Pernahkah melintas jembatan bundaran Semanggi? Pernah memperhatikan rambu sekitarnya? Jika pernah, pasti paham bahwa Bundaran Semanggi tertutup bagi kendaraan roda dua sebelum pukul 22.00. Kendaraan roda dua hanya diperkenankan melintasinya pukul 22.00-06.00 keesokan harinya.

Jika sering melintasinya, mungkin pernah melihat pemandangan satu atau dua motor yang diberhentikan polisi pada bundaran (arah naik maupun turun) Semanggi ketika mereka melintas bukan pada jam yang telah ditentukan. Hal mana tidak terjadi ketika ada motor polisi melakukan hal sama. Baik polisi yang sedang mengenakan seragam maupun yang tidak (dia polisi atau bukan, terlihat dari atribut semisal sepatu yang dikenakan).

Ketika pelakunya adalah warga biasa, hampir pasti akan diberhentikan oleh polisi. Karena sepanjang yang aku amati, jarang sekali bundaran itu tidak dijaga oleh petugas polisi. Dapat dipastikan, proses selanjutnya adalah pengenaan sanksi kepada si pengendara motor. Kesalahan yang dikenakan adalah melanggar rambu lalu lintas. Terbitlah surat bukti pelanggaran.

Yang menimbulkan rasa penasaran adalah saat ada polisi, entah yang berseragam [sedang bertugas] atau tidak melintas ruas jalan yang sama pada waktu yang sama, perlakuannya berbeda. Mungkin ada dalih ketika hal tersebut dilakukan petugas berseragam. Bahwa beliau sedang bertugas dengan demikian berhak melanggar rambu. Namun ternyata hal tersebut berlaku bukan hanya untuk polisi pengendara motor yang sedang bertugas. Ketika ada polisi yang sedang tidak bertugas [terlihat dari pakaian dan perlengkapan yang digunakan] melakukan hal sama, tidak terlihat adanya proses pemberhentian yang disertai pengenaan bukti pelanggaran sebagaimana jika hal tersebut dilakukan bukan oleh polisi.

Untuk kasus bundaran Semanggi, jargon ‘ini negara hukum dan semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum’ yang selalu dikemukakan seolah hanya sebatas jargon. Sepanjang yang aku perhatikan, rambu lalu lintas pada bundaran Semanggi [mungkin juga di wilayah lain] tidak pernah memberi lambang bintang kecil di bawah rambunya. Untuk kemudian menuliskan kalimat dengan font tak kalah kecil sehingga hampir tidak terlihat, bertulis rambu ini tidak berlaku bagi polisi yang sedang bertugas maupun yang tidak bertugas.

Polisi adalah aparat penegak hukum. Tugasnya [sedapat mungkin] memastikan tidak terjadi pelanggaran hukum. Jika dugaan pelanggaran hukum terjadi, polisi yang bertugas menetapkan dugaan bahwa seseorang telah melanggar hukum untuk kemudian pengadilan akan memutuskan benar tidaknya adanya pelanggaran hukum, dan kemudian menjatuhkan sanksi atas pelanggaran yang terjadi. Apa mungkin karena ketika disumpah menjadi polisi, mereka disumpah untuk berlaku sebagai penegak hukum selama 24 jam dan 7 hari seminngu. Dengan demikian, alasan bahwa mereka tidak melanggar hukum ketika mereka menabrak rambu yang ada, dapat diterima? Sepertinya tidak.

Untuk kasus pelanggaran rambu, pasal 29 ayat (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan mengatur “Rambu larangan digunakan untuk menyatakan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh Pengguna Jalan” manakala pasal 1 butir 12 PP yang sama mengatur “Pengguna Jalan adalah orang yang menggunakan Jalan untuk berlalu lintas”. Dengan demikian, mengingat bahwa polisi adalah orang, sudah selayaknya mereka juga taat pada rambu yang ada. Agar posisi sebagai penegak hukum tetap memiliki arti. Apalah jadinya jika disebut penegak hukum namun sering melanggar hukum?

Meskipun aku dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi aku tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapanku itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti

Kalimat di atas adalah pembuka perikop yang dibacakan ketika menghantar Lady Di ke peristirahatan terakhir. Tanpa melihat sumbernya yang dari kitab suci, menurutku konteksnya masih nyambung dengan soal penampil di panggung.

Apa artinya jika aku bisa menyanyi layaknya Josh Groban tapi penonton tidak paham. Apa jadinya jika aku bisa memainkan gitar layaknya Steve Vai, jika penonton tidak suka? Apa artinya jika Houdini diikat dalam air, dikubur terikat dalam tanah namun penonton tidak terhibur?

Tantangan selanjutnya adalah benar bahwa penonton bisa memilih untuk meninggalkan kita ketika mereka tidak suka. Namun dari sisi penampil, yang kita harusnya bisa lakukan adalah menampilkan sesuatu yang kita yakini sebagian besar penonton akan menyukainya. Agar penampilan kita tidak sia sia.

Sebab, apalah artinya mulut berbusa menyanyi, jari memar memetik gitar, nafas habis ketika berada dalam air jika semua penonton meninggalkan panggung di mana kita tampil?

Setahun terakhir anak anak lebih banyak beraktivitas ditemani ibuku (mereka menyebut ompung). Berangkat sekolah, pulang sekolah, mengerjakan PR dan seterusnya. Dalam beraktivitas sering mereka melakukan sesuatu yang mungkin akan mebahayakan atau melakukan sesuatu yang tidak pas. Sebagai orang tua tentu saja ompung suka mengingatkan. Tidak boleh begini tidak boleh begitu. Jangan begini atau jangan begitu.

Tujuannya tentu agar dapat dijadikan referensi untuk tindakan pada masa yang akan datang. Bahwa kalau melakukan ini tidak boleh. Melakukan itu tidak pantas. Dan sebenarnya inilah yang diharapkan. Dengan demikian mereka bisa mengerti mana yang benar mana yang tidak. Meski terkadang sebagaimana anak anak lain, kadang larangan dirasakan sebagai belenggu.

Menjadi persoalan ketika larangan yang ada diberlakukan sama rata untuk semuanya. Ketika hendak melakukan sesuatu, ada kekhawatiran bahwa nanti itu akan dimarahi ompung. Dan itulah yang terjadi. “Nanti dimarahin ompung” menjadi kalimat sakti ketika diminta melakukan sesuatu. Apapun itu.

Hal tersebut membuat ompung nelangsa [jiah…bahasnya KB sekali 😀] Sampai terucap satu saat, mengapa ompung selalu dijadikan kambing hitam. Istilah yang mungkin belum dipahami maknanya oleh pikiran kanak kanak Gabriel. Sehingga pada satu kesempatan, analogi kambing hitam digunakan untuk hal lain dengan terminologi berbeda.

Dalam sebuah percakapan bapak anak, aku sedang menasihati Yeremia. Tentang bagaimana berperilaku dengan teman di sekolah. Sambil aku juga mengingatkan Gabriel bahwa perilaku yang sama berlaku buat dia. Entah kenapa mendadak Gabriel nyeletuk, “Dengarin bang. Jangan Gabriel jadi kambing merah” Aku kaget. Bertanya latar belakang penyebutan demikian. Ibuku yang berada pada ruang yang sama menerangkan sepintas, asal mula sebutan kambing sebagaimana aku kisahkan di atas. Pembicaraan yang awalnya sok serius, buyar. Aku hanya bisa terbahak. Apalagi Gabriel melanjutkan penyebutan yang dikarangnya. Bahwa abangnya kambing kuning dan papinya kambing biru 🙈

Aku pernah menulis perihal bagaimana mendapatkan sebuah mobil baru disini. Intinya sih peringatan atas iming iming mendapat mobil Fortuner baru seharga 399 juta. Aku yakin penyelenggara sudah mempersiapakan diri sedemikian rupa sehingga kelak jika ada tuntutan, mereka sudah terproteksi.

Peringatan yang aku berikan direspon dengan beragam cara. Ada yang optimis, ada yang pesimis. Bahkan eksekutif penyelenggara pernah mengirim email kepadaku bahwa mereka siap memperkarakan aku ke pengadilan jika masih membiarkan komen bebas di postingan tersebut. Karena sepertinya beliau merasa tertanggu dengan satu komentar yang juga memuat nomor ponsel beliau. Kayanya program promosinya menuai protes kemarahan. Dengan senang hati aku hapus komentar dimaksud.

Sejauh itu postingan tersebut merupakan satu satunya postingan di blog aku yang menuai ratusan komentar. Mencapai lebih dari 500! Walaupun terdapat beberapa pengulangan komentar. Baik yang jelas maupun tak jelas. Beragam komentarnya. Sebagian besar mungkin kekecewaan. Penyelenggara tidak dapat disalahkan. Peserta juga.

Apa yang terjadi menurutku karena kita terbiasa dengan segala sesuatu yang berbau instan. Ingin mendapat mobil seharga 399 juta rupiah, dengan pengorbanan yang sedikit. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali mendapatkannya melalui undian atau menang besar togel!!

Ini bukan kali pertama terjadi. Sepertinya penyelenggara sudah melakukan dengan beragam nama perusahaan. Beragam produk mahal sebagai iming iming. Namun sepertinya tidak ada efek jera. Korban sebelumnya, belum dianggap sebagai pelajaran bagi calon korban selanjutnya. Ini bukan kali pertama terjadi. Dimana orang berharap rejeki nomplok tanpa perlu kerja keras. Bahkan yang berkedok investasi. Dengan nilai total kerugian miliaran rupiah!

Kalau mau disebut korban, bukan hanya berasal dari satu golongan masyarakat tertentu. Mulai dari kalangan bawah sampai golongan atas. Mulai dari yang berpendidikan (maaf) rendah, sampai pendidikan tinggi. Mulai karyawan kecil hingga pejabat tinggi.

Padahal kalau mau mendapat kemewahan kekayaan, caranya cuma satu. Kerja keras. Berusaha. Tidak ada cara instan. Apalagi berharap pada undian.

Jadi pengusaha bisa jadi salah satu cara. Yang sukses tentu saja. Gagal sekali sudah biasa. Bisa dicoba lagi. Tapi bukan berarti karyawan tidak bisa kaya. Bisa. Bagaimana caranya? Hampir mirip, miliki badan usaha! Kapan sempat mengurusnya kalau status masih sebagai karyawan? Bisa! Beli perusahaan yang bagus. Bagaimana caranya? Here we go….

Di Bursa Efek Indonesia terdapat lebih dari 500 perusahaan yang diperjualbelikan setiap hari. Pilih satu atau dua sesuai kemampuan [keuangan]. Perusahaan tersebut sudah berjalan layaknya sebuah perusahaan. Sudah ada perangkatnya biar menghasilkan keuntungan. Sudah ada manajemen yang mengurusnya. Sudah ada karyawan yang siap bekerja untuk anda. intinya biarkan orang lain yang mengurusnya.

Mahal? Tergantung besar kecilnya perusahaan yang hendak dibeli. Harga perusahaan tersebut telah dipecah menjadi harga per saham. Satu perusahaan berharga [tidak semuanya] jumlah saham tercatat dikali harga satu saham. Jika ingin membeli minimal seharga 100 unit saham masing masing perusahaan. Harga masing masing perusahaan hampir setiap hari diumumkan pada media bisnis dan keuangan. Bisnis Indonesia dan Investor Indonesia hanyalah contoh.

Bagaimana mengenal lebih dekat perusahaan yang akan dibeli? Oleh peraturan mereka diwajibkan mengumumkan laporan keuangan setiap tiga bulan. Silahkan dibaca dan dipahami. Oleh peraturan mereka diwajibkan memaparkan kinerja perusahaan masing masing. Jika sudah menjadi pemilik, pemegang saham berhak bertanya atas bagaimana perusahaan dijalankan. Pemegang saham berhak menyuarakan keinginannya [melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham] kepada manajemen perusahaan.

Pertanyaan selanjutnya, sebagai karyawan tentu punya keterbatasan dana untuk membeli perusahaan. Pasti. Tapi kita tentu ingat pepatah [terkait menabung] sedikit demi sedikit, lama menjadi bukit. Dana yang sedikit itu kita belikan saham perusahaan. Sedikit tetapi rutin, lama lama menjadi bukit saham. Yuk, Menabung Saham!

Tertarik? Jika tertarik, silahkan berkunjung ke gedung Bursa Efek Indonesia mulai tanggal 9-13 November 2015. Terdapat puluhan perusahaan tercatat yang akan memaparkan kinerja mereka. Terdapat puluhan perusahaan efek yang dapat memfasilitasi jika ingin membeli perusahaan. Acaranya, gratis! Hanya dibutuhkan pendaftaran di pintu masuk area. Sampai jumpa ya di sana :)

Order-Suryo
Untuk pertama kali aku mencoba Go-Jek pulang. Sebelumnya merasa gak tega kepada tukang ojeknya. Karena harus engantarku pulang ke ‘Planet Lain’ :-). Terbukti pengendara pertama yang ‘menangkap’ pesananku, menelepon dan bertanya apakah aku bersedia menunggu beliau yang dari arah seberang FX plaza. Sembari bertanya di daerah mana alamat tujuanku. Setelah aku beri tahu, beliau meminta maaf tidak bisa melayani pesananku karena tujuan terlalu jauh. Tahu diri dan dengan senang hati aku jawab, “tidak masalah pak” untuk kemudian membatalkan pesanan.

Segitu jauhnya daerah tujuan sampai seorang teman yang kebetulan melintas halte juga setengah tak percaya ketika aku beritahu sedang menunggu Go-Jek sebagai kendaraan pulang. “Ngojek ke Bekasi bang?” tanyanya. “Bukan. Ke Jatibening” sahutku :-)

Akhirnya aku terima sms. Mengabarkan kalau seorang pengendara Go-Jek baru melintas di depanku dan diusir oleh security gedung.
sampai

Bukan hal aneh di gedung itu. Sudah beberapa kisah aku dengar, pengendara Go-Jek dipersulit di gedung ini. Mulai dari diusir dari halte sampai dipersulit masuk gedung untuk mengantar pesanan layanan Go-Send.

Aku balas sms pengendara Go-Jek, yang belakangan aku tahu bernama Suryo Pamungkas. Aku sebut belakangan, karena notifikasi beliau sebagai pengendara Go-Jek yang menangkap pesananku, baru bisa aku buka setelah di rumah. Mungkin lalu lintas data pada saat jam pulang sedang ramai sehingga kesulitan mendapat pesan apakah pesananku telah ada yang menangkap atau belum. Aku ketahui belakangan juga karena ada beberapa telepon dari nomor tidak terdaftar yang masuk.

Akhirnya pak Suryo memutar Pacific Place untuk menjemputku di halte. Sambil mengeluarkan helm beliau meminta maaf terlebih dahulu jika nantinya dalam berkendara aku kurang nyaman. Aku jawab tidak masalah sembari bertanya apakah beliau setuju dengan tujuan pengantaran. “Tidak apa” jawabnya. Jadilah aku diantar oleh beliau. Menyusur (sedikit) kemacetan Tendean dan Kalimalang yang sedang berantakan karena pembangunan jalan layang, aku pulang menumpang Go-Jek. Kuakui memang pak Suryo mengendara dengan pelan. Tidak masalah buatku karena aku sedang tidak mengejar waktu. Sembari menikmati suasana jalanan kota Jakarta lewat ojek. Beberapa kali ojek menemui jalan sulit. Setiap kali juga pak Suryo meminta maaf atas ketidaknyamanan yang aku alami. Dan selalu aku jawab “tidak apa pak”.

Sampai depan rumah, sembari turun dari ojek dan membuka helm, aku yang minta maaf kepada Pak Suryo. Mengingat perjalanan yang cukup jauh dari SCBD ke rumah. Katanya ini belum seberapa karena sebelumnya beliau pernah mengantar penumpang ke Priok yang mencapai batas maksimum pengantaran Go-Jek (25km). Sambil beliau bilang kalau beliau menyediakan kembalian ongkos seandainya dibutuhkan. Aku bilang tidak perlu sambil menyerahkan Rp25.000,-

“Banyak banget lebihnya pak”, katanya. “Tidak apa pak” sahutku. “Saya senang karena pertama kali naik Go-Jek pulang”. Sambil bilang bahwa tadinya agak sulit bagiku mendapat Go-Jek. Dan sepertinya ketika sudah naik ojek beliau ada beberapa panggilan yang aku terima yang sepertinya berasal dari pengendara yang menangkap pesananku. Hal tersebut membuat beliau sedikit kaget. “Lho, tadi Bapak sedang mengunggu ojek lain?” tanyanya. “Tidak apa pak. Mungkin sudah rejeki Bapak”. Aku menduga dia merasa gak enak dengan sesama pengendara Go-Jek.

Selesai meletakkan tas, aku terima sms dari pak Suryo. Ada syukur yang dituliskannya. Ada doa yang disampaikannya dalam sms tersebut. Terharu membaca isinya. Seketika aku membalas smsnya. Ucapan terima kasih dan pesan berhati hati.
terima kasih1
Tidak lama aku menerima sms masuk. Bukan dari beliau. Namun dari penyedia jasa layanan telepon yang menginformasikan ada pesan yang dikirim dari nomor pak Suryo namun karena pulsa beliau tidak mencukupi, kepadaku ditawarkan apakah bersedia membayar biaya pengiriman sms balasan dari pak Suryo tersebut. Tanpa pertimbangan aku bayar pulsa beliau yang tak seberapa itu. Sambil tak lupa memberi lima bintang untuk layanan yang diberikan.
YES
jawab
Pengalaman pertama menumpang Go-Jek mengajarkanku banyak hal. Bahwa berbagi kebahagiaan tidak perlu dengan biaya mahal. Bahwa bersyukur tidak perlu menunggu rejeki besar. Bahwa layanan prima tidak butuh fasilitas mahal. Bahwa berbagi bisa kita lakukan kapan saja. Bahwa di Jakarta masih banyak pribadi hebat.

Terima kasih pak Suryo ❤