“Udah keras itu ikan terinya. Masih tetap kau bawa nasi?” tanya Ompung Yeremia pagi ini. “Masih” jawabku. “Gak Masalah” Akupun bergegas mandi. “Perlu dibuatkan telur ceplok?” tanyanya lagi ketika aku telah selesai berpakaian, meski tadi sudah menjawab tidak masalah.

Iya sih. Semalam makan malam menggunakan lauk ikan perang itu. Ikan perang adalah sebutan ngasal kami dahulu. Ada ragam istilah yang kami buat dahulu. Ikan paku atau ikan labang [labang adalah bahasa Batak paku] karena bentuknya yang ‘lucu’ seperti paku. Terutama ikan teri yang besar itu :-) Semalam sebelum makan malam, Ompung Yeremia seperti mengingatkan. “adanya ikan teri tawar” katanya ketika aku membuka tudung saji. Buatku tak ada masalah.

Jarang aku mempermasalahkan makanan. Satu-satunya masalah buatku soal makanan adalah jika nasi dan lauknya masih panas. Selalu ketika hendak makan, aku akan mendahulukan mengambil nasi yang bukan berasal langsung dari penanak nasi. Karena jika langsung dari penanak nasi, pasti masih mengepulkan asap. Dan memakannya aku akan merasa tersiksa karena tidak bisa langsung menikmati. Selain tangan panas, karena aku jarang menggunakan sendok kalau makan, aku juga harus meniup nasinya terlebih dahulu supaya dingin dan nyaman di mulut. Jika tidak ada lagi nasi dingin, aku akan mendinginkan sebentar, nasi yang aku ambil dari penanak nasi. Sering perilaku itu terganggu [terutama malam jika pulang dari kantor, misalnya] karena berdasar kebiasaan, Ompung Yeremia akan memanasi lauk terlebih dahulu. Ya sama saja bohong! :-(

Kenapa aku bawa nasi ke kantor? Kembali lagi soal kebiasaan. Aku tak terbiasa ribet dengan urusan makanan. Saat makan siang tiba, aku tidak suka berpikir lama untuk memutuskan siang ini makan siapa apa bersama siapa di mana. Karena kebetulan kantor sudah menyiapkan makan siang. Aku tinggal masuk ruang makan, isi absen, ambil makanan. Semudah itu. Nah selama bulan Ramadhan, kalau tidak salah dua tahun terakhir, fasilitas itu ditiadakan. Barulah aku bingung. Di gedung kantor ini ada beberapa tempat makan. Di mall seberang kantor apalagi. Tapi kembali, aku gak mau ribet dengan sekadar urusan makan. Jalan paling mudah adalah membawa bekal dari rumah. Dengan segala konsekuensi, sebagaimana ikan paku di atas :-)

Pembicaraan singkat soal ikan paku tadi pagi juga mengingatkan aku pada masa kecil. teringat termos cokelat Bapak yang selalu dibawa ke kantor. Juga berisi makan siang.

image
Aku sampai bertanya pada seorang teman sambil menunjukkan foto buahnya, untuk meyakinkan nama buah ini apa. Yang selalu terngiang di kepalaku namanya Roppah. Ya! Itulah nama yang selalu aku ingat. Terbawa dari masa kecilku di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo di Sumatera Utara.

Waktu itu di seberang rumah kami ada tetangga yang menanamnya. Karena tumbuhannya menjalar, oleh pemilik dibuatlah beberapa tiang dari bambu untuk tempat pohon buah itu menjalar. Ketika bermain atau mengeringkan benang gelasan diantara tiang bambu itu, kerap aku melihat buah Roppah atau Labu Siam itu berjatuhan di tanah. Selanjutnya buah yang berjatuhan itu akan dikutip oleh pemiliknya untuk kemudian digunakan sebagai makanan ternak. Babi tepatnya. Karena tinggal di kampung, itulah ternak yang diberi makan buah labu itu.

Labu Siam yang aku kenal sejak kecil hanya sebagai makanan babi. Jarang melihatnya digunakan sebagai sayuran. Berbeda dengan kenyataan yang aku temui setelah merantau ke pulau Jawa ini. Oleh penduduk di Jawa, mungkin Jawa Barat lebih tepat, buah yang sama dibuat sebagai lalapan. Memang bukan buah sebagaimana dulu aku lihat ketika kecil. Karena yang dibuat sebagai lalap setelah (boleh juga) direbus terlebih dahulu, masih berukuran kecil kecil. Yang aku cukup ingat pucuk daunnya lah yang pernah aku santap sebagai sayur. Dengan diberi santan, mungkin mirip seperti sayur pakis kalau di Jawa.

Sedang menyantap makanan ternak babilah yang terpikir olehku siang ini. Ketika aku dibekali ‘sayur’ sama dari rumah untuk bekal makan siang 🙈

Pernahkah melintas jembatan bundaran Semanggi? Pernah memperhatikan rambu sekitarnya? Jika pernah, pasti paham bahwa Bundaran Semanggi tertutup bagi kendaraan roda dua sebelum pukul 22.00. Kendaraan roda dua hanya diperkenankan melintasinya pukul 22.00-06.00 keesokan harinya.

Jika sering melintasinya, mungkin pernah melihat pemandangan satu atau dua motor yang diberhentikan polisi pada bundaran (arah naik maupun turun) Semanggi ketika mereka melintas bukan pada jam yang telah ditentukan. Hal mana tidak terjadi ketika ada motor polisi melakukan hal sama. Baik polisi yang sedang mengenakan seragam maupun yang tidak (dia polisi atau bukan, terlihat dari atribut semisal sepatu yang dikenakan).

Ketika pelakunya adalah warga biasa, hampir pasti akan diberhentikan oleh polisi. Karena sepanjang yang aku amati, jarang sekali bundaran itu tidak dijaga oleh petugas polisi. Dapat dipastikan, proses selanjutnya adalah pengenaan sanksi kepada si pengendara motor. Kesalahan yang dikenakan adalah melanggar rambu lalu lintas. Terbitlah surat bukti pelanggaran.

Yang menimbulkan rasa penasaran adalah saat ada polisi, entah yang berseragam [sedang bertugas] atau tidak melintas ruas jalan yang sama pada waktu yang sama, perlakuannya berbeda. Mungkin ada dalih ketika hal tersebut dilakukan petugas berseragam. Bahwa beliau sedang bertugas dengan demikian berhak melanggar rambu. Namun ternyata hal tersebut berlaku bukan hanya untuk polisi pengendara motor yang sedang bertugas. Ketika ada polisi yang sedang tidak bertugas [terlihat dari pakaian dan perlengkapan yang digunakan] melakukan hal sama, tidak terlihat adanya proses pemberhentian yang disertai pengenaan bukti pelanggaran sebagaimana jika hal tersebut dilakukan bukan oleh polisi.

Untuk kasus bundaran Semanggi, jargon ‘ini negara hukum dan semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum’ yang selalu dikemukakan seolah hanya sebatas jargon. Sepanjang yang aku perhatikan, rambu lalu lintas pada bundaran Semanggi [mungkin juga di wilayah lain] tidak pernah memberi lambang bintang kecil di bawah rambunya. Untuk kemudian menuliskan kalimat dengan font tak kalah kecil sehingga hampir tidak terlihat, bertulis rambu ini tidak berlaku bagi polisi yang sedang bertugas maupun yang tidak bertugas.

Polisi adalah aparat penegak hukum. Tugasnya [sedapat mungkin] memastikan tidak terjadi pelanggaran hukum. Jika dugaan pelanggaran hukum terjadi, polisi yang bertugas menetapkan dugaan bahwa seseorang telah melanggar hukum untuk kemudian pengadilan akan memutuskan benar tidaknya adanya pelanggaran hukum, dan kemudian menjatuhkan sanksi atas pelanggaran yang terjadi. Apa mungkin karena ketika disumpah menjadi polisi, mereka disumpah untuk berlaku sebagai penegak hukum selama 24 jam dan 7 hari seminngu. Dengan demikian, alasan bahwa mereka tidak melanggar hukum ketika mereka menabrak rambu yang ada, dapat diterima? Sepertinya tidak.

Untuk kasus pelanggaran rambu, pasal 29 ayat (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan mengatur “Rambu larangan digunakan untuk menyatakan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh Pengguna Jalan” manakala pasal 1 butir 12 PP yang sama mengatur “Pengguna Jalan adalah orang yang menggunakan Jalan untuk berlalu lintas”. Dengan demikian, mengingat bahwa polisi adalah orang, sudah selayaknya mereka juga taat pada rambu yang ada. Agar posisi sebagai penegak hukum tetap memiliki arti. Apalah jadinya jika disebut penegak hukum namun sering melanggar hukum?

Meskipun aku dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi aku tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapanku itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti

Kalimat di atas adalah pembuka perikop yang dibacakan ketika menghantar Lady Di ke peristirahatan terakhir. Tanpa melihat sumbernya yang dari kitab suci, menurutku konteksnya masih nyambung dengan soal penampil di panggung.

Apa artinya jika aku bisa menyanyi layaknya Josh Groban tapi penonton tidak paham. Apa jadinya jika aku bisa memainkan gitar layaknya Steve Vai, jika penonton tidak suka? Apa artinya jika Houdini diikat dalam air, dikubur terikat dalam tanah namun penonton tidak terhibur?

Tantangan selanjutnya adalah benar bahwa penonton bisa memilih untuk meninggalkan kita ketika mereka tidak suka. Namun dari sisi penampil, yang kita harusnya bisa lakukan adalah menampilkan sesuatu yang kita yakini sebagian besar penonton akan menyukainya. Agar penampilan kita tidak sia sia.

Sebab, apalah artinya mulut berbusa menyanyi, jari memar memetik gitar, nafas habis ketika berada dalam air jika semua penonton meninggalkan panggung di mana kita tampil?

Setahun terakhir anak anak lebih banyak beraktivitas ditemani ibuku (mereka menyebut ompung). Berangkat sekolah, pulang sekolah, mengerjakan PR dan seterusnya. Dalam beraktivitas sering mereka melakukan sesuatu yang mungkin akan mebahayakan atau melakukan sesuatu yang tidak pas. Sebagai orang tua tentu saja ompung suka mengingatkan. Tidak boleh begini tidak boleh begitu. Jangan begini atau jangan begitu.

Tujuannya tentu agar dapat dijadikan referensi untuk tindakan pada masa yang akan datang. Bahwa kalau melakukan ini tidak boleh. Melakukan itu tidak pantas. Dan sebenarnya inilah yang diharapkan. Dengan demikian mereka bisa mengerti mana yang benar mana yang tidak. Meski terkadang sebagaimana anak anak lain, kadang larangan dirasakan sebagai belenggu.

Menjadi persoalan ketika larangan yang ada diberlakukan sama rata untuk semuanya. Ketika hendak melakukan sesuatu, ada kekhawatiran bahwa nanti itu akan dimarahi ompung. Dan itulah yang terjadi. “Nanti dimarahin ompung” menjadi kalimat sakti ketika diminta melakukan sesuatu. Apapun itu.

Hal tersebut membuat ompung nelangsa [jiah…bahasnya KB sekali 😀] Sampai terucap satu saat, mengapa ompung selalu dijadikan kambing hitam. Istilah yang mungkin belum dipahami maknanya oleh pikiran kanak kanak Gabriel. Sehingga pada satu kesempatan, analogi kambing hitam digunakan untuk hal lain dengan terminologi berbeda.

Dalam sebuah percakapan bapak anak, aku sedang menasihati Yeremia. Tentang bagaimana berperilaku dengan teman di sekolah. Sambil aku juga mengingatkan Gabriel bahwa perilaku yang sama berlaku buat dia. Entah kenapa mendadak Gabriel nyeletuk, “Dengarin bang. Jangan Gabriel jadi kambing merah” Aku kaget. Bertanya latar belakang penyebutan demikian. Ibuku yang berada pada ruang yang sama menerangkan sepintas, asal mula sebutan kambing sebagaimana aku kisahkan di atas. Pembicaraan yang awalnya sok serius, buyar. Aku hanya bisa terbahak. Apalagi Gabriel melanjutkan penyebutan yang dikarangnya. Bahwa abangnya kambing kuning dan papinya kambing biru 🙈