Sepanjang yang aku ingat, kariernya dimulai dari Indosiar. Kalau tidak salah beliau adalah penggagas acara Gebyar BCA. Ragam Pertunjukan (Variety Show) yang disponsori oleh BCA, bank yang saat itu terafiliasi dengan televisi Indosiar.

Pada masanya, bentuk Gebyar BCA sedikit berbeda dengan acara huburan lain di televisi. Menggabungkan nyanyi, wawancara dan ragam hiburan lain seperti sulap. Seingatku, acara itu lumayan berhasil. Mungkin karena perbedaan bentuk itu atau (artis) pengisi acaranya. Saat itu beliau adalah pengarah acara. Kurang paham juga apakah selain pengarah acara, beliau juga bertindak sebagai produser. Yang menentukan bentuk acara dari awal sampai disajikan kepada pemirsa.
Lepas dari Indosiar, Wishnutama nama anak muda itu, pindah ke televisi milik Chairul Tanjung (CT) konglomerat muda yang memulai bisnis konglomerasinya dari sebuah bank (Bank Mega). Di Trans TV lah, kariernya menanjak. Dimulai sebagai pengarah acara hingga memimpin dua televisi milik CT (Belakangan CT membeli TV7 milik Kompas Gramedia dan mengubah namanya menjadi Trans7).
Pada masa Tama (mas Tama, begitu beliau selalu disapa, dan sepanjang yang aku tahu beliau lebih suka disapa mas dari Bapak. Bahkan oleh anak buah sekalipun) duo Trans berjaya. Seolah menyalip televisi lain yang lebih dahulu berdiri. Apalagi waktu itu, manajemen Trans diperkuat juga oleh Ishadi SK. Mantan Direktur Televisi di Departemen Keuangan. Yang ketika menjadi kepala stasiun TVRI Jogja, juga membuat gebrakan di televisi stasiun daerah itu.
Kejayaan duo Trans justru bukan diperoleh dengan membeli program buatan Amerika Serikat atau Amerika Latin, kiblat televisi waktu itu. Justru oleh ragam acara buatan dapur sendiri (In House Program). Sepanjang yang aku ingat, dimulai dari Extravaganza yang berbentuk komedi situasi, Empat Mata (belakangan berubah menjadi Bukan Empat Mata karena kena semprit Komisi Penyiaran Indonesia), sampai Opera Van Java.
Acara berjaya, rating naik, iklan mengantri, jabatan Direktur Utama, tidak lekas membuat Tama berpuas diri. Dalam usia yang masih terhitung muda, Tama mengundurkan diri dari duo Trans. Banyak yang kaget ke televisi mana akhirnya dia berlabuh. 
Sampai akhirnya publik menyadari, dia membangun NET bersama Agus Lasmono, pemilik group Indika yang kebetulan putra dari Sudwikatmono yang dikenal sebagai raja bioskop (lewat jaringan 21). Kedua anak muda inilah yang membangun NET tiga tahun terakhir.
Di NET semua ide dan kreativitas seorang Tama dituangkan bebas. Mungkin karena sekarang posisinya bukan hanya sebagai eksekutif. Juga sebagai pemilik. Rekrutmen tenaga kerja diumumkan terbuka. Ribuan orang melamar. Beragam media (sosial) digunakan. Karyawan yang diterima, digembleng ala militer. Mereka menggunakan seragam kemeja hitam celana khaki dan sepatu ala militer pasukan perang gurun. Soal seragam ini juga diterapkan oleh Tama ketika di Trans. Mungkin karena berlatar belakang militer (konon orang tuanya adalah militer). 
Saat itu ada kebanggaan bagi awak Trans mengenakan seragam mereka. Mungkin itu yang menginspirasi, sehingga pelan pelan semua televisi mengenakan seragam kepada awaknya. Sempat terdengar komentar miring tentang kepemimpinan ala militer itu. Namun Tama bergeming. Toh sukses bisa diraih.
Mirip dengan strategi yang dijalankan ketika di Trans, NET pun banyak menjual program besutan sendiri. Tetangga Koq Gitu, OK JEK, Ini Talkshow, The Comment hingga Teka Teki Waktu Indonesia Bercanda adalah acara andalannya. Meski beberapa ditayangkan secara striping, acara bisa bertahan lama.
Selain dari kreativitas yang seolah tak ada matinya itu, yang membuatku kagum pada anak muda itu adalah konsistensinya dalam mendisiplinkan dan membuat bangga karyawannya. Beliau tidak hanya memerintahkan untuk mengenakan seragam, namun turut serta menggunakan seragam yang dia perintahkan dikenakan itu. COOL!

Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat lelaki batak, jika belum menikah, setiap tahun nasihat hanya tertuju padanya setiap malam pergantian tahun.

Desember ini, Slank berusia tiga puluh tiga tahun. Bermula dari berdirinya Cikini Stone Complex pada Desember 1983, saat ini SLANK bukan hanya sebuah group band. SLANK konon berasal dari kata slengekan, yang kurang lebih berarti sesuka sukanya, menjelma menjadi komunitas yang luas. Potlot, nama gang di bilangan Jakarta Selatan (pernah) menjadi kiblat musik Indonesia. Sebut saja Oppie Andaresta, Imanez (almarhum), Andy Liany (almarhum), Anang Hermansyah dan Kidnap Katrina, mengindonesia dari sana. Selain itu masih ada juga BIP yang digawangi oleh Bongky, Indra dan Pay Siburian yang keluar dari SLANK setelah album Minoritas. Dan masih banyak lagi yang (mungkin) belum sebesar nama nama itu.

Bukan hanya kiblat musik, Potlot juga menjadi kiblat politik. Tidak sedikit pihak (partai maupun perorangan) yang merapat ke gang Potlot hanya untuk memeroleh dukungan dalam pemilu. Apalagi sejak era pemilu langsung. Betapa tidak, dengan usia 33 tahun, penggemar SLANK terdiri dari beberapa generasi. Mereka yang mungkin masih bersekolah di SMP atau SMA ketika album Suit Suit….hehehe (gadis sexy) keluar, sampai level anak anak dari generasi pertama itu.

Para penggemar pun fanatik bukan main. Sampai muncul celetukan seperti iklan teh dalam botol yang ‘apapun makannya….’. Konser artis manapun yang dilakukan di lapangan terbuka, bendera SLANK pasti dikibarkan! Tanpa bermaksud membandingkan, mirip dengan komunitas OI milik Iwan Fals. Padahal Iwan Fals sudah jauh lebih dahulu berkarya di industri musik Indonesia.

Dengan kenyataan seperti itu, sulit menjelaskan fenomena ini. Bahkan ketika beberapa personilnya (lagi lagi) diketahui menjadi pecandu narkoba, fanatisme itu tidak hilang. Manajemen Pulau Biru (entah apakah masih seperti itu namanya) berhasil mengelola peristiwa itu. Alih alih menjadi peristiwa memalukan, manajemen bahkan berhasil membuatnya menjadi kejadian yang menginspirasi banyak anak muda untuk menjauhi narkoba. Mungkin kalau menggunakan istilah korporasi, menjadi semacam CSR bagi SLANK. Menjadi tanggung jawab SLANK untuk mengarahkan jutaan fans agar tidak mengikuti jejak idolanya yang kurang bagus itu. Bunda Iffet, ibunda Bimbim, yang walaupun (hanya) seorang ibu rumah tangga biasa, mampu mengelola SLANK dengan baik.

Aku mengikuti SLANK sejak awal karirnya hingga album Minoritas. Album berikutnya Lagi Sedih, 999+09 #1 dan 999+09 #2 hingga yang terbaru sudah tidak intens kuikuti lagi. Ada rasa yang hilang ketika aku tak mendengar permainan jari Indra di keyboard dan melodi Pay di gitar. Lirik jujur bebas dan nakal ditambah keyboard dan kocokan gitar terlalu sempurna buatku. Bagaimana mereka dengan lugas meneriakkan ‘Anjing’ pada lagu ‘An – = -‘ ~ >…’ (judulnya memang begitu) dari album Kampungan atau meneriakkan kata ‘Kentut’ pada lagu Tut Wuri Handayani dari album Minoritas. Atau melagukan ‘Bangsat’ di lagu Begitu Saja dari album ‘Piss!’. Bagaimana mereka merekam dengkuran dan menimpali dengan koor personil dan diiringi permainan piano lagu Nina Bobo pada lagu Nina Bobo dari album Kampungan.

Mereka juga dengan bebas memasukkan lagu dolanan anak anak di Jawa pada Bang Bang Tut dari Minoritas atau memasukkan bahasa Batak (kebetulan Pay bermarga Siburian) pada intro lagu Generasi Biru di album Generasi Biru. Mereka bercerita tentang apa saja. Korupsi, Birokrasi yang kompleks, aborsi, keindahan di Bali (lagu Tepi Campuhan di Bali atau sepinya pantai Anyer, keriangan bocah bermain. Romantisnya Terlalu Manis atau kemarahan pada perbedaan status pada Mawar Merah. Masih banyak lagi.

Ah….aku rindu SLANK (sampai album Minoritas ☺). Ingin berada di Pulau Biru bersama jutaan Slankers 😍

img_1917

Selain Indonesia Jaya ciptaan Chaken M yang dibawakan oleh Harvey Malaihollo, lagu Doa Anak Negeri adalah lagu yang paling cepat ditangkap telinga ketika diperdengarkan dalam Festival Lagu Pembangunan tahun 1987.

Indonesia Jaya masih sering diperdengarkan dalam acara resmi. Seringkali dibawakan dalam bentuk paduan suara. Entah karena kurang gaul, justru aku jarang mendengar lagu Doa Anak Negeri diperdengarkan kepada publik.

Ketika Festival diadakan, lagu ciptaan Donny Hardono dan syair oleh D. Prasetyo, tersebut dibawakan oleh almarhum Chrisye. Liriknya tidak terlalu patriotis menurutku. Namun cukup menggugah semangat cinta negeri ketika diperdengarkan.

Menulis lirik patriotis pasti membutuhkan keahlian sendiri. Wage Rudolf Supratman, H. Mutahar, Kusbini, Cornel Simanjuntak, Ibu Soed dan yang lain sudah membuktikan. Setelah era mereka, ada Gombloh dengan Kebyar Kebyar. Dan yang paling baru mungkin Eros yang menciptakan Bendera. Yang dengan aransemen Cokelat, menjadikan lagu itu sebagai lagu paling patriotik pada tahun 90an menurutku.

Mungkin memang harus dipadukan antara lirik, lagu dan aransemen. Agar lagu yang diciptakan tidak terjebak menjadi slogan kosong, apalagi menjadi lagu mendayu dayu. Yang terakhir inilah yang dikhawatirkan ketika lagu doa dibawakan oleh Chrisye. Namun kembali pada rumus pendukung, sebagaimana aku sampaikan di awal paragraf, kelengkapan elemen itu menjadikan lagu ini semacam lantunan doa dari anak negeri. Doa yang terasa pas untuk kondisi negeri seperti sekarang.

DOA ANAK NEGERI

Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
S’moga lestari s’moga abadi
Doa kami dari anak neg’ri
Puji dan syukur kami berikan
Neg’ri ini tentram sentosa
Bangunlah semua, satukan cita
Tuk neg’ri tercinta Indonesia

Reff :
Doa kami dari anak neg’ri
Bangga kami pada Pertiwi
T’rimakasih kepadamu neg’ri
Pembangunan ini milik kami

Doa dari kami anak negeri
S’moga engkau melangkah pasti
Dan teruskanlah pembangunan ini,
Dari generasi ke generasi

Doa kami anak neg’ri
Doa kami sejati
Doa kami anak neg’ri
Doa kami tulus dan suci

hasbon

Bang Bon,

Seingatku kita kenal sudah cukup lama. Sejak aku mulai ber-NHKBP pertengahan tahun 1990. Meski saat itu kita tidak terlalu dekat. Karena aku aktif di wijk, sementara abang sudah aktif di Godung. NHKBP Pusat kata anak anak di wijk seperti aku.

Seingatku kita dekat dua atau tiga tahun terakhir sebelum aku meninggalkan kota Medan tercinta. Ketika teman teman seangkatanmu sudah menikah dan akhirnya terpaksa keluar dari NHKBP. Ketika abang lebih banyak menjadi konduktor kami berpaduan suara. Ketika NHKBP sebagian besar dihuni oleh teman teman seangkatanku (Rudi Sihotang, Tiopan Manurung, Junio Pardede atau Aron Sinambela) dan mereka yang kita rekrut melalui retreat di Haranggaol. Retreat yang kita rencanakan dan jalankan untuk menjaring talenta talenta baru dari wijk.

Kita mencari dana bersama. Berjualan kue, ikan arsik atau pinadar sumbangan teman teman. Berjualan stiker yang kita niatkan sebagai cutting stiker namun batal karena biaya produksi ternyata cukup besar waktu itu. Hampir setiap sore kita berdiskusi di rumah kosong di samping gereja untuk menaukseskan retreat itu. Retreat yang membuat kita semakin dekat.

Retreat yang penuh kisah. Bagaimana mobil kijang birumu, yang sehari hari lebih sering parkir di jalan Sederhana daripada di gang Cemara, dipakai belajar mengemudi oleh almarhum Rudi Sihotang malah menabrak pohon di rumah dokter Silalahi. Mobil yang sama kita gunakan survey lokasi ke Haranggaol. Yang tidak memiliki ban serap sehingga kita harus menunggu lama untuk menambal bocornya ban. Karena menambalnya harus ke arah Merek. Naik ke atas karena bocornya ban ternyata di pantai Haranggaol.

Bang Bon, kalau bukan dirimu yang mengajak aku jalan jalan ke Jakarta, mungkin aku tidak berada di kota ini sekarang. Aku ingat setelah retreat itu, abang mengajak aku jalan ke Jakarta pertemgahan tahun 1996. Karena sama seperti abang yang belum punya pekerjaan tetap, akupun baru lulus dari Nommensen. Karena sebagian besar waktu aku habiskan di gereja dan bergaul dengan teman teman NHKBP, almarhum bapak memintaku untuk membawa semua berkas administrasi ketika minta ijin jalan ke Jakarta. Berkas itu aku gunakan untuk melamar di beberapa perusahaan sehingga akhirnya diterima bekerja di perusahaan sekarang awal tahun 1997. Selama sebulan pertama di Jakarta abang juga yang mengajarkan aku bagaimana naik bis di Jakarta. Bagaimana yang harus diingat adalah terminal resmi seperti Blok M atau Kampung Rambutan, setelah itu tinggal mencari bis sesuai arah tujuan yang kita kehendaki. Apa manfaatnya ketika kenek menginstruksikan untuk turun dengan menggunakan kaki kiri yang menyentuh aspal terlebih dahulu.

Bang Bon, setelah aku bekerja, beberapa kali kita ketemu di gedung kantorku berada. Bercerita apa saja kegiatan kita. Berkisah siapa saja teman teman dari Medan yang kita temui. Abang juga pernah pinjam sepatu dan kemeja untuk melamar pekerjaan di tempat baru. Karena abang mau keluar dari pabrik YKK waktu itu. Karena pakaian abang yang pantas, tertinggal di tempat saudara abang di Pondok Bambu. Namun itu berlangsung tidak lama. Setelah itu tak ada kabar lagi dari abang. Sampai aku mendengar abang telah kembali ke Medan.

Beberapa kali pulang ke Medan dan bergereja di HKBP Teladan, kita tak pernah bertemu. Teman teman alumni pun bilang, abang sudah jarang ke gereja. Aku tidak ingat persisnya berapa tahun lalu kita pernah bersua dalam acara natalan dan ramah tamah alumni NHKBP. Itulah pertemuan terakhir kita. Beberapa bulan lalu aku masih melihat abang tergabung dalam paduan suara ama HKBP Teladan. Yang mewakili distrik X Medan untuk festival koor ama dalam rangka tahun keluarga HKBP. Bersama dengan beberapa alumni seangkatan. Kemenangan itu membanggakanku sebagai salah satu alumni. Kemenangan itu juga mengingatkanku bahwa kita juga pernah menjuarai festival koor NHKBP dalam rangka 133 tahun HKBP dan perayaannya diselenggarakan di Stadion Teladan.

Bang Bon, pagi ini aku mendengar abang telah kembali kepada Bapa. Abang sudah bersama bapak abang. Gak terbayang perasaan mamak abang. Bagaimana sedihnya setelah ditinggal suami puluhan tahun lalu, hari ini ditinggal anak satu satunya.

Selamat jalan bang Hasbon Hasian Hutagalung. Abang, guru dan sahabat 😔

Si Doel sedang meradang. Berdiskusi dengan Babe seolah percuma. Kini dia dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan cita citanya untuk menjadi “Tukang Insinyur” atau meneruskan tradisi keluarga. Menarik Opelet.

Manjadi insinyur sudah merupakan cita citanya sejak lama. Kuliah (baca : perjalanan) yang dilalui sudah hampir tiba di ujung jalan. Tinggal menyelesaikan tugas akhir. Namun sepertinya Babe tidak sabar. Mungkin karena ketidaktahuan Babe akan proses yang harus dilalui atau karena Babe sudah tua, sehingga tidak memiliki tenaga untuk tetap meneruskan pekerjaan sebagai supir opelet. Meski sudah tua, opelet tidak boleh dibiarkan menganggur. Dapur harus ngebul. Memang ada warung enyak yang bisa menopang. Mungkin ada salon Atun yang bisa membantu. Tapi Babe sepertinya tidak mau tahu. Doel disuruh memilih. Kisah akhirnya (mungkin) happy ending. Doel akhirnya menyelesaikan sekolahnya. Menjadi Tukang Insinyur. Kuliah diselesaikan sambil sesekali menarik opelet bersama pamannya Mandra. Meski setelahnya persoalan lain muncul. Ternyata bekal gelar insinyur tidak cukup untuk mencari kerja.

Teringat Gibran pernah berkata kurang lebih,

Anakmu bukanlah anakmu. Dia datang dari padamu, tetapi dia bukan milikmu. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Pertama kali membaca sajak itu, mau tidak mau aku mengamini. Berkaca pada pengalaman sendiri, aku pernah menjalani prosesnya. Tidak lulus Ujian Masuk Pergirian Tinggi Negeri (UMPTN), mau tidak mau pilihan adalah kuliah di perguruan tinggi swasta. Pilihan jurusan di UMPTN adalah pilihanku sendiri. Tanpa campur tangan orang tua. Semangat menggebu membuatku mendaftar di Institut Pertanian Bogor. Mungkin pilihan gegabah. Karena persaingan ternyata cukup tinggi. Tidak satupun dari tiga pilihan yang aku ambil aku lulus. Berbicara melalui sambungan interlokal (karena waktu itu orang tua bertugas di luar kota) dengan bapak, malam (menjelang subuh tepatnya) setelah pengumuman UMPTN, beliau menghibur. “Sudah, jangan terlalu bersedih” katanya. “Kau daftar di Universitas Nommensen. Ambil jurusan akuntansi. Agar nanti gampang mencari kerja”.

Nasihat dan ucapan yang menyemangati. Tidak lama larut dalam kesedihan, aku menuruti sarannya. Tapi hanya untuk mendaftar di Nommensen. Bukan jurusan sesuai saran beliau. Aku mengambil jurusan manajemen. Karena waktu itu aku merasa akuntansi ilmu banci. Bukan ilmu pasti sebagaimana jurusanku yang fisika di SMA, Juga bukan ilmu sosial. Aku mantap memilih manajemen. Yang lebih pasti non eksaktanya. Bapak tidak pernah mempersoalkan. Entah kalau dalam hatinya ada penyesalan kenapa aku tidak menuruti keinginannya. Dan inilah aku sekarang. Mungkin tidak menjalani sarannya waktu itu. Namun apa yang aku jalani saat ini, melampaui capaiannya dalam beberapa hal. Aku yakin seandainya beliau masih ada, beliau sudah tidak ingat lagi soal beda saran dan jalan yang aku pilih. Semoga dia bangga.

Bapak seorang demokrat. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada kami anaknya. Kepada kami, beliau hanya ulang satu janji. Sebagaimana janji orang tua Batak lain sebagaimana lagu “Anakkonki Do Hamoraon di Ahu”. Kepada kami anak anaknya beliau berjanji akan menyekolahkan kami setinggi kami mau. Beliau akan membiayai. Meski untuk dua adikku, janji itu diteruskan oleh Mama. Sebegitu demokratnya, beliau juga tidak mempermasalahkan ketika adik nomer dua memilih untuk berhenti kuliah pada tahun kedua. Beliau mencarikan pekerjaan buatnya. Adik ini juga yang turut serta ‘memberi sangu’ padaku ketika memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa. Karena saat itu dia sudah memiliki penghasilan sendiri. Sikap demokratis yang [mungkin] paling tidak masuk akal buat orang tua lain adalah beliau menantang adik bungsu. “Kalau merokok membuatmu menjadi lebih berprestasi di sekolah, sebut merek rokokmu, aku yang akan membelikan buatmu” tantangnya ketika mengetahui adik bungsu telah berkenalan dengan rokok bahkan ketika masih sekolah menengah atas. Selintas seperti tindakan gila. Alih alih melarang, Bapak malah mendukung. Tapi itulah Bapak yang kami kenal.

Sepenggalan kisah si Doel, dan kisahku teringat kembali ketika pagi ini mendengar bahwa pak Beye akhirnya mendorong putra sulungnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sebagai orang luar aku merasa pilihan yang sangat disayangkan. Mas Agus bukanlah tentara sembarangan. Beliau lulusan terbaik dalam angkatannya. Beragam pendidikan telah dijalani, baik dalam kemiliteran atau akademis. Metro TV lewat acara Mata Najwa pernah menyematkan ‘Pemimpin Masa Depan’ kepadanya. Bersama Anis Baswedan [mantan Menteri Pendidikan] dan Denny Indrayana [mantan wakil Menteri Kehakiman]. Saat ini pangkatnya Mayor. Perwira Menengah tentara. Dalam beberapa kesempatan, aku membaca bahwa cita cita setiap prajurit adalah mencapai bintang empat. Jika dalam urusan kepangkatan, mungkin menjadi Kepala Staf Angkatan atau bahkan Panglima. Mas Agus meneruskan tradisi keluarga berkarir di militer. Siapa yang tidak kenal kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo yang berperan besar dalam penumpasan Gerakan 30 September. Meski tidak pernah menjadi menteri di Pemerintahan Orde Baru yang ikut dia bangun, Letjend Sarwo merupakan tokoh berpengaruh pada masanya. Putra Sarwo Edhie juga meniti karier militer. Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Bahkan pak Beye ayahnya, berpangkat Letjend [terakhir naik pangkat menjadi Jenderal setelah menjadi Presiden] dan mennjabat sebagai Kepala Staf Sosial Politik sebelum akhirnya terjun ke dunia politik dan menjadi Menteri Pertambangan dan Energi pada masa pemerintahan Presiden Abdul Rahman Wahid dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

Dengan tradisi dan ‘darah biru’ militer begitu, agak sulit memahami pilihan mas Agus. Dengan mengikuti Pemilihan Kepala Daerah, beliau harus melupakan karir militernya yang [konon dipuji banyak pihak sebagai] cemerlang. Berpangkat Mayor, masih beberapa tahap lagi yang harus dilalui untuk menyamai pangkat Eyang, Ayah atau jabatan Pamannya. Dan sekarang impian itu harus dikubur. Semoga pilihan yang diambil sudah dipikir matang. Semoga pilihan yang diambil adalah pilihan sendiri. Semoga pilihan yang diambil membawa kebaikan buat mas Agus dan keluarga kecilnya. Juga buat keluarga besarnya. Dan yang pasti terbaik buat Negara Kesatuan Indonesia!