20140721-133351-48831617.jpg

Ketika sebelum Pemilu Presiden, sebagaimana juga mungkin yang dialami banyak orang, aku menerima pesan siar [broadcast messenger. Pakai istilah ini saja dulu. Kebenarannya nanti tanya @ivanlanin :-)]. Isinya sebagaimana sudah diketahui bersama. Ajakan untuk memilih calon presiden tertentu.

Atas pesan itu, yang aku yakin juga diterima dengan cara yang sama oleh sang pengirim [yang kebetulan dokter], aku hanya menjawab singkat. Aku bilang, aku tak lagi percaya sistem pemilihan umum Indonesia saat ini yang hanya menyuarakan kepentingan partai politik. Aku bilang, aku tidak akan pergi ke Tempat Pemungutan Suara pada harinya. Pembicaraan melebar. Sang teman [sebagaimana pendukung kedua calon presiden] tidak bisa terima. Ragam alasan dikemukakannya. Sayang suara lah. Gak bertanggung jawablah. Dan seterusnya. Aku tak pedulikan. Sebagaimana juga partai politik peserta pemilu yang abai akan suara pemilihnya.

Kepada sang teman yang masih ngotot, aku sampaikan bahwa aku mengidamkan sistem demokrasi yang menganut falsafah orang Batak. Dalihan Na Tolu. Pemerintahan yang menganut Somba marhula hula, Elek marboru dan Manat mardongan tubu. Kepadanya aku sampaikan bahwa kalau saja pemilihan umum anggota legislatif menghasilkan Dongan Tubu, pemilihan umum presiden menghasilkan Boru, terbayang bagaimana suka citanya rakyat sebagai Hula Hula. Buatku, harusnya pemerintah mengambil sikap sebagai Boru kepada rakyat yang Hula Hulanya. Anggota legislatif mengambil sikap sebagai Dongan Tubu, kepada rakyat. Sehingga seharusnya pemerintah somba kepada rakyat, anggota legislatif manat kepada rakyat. Manakala rakyat, elek kepada pemerintah.

Sang teman langsung protes dengan ide yang aku sampaikan. Katanya tak mungkin. Mustahil!. “Coba kau bayangkan” katanya. “Posisimu adalah boru simatuamu, kan?” “Yep” jawabku tegas. “Lantas apakah kau menjadi pemerintah buat simatuamu?” Lanjutnya. “Kawan” balasku, “Janganlah kau bolak balek. Jangan kau lihat dari sisi sebaliknya” lanjutku. “Tak betul itu” katanya ketus. “Sudah salah besar kau disitu” lanjutnya. Atas tanggapan dia yang melihat dari sisi sebaliknya, aku cuman senyum sendiri. “Parah kali lah kawan ini” kupikir. Tentu tak kuucapkan. Mengingat temanku ini bergelar dokter. Harusnya logikanya cukup mencerna penjelasanku. Atau mungkin awakmyang cuma Sarjana Ecek Ecek ini, kurang pintar menjelaskan. Entahlah.

Padahal apa yang aku mau sampaikan adalah, anggota legislatif haruslah bersikap Manat Mardongan Tubu terhadap rakyat pemilihnya. Sebagaimana pada pesta unjuk [sebagai sebuah acara adat yang besar] sebelum dongan tubu mengiyakan sinamot yang akan disampaikan oleh pihak paranak, harusnya menanyakan terlebih dahulu kepada suhut sihabolonan. Apakah bisa menerima atau tidak. Walaupun pada kenyataannya, ketika pesta unjuk [apalagi dalam kasus di Jakarta] hal tersebut hanyalah formalitas semata, tetap saja proses mengkomfirmasi itu perlu dilakukan. Agar apa yang akan dijalankan oleh Parsinabung/Dongan Tubu sesuai keinginan suhut sihabolonan.

Proses mengkomfirmasi keinginan rakyat bisa dilakukan oleh anggota legislatif dengan banyak cara. Salah satunya dengan terjun langsung ke daerah pemilihan masing masing. Menyerap aspirasi masyarakat pemilihnya. Bukan seperi sekarang. Alih alih menanya pemilih, wakil rakyat lebih memilih untuk studi banding ke luar negeri. Padahal belum tentu yang dilihat di luar negeri sesuai dengan situasi apalagi kemauan pemilihnya.

Pemerintah sebagai boru mengambil sikap Somba Marhula Hula kepada rakyat. Keinginan rakyatlah yang dijalankannya. Kalau rakyat bilang, bangun jembatan, perbaiki transportasi massal, harusnya pemerintah dengan sukacita melaksanakannya. Sebagaimana boru yang dengan sukacita membagi kopi, lampet, kembng loyang atau jambar sebagaimana di pesta unjuk. Masalah darimana datangnya semua yang dibagi itu, rakyat pasti sukarela menyiapkannya. Sepanjang semua une pada tempatnya. Hula Hula Hula senang, rakyat riang. Jika sudah demikian, kurang senang apa rakyat.

20140630-135950-50390463.jpg
pagi ini seperti biasa jika ngantor tidak membawa mobil, aku akan menggunakan jasa omprengan. seketika turun dari motor tebengan, aku ditawari naik avanza yang sudah ngetem di luar pelataran dimana omprengan biasa mangkal. biasanya yang begini adalah murni orang kantoran yang sedang mencari teman untuk dapat melintas kawasan berpenumpang tiga atau lebih (3 in 1).

di kursi depan duduk pengemudi. seorang perempuan. duduk di sebelahnya pun seorang perempuan. pada kursi tengah, telah duduk seorang bapak. sementara di bangku belakang duduk seorang ibu. dengan pertimbangan bahwa setelah aku mungkin akan ada penumpang lain, aku mengambil posisi duduk di belakang. menunggu sebentar. mungkin si mbak pengemudi mau menunggu seorang lagi untuk duduk di tengah pikirku. tak apalah. ternyata belum lima menit, si mbak pengemudi turun dan memberi tips pada timer yang menawar nawarkan kursi tadi. avanza pun melaju. Ibu yang tadi duduk di belakang bersamaku, pindah ke tengah.

perkiraan bahwa hari kerja pertama kerja di bulan ramadhan jalanan akan sepi ternyata tidak terbukti. jalan tol dari jatibening menuju cawang/jakarta bahkan seperti hari kerja biasa. mobil merambat pelan. tidak terlihat mbak pengemudi menyalip dari bahu jalan. pun ketika mendekati gerbang tol halim. aku yang biasanya mengambil posisi paling kanan untuk kemudian menyalip di depan ketika pembatas jalan gerbang tol dan keluar halim, cukup kagum dengan keteraturan si mbak pengemudi. konsekuensinya perjalanan lebih lambat dari omprengan biasanya, yang kadang kelakuan sudah mirip sopir metromini. bahkan dari diriku, yang meski [ehem....] lumayan tertib, sering menyalip juga untuk ruas jalan tertentu.

tapi sebentar dulu. itu dari radio mobil si mbak memang terdengar siaran radio. namun kenapa di telinga si mbak tertempel earphone. apakah dia sedang mendengarkan lagu dari perantinya? atau mungkinkah sebuah handsfree? sepertinya tidak. karena selama perjalanan tidak terdengar sedikit pun si mbak berbicara dari earphonenya. tapi nanti dulu. karena duduk sendiri di belakang, aku mengambil posisi duduk di tengah. dari belakang terlihat beberapa kali si mbak memegang telepon pintarnya dengan dua tangan. awalnya kupikir dia sedang memilih lagu yang akan didengar lewat earphonenya. ternyata tidak.

sekali dua terlihat layar telepon pintarnya menunjukkan awarna merah. sekilas terlihat lambang path. kali berikutnya terlihat si mbak seperti sedang chatting. OH KAMBING SAYA [Oh My Goat!]. ini si mbak sedang songong ternyata. memang moibilnya matic. tidak perlu gonta ganti kopling. pantes saja, si mbak tertib berlalu lintas.

Gemes rasanya duduk di belakang sebagai penumpang. karena beberapa kali terlihat ada jarak cukup jauh dengan mobil di depan kami dalam jahanamnya kemacetan tol dalam kota. karena mobil si mbak bergerak sekian lama setelah mobil di depannya bergerak [bukan karena lama memindahkan perseneling tentu saja]. dan sepertinya si mbak menikmati sekali pembicaraan di perantinya. meski duduk di belakang, terlihat beberapa kali si mbak tersenyum sambil mengetik.

Maaf ya mbak. kelakuan mbak mungkin sama saja ancurnya dengan kemacetan tol dalam kota. kalau mbak sendiri di mobil itu, tiada yang akan peduli. tapi mbak tak peduli dengan keselamatan penumpang yang sedang mbak bawa.

20140427-103948.jpg

Sekilas mungkin orang akan mengira iklan di atas adalah iklan milik PT Astra International Tbk. Tak bisa disalahkan, karena menampilkan gambar Toyota Fortuner dan logo Toyota. Dilengkapi kalimat, ‘Menangkan Toyota New Fortuner’ dengan kalimat provokatif ‘Hanya 10 Hari !‘. Seolah pembaca ditawari kesempatan untuk memperoleh sebuah Toyota Fortuner sebagaimana gambar tertera. Caranya pun cukup ‘mudah [?]‘. Setiap pembaca yang dengan rumus yang mereka sediakan, memperoleh angka 399 berhak untuk ikut undian memperoleh Toyota Fortuner.

Namun coba perhatikan lagi rumus yang diberikan

1. Ambil tahun kelahiran, tambahkan dengan 385
2. Hasil hitungan pada angka 1 tambahkan dengan umur anda pada tahun 2014
3. Hasil perhitungan di angka 2, kurangi dengan angka 2000

Tahun berapapun pembaca lahir, hasilnya pasti 399!. Artinya semua berhak mengikuti undian yang mereka siapkan. Bahkan mereka yang baru lahir dua tahun lalu. Langkah selanjutnya adalah, mereka yang setelah menghitung tahun kelahiran memperoleh angka 399, dipersilahkan mengisi kupon undian [mereka menyebutnya Kupon Partisipasi]. Sebagaimana layaknya peserta undian, calon peserta akan diminta mengisi data personal. Seperti nama, alamat dan nomor kontak yang bisa dihubungi.

Tapi sebentar dulu, pada kupon tertera syarat dan ketentuan yang meski ditulis dengan huruf kapital,mberukuran cukup kecil. Butuh usaha untuk membacanya lengkap. Sampai di sini, diharapkan pembaca atau calon peserta berhati hati. Yang pertama, ternyata hadiahnya bukan dalam bentuk barang [Toyota Fortuner] sebagaimana disebut pada gambar iklan. Namun dalam bentuk uang tunai senilai Rp 399.000.000,- yang katanya seharga satu unit Toyota Fortuner 2,5 G M/T per Februari 2014. Begitu seterusnya untuk hadiah sesuai kategori pemenang.

Ternyata perhitungan dengan angka kelahiran sebagaimana disebut di atas, merupakan tahap pertama ‘PROMOSI‘ yang diselenggarakan oleh PT Gema Loka Optima ini. Jika peminat promosi memperoleh angka 399, maka padanya melekat hak untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu menyatakan diri bersedia menerima ‘Katalog dan Dokkumen informasi yang memuat syarat dan ketentuan lebih lanjut’. Tahap kedua adalah tahap yang harus diperhatikan lebih rinci. Karena peserta harus melakukan pemesanan produk dari katalog yang diterima, dan pemesanan sudah harus dibayar lunas.

Pemenang hadiah utama dan hadiah lain, ditentukan oleh penyelenggara berdasarkan nilai pembelian tertinggi dengan ketentuan tambahan. Jika terdapat produk yang ingin dikembalikan [retur] maka nilai pengembalian [refund] tidak akan diperhitungkan dalam menghitung jumlah pembelian. Jika terdapat lebih dari satu kandidat pemenang, maka penentuan pemenang dilakukan dengan cara melihat pada :
1. Penerimaan pelunasan terlebih dahulu
2. Tingkat loyalitas dan frekwensi pembelian
Pihak penyelenggara juga mengingatkan bahwa promosi ini bukanlah kontes, permainan ataupun undian. Karena tidak didasarkan pada peluang atau kesempatan.

Jadi jangan senang dulu karena anda mendapatkan nilai 399. Sebab belum tentu Fortuner didapat. Angka 399 hanya pintu masuk bagi anda untuk menyerahkan data pada mereka untuk selanjutnya dikirimi katalog. Setelah itu, jika ingin mendapat Fortuner, belanjalah sebanyak banyaknya pada mereka. Dengan harapan nilai pembelanjaannya adalah yang terbanyak diantara peserta lainnya yang datanya anda tidak akan pernah tahu.

Pembaca layak untuk berhati hati. Dengan memasang iklan seperempat halaman di harian Kompas, sepertinya penyelenggara berharap mendapat hasil pancingan yang cukup besar. Karena umpannya cukup mahal ;-)

Pemilihan anggota legislatif sudah usai. Hitung cepat sebagai metode untuk mengetahui pemenang, sudah dilakukan. Partai yang memperoleh suara terbanyak sudah terlihat. Hampir semua partai peserta pemilu tidak mendapat suara sebagaimana diprediksi. Banyak yang meradang. Banyak yang kecewa. Ada yang jumawa. Tak ketinggalan, ada yang tetap memperolok peroleh suara terbanyak. Lengkap dengan editan ala photoshop. #eehhh

Yang tidak memperoleh cukup suara untuk menduduki kursi empuk parlemen mulai meradang. Ada yang melakukan tindakan aneh. Sebagaimana diwartakan oleh media. Ada juga yang legawa. Bahkan calon petahana, ada beberapa yang tidak lolos. Konon katanya akibat rakyat menghukum mereka. Ya begitulah. Mungkin bukti rakyat semakin kritis atas kinerja mereka. Kalau memang slama ini tidak bekerja, buat apa dipilih lagi? Kasih keaempatana pada yang baru, begitu alasan sebagian pemilih selain mereka.

20140426-170258.jpg

20140426-170311.jpg

Setidaknya ada dua ‘pesohor’ yang secara terbuka mengemukakan kekecewaannya. Demokrasi mahal katanya. Pemilu curang, ujarnya. Bahkan ada yang lantang berkata, ‘Negara ini sudah hancur’. Entah apa maunya. Padahal partainya adalah partai yang dulu melakukan kecurangan sama. Ya begitulah. Kalau kalah, semua bersalah. Kalau menang, mungkin hanya dia dan keluarganya yang bekerja dan senang. Biarkan saja.

Aku sendiri berpendapat, sama sebenarnya. Pelan pelan negara ini sedang dihancurkan. Bukan oleh kekuatan asing. Atau kapitalisme, liberal dan entah apalah istilahnya. Yang disebutkan oleh mereka yang mencoba mencari muka, seolah melawan siapa saja yang berkuasa. Seolah hanya mereka yang paling benar saja. Terlepas dari dia paham atau enggak akan apa yang diucapkannya.

Menurutku, penghancuran dilakukan oleh mereka yang duduk di partai politik. Atas alasan kuasa semata. Berdalih demi kepentingan rakyat mereka mempreteli dasar negara. Beralasan bahwa mereka lebih mengerti kemauan rakyat, kuasa yang harusnya di tangan rakyat, diambil oleh mereka. Rakyat dipersilahkan menjadi penonton saja. Hanya dibutuhkan ketika pemilu saja. Setelah itu, partai yang berkuasa. Atas nama rakyat Indonesia, tapi entah yang di sebelah mana.

Partai politik mempersilahkan siapa saja mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Beberapa kasus, konon dengan modal yang tak sedikit. Mahar politik katanya. Tanpa seleksi yang cukup apakah sang calon memiliki kompetensi yang dibutuhkan menjadi anggota legislatif. Yang dibutuhkan hanyalahnketenaran semata. Mulailah mereka bermanis muka. Bahkan sebelum masanya. Peraturan yang ada mensyaratkan bahwa kampanye ada waktunya. Namun yang ada, tak cukup lama sebelum pemilu, mereka memampangkan muka. Di berbagai sudut kota dan desa. Berharap para pemilih tak akan lupa, ketika saat pencoblosan tiba.

Namun usaha beberapa diantara mereka sia sia. Tetap saja rakyat pemilih tak ingat mereka. Mungkin banyak rakyat yang memilih, hanya ingat siapa memberi apa atau senilai berapa. Selebih ya lupakan saja. Yang menyedihkan, pemilihan umum langsung model begini sudah berlangsung setidaknya tiga kali. Semakin kesini, partai peserta pemilu semakin sedikit sebenarnya. Namun tetap saja, rakyat tidak pernah diajari oleh mereka. Sayang sebenarnya. Mereka berkicau miring setelah mereka kalah.

20140329-183927.jpg

Berkat menang kuis di @iradiojakarata, berkesempatan menonton The Raid 2 : Berandal. Film yang oleh beberapa kritikus dipuji. Setidaknya kalau membaca ulasan di Tempo dan Rolling Stone Indonesia [RSI] Juga di situs IMDB mendapat nilai 8.8. Sebuah nilai yang cukup tinggi, mengingat pemborong Oscar 12 Years of Slave saja per 29 Maret hanya memeroleh angka 8.3. Sedemikian beguskah? Entahlah. Aku bukan kritikus film.

Cerita, sebagaimana biasa film laga, masih berkisar pada balas dendam. Antara tokoh protagonis dan antagonis. Sebagaimana ditulis oleh Leila S. Chudori, meski ini film Indonesia [dengan sutradara asing] mari menganggap adegan dan lokasi film ini terjadi di negeri antah berantah. Mungkin maksudnya, bukan di Indonesia apalagi di Jakarta. Tentang seorang polisi [Rama-Iko Uwais] yang konon, ingin membalas dendam atas kematian abangnya, kemudian dimanfaatkan oleh polisi lain [Bunawar-Cok Simbara] yang ingin membongkar kebusukan polisi lain lagi [Reza-Roy Marten].

Pemanfaatan dilakukan melalui ‘menanam’ Rama ke dalam geng [lokal?] Bangun yang sedang berbaik baik dengan geng Jepang. Dua geng penguasa kota. Eits. Katanya antah berantah, tapi Bangun menyebut Menteng dan Sabang sebagai wilayah yang bisa dibagi ke geng Jepang. Untuk penonton indonesia, kedua nama tempat itu sudah merujuk ke Jakarta. Baiklah. Mari menganggap di kota entah berantah pun ada dua kawasan itu.

Buatku, jualan film ini hanyalah cerita yang lumayan apik [dengan metode kilas balik di awal cerita] serta adegan laga yang rapi. Meski terkadang adegan laganya terlalu vulgar, kalau tidak mau dikatakan sadis. Kesadisannya meniru adegan laga di The Man With Iron Fists atau mungkin adegan beberapa film besutan Quentin Tarantino. Kesadisan yang tidak perlu dipertontonkan dengan darah memuncrat. Berdasarkan data yang dikutip majalah Rolling Stone Indonesia, sepanjang pembuatan film ada 800 liter ‘darah’ yang ‘tercecer’. Mungkin setara dengan hasil donor darah 2.000 an pendonor :-).

Beberapa adegan tergolong lebay. Menurutku tidak perlu. Ambil contoh ketika Rama sedang di toilet dan segera mendapat serangan dari puluhan napi. Adegan jatuhnya baut pintu kalau dihilangkan pun tidak menghilangkan esensi bahwa dia akan dikeroyok oleh puluhan napi lain. Namun sepertinya adegan slow motion menjadi andalan sutradara untuk lebih menonjolkan sisi dramatis. Sama seperti adegan slow motion beberapa orang yang akan mengerjai Rama di penjara saat hujan. Adegan laga di lumpur yang dipuji. Namun, meskipun menghajar puluhan orang [napi dan petugas penjara] bahkan sebagian mungkin terbunuh, dalam dua tahun Rama telah keluar dari penjara. Untuk soal ini, sepertinya penonton memang harus mengasumsikan bahwa penjaranya adalah di Indonesia. Salah satu penjara [peradilan] paling manusiawi di dunia :-D

Adegan lebay lain adalah ketika Rama menyelipkan alat penyadap ke dompet Ucok [Arifin Putra]. Dengan ukuran alat yang sebesar ujung jempol orang dewasa, Ucok baru menyadari ada alat itu di dompetnya setelah berapa lama. Yeah. Mungkin karena seorang kaya raya, Ucok tidak perlu sering mengeluarkan dompet. Sehingga dia sadarnya setelah beberapa hari saja.

Entah dengan tujuan apa, sutradara juga mengundang beberapa bintang veteran bermain di film ini. Mulai dari Cok Simbara, Roy Marten, Henky Solaiman, hingga Pong Hardjatmo. Nama terakhir, malah hanya muncul satu scene saja. Roy Martin lebih beruntung darinya. Satu hal terkait aktor gaek tersebut, koq rasanya janggal mendengar dialog yang diucapkan oleh Cok Simbara ber “loe” “gua”. Mungkin akan lebih terlihat tegas sebagai polisi, jika Cok Simbara dibiarkan menggunakan istilah “aku” atau “kau” untuk menggantikan “loe” dan “gua”.

Adegan yang aneh lagi adalah ketika Prakoso [Yayan Ruhian] dihabisi. Diawali oleh adegan ruang diskotik dengan musik menghentak, mendadak sepi karena ternyata ada serangan puluhan orang terhadapnya. Ah, mungkin maksudnya antara suasana berdentam dengan pengeroyokan itu, harusnya dipisahkan oleh jarak beberapa bulan/musim. Terbukti ketika perkelahian bergeser keluar ruang diskotik, di luar telah turun salju! Dan di sinilah Prakoso yang gagah perkasa itu [menghabisi puluhan orang sebelumnya] sadar bahwa jatah pemunculannya di film telah habis. Begitu menghabisi pengeroyok terakhir, dan melihat The Assassin [Cecep Arif Rahman] menunggu di seberang jalan, dia langsung mengambil foto putrinya untuk dilihat terakhir kali. Untuk kemudian menyerahkan diri kepada The Assassin. Dalam beberapa jurus, Prakoso telah bersimbah darah. Tanpa Perlawanan. Plis deh! Eits tunggu dulu, adegan darah mengalir di salju itu yang dishooting dari atas, tampak dramatis. Oalah! Itu toh tujuan saljunya. Bukan karena yang lain?. #AihMateeek

Eh, tunggu dulu. Mungkin memang si The Assassin ini sedemikian digdayanya. Terbukti ketika bertemu dengan Rama di kantor Bangun, hanya dengan beberapa jurus, si Rama jagoan kita rebah tak berdaya. Gak bisa bangun lagi bro! Akhirnya dia dibawa bermobil dengan dikawal empat orang. Eka [Oka Antara] ajudan Bangun yang disuruh menyelamatkan diri oleh Rama, datang membantu dengan mengebut! Padahal satu kakinya baru tertembak. Oh iya lupa. Mobilnya matic. Kalau dilihat dari lokasi kejar kejaran, sepertinya dimulai dari bypass Ahmad Yani, dilanjut ke kawasan SCBD, menuju Kemayoran, dan berakhir di SCBD. Sebuah kejar kejaran yang lumayan panjang rutenya. Ups. Kita sedang di negeri antah berantah.

Tapi rebah dan tak berdayanya Rama, menurutku memang disengaja [bagian dari skenario] agar terjadi adegan kejar kejaran dengan rute terpanjang tadi. Karena ternyata setelah itu, Rama mampu bertarung dengan durasi lumayan panjang melawan The Assassin. Dan tentu saja dimenangkan oleh Rama sang jagoan. Ketika berakhir, penonton bertepuk tangan. Ketika itu aku merasa sedang menonton misbar. Padahal nontonnya di Blitz Megaplex di Grand Indonesia. Kalau melihat staminanya, mungkin memang Rama pantas disejajarkan dengan John McClane di serial Die Hard. Mungkin karena itu disebut kualitas Hollywood. Kalau tidak melihat credit title, tadinya kupikir sutradaranya orang Indonesia.

Guru Besar Tata Negara Yusril Ihza Mahendra, dalam sebuah episode Indonesia Lawyer Club pernah berkata bahwa dalam mengajukan gugatan pada Mahkamah Konstitusi, beliau tidak perlu membawa banyak ahli hukum. Menurutnya, apa yang perlu dibawa cukuplah seorang ahli Bahasa Indonesia/Melayu. Menurutku, hal tersebut dilakukan, karena seringkali di persidangan yang terjadi bukan lagi debat mengenai semata soal hukum. Namun lebih kepada bagaimana memaknai kalimat dalam Undang Undang yang sedang diuji.

Kalau dipikir ada benarnya. Seringkali sebuah peraturan dimaknai berbeda oleh lebih dari seorang ahli hukum. Mungkin itu sebabnya ada kalimat yang menyatakan kurang lebih, “dalam diskusi dua orang ahli hukum, maka terdapat kemungkinan muncul tiga pendapat” (dengan segala hormat kepada para ahli hukum). Perdebatan, seringkali terjadi ketika para ahli hukum memaknai berbeda atas kalimat yang terdapat pada sebuah peraturan.

Bekerja pada sebuah institusi yang diserahi fungsi sebagai regulator, membuatku terbiasa menghadapi kalimat-kalimat hukum. Hal tersebut mau tidak mau harus dilakoni karena kami memiliki tugas untuk membuat peraturan dan memastikan peraturan tersebut dapat dijalankan serta dipatuhi oleh pihak yang diatur. Bukan saja harus mengenai peraturan yang kami buat sendiri. Juga peraturan lain yang terkait dengan pihak yang kami atur. Sering perbedaan pendapat terjadi ketika memaknai Ketentuan pada level undang undang yang dibuat oleh Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Salah satu undang undang yang terkait adalah Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Pasal 72 ayat (1) UUPT mengatur bahwa, Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan. Pasal ini terhitung cukup sering dimaknai berbeda. Kami memaknai begini, pihak yang diatur memaknai begitu. Bertolak belakang tergantung pada sudut pandang.

Menurutku, kalimat pada pasal tersebut haruslah dibaca sebagai dua klausa. Klausa pertama “Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir” sementara klausa kedua “sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sehingga dengan demikian, memaknainya haruslah bahwa “pembagian dividen interim dilakukan pada tahun yang sama dengan tahun buku yang mendasari pembagian dividen interim”. Ribet? Itulah bahasa hukum.

Sebagai contoh, dividen interim tahun buku 2013 misalnya, haruslah dibagikan pada tahun 2013. Rentang waktu pembagiannya dimulai sejak tanggal 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013. Sebab apabila dibagikan pada Januari 2014 apalagi setelahnya, sudah tidak sesuai dengan klausula “sebelum tahun buku berakhir”. Karena tahun buku berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 (dengan asumsi, tahun buku dimulai sejak 1 Januari 2013 dan berakhir 31 Desember 2013).

Masalah apakah dividen interim dapat dibagikan pada rentang waktu tersebut, harus mengacu pada klausa terakhir, “Sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sebab jika hal tersebut tidak diatur pada anggaran dasar, maka pembagian dividen interim tahun buku 2013 (meskipun dibagikan dalam rentang waktu 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013) tidak dapat dilakukan.

Untuk skala yang lebih kecil adalah apa yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Awal tahun, Perusahaan telah menetapkan penggunaan dua jenis seragam yang kami punya dengan ketentuan, “seragam merah digunakan pada Jumat minggu kedua. Sementara seragam biru digunakan pada Jumat minggu keempat”. Hari Kamis sore terdapat diskusi (yang pasti dimulai dengan kebingungan) mengenai hal tersebut. Apakah pada hari Jumat tanggal 7 Februari 2013, adalah jadwal pemakaian seragam merah?

Menurutku, kebingungan dimulai dari kalimat “Jumat minggu kedua”. Mencoba memaknai bahasanya, berbekal pengalaman sebagaimana aku tulis di atas, aku mencoba melirik pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

MingĀ·gu 1 hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; 2 (ditulis dengan huruf kecil) jangka waktu yang lamanya tujuh hari

Yang menyatakan bahwa tanggal 7 Februari adalah jadwal pemakaian seragam, melihat bahwa rentang waktu tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014, merupakan minggu kedua Februari. Karena meskipun tanggal 1 Februari 2014 jatuh di hari Sabtu, menurutnya cukup untuk menyatakan bahwa itu merupakan satu minggu. Padahal jika mengacu pada apa yang dinyatakan oleh KBBI di atas, pemakaian seragam pada bulan Februari 2014, haruslah dilakukan pada tanggal 14 Februari. Bukan pada tanggal 7 Februari. Karena waktu seminggu sebagaimana disebutkan dalam peraturan, baru tercapai pada rentang waktu sejak tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014. Demikian seterusnya sampai akhir bulan.

Namun, ternyata Jika konsisten dengan ketentuan tujuh hari dalam seminggu, tidak terlalu lama akan terjadi kebingungan baru. Bahkan ketika bulan Februari belum selesai. Karena ternyata tidak ada minggu keempat pada bulan Februari 2014. Karena ketentuan satu minggu terdiri dari tujuh hari tidak terpenuhi pada rentang tanggal 23 sampai 28 Februari. Meskipun pada rentang waktu tersebut terdapat satu hari Jumat di tanggal 28 Februari. Lantas kalau begini, harusnya seragam warna biru tidak akan pernah digunakan pada Bulan Februari :-)

Aku pikir, seandainya kata “Jumat minggu kedua” diganti menjadi “Jumat kedua”, “Jumat ketiga” dan seterusnya, mungkin kebingungan itu tidak akan terjadi. Atau malah berpotensi masalah lagi di bulan selanjutnya? #ah…sudahlaaaah…

Dia duduk di sebelahku. Di Kursi 44C penerbangan Garuda GA323 dari Juanda menuju Soekarno Hatta. Kalau dilihat dari cara makannya, harusnya beliau seorang terpelajar. Setidaknya menurutku.

Bagaimana tidak. Dalam penerbangan berjarak pendek ini, yang dibagikan hanya snack. Bapak berkemeja batik ini merasa perlu untuk melebarkan tissue kertas yang ada di kotak snack untuk kemudian diletakkan di pangkuannya. Barulah beliau menyantap dua roti dan meminum air putih yang disediakan.

Berbeda dengan aku yang langsung makan aja snack tersebut. Tanpa peduli ada tata cara makan terhormat (table manner) :-D. Sikap santun si bapak masih dilanjutkan dengan mengantar sendiri kotak snack yang kosong ke belakang. Ke stasiun kru pesawat. Mungkin bukan sengaja mengantar. Bisa jadi sekalian ke kamar kecil. Tapi kalau dilihat sekilas, amboi sekali sikap itu.

Namun jangan langsung percaya dengan adegan yang aku gambarkan tersebut. Meski menumpang maskapai mahal, kelakuannya tetap minus. Pesawat baru berhenti, beliau dengan gagahnya langsung berdiri. Mengambil dua tas di kabin. Kemudian dengan sikap sempurna, bengong menunggu dalam antrian. Di belakang penumpang lain yang akhirnya bersikap sama. Karena memang belum bisa keluar. Garbarata baru akan dilekatkan ke pintu depan.

Oke. Itu belum seberapa. Yang paling norak adalah blackberrynya yang menggunakan casing tambahan dari karet berwarna kuning ala abege, tidak dimatikan sepanjang perjalanan. Aku tahu, mungkin sinyalnya tidak terlalu mengganggu penerbangan sebenarnya. Namun sikap noraknya telah membuyarkan segala sikap (termasuk table manner yang mungkin untuk memelajarinya di sekolah sekolah pengembangan kepribadian butuh biaya yang tidak sedikit. KAMPUNGAN

20140129-095155.jpg

Faaaaak!! Entah sudah berapa kali mbaknya yang duduk persis di depanku ini menguap.

Sejak dari Jatibening tadi. Awalnya masih sopan. Dan tak mengganggu. Mulutnya masih ditutup masker. Semakin kesini, semakin gak sopan. Mangap begitu saja tanpa masker. Kadang diarahkan ke sebelah kanan dia. Mengarah ke depan. Kadang ke sebelah kiri dia. Mengarah ke belakang. Yang bikin sebel adalah ketika tidak ke kiri atau ke kanan. Ke depan. Siapa lagi yang beruntung kalau bukan aku yang duduk di seberang?

Duduk di bagian belakang omprengan kijang, yang duduk berjarak dekatan. Wajah hanya dipisah jarak kurang lebih 50 centimeter. Bisa kalian bayangkan? Bisa kalian pahami kalau rasanya mau menyumpel mulutnya?

Pengen bicara langsung, meski hanya berisi enam orang di sisi belakang, tetap saja kurasa tak elok. Pengen ditahankan, itu tadi, rasanya pengen nonjok! Padahal pagi ini Jakarta sedang macet parah. Dari pukul 06.15 tadi pagi, jam 09.00 masih di tol dalam kota arah Semanggi. Sepertinya perjalanan masih jauh :-(

Lama mencari akal bagaimana caranya biar dia mengerti!

Akhirnya setiap kali menguap terbuka, aku tutup hidung secara atraktif. Maksudnya sedemikian rupa sehingga dia melihat dan merasa. Untunglah. Sepertinya dia merasa. Mulut ditutup masker lagi.

Ngomong ngomong, aku harus selesaikan tulisan ini. Biar kalau dia menguap dan mangap bukan ke kiri atau ke kanan lagi, aku bisa menutup hidung. Udah dulu ya…

Untuk mengurai kemacetan, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebagai pengelola jalan tol kerap melakukan modifikasi pada ruas tol yang dikelolanya. Entah itu menambah lajur, menambah pintu (pengutip tol) atau bahkan atau menggesernya. Bisa juga gabungan beberapa alternatif.

Sejak beberapa waktu lalu, penggeseran dilakukan untuk pintu masuk Jakarta. Pada ruas Jakarta – Cikampek misalnya. Pintu yang tadinya di sekitar Jatibening ditarik ke arah Cikarang. Ruas Jakarta – Bogor, ditarik ke Cibubur dari semula di seputar Taman Mini. Sebaliknya dari arah Bogor, pintu tol yang arah Jakarta dibuat miring di Cimanggis. Kurang tahu pasti apakah ada studi sebelumnya, atau evaluasi setelahnya ketika Jasa Marga menerapkan ini.

Itu juga yang terjadi di tol Jakarta – Cikampek arah ke Jakarta. Sebelum pintu tol Halim, lajur sebelah kiri ditambah. Demikian juga lajur sebelah kanan. Penambahan lajur diikuti dengan penambahan gerbang tol. Penambahan bukan dilakukan memanjang tapi menjadi berlapis. Gerbang baru diberi nama Halim 2 untuk yang di sebelah kiri.

Penambahan gerbang ini ternyata mengubah perilaku pengendara mobil yang melintas. Penyusunan gerbang tol yang berlapis, mengakibatkan munculnya efek leher botol. Penyempitan ruas yang dialami mereka yang membayar di Halim 1.

Melambatnya kendaraan akibat efek leher botol ini bukan hanya dialami satu kali. Jarak gerbang tol Halim yang tidak terlalu jauh dengan percabangan tol menuju Grogol dan Tanjung Priok juga ternyata menambah macet. Seringkali akibat melambatnya kendaraan yang menuju Priok, berakibat ke belakangnya. Macet yang dialami pengemudi setelah membayar di Halim 1 pun sepertinya menjadi trauma. Hal tersebut membuat mereka berlomba lomba mengumbar nafsu untuk masuk ke aah Grogol.

Kalau sudah begini, mau gak mau efek leher botol terulang lagi. Bukan karena jalanan menyempit, namun karena nafsu pengemudi yang tidak tertib. Bukan saja dilakukan oleh bis (kendaraan umum) seringkali dilakukan oleh pengemudi mobil yang harganya cukup mahal :-p.

Mungkin dengan niat menghindari dua kali kena efek leher botol itu, akhirnya banyak pengemudi yang melakukan zigzag sebelum tiba di gerbang Halim. Ketika dari arah Bekasi mereka akan mengambil lajur kanan, menghindari antrian panjang keluar UKI/Cawang. Namun begitu mendekat gerbang Halim, mereka akan ambil kiri untuk berlomba masuk gerbang Halim 2. Sedemekian tingginya nafsu itu, hingga ada beberapa pengemudi yang seperti frustasi sebagaimana terlihat pada pagi, 24 Januari 2014. AMPUN!

20140124-074307.jpg

20140120-084000.jpg

Beginilah suasana Senin pagi di gerbang masuk Vila Jatibening Tol. Tempat yang entah sudah berapa lama menjadi ‘terminal bayangan’ bagi pekerja yang bermukim di sekitar Jatibening, hendak berangkat ke Jakarta. Aku pakai istilah ‘Terminal Bayangan’ karena yang mangkal di sana bukanlah angkutan umum resmi.

Disebut angkutan umum, karena mengangkut banyak orang. Kenapa tidak resmi, karena memang bukan angkutan umum sebagaimana diatur oleh ketentuan. Biasanya angkutan umum berplat nomor polisi kuning. Kalau yang mangkal di sini, plat nomor polisi hitam. Ya. Sepertinya memang kendaraan pribadi yang dijadikan kendaraan umum. Mereka ini biasa disebut omprengan. Entah bagaimana asal mulanya. Sejak 15 tahun lalu aku bermukim di Bekasi dan bekerja di kawasan Sudirman Jakarta, sudah demikian adanya.

Mungkin dulu diawali oleh satu dua kendaraan saja. Mungkin juga diawali oleh kendaraan antar jemput anak sekolah yang ingin mendapat penghasilan tambahan. Karena dulu ada beberapa kendaraan tempat duduknya sudah direnovasi layaknya angkot. Sekarang, kendaraan seperti itu sudah tak ada. Digantikan jenis kendaraan minibus seperti Luxio atau GrandMax.

Tujuannya beragam. Setidaknya ada yang ke Blok M, Kuningan, atau Thamrin. Dulu ada yang ke arah Grogol. Sekarang tak terdengar lagi. Yang ke arah Blok M pun, sepertinya tujuannya sudah dikurangi. Kalau dulu mencapai Blok M. Sekarang hanya sampai Ratu Plaza. Biasanya kendaraan rute inilah yang aku tumpangi. Silahkan naik yang arah Komdak Ratu dengan tarif 13 ribu. Daripada berkendara sendiri, sepertinya pilihan yang logis.

Penumpang berasal dari sekitar Jatibening. Biasanya moda pemadunya adalah ojek atau diantar oleh keluarga. Turun dari ojek, calon penumpang langsung menuju mobil yang sudah ditempatkan sesuai dengan tujuan masing masing. Setidaknya terdapat dua petugas yang mengatur mobil mobil itu. Mirip seperti ‘timer’ di terminal resmi. Setiap satu mobil penuh dan siap jalan, kepada dua timer ini, pengemudi menyerahkan sejumlah uang. Kurang tahu persis jumlahnya. Kalau dulu, ketika dengan Daihatsu Ceria yang kecil itu, aku pernah berpartisipasi, aku menyerahkan 3 ribu kalau tidak salah. Untuk empat penumpang yang aku bawa.

Soal kenyamanan, jangan ditanya. Sama seperti di kendaraan umum Jakarta pada umumnya. Bedanya dengan berkendara bis, omprengan tak mengenal penumpang berdiri. Namun setidaknya ada beberapa kasta dalam omprengan ini. Paling depan yang biasa diisi dua penumpang, boleh diisi sendiri. Dengan catatan bayar dua. Di tengah yang biasanya bisa diisi dengan empat orang, boleh diisi dengan tiga orang saja. Dengan catatan, ketiga orang ini sepakat bahwa bayaran mereka bertiga sudah menutup satu orang penumpang. Jadi jika biasanya seorang bayar 13 ribu, demi nyaman mereka bolehlah membayar masing masing 17-18 ribu.

Paling belakang adalah ‘kasta’ terendah. Biasanya diisi dengan enam orang. Tidak peduli Luxio, Kijang atau Panther (dengan tempat duduk miring berhadapan). Mungkin jika penumpang sedang sepi dan ada penumpang yang sedang buru buru, di sini juga bisa diakali. Seorang akan bayar dua seat, agar mobil segera jalan.

Itulah yang tidak terjadi Senin pagi ini. Tiba di lokasi sekitar jam setengah tujuh, tidak ada mobil yang sedang ngetem. Suatu yang tak biasa. Jadilah aku mengantri. Bersama penumpang lainnya. Jika sudah begini, perjuangan dimulai. Setiap ada kendaraan yang masuk (biasanya jenis mobil sebagaimana aku sebut di atas) para penumpang ini akan berebutan untuk masuk. Kadang, bahkan ketika mobil belum berhenti sempurna. Perjuangan menunggu mobil ini, diganggu dengan turunnya hujan. Beruntung ada rimbunan bambu yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh.

Sama seperti terminal bayangan yang ada setelah pintu bayar tol Jatibening arah Jakarta, menurutku ini salah satu problem mereka yang tinggal di sekitar Jatibening. Sulitnya kendaraan umum. Mau menggunakan KRL, jaraknya terlalu jauh mencapai stasiun. Mau menggunakan bis pun sama saja. Mereka harus ke Bekasi dulu untuk mecapai terminal bis. Menggunakan angkot ke melalui Kalimalang, tidak cukup akses kesana. Pun butuh kesabaran sendiri melintasi kalimalang. Menggunakan kendaraan sendiri, sudah macet, masih juga dikatain sebagai penyebab kemacetan :p.

Mau gak mau dinikmati saja. Sementara dari informasi yang terkumpul sambil menulis tulisan ini, tol Cikampek/Bekasi menuju Jakarta katanya stuck. Ada yang menepuh dua jam dari Bekasi hingga tol Halim. Yang mungkin ketika hari biasa ditempuh paling lama dalam satu jam.

Mau menyalahkan Jokowi? Menyalahkan Aher? Enggaklah. Ini selalu salah yang kena macet. Kenapa gak berangkat lebih pagi? Hahahaha