Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan, kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran atau perasaan. Sebuah kalimat diawali dengan huruf besar, diakhiri dengan titik. Dalam tata bahasa Indonesia terdapat dua jenis kalimat. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Pola dasar kalimat biasanya terdiri dari Subjek, Predikat plus Objek (jika ada).

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu subjek dan satu predikat, serta satu keterangan (jika perlu). Sementara kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu dengan melihat letak konjungsi [kata penghubung]. Dengan pemahaman demikian, kalimat tunggal harusnya hanya memiliki satu konsep pikiran atau perasaan. Kalaupun harus terdiri dari lebih dari satu pikiran atau perasaan, sudah disebut kalimat majemuk dan memenuhi persyaratan sebagai kalimat majemuk.

Susunan beberapa kalimat, menjadi sebuah paragraf [http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf]. Paragraf umumnya terdiri dari tiga hingga tujuh kalimat semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf tunggal. Aku sendiri dalam menyusun paragraf, berusaha untuk terdiri dari tiga kalimat. Hal ini karena aku senantiasa mengingat apa yang pernah disampaikan oleh salah satu dosen ketika kuliah dulu. Mungkin beliau menganalogikan dengan kalimat. Bahwa sebuah kalimat haruslah terdiri dari satu pokok pikiran, demikian juga paragraf.

Proses pembentukan kalimat [dan mungkin pembentukan paragraf] ini terpikir kembali olehku, ketika membaca majalah Rolling Sone [RS] terbaru. Kebetulan aku berlangganan dan rutin membaca setiap edisinya. Sudah lama sebenarnya aku merasa terganggu dengan kalimat dan paragraph yang ada pada setiap artikelnya. Terutama artikel yang ditulis sendiri oleh wartawan lokal. Kenapa wartawan lokal? Karena sebagai majalah yang memegang lisensi dari luar negeri, RS sering memuat artikel yang merupakan terjemahan dari RS edisi luar negeri.

Aku mengambil contoh artikel utama edisi terakhir, yang mengupas mengenai sebuah ban bertajuk SORE. Cobalah simak kalimat berikut :

Awan Garnida Kartadinata, kakak kelas Echa sewaktu SMP dan Bemby di SMA, serta bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Mungkin jika aku diminta untuk menulis ulang kalimat tersebut, aku akan menulis:

Awan Garnida Kartadinata, bassist dan vokalis yang gemar memakai analogi The Beatles, merasa bahwa album baru Sore ini mirip Let It Be.

Ada beberapa kata yang menurutku tidak perlu diletakkan pada kalimat itu. Hubungan keluarga antar personil, tidak perlu masuk dalam kalimat ini. Mungkin bisa diletakkan pada awal tulisan. Karena artikel ini mengenai band satu band saja, informasi di awal tulisan cukup menjadi bekal pembaca untuk menelusuri isi artikel. Entah kalau tujuannya adalah untuk menunjukkan luasnya pengetahuan wartawan.

Kalimat lain :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi, tepatnya saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, band terbaik dan paling diminati di Indonesia yang khusus membawakan lagu-lagu The Beatles.

Terdapat 34 kata.

Alternatif menurutku :

Seringkali topi kupluk hitam yang sehari hari menutup kepalanya digantikan oleh rambut palsu berponi. Hal tersebut dilakukan saat Awan sedang tampil bersama G-Pluck, imitator Beatles terbaik di Indonesia.

MEnjadi 28 kata. Terdapat pengurangan 6 kata. Penghematan enam kata, cukup lumayan untuk satu artikel panjang. Penghematan kata – penghematan kalimat – penghematan tinta, dst…hehehehehe

Kalimat lain :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir, yakni Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Alternatif menurutku :

Untuk penggarapan album ini, Sore dibantu dua produser yang juga musisi pengiring mereka dalam setahun terakhir. Keduanya adalah Sigit Agung Pramudita dari group folk Tigapagi yang juga rekan Ade di band Marsh Kids, serta Agus Budi Permana alias Adink, yang sempat terkenal di akhir ’90-an lewat group indie pop Klarinet.

Dibagi menjadi dua kalimat. Daripada satu kalimat panjang.

Kalimat yang paling panjang menurutku adalah kalimat berikut.

Dialah Ramando “Mondo” Gascaro, pemain keyboard dan vokalis serta sosok yang bertanggung jawab dalam membentuk corak musik Sore yang indah dan kompleks pada album Centralismo (2003) dan Ports Of Lima (2008) semasa berada di band tersebut sejak didirikan -sebagaimana tercantum di kaus Ade- sebelum mengundurkan diri dari band yang didirikan bersama sahabat masa kecilnya, Ade dan Awan, tanpa penjelasan resmi apa pun selain “mereka cukup mengerti kenapa dan sudah waktunya” diwawancara ROLLING STONE pada tahun lalu.

Terdapat 70an kata dalam satu kalimat ini! Entah kalau orang lain membacanya. Aku merasa terengah engah ketika membaca. Tak sabar untuk bertemu dengan titik. Terlalu banyak pokok pikiran yang ingin disampaikan. Selain itu terdapat pengulangan penjelasan mengenai hubungan antar personil, yang seperti aku sebut sebelumnya, hal tersebut bisa diletakkan di awal tulisan.

Ya begitu deh. Mungkin apa yang disampaikan oleh majalah RS adalah standar baku bagi majalah tersebut. Terasa berbeda jika dibandingkan dengan artikel yang ada di TEMPO misalnya. Yang aku tau tetap setia dengan slogan Enak Dibaca dan Perlu.

Sesuai janji, siang ini aku mengajak anak anak nonton. Film Disney bertajuk Big Hero. Berhubung filmnya baru dua hari tayang, sengaja aku ajak ke bioskop yang agak mahal jauh. Karena kalau di Cipinang Mall, tempat biasa kami menonton dan yang paling dekat dengan rumah, gak yakin akan dapat posisi nyaman.

Blitz Pacific Place menjadi tujuan. Karena harus menunggu Sulung pulang sekolah. Rencananya kami akan menonton penayangan pukul 12.40. Tiba di Blitz suasana belum ramai. Counter yang dibuka hanya satu. Plus satu counter pojok kanan. Awalnya aku antri di counter biasa, bukan pojok kanan. Jarang nonton bioskop. Ga paham masing masing counter tujuannya buat apa.

Karena counter dimana aku berdiri antriannya cukup panjang, aku pindah ke counter pojok kanan. Hanya ada seorang mengantri di sana. Ketika tiba giliranku, aku ditanya mau nonton apa. Katanya itu counter khusus velvet. Aku bilang, aku mau nonton di studio biasa. Apakah boleh?. Petugas mengiyakan. Aku tambahi, aku akan membeli tiket dengan Niaga Ponsel. Karena aku lihat materi promosi masih melekat di counter.

Petugas bilang, counter dia (pojok kanan) tidak melayani Niaga Ponsel. Aku dipersilahkan pindah ke counter lain. Aku protes. Kalian punya banyak counter, tapi yang dibuka hanya satu?. Mohon maaf pak, mungkin petugasnya sedang ke toilet, jawabnya. WTF!! Batinku. Alasan macam apa!?!?

Akhirnya dia sedikit berteriak ke arah seorang temannya yang kebetulan sudah membuka satu counter lagi selain tadi tempat aku mengantri panjang. Apakah counter dia buka. Mendapat jawaban counter buka, dengan sedikit kesal aku pindah ke counter baru. Antrianku nomer tiga. Di depanku, melakukan transaksi dengan kartu kredit Niaga. Artinya ada promosi CIMB Niaga.

Tiba giliranku, aku hanya bilang ke petugas (bernama Amir), mas aku mau nonton Big Hero dan membayar dengan Rekening Ponsel CIMB Niaga. Dia hanya menanyakan, apakah aku sudah menukar kupon. Aku jawab sudah. Lalu katanya, kalau transaksi dengan rekening ponsel, di counter sebelah pak. KAMPRET!! kataku dengan suara meninggi. Tadi aku dari sana kalian suruh ke sini. Aku ke sini kalian suruh kesana!

Mungkin dia kaget. Dia bertanya pada rekannya di counter awal tadi. Sepertinya dia gak paham. Akhirnya transaksiku dilayani. Namun bukan olehnya. Tapi oleh rekannya. Mungkin dia memang belum paham. Meski kadung kesal, aku diam saja dilayani. Bungsu mondar manadir bertanya. Apakah kami sudah boleh masuk. Aku jawab sekenanya bahwa layanan mereka ini lambat. Sambil minta keduanya bersabar.

Selesai transaksi, aku menyempatkan meminta maaf pada mas Amir yang kena kampret tadi. Meskipun menurutku mereka bersalah, aku merasa dia tak pantas diumpat begitu.

Aku gak ngerti. Alasan sedang ke toilet bisa keluar begitu saja. Ketidakpahaman akan produk dan layanan, menyebabkan pelanggan memiliki pengalaman tak menyenangkan. Kebetulan aku kenal satu orang karyawan perusahaan pengelola Blitz. Padanya aku sampaikan pelayanan ini. Semoga mereka berbenah. Group Lippo sudah mulai masuk pasar. Layanan harus diperbaiki kalau mau bertahan.

Mengkel Nama Ahu – Tongam Sirait ft. Viky Sianipar

Jumpang ari, jumpang bulan
Jumpang nang taon muse
Ari-ari tapasuda,
So adong namoru hape

Nunga lam suda ari-arikku
Nunga lam loja mamingkiri
So adong namuba dope

**
Hape umur nunga lam matua so tarulahan
Hape daging pe nunga lam loja so tarambatan
So adong nahudapot dope
Mengkel nama au..unang holsoan au
Mengkel nama au ..unang marsak au
Iee..iee..

Nunga lam suda ari-arikku
Nunga lam loja mamingkiri
So adong namuba dope

Horas..Horas..
Horas…Horas..
Asal ma sai Horas..

Ada umpasa (pepatah) Batak yang bilang, “ndang tartangishon, tumagonan ma tinortorhon“. Artinya kurang lebih, “(apa yang sudah berlalu) tak bisa disesali, lebih baik dibawa gembira”

Mungkin itu yang hendak disampaikan lagu Tongam Sirait (featuring Viky Sianipar) dalam lagu di atas. Mengkel nama Ahu atau Ketawa Sajalah. Yang sudah berlalu takkan kembali. Bagaimana ke depan saja. Mari hadapi dengan sukacita. Berikut terjemahan bebasnya. tentu saja ala Amani Dimpos
—————
Hari berganti, bulan pun demikian
Tahun berganti lagi.
Kita habiskan hari
tiada yang berkurang ternyata

hari hariku semakin menipis
semakin lelah memikirkannya
tiada yang berubah

**
Padahal umur semakin menua
Takkan terulang
Padahal tubuh semakin lelah
Tak bisa ditahan
Belum ada yang kudapat
ku hanya tertawa..biar tak menyesal
Ku hanya tertawa..biar tak bersedih

hari hariku semakin menipis
semakin lelah memikirkannya
tiada yang berubah

awalnya adalah menerima telepon dari petugas PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. mengingatkan tentang kewajiban pembayaran rekening telepon yang karena suatu hal abai kulakukan. setelah berjanji kepada petugas itu untuk segera membayar, aku menanyakan padanya bagaimana cara menutup akun speedy yang aku punya. karena selama ini juga teronggok tidak terpakai karena aku telah menggunakan jasa penyedia layanan lain yang sepertinya lebih cepat. oleh petugas aku disarankan untuk datang ke plasa telkom terdekat. aku berterima kasih untuk informasi yang disampaikan petugas itu.

jumat pagi, sekalian hendak mengurus sesuatu di wilayah jakarta utara, aku mendatangi plasa telkom jakarta timur. karena rutenya searah. juga berbekal jawaban dari petugas sebelumnya. belum jam 8 aku sudah di sana. menunggu sebentar karena waktunya belum jam kerja. jam 8 lebih sedikit aku masuk. disambut petugas yang sepertinya siap memberi nomer antrian. aku utarakan maksud kedatanganku. oleh petugas, disampaikan bahwa penutupan akun speedy dengan nomer telepon wilayah bekasi, tidak dapat dilakukan di palsa telkom jakarta timur. aku disarankan untuk ke plasa telkom bekasi. aku berargumen bahwa aku sekadar mengikuti saran petugas melalui telepon. jawabannya tetap sama. tanpa mendengar penjelasan lanjutan, aku balik kanan. kembali ke mobil. mencoba menanya secara tertulis agar ada bukti hitam di atas putih. melalui dua akun twitter yang berbeda.

………daaaaaan disinilah dua akun yang katanya resmi memunculkan kelucuan…..

pertanyaan kepada @TelkomSpeedy dan jawabannya
IMG_0492-0.PNG

pertanyaan kepada @TelkomCare dan jawabannya
IMG_0500.PNG
IMG_0499.PNG

jawaban dari @TelkomSpeedy sama dengan petugas sebelumnya yang menghubungi. namun jawaban dari @TelkomCare, tak ubahnya jawaban standard layanan pelanggan. tanpa solusi meski aku telah sampaikan bukti. dan kalimat “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..” adalah jawaban kunci seolah menyampaikan kami hanya bisa bantu segitu. yang diharapkan dapat menutup pembicaraan. melepaskan mereka dari kewajiban memuaskan rasa penasaran konsumen.

akhirnya jawaban @TelkomSpeedy aku mention ke @TelkomCare. sempat terbersit harapan bahwa mereka telah menyadari ketidakkonsistenan jawaban dua akun yang sama sama mengaku akun resmi [plus tanda centang biru], ketika @TelkomCare meminta komunikasi dilanjut lewat pesan langsung di twitter [DM]. mereka memintaku menyampaikan nomor pelanggan. aku pikir keduanya mungkin sudah duduk bersama untuk membicarakan solusi. namun alih alih menjawab pertanyaan, setelah aku memberi nomor speedy, jawaban mesin muncul lagi.. “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..” seraya berkata, hanya itu cara kami. mau ikut silahkan…tak mau tak ikut, hanya ini cara kami. hanya itu solusi kami…hadddeeeeh…

cuma heran saja. ketika semua banyak layanan bisa dilakukan dengan online, bank mulai kampanye gerakan nasional tanpa uang tunai atau pengurangan kantor cabang, mereka yang terbiasa bekerja dengan teknologi masih menggunakan pola kerja ketika dinosaurus baru saja punah…#IbaKita

20140721-133351-48831617.jpg

Ketika sebelum Pemilu Presiden, sebagaimana juga mungkin yang dialami banyak orang, aku menerima pesan siar [broadcast messenger. Pakai istilah ini saja dulu. Kebenarannya nanti tanya @ivanlanin :-)]. Isinya sebagaimana sudah diketahui bersama. Ajakan untuk memilih calon presiden tertentu.

Atas pesan itu, yang aku yakin juga diterima dengan cara yang sama oleh sang pengirim [yang kebetulan dokter], aku hanya menjawab singkat. Aku bilang, aku tak lagi percaya sistem pemilihan umum Indonesia saat ini yang hanya menyuarakan kepentingan partai politik. Aku bilang, aku tidak akan pergi ke Tempat Pemungutan Suara pada harinya. Pembicaraan melebar. Sang teman [sebagaimana pendukung kedua calon presiden] tidak bisa terima. Ragam alasan dikemukakannya. Sayang suara lah. Gak bertanggung jawablah. Dan seterusnya. Aku tak pedulikan. Sebagaimana juga partai politik peserta pemilu yang abai akan suara pemilihnya.

Kepada sang teman yang masih ngotot, aku sampaikan bahwa aku mengidamkan sistem demokrasi yang menganut falsafah orang Batak. Dalihan Na Tolu. Pemerintahan yang menganut Somba marhula hula, Elek marboru dan Manat mardongan tubu. Kepadanya aku sampaikan bahwa kalau saja pemilihan umum anggota legislatif menghasilkan Dongan Tubu, pemilihan umum presiden menghasilkan Boru, terbayang bagaimana suka citanya rakyat sebagai Hula Hula. Buatku, harusnya pemerintah mengambil sikap sebagai Boru kepada rakyat yang Hula Hulanya. Anggota legislatif mengambil sikap sebagai Dongan Tubu, kepada rakyat. Sehingga seharusnya pemerintah somba kepada rakyat, anggota legislatif manat kepada rakyat. Manakala rakyat, elek kepada pemerintah.

Sang teman langsung protes dengan ide yang aku sampaikan. Katanya tak mungkin. Mustahil!. “Coba kau bayangkan” katanya. “Posisimu adalah boru simatuamu, kan?” “Yep” jawabku tegas. “Lantas apakah kau menjadi pemerintah buat simatuamu?” Lanjutnya. “Kawan” balasku, “Janganlah kau bolak balek. Jangan kau lihat dari sisi sebaliknya” lanjutku. “Tak betul itu” katanya ketus. “Sudah salah besar kau disitu” lanjutnya. Atas tanggapan dia yang melihat dari sisi sebaliknya, aku cuman senyum sendiri. “Parah kali lah kawan ini” kupikir. Tentu tak kuucapkan. Mengingat temanku ini bergelar dokter. Harusnya logikanya cukup mencerna penjelasanku. Atau mungkin awakmyang cuma Sarjana Ecek Ecek ini, kurang pintar menjelaskan. Entahlah.

Padahal apa yang aku mau sampaikan adalah, anggota legislatif haruslah bersikap Manat Mardongan Tubu terhadap rakyat pemilihnya. Sebagaimana pada pesta unjuk [sebagai sebuah acara adat yang besar] sebelum dongan tubu mengiyakan sinamot yang akan disampaikan oleh pihak paranak, harusnya menanyakan terlebih dahulu kepada suhut sihabolonan. Apakah bisa menerima atau tidak. Walaupun pada kenyataannya, ketika pesta unjuk [apalagi dalam kasus di Jakarta] hal tersebut hanyalah formalitas semata, tetap saja proses mengkomfirmasi itu perlu dilakukan. Agar apa yang akan dijalankan oleh Parsinabung/Dongan Tubu sesuai keinginan suhut sihabolonan.

Proses mengkomfirmasi keinginan rakyat bisa dilakukan oleh anggota legislatif dengan banyak cara. Salah satunya dengan terjun langsung ke daerah pemilihan masing masing. Menyerap aspirasi masyarakat pemilihnya. Bukan seperi sekarang. Alih alih menanya pemilih, wakil rakyat lebih memilih untuk studi banding ke luar negeri. Padahal belum tentu yang dilihat di luar negeri sesuai dengan situasi apalagi kemauan pemilihnya.

Pemerintah sebagai boru mengambil sikap Somba Marhula Hula kepada rakyat. Keinginan rakyatlah yang dijalankannya. Kalau rakyat bilang, bangun jembatan, perbaiki transportasi massal, harusnya pemerintah dengan sukacita melaksanakannya. Sebagaimana boru yang dengan sukacita membagi kopi, lampet, kembng loyang atau jambar sebagaimana di pesta unjuk. Masalah darimana datangnya semua yang dibagi itu, rakyat pasti sukarela menyiapkannya. Sepanjang semua une pada tempatnya. Hula Hula Hula senang, rakyat riang. Jika sudah demikian, kurang senang apa rakyat.

20140630-135950-50390463.jpg
pagi ini seperti biasa jika ngantor tidak membawa mobil, aku akan menggunakan jasa omprengan. seketika turun dari motor tebengan, aku ditawari naik avanza yang sudah ngetem di luar pelataran dimana omprengan biasa mangkal. biasanya yang begini adalah murni orang kantoran yang sedang mencari teman untuk dapat melintas kawasan berpenumpang tiga atau lebih (3 in 1).

di kursi depan duduk pengemudi. seorang perempuan. duduk di sebelahnya pun seorang perempuan. pada kursi tengah, telah duduk seorang bapak. sementara di bangku belakang duduk seorang ibu. dengan pertimbangan bahwa setelah aku mungkin akan ada penumpang lain, aku mengambil posisi duduk di belakang. menunggu sebentar. mungkin si mbak pengemudi mau menunggu seorang lagi untuk duduk di tengah pikirku. tak apalah. ternyata belum lima menit, si mbak pengemudi turun dan memberi tips pada timer yang menawar nawarkan kursi tadi. avanza pun melaju. Ibu yang tadi duduk di belakang bersamaku, pindah ke tengah.

perkiraan bahwa hari kerja pertama kerja di bulan ramadhan jalanan akan sepi ternyata tidak terbukti. jalan tol dari jatibening menuju cawang/jakarta bahkan seperti hari kerja biasa. mobil merambat pelan. tidak terlihat mbak pengemudi menyalip dari bahu jalan. pun ketika mendekati gerbang tol halim. aku yang biasanya mengambil posisi paling kanan untuk kemudian menyalip di depan ketika pembatas jalan gerbang tol dan keluar halim, cukup kagum dengan keteraturan si mbak pengemudi. konsekuensinya perjalanan lebih lambat dari omprengan biasanya, yang kadang kelakuan sudah mirip sopir metromini. bahkan dari diriku, yang meski [ehem....] lumayan tertib, sering menyalip juga untuk ruas jalan tertentu.

tapi sebentar dulu. itu dari radio mobil si mbak memang terdengar siaran radio. namun kenapa di telinga si mbak tertempel earphone. apakah dia sedang mendengarkan lagu dari perantinya? atau mungkinkah sebuah handsfree? sepertinya tidak. karena selama perjalanan tidak terdengar sedikit pun si mbak berbicara dari earphonenya. tapi nanti dulu. karena duduk sendiri di belakang, aku mengambil posisi duduk di tengah. dari belakang terlihat beberapa kali si mbak memegang telepon pintarnya dengan dua tangan. awalnya kupikir dia sedang memilih lagu yang akan didengar lewat earphonenya. ternyata tidak.

sekali dua terlihat layar telepon pintarnya menunjukkan awarna merah. sekilas terlihat lambang path. kali berikutnya terlihat si mbak seperti sedang chatting. OH KAMBING SAYA [Oh My Goat!]. ini si mbak sedang songong ternyata. memang moibilnya matic. tidak perlu gonta ganti kopling. pantes saja, si mbak tertib berlalu lintas.

Gemes rasanya duduk di belakang sebagai penumpang. karena beberapa kali terlihat ada jarak cukup jauh dengan mobil di depan kami dalam jahanamnya kemacetan tol dalam kota. karena mobil si mbak bergerak sekian lama setelah mobil di depannya bergerak [bukan karena lama memindahkan perseneling tentu saja]. dan sepertinya si mbak menikmati sekali pembicaraan di perantinya. meski duduk di belakang, terlihat beberapa kali si mbak tersenyum sambil mengetik.

Maaf ya mbak. kelakuan mbak mungkin sama saja ancurnya dengan kemacetan tol dalam kota. kalau mbak sendiri di mobil itu, tiada yang akan peduli. tapi mbak tak peduli dengan keselamatan penumpang yang sedang mbak bawa.

20140427-103948.jpg

Sekilas mungkin orang akan mengira iklan di atas adalah iklan milik PT Astra International Tbk. Tak bisa disalahkan, karena menampilkan gambar Toyota Fortuner dan logo Toyota. Dilengkapi kalimat, ‘Menangkan Toyota New Fortuner’ dengan kalimat provokatif ‘Hanya 10 Hari !‘. Seolah pembaca ditawari kesempatan untuk memperoleh sebuah Toyota Fortuner sebagaimana gambar tertera. Caranya pun cukup ‘mudah [?]‘. Setiap pembaca yang dengan rumus yang mereka sediakan, memperoleh angka 399 berhak untuk ikut undian memperoleh Toyota Fortuner.

Namun coba perhatikan lagi rumus yang diberikan

1. Ambil tahun kelahiran, tambahkan dengan 385
2. Hasil hitungan pada angka 1 tambahkan dengan umur anda pada tahun 2014
3. Hasil perhitungan di angka 2, kurangi dengan angka 2000

Tahun berapapun pembaca lahir, hasilnya pasti 399!. Artinya semua berhak mengikuti undian yang mereka siapkan. Bahkan mereka yang baru lahir dua tahun lalu. Langkah selanjutnya adalah, mereka yang setelah menghitung tahun kelahiran memperoleh angka 399, dipersilahkan mengisi kupon undian [mereka menyebutnya Kupon Partisipasi]. Sebagaimana layaknya peserta undian, calon peserta akan diminta mengisi data personal. Seperti nama, alamat dan nomor kontak yang bisa dihubungi.

Tapi sebentar dulu, pada kupon tertera syarat dan ketentuan yang meski ditulis dengan huruf kapital,mberukuran cukup kecil. Butuh usaha untuk membacanya lengkap. Sampai di sini, diharapkan pembaca atau calon peserta berhati hati. Yang pertama, ternyata hadiahnya bukan dalam bentuk barang [Toyota Fortuner] sebagaimana disebut pada gambar iklan. Namun dalam bentuk uang tunai senilai Rp 399.000.000,- yang katanya seharga satu unit Toyota Fortuner 2,5 G M/T per Februari 2014. Begitu seterusnya untuk hadiah sesuai kategori pemenang.

Ternyata perhitungan dengan angka kelahiran sebagaimana disebut di atas, merupakan tahap pertama ‘PROMOSI‘ yang diselenggarakan oleh PT Gema Loka Optima ini. Jika peminat promosi memperoleh angka 399, maka padanya melekat hak untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu menyatakan diri bersedia menerima ‘Katalog dan Dokkumen informasi yang memuat syarat dan ketentuan lebih lanjut’. Tahap kedua adalah tahap yang harus diperhatikan lebih rinci. Karena peserta harus melakukan pemesanan produk dari katalog yang diterima, dan pemesanan sudah harus dibayar lunas.

Pemenang hadiah utama dan hadiah lain, ditentukan oleh penyelenggara berdasarkan nilai pembelian tertinggi dengan ketentuan tambahan. Jika terdapat produk yang ingin dikembalikan [retur] maka nilai pengembalian [refund] tidak akan diperhitungkan dalam menghitung jumlah pembelian. Jika terdapat lebih dari satu kandidat pemenang, maka penentuan pemenang dilakukan dengan cara melihat pada :
1. Penerimaan pelunasan terlebih dahulu
2. Tingkat loyalitas dan frekwensi pembelian
Pihak penyelenggara juga mengingatkan bahwa promosi ini bukanlah kontes, permainan ataupun undian. Karena tidak didasarkan pada peluang atau kesempatan.

Jadi jangan senang dulu karena anda mendapatkan nilai 399. Sebab belum tentu Fortuner didapat. Angka 399 hanya pintu masuk bagi anda untuk menyerahkan data pada mereka untuk selanjutnya dikirimi katalog. Setelah itu, jika ingin mendapat Fortuner, belanjalah sebanyak banyaknya pada mereka. Dengan harapan nilai pembelanjaannya adalah yang terbanyak diantara peserta lainnya yang datanya anda tidak akan pernah tahu.

Pembaca layak untuk berhati hati. Dengan memasang iklan seperempat halaman di harian Kompas, sepertinya penyelenggara berharap mendapat hasil pancingan yang cukup besar. Karena umpannya cukup mahal ;-)

Pemilihan anggota legislatif sudah usai. Hitung cepat sebagai metode untuk mengetahui pemenang, sudah dilakukan. Partai yang memperoleh suara terbanyak sudah terlihat. Hampir semua partai peserta pemilu tidak mendapat suara sebagaimana diprediksi. Banyak yang meradang. Banyak yang kecewa. Ada yang jumawa. Tak ketinggalan, ada yang tetap memperolok peroleh suara terbanyak. Lengkap dengan editan ala photoshop. #eehhh

Yang tidak memperoleh cukup suara untuk menduduki kursi empuk parlemen mulai meradang. Ada yang melakukan tindakan aneh. Sebagaimana diwartakan oleh media. Ada juga yang legawa. Bahkan calon petahana, ada beberapa yang tidak lolos. Konon katanya akibat rakyat menghukum mereka. Ya begitulah. Mungkin bukti rakyat semakin kritis atas kinerja mereka. Kalau memang slama ini tidak bekerja, buat apa dipilih lagi? Kasih keaempatana pada yang baru, begitu alasan sebagian pemilih selain mereka.

20140426-170258.jpg

20140426-170311.jpg

Setidaknya ada dua ‘pesohor’ yang secara terbuka mengemukakan kekecewaannya. Demokrasi mahal katanya. Pemilu curang, ujarnya. Bahkan ada yang lantang berkata, ‘Negara ini sudah hancur’. Entah apa maunya. Padahal partainya adalah partai yang dulu melakukan kecurangan sama. Ya begitulah. Kalau kalah, semua bersalah. Kalau menang, mungkin hanya dia dan keluarganya yang bekerja dan senang. Biarkan saja.

Aku sendiri berpendapat, sama sebenarnya. Pelan pelan negara ini sedang dihancurkan. Bukan oleh kekuatan asing. Atau kapitalisme, liberal dan entah apalah istilahnya. Yang disebutkan oleh mereka yang mencoba mencari muka, seolah melawan siapa saja yang berkuasa. Seolah hanya mereka yang paling benar saja. Terlepas dari dia paham atau enggak akan apa yang diucapkannya.

Menurutku, penghancuran dilakukan oleh mereka yang duduk di partai politik. Atas alasan kuasa semata. Berdalih demi kepentingan rakyat mereka mempreteli dasar negara. Beralasan bahwa mereka lebih mengerti kemauan rakyat, kuasa yang harusnya di tangan rakyat, diambil oleh mereka. Rakyat dipersilahkan menjadi penonton saja. Hanya dibutuhkan ketika pemilu saja. Setelah itu, partai yang berkuasa. Atas nama rakyat Indonesia, tapi entah yang di sebelah mana.

Partai politik mempersilahkan siapa saja mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Beberapa kasus, konon dengan modal yang tak sedikit. Mahar politik katanya. Tanpa seleksi yang cukup apakah sang calon memiliki kompetensi yang dibutuhkan menjadi anggota legislatif. Yang dibutuhkan hanyalahnketenaran semata. Mulailah mereka bermanis muka. Bahkan sebelum masanya. Peraturan yang ada mensyaratkan bahwa kampanye ada waktunya. Namun yang ada, tak cukup lama sebelum pemilu, mereka memampangkan muka. Di berbagai sudut kota dan desa. Berharap para pemilih tak akan lupa, ketika saat pencoblosan tiba.

Namun usaha beberapa diantara mereka sia sia. Tetap saja rakyat pemilih tak ingat mereka. Mungkin banyak rakyat yang memilih, hanya ingat siapa memberi apa atau senilai berapa. Selebih ya lupakan saja. Yang menyedihkan, pemilihan umum langsung model begini sudah berlangsung setidaknya tiga kali. Semakin kesini, partai peserta pemilu semakin sedikit sebenarnya. Namun tetap saja, rakyat tidak pernah diajari oleh mereka. Sayang sebenarnya. Mereka berkicau miring setelah mereka kalah.

20140329-183927.jpg

Berkat menang kuis di @iradiojakarata, berkesempatan menonton The Raid 2 : Berandal. Film yang oleh beberapa kritikus dipuji. Setidaknya kalau membaca ulasan di Tempo dan Rolling Stone Indonesia [RSI] Juga di situs IMDB mendapat nilai 8.8. Sebuah nilai yang cukup tinggi, mengingat pemborong Oscar 12 Years of Slave saja per 29 Maret hanya memeroleh angka 8.3. Sedemikian beguskah? Entahlah. Aku bukan kritikus film.

Cerita, sebagaimana biasa film laga, masih berkisar pada balas dendam. Antara tokoh protagonis dan antagonis. Sebagaimana ditulis oleh Leila S. Chudori, meski ini film Indonesia [dengan sutradara asing] mari menganggap adegan dan lokasi film ini terjadi di negeri antah berantah. Mungkin maksudnya, bukan di Indonesia apalagi di Jakarta. Tentang seorang polisi [Rama-Iko Uwais] yang konon, ingin membalas dendam atas kematian abangnya, kemudian dimanfaatkan oleh polisi lain [Bunawar-Cok Simbara] yang ingin membongkar kebusukan polisi lain lagi [Reza-Roy Marten].

Pemanfaatan dilakukan melalui ‘menanam’ Rama ke dalam geng [lokal?] Bangun yang sedang berbaik baik dengan geng Jepang. Dua geng penguasa kota. Eits. Katanya antah berantah, tapi Bangun menyebut Menteng dan Sabang sebagai wilayah yang bisa dibagi ke geng Jepang. Untuk penonton indonesia, kedua nama tempat itu sudah merujuk ke Jakarta. Baiklah. Mari menganggap di kota entah berantah pun ada dua kawasan itu.

Buatku, jualan film ini hanyalah cerita yang lumayan apik [dengan metode kilas balik di awal cerita] serta adegan laga yang rapi. Meski terkadang adegan laganya terlalu vulgar, kalau tidak mau dikatakan sadis. Kesadisannya meniru adegan laga di The Man With Iron Fists atau mungkin adegan beberapa film besutan Quentin Tarantino. Kesadisan yang tidak perlu dipertontonkan dengan darah memuncrat. Berdasarkan data yang dikutip majalah Rolling Stone Indonesia, sepanjang pembuatan film ada 800 liter ‘darah’ yang ‘tercecer’. Mungkin setara dengan hasil donor darah 2.000 an pendonor :-).

Beberapa adegan tergolong lebay. Menurutku tidak perlu. Ambil contoh ketika Rama sedang di toilet dan segera mendapat serangan dari puluhan napi. Adegan jatuhnya baut pintu kalau dihilangkan pun tidak menghilangkan esensi bahwa dia akan dikeroyok oleh puluhan napi lain. Namun sepertinya adegan slow motion menjadi andalan sutradara untuk lebih menonjolkan sisi dramatis. Sama seperti adegan slow motion beberapa orang yang akan mengerjai Rama di penjara saat hujan. Adegan laga di lumpur yang dipuji. Namun, meskipun menghajar puluhan orang [napi dan petugas penjara] bahkan sebagian mungkin terbunuh, dalam dua tahun Rama telah keluar dari penjara. Untuk soal ini, sepertinya penonton memang harus mengasumsikan bahwa penjaranya adalah di Indonesia. Salah satu penjara [peradilan] paling manusiawi di dunia :-D

Adegan lebay lain adalah ketika Rama menyelipkan alat penyadap ke dompet Ucok [Arifin Putra]. Dengan ukuran alat yang sebesar ujung jempol orang dewasa, Ucok baru menyadari ada alat itu di dompetnya setelah berapa lama. Yeah. Mungkin karena seorang kaya raya, Ucok tidak perlu sering mengeluarkan dompet. Sehingga dia sadarnya setelah beberapa hari saja.

Entah dengan tujuan apa, sutradara juga mengundang beberapa bintang veteran bermain di film ini. Mulai dari Cok Simbara, Roy Marten, Henky Solaiman, hingga Pong Hardjatmo. Nama terakhir, malah hanya muncul satu scene saja. Roy Martin lebih beruntung darinya. Satu hal terkait aktor gaek tersebut, koq rasanya janggal mendengar dialog yang diucapkan oleh Cok Simbara ber “loe” “gua”. Mungkin akan lebih terlihat tegas sebagai polisi, jika Cok Simbara dibiarkan menggunakan istilah “aku” atau “kau” untuk menggantikan “loe” dan “gua”.

Adegan yang aneh lagi adalah ketika Prakoso [Yayan Ruhian] dihabisi. Diawali oleh adegan ruang diskotik dengan musik menghentak, mendadak sepi karena ternyata ada serangan puluhan orang terhadapnya. Ah, mungkin maksudnya antara suasana berdentam dengan pengeroyokan itu, harusnya dipisahkan oleh jarak beberapa bulan/musim. Terbukti ketika perkelahian bergeser keluar ruang diskotik, di luar telah turun salju! Dan di sinilah Prakoso yang gagah perkasa itu [menghabisi puluhan orang sebelumnya] sadar bahwa jatah pemunculannya di film telah habis. Begitu menghabisi pengeroyok terakhir, dan melihat The Assassin [Cecep Arif Rahman] menunggu di seberang jalan, dia langsung mengambil foto putrinya untuk dilihat terakhir kali. Untuk kemudian menyerahkan diri kepada The Assassin. Dalam beberapa jurus, Prakoso telah bersimbah darah. Tanpa Perlawanan. Plis deh! Eits tunggu dulu, adegan darah mengalir di salju itu yang dishooting dari atas, tampak dramatis. Oalah! Itu toh tujuan saljunya. Bukan karena yang lain?. #AihMateeek

Eh, tunggu dulu. Mungkin memang si The Assassin ini sedemikian digdayanya. Terbukti ketika bertemu dengan Rama di kantor Bangun, hanya dengan beberapa jurus, si Rama jagoan kita rebah tak berdaya. Gak bisa bangun lagi bro! Akhirnya dia dibawa bermobil dengan dikawal empat orang. Eka [Oka Antara] ajudan Bangun yang disuruh menyelamatkan diri oleh Rama, datang membantu dengan mengebut! Padahal satu kakinya baru tertembak. Oh iya lupa. Mobilnya matic. Kalau dilihat dari lokasi kejar kejaran, sepertinya dimulai dari bypass Ahmad Yani, dilanjut ke kawasan SCBD, menuju Kemayoran, dan berakhir di SCBD. Sebuah kejar kejaran yang lumayan panjang rutenya. Ups. Kita sedang di negeri antah berantah.

Tapi rebah dan tak berdayanya Rama, menurutku memang disengaja [bagian dari skenario] agar terjadi adegan kejar kejaran dengan rute terpanjang tadi. Karena ternyata setelah itu, Rama mampu bertarung dengan durasi lumayan panjang melawan The Assassin. Dan tentu saja dimenangkan oleh Rama sang jagoan. Ketika berakhir, penonton bertepuk tangan. Ketika itu aku merasa sedang menonton misbar. Padahal nontonnya di Blitz Megaplex di Grand Indonesia. Kalau melihat staminanya, mungkin memang Rama pantas disejajarkan dengan John McClane di serial Die Hard. Mungkin karena itu disebut kualitas Hollywood. Kalau tidak melihat credit title, tadinya kupikir sutradaranya orang Indonesia.

Guru Besar Tata Negara Yusril Ihza Mahendra, dalam sebuah episode Indonesia Lawyer Club pernah berkata bahwa dalam mengajukan gugatan pada Mahkamah Konstitusi, beliau tidak perlu membawa banyak ahli hukum. Menurutnya, apa yang perlu dibawa cukuplah seorang ahli Bahasa Indonesia/Melayu. Menurutku, hal tersebut dilakukan, karena seringkali di persidangan yang terjadi bukan lagi debat mengenai semata soal hukum. Namun lebih kepada bagaimana memaknai kalimat dalam Undang Undang yang sedang diuji.

Kalau dipikir ada benarnya. Seringkali sebuah peraturan dimaknai berbeda oleh lebih dari seorang ahli hukum. Mungkin itu sebabnya ada kalimat yang menyatakan kurang lebih, “dalam diskusi dua orang ahli hukum, maka terdapat kemungkinan muncul tiga pendapat” (dengan segala hormat kepada para ahli hukum). Perdebatan, seringkali terjadi ketika para ahli hukum memaknai berbeda atas kalimat yang terdapat pada sebuah peraturan.

Bekerja pada sebuah institusi yang diserahi fungsi sebagai regulator, membuatku terbiasa menghadapi kalimat-kalimat hukum. Hal tersebut mau tidak mau harus dilakoni karena kami memiliki tugas untuk membuat peraturan dan memastikan peraturan tersebut dapat dijalankan serta dipatuhi oleh pihak yang diatur. Bukan saja harus mengenai peraturan yang kami buat sendiri. Juga peraturan lain yang terkait dengan pihak yang kami atur. Sering perbedaan pendapat terjadi ketika memaknai Ketentuan pada level undang undang yang dibuat oleh Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Salah satu undang undang yang terkait adalah Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Pasal 72 ayat (1) UUPT mengatur bahwa, Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan. Pasal ini terhitung cukup sering dimaknai berbeda. Kami memaknai begini, pihak yang diatur memaknai begitu. Bertolak belakang tergantung pada sudut pandang.

Menurutku, kalimat pada pasal tersebut haruslah dibaca sebagai dua klausa. Klausa pertama “Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir” sementara klausa kedua “sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sehingga dengan demikian, memaknainya haruslah bahwa “pembagian dividen interim dilakukan pada tahun yang sama dengan tahun buku yang mendasari pembagian dividen interim”. Ribet? Itulah bahasa hukum.

Sebagai contoh, dividen interim tahun buku 2013 misalnya, haruslah dibagikan pada tahun 2013. Rentang waktu pembagiannya dimulai sejak tanggal 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013. Sebab apabila dibagikan pada Januari 2014 apalagi setelahnya, sudah tidak sesuai dengan klausula “sebelum tahun buku berakhir”. Karena tahun buku berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 (dengan asumsi, tahun buku dimulai sejak 1 Januari 2013 dan berakhir 31 Desember 2013).

Masalah apakah dividen interim dapat dibagikan pada rentang waktu tersebut, harus mengacu pada klausa terakhir, “Sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sebab jika hal tersebut tidak diatur pada anggaran dasar, maka pembagian dividen interim tahun buku 2013 (meskipun dibagikan dalam rentang waktu 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013) tidak dapat dilakukan.

Untuk skala yang lebih kecil adalah apa yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Awal tahun, Perusahaan telah menetapkan penggunaan dua jenis seragam yang kami punya dengan ketentuan, “seragam merah digunakan pada Jumat minggu kedua. Sementara seragam biru digunakan pada Jumat minggu keempat”. Hari Kamis sore terdapat diskusi (yang pasti dimulai dengan kebingungan) mengenai hal tersebut. Apakah pada hari Jumat tanggal 7 Februari 2013, adalah jadwal pemakaian seragam merah?

Menurutku, kebingungan dimulai dari kalimat “Jumat minggu kedua”. Mencoba memaknai bahasanya, berbekal pengalaman sebagaimana aku tulis di atas, aku mencoba melirik pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

Ming·gu 1 hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; 2 (ditulis dengan huruf kecil) jangka waktu yang lamanya tujuh hari

Yang menyatakan bahwa tanggal 7 Februari adalah jadwal pemakaian seragam, melihat bahwa rentang waktu tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014, merupakan minggu kedua Februari. Karena meskipun tanggal 1 Februari 2014 jatuh di hari Sabtu, menurutnya cukup untuk menyatakan bahwa itu merupakan satu minggu. Padahal jika mengacu pada apa yang dinyatakan oleh KBBI di atas, pemakaian seragam pada bulan Februari 2014, haruslah dilakukan pada tanggal 14 Februari. Bukan pada tanggal 7 Februari. Karena waktu seminggu sebagaimana disebutkan dalam peraturan, baru tercapai pada rentang waktu sejak tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014. Demikian seterusnya sampai akhir bulan.

Namun, ternyata Jika konsisten dengan ketentuan tujuh hari dalam seminggu, tidak terlalu lama akan terjadi kebingungan baru. Bahkan ketika bulan Februari belum selesai. Karena ternyata tidak ada minggu keempat pada bulan Februari 2014. Karena ketentuan satu minggu terdiri dari tujuh hari tidak terpenuhi pada rentang tanggal 23 sampai 28 Februari. Meskipun pada rentang waktu tersebut terdapat satu hari Jumat di tanggal 28 Februari. Lantas kalau begini, harusnya seragam warna biru tidak akan pernah digunakan pada Bulan Februari :-)

Aku pikir, seandainya kata “Jumat minggu kedua” diganti menjadi “Jumat kedua”, “Jumat ketiga” dan seterusnya, mungkin kebingungan itu tidak akan terjadi. Atau malah berpotensi masalah lagi di bulan selanjutnya? #ah…sudahlaaaah…