Pengamat musik Denny Sakrie (@dennysakrie) dalam satu twitnya berkata, “Padi dan Musikimia itu ibarat God Bless dan Gong 2000″. Sebuah pernyataan yang sekilas ada benarnya. Jika dirunut sejarah keduanya.

God Bless adalah salah satu band rock tertua di tanah air, berdiri pada tahun 1973. Sempat malang melintang di era tahun tujuh puluhan untuk kemudian vakum sekian lama. Band ini bangun dari masa vakumnya dengan mengeluarkan album Semut Hitam pada tahun 1988. Dengan formasi Ahmad Labar pada vokal, Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Yockie Suryoprayogo (keyboard) dan Teddy Sujaya (drum). Namun setelah album ini, Ian Antono keluar dari God Bless dan menjadi erenjer untuk beberapa penyanyi solo seperti Ikang Fawzi dan Nicky Astria. Posisi Ian di God Bless sempat digantikan oleh gitaris muda Eet Sjahranie. Formasi ini sempat mengeluarkan album Raksasa.

Selain menjadi produser untuk penyanyi solo, Ian Antono membentuk Gong 2000 bersama Ahmad Albar, Harry Anggoman (keyboard), Donny Fatah (bas) dan Yaya Muktio (drum). Band ini boleh dianggap menuai sukses dengan mengeluarkan beberapa album seperti Bara Timur (1991), Gong Live – (1992), Laskar (1993), dan Prahara (1998). Disela kegiatannya bersama Gong 200, tercatat Ian Antono pernah ‘kembali’ ke rumah lamanya God Bless. Pada tahun 1997, para personel God Bless, termasuk Eet Sjahranie dan Ian Antono berkumpul dan menghasilkan sebuah album berjudul Apa Kabar. Judul album yang seolah menyiratkan arti reuni untuk ‘mantan’ personel God Bless. Namun reuni ini tidak berlangsung lama karena Eet secara resmi mengundurkan diri dari formasi God Bless untuk konsentrasi pada Edane. Band yang dibentuknya dan mengeluarkan album yang juga bernafaskan rock, The Beast.

Begitulah akhirnya God Bless, rujuk kembali. Bongkar pasang, keluar masuk personel kerap terjadi. Tercatat hanya Ian Antono, Ahmad Albar dan Donny Fatah yang paling awet diantara personilnya. Lantas bagaimana dengan Padi dan Musikimia?

Sama sama beraliran rock, Padi adalah generasi muda di musik rock Indonesia. Beranggotakan Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass) dan Yoyo (drum), band ini berhasil mencuri perhatian pecinta musik Indonesia. Bahkan konon album kedua bertajuk Sesuatu Yang Tertunda, laku jutaan kopi dan dianggap salah satu album terbaik. Sayangnya, kesusksesan mereka tercoreng oleh kisah penabuh drum yang dipidana menggunakan narkoba. Yoyo pun harus mendekam di penjara. Band pun vakum sementara.

Mirip kisah Ian Antono di God Bless, sang gitaris Piyu jalan dengan menjadi produser. Buah tangannya diantaranya adalah Drive. Band yang sempat menghasilkan beberapa album untuk kemudian tidak terdengar lagi, menyisakan Anji sang vokalis yang tetap melanjutkan kerjasama dengan Piyu. Setelah sekian lama, Yoyo pun selesai menjalani hukumannya. Konon mereka (personel Padi) pernah bertemu untuk membincangkan kelanjutan Padi. Personel Padi selain Piyu, menyampaikan keinginan mereka untuk membangunkan lagi band Padi.

Namun apa daya, mereka tidak mendapat respon sebagaimana diharapkan. Jadilah Fadly, Rindra dan Yoyo jalan sendiri. Ditambah Stephan Santoso yang merupakan sound enginer Padi saat rekaman di masa lalu, serta Ari yang katanya menjadi manajemen, mereka mendirikan Musikimia. Saat ini, single mereka bertajuk Apakah Harus Seperti Ini sedang sering diputar di radio. Banyak orang mengira, ketika mendengar selintas ini adlah lagu terbaru padi. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena vokal Fadly sudah lekat dengan Padi.

Kembali ke sepenggal twit dari Denny Sakrie di atas, apakah memang kedua (atau keempat?) band ini mirip? Belum bisa dikatakan demikian. Coba perhatikan lagu Musikimia dan bandingkan dengan single Piyu featuring Anji berikut ini.

Apakah semua harus berakhir sudah
Dan berhenti sampai di sini
Jangan paksakan aku mengiyakan inginmu
Bila tak kau indahkan semua mimpi tentang kita

Tak ada satupun manusia di muka bumi
Yang tak ingin dihargai
Engkau dan aku mungkin berbeda
Tapi kita masih bisa bicara dan saling mendengar

Bukan harus seperti ini

Haruskah kita seperti ini

(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) tak harus seperti ini (tentang kita)

Pelan-pelan ku benamkan pikiranku
Bahwa aku pun tak salah melepasmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu

Sempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu

Lambat-lambat waktu makin memacuku (memacuku)
Setidaknya aku masih mengingatmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu

Sempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu
Oooh ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu

Mungkin mereka bisa berdalih bahwa kedua lagu hanya merupakan sebuah karya seni biasa. Tanpa ada maksud tertentu di baliknya. Pikiran nakalku yang sebenarnya tak berharap mereka berpisah mengatakan bahwa mereka sedang berdialog lewat lagu masing-masing. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah memang Padi dan Musikimia memang seperti halnya God Bless dan Gong 2000, atau tidak ada kemiripan sama sekali. Sambil membayangkan karya karya indah yang pernah mereka lahirkan bersama, seperti Begitu Indah, Mahadewi, atau Sobat. Yang mengantarkan mereka ke industri musik Indonesia.

man-of-honor

Selesai juga membaca “Man of Honor Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya”. Sebuah buku biografi yang menurutku cukup enak dibaca. Kisah jatuh bangun seorang yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia. Selain itu, banyak kisah inspiratif yang bisa dipetik.

Mungkin tidak terlalu banyak yang mengenal sosok seorang William Soeryadjaja. Mungkin lebih banyak yang mengenal warisan yang ditinggalkannya. Sebuah (group) perusahaan bernama PT Astra International Tbk. Perusahaan publik yang saat ini berkapitalisasi pasar 300 triliun rupiah. Perusahaan yang dimulai hanya dengan empat karyawan, sekarang memiliki ratusan ribu karyawan. Pemilihan kata dimulai, bukan didirikan aku gunakan karena sebenarnya Astra bukan didirikan langsung oleh Oom William (begitu tokoh ini disebut di buku ini, dan begitu juga sapaan karyawannya kepadanya). Cikal bakal Astra adalah sebuah perusahaan yang dibeli oleh William, kemudian didandani sehingga menjadi besar dan beranak pinak.

Buku Man of Honor menceritakan bagaimana sejarah seorang William. Mulai dari masa kecilnya di Majalengka, menikah dan memulai usaha, “dikerjai” hingga pernah mendekam dalam penjara, bangkrut dan memulai lagi bisnis baru. Untuk memulai bisnis baru, bahkan sampai dilakukan dua kali olehnya. Terakhir ketika harus menyerahkan sepenuhnya Astra, untuk keluar dari kesulitan yang dialami oleh putranya.

Sebagai sebuah biografi, buku ini lebih menceritakan kiprah William sebagai seorang pelaku usaha. Hanya sebagian kecil yang menceritakan William sebagai sosok seorang anak, ayah, atau kakek. Karena sepertinya sisi itulah yang ingin diangkat. Hal itu terlihat dari pemilihan judul besarnya, jika dibandingkan dengan langkah heroik yang dilakukannya untuk “menyelamatkan” (bisnis) anak lelakinya.

Buku inipun tidak terlalu banyak menceritakan mengenai keluarganya. Kecuali anggota keluarga yang bersentuhan langsung dengan usahanya. Seperti Edwin, putranya yang menjadi pengurus di Astra. Atau istrinya, Lily yang saat awal mulainya Astra sempat menjadi “penyedia” katering buat karyawan Astra, dengan memasak makan siang. Bahkan sosok Edward, putra yang diselamatkan olehnya pun disinggung lebih sedikit dibanding Edwin. Bahkan lebih banyak bercerita tentang dua adik laki lakinya yang membantunya dalam membangun kerajaan bisnisnya.

Untuk yang mengenal sedikit sosok William dari sepak terjangnya di dunia bisnis sebagaimana dikabarkan di media massa, buatku buku ini cukup memberi inspirasi. Banyak sisi lain seorang William yang baru kuketahui setelah membaca buku ini. Bagaimana besarnya rasa nasionalismenya (meskipun dia seorang keturunan Cina), bagaimana kesukaannya pada makanan khas Indonesia seperti sate kambing misalnya, bagaimana sifat dermawannya (yang suka memberi ‘salam tempel kepada siapa saja yang dia temui), bagaimana rasa sayangnya kepada karyawannya, dan seterusnya. juga melalui buku ini, pembaca mengetahui bahwa ternyata seorang Wiliam Soeryadjaja kadang suka iseng pada anak buahnya.

Juga bagaimana William telah menerapkan apa yang saat ini banyak dilakukan dan menjadi trend dalam dunia usaha. Penerapan prinsip Good Corporate Governance pada perusahaannya. Hal tersbut tercermin misalnya bagaimana dia merekrut tenaga tenaga profesional untuk mengelola Astra. Mendukung program pelestarian lingkungan hidup yang dikelola oleh Emil Salim (mantan menteri lingkungan hidup). Om William juga telah menerapkan Total Quality Control bahkan dianggap sebagai pelopor. Memberi sebagian saham perusahaan kepada direksi (saat ini dikenal dengan nama Management Stock Option atau Stock Allocation). Meskipun beberapa diantara jenderalnya (begitu manajemen disebut pada satu bab buku) tersebut merupakan keponakannya sendiri, ternyata diperlakukan sama dengan profesional lain. Bahkan para profesional itu, juga karyawan justru diperlakukan sebagaimana keluarga.

William juga mengharamkan Pemutusan Hubungan Kerja di perusahaan yang dikelolanya. Ketika menghadapi krisis, perusahaan tidak serta merta ditutup atau dirampingkan organisasinya. William justru mendorong agar manajemen yang telah diberi kepercayaan olehnya untuk memikirkan solusi keluar dari masalah. Dengan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan sehingga perusahaan tidak bangkrut. Yang penting tidak rugi, ujarnya. Dalam menghadapi hal semacam ini, dari buku ini pembaca tahu sejarah awalnya sepeda bermerek Federal. Sesuatu yang awalnya diremehkan oleh manajemennya, akhirnya menjadi bisnis yang lumayan memberi hasil.

Dikisahkan pula dalam buku ini, bagaimana ketika perusahaanya sudah dijalankan oleh profesional, William hanya mencari peluang bisnis baru untuk kemudian menyerahkan kepada jenderalnya untuk mengeksekusi. Memang tidak semua peluang bisnis yang ditawarkan, disambut dengan baik oleh para jenderalnya. Ada juga yang ditolak dengan berbagai argumen. Jika itu yang terjadi seringkali Om William malah jalan sendiri dengan kocek pribadi. Kelak ada diantara peeusahaan pribadi itu yang justru cemerlang dan akhirnya digabung ke dalam Astra. Ada pula yang tetep menjadi milik pribadi si Om. Tipe perusahaan terakhir, kelak menjadi penyelamat si Om ketika akhirnya beliau harus melepas Astra.

Buku yang ditulis oleh wartawan majalah SWA ini, ditulis dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Kalau boleh menyebut kekurangannya, hanyalah pada kurangnya informasi mengenai nama nama selain keluarga yang mengiringi perjalanan hidup si Om. Nama nama seperti Teddy P Rachmat, Tossin Himawan, Maruli Gultom, Gerry Kasih dan seterusnya. Menurutku akan lebih informatif lagi kalau ketika memunculkan nama-nama tersebut, penulis menyertakan catatan kaki untuk menceritakan latar belakang tokoh dalam buku. Karena ternyata beberapa diantara tokoh tersebut, menjadi pengusaha sukses setelah lepas dari Astra. Bahkan beberapa diantaranya disebut sebagai orang terkaya di Indonesia.

Akhir akhir ini aku senang membaca biografi beberapa tokoh. Yang teringat, mulai dari cerita Dahlan Iskan lewat Sepatu Dahlan, Chairul Tanjung, Kiki Syahnakri, hingga terakhir adalah kisah tentang perjalanan hidup J.B. Sumarlin sebagaimana posting sebelum ini. Terus terang tidak semua kisah enak dibaca.

Meskipun beberapa diantaranya ditulis oleh wartawan, mereka yang biasa menulis untuk media, tidak serta merta buku tersebut enak dibaca. Bahkan gaya bertutur seorang tentara berpangkat Jenderal (Kiki Syahnakri) menurutku lebih menarik daripada membaca kisah sang anak singkong (Chairul Tanjung). Kisah anak singkong pun tentu saja masih kalah jika dibandingkan dengan kisah Sumarlin yang ditulis oleh Bondan Winarno, yang sudah teruji puluhan tahun melalui penulisan novel, kolom dan beberapa buku.

Terakhir aku membeli buku Sutiyoso, The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando. Terus terang ketertarikan dimulai setelah membaca kisah Jenderal Kiki yang menceritakan Untold Story dalam perjalanan karir militernya. Aku berharap mendapat kisah yang mirip. Apalagi dibandingkan Jenderal Kiki, Jenderal Sutiyoso lebih tenar, terutama karena pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta selama dua periode. Dibalut dengan sampul berwarna hijau tentara, dengan foto Sutiyoso di sampul depan mengenakan Pakaian Dinas Harian lengkap dengan baret merah kebanggaan prajurit Kopassus.

Namun, ternyata harapanku tidak terwujud. Memang bukunya berkisah sejak Sutiyoso masih kecil. Meskipun tidak mendapat porsi yang banyak. Diikuti dengan kisah bagaimana Sutiyoso sempat masuk perguruan tinggi, masuk Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus di Semarang. Bahkan sempat hendak pindah jurusan ke Fakultas Kedokteran. Sampai akhirnya Sutiyoso ‘terdampar’ di Akademi Militer. Kisah dilanjutkan dengan kisah penugasan militer yang dijalaninya. Penugasan di Kalimantan, Timor Timur, menghadapi Gerakan Ceh Merdeka.

Selain penugasan tempur, Sutiyoso juga diberi tugas dalam reorganisasi Kopassus dan Kostrad, menjadi Komandan Resort Militer di Bogor yang membuatnya bersentuhan dengan acara kenegaraan semacam KTT APEC maupun konflik Partai Demokrasi Indonesia yang diakhiri dengan peristiwa 27 Juli, hingga akhirnya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Penugasan terakhir, ternyata sempat mengecewakan seorang Sutiyoso. Prajurit Infanteri yang menghabiskan sebagian besar karir militernya di dunia keprajuritan. Hal tersebut merupakan satu kekecewaan yang diungkap dalam buku ini.

Membaca buku ini, menurutku tidak terlihat apakah buku ini berasal dari inisiatif seorang Sutiyoso ataukah inisiatif sang penulis. Hal tersebut misalnya terlihat dari tidak adanya kata pengantar dari sang tokoh yang kisahnya dijadikan buku. Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno didaulat untuk memberi kata pengantar. Penulis memilih gaya menulis sebagaimana layaknya menulis berita. Mungkin karen penulisnya merupakan mantan wartawan.

Satu hal yang menurutku menjadi kekurangan buku ini adalah editingnya. Pada beberapa bagian terdapat beberapa pengulangan yang tidak perlu. Yang kalau dirapikan, mungkin akan lebih menarik lagi. Penulis juga melengkapi tulisannya dengan beberapa catatan kaki. Entah itu sebagai daftar pustaka, maupun referensi yang menerangkan beberapa hal. Hal tersebut, misalnya digunakan untuk menerangkan beberapa istilah entah teknis ataupun istilah kemiliteran, atau menjelaskan bahwa beberapa bagian merupakan hasil wawancara tim penulis pada beberapa pihak yang disebut dalam bab tersebut. Catatan kaki juga digunakan untuk menjelaskan beberapa nama yang terkait dengan perjalanan karir Sutiyoso.

Namanya catatan kaki, pastilah diletakkan di bawah setiap bab yang memuat hal yang perlu diperjelas lewat catatan kaki tersebut. Namun entah kenapa, sang penulis merasa perlu mengumpulkan catatan catatan kaki tersebut dalam satu bagian sendiri di akhir buku ini. Sebuah pengulangan yang sia, sia menurutku. Satu hal yang kalau dihindari, pastilah bisa menghemat beberapa lembar kertas ;-)

Yang terpikir padaku ketika mendengar kata atau nama Sumarlin adalah istilah Tight Money Policy. Gerakan Pengetatan Uang (jumlah) beredar. Konon pada tahun 1987, perekonomian Indonesia menghadapi kesulitan. Terjadi defisit pada neraca pembayaran, harga berbagai komoditi ekspor menurun, terjadi spekulasi di pasar valuta asing. menghadapi kondisi ini, pemerintah bersama Bank Indonesia melakukan pengetatan moneter yang biasa dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I. Pengetatan dilakukan diantaranya dengan cara manaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Pemerintah juga ‘memaksa’ Badan Usaha Milik Negara untuk mengalihkan dana mereka yang sebelumnya ditempatkan di bank, dibelikan SBI. Kebijakan ini terbukti berhasil medibelikan yang dimilikinya BUMN) pada perbankan untuk ditempatkan pada SBI. Tindakan yang dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I ini – karena dilakukan oleh Menteri Keuangan Sumarlin. Uniknya hal tersebut dilakukan ketika Sumarlin menjabat sebagai Menteri Keuangn ad interim. Karena Menteri Keuangan sesungguhnya, Radius Prawiro, sedang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Jabatan sesungguhnya yang saat itu diemban oleh Sumarlin adalah Menteri/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Menurutku, sepenggal kisah perjalanan hidup Sumarlin tersebut, cukup untuk menunjukkan kecakapan seorang Sumarlin. Seorang anak desa yang kiprahnya akhirnya mendunia. Bahkan pernah diganjar sebagai Menteri Keuangan terbaik pada tahun 1989 oleh majalah berpengaruh Euromoney. Dilanjutkan mendapatkan gelar yang sama pada tahun 1990 dari majalan Asia Money. Satu diantara sedikit orang Asia yang dianugerahi gelar serupa.

Sumarlin sendiri, ternyata merupakan pembantu Presiden Soeharto yang paling sering mendapat jabatan rangkap. Sumarlin dua kali menjadi Mendikbud ad interim, dua kali menjadi Menteri Pertambangan dan Energi ad interim, dua kali menjadi Menteri Perhubungan, tiga kali menjadi Menteri Perdagangan, dan tiga kali menjadi Menteri Transmigrasi dan Koperasi. Dan sebagaimana kisah Gebrakan Sumarlin I di atas, justru pada saat menjabat sebagai menteri ad interim, Sumarlin hampir selalu melakukan gebrakan-gebrakan yang mengejutkan.

Satu kisah gebrakan lain yang dilakukan Sumarlin ketika menjabat Menteri ad interim adalah, ketika beliau menggantikan Nugroho Notosusanto sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelum Presiden menunjuk Fuad Hasan sebagai menteri definitif, pak Harto menunjuk Sumarlin sebagai pengganti Nugroho. Saat inilah Sumarlin memutuskan untuk menghapus kebijakan larangan bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar ke luar negeri.

Buku yang ditulis oleh Bondan Winarno ini, secara lengkap menceritakan perjalanan hidup Sumarlin sejak kelahirannya. Sebagaimana sub judul buku ini, Cabe Rawit yang Lahir di Sawah, benar benar dilahirkan di tengah sawah, Sumarlin sempat diberi nama Katoebin (Akad-akad metu neng sabin yang konon berarti, lahir di sawah pada hari Minggu). Dan sbagaimana lazimnya pada masa itu, sering menderita sakit pada saat bayi membuat keluarga mengganti namanya. Dan sang kakek dari pihak ibu yang memilihkan nama Sumarlin pada sang cucu.

Buku ini juga berkisah bagaimana Sumarlin harus mengalami apa yang disebut sebagai broken family, karena pada usia 5 tahun ayah dan ibunya bercerai. Bagaimana kedekatannya dengan keluarga pamannya, hingga menjadi pegawai perusahaan swasta di Jakarta. Ketika menjadi pegawai inilah, perkenalan Sumarlin dengan ekonomi dimulai. Karena selain bekerja sebagai pegawai, Sumarlin juga menyempatkan diri untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dunia dimana akhirnya kecermelangannya mendapat perhatian Soemitro Djojohadikusumo sehinggai diangkat sebagai asisten dosen (yang didahului menjadi sebagai tutor untuk adik kelasnya meski gelar sarjana muda belum diraih).

Sejara runut, buku yang dibagi dalam bab yang diberi judul dengan bagian tumbuhan (mulai akar untuk bab 1, batang untuk bab 2, dahan, cabang, daun, bunga dan buah untuk bab selanjutnya) menceritakan perjalanan hidup seorang Sumarlin. Pada beberapa bagian, ditambahkan juga data yang bersumber dari hasil riset yang dilakukan oleh penulis. Namun ada beberapa data yang menurutku kurang pas dan harus diperiksa lagi.

Yang pertama adalah perihal Jenderal M.Jusuf. Pada halaman 294 saat menceritakan pengangkatan pak Marlin sebagai ketua Badan Pemeriksa Keuangan menggantikan M. Jusuf, disebutkan bahwa pak Jusuf pernah menjabat sebagai Kepala Staf angkatan Darat. Padahal seingatku, meski pak Jusuf mengakhiri karir militernya sebagai Panglima ABRI, pak Jusuf belum pernah menjabat sebagai KASAD. Semoga sumber dataku salah.

Catatan berikutnya adalah, pada halaman 312. Disebutkan Bank Bali digabungkan dengan Bank Danamon, dan kini menjadi salah satu bank swasta terbesar Indonesia. Nama Bank Bali memang sudah tidak ada di industri perbankan Indonesia. Sekarang namanya menjadi Bank Permata. Bank ini merupakan hasil merger dari 5 bank di bawah pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yakni PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Prima Express, PT Bank Artamedia, dan PT Bank Patriot pada tahun 2002.

Sementara Bank Danamon sendiri, menerima hasil peleburan beberapa bank yang terdiri dari PT Bank PDFCI, Bank Tiara, PT Bank Duta Tbk, PT Bank Rama Tbk, PT Bank Tamara Tbk, PT Bank Nusa Nasional Tbk, PT Bank Pos Nusantara, PT Jayabank International dan PT Bank Risjad Salim Internasional. Saat ini bank ini bernama PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

balintang

Kotamadya Bekasi sedang persiapan menghadapi pemilihan Walikota dan Wakilnya. Walikota sekarang, yang meneruskan jabatan pejabat sebelumnya yang tersangkut kasus korupsi, akan bertarung lagi. Berpasangan dengan rivalnya pada pemilihan untuk periode sekarang ini. Pepen (sapaan sang calon Walikota) berpasangan dengan Ahmad Saikhu. Dan mereka memilih PAS sebagai tagline.

Pendukung pasangan yang mendapat nomor urut 4 menggunakan media serupa tabloid untuk kampanye. Media itu, diberi judul Kabar4, sesuai dengan nomor urut pasangan. Media itulah yang mampir di teras rumah minggu kemarin. Jika melihat isi tabloid tersebut, ternyata tidak sepenuhnya sama dengan judulnya. Karena ternyata hanya berisi profil sang wakil. Mulai dari profil umum (seperti tanggal lahor, riwayat pendidikan, istri dan enam orang anak,dll), tulisan atau pendapat beberapa orang mengenai sang calon wakil walikota, hingga foto sang calon bersama beberapa komunitas yang ada di Bekasi.

Yang menarik adalah, terdapat tulisan sang calon wakil walikota menghadiri pelantikan Praeses (pada tabloid, disebut Prises) di Bekasi. Praeses merupakan salah satu unsur pimpinan gereja HKBP. Gereja Batak yang konon, paling besar (paling tidak dari jumlah jemaat) di Indonesia. Menurutku, hal ini sengaja ditampilkan, mengingat latar belakang sang calon wakil walikota yang berasal dari partai yang dekat dengan Islam.

Pada halaman yang sama dengan ‘liputan’ mengenai acara HKBP itu, terdapat umpasa (pantun Batak) yang menurutku diartikan dengan sesuka hati. Bahkan (dengan segala hormat) terkesan dipaksakan mendekati situasi sang calon. Pantun tersebut, “Balintang ma pagabe, tumandangkon sitodoan. Arinta ma gabe molo masi paolo-oloan”

Meski berdarah Batak, pengguna aktif Bahasa Batak dan sering mendengar umpasa tersebut, terus terang aku kesulitan menerangkan baris sampiran. Dan lazimnya pantun, pesan yang akan disampaikan lewat umpasa tersebut, terdapat pada kalimat setelah sampiran. Justru disinilah mulai kesalahan penerjemahan muncul.

Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon merupakan tiga “cita-cita” orang Batak. Hamoraon berarti kekayaan, Hasangapon kurang lebih kehormatan. Manakala kata Hagabeon, berasal dari kata dasar ‘gabe’. Mengacu pada “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A.Marbun dan I.M.T.Hutapea, kata gabe berarti : mempunyai banyak keturunan putra dan putri. Masih kamus yang sama menuliskan, “istilah gabe bukan hanya dipakai mengenai manusia melainkan juga mengenai mata pencaharian yang berhasil baik”.

Terus terang, agak sulit buatku untuk mencari padanan yang pas untuk istilah hagabeon. Memang pada masanya dahulu soal keturunan merupakan sebuah ‘syarat’ yang harus dipenuhi sebagai sebuah bentuk ‘kesempurnaan’ di keluarga Batak. Dan atas dasar itulah (untuk sementata) aku merasa lebih pas untuk menggunakan istilah diberkati untuk kata gabe atau hagabeon.

Menurutku, penerjemahan haruslah per kalimat, dan tidak dipenggal. Sehingga jika aku bisa menerjemahkan kalimat umpasa setelah sampiran akan menjadi “Hari kita akan diberkati, jika saling seia sekata. Bukan malah ajakan untuk memiliki banyak anak, sebagaimana disebutkan pada tabloid itu :-D

permen

Sejak mengenalnya sekitar dua puluh tahun yang lalu, tidak banyak perubahan yang terjadi pada permen ini. Banyak yang suka rasanta. Banyak juga yang tidak terlalu suka akan pedasnya.

Seingatku, yang berbeda adalah bertambahnya rasa. Mulai dari original, berkembang dengan beragam rasa. Perisa orange, apple, hingga yang rendah kadar gulanya. Ada juga yang berubah bentuknya. Bukan padat seperti awalnya, namun seperti permen kunyah.

Bungkusnya pun demikian. Dibuat dari bahan kertas. Yang kalau dikantongi cukup lama, bisa ‘lecek’ dan gampang sobek. Harganya apalahi. Untuk ukuran permen, sejak awal sudah diposisikan tidak biasa.

Beberapa minggu lalu, aku melihat perubahan besar pada permen ‘Teman Nelayan’ ini. Memang sebatas pada satu rasa. Namun bisa jadi perisa lain akan dikemas dengan cara sama. Perubahan itu ada pada kemasannya. Sekarang dibuat dari bahan plastik. Sudah pasti akan lebih tahan lama jika dikantongi. Yang menarik adalah fungsi ‘zip & lock’. Sekarang, tidak perlu bingung lagi kalau membeli dan mengantongi permen ini.

angkot

Berada di belakang angkot ini di Kalimalang, secara refleks tangan meraih kamera untuk mengabadikannya. bagaimana tidak, hampir semua yang tertulis di kaca belakangnya menyiratkan Sumatera Utara.

Dimulai dari tulisan paling atas. Meski ditulis dengan bahasa Inggris, Ging Ging Stone menyiratkan sesuatu. Batu Gingging merupakan salah satu kelurahan yang ada di kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Deli Serdang, provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Berada di pojok bawah, kiri dan kanan ada stiker bertulis Toton Baho. Toton Baho merupakan sebuah gedung atau aula yang biasa digunakan untuk pesta Batak. Letsknya di daerah Pekayon, Bekasi. Dimiliki oleh seorang anak muda Batak bermarga Naibaho.

Torpana sendiri yang terletak di tengah tengah merupakan jargon yang mengacu pada sebuah kumpulan sebuah marga. Toga Raja Pangaribuan. Lengkaplah sudah, angkot ini menunjukkan sesuatu. Entah pemiliknya atau supirnya yang punya ide ;-)

tandok

Tandok adalah wadah yang terbuat dari anyaman pandan. Untuk orang Batak, tandok sering dipakai saat upacara adat atau yang berhubungan dengan adat. Biasanya diisi dengan beras. Biasanya dibawa oleh kelompok Hula Hula (dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu) ketika mengunjungi borunya.

Biasanya tandok tersebut sekain diisi beras juga nasi. Dan kaum ibulah yang membawanya ketika kunjungan dilaksanakan oleh pihak Hula Hula. Dibawanya juga dengan cara ditaruh di kepala. Meskipun pada saat ini demi kepraktisan, tandok seringkali hanya dipangku ketika membawanya. Juga sudah mulai dibuat bukan dari anyaman daun pandan, namun dari bahan plastik.

Sebuah hal yang menarik ketika melihat rupa tandok tersebut dijajakan melalui katalog di pesawat Garuda. Tandok yang aslinya mungkin hanya berharga puluhsn ribu, dibandrol dengan harga ratusan ribu Rupiah. Tentu saja setelah diberi nilai tambah. Tandok yang tadinya berupa wadah beras, kini berubah bentuk menjadi tas tangan wanita.

Masih perlu pembuktian, apakah tas tangan betbentuk tandok tersebut benar terbuat dari anyaman pandan, ataukah hanya meminjam morifnya saja. Juga pembuktian, apakah ada yang membelinya untuk kemudian menggunakannya. Mungkin bukan di pesta adat latsknya tandok asli. Nyaman dibawa ke pesta di tempat yang mewah misalnya.

Buatku yang menghabiskan masa remaja hingga selesai kuliah di kota Medan, kalimat “Jangan kayak menunggu tahi hanyut” membuat kenangan masa kecil terbayang lagi. Kalau bermain sepakbola, kalimat tersebut akan diucapkan pada siapa saja yang alih alih “mengejar” bola yang sedang dikuasai lawan, namun hanya menunggu di depan gawang lawan menunggu operan bola dari teman satu tim, untuk kemudian berusaha menggolkannya. Kalimat yang pantas diucapkan kepada mereka yang tidak mau bersusah payah.

Kalimat itulah yang dipakai KI (demikian tokoh yang kisah hidupnya ditulis dalam buku ini biasa disapa) sebagai kalimat pembuka pengantar biografi bertajuk “40 Tahun Jadi Wartawan, Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” ini. Kalimat yang pasti memiliki arti sendiri buat wartawan yang pernah bekerjasama dengannya atau pernah menjadi bawahannya. Konon kalimat tersebut akan diungkapkan kepada wartawan yang hasil kerjanya tidak memuaskan tokoh yang tahun ini genap empat puluh tahun berkarir sebagai wartawan.

Bukan tanpa alasan Karni Ilyas mengucapkan kalimat tersebut kepada wartawannya. Pengalaman panjang sebagai wartawanlah yang mendorongnya untuk mengucapkan kalimat tersebut. Berlatar pendidikan Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Karni yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di Sumatera Barat, mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Mewujudkan cita-citanya untuk menjadi orang terkenal dengan menjadi seorang wartawan.

Awalnya Karni bersekolah di Sekolah Tinggi Publisistik. Kuliah dijalani sambil bekerja apa saja, termasuk menulis untuk harian Abadi. Kegiatan terakhir ini dijalani setelah Karni dihadapkan pada pertanyaan, “mau sekolah atau mau kerja?”. Namun, meski dibebaskan menulis soal apa saja di Abadi, Karni merasa belum cukup puas. Akhirnya, berbekal “surat sakti” dari Novyan Kaman, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang kebetulan adalah sahabat ayahnya, Karni mendatangi Rahman Tolleng yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Suara Karya.

Karni yang sedari kecil sudah ditinggal mati oleh ibunya, tetap menunggu Rahman Tolleng di kantornya meskipun kepadanya diminta untuk meninggalkan saja surat sakti yang dibawanya. Disuruh menunggu sampai seharian, tidak menyurutkan langkahnya untuk bertemu langsung dengan Rahman Tolleng. Meski sudah menunggu hampir seharian, kegigihan seorang Karni Ilyas masih harus diuji. Surat sakti yang dianggap bisa memudahkan langkahnya menjadi wartawan Suara Karya, dibuang begitu saja ke tong sampah. Rupanya kegigihannya masih harus diuji. Karni tidak langsung berbalik ketika Rahman Tolleng menyampaikan bahwa tidak ada lowongan di Suara Karya.

“Kalau saya kalah mental waktu itu dan pilih pulang, habislah. Enggak jadi apa apa” Katanya. Ternyata kegigihannya mendapat sambutan baik dari Rahman Tolleng. Dia langsung disuruh kerja hari berikutnya. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah sumber pertama berita yang dituju. Hal itu karena kepada Rahman Tolleng, Karni menyebut bahwa soal hukum belum masuk di harian Suara Karya. Namun ternyata, diterima bekerja di Suara Karya, tidak serta merta memudahkan semuanya. Rahman Tolleng, sepertinya lupa untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan rekrutmen karyawan baru. Seperti ruang dan peralatan kerja bahkan urusan penggajian. Rahman Tolleng sampai harus mengeluarkan uang pribadinya sebagai gaji pertama Karni. Karena ternyata namanya belum tercatat sebagai karyawan di bagian personalia.

Menjadi wartawan, membuat pergaulan Karni sangat luas. Dia berteman dengan siapa saja. Dari menteri, jaksa, polisi, hakim, pengacara sampai preman. Satu hal yang kemudian hari ternyata banyak manfaatnya karena bukan hanya banyak membantunya dalam pekerjaannya sebagai wartawan, namun juga membantunya dalam membantu sesama. Beberapa kali dia mendapat berita berdasarkan informasi yang didengar dari sahabatnya. Bahkan keluwesan dalam bergaul juga yang membuatnya berhasil meyakinkan pejabat hukum untuk membebaskan terdakwa yang salah vonis.

Keluwesan dalam pertemanan pulalah yang kemudian “menyelamatkan” Karni Ilyas. Ketika didepak keluar dari majalah Forum Keadilan yang dibesarkannya, seorang sahabat yang kebetulan pengusaha menawarkannya jabatan komisaris di perusahaannya. Namun jiwa dan cita-cita sebagai wartawan tetap dipertahankannya. Jabatan tersebut tidak lama didudukinya. Seorang sahabat lain memintanya untuk membenahi SCTV yang sedang kesusahan. Diapun kembali ke habitatnya sebagai wartawan dengan menjadi pemimpin redaksi Program Liputan 6.

Pengalaman puluhan tahun sebagai wartawan media cetak, dimulai dari harian Suara Karya, majalah Tempo hingga majalah Forum Keadilan, tidak membuat seorang KI gagap dalam menjalani peran barunya. Di tangannya, Liputan 6 yang sebenarnya sudah ada sebelum dia masuk SCTV semakin dikenal. Bahkan, memperoleh beberapa kali penghargaan sebagai program berita terbaik. Di Liputan 6 pula lah, Karni dianggap berjasa mengantarkan SBY terpilih sebagai Presiden. Bahkan mengantarkan SCTV sebagai stasiun televisi nomor satu.

Didorong oleh solidaritas kepada teman yang mengajaknya ke SCTV, Karni memilih keluar dari SCTV ketika sang teman tidak lagi menjadi pemilik SCTV. Pertemanan pulalah yang kembali mengantarkannya masuk ke ANteve. Selesai membenahi ANteve, Karni pindah TVOne, televisi lain yang masih merupakan satu group. Karni berhasil memoles berita yang bukan merupakan program unggulan menjadi unggulan. Boleh dibilang, di televisi inilah Karni semakin dikenal orang. Melalui program Indonesia Lawyers Club, yang cikal bakalnya berasal dari organisasi Jakarta Lawyers Club, yang didirikannya bersama beberapa pengacara sahatanya.

Sebagai sebuah biografi, buku yang ditulis oleh Fenty Effendy ini cukup lengkap menggambarkan perjalanan hidup seorang Karni Ilyas. Dimulai dari kisah orang tua dan kelahirannya, masa kecil di tengah berkecamuknya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, keluar masuk gang sempit dengan sepeda motor inventaris kantor, menerapkan prinsip ekonomi ketika berjualan rokok, hingga menjadi direktur dan pemimpin redaksi berita di tiga televisi. Melalui buku ini pulalah, pembaca mengetahui mengenai berdirinya Jakarta Lawyers Club atau sejarah diaktifkannya kembali upaya hukum Peninjauan Kembali.

Buku ini juga menceritakan, ternyata Karni Ilyas pernah dinominasikan untuk memperoleh Bintang Mahaputra dari Presiden, hingga pernah hendak ditawari menjadi Jaksa Agung pada masa pemerintahan Megawati. Buku ini, juga bercerita bagaimana seni mencari berita yang diajarkannya kepada wartawannya, membuat seorang anak buahnya lebih memilih untuk mengejar narasumber berita, daripada mengikuti ujian dalam rangka memperoleh beasiswa.

Untuk menguatkan karakter sang tokoh yang biografinya ditulis, penulis juga menyertakan beberapa potongan berita koran atau majalah ‘karya’ sang tokoh. Termasuk beberapa Catatan Hukum, yang merupakan kolom tetap Karni Ilyas ketika menjadi wartawan di Forum Keadilan. Untuk menggambarkan beberapa peristiwa yang terjadi pada masa lampau, penulis juga melengkapi tulisannya dengan melakukan riset. Entah pada buku atau media yang dianggap dapat menggambarkan suasana pada saat itu. Bahkan pada buku yang merupakan biografi beberapa tokoh lain.

Sebagai sebuah kisah mengenai perjalanan karir seorang wartawan, buku ini sangat layak untuk dibaca bukan saja oleh mereka yang bercita-cita menjadi atau merupakan seorang wartawan. Juga mereka yang percaya bagaimana niat yang kuat, kerja keras, sikap pantang menyerah serta sikap konsisten bisa menjadi bekal untuk menjadi terkenal…eh berhasil…:-)

Entah sudah berapa kali aku mendapat telepon yang menawarkan ‘peluang bisnis’ yang katanya menarik. Dari awal sang penelepon memperkenalkan diri dan menyebut nama perusahaan tempat dia bekerja, biasanya aku sudah bisa menebak mereka menawarkan investasi pada bursa berjangka. Segera setelahnya aku akan menolak secara halus penawaran proposal mereka.

Beragam alasan ‘logis’ bisa aku sampaikan untu menolak proposal bisnis yang akan ditawarkan. Alasan utama yang aku gunakan untuk menolak biasanya, aku akan bilang kalau aku bekerja di Bursa Efek Indonesia. Dengan demikian, aku katakan bahwa aku sedikit banyak paham yang mereka tawarkan. Dan kalaupun tertarik untuk berinvestasi di produk yang dia tawarkan, aku lebih memilih untuk berinvestasi di bidang yang aku pahami benar,ya investasi di saham atau efek.

Biasanya pemasar itu masih akan mencecar dengan menyebutkan perbedaan investasi di efek dengan investasi yang hendak ditawarkannya. Dan karena aku memiliki informasi berapa nilai investasi awal yang disyaratkan pada produk yang ditawarkannya, aku akan tetap menolak. Karena aku memberi perbandingan, bahwa investasi awal di bursa efek, cenderung lebih sedikit dari investasi awal di bursa berjangka.

Yang sering ditawarkan pemasar produk berjangka, terutama akhir akhir ini yang sedang marak adalah emas. Dan dibutuhkan dana seratus juta rupiah untuk mulai investasi. Berbeda jauh dengan investasi di bursa saham, yang bisa dimulai dengan dana sepersepuluhnya. Demikian memang kenyataannya. Sekarang banyak perusahaan efek yang menawarkan untuk mulai berinvestasi dengan dana atau deposit awal hanya sepuluh juta rupiah. Bahkan kalau tidak salah, aku pernah dengar ada yang mensyaratkan cukup setengahnya saja.

Mendengar argumentasiku, ada saja yang tetap kekeuh ingin ketemu dengan beragam dalih. Sekadar berbagi atau untuk saling ngobrol untuk menambah teman misalnya. Demi menghargai usaha mereka, biasanya aku akan minta mereka untuk datang ke gedung dimana aku bekerja. Dan aku selalu meminta mereka untuk datang tidak ke kantor. Aku lebih memilih untuk menemui para pemasar ini di sebuah kedai kopi di gedung kantorku, yang kebetulan sering aku singgahi.

Kalaupun pertemuan jadi terlaksana, biasanya bukan ngobrol yang kuinginkan yang terjadi. Mereka tetap dengan penawaran proposal bisnisnya. Kadang sedih juga melihat mereka gigih memasarkan produk yang mereka tawarkan. Sementara mereka tidak paham apa yang mereka jual. Pertanyaanku sederhana sederhana saja. Apa yang kalian tawarkan? Beberapa diantara mereka tidak bisa menyebutkan apa sebenarnya yang ditawarkan.

Yang lebih parah adalah pemasar yang kutemui terakhir. Menyerahkan kartu nama dengan jabatan manager, dia menyebut apa yang dijualnya berbeda dengan apa yang kantorku kelola perdagangannya. Kata dia “kalau di saham, bapak hanya mendapat keuntungan kalau harga saham naik” BAH! Jawaban yang diberikan mbak ini sudah salah kaprah,batinku. Sia sia dia datang menemuiku. Tetap saja dia tak bisa memberi gambaran apa yang hendak dijualnya.

Untunglah dia membaca gelagat bahwa tetap akan ditolak. Pertanyaan awal yang dia ajukan, yang katanya penting diketahui sebelum dia menerangkan proposal bisnis yang ditawarkan, adalah apakah aku tertarik pada apa yang ditawarkan. Dan sebagaimana jawabanku kepada mereka yang seperti dia dan sebelumnya menawarkan investasi di kontrak berjangka, aku tidak tertarik. Karena buatku, kalau memiliki dana seratus juta aku bisa berinvestasi di saham dan membuat protofolio yang cukup bagus (setidaknya menurutku). Kalaupun tidak investasi di saham aku bisa menyerahkan dana yang aku punya kepada manajer investasi pengelola reksadana. Atau kalaupun tertarik ikut keriaan fluktuasi harga emas, aku lebih senang membeli langsung emasnya daripada membeli sebuah kontrak yang hanya memberi hak kepadaku untuk membeli atau menjual emas pada masa yang akan datang, tanpa pernah melihat fisik emasnya.