menampung pasokan air. Menggunakan analogi selang, yang bisa dilakukan adalah membuat [beberapa] lubang pada selang untuk membagi arus keluar. Kesigapan petugas untuk melihat ini dan membocorkan selang dibutuhkan. Atau jika tidak mau membocorkan selang, pasokan kendaraan dikecilkan, seperti yang biasa dilakukan oleh petugas di pintu tol Semanggi 1 ke arah Cawang. Yang kerap menutup pintu masuk tol dan mempersilahkan pengendara masuk pada pintu Semanggi 2.

Untuk kasus Semanggi, hal tersebut sebenarnya bagus dilakukan, namun menurutku masih kurang tepat sasaran. Karena terkadang dilakukan tanpa koordinasi. Pintu Semanggi 1 terletak di daerah pertemuan antara tiga arus lalu lintas. Mereka yang datang dari arah Slipi, mereka yang datang dari arah Blok M [setelah naik jembatan Semanggi] dan mereka yang datang dari arah jalan Thamrin. Seandainya saja sejak dari jauh pengendara yang berasal dari Slipi sudah mengetahui bahwa pintu Semanggi 1 ditutup, menurutku antrian panjang tidak akan ada. Namun karena seringkali pemberitahuan penutupan dilakukan dan diketahui setelah berada di dekat pintu tol Semanggi 1, Runyam! Mungkin jika sejak jauh pengendara yang berencana masuk di Semanggi 1 mengetahui mereka tidak diperbolehkan masuk, arus lalu lintas bisa lebih diurai. Kepadatan bisa dicairkan. Karena tahu sejak jauh, pengendara tidak bertumpuk di sisi kanan. Bagus lagi jika mengambil jalur alternatif dan menghindarinya.

Masih di seputar Semanggi, dari arah Cawang terdapat pintu keluar yang difungsikan entah dengan pertimbangan apa. Dulu ketika awal berkantor di SCBD, pintu keluar itu selalu terbuka. Aku bahkan lupa sudah berapa lama pintu keluar itu ditutup [permanen] dan dibuka untuk beberapa waktu saja pada waktu tertentu. Padahal dengan memperbanyak pintu keluar bisa jadi solusi mengurai kemacetan dalam tol. Selain itu juga bisa mencegah kemacetan yang terjadi di depan Mapolda. Dengan ditutupnya pintu keluar depan Ditjen Pajak itu, bis yang berasal dari Cawang terpaksa keluar di depan Mapolda. Jarak antara pintu keluar Semanggi depan Mapolda dengan halte tempat menurunkan penumpang terlalu pendek. Akibatnya bis atau kendaraan yang keluar Semanggi seolah memotong lajur jika harus merapat ke halte Mapolda. Ini mengakibatkan kendaraan yang datang dari arah Cawang menuju Slipi akan tersendat. Dengan dibukanya pintu keluar Pajak itu, sebenarnya kendaraan yang hendak mengambil arah ke SCBD atau ke arah Blok M bisa masuk area SCBD. Hal tersebut mengurai sedikit penumpukan depan Mapolda. Entahlah kenapa hal tersebut tidak dilakukan. Mungkin petugas punya pertimbangan lain yang lebih jitu dibandingkan dengan analisa abal abal penumpang angkutan umum gelap [omprengan] seperti aku ini 😜

Jika kalian membayangkan sosok Kartini sebagaimana keluarga bangsawan Jawa, yang menggunakan kebaya dalam kesehariannya, selalu menunduk bila berbicara dengan lawan bicaranya, menyendok makanan dengan pelan dan mengunyahnya sebanyak 32 kali misalnya. Lupakan! Film ini tidak bercerita mengenai Kartini yang ada dalam bayangan kalian itu. Meskipun benang merah kisah penulis kumpulan surat yang akhirnya diterbitkan dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tersebut masih terlihat dari alur cerita.

Kartini yang putri bangsawan Jepara, Kartini yang terbuka wawasannya melalui membaca, Kartini yang menulis artikel dan mengirimkannya untuk diterbitkan, Kartini yang melakukan korespondensi dengan sahabat pena di Belanda, Kartini yang dipingit kemudian dinikahkan dengan Bupati Rembang. Benang merahnya masih seputar itu. Boleh dikatakan ini adalah tafsir renyah mengenai Kartini. Perempuan bangsawan dari Jepara yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Sepertinya Hanung Bramantyo sang sutradara ingin lebih mendekatkan lagi Kartini kepada generasi era milenial. Penonton (wanita) yang akrab dengan Cinta (peran Dian Sastrowardoyo pada Ada Apa Dengan Cinta) dengan segala kelincahannya, mungkin tidak melihat banyak perbedaan dengan peran Dian pada film ini. Penggambaran yang tidak sepenuhnya salah juga. Karena ternyata sejak kecil, Kartini akrab disapa Trinil (ke·di·di n burung rawa yg jalannya melompat-lompat, ekornya selalu menjungkit-jungkit; terinil, KBBI). 

Dalam Film ini penonton menyaksikan bagaimana Kartini memakan kacang mete dengan melempar (Ya melempar ke mulutnya!). Bahkan kalau tidak salah lihat, menggunakan cincin di telunjuk. Sesuatu yang menurutku, mungkin hal yang tabu dilakukan oleh seorang (putri) bangsawan. Bagaimana Kartini bersama kedua adiknya dengan santai duduk di atas tembok dengan menggunakan tangga. Sepertinya menjadi tempat yang mereka proklamasikan sebagai ‘ruang meeting’ membahas rencana rencana strategis mereka bertiga 😁. Yang menjadi pertanyaan dalam benak, apakah mereka tidak kesakitan? Mengingat sepertinya mereka duduk pada tembok yang atasnya runcing bukan rata (apakah tembok seperti itu telah menjadi trend saat itu? 😬)

Dengan durasi yang terbatas, apa yang digambarkan film ini cukup mewakili apa yang selama ini kita ketahui dari sosok Kartini. Membaca sebagai jendela dunia digambarkan sangat lugas. Bagaimana Kartini ketika membaca sebuah buku milik kakaknya Sosrokartono (diperankan oleh Reza Rahadian. Omong omong, gak sayang tuh hanya muncul dalam beberapa scence? 😬) langsung dihadapkan pada kejadian di balik jendela yang mengadegankan suasana sebuah persidangan. Mendadak muncul sosok wanita Londo dan berdiskusi langsung dengan Kartini. Sebuah langkah unik. Pengadeganan serupa juga dilakukan untuk menggambarkan korespondensinya dengan sahabat pena dari Belanda. Mendadak Kartini berada di sebuah daerah lengkap dengan kincir angin. Pengadeganan serupa juga digunakan untuk sebuah kisah kilas balik. Ketika akhirnya ibunda Kartini (Ngasirah yang diperankan dengan apik oleh Christine Hakim) meminta pengertian Kartini untuk semua yang selama ini ditentangnya. Penggambaran membaca, berkorespondensi dan mendengar kisah lalu digambarkan dengan hadir langsung, bukan lewat narasi.

Kartini bersama adik adiknya juga digambarkan membantu pengrajin ukir untuk kemudian hasil ukirannya dijual ke Belanda. Yang menjadi pertanyaan, dan aku belum menemukan jawabannya, kenapa seolah mengukir wayang menjadi hal tabu dilakukan ya? Karena sang pengukir awalnya menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Trio Daun Semanggi itu. Sebelum akhirnya sabda pandita ratu yang turun. Permintaan Kartini dikuatkan oleh sang ayah, yang akhirnya membuat sang pengrajin bisa menerima pekerjaan tersebut.

Menyaksikan beberapa adegan, melalui dialog yang ada juga membuatku bertanya. Apakah semacam pesan akan apa yang terjadi saat ini? Hal itu misalnya ditunjukkan ketika Kartini berdialog dengan seorang Kyai. Bagaimana sang Kyai menjawab pertanyaan penasaran Kartini. Pak Kyai menjawab kurang lebih,

saat ini lebih banyak orang yang lebih senang membaca kitab dalam bahasa aslinya, tanpa tahu makna sebenarnya

Atau dalam dialog (kalau tidak salah) ayah Kartini dengan beberapa Bupati, terlintas kalimat, “suatu saat, anak tukang kayu akan kepingin menjadi raja!”. Koq ya aku langsung teringat akan sosok pak Joko presiden saat ini 😜.

Film ini juga seolah menutup kisah Kartini dengan happy ending. Karena ketika akhirnya menerima pinangan Bupati Rembang, digambarkan seolah sang Bupati bukan pelaku poligami. Karena dikisahkan bahwa sang Bupati (yang akhirnya menerima syarat yang diajukan Kartini untuk bisa menerima pinangannya) seolah mencari pengganti ibu buat anak anaknya. Karena sang istri berwasiat bahwa kalau bisa, sosok seperti Kartini lah yang bisa menggantikan perannya sebagai ibu dari anak anak sang Bupati. Padahal dalam kenyataan sebenarnya, sang Bupati memiliki istri lebih dari satu 😔. 

Oh iya, ada hal yang menarik dalam adegan lamaran itu. Sebagian penonton terdengar cekikikan ketika sosok sang Bupati Rembang muncul dalam adegan. Sepertinya mereka belum bisa lepas dari ingatan akan peran Dwi Sasono (pemeran sang Bupati) yang lucu, lugu dan ngeselin dalam komedi situasi Tetangga Masa Gitu 😀. Selain itu juga ‘ketimpangan’ usia antara para pemeran.  Dedy Soetomo atau Rudy Wowor misalnya. Mestinya tidak setua itu, menurut pendapatku. Namun hal tersebut tidaklah terlalu mengganggu. Keduanya bersama Christine Hakim seolah mewakili generasi mereka untuk beradu akting dengan aktor beberapa generasi setelah mereka seperti Dian, Reza atau Acha. Film ini memang lumayan bertabur bintang.

Dan harus aku akui bahwa adegan penutup film ini anj**g sekali. Karena setelah kagum akan perjuangan, keceriaan, atau ‘bengal’nya Kartini yang dibangun sejak awal, adegan penutup berhasil membuatku mbrebes mili. Sh*t!! 😜

p.s. Terima kasih kepada kantor yang sudah membayari nonton film ini 😍

Investor Day dan Investor Summit adalah inisiatif yang digagas oleh PT Bursa Efek Indonesia bersama SRO (Self Regulatory Organization) lain, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai upaya mengenalkan pasar modal kepada masyarakat Indonesia. Ya. Mengenalkan!

Dalam sejarahnya, Bursa Efek sebagai tempat jual beli surat berharga sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia. Sejak Jakarta masih bernama Batavia. Baru tiga puluh sembilan tahun (10 Agustus 1977) lalu pemerintah mengaktifkannya kembali. Baru dua puluh empat tahun lalu (13 Juli 1992) PT Bursa Efek Jakarta sebagai perusahaan pengelola Bursa Efek Jakarta didirikan. Waktu yang belum bisa dikatakan lama jika dibandingkan dengan industri sejenis di belahan dunia lain.

Dalam perkembangannya jumlah Perusahaan Tercatat, jumlah investor, nilai kapitalisasi pasar, nilai transaksi sebagai ukuran yang digunakan untuk perbandingan dengan bursa lain, belum boleh dianggap menggembirakan. Meskipun jika diukur dari sejak berdirinya PT BEJ maupun diaktifkannya kembali pasar modal angkanya bolehlah membuat senang. Meskipun untuk itu banyak faktor yang mempengaruhinya.

Dari sisi supply belum banyak perusahaan yang mau berubah dari perusahaan pribadi (keluarga) menjadi perusahaan publik. Dari sisi demand belum banyak orang yang tertarik berinvestasi di perusahaan tercatat. Atau dengan bahasa lain, belum banyak orang yang mau menjadi pemilik perusahaan. Mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung menabung menjadi masyarakat berinvestasi butuh waktu lama.

Bukan hanya terjadi pada masyarakat awam saja. Sepertinya terjadi pada masyarakat terdidik. Ketika BEI memulai kampanye #YukNabungSaham, berdasar catatanku ada dua orang yang mempertanyakan penggunaan kata nabung. Menurut mereka penggunaan kata (me)nabung dalam kampanye ini kuranglah tepat. Karena menabung dan berinvestasi memiliki konsep yang berbeda. Tentu saja aku sepakat dengan hal ini. Namun sepertinya sang pemberi komentar belum memahami apa yang ingin dicapai dari kampanye ini. Satu lagi yang membuatku sedih keduanya merupakan mantan kolega di kantor. Aku hanya miris mendengar komentarnya. Berusaha menjelaskan juga sepertinya percuma. Mungkin mereka merasa lebih memahami. Mungkin karena mereka alumni perguruan tinggi di luar negeri.

Hampir dua tahun lalu aku ikut dalam kelas inspirasi. Program yang diniatkan untuk mengenalkan beragam profesi kepada peserta didik dasar (anak sekolah dasar). Sebuah tantangan yang berat buatku. Jangankan kepada anak sekolah dasar, mengenalkan pasar modal dan transaksi saham kepada mereka yang sudah dewasa dan sudah melewati pendidikan tinggi (universitas) aku masih sering mendapat pertanyaan “bukannya judi, bro?” Cape deh…

Aku tak kehilangan akal. Aku memulai dengan bercerita kepada anak sekolah dasar bahwa aku bekerja di perusahaan yang mengelola tempat berjual beli kepemilikan perusahaan yang sebenarnya sudah mereka kenal sehari hari. Aku bercerita bahwa sejak mulai bangun tidur mereka sudah akrab dengan perusahaan itu. Mandi menggunakan sabun, shampo dan odol yang diproduksi PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), mereka sarapan dengan roti yang diproduksi oleh PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. (ROTI), berangkat sekolah mereka bisa menggunakan taksi PT Blue Bird Tbk. (BIRD) atau PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI), menulis di sekolah mereka menggunakan buku produksi PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan seterusnya. Sepertinya mereka juga baru mengetahui akan hal tersebut. Dan aku yakin banyak pula diantara orang dewasa yang baru ngeh akan hal tersebut. Wajar.

Dari kenyataan tersebut, tanpa kita sadari sebenarnya kita dikelilingi atau lekat dan erat dengan perusahaan yang sudah tercatat di Bursa. Banyak yang kita kenal. Kita bisa melihat operasionalnya. Kita bisa mendalami kinerjanya melalui laporan keuangan yang wajib mereka publish minimal empatvkali selama setahun. Sebagai pemilik dan pemegang sahamnya kita bisa memberi masukan kepada manajemen yang sehari hari mengurus perusahaan tersebut melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham yang berdasarkan Undang Undang wajib diselenggarakan minimal sekali dalam setahun. Lantas apa yang kita takutkan?

Jika manajemen bekerja dengan baik, perusahaan mendapat keuntungan, sebagai pemegang saham kita boleh berharap mendapat pembagian keuntungan dalam bentuk dividen. Jika kita suatu saat membutuhkan dana untuk suatu keperluan, dengan cepat kepemilikan kita jual di pasar. Syukur dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan ketika kita membelinya. Dengan demikian kita memperoleh apa yang disebut capital gain. Menjual aset berbentuk saham jauh lebih cepat dilakukan dibandingkan jika kita menjual aset berbentuk properti (seperti bangunan atau tanah).

Eits, jangan langsung berkomentar bagaimana jika merugi. Karena sejatinya ketika kita memutuskan untuk membeli sebuah barang, kita tentu sudah mempertimbangkan dari segala aspek. Apakah layak untuk dibeli. Apakah barang ini bagus. Apakah gampang dijualnya. Dengan berbagai pertimbangan matang pembelian harusnya dengan risiko minimal. Kita tentu tidak mau membeli sebuah mobil jika mobil yang hendak kita beli tidak jelas. Dengan analogi sama kita bisa melakukan pembelian perusahaan (baca :saham).

Saham hanya satu dari produk yang diperjualbelikan di pasar modal Indonesia. Masih banyak yang lain. Ada Obligasi, Reksadana yang diperjual belikan (ETF), Efek Beragun Aset (EBA) dan seterusnya. Prosesnya sama. Kenali dulu apa yang hendak dibeli. Datangi perusahaan sekuritas. Simpan untuk waktu tertentu (tergantung tujuan investasi). Harusnya sih mudah.

Upaya mengenalkan semua itulah yang kami lakukan hampir setiap hari. Mungkin memang butuh waktu lama. Namun kami yakin satu saat pasar modal Indonesia akan sejajar dengan pasar modal di negara lain. Siang ini aku membaca kutipan komentar dari Hasan Zein Mahmud. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia ketika pertama kali didirikan. Orang yang dari tulisannya aku belajar banyak mengenai pasar modal ketika masih bersekolah di kota Medan. Kota yang ketika aku bersekolah sudah memiliki Pusat Informasi Pasar Modal, namun dengan keterbatasan informasi yang aku miliki belum menarik perhatianku. Siapa sangka tulisannya yang menginspirasi membawaku menjadi pegawai di perusahaan yang pernah dipimpinnya.

Kembali kepada kutipan, pak Hasan berujar yang cukup menohok

Kalau Warren Buffett pada umur 10 tahun membaca semua buku investasi di perpustakaan Kota Omaha, lalu mulai melakukan investasi pada umur 11 tahun; kalau di sekolah menengah atas di Hong Kong dan Singapura sudah diajarkan dan dipraktekkan stock picking, alangkah bebalnya kita membiarkan mayoritas masyarakat kita tetap buta investasi dan berulang-ulang menjadi korban investasi bodong……

Seorang teman pernah memberi masukan bahwa satu hal yang perlu diubah dariku adalah aku sedikit kaku. Kalau dipikir ada benarnya. Bekerja di regulator (mungkin) membuatku terbawa suasana. Entahlah.

Sepanjang yang aku ingat kekakuan itu tertanam sejak dini. Yang masih lekat dalam ingatan adalah soal berpakaian. Puluhan tahun lalu ketika mulai kuliah, kami mahasiswa baru diingatkan oleh dosen agar berpakaian rapi. Peringatan itu dilakukan ketika masa ordik (orientasi pendidikan). Semacam masa ospek atau MOS kalau jaman sekarang. Disebutkan berpakaian rapi itu adalah berkemeja dan bercelana bahan (untuk membedakan dengan celana denim dan sejenisnya). Sepanjang lima tahun di kampus (sampai saat terakhir ketika mengurus ijazah ketika telah lulus meja hijau) aku tetap pada ketentuan ini. Lupa apakah hal tersebut tertulis pada buku peraturan atau tata tertib berkuliah, namun aku ikut aturan itu. Bahkan saat akhir perkuliahaan ketika teman teman seangkatan telah mulai menggunakan denim dan kaos (baik dengan kerah atau oblong) ke kampus.

Entah ketika itu teman teman berpendapat apa. Yang aku ingat ada satu teman yang akhirnya mendapat julukan ‘si camat’ karena ternyata berperilaku ‘lebih rapi’ lagi dari aku. Teman ini tidak pernah menggulung lengan panjang kemejanya (aku masih menggulung) bersepatu pantofel mengkilap dan buku selalu ditenteng (tak pernah menenteng tas atau ransel). Sementara aku bersepatu kets saja dan selalu menenteng ransel ke kampus.

Padahal aku juga ingat waktu itu ada dosen yang dengan santainya mengenakan denim ketika mengajar. Memelihara kuncir yang dibiarkan tergerai, terlihat ketika beliau menulis di papan dan membelakangi kami mahasiswanya. Merokok di ruang kelas (saat itu soal merokok memang belum seperti sekarang. Selain itu struktur gedung kami yang unik juga tidak memerlukan pendingin ruangan sehingga dimungkinkan untuk merokok di kelas). Waktu itu aku mencoba memahami latar belakang pendidikan sang dosen yang katanya baru kembali dari Amerika menyelesaikan program doktornya. Terbiasa lebih bebas di negara Amerika yang liberal membuatku seperti memaklumi penampilan pak dosen.

Kebiasaan sama terbawa ketika berkebaktian di gereja. Aku selalu berpegangan bahwa ke gereja adalah berkunjung ke rumah Tuhan. Karena demikian agama mengajarkan sejak masih Sekolah Minggu. Yang aku ingat, doktrin yang aku dapat, berkunjung ke rumah Tuhan sudah pasti harus sopan. Lha wong bertamu ke rumah orang saja kita harus sopan? Masa bertamu menggunakan celana pendek? Bertamu artinya kita menghargai yang kita kunjungi. Berpakaian rapi ketika berkunjung ke rumah Tuhan merupakan hal yang wajib dijalankan. Aku juga ingat ketika itu aku juga tidak pernah mengunyah permen ketika sedang berkebaktian. Alasannya sederhana, kebaktian adalah proses berkomunikasi dengan Tuhan. Bagaimana kita misalnya berkomunikasi (berbicara) dengan seseorang yang lebih tua (sebagai contoh ekstrim) sambil mengunyah sesuatu?

Dengan latar belakang seperti itu perilakuku terbawa ke dunia kerja. Meski dengan sedikit modifikasi. Awal kerja masih menggunakan dasi. Tiga tahun bekerja aku mulai malas menggunakan dasi dalam bekerja (meski peraturan masih mengharuskan menggunakannya). Aku juga selalu mengenakan kemeja lengan panjang yang lengannya selalu digulung. Bukan apa apa sedikit mengganggu buatku dalam bekerja dengan lengan kemeja tidak digulung. Kebiasaan menggulung lengan kemeja ini terbawa juga bahkan ketika mengenakan batik lengan panjang 😔.

Bahkan ketika mengenakan denim ke kantor sudah diperbolehkan, hanya sekali aku melakukannya. Itu juga sebagai bentuk ‘protes’ karena sepertinya berpakaian pantas sudah mulai tidak dipedulikan lagi. Bercelana denim dan berkaos polo aku lakukan bahkan ketika aturan mengenai diijinkannya penggunaan denim diberlakukan. Justru setelah pengenaan denim ketika hari Jumat diberlakukan, aku tidak pernah mengambil kesempatan itu. Karena kembali sebagaimana dua contoh pada masa lalu, menurutku aku harus menghargai lembaga tempatku bekerja. Menghargai tamu yang mungkin akan kami temui ketika bekerja.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya aku terbiasa ‘gatal mata’ dan ‘gatal bicara’ untuk kemudian berkomentar. Beberapa kali kepada teman satu tim yang kepadaku diserahi beban untuk menjadi penyelia, aku akan menegur untuk mengingatkan. Aku juga pernah ditegur oleh atasan karena ketika melakukan pertemuan dengan pihak luar mengenakan jaket yang terbuat dari bahan denim. Saat itu aku merasa aku dan atasan berada di jalur yang sama. Bahwa ada yang tetap harus dijaga soal berpakaian.

Pagi ini aku menemukan kejadian yang membuat aku berkomentar. Seorang pekerja wanita menggunakan celana panjang 7/8 ( begitu kurang lebih istilahnya). Sesuatu yang sebenarnya berdasarkan aturan diperbolehkan, namun hanya di hari Jumat sebagaimana penggunaan denim. Masalahnya adalah ini hari Senin. Mengenakan pakaian kasual (begitu istilahnya) diharamkan pada hari Senin. Melempar isu ini di group diskusi, sepertinya aku sendiri. Teman lain tidak melihat itu sebagai masalah. Mungkin memang aku terlalu kaku. Mungkin memang ada yang aneh dalam prinsip yang aku anut. Entahlah ☺️

Meskipun aku dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi aku tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapanku itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti

Kalimat di atas adalah pembuka perikop yang dibacakan ketika menghantar Lady Di ke peristirahatan terakhir. Tanpa melihat sumbernya yang dari kitab suci, menurutku konteksnya masih nyambung dengan soal penampil di panggung.

Apa artinya jika aku bisa menyanyi layaknya Josh Groban tapi penonton tidak paham. Apa jadinya jika aku bisa memainkan gitar layaknya Steve Vai, jika penonton tidak suka? Apa artinya jika Houdini diikat dalam air, dikubur terikat dalam tanah namun penonton tidak terhibur?

Tantangan selanjutnya adalah benar bahwa penonton bisa memilih untuk meninggalkan kita ketika mereka tidak suka. Namun dari sisi penampil, yang kita harusnya bisa lakukan adalah menampilkan sesuatu yang kita yakini sebagian besar penonton akan menyukainya. Agar penampilan kita tidak sia sia.

Sebab, apalah artinya mulut berbusa menyanyi, jari memar memetik gitar, nafas habis ketika berada dalam air jika semua penonton meninggalkan panggung di mana kita tampil?