“She said there is no reason
And the truth is plain to see”
#A Whiter Shade Of Pale

Procol Harum, Scorpion, Led Zeppelin, dan group (pelantun lagu slow) rock era 70an. Teringat kembali ketika siang ini aku disambangi oleh seorang Tulang. Tulang sapaan kepada saudara lelaki ibu. Tulang ini, dan adiknya yang mengenalkanku pada group di atas. Ketika masih kecil dulu, mereka sering main ke rumah di Medan.

Kebetulan beliau sedang ada urusan di gedung yang sama dimana aku bekerja. Sejak pagi selesai mandi, beliau sudah menelepon. Katanya sudah di gedung ini. Sesampai di aku di kantor, beliau sedang tidak bisa bertemu. Sepertinya sedang mengurus sesuatu di menara satu lagi.

Sekitar jam 11 beliau menelepon lagi. Katanya urusannya sudah selesai dan ingin bertemu. Aku tanya ada di mana, di kantn jawabnya. Dugaan awalku beliau ada di kantin milik koperasi karyawan kantorku. Ternyata di kantin satu lagi. Yang letaknya satu lantai di bawah kantin yang aku maksud.

Aku samperin dia. Karena ketika aku ajak bertemu di cafe dimana aku biasa nongkrong ketika istirahat siang, dia bilang gak paham letaknya dimana. Akhirnya aku ajak ke cafe yang lebih sejuk. Lebih nyaman karena berpendingin udara. Aku tawari makan. Kami makan bersama. Juga merokok bersama setelahnya.

Sedih melihat kondisinya sekarang, dibanding ketika aku pertama kali datang ke ibukota negara ini. Ketika aku samperin dia di kontrakannya waktu itu. Badannya yang semakin kurus. Dada sudah seperti papan cucian, kalau istilah mama. Tapi apa mau dikata. Mungkin memang karena sudah semakin tua. Juga, memang sejak dahulu tak berbakat gemuk. Sejak dahulu memang makannya tak banyak. Roti isi yang aku pesankan buatnya pun tersisa setengah. Hanya the tarik dingin yang dihabiskannya.

Dulu kami menyapanya dengan sebutan Tulang Bos. Karena menurut kami waktu itu lagaknya seperti bos. Bukan dalam arti ngebossy. Lebih kepada penampilan saja. Bayangkan saja dia masuk ke rumah dengan tetap bersepatu. Berkemeja mahal, dan selalu wangi. Rokok sudah Dji Sam Soe. Kalau tiba waktunya mandi, tak pernah langsung mandi. Setelah mengambil handuk, masih butuh berapa lama untuk beliau masuk kamar mandi.

Kuliahnya sudah di Jayabaya. Ya, di Jakarta. Kami masih di Medan. Bekerja dan akhirnya menikah di Jakarta. Kami bere (ponakannya) akan senang jika Tulang Bos sudah datang berlibur ke Medan. Jauh sebelumnya, aku ingat, beliau lah yang mengenalkanku dengan LEGO. Ketika masih di Kabanjahe (sebelum pindah ke Medan) beliau mengirimkan seperangkat mainan lego buatku dan adik adik. Mundur lebih jauh lagi, aku ingat ketika berlibur ke Balige tempat Ompung Siahaan menetap, dan beliau masih bersekolah di kampung. Setiap sore, beliau bertugas menyalakan lampu gas. Agar rumah Ompung terang malam hari. Karena waktu itu, listrik belum ada di Huta Bagasan II, nama kampung Ompung.

Tulang Bos ini pulalah yang dulu marah padaku, ketika tahu aku mengambil jurusan manajemen. Kenapa tidak akuntansi, tanyanya. Delapan belas tahun lalu ketika datang ke kontrakannya di daerah Cempaka Putih, beliau memberiku sun glass RayBan. Memberi sebuah Zippo. Zipponya sudah entah kemana, sun glass masih ada hingga kini. Dia memang baik pada kami berenya. Mungkin itu sebabnya setiap kali aku tahu beliau butuh bantuan, aku tak berpikir lama untuk membantu. Dengan beragam cara. Mungkin tak mewah, pun tak terkesan royal. Namun aku yakin apa yang kulakukan bisa menyelesaikan kesulitan yang dialami.

Kami mengobrolkan apa saja. Tentu saja soal keluarga. Keluarga dari pihak mama. Soal adik adikku. Adik dan kakaknya termasuk mamaku. Mungkin tak banyak yang kami obrolkan. Namun mengingat bahwa pertemuan kami jarang terjadi (karena beliau bertugas di offshore), pertemuan sebentar itu terasa berharga. Dan dalam peretmuan singkat itu, kenangan akan apa yang aku alami, melintas seperti flash back film.

Merasa tak enak karena sudah mencuri waktu kerjaku, beliau mohon pamit. “Mari dulu uangmu seratus buat ongkos” katanya. Aku tertawa menjawabnya sambil membari lebih dari jumlah yang dimintanya. Mungkin tak terlalu banyak. Namun aku gembira bisa bernuat sesuatu padanya selama kurang dari dua jam kami berbincang.

Sehat terus ya Tulang Bos! We love you!

“Apakah kekerasan sudah menjadi budaya bangsa ini?”

Pertanyaan itu terngiang sejak malam minggu kemarin. Sejak Om Didi Petet menanyakannya saat melakukan analisa atas film pendek yang dihasilkan oleh Sineas Dadakan. Disebut Sineas Dadakan, karena mereka yang sehari harinya terbiasa menangani transaksi bursa, dalam waktu kurang dari 24 jam harus memproduksi film pendek.

Mereka yang terbiasa dengan istilah margin trading, indeks harga saham, kliring penjaminan, kustodian, tindakan korporasi, mendadak harus paham dengan istilah scene, take, action, camera roll, dan seterusnya. Mereka yang terbiasa menghadapi komputer, investment bank, transaksi perbankan, harus memahami sudut pengambilan gambar, wajah belepotan tata rias, hingga berguling guling di tanah.

Dilihat dari proses pengerjaan tugas yang dibebankan, sbenarnya tidak ada yang salah. Tugas membuat film pendek, dimulai dari tema Menaklukkan Dunia. Dihubungkan dengan perlengkapan yang yang disediakan dalam mengerjakan tugas, mau tidak mau mewakili kekerasan. Benda semacam pedang, pisau, toya, double stick, hingga pistol dan senapan (meski dalam bentuk mainan).

Mungkin Om Didi Petet bisa memberi argumen dengan dibantu kisah pedasnya cinta yang dibacakannya ketika memberi ulasan. Namun para penerima tugas pun bisa membalas argumen tersebut bahwa waktu yang disediakan serba terbatas untuk mencari makna lain selain kekerasan, untuk menggambarkan proses penaklukan.

Mereka yang menerima tugas, tidak bisa dikatakan akrab dengan kekerasan dalam kehidupan kesehariannya. Mungkin kata ‘tegas’ lebih pas untuk menggambarkannya. Karena mereka semua berasal dari institusi yang bertugas mengatur. Ketegasan dibutuhkan. Apabila kekerasan yang akrab dengan mereka, terbayang bagaimana proses pengaturan yang mereka jalani sehari hari. Pasti akan rame.

Jika dikatakan ketegasan yang dilakoni sehari hari yang menjadi semata dasar pengerjaan tugas, ternyata juga tak terlalu terlihat. Karena ternyata, beberapa hasil kerja memunculkan selain ketegasan. Ada beberapa humor di sana. Yang kalau dihubungkan dengan ketegasan pasti tidak nyambung.

Aku lebih cenderung melihat dari proses yang dijalani oleh penerima tugas. Bagaimana Teamwork, Integrity, Profesionalisme dan Service Excelence (dengan segala hormat kepada dua institusi lain) dijalani dan diamalkan dalam pengerjaan tugas. Bagaimana seluruh anggota kelompok terlibat proses. Sekecil apapun itu. Bagaimana mereka bekerja sungguh sungguh menyelesaikan tugas yang dibebankan (mungkin termasuk mempermalukan diri sendiri…yeah..you know who..ya..gw salah satunya mungkin). Dan seterusnya.

Bukan. Tulisan ini bukan dalam rangka menggugat hasil analisa om Didi Petet. Karena menurutku, tanggapan itu wajar jika hanya melihat hasil akhir. Tulisan ini hanya mencoba mengapresiasi apa yang sudah dilakukan penerima tugas. Dalam waktu kurang dari 24 jam, menghasilkan film tak lebih dari 5 menit. Untuk dinikmati/ditonton bersama. Untuk ditertawakan bersama mungkin. Untuk dijadikan kenangan satu saat kelak. Bahwa mereka yang menjadi bagian dari industri pasar modal, merasakan suasana yang dialami mereka yang menjadi bagian indsustri perfilman.

Bahwa apa yang sering disebut sebagai outbond, ternyata bukan sekadar aktivitas luar ruang semacam arung jeram, menyeberang tali, folding karpet, time bomb dan seterusnya.

Teringat pepatah Jerman yang sering diulang oleh seorang penetua gereja dalam setiap wejangannya.Katanya Übung macht den Meister. Artinya dalam bahasa Inggris, “practice makes the master” atau “practicing makes one a master” latihan membuat seseorang menjadi ahli.

Wejangan tersebut disampaikan pada kami sebagai generasi muda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan gereja. Wadah generasi muda seperti kami berlatih berorganisasi, berbicara di depan umum, bahkan sampai menyelenggarakan beragam kegiatan. Tentu saja yang berhubungan dengan gereja.

Meski berhubungan dengan gereja, tidak banyak perbedaan organisasi kami dengan organisasi lain. Karena bentuk dan kegiatannya secara umum sama. Ada ketua, sekretaris, bendahara dan seterusnya. Untuk sebuah kegiatan, dibentuk unit kecil lagi yang menangani kegiatan spesifik. Selama kurang lebih enam tahun, aku bergabung di organisasi itu. Banyak yang aku pelajari.

Pelajaran yang kudapat dalam waktu singkat itu, sedikit banyak membantu ketika harus bekerja sebagai karyawan. Ragam seksi aku jalanin. Pernah jadi ketua, sekretaris bendahara. Pernah bekerja langsung, pernah mengorganisasi, juga pernah mengkoordinasi. Tanpa perlu menggunakan istilah asing semacam Project Manager, general support dan seterusnya. Nama hanyalah sebutan. Yang terpenting adalah deskripsi pekerjaan. Dan bagaimana semuanya bahu membahu mencapai tujuan organisasi.

Berdasar pengalaman personal tersebut, beberapa kali terlibat dalam proses rekrutment calon karyawan, aku selalu mencari tahu apakah calon karyawan tersebut memiliki latar belakang organisasi. Apapun bentuknya. Karena menurutku, mereka yang terbiasa ikut organisasi, pasti terbiasa berinteraksi dengan orang banyak. Mungkin terbiasa menghadapi beragam masalah dan kemudian mencari solusinya. Hal tersebut menjadi penting mengingat dunia kerja terkait dengan dua hal itu.

Pada akhirnya, aku harus menghadapi situasi ketika mereka yang mengaku pernah terlibat sebuah organisasi, apalagi didapuk sebagai project manager, namun kenyataannya bekerja dan interaksinya cukup memprihatinkan. Ingatan kembali pada epatah Jerman tersebut. Namun dengan tambahan kalimat penghibur, mungkin dulu latihan tersebut tidak dijalani dengan benar. Atau mungkin posisi tersebut hanya sebagai label, tanpa deskripsi pekerjaan yang cukup jelas.

Aku lupa persisnya kapan mulai menyukainya. Yang aku tahu, aku suka minum karena dulu bapak juga peminumnya. Kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang. Yang aku maksud, minum kopi.

Kurang pas rasanya jika memulai hari tanpa terlebih dahulu meminum kopi. Mungkin memang salah. Karena seringkali aku mendahulukan kopi daripada meminum air putih. Mungkin sehari bisa sampai lebih dari tiga cangkir. Dimulai pagi hari, siang dan malam.

Malam juga? Iya! Dan kebiasaan itu entah kenapa tidak memengaruhi jadwal tidurku. Meski malam hari meminum kopi, tidak serta merta membuatku kesulitan tidur. Ketika kantuk datang, aku tertidur kurang dari pukul 12 malam yang mungkin jadi batas waktu sebelum disebut begadang. Padahal yang aku suka minum, mungkin dikateorikan jenis konvensional. Kopi tanpa campuran krim atau susu. Kopi tubruk. Dengan bubuk.

Hal menarik lain, karena aku memulai minum kopi sejak tinggal di Medan, aku lebih memilih untuk minum kopi yang berasal dari sana. Entah apakah kopi yang kuminum adalah jenis kopi Sidikalang yang terkenal itu. Meski pada kemasannya disebutkan demikian, aku tak terlalu peduli. Buatku, rasa pahitnya pas. Ya, karena aku tak terlalu suka kopi yang gulanya terlalu banyak.

Kesukaan itu memaksaku untuk menyediakan kopi yang dikirim dari Medan. Meski mungkin harganya tak semahal kopi kemasan pabrik besar, buatku tak menjadi masalah. Karena yang penting rasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan kopi yang dijual kedai kopi terkenal, sepanjang aku masih bisa menyeduh bubuk kopi yang kudatangkan dari Medan, aku lebih memilih kopiku sendiri.

Mungkin untuk keadaan darurat bolehlah. Ketika aku tidak memiliki akses pada bubuk kopiku. Atau ketika sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sementara keinginan untuk minum kopi begitu besarnya, aku pasrah pada kopi yang dijual di kedai kopi itu. Atau minum kopi yang tersedia di hotel tempat menginap. Atau membeli kopi kemasan. Dan selalu, sedapat mungkin dalam bentuk kopi hitam. Tanpa krim tanpa susu.

Konon katanya, suhu air dalam menyeduh kopi, cukup 78 derajat celcius. Entahlah. Buatku tak terlalu penting. Ketika air mendidih, hal itu sudah cukup untuk menyeduh bubuk kopi. Dan dengan kondisi demikian, bubuk kopi yang berwarna hitam, akan menghasilkan cairan kopi berwarna cokelat karena buih. Ditambah aroma yang menggoda.

Ada satu cara membuat minuman kopi yang aku ketahui dari ibuku. Cara yang sama ternyata digunakan di kedai kopi dimana minum kopi menjadi kebiasaan dan ajang pergaulan. Seperti di kota Medan, Pematang Siantar dan terakhir aku ketahui di kota Bangka. Mungkin juga kota lain. Aku tak punya cukup bukti untuk mengatakannya. Caranya adalah, bubuk kopi dimasukkan dalam air putih yang mentah untuk kemudian dimasak sampai mendidih. Jadi mungkin kurang tepat jika disebut menyeduh kopi. Karena matangnya bersamaan.

Satu lagi yang unik yang dulu sering aku praktekkan, sekarang tidak pernah lagi. Aku melakukannya karena pernah membaca dalam satu artikel singkat. Semacam tips. Menurut artikel itu, flu dapat diatasi dengan meminum kopi yang diberi es. Aneh? Entahlah. Ketika masih sekolah menengah hal ini sering aku praktekkan. Lumayan ampuh. Silahkan kalau mau dicoba.

@goklastambunan

https://www.facebook.com/goklas.tambunan

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan, kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran atau perasaan. Sebuah kalimat diawali dengan huruf besar, diakhiri dengan titik. Dalam tata bahasa Indonesia terdapat dua jenis kalimat. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Pola dasar kalimat biasanya terdiri dari Subjek, Predikat plus Objek (jika ada).

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu subjek dan satu predikat, serta satu keterangan (jika perlu). Sementara kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu dengan melihat letak konjungsi [kata penghubung]. Dengan pemahaman demikian, kalimat tunggal harusnya hanya memiliki satu konsep pikiran atau perasaan. Kalaupun harus terdiri dari lebih dari satu pikiran atau perasaan, sudah disebut kalimat majemuk dan memenuhi persyaratan sebagai kalimat majemuk.

Susunan beberapa kalimat, menjadi sebuah paragraf [http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf]. Paragraf umumnya terdiri dari tiga hingga tujuh kalimat semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf tunggal. Aku sendiri dalam menyusun paragraf, berusaha untuk terdiri dari tiga kalimat. Hal ini karena aku senantiasa mengingat apa yang pernah disampaikan oleh salah satu dosen ketika kuliah dulu. Mungkin beliau menganalogikan dengan kalimat. Bahwa sebuah kalimat haruslah terdiri dari satu pokok pikiran, demikian juga paragraf.

Proses pembentukan kalimat [dan mungkin pembentukan paragraf] ini terpikir kembali olehku, ketika membaca majalah Rolling Sone [RS] terbaru. Kebetulan aku berlangganan dan rutin membaca setiap edisinya. Sudah lama sebenarnya aku merasa terganggu dengan kalimat dan paragraph yang ada pada setiap artikelnya. Terutama artikel yang ditulis sendiri oleh wartawan lokal. Kenapa wartawan lokal? Karena sebagai majalah yang memegang lisensi dari luar negeri, RS sering memuat artikel yang merupakan terjemahan dari RS edisi luar negeri.

Aku mengambil contoh artikel utama edisi terakhir, yang mengupas mengenai sebuah ban bertajuk SORE. Cobalah simak kalimat berikut :

Awan Garnida Kartadinata, kakak kelas Echa sewaktu SMP dan Bemby di SMA, serta bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Mungkin jika aku diminta untuk menulis ulang kalimat tersebut, aku akan menulis:

Awan Garnida Kartadinata, bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Ada beberapa kata yang menurutku tidak perlu diletakkan pada kalimat itu. Hubungan keluarga antar personil, tidak perlu masuk dalam kalimat ini. Mungkin bisa diletakkan pada awal tulisan. Karena artikel ini mengenai band satu band saja, informasi di awal tulisan cukup menjadi bekal pembaca untuk menelusuri isi artikel. Entah kalau tujuannya adalah untuk menunjukkan luasnya pengetahuan wartawan.

Kalimat lain :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi, tepatnya saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, band terbaik dan paling diminati di Indonesia yang khusus membawakan lagu-lagu The Beatles.

Terdapat 34 kata.

Alternatif menurutku :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi. Hal tersebut dilakukan saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, imitator Beatles terbaik di Indonesia.

MEnjadi 28 kata. Terdapat pengurangan 6 kata. Penghematan enam kata, cukup lumayan untuk satu artikel panjang. Penghematan kata – penghematan kalimat – penghematan tinta, dst…hehehehehe

Kalimat lain :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir, yakni Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Alternatif menurutku :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir. Keduanya adalah Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Dibagi menjadi dua kalimat. Daripada satu kalimat panjang.

Kalimat yang paling panjang menurutku adalah kalimat berikut.

Dialah Ramando “Mondo” Gascaro, pemain keyboard dan vokalis serta sosok yang bertanggung jawab dalam membentuk corak musik Sore yang indah dan kompleks pada album Centralismo (2003) dan Ports Of Lima (2008) semasa berada di band tersebut sejak didirikan -sebagaimana tercantum di kaus Ade- sebelum mengundurkan diri dari band yang didirikan bersama sahabat masa kecilnya, Ade dan Awan, tanpa penjelasan resmi apa pun selain “mereka cukup mengerti kenapa dan sudah waktunya” diwawancara ROLLING STONE pada tahun lalu.

Terdapat 70an kata dalam satu kalimat ini! Entah kalau orang lain membacanya. Aku merasa terengah engah ketika membaca. Tak sabar untuk bertemu dengan titik. Terlalu banyak pokok pikiran yang ingin disampaikan. Selain itu terdapat pengulangan penjelasan mengenai hubungan antar personil, yang seperti aku sebut sebelumnya, hal tersebut bisa diletakkan di awal tulisan.

Ya begitu deh. Mungkin apa yang disampaikan oleh majalah RS adalah standar baku bagi majalah tersebut. Terasa berbeda jika dibandingkan dengan artikel yang ada di TEMPO misalnya. Yang aku tau tetap setia dengan slogan Enak Dibaca dan Perlu.

Sesuai janji, siang ini aku mengajak anak anak nonton. Film Disney bertajuk Big Hero. Berhubung filmnya baru dua hari tayang, sengaja aku ajak ke bioskop yang agak mahal jauh. Karena kalau di Cipinang Mall, tempat biasa kami menonton dan yang paling dekat dengan rumah, gak yakin akan dapat posisi nyaman.

Blitz Pacific Place menjadi tujuan. Karena harus menunggu Sulung pulang sekolah. Rencananya kami akan menonton penayangan pukul 12.40. Tiba di Blitz suasana belum ramai. Counter yang dibuka hanya satu. Plus satu counter pojok kanan. Awalnya aku antri di counter biasa, bukan pojok kanan. Jarang nonton bioskop. Ga paham masing masing counter tujuannya buat apa.

Karena counter dimana aku berdiri antriannya cukup panjang, aku pindah ke counter pojok kanan. Hanya ada seorang mengantri di sana. Ketika tiba giliranku, aku ditanya mau nonton apa. Katanya itu counter khusus velvet. Aku bilang, aku mau nonton di studio biasa. Apakah boleh?. Petugas mengiyakan. Aku tambahi, aku akan membeli tiket dengan Niaga Ponsel. Karena aku lihat materi promosi masih melekat di counter.

Petugas bilang, counter dia (pojok kanan) tidak melayani Niaga Ponsel. Aku dipersilahkan pindah ke counter lain. Aku protes. Kalian punya banyak counter, tapi yang dibuka hanya satu?. Mohon maaf pak, mungkin petugasnya sedang ke toilet, jawabnya. WTF!! Batinku. Alasan macam apa!?!?

Akhirnya dia sedikit berteriak ke arah seorang temannya yang kebetulan sudah membuka satu counter lagi selain tadi tempat aku mengantri panjang. Apakah counter dia buka. Mendapat jawaban counter buka, dengan sedikit kesal aku pindah ke counter baru. Antrianku nomer tiga. Di depanku, melakukan transaksi dengan kartu kredit Niaga. Artinya ada promosi CIMB Niaga.

Tiba giliranku, aku hanya bilang ke petugas (bernama Amir), mas aku mau nonton Big Hero dan membayar dengan Rekening Ponsel CIMB Niaga. Dia hanya menanyakan, apakah aku sudah menukar kupon. Aku jawab sudah. Lalu katanya, kalau transaksi dengan rekening ponsel, di counter sebelah pak. KAMPRET!! kataku dengan suara meninggi. Tadi aku dari sana kalian suruh ke sini. Aku ke sini kalian suruh kesana!

Mungkin dia kaget. Dia bertanya pada rekannya di counter awal tadi. Sepertinya dia gak paham. Akhirnya transaksiku dilayani. Namun bukan olehnya. Tapi oleh rekannya. Mungkin dia memang belum paham. Meski kadung kesal, aku diam saja dilayani. Bungsu mondar manadir bertanya. Apakah kami sudah boleh masuk. Aku jawab sekenanya bahwa layanan mereka ini lambat. Sambil minta keduanya bersabar.

Selesai transaksi, aku menyempatkan meminta maaf pada mas Amir yang kena kampret tadi. Meskipun menurutku mereka bersalah, aku merasa dia tak pantas diumpat begitu.

Aku gak ngerti. Alasan sedang ke toilet bisa keluar begitu saja. Ketidakpahaman akan produk dan layanan, menyebabkan pelanggan memiliki pengalaman tak menyenangkan. Kebetulan aku kenal satu orang karyawan perusahaan pengelola Blitz. Padanya aku sampaikan pelayanan ini. Semoga mereka berbenah. Group Lippo sudah mulai masuk pasar. Layanan harus diperbaiki kalau mau bertahan.

Mengkel Nama Ahu – Tongam Sirait ft. Viky Sianipar

Jumpang ari, jumpang bulan
Jumpang nang taon muse
Ari-ari tapasuda,
So adong namoru hape

Nunga lam suda ari-arikku
Nunga lam loja mamingkiri
So adong namuba dope

**
Hape umur nunga lam matua so tarulahan
Hape daging pe nunga lam loja so tarambatan
So adong nahudapot dope
Mengkel nama au..unang holsoan au
Mengkel nama au ..unang marsak au
Iee..iee..

Nunga lam suda ari-arikku
Nunga lam loja mamingkiri
So adong namuba dope

Horas..Horas..
Horas…Horas..
Asal ma sai Horas..

Ada umpasa (pepatah) Batak yang bilang, “ndang tartangishon, tumagonan ma tinortorhon“. Artinya kurang lebih, “(apa yang sudah berlalu) tak bisa disesali, lebih baik dibawa gembira”

Mungkin itu yang hendak disampaikan lagu Tongam Sirait (featuring Viky Sianipar) dalam lagu di atas. Mengkel nama Ahu atau Ketawa Sajalah. Yang sudah berlalu takkan kembali. Bagaimana ke depan saja. Mari hadapi dengan sukacita. Berikut terjemahan bebasnya. tentu saja ala Amani Dimpos
—————
Hari berganti, bulan pun demikian
Tahun berganti lagi.
Kita habiskan hari
tiada yang berkurang ternyata

hari hariku semakin menipis
semakin lelah memikirkannya
tiada yang berubah

**
Padahal umur semakin menua
Takkan terulang
Padahal tubuh semakin lelah
Tak bisa ditahan
Belum ada yang kudapat
ku hanya tertawa..biar tak menyesal
Ku hanya tertawa..biar tak bersedih

hari hariku semakin menipis
semakin lelah memikirkannya
tiada yang berubah

awalnya adalah menerima telepon dari petugas PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. mengingatkan tentang kewajiban pembayaran rekening telepon yang karena suatu hal abai kulakukan. setelah berjanji kepada petugas itu untuk segera membayar, aku menanyakan padanya bagaimana cara menutup akun speedy yang aku punya. karena selama ini juga teronggok tidak terpakai karena aku telah menggunakan jasa penyedia layanan lain yang sepertinya lebih cepat. oleh petugas aku disarankan untuk datang ke plasa telkom terdekat. aku berterima kasih untuk informasi yang disampaikan petugas itu.

jumat pagi, sekalian hendak mengurus sesuatu di wilayah jakarta utara, aku mendatangi plasa telkom jakarta timur. karena rutenya searah. juga berbekal jawaban dari petugas sebelumnya. belum jam 8 aku sudah di sana. menunggu sebentar karena waktunya belum jam kerja. jam 8 lebih sedikit aku masuk. disambut petugas yang sepertinya siap memberi nomer antrian. aku utarakan maksud kedatanganku. oleh petugas, disampaikan bahwa penutupan akun speedy dengan nomer telepon wilayah bekasi, tidak dapat dilakukan di palsa telkom jakarta timur. aku disarankan untuk ke plasa telkom bekasi. aku berargumen bahwa aku sekadar mengikuti saran petugas melalui telepon. jawabannya tetap sama. tanpa mendengar penjelasan lanjutan, aku balik kanan. kembali ke mobil. mencoba menanya secara tertulis agar ada bukti hitam di atas putih. melalui dua akun twitter yang berbeda.

………daaaaaan disinilah dua akun yang katanya resmi memunculkan kelucuan…..

pertanyaan kepada @TelkomSpeedy dan jawabannya
IMG_0492-0.PNG

pertanyaan kepada @TelkomCare dan jawabannya
IMG_0500.PNG
IMG_0499.PNG

jawaban dari @TelkomSpeedy sama dengan petugas sebelumnya yang menghubungi. namun jawaban dari @TelkomCare, tak ubahnya jawaban standard layanan pelanggan. tanpa solusi meski aku telah sampaikan bukti. dan kalimat “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..” adalah jawaban kunci seolah menyampaikan kami hanya bisa bantu segitu. yang diharapkan dapat menutup pembicaraan. melepaskan mereka dari kewajiban memuaskan rasa penasaran konsumen.

akhirnya jawaban @TelkomSpeedy aku mention ke @TelkomCare. sempat terbersit harapan bahwa mereka telah menyadari ketidakkonsistenan jawaban dua akun yang sama sama mengaku akun resmi [plus tanda centang biru], ketika @TelkomCare meminta komunikasi dilanjut lewat pesan langsung di twitter [DM]. mereka memintaku menyampaikan nomor pelanggan. aku pikir keduanya mungkin sudah duduk bersama untuk membicarakan solusi. namun alih alih menjawab pertanyaan, setelah aku memberi nomor speedy, jawaban mesin muncul lagi.. “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..” seraya berkata, hanya itu cara kami. mau ikut silahkan…tak mau tak ikut, hanya ini cara kami. hanya itu solusi kami…hadddeeeeh…

cuma heran saja. ketika semua banyak layanan bisa dilakukan dengan online, bank mulai kampanye gerakan nasional tanpa uang tunai atau pengurangan kantor cabang, mereka yang terbiasa bekerja dengan teknologi masih menggunakan pola kerja ketika dinosaurus baru saja punah…#IbaKita

20140721-133351-48831617.jpg

Ketika sebelum Pemilu Presiden, sebagaimana juga mungkin yang dialami banyak orang, aku menerima pesan siar [broadcast messenger. Pakai istilah ini saja dulu. Kebenarannya nanti tanya @ivanlanin :-)]. Isinya sebagaimana sudah diketahui bersama. Ajakan untuk memilih calon presiden tertentu.

Atas pesan itu, yang aku yakin juga diterima dengan cara yang sama oleh sang pengirim [yang kebetulan dokter], aku hanya menjawab singkat. Aku bilang, aku tak lagi percaya sistem pemilihan umum Indonesia saat ini yang hanya menyuarakan kepentingan partai politik. Aku bilang, aku tidak akan pergi ke Tempat Pemungutan Suara pada harinya. Pembicaraan melebar. Sang teman [sebagaimana pendukung kedua calon presiden] tidak bisa terima. Ragam alasan dikemukakannya. Sayang suara lah. Gak bertanggung jawablah. Dan seterusnya. Aku tak pedulikan. Sebagaimana juga partai politik peserta pemilu yang abai akan suara pemilihnya.

Kepada sang teman yang masih ngotot, aku sampaikan bahwa aku mengidamkan sistem demokrasi yang menganut falsafah orang Batak. Dalihan Na Tolu. Pemerintahan yang menganut Somba marhula hula, Elek marboru dan Manat mardongan tubu. Kepadanya aku sampaikan bahwa kalau saja pemilihan umum anggota legislatif menghasilkan Dongan Tubu, pemilihan umum presiden menghasilkan Boru, terbayang bagaimana suka citanya rakyat sebagai Hula Hula. Buatku, harusnya pemerintah mengambil sikap sebagai Boru kepada rakyat yang Hula Hulanya. Anggota legislatif mengambil sikap sebagai Dongan Tubu, kepada rakyat. Sehingga seharusnya pemerintah somba kepada rakyat, anggota legislatif manat kepada rakyat. Manakala rakyat, elek kepada pemerintah.

Sang teman langsung protes dengan ide yang aku sampaikan. Katanya tak mungkin. Mustahil!. “Coba kau bayangkan” katanya. “Posisimu adalah boru simatuamu, kan?” “Yep” jawabku tegas. “Lantas apakah kau menjadi pemerintah buat simatuamu?” Lanjutnya. “Kawan” balasku, “Janganlah kau bolak balek. Jangan kau lihat dari sisi sebaliknya” lanjutku. “Tak betul itu” katanya ketus. “Sudah salah besar kau disitu” lanjutnya. Atas tanggapan dia yang melihat dari sisi sebaliknya, aku cuman senyum sendiri. “Parah kali lah kawan ini” kupikir. Tentu tak kuucapkan. Mengingat temanku ini bergelar dokter. Harusnya logikanya cukup mencerna penjelasanku. Atau mungkin awakmyang cuma Sarjana Ecek Ecek ini, kurang pintar menjelaskan. Entahlah.

Padahal apa yang aku mau sampaikan adalah, anggota legislatif haruslah bersikap Manat Mardongan Tubu terhadap rakyat pemilihnya. Sebagaimana pada pesta unjuk [sebagai sebuah acara adat yang besar] sebelum dongan tubu mengiyakan sinamot yang akan disampaikan oleh pihak paranak, harusnya menanyakan terlebih dahulu kepada suhut sihabolonan. Apakah bisa menerima atau tidak. Walaupun pada kenyataannya, ketika pesta unjuk [apalagi dalam kasus di Jakarta] hal tersebut hanyalah formalitas semata, tetap saja proses mengkomfirmasi itu perlu dilakukan. Agar apa yang akan dijalankan oleh Parsinabung/Dongan Tubu sesuai keinginan suhut sihabolonan.

Proses mengkomfirmasi keinginan rakyat bisa dilakukan oleh anggota legislatif dengan banyak cara. Salah satunya dengan terjun langsung ke daerah pemilihan masing masing. Menyerap aspirasi masyarakat pemilihnya. Bukan seperi sekarang. Alih alih menanya pemilih, wakil rakyat lebih memilih untuk studi banding ke luar negeri. Padahal belum tentu yang dilihat di luar negeri sesuai dengan situasi apalagi kemauan pemilihnya.

Pemerintah sebagai boru mengambil sikap Somba Marhula Hula kepada rakyat. Keinginan rakyatlah yang dijalankannya. Kalau rakyat bilang, bangun jembatan, perbaiki transportasi massal, harusnya pemerintah dengan sukacita melaksanakannya. Sebagaimana boru yang dengan sukacita membagi kopi, lampet, kembng loyang atau jambar sebagaimana di pesta unjuk. Masalah darimana datangnya semua yang dibagi itu, rakyat pasti sukarela menyiapkannya. Sepanjang semua une pada tempatnya. Hula Hula Hula senang, rakyat riang. Jika sudah demikian, kurang senang apa rakyat.

20140630-135950-50390463.jpg
pagi ini seperti biasa jika ngantor tidak membawa mobil, aku akan menggunakan jasa omprengan. seketika turun dari motor tebengan, aku ditawari naik avanza yang sudah ngetem di luar pelataran dimana omprengan biasa mangkal. biasanya yang begini adalah murni orang kantoran yang sedang mencari teman untuk dapat melintas kawasan berpenumpang tiga atau lebih (3 in 1).

di kursi depan duduk pengemudi. seorang perempuan. duduk di sebelahnya pun seorang perempuan. pada kursi tengah, telah duduk seorang bapak. sementara di bangku belakang duduk seorang ibu. dengan pertimbangan bahwa setelah aku mungkin akan ada penumpang lain, aku mengambil posisi duduk di belakang. menunggu sebentar. mungkin si mbak pengemudi mau menunggu seorang lagi untuk duduk di tengah pikirku. tak apalah. ternyata belum lima menit, si mbak pengemudi turun dan memberi tips pada timer yang menawar nawarkan kursi tadi. avanza pun melaju. Ibu yang tadi duduk di belakang bersamaku, pindah ke tengah.

perkiraan bahwa hari kerja pertama kerja di bulan ramadhan jalanan akan sepi ternyata tidak terbukti. jalan tol dari jatibening menuju cawang/jakarta bahkan seperti hari kerja biasa. mobil merambat pelan. tidak terlihat mbak pengemudi menyalip dari bahu jalan. pun ketika mendekati gerbang tol halim. aku yang biasanya mengambil posisi paling kanan untuk kemudian menyalip di depan ketika pembatas jalan gerbang tol dan keluar halim, cukup kagum dengan keteraturan si mbak pengemudi. konsekuensinya perjalanan lebih lambat dari omprengan biasanya, yang kadang kelakuan sudah mirip sopir metromini. bahkan dari diriku, yang meski [ehem....] lumayan tertib, sering menyalip juga untuk ruas jalan tertentu.

tapi sebentar dulu. itu dari radio mobil si mbak memang terdengar siaran radio. namun kenapa di telinga si mbak tertempel earphone. apakah dia sedang mendengarkan lagu dari perantinya? atau mungkinkah sebuah handsfree? sepertinya tidak. karena selama perjalanan tidak terdengar sedikit pun si mbak berbicara dari earphonenya. tapi nanti dulu. karena duduk sendiri di belakang, aku mengambil posisi duduk di tengah. dari belakang terlihat beberapa kali si mbak memegang telepon pintarnya dengan dua tangan. awalnya kupikir dia sedang memilih lagu yang akan didengar lewat earphonenya. ternyata tidak.

sekali dua terlihat layar telepon pintarnya menunjukkan awarna merah. sekilas terlihat lambang path. kali berikutnya terlihat si mbak seperti sedang chatting. OH KAMBING SAYA [Oh My Goat!]. ini si mbak sedang songong ternyata. memang moibilnya matic. tidak perlu gonta ganti kopling. pantes saja, si mbak tertib berlalu lintas.

Gemes rasanya duduk di belakang sebagai penumpang. karena beberapa kali terlihat ada jarak cukup jauh dengan mobil di depan kami dalam jahanamnya kemacetan tol dalam kota. karena mobil si mbak bergerak sekian lama setelah mobil di depannya bergerak [bukan karena lama memindahkan perseneling tentu saja]. dan sepertinya si mbak menikmati sekali pembicaraan di perantinya. meski duduk di belakang, terlihat beberapa kali si mbak tersenyum sambil mengetik.

Maaf ya mbak. kelakuan mbak mungkin sama saja ancurnya dengan kemacetan tol dalam kota. kalau mbak sendiri di mobil itu, tiada yang akan peduli. tapi mbak tak peduli dengan keselamatan penumpang yang sedang mbak bawa.