[menulis apa yang terpikir]

[menulis apa yang terpikir]

tempat mencurahkan apa yang ada di kepala

[menulis apa yang terpikir] RSS Feed
 
 
 
 

terpikir etika bertetangga

Manusia adalah makhluk sosial. Itu yang aku tau dan pelajari sejak jaman masih sekolah dasar dulu. Artinya, manusia membutuhkan orang lain dalam kesehariannya. Manusia yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain adalah suatu hal yang jarang terjadi. Mungkin ada satu dua. Tapi seringkali, hal itu disebabkan kecelakaan. Bukan karena kehendaknya sendiri.

Soal ini terpikir olehku, saat Minggu sore mendapat undangan dari ketua Rukun Tetangga dimana aku tinggal. Undangan untuk membicarakan, perilaku seorang warga yang [menurut tetangga sekitarnya] sudah memperlihatkan sikap permusuhan dengan tetangga.

Sang warga, seorang janda [sebut saja Tante Ve] beranak dua lelaki sudah menjadi penduduk di kompeks kami jauh sebelum kami bermukim disitu. Sebenarnya, buat kami [aku dan istri] keanehan sudah terbaca saat pertama sekali kami menjadi penduduk di kompleks yang sekarang kami tinggali. Sebagai penghuni baru, sudah sewajarnya kami memperkenalkan diri kepada warga sekitar. Pada saat mengunjungi rumah Tante Ve, kami merasa aneh dengan penerimaan Tante Ve dan suaminya [saat itu belum almarhum] pada kami. Mereka hanya menjawab sapaan perkenalan kami di teras rumahnya tanpa berusaha mendekat apalagi membuka gerbang di hadapan kami yang berjarak kurang lebih empat meter.

Bukan. Sama sekali kami tidak bermaksud untuk minta dijamu atau dihormati layaknya tamu agung. Namun adalah aneh [menurut kami] saat orang bertamu kerumah kita dengan niat baik, kita terima dengan kesan pertama yang [buat kami] arogan. Tak apalah kami pikir. Karena mungkin kedatangan kami sudah malam saat mereka harusnya istirahat.

Namun keanehan yang kami rasakan, seperti mendapat pembenaran saat beberapa tahun kemudian, suami Tante Ve meninggal dunia. Dari cerita dengan warga, kami ketahui bahwa memang ada kejanggalan dalam hubungan keluarga Tante Ve dengan lingkungan sekitarnya. Meski demikian, tetangga kiri dan kanan yang rumahnya paling dekat dengan Tante Ve, dengan ringan tangan memberi bantuan.

Setelah kejadian itu, Tante Ve seperti berubah. Beberapa kali, dalam kegiatan RT, Tante Ve turut serta dan bersosialisasi dengan warga sekitar. Apalagi setelah ditinggal suaminya, Tante Ve mendapat gangguan dari keluarga almarhum suaminya. Meski sebelumnya, seperti cerita yang kami dengar, keluarga Tante Ve tidak terlalu dekat dengan warga sekitar, secara serempak, warga sekitar melindungi Tante Ve. Saat itu, kami kira keadaan sudah normal kembali. Tante Ve yang semula tertutup dengan warga sekitar, seperti mulai membuka diri. Termasuk ikut serta dalam arisan ibu-ibu yang diadakan sekali sebulan.

Namun, semakin kesini, perilaku Tante Ve seperti kembali kesedia kala. Dalam keseharian-menurut cerita warga- ada saja ulahnya yang menyakiti perasaan tetangganya. Mulai ngebut dengan mobilnya di jalanan kompleks yang hanya beberapa ratus meter dan kadang dibuat tempat anak anak bermain, bersuara keras dan melontarkan umpatan yang tidak sepantasnya, manakala bertengkar dengan anak lelakinya yang beranjak remaja, hingga menegur siapa saja yang mencoba memanfaatkan jalan [yang nota bene jalan kompleks] di depan rumahnya untuk kepentingan apapun.

Secara langsung, memang kami tidak pernah bersentuhan dengan Tante Ve sehingga tidak pernah memiliki ‘masalah’. Hanya sekali dua saat ‘city car’ nya akan melintas saat mobil kami menunggu pintu gerbang dibuka, beliau membunyikan klakson seolah tak sabar menunggu untuk lewat. Padahal badan jalan yang tersisa, masih cukup untuk dilalui ‘city car’nya.

Dalam pertemuan, Minggu malam, berdasar cerita tetangga yang rerata sudah sepuh [mayoritas tetanggaku adalah pensiunan], hal hal seperti urusan mobil ini sudah sampai taraf mengesalkan. Bahkan menurut orang-orang tua itu, sikap Tante Ve seperti membuka permusuhan. Untuk itulah pertemuan diadakan. Warga dengan difasilitasi ketua RT, ingin memperbaiki jalinan silaturahmi dengan Tante Ve. Tante Ve diundang, warga satu RT, utamanya yang tinggal di satu jalan juga diundang. Tujuannya hanya satu. Saling memperbaiki apabila satu sama lain ada kesalahan.

Namun apa daya. Tante Ve tak bisa hadir dalam pertemuan. Akhhirnya warga sepakat untuk mengirim saja hasil pertemuan secara tertulis kepada Tante Ve. Bahkan, kesannya seperti mengancam Tante Ve. Karena warga yang [sekali lagi] sudah sepuh itu sepertinya sudah dipuncak kemarahan.

Malam ini, aku menerima surat yang dilayangkan warga. Entah bagaimana Tante Ve menyikapi surat warga tersebut. Apakah akan tetap pada pendiriannya, atau menyadari kekeliruannya selama ini.

terpikir ibu rumah tangga bernama Prita

Dia cuma ibu rumah tangga biasa yang curhat kepada beberapa teman. Kehebatan media komunikasi yang membuat curhatnya diketahui banyak orang. Bukan karena kehebatan seorang ibu yang bersedia melakukan apa saja untuk untuk putrinya.Sebab dia bukan selebriti [meski sebenarnya penempelan sebutan ini kepada seseorang semakin rancu] sehingga tidak ada infotainment yang meliput persoalannya.

Dia juga tidak sedang berseteru dengan musuh lama ’seluruh’ rakyat Indonesia. Sehingga tidak banyak ibu-ibu yang penasaran dan merasa wajib tahu kelanjutan kisahnya. Mungkin pula tidak ada yang merasa perlu menjabat tangannya saat bertemu di Bandara, apalagi merasa penting untuk diajak foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Meski tidak kenal langsung siapa dia, aku yakin suaminya bukanlah bangsawan apalagi seorang pangeran. Juga, dimasa lalu pasti tidak pernah pacaran dengan putra orang kaya atau pejabat negara. Sehingga tidak perlulah dia berpikir untuk mengganti seorang pejabat negara setingkat duta besar misalnya. Entah kalau dia pernah berpikir untuk curhat kepada Presiden atau Wakil Presiden. Yang pasti, hingga saat ini belum ada komentar Presiden Republik Indonesia [atau calon presiden] terhadap apa yang dihadapinya.

Sekarang, badannya yang tidak pernah disuntik hormon atau disilet oleh suaminya itu, harus terpisah dari dua balita yang salah satunya [konon] bahkan masih memerlukan ASI. Tapi, tetap saja tidak banyak orang yang tau tentang dia. Tidak sebanyak anak kemarin sore itu……

tulisan kecil untuk simpati kepada Ibu Prita

From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama anak-anak, lansia dan bayi.

Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.

Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.

Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.

Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.

Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.

Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing, benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.

Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam,

Prita Mulyasari

terpikir koalisi bingung

Proses penghitungan suara belum selesai, namun para politisi atau pimpinan partai seolah sudah punya gambaran akan hasil akhir. Berbekal hasil Quick Count, sehari setelah Pemilu Caleg, pimpinan partai sudah terlihat sibuk melakukan kunjungan kunjungan politik yang ujung ujungnya berarti koalisi. Kunjungan yang dirancang bahkan pada saat proses penghitungan suara oleh KPU belum dimulai.

Kunjungan kunjungan yang seolah memperlihatkan bahwa dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi, mereka saling menyambangi pimpinan partai yang tadinya menjadi lawan politiknya dalam Pemilu. Bukan hanya lawan politik, termasuk lawan ‘dalam arti sebenarnya’. Hari ini, media menayangkan foto dua orang mantan petinggi militer yang pernah dikabarkan berseberangan. Memperlihatkan pose akrab. Mesra.

Tiada lain yang dituju, hanya kepentingan untuk dapat mengajukan calon Presiden sebagaimana diatur dalam Undang Undang. Karena bila maju sendiri dengan bekal suara yang diperoleh (meski belum hasil akhir) sudah pasti partai yang bukan peringkat atas tersebut, tidak berhak mengajukan calon Presiden.

Bila sudah begini, mudah mudahan rakyat tidak bingung. Mudah mudahan rakyat tidak menyesal menitipkan suara pada mereka dalam pemilu kemarin. Karena ternyata, suara yang telah diberikan, hendak dibawa dan ‘disatukan’ dengan suara partai yang tidak mereka pilih kemarin.

Yang menjadi pertanyaan, tidakkah dengan pilihan partai yang sedemikian banyak, ditambah dengan syarat pengajuan calon Presiden yang demikian tinggi, menyadarkan mereka? Bahwa seharusnya partai yang berlaga di Pemilu, cukup maksimal lima saja? Ah….Politik memang membingungkan.

terpikir mereka yang terhormat

Terlepas dari DPT yang bermasalah, tingkat partisipasi Pemilu (Caleg) 9 April, yang rendah harusnya menjadi cermin buat puluhan (ratusan kalau yang tidak lolos verifikasi dihitung) partai yang ada. Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi ni negara ini semakin lama semakin muak dengan pesta (demokrasi) yang mereka adakan.

Alih alih membuat peraturan yang mensejahterakan rakyat, partai partai itu melalui fraksi di DPR malah sibuk dengan diri dan partai sendiri. Sibuk dengan peroalan remeh temeh yang gak berguna langsung buat rakyat. Sibuk mengembalikan dana kampanye dengan beragam dalih. Plus sibuk dengan syahwat yang gak ketulungan.

Pertengkaran soal persentase partai yang berhak mengusung calon Presiden sendiri, Undang Undang Pornografi yang mungkin menurut mereka bisa membuat rakyat kenyang, Jadi makelar proyek mulai dari Riau sampai Makassar, berfoto dan beradegan syuuur yang mereka pikir akan dinikmati oleh konstituennya.

Dengan semua tingkah laku mereka itu, mereka (Anggota Dewan) masih bangga disapa dengan ‘Yang Terhormat’. Padahal, rakyat sebagai pemegang kekuasaan dan mandatlah yang lebih pantas mendapat sebutan itu.

Dengan biaya triliunan rupiah (belum termasuk dana pribadi Caleg yang telah dikeluarkan), mereka mendapat sapaan yang terhormat. Sementara dilain tempat di Indonesia, masih ada rakyat (yang katanya mereka wakili) masih berebut selembar uang lima ribuan hingga meregang nyawa. Masih ada anak anak yang tengah malam berkeliaran di jalanan demi sekeping dua recehan dari pengendara.

terpikir sehari setelah pemilu

Pengurus Partai Peringkat Atas, “Kami bersyukur diberi kepercayaan oleh masyarakat
Pengurus Partai Dibawah Peringkat Atas, “Siapkan materi gugatan, kita telah dicurangi
Pengurus Partai Yang Kadung Koalisi dan Doyan Koalisi, “Cari itu Pimpinan Golput, kita mesti ajak koalisi
Pengurus Partai Pendukung Syarat 20% Pencalonan Presiden, “Kayanya 20% musti diturunkan lagi neeeh…
Pengurus Partai Kutu Loncat, “Kayanya musti pindah ke partai itu tuh
Pengurus Partai Tidak Lolos Ambang Batas, “Nama apa ya yang cocok buat partai kita di Pemilu 2014?
Caleg Ngutang, “Kalo ada yang cari saya, bilang sedang keluar kota ya

 

July 2009
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

blog yang seblog

Blogroll

terpikir orang lain

kategori terpikir

baru terpikir

spam terhadang

Archives

Top Browsers

Top OS

Visitors Online