Duduk sendiri menatap purnama, perempuan itu mendesah. Entah sudah untuk kali keberapa. Ragam perasaan berkecamuk di dalam dada. Tak ada satupun yang nyaman buatnya.

Dia baru menyadari bahwa pilihannya salah. Apa yang dulu selalu dia agungkan tak seindah yang dibayangkan. Padahal untuk itu dia telah meninggalkan seorang lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Hanya karena lelaki itu bermulut lancang. Banyak hal, bahkan persoalan kecil bisa membuat lelaki pertamanya mengumbar serapah dengan gampang.

Sampai akhirnya dia menemukan lelaki lain. Yang santun bicara pintar merangkai kata. Tanpa banyak pertimbangan, perempuan itu memilihnya. Hari hari mereka jalani berdua. Sampai beberapa lama. Hingga akhirnya terkuak semua. Lelaki kedua ternyata lebih busuk dari yang pertama. Tidak ada apa apanya dibanding cinta pertama.

Lelaki pertama memang kasar berbicara. Namun dia bisa memanjakannya. Memberi kado entah sudah berapa. Beberapa kali mengajaknya tamasya ke manca negara. Selain romantis, lelaki pertama acap memperlakukannya bak putri raja.

Perempuan itu kembali mendesah, membayangkan semua.

Sementara dari lelaki kedua dia sering hanya merasa derita. Alih alih memberi kado, darinya si perempuan hanya mendapat nestapa bahkan air mata. Kata manis dan laku santun dulu, menguap entah ke mana.

Beranjak dari menatap purnama, perempuan itu beralih menatap kakinya. Menggoyangkan keduanya, membayangkannya seolah neraca. Kaki kiri adalah lelaki pertama. Yang kain lelaki kedua. Sampai ketika dia menatap arloji di pergelangan tangannya. Dia tersadar telah cukup lama duduk di sana. Gerobak pedagang makanan yang tadi ramai, hanya tinggal beberapa.

Diapun berdiri dan melangkah meninggalkan bangku. Berjalan tanpa ragu. Bahwa dia menyesal telah meninggalkan yang pertama. Meski kasar, cinta pertama ternyata baka. Sementara yang kedua hanya manis di mulut saja.

dari Timur Jakarta.

Kesamaan nama dan peristiwa hanya kebetulan belaka ๐Ÿ˜›๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜

Karena anak anak ditraktir mertua untuk jalan jalan ke manca negara, terpaksa mengurus paspor anak anak. Sesuatu yang tidak pernah terpikir buatku. Konon pulak mengurus paspor anak anak, mengurus paspor sendiri saja aku males jika tidak ada penugasan dari kantor.

Mengumpulkan dari sana sini, aku memperoleh informasi bahwa sekarang pengurusan paspor sudah lebih mudah. Mendaftar sudah bisa dilakukan daring (online). Aku pun mengunjungi laman web imigrasi. Ternyata laman pendaftaran tidak bisa diakses. Berdasarkan informasi, konon servernya disambar petir. HEH!?!? Beberapa minggu mencoba mengakses, perbaikan tak kunjung dilakukan. Akses masih belum bisa dilakukan. Akhirnya kuputuskan untuk mendaftar sendiri, di tempat.

Berdasarkan informasi juga, pendaftaran per hari dibatasi hanya beberapa nomor. Terbatas. Akupun menyiapkan anak anak untuk siap menghadapi situasi terburuk (JIAH!!). Gawai dibawa, baterai dan power bank terisi penuh. Jalan pagi hari dari rumah. Anak anak permisi tidak masuk sekolah. Pukul 07.00 pagi kami sudah mengantri. Di kantor imigrasi Jakarta Timur.

Entah karena laman web rusak atau karena travel fair baru berakhir, pendaftar membludak. Untuk mendapatkan nomor 185 dan 186, butuh waktu antri hampir dua jam! Selesai mengantri nomor, kami masuk ke ruang verifikasi dokumen. Tempatnya lumayan sejuk, namun tetap ramai. Kuperkirakan, ada 200an nomor yang mendaftar hari itu. Verifikasi dokumen berlangsung kurang lebih satu jam sejak masuk ruangan! Sekitar pukul 11.00 kami dipersilahkan naik ke lantai 2 untuk wawancara dan pengambilan foto. Dari informasi hasil tanya sana sini, aku memperoleh informasi, nomor yang sudah diproses masih hitungan puluhan. Dem!!

Di lantai dua antrian sudah ramai, meski semuanya duduk rapi dalam ruangan berpendingin udara, terbayang waktu yang kami butuhkan untuk melalui ini. Ada tujuh loket yang dibuka. Proses yang berlangsung membuatku menyesal kenapa tidak menggunakan calo saja. Meski harga yang ditawarkan lebih dari dua kali lipat tarif resmi yang hanya 655 ribu rupiah per satu paspor elektronik.

Setiap selesai mengurus satu pendaftar, petugas tidak langsung memanggil pendaftar berikutnya. Mereka ngobrol sesamanya, bercanda sekadarnya mungkin. Sesekali terlihat memeriksa telepon genggam. Mungkin memeriksa pesan masuk kemudian membalasnya. Manusiawi mungkin. Entahlah. Namun aku yang melihat (mungkin yang lain juga) sebel dibuatnya. Antrian semakin banyak padahal. Mereka yang selesai verifikasi dokumen beranjak naik ke atas.

Waktu makan siang tiba. Beberapa petugas bergesas meninggalkan loketnya. Hanya tersisa tiga loket yang melayani. Kelakuan hampir sama. Aku ragu. Aku bingung. Anak anak pasti lapar. Sementara petugas masih melayani dengan santainya. Aku tidak berharap petugas bekerja cepat tanpa berhati hati. Karena ini menyangkut dokumen negara. Minimal mereka tidak bercanda atau tidak berlama lama dengan telepon genggamnya.

Karena khawatir nomer terlewat plus agar anak anak adem dan biasa dengan suasana antrian, akhirnya aku memesan makanan melalui ojek daring. Aku turun ke bawah sebentar untuk mengambil pesanan makanan. Kami makan di area kosong di sebelah belakang ruang wawancara. Setelahnya menunggu lagi. Beruntung kedua pengaju paspor tidak terlalu mengeluh. Terima kasih kepada teknologi dan permintaan mereka agar segera dibuatkan paspor. Karena kedua hal tersebutlah yang bisa membuat mereka bersabar.

Selesai makan, kami masih menunggu. Aku yang mendampingi sudah dihinggapinrasa bosan dan kesal sejak tadi. Penantian aku isi dengan beberapa kali mondar mandir. Sesekali turun ke bawah meninggalkan anak anak di atas. Penyesalan mengapa tidak menggunakan calo beberapa kali muncul. Rasanya memberi uang sejuta untuk satu paspor, pantas saja jika melihat kondisi ini. Belum lagi mengingat urusan kantor yang aku tinggalin karena awalnya berpikir pengurusan ini bisa selesai dalam setengah hari.

Sekitar pukul 17.00 akhirnya keduanya selesai difoto. Karena paspor elektronik, petugas bilang bahwa paspor akan selesai dalam sebulan. APA?!?!?! Lega bercampur kesal atau sebaliknya. Aku menerima bukti pendaftaran dan nomor rekening untuk membayar biaya pengurusan. Tertulis catatan dalam pengambilan paspor. Bahwa pembayaran dilakukan paling lambat dalam 7 hari kerja. Pengambilan paspor 3 hari kerja setelah melakukan pembayaran. Apabila pemohon tidak datang kembali dalam 30 hari sejak tanggal permohonan, permohonan dinyatakan batal!. “Yeah, right” batinku mengingat waktu sebulan yang dijanjikan petugas foto.

Ketika pulang dan menunggu kendaraan, Gabriel hanya berucap, “we’ve been ten hours, here”. “Katanya mau dibikinin paspor…” jawabku. Dalam hati aku membatin, GILAK!!!!

Aku sempat mencatat nomor pengaduan yang dipampang pada dinding kantor imigrasi. Aku mengirim pesan untuk minta perhatian. Sampai kami kembali dari kantor imigrasi, pesanku (whatsapp) tidak dibaca!! Baru dibalas beberapa hari kemudian. GILAK!!!! (2). Ke mana yang namanya revolusi mental. Di mana yang disebut siap melayani? Satu hari terbuang percuma?!?!?

Hari ini aku kembali lagi ke kantor imigrasi. Karena sebagaimana janji, sebulan paspor akan selesai. Sambil berharap semua dimudahkan. Karena berdasarkan catatan pada lembar pembayaran, sudah lebih dari 30 hari sebenarnya. Karena tiba sudah pukul 11.00, tidak perlu mengantri mengambil nomor antrian. Karena loket pengambilan dibuka mulai pukul 10.00. Aku mendapat nomor 138 dan 139. Masih lebih pendek dari nomor antrian pembuatan. Lama menunggu, pukul 12.00 petugas mengumumkan waktu makan siang dan shalat telah tiba. Kami yang menunggu di dalam ruangan diminta kembali pada pukul 13.00, ketika nomor antrian sudah mencapai 130. Aku mencoba bertanya, apa tidak ada satu petugas yang bisa melayani? Sebagaimana loket foto di atas yang pelayanannya tidak berhenti sama sekali meski waktu makan siang tiba. Tidak ada kata petugas. Naseeb. ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”

Pukul 13.00 persis aku sudah kembali ke ruangan pengambilan. Melewatkan makan siang yang memikirkannya pun aku sudah tak selera. Selain karena leletnya pelayanan, juga karena rasanya masih kenyang sehabis makan sate dan empal gentong sisa acara seremoni tadi pagi.

Dan ketika petugas mulai memanggil kembali, dimulai dari 140!! HEH!?!? Beberapa pendaftar yang nomernya terlewati, berdiri serentak dan mendatangi petugas. untunglah petugas akhirnya menyadari kesalahannya.

Jika kalian membayangkan sosok Kartini sebagaimana keluarga bangsawan Jawa, yang menggunakan kebaya dalam kesehariannya, selalu menunduk bila berbicara dengan lawan bicaranya, menyendok makanan dengan pelan dan mengunyahnya sebanyak 32 kali misalnya. Lupakan! Film ini tidak bercerita mengenai Kartini yang ada dalam bayangan kalian itu. Meskipun benang merah kisah penulis kumpulan surat yang akhirnya diterbitkan dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tersebut masih terlihat dari alur cerita.

Kartini yang putri bangsawan Jepara, Kartini yang terbuka wawasannya melalui membaca, Kartini yang menulis artikel dan mengirimkannya untuk diterbitkan, Kartini yang melakukan korespondensi dengan sahabat pena di Belanda, Kartini yang dipingit kemudian dinikahkan dengan Bupati Rembang. Benang merahnya masih seputar itu. Boleh dikatakan ini adalah tafsir renyah mengenai Kartini. Perempuan bangsawan dari Jepara yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Sepertinya Hanung Bramantyo sang sutradara ingin lebih mendekatkan lagi Kartini kepada generasi era milenial. Penonton (wanita) yang akrab dengan Cinta (peran Dian Sastrowardoyo pada Ada Apa Dengan Cinta) dengan segala kelincahannya, mungkin tidak melihat banyak perbedaan dengan peran Dian pada film ini. Penggambaran yang tidak sepenuhnya salah juga. Karena ternyata sejak kecil, Kartini akrab disapa Trinil (keยทdiยทdi n burung rawa yg jalannya melompat-lompat, ekornya selalu menjungkit-jungkit; terinil, KBBI). 

Dalam Film ini penonton menyaksikan bagaimana Kartini memakan kacang mete dengan melempar (Ya melempar ke mulutnya!). Bahkan kalau tidak salah lihat, menggunakan cincin di telunjuk. Sesuatu yang menurutku, mungkin hal yang tabu dilakukan oleh seorang (putri) bangsawan. Bagaimana Kartini bersama kedua adiknya dengan santai duduk di atas tembok dengan menggunakan tangga. Sepertinya menjadi tempat yang mereka proklamasikan sebagai ‘ruang meeting’ membahas rencana rencana strategis mereka bertiga ๐Ÿ˜. Yang menjadi pertanyaan dalam benak, apakah mereka tidak kesakitan? Mengingat sepertinya mereka duduk pada tembok yang atasnya runcing bukan rata (apakah tembok seperti itu telah menjadi trend saat itu? ๐Ÿ˜ฌ)

Dengan durasi yang terbatas, apa yang digambarkan film ini cukup mewakili apa yang selama ini kita ketahui dari sosok Kartini. Membaca sebagai jendela dunia digambarkan sangat lugas. Bagaimana Kartini ketika membaca sebuah buku milik kakaknya Sosrokartono (diperankan oleh Reza Rahadian. Omong omong, gak sayang tuh hanya muncul dalam beberapa scence? ๐Ÿ˜ฌ) langsung dihadapkan pada kejadian di balik jendela yang mengadegankan suasana sebuah persidangan. Mendadak muncul sosok wanita Londo dan berdiskusi langsung dengan Kartini. Sebuah langkah unik. Pengadeganan serupa juga dilakukan untuk menggambarkan korespondensinya dengan sahabat pena dari Belanda. Mendadak Kartini berada di sebuah daerah lengkap dengan kincir angin. Pengadeganan serupa juga digunakan untuk sebuah kisah kilas balik. Ketika akhirnya ibunda Kartini (Ngasirah yang diperankan dengan apik oleh Christine Hakim) meminta pengertian Kartini untuk semua yang selama ini ditentangnya. Penggambaran membaca, berkorespondensi dan mendengar kisah lalu digambarkan dengan hadir langsung, bukan lewat narasi.

Kartini bersama adik adiknya juga digambarkan membantu pengrajin ukir untuk kemudian hasil ukirannya dijual ke Belanda. Yang menjadi pertanyaan, dan aku belum menemukan jawabannya, kenapa seolah mengukir wayang menjadi hal tabu dilakukan ya? Karena sang pengukir awalnya menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Trio Daun Semanggi itu. Sebelum akhirnya sabda pandita ratu yang turun. Permintaan Kartini dikuatkan oleh sang ayah, yang akhirnya membuat sang pengrajin bisa menerima pekerjaan tersebut.

Menyaksikan beberapa adegan, melalui dialog yang ada juga membuatku bertanya. Apakah semacam pesan akan apa yang terjadi saat ini? Hal itu misalnya ditunjukkan ketika Kartini berdialog dengan seorang Kyai. Bagaimana sang Kyai menjawab pertanyaan penasaran Kartini. Pak Kyai menjawab kurang lebih,

saat ini lebih banyak orang yang lebih senang membaca kitab dalam bahasa aslinya, tanpa tahu makna sebenarnya

Atau dalam dialog (kalau tidak salah) ayah Kartini dengan beberapa Bupati, terlintas kalimat, “suatu saat, anak tukang kayu akan kepingin menjadi raja!”. Koq ya aku langsung teringat akan sosok pak Joko presiden saat ini ๐Ÿ˜œ.

Film ini juga seolah menutup kisah Kartini dengan happy ending. Karena ketika akhirnya menerima pinangan Bupati Rembang, digambarkan seolah sang Bupati bukan pelaku poligami. Karena dikisahkan bahwa sang Bupati (yang akhirnya menerima syarat yang diajukan Kartini untuk bisa menerima pinangannya) seolah mencari pengganti ibu buat anak anaknya. Karena sang istri berwasiat bahwa kalau bisa, sosok seperti Kartini lah yang bisa menggantikan perannya sebagai ibu dari anak anak sang Bupati. Padahal dalam kenyataan sebenarnya, sang Bupati memiliki istri lebih dari satu ๐Ÿ˜”. 

Oh iya, ada hal yang menarik dalam adegan lamaran itu. Sebagian penonton terdengar cekikikan ketika sosok sang Bupati Rembang muncul dalam adegan. Sepertinya mereka belum bisa lepas dari ingatan akan peran Dwi Sasono (pemeran sang Bupati) yang lucu, lugu dan ngeselin dalam komedi situasi Tetangga Masa Gitu ๐Ÿ˜€. Selain itu juga ‘ketimpangan’ usia antara para pemeran.  Dedy Soetomo atau Rudy Wowor misalnya. Mestinya tidak setua itu, menurut pendapatku. Namun hal tersebut tidaklah terlalu mengganggu. Keduanya bersama Christine Hakim seolah mewakili generasi mereka untuk beradu akting dengan aktor beberapa generasi setelah mereka seperti Dian, Reza atau Acha. Film ini memang lumayan bertabur bintang.

Dan harus aku akui bahwa adegan penutup film ini anj**g sekali. Karena setelah kagum akan perjuangan, keceriaan, atau ‘bengal’nya Kartini yang dibangun sejak awal, adegan penutup berhasil membuatku mbrebes mili. Sh*t!! ๐Ÿ˜œ

p.s. Terima kasih kepada kantor yang sudah membayari nonton film ini ๐Ÿ˜


Sepanjang yang aku ingat, kariernya dimulai dari Indosiar. Kalau tidak salah beliau adalah penggagas acara Gebyar BCA. Ragam Pertunjukan (Variety Show) yang disponsori oleh BCA, bank yang saat itu terafiliasi dengan televisi Indosiar.

Pada masanya, bentuk Gebyar BCA sedikit berbeda dengan acara huburan lain di televisi. Menggabungkan nyanyi, wawancara dan ragam hiburan lain seperti sulap. Seingatku, acara itu lumayan berhasil. Mungkin karena perbedaan bentuk itu atau (artis) pengisi acaranya. Saat itu beliau adalah pengarah acara. Kurang paham juga apakah selain pengarah acara, beliau juga bertindak sebagai produser. Yang menentukan bentuk acara dari awal sampai disajikan kepada pemirsa.

Lepas dari Indosiar, Wishnutama nama anak muda itu, pindah ke televisi milik Chairul Tanjung (CT) konglomerat muda yang memulai bisnis konglomerasinya dari sebuah bank (Bank Mega). Di Trans TV lah, kariernya menanjak. Dimulai sebagai pengarah acara hingga memimpin dua televisi milik CT (Belakangan CT membeli TV7 milik Kompas Gramedia dan mengubah namanya menjadi Trans7).

Pada masa Tama (mas Tama, begitu beliau selalu disapa, dan sepanjang yang aku tahu beliau lebih suka disapa mas dari Bapak. Bahkan oleh anak buah sekalipun) duo Trans berjaya. Seolah menyalip televisi lain yang lebih dahulu berdiri. Apalagi waktu itu, manajemen Trans diperkuat juga oleh Ishadi SK. Mantan Direktur Televisi di Departemen Keuangan. Yang ketika menjadi kepala stasiun TVRI Jogja, juga membuat gebrakan di televisi stasiun daerah itu.
Kejayaan duo Trans justru bukan diperoleh dengan membeli program buatan Amerika Serikat atau Amerika Latin, kiblat televisi waktu itu. Justru oleh ragam acara buatan dapur sendiri (In House Program). Sepanjang yang aku ingat, dimulai dari Extravaganza yang berbentuk komedi situasi, Empat Mata (belakangan berubah menjadi Bukan Empat Mata karena kena semprit Komisi Penyiaran Indonesia), sampai Opera Van Java.

Acara berjaya, rating naik, iklan mengantri, jabatan Direktur Utama, tidak lekas membuat Tama berpuas diri. Dalam usia yang masih terhitung muda, Tama mengundurkan diri dari duo Trans. Banyak yang kaget ke televisi mana akhirnya dia berlabuh. 

Sampai akhirnya publik menyadari, dia membangun NET bersama Agus Lasmono, pemilik group Indika yang kebetulan putra dari Sudwikatmono yang dikenal sebagai raja bioskop (lewat jaringan 21). Kedua anak muda inilah yang membangun NET tiga tahun terakhir.

Di NET semua ide dan kreativitas seorang Tama dituangkan bebas. Mungkin karena sekarang posisinya bukan hanya sebagai eksekutif. Juga sebagai pemilik. Rekrutmen tenaga kerja diumumkan terbuka. Ribuan orang melamar. Beragam media (sosial) digunakan. Karyawan yang diterima, digembleng ala militer. Mereka menggunakan seragam kemeja hitam celana khaki dan sepatu ala militer pasukan perang gurun. Soal seragam ini juga diterapkan oleh Tama ketika di Trans. Mungkin karena berlatar belakang militer (konon orang tuanya adalah militer). 

Saat itu ada kebanggaan bagi awak Trans mengenakan seragam mereka. Mungkin itu yang menginspirasi, sehingga pelan pelan semua televisi mengenakan seragam kepada awaknya. Sempat terdengar komentar miring tentang kepemimpinan ala militer itu. Namun Tama bergeming. Toh sukses bisa diraih.

Mirip dengan strategi yang dijalankan ketika di Trans, NET pun banyak menjual program besutan sendiri. Tetangga Koq Gitu, OK JEK, Ini Talkshow, The Comment hingga Teka Teki Waktu Indonesia Bercanda adalah acara andalannya. Meski beberapa ditayangkan secara striping, acara bisa bertahan lama.

Selain dari kreativitas yang seolah tak ada matinya itu, yang membuatku kagum pada anak muda itu adalah konsistensinya dalam mendisiplinkan dan membuat bangga karyawannya. Beliau tidak hanya memerintahkan untuk mengenakan seragam, namun turut serta menggunakan seragam yang dia perintahkan dikenakan itu. COOL!

Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat lelaki batak, jika belum menikah, setiap tahun nasihat hanya tertuju padanya setiap malam pergantian tahun.

Desember ini, Slank berusia tiga puluh tiga tahun. Bermula dari berdirinya Cikini Stone Complex pada Desember 1983, saat ini SLANK bukan hanya sebuah group band. SLANK konon berasal dari kata slengekan, yang kurang lebih berarti sesuka sukanya, menjelma menjadi komunitas yang luas. Potlot, nama gang di bilangan Jakarta Selatan (pernah) menjadi kiblat musik Indonesia. Sebut saja Oppie Andaresta, Imanez (almarhum), Andy Liany (almarhum), Anang Hermansyah dan Kidnap Katrina, mengindonesia dari sana. Selain itu masih ada juga BIP yang digawangi oleh Bongky, Indra dan Pay Siburian yang keluar dari SLANK setelah album Minoritas. Dan masih banyak lagi yang (mungkin) belum sebesar nama nama itu.

Bukan hanya kiblat musik, Potlot juga menjadi kiblat politik. Tidak sedikit pihak (partai maupun perorangan) yang merapat ke gang Potlot hanya untuk memeroleh dukungan dalam pemilu. Apalagi sejak era pemilu langsung. Betapa tidak, dengan usia 33 tahun, penggemar SLANK terdiri dari beberapa generasi. Mereka yang mungkin masih bersekolah di SMP atau SMA ketika album Suit Suit….hehehe (gadis sexy) keluar, sampai level anak anak dari generasi pertama itu.

Para penggemar pun fanatik bukan main. Sampai muncul celetukan seperti iklan teh dalam botol yang ‘apapun makannya….’. Konser artis manapun yang dilakukan di lapangan terbuka, bendera SLANK pasti dikibarkan! Tanpa bermaksud membandingkan, mirip dengan komunitas OI milik Iwan Fals. Padahal Iwan Fals sudah jauh lebih dahulu berkarya di industri musik Indonesia.

Dengan kenyataan seperti itu, sulit menjelaskan fenomena ini. Bahkan ketika beberapa personilnya (lagi lagi) diketahui menjadi pecandu narkoba, fanatisme itu tidak hilang. Manajemen Pulau Biru (entah apakah masih seperti itu namanya) berhasil mengelola peristiwa itu. Alih alih menjadi peristiwa memalukan, manajemen bahkan berhasil membuatnya menjadi kejadian yang menginspirasi banyak anak muda untuk menjauhi narkoba. Mungkin kalau menggunakan istilah korporasi, menjadi semacam CSR bagi SLANK. Menjadi tanggung jawab SLANK untuk mengarahkan jutaan fans agar tidak mengikuti jejak idolanya yang kurang bagus itu. Bunda Iffet, ibunda Bimbim, yang walaupun (hanya) seorang ibu rumah tangga biasa, mampu mengelola SLANK dengan baik.

Aku mengikuti SLANK sejak awal karirnya hingga album Minoritas. Album berikutnya Lagi Sedih, 999+09 #1 dan 999+09 #2 hingga yang terbaru sudah tidak intens kuikuti lagi. Ada rasa yang hilang ketika aku tak mendengar permainan jari Indra di keyboard dan melodi Pay di gitar. Lirik jujur bebas dan nakal ditambah keyboard dan kocokan gitar terlalu sempurna buatku. Bagaimana mereka dengan lugas meneriakkan ‘Anjing’ pada lagu ‘An – = -‘ ~ >…’ (judulnya memang begitu) dari album Kampungan atau meneriakkan kata ‘Kentut’ pada lagu Tut Wuri Handayani dari album Minoritas. Atau melagukan ‘Bangsat’ di lagu Begitu Saja dari album ‘Piss!’. Bagaimana mereka merekam dengkuran dan menimpali dengan koor personil dan diiringi permainan piano lagu Nina Bobo pada lagu Nina Bobo dari album Kampungan.

Mereka juga dengan bebas memasukkan lagu dolanan anak anak di Jawa pada Bang Bang Tut dari Minoritas atau memasukkan bahasa Batak (kebetulan Pay bermarga Siburian) pada intro lagu Generasi Biru di album Generasi Biru. Mereka bercerita tentang apa saja. Korupsi, Birokrasi yang kompleks, aborsi, keindahan di Bali (lagu Tepi Campuhan di Bali atau sepinya pantai Anyer, keriangan bocah bermain. Romantisnya Terlalu Manis atau kemarahan pada perbedaan status pada Mawar Merah. Masih banyak lagi.

Ah….aku rindu SLANK (sampai album Minoritas โ˜บ). Ingin berada di Pulau Biru bersama jutaan Slankers ๐Ÿ˜