Pengamat musik Denny Sakrie (@dennysakrie) dalam satu twitnya berkata, “Padi dan Musikimia itu ibarat God Bless dan Gong 2000″. Sebuah pernyataan yang sekilas ada benarnya. Jika dirunut sejarah keduanya.
God Bless adalah salah satu band rock tertua di tanah air, berdiri pada tahun 1973. Sempat malang melintang di era tahun tujuh puluhan untuk kemudian vakum sekian lama. Band ini bangun dari masa vakumnya dengan mengeluarkan album Semut Hitam pada tahun 1988. Dengan formasi Ahmad Labar pada vokal, Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Yockie Suryoprayogo (keyboard) dan Teddy Sujaya (drum). Namun setelah album ini, Ian Antono keluar dari God Bless dan menjadi erenjer untuk beberapa penyanyi solo seperti Ikang Fawzi dan Nicky Astria. Posisi Ian di God Bless sempat digantikan oleh gitaris muda Eet Sjahranie. Formasi ini sempat mengeluarkan album Raksasa.
Selain menjadi produser untuk penyanyi solo, Ian Antono membentuk Gong 2000 bersama Ahmad Albar, Harry Anggoman (keyboard), Donny Fatah (bas) dan Yaya Muktio (drum). Band ini boleh dianggap menuai sukses dengan mengeluarkan beberapa album seperti Bara Timur (1991), Gong Live – (1992), Laskar (1993), dan Prahara (1998). Disela kegiatannya bersama Gong 200, tercatat Ian Antono pernah ‘kembali’ ke rumah lamanya God Bless. Pada tahun 1997, para personel God Bless, termasuk Eet Sjahranie dan Ian Antono berkumpul dan menghasilkan sebuah album berjudul Apa Kabar. Judul album yang seolah menyiratkan arti reuni untuk ‘mantan’ personel God Bless. Namun reuni ini tidak berlangsung lama karena Eet secara resmi mengundurkan diri dari formasi God Bless untuk konsentrasi pada Edane. Band yang dibentuknya dan mengeluarkan album yang juga bernafaskan rock, The Beast.
Begitulah akhirnya God Bless, rujuk kembali. Bongkar pasang, keluar masuk personel kerap terjadi. Tercatat hanya Ian Antono, Ahmad Albar dan Donny Fatah yang paling awet diantara personilnya. Lantas bagaimana dengan Padi dan Musikimia?
Sama sama beraliran rock, Padi adalah generasi muda di musik rock Indonesia. Beranggotakan Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass) dan Yoyo (drum), band ini berhasil mencuri perhatian pecinta musik Indonesia. Bahkan konon album kedua bertajuk Sesuatu Yang Tertunda, laku jutaan kopi dan dianggap salah satu album terbaik. Sayangnya, kesusksesan mereka tercoreng oleh kisah penabuh drum yang dipidana menggunakan narkoba. Yoyo pun harus mendekam di penjara. Band pun vakum sementara.
Mirip kisah Ian Antono di God Bless, sang gitaris Piyu jalan dengan menjadi produser. Buah tangannya diantaranya adalah Drive. Band yang sempat menghasilkan beberapa album untuk kemudian tidak terdengar lagi, menyisakan Anji sang vokalis yang tetap melanjutkan kerjasama dengan Piyu. Setelah sekian lama, Yoyo pun selesai menjalani hukumannya. Konon mereka (personel Padi) pernah bertemu untuk membincangkan kelanjutan Padi. Personel Padi selain Piyu, menyampaikan keinginan mereka untuk membangunkan lagi band Padi.
Namun apa daya, mereka tidak mendapat respon sebagaimana diharapkan. Jadilah Fadly, Rindra dan Yoyo jalan sendiri. Ditambah Stephan Santoso yang merupakan sound enginer Padi saat rekaman di masa lalu, serta Ari yang katanya menjadi manajemen, mereka mendirikan Musikimia. Saat ini, single mereka bertajuk Apakah Harus Seperti Ini sedang sering diputar di radio. Banyak orang mengira, ketika mendengar selintas ini adlah lagu terbaru padi. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena vokal Fadly sudah lekat dengan Padi.
Kembali ke sepenggal twit dari Denny Sakrie di atas, apakah memang kedua (atau keempat?) band ini mirip? Belum bisa dikatakan demikian. Coba perhatikan lagu Musikimia dan bandingkan dengan single Piyu featuring Anji berikut ini.
Apakah semua harus berakhir sudah
Dan berhenti sampai di sini
Jangan paksakan aku mengiyakan inginmu
Bila tak kau indahkan semua mimpi tentang kitaTak ada satupun manusia di muka bumi
Yang tak ingin dihargai
Engkau dan aku mungkin berbeda
Tapi kita masih bisa bicara dan saling mendengarBukan harus seperti ini
Haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) haruskah kita seperti ini
(tentang kita, tentang kita) tak harus seperti ini (tentang kita)
Pelan-pelan ku benamkan pikiranku
Bahwa aku pun tak salah melepasmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlaluSempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmuLambat-lambat waktu makin memacuku (memacuku)
Setidaknya aku masih mengingatmu
Selamat tinggal kisah indah bersamamu
Selamat tinggal cinta yang sudah berlaluSempat ku rasakan sepi
Tapi ternyata hanya pikiranku saja
Masih banyak pilihan ada di depan mata
Ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu
Oooh ku tak salah melepasmu oooh ku tak salah melepasmu
Mungkin mereka bisa berdalih bahwa kedua lagu hanya merupakan sebuah karya seni biasa. Tanpa ada maksud tertentu di baliknya. Pikiran nakalku yang sebenarnya tak berharap mereka berpisah mengatakan bahwa mereka sedang berdialog lewat lagu masing-masing. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah memang Padi dan Musikimia memang seperti halnya God Bless dan Gong 2000, atau tidak ada kemiripan sama sekali. Sambil membayangkan karya karya indah yang pernah mereka lahirkan bersama, seperti Begitu Indah, Mahadewi, atau Sobat. Yang mengantarkan mereka ke industri musik Indonesia.





terpikir orang lain