Jika kalian membayangkan sosok Kartini sebagaimana keluarga bangsawan Jawa, yang menggunakan kebaya dalam kesehariannya, selalu menunduk bila berbicara dengan lawan bicaranya, menyendok makanan dengan pelan dan mengunyahnya sebanyak 32 kali misalnya. Lupakan! Film ini tidak bercerita mengenai Kartini yang ada dalam bayangan kalian itu. Meskipun benang merah kisah penulis kumpulan surat yang akhirnya diterbitkan dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tersebut masih terlihat dari alur cerita.

Kartini yang putri bangsawan Jepara, Kartini yang terbuka wawasannya melalui membaca, Kartini yang menulis artikel dan mengirimkannya untuk diterbitkan, Kartini yang melakukan korespondensi dengan sahabat pena di Belanda, Kartini yang dipingit kemudian dinikahkan dengan Bupati Rembang. Benang merahnya masih seputar itu. Boleh dikatakan ini adalah tafsir renyah mengenai Kartini. Perempuan bangsawan dari Jepara yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Sepertinya Hanung Bramantyo sang sutradara ingin lebih mendekatkan lagi Kartini kepada generasi era milenial. Penonton (wanita) yang akrab dengan Cinta (peran Dian Sastrowardoyo pada Ada Apa Dengan Cinta) dengan segala kelincahannya, mungkin tidak melihat banyak perbedaan dengan peran Dian pada film ini. Penggambaran yang tidak sepenuhnya salah juga. Karena ternyata sejak kecil, Kartini akrab disapa Trinil (ke·di·di n burung rawa yg jalannya melompat-lompat, ekornya selalu menjungkit-jungkit; terinil, KBBI). 

Dalam Film ini penonton menyaksikan bagaimana Kartini memakan kacang mete dengan melempar (Ya melempar ke mulutnya!). Bahkan kalau tidak salah lihat, menggunakan cincin di telunjuk. Sesuatu yang menurutku, mungkin hal yang tabu dilakukan oleh seorang (putri) bangsawan. Bagaimana Kartini bersama kedua adiknya dengan santai duduk di atas tembok dengan menggunakan tangga. Sepertinya menjadi tempat yang mereka proklamasikan sebagai ‘ruang meeting’ membahas rencana rencana strategis mereka bertiga 😁. Yang menjadi pertanyaan dalam benak, apakah mereka tidak kesakitan? Mengingat sepertinya mereka duduk pada tembok yang atasnya runcing bukan rata (apakah tembok seperti itu telah menjadi trend saat itu? 😬)

Dengan durasi yang terbatas, apa yang digambarkan film ini cukup mewakili apa yang selama ini kita ketahui dari sosok Kartini. Membaca sebagai jendela dunia digambarkan sangat lugas. Bagaimana Kartini ketika membaca sebuah buku milik kakaknya Sosrokartono (diperankan oleh Reza Rahadian. Omong omong, gak sayang tuh hanya muncul dalam beberapa scence? 😬) langsung dihadapkan pada kejadian di balik jendela yang mengadegankan suasana sebuah persidangan. Mendadak muncul sosok wanita Londo dan berdiskusi langsung dengan Kartini. Sebuah langkah unik. Pengadeganan serupa juga dilakukan untuk menggambarkan korespondensinya dengan sahabat pena dari Belanda. Mendadak Kartini berada di sebuah daerah lengkap dengan kincir angin. Pengadeganan serupa juga digunakan untuk sebuah kisah kilas balik. Ketika akhirnya ibunda Kartini (Ngasirah yang diperankan dengan apik oleh Christine Hakim) meminta pengertian Kartini untuk semua yang selama ini ditentangnya. Penggambaran membaca, berkorespondensi dan mendengar kisah lalu digambarkan dengan hadir langsung, bukan lewat narasi.

Kartini bersama adik adiknya juga digambarkan membantu pengrajin ukir untuk kemudian hasil ukirannya dijual ke Belanda. Yang menjadi pertanyaan, dan aku belum menemukan jawabannya, kenapa seolah mengukir wayang menjadi hal tabu dilakukan ya? Karena sang pengukir awalnya menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Trio Daun Semanggi itu. Sebelum akhirnya sabda pandita ratu yang turun. Permintaan Kartini dikuatkan oleh sang ayah, yang akhirnya membuat sang pengrajin bisa menerima pekerjaan tersebut.

Menyaksikan beberapa adegan, melalui dialog yang ada juga membuatku bertanya. Apakah semacam pesan akan apa yang terjadi saat ini? Hal itu misalnya ditunjukkan ketika Kartini berdialog dengan seorang Kyai. Bagaimana sang Kyai menjawab pertanyaan penasaran Kartini. Pak Kyai menjawab kurang lebih,

saat ini lebih banyak orang yang lebih senang membaca kitab dalam bahasa aslinya, tanpa tahu makna sebenarnya

Atau dalam dialog (kalau tidak salah) ayah Kartini dengan beberapa Bupati, terlintas kalimat, “suatu saat, anak tukang kayu akan kepingin menjadi raja!”. Koq ya aku langsung teringat akan sosok pak Joko presiden saat ini 😜.

Film ini juga seolah menutup kisah Kartini dengan happy ending. Karena ketika akhirnya menerima pinangan Bupati Rembang, digambarkan seolah sang Bupati bukan pelaku poligami. Karena dikisahkan bahwa sang Bupati (yang akhirnya menerima syarat yang diajukan Kartini untuk bisa menerima pinangannya) seolah mencari pengganti ibu buat anak anaknya. Karena sang istri berwasiat bahwa kalau bisa, sosok seperti Kartini lah yang bisa menggantikan perannya sebagai ibu dari anak anak sang Bupati. Padahal dalam kenyataan sebenarnya, sang Bupati memiliki istri lebih dari satu 😔. 

Oh iya, ada hal yang menarik dalam adegan lamaran itu. Sebagian penonton terdengar cekikikan ketika sosok sang Bupati Rembang muncul dalam adegan. Sepertinya mereka belum bisa lepas dari ingatan akan peran Dwi Sasono (pemeran sang Bupati) yang lucu, lugu dan ngeselin dalam komedi situasi Tetangga Masa Gitu 😀. Selain itu juga ‘ketimpangan’ usia antara para pemeran.  Dedy Soetomo atau Rudy Wowor misalnya. Mestinya tidak setua itu, menurut pendapatku. Namun hal tersebut tidaklah terlalu mengganggu. Keduanya bersama Christine Hakim seolah mewakili generasi mereka untuk beradu akting dengan aktor beberapa generasi setelah mereka seperti Dian, Reza atau Acha. Film ini memang lumayan bertabur bintang.

Dan harus aku akui bahwa adegan penutup film ini anj**g sekali. Karena setelah kagum akan perjuangan, keceriaan, atau ‘bengal’nya Kartini yang dibangun sejak awal, adegan penutup berhasil membuatku mbrebes mili. Sh*t!! 😜

p.s. Terima kasih kepada kantor yang sudah membayari nonton film ini 😍


Sepanjang yang aku ingat, kariernya dimulai dari Indosiar. Kalau tidak salah beliau adalah penggagas acara Gebyar BCA. Ragam Pertunjukan (Variety Show) yang disponsori oleh BCA, bank yang saat itu terafiliasi dengan televisi Indosiar.

Pada masanya, bentuk Gebyar BCA sedikit berbeda dengan acara huburan lain di televisi. Menggabungkan nyanyi, wawancara dan ragam hiburan lain seperti sulap. Seingatku, acara itu lumayan berhasil. Mungkin karena perbedaan bentuk itu atau (artis) pengisi acaranya. Saat itu beliau adalah pengarah acara. Kurang paham juga apakah selain pengarah acara, beliau juga bertindak sebagai produser. Yang menentukan bentuk acara dari awal sampai disajikan kepada pemirsa.

Lepas dari Indosiar, Wishnutama nama anak muda itu, pindah ke televisi milik Chairul Tanjung (CT) konglomerat muda yang memulai bisnis konglomerasinya dari sebuah bank (Bank Mega). Di Trans TV lah, kariernya menanjak. Dimulai sebagai pengarah acara hingga memimpin dua televisi milik CT (Belakangan CT membeli TV7 milik Kompas Gramedia dan mengubah namanya menjadi Trans7).

Pada masa Tama (mas Tama, begitu beliau selalu disapa, dan sepanjang yang aku tahu beliau lebih suka disapa mas dari Bapak. Bahkan oleh anak buah sekalipun) duo Trans berjaya. Seolah menyalip televisi lain yang lebih dahulu berdiri. Apalagi waktu itu, manajemen Trans diperkuat juga oleh Ishadi SK. Mantan Direktur Televisi di Departemen Keuangan. Yang ketika menjadi kepala stasiun TVRI Jogja, juga membuat gebrakan di televisi stasiun daerah itu.
Kejayaan duo Trans justru bukan diperoleh dengan membeli program buatan Amerika Serikat atau Amerika Latin, kiblat televisi waktu itu. Justru oleh ragam acara buatan dapur sendiri (In House Program). Sepanjang yang aku ingat, dimulai dari Extravaganza yang berbentuk komedi situasi, Empat Mata (belakangan berubah menjadi Bukan Empat Mata karena kena semprit Komisi Penyiaran Indonesia), sampai Opera Van Java.

Acara berjaya, rating naik, iklan mengantri, jabatan Direktur Utama, tidak lekas membuat Tama berpuas diri. Dalam usia yang masih terhitung muda, Tama mengundurkan diri dari duo Trans. Banyak yang kaget ke televisi mana akhirnya dia berlabuh. 

Sampai akhirnya publik menyadari, dia membangun NET bersama Agus Lasmono, pemilik group Indika yang kebetulan putra dari Sudwikatmono yang dikenal sebagai raja bioskop (lewat jaringan 21). Kedua anak muda inilah yang membangun NET tiga tahun terakhir.

Di NET semua ide dan kreativitas seorang Tama dituangkan bebas. Mungkin karena sekarang posisinya bukan hanya sebagai eksekutif. Juga sebagai pemilik. Rekrutmen tenaga kerja diumumkan terbuka. Ribuan orang melamar. Beragam media (sosial) digunakan. Karyawan yang diterima, digembleng ala militer. Mereka menggunakan seragam kemeja hitam celana khaki dan sepatu ala militer pasukan perang gurun. Soal seragam ini juga diterapkan oleh Tama ketika di Trans. Mungkin karena berlatar belakang militer (konon orang tuanya adalah militer). 

Saat itu ada kebanggaan bagi awak Trans mengenakan seragam mereka. Mungkin itu yang menginspirasi, sehingga pelan pelan semua televisi mengenakan seragam kepada awaknya. Sempat terdengar komentar miring tentang kepemimpinan ala militer itu. Namun Tama bergeming. Toh sukses bisa diraih.

Mirip dengan strategi yang dijalankan ketika di Trans, NET pun banyak menjual program besutan sendiri. Tetangga Koq Gitu, OK JEK, Ini Talkshow, The Comment hingga Teka Teki Waktu Indonesia Bercanda adalah acara andalannya. Meski beberapa ditayangkan secara striping, acara bisa bertahan lama.

Selain dari kreativitas yang seolah tak ada matinya itu, yang membuatku kagum pada anak muda itu adalah konsistensinya dalam mendisiplinkan dan membuat bangga karyawannya. Beliau tidak hanya memerintahkan untuk mengenakan seragam, namun turut serta menggunakan seragam yang dia perintahkan dikenakan itu. COOL!

Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat lelaki batak, jika belum menikah, setiap tahun nasihat hanya tertuju padanya setiap malam pergantian tahun.

Desember ini, Slank berusia tiga puluh tiga tahun. Bermula dari berdirinya Cikini Stone Complex pada Desember 1983, saat ini SLANK bukan hanya sebuah group band. SLANK konon berasal dari kata slengekan, yang kurang lebih berarti sesuka sukanya, menjelma menjadi komunitas yang luas. Potlot, nama gang di bilangan Jakarta Selatan (pernah) menjadi kiblat musik Indonesia. Sebut saja Oppie Andaresta, Imanez (almarhum), Andy Liany (almarhum), Anang Hermansyah dan Kidnap Katrina, mengindonesia dari sana. Selain itu masih ada juga BIP yang digawangi oleh Bongky, Indra dan Pay Siburian yang keluar dari SLANK setelah album Minoritas. Dan masih banyak lagi yang (mungkin) belum sebesar nama nama itu.

Bukan hanya kiblat musik, Potlot juga menjadi kiblat politik. Tidak sedikit pihak (partai maupun perorangan) yang merapat ke gang Potlot hanya untuk memeroleh dukungan dalam pemilu. Apalagi sejak era pemilu langsung. Betapa tidak, dengan usia 33 tahun, penggemar SLANK terdiri dari beberapa generasi. Mereka yang mungkin masih bersekolah di SMP atau SMA ketika album Suit Suit….hehehe (gadis sexy) keluar, sampai level anak anak dari generasi pertama itu.

Para penggemar pun fanatik bukan main. Sampai muncul celetukan seperti iklan teh dalam botol yang ‘apapun makannya….’. Konser artis manapun yang dilakukan di lapangan terbuka, bendera SLANK pasti dikibarkan! Tanpa bermaksud membandingkan, mirip dengan komunitas OI milik Iwan Fals. Padahal Iwan Fals sudah jauh lebih dahulu berkarya di industri musik Indonesia.

Dengan kenyataan seperti itu, sulit menjelaskan fenomena ini. Bahkan ketika beberapa personilnya (lagi lagi) diketahui menjadi pecandu narkoba, fanatisme itu tidak hilang. Manajemen Pulau Biru (entah apakah masih seperti itu namanya) berhasil mengelola peristiwa itu. Alih alih menjadi peristiwa memalukan, manajemen bahkan berhasil membuatnya menjadi kejadian yang menginspirasi banyak anak muda untuk menjauhi narkoba. Mungkin kalau menggunakan istilah korporasi, menjadi semacam CSR bagi SLANK. Menjadi tanggung jawab SLANK untuk mengarahkan jutaan fans agar tidak mengikuti jejak idolanya yang kurang bagus itu. Bunda Iffet, ibunda Bimbim, yang walaupun (hanya) seorang ibu rumah tangga biasa, mampu mengelola SLANK dengan baik.

Aku mengikuti SLANK sejak awal karirnya hingga album Minoritas. Album berikutnya Lagi Sedih, 999+09 #1 dan 999+09 #2 hingga yang terbaru sudah tidak intens kuikuti lagi. Ada rasa yang hilang ketika aku tak mendengar permainan jari Indra di keyboard dan melodi Pay di gitar. Lirik jujur bebas dan nakal ditambah keyboard dan kocokan gitar terlalu sempurna buatku. Bagaimana mereka dengan lugas meneriakkan ‘Anjing’ pada lagu ‘An – = -‘ ~ >…’ (judulnya memang begitu) dari album Kampungan atau meneriakkan kata ‘Kentut’ pada lagu Tut Wuri Handayani dari album Minoritas. Atau melagukan ‘Bangsat’ di lagu Begitu Saja dari album ‘Piss!’. Bagaimana mereka merekam dengkuran dan menimpali dengan koor personil dan diiringi permainan piano lagu Nina Bobo pada lagu Nina Bobo dari album Kampungan.

Mereka juga dengan bebas memasukkan lagu dolanan anak anak di Jawa pada Bang Bang Tut dari Minoritas atau memasukkan bahasa Batak (kebetulan Pay bermarga Siburian) pada intro lagu Generasi Biru di album Generasi Biru. Mereka bercerita tentang apa saja. Korupsi, Birokrasi yang kompleks, aborsi, keindahan di Bali (lagu Tepi Campuhan di Bali atau sepinya pantai Anyer, keriangan bocah bermain. Romantisnya Terlalu Manis atau kemarahan pada perbedaan status pada Mawar Merah. Masih banyak lagi.

Ah….aku rindu SLANK (sampai album Minoritas ☺). Ingin berada di Pulau Biru bersama jutaan Slankers 😍

img_1917

Selain Indonesia Jaya ciptaan Chaken M yang dibawakan oleh Harvey Malaihollo, lagu Doa Anak Negeri adalah lagu yang paling cepat ditangkap telinga ketika diperdengarkan dalam Festival Lagu Pembangunan tahun 1987.

Indonesia Jaya masih sering diperdengarkan dalam acara resmi. Seringkali dibawakan dalam bentuk paduan suara. Entah karena kurang gaul, justru aku jarang mendengar lagu Doa Anak Negeri diperdengarkan kepada publik.

Ketika Festival diadakan, lagu ciptaan Donny Hardono dan syair oleh D. Prasetyo, tersebut dibawakan oleh almarhum Chrisye. Liriknya tidak terlalu patriotis menurutku. Namun cukup menggugah semangat cinta negeri ketika diperdengarkan.

Menulis lirik patriotis pasti membutuhkan keahlian sendiri. Wage Rudolf Supratman, H. Mutahar, Kusbini, Cornel Simanjuntak, Ibu Soed dan yang lain sudah membuktikan. Setelah era mereka, ada Gombloh dengan Kebyar Kebyar. Dan yang paling baru mungkin Eros yang menciptakan Bendera. Yang dengan aransemen Cokelat, menjadikan lagu itu sebagai lagu paling patriotik pada tahun 90an menurutku.

Mungkin memang harus dipadukan antara lirik, lagu dan aransemen. Agar lagu yang diciptakan tidak terjebak menjadi slogan kosong, apalagi menjadi lagu mendayu dayu. Yang terakhir inilah yang dikhawatirkan ketika lagu doa dibawakan oleh Chrisye. Namun kembali pada rumus pendukung, sebagaimana aku sampaikan di awal paragraf, kelengkapan elemen itu menjadikan lagu ini semacam lantunan doa dari anak negeri. Doa yang terasa pas untuk kondisi negeri seperti sekarang.

DOA ANAK NEGERI

Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
S’moga lestari s’moga abadi
Doa kami dari anak neg’ri
Puji dan syukur kami berikan
Neg’ri ini tentram sentosa
Bangunlah semua, satukan cita
Tuk neg’ri tercinta Indonesia

Reff :
Doa kami dari anak neg’ri
Bangga kami pada Pertiwi
T’rimakasih kepadamu neg’ri
Pembangunan ini milik kami

Doa dari kami anak negeri
S’moga engkau melangkah pasti
Dan teruskanlah pembangunan ini,
Dari generasi ke generasi

Doa kami anak neg’ri
Doa kami sejati
Doa kami anak neg’ri
Doa kami tulus dan suci

hasbon

Bang Bon,

Seingatku kita kenal sudah cukup lama. Sejak aku mulai ber-NHKBP pertengahan tahun 1990. Meski saat itu kita tidak terlalu dekat. Karena aku aktif di wijk, sementara abang sudah aktif di Godung. NHKBP Pusat kata anak anak di wijk seperti aku.

Seingatku kita dekat dua atau tiga tahun terakhir sebelum aku meninggalkan kota Medan tercinta. Ketika teman teman seangkatanmu sudah menikah dan akhirnya terpaksa keluar dari NHKBP. Ketika abang lebih banyak menjadi konduktor kami berpaduan suara. Ketika NHKBP sebagian besar dihuni oleh teman teman seangkatanku (Rudi Sihotang, Tiopan Manurung, Junio Pardede atau Aron Sinambela) dan mereka yang kita rekrut melalui retreat di Haranggaol. Retreat yang kita rencanakan dan jalankan untuk menjaring talenta talenta baru dari wijk.

Kita mencari dana bersama. Berjualan kue, ikan arsik atau pinadar sumbangan teman teman. Berjualan stiker yang kita niatkan sebagai cutting stiker namun batal karena biaya produksi ternyata cukup besar waktu itu. Hampir setiap sore kita berdiskusi di rumah kosong di samping gereja untuk menaukseskan retreat itu. Retreat yang membuat kita semakin dekat.

Retreat yang penuh kisah. Bagaimana mobil kijang birumu, yang sehari hari lebih sering parkir di jalan Sederhana daripada di gang Cemara, dipakai belajar mengemudi oleh almarhum Rudi Sihotang malah menabrak pohon di rumah dokter Silalahi. Mobil yang sama kita gunakan survey lokasi ke Haranggaol. Yang tidak memiliki ban serap sehingga kita harus menunggu lama untuk menambal bocornya ban. Karena menambalnya harus ke arah Merek. Naik ke atas karena bocornya ban ternyata di pantai Haranggaol.

Bang Bon, kalau bukan dirimu yang mengajak aku jalan jalan ke Jakarta, mungkin aku tidak berada di kota ini sekarang. Aku ingat setelah retreat itu, abang mengajak aku jalan ke Jakarta pertemgahan tahun 1996. Karena sama seperti abang yang belum punya pekerjaan tetap, akupun baru lulus dari Nommensen. Karena sebagian besar waktu aku habiskan di gereja dan bergaul dengan teman teman NHKBP, almarhum bapak memintaku untuk membawa semua berkas administrasi ketika minta ijin jalan ke Jakarta. Berkas itu aku gunakan untuk melamar di beberapa perusahaan sehingga akhirnya diterima bekerja di perusahaan sekarang awal tahun 1997. Selama sebulan pertama di Jakarta abang juga yang mengajarkan aku bagaimana naik bis di Jakarta. Bagaimana yang harus diingat adalah terminal resmi seperti Blok M atau Kampung Rambutan, setelah itu tinggal mencari bis sesuai arah tujuan yang kita kehendaki. Apa manfaatnya ketika kenek menginstruksikan untuk turun dengan menggunakan kaki kiri yang menyentuh aspal terlebih dahulu.

Bang Bon, setelah aku bekerja, beberapa kali kita ketemu di gedung kantorku berada. Bercerita apa saja kegiatan kita. Berkisah siapa saja teman teman dari Medan yang kita temui. Abang juga pernah pinjam sepatu dan kemeja untuk melamar pekerjaan di tempat baru. Karena abang mau keluar dari pabrik YKK waktu itu. Karena pakaian abang yang pantas, tertinggal di tempat saudara abang di Pondok Bambu. Namun itu berlangsung tidak lama. Setelah itu tak ada kabar lagi dari abang. Sampai aku mendengar abang telah kembali ke Medan.

Beberapa kali pulang ke Medan dan bergereja di HKBP Teladan, kita tak pernah bertemu. Teman teman alumni pun bilang, abang sudah jarang ke gereja. Aku tidak ingat persisnya berapa tahun lalu kita pernah bersua dalam acara natalan dan ramah tamah alumni NHKBP. Itulah pertemuan terakhir kita. Beberapa bulan lalu aku masih melihat abang tergabung dalam paduan suara ama HKBP Teladan. Yang mewakili distrik X Medan untuk festival koor ama dalam rangka tahun keluarga HKBP. Bersama dengan beberapa alumni seangkatan. Kemenangan itu membanggakanku sebagai salah satu alumni. Kemenangan itu juga mengingatkanku bahwa kita juga pernah menjuarai festival koor NHKBP dalam rangka 133 tahun HKBP dan perayaannya diselenggarakan di Stadion Teladan.

Bang Bon, pagi ini aku mendengar abang telah kembali kepada Bapa. Abang sudah bersama bapak abang. Gak terbayang perasaan mamak abang. Bagaimana sedihnya setelah ditinggal suami puluhan tahun lalu, hari ini ditinggal anak satu satunya.

Selamat jalan bang Hasbon Hasian Hutagalung. Abang, guru dan sahabat 😔