“Ai damang do si jujung baringin
Di au amangmon
Jala ho do silehon dalan
Di anggi ibotomi..”

“Ianggo anggi iboto mon ndang magoan. Hodo na magoan. Ho do ganti di bapa di halak on” Engkaulah yang kehilangan ayah. Adik adikmu tidak kehilangan. Sebab engkaulah yang akan menjadi bapak mereka. Itulah kalimat yang disampaikan pelayat kepadaku pada Mei 2000. Saat itu aku masih sendiri. Belum berkeluarga. Kata penghiburan kepada lelaki sulung keluarga Batak yang telah menikah akan dimodifikasi dengan menambahkan kalimat (wejangan) sama kepada istri si sulung. Bahwa sang istri akan berperan sebagai ibu bagi adik adik suaminya.

Sebagaimana potongan lagu Poda di atas, demikianlah peran anak sulung. Si jujung baringin. ‘Pembawa Bendera’ keluarga. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ketika bapak tiada, sulung akan menggantikan peran bapak. Bukan hanya keluarga Batak. Aku pikir posisi sama terjadi pada hampir seluruh keluarga tanpa melihat suku bangsa. Peran tersebut semakin bertambah ketika bicara soal adat. Karena Batak masih memegang erat adat istiadat.

Kadang terasa berat. Kenapa beban seberat itu harus disematkan di pundakku. Apalagi ketika itu aku belum berkeluarga. Setelah menikah dan secara otomatis memiliki tempat di adat Batak, dalam usia muda aku ‘terpaksa’ mengikuti adat. Menghadiri pesta unjuk (pernikahan) atau prosesi adat lainnya. Sesuatu yang saat ini masih dihindari oleh banyak keluarga muda Batak. Sering teman bertanya, “rajin kali lah kau ke adat?” Apa yang bisa aku katakan? Posisiku mewajibkannya. Ingin sebenarnya menolak, namun posisi sebagai sulung tidak memungkinkannya. Ditambah lagi, aku memang menyukai adat Batak. Meski oleh banyak kalangan dianggap ribet dan melelahkan, aku merasakan ada kearifan lokal yang bermanfaat darinya. Oleh sebab itu perlu dilestarikan.

Posisi sebagai sulung juga mewajibkanku untuk ‘menikahkan’ adik adikku. Meski dalam dua kesempatan aku hanya berperan kecil. Karena kediaman di pulau Jawa tidak memungkinkanku untuk banyak terlibat. Aku hanya mengandalkan mama. Dari jauh aku hanya bisa memantau dambil sesekali memberi sumbang saran. Syukur keduanya berjalan dengan baik. Meskipun pasti ada kekurangan.

Selain utusan adat, dalam beberapa hal lain aku juga terbeban untuk menjadi ‘si lehon dalan’ sang pemberi jalan. Mungkin semacam voorijder dalam sebuah iringan. Membantu adik adikku dalam hal apa saja. Tentu saja dalam batas kemampuan. Entah apakah apa yang aku lakukan berhasil atau enggak. Entah apakah aku bisa menjadi contoh yang baik kepada mereka sebagaimana doa dalam lagu Poda itu. Meski kadang terasa berat, lebih sering aku menikmatinya sebagai tanggung jawab yang harus aku pikul. Aku berharap bisa membantu mereka dalam mewujudkan keinginan orang tua kami. Terutama keinginan almarhum bapak yang hari ini (jika masih ada) berulang tahun ke-73 😔

*Poda adalah lagu yang berisi pesan orang tua kepada anak lelaki sulung

Ternyata ada juga gunanya tidak perlu ngoyo dan terburu buru naik ke pesawat. Setidaknya kali ini menjadi berkah tersendiri.

Setelah kemarin penerbangan ditunda selama kurang lebih tiga jam. Hari ini penerbangan kembali ke Jakarta pun memgalami penundaan. Menurut jadwal, penerbangan GA247 yang akan membawaku pulang, terbang pada pukul 19.25 WIB. Mendatangi meja pendaftaran sambil menyerahkan tiket elekteonik, aku bertanya apakah pesawat sesuai jadwal. “Terlambat kurang lebih dua puluh menit pak” jawab mbak petugas. “Penerbangan sebelumnya?” tanyaku. “Juga terlambat. Mungkin nanti keberangkatannya tidak akan berbeda jauh”. Aku mengasumsikan ini akibat dari belum beriperasinya Terminal 3 Ultimate yang resmi digunakan sejak kemarin. Hal itu dikuatkan dengan obrolan dengan penumpang lain yang menunggu di ruang tunggu.

Boarding Pass yang telah dicetak, langsung aku lipat bersama dengan kartu tanda penduduk. Persiapan untuk pemeriksaan di pintu masuk ruang tunggu dan pintu menuju pesawat. Akupun menunggu dan berbaur dengan beberapa penumpang lain yang ternyata menghadiri acara yang sama dengan yang aku hadiri hari ini. Bahkan juga manajemen perusahaan pengundang.

Panggilan yang ditunggu ratusan penumpang pun terdengar. Wajah muram dan malas karena menunggu meski telah diberikan sekotak makanan ringan, langsung sumringah. Kami bergegas menuju pintu dua. Seperti biasa aku mempersilahkan penumpang lain untuk berbaris di depan. “Ayo bang” ajak seorang teman yang sudah kukenal lama dan baru bertemu sore ini meski tadi siang berada di acara yang sama. “Silahkan duluan” jawabku. Nanti aku menyusul. Kita bertemu di Cengkareng” tambahku.

Ketika tersisa dua orang sebelum meja pemeriksaan terakhir, baru aku sadari bahwa nama yang tertera di Boarding Pass ternyata bukan namaku. Nama akhir sama Tambunan. Bedanya di nama depan, tertulis Junjungan. “Mungkin si mbak salah baca” pikirku dalam hati. Aku sodorkan boarding pass dan KTP. Aku melangkah keluar gedung. Sayangnya tentengam oleh oleh ditahan petugas dengan alasan penumpang penuh. Kata mereka, akan dimasukkan bagasi. Meski berusaha menawar dengan mengatakan akan meletakkannya di bawah kursi, petugas tetap meminta. Akhirnya aku mengalah. Melangkah santai ke tangga pesawat. Terlihat dari bawah sebagian besar kursi telah terisi.

Melangkah masuk pesawat, aku memperhatikan dan menduga posisi kursi 28C sebagaimana tertulis di boarding pass. “Lho! Kenapa sudah terisi?” Batinku. Sesampai di kursi yang dituju aku menunjukkan boarding pas kepada pramugari yang kebetulan menjaga di baris 29. Dan meminta boarding pas penumpang yang duduk di 28C. Sekilas terlihat namanya sama. “Gawat” batinku. Namun tetap tenang. Mbak pramugari membawa boarding pass ku ke depan. Aku mengikuti karena tidak nyaman berada di kursi kosong sebelah 28C sementara ada satu dua orang penumpang yang sedang menuju kursi belakang. Aku menuju pintu masuk di depan. Dekat pintu kokpit. Sambil memperhatikan petugas darat saling berkomunikasi. Seorang pramugari bertanya. Aku menerangkan singkat masalahnya. “Tenang saja pak tunggu di sini” katanya seolah memberi harapan. “Sepanjang aku tidak diminta terbang dengan penerbangan berikut” jawabku getir. Membayangkan semakin malamnya perjalanan pulang.

Kemudian salah seorang petugas darat mendatangiku. Sepertinya masalah selesai. “Silahkan bapak duduk di kursi 8C” kata si petugas. “Heh!?” Akhirnya solusi itu yang dipilih. Akhirnya aku duduk di satu satu satunya kursi kelas bisnis yang tersisa. Sambil kagok ini bagaimana mengoperasikannya? Sudah sepuluh tahun lebih tidak duduk di kelas bisnis. Pertama kalinya ketika almarhum bapak ‘pergi’. Karena mendadak memesan tiket, akhirnya aku membeli kursi penerbangan Garuda yang tersisa.

Minum ditawarkan. Biasanya pakai cangkit plastik, kali ini pakai gelas. Handuk panas ditawarkan. Biasanya pakai tisu basah penyegar. Makanan ringan ditawarkan. Dalam nampan dengan serbet. Biasanyabkotakan. Perasaan kagok semakin menjadi ketika aku tidak bisa melipat meja dengan sempurna. Dua tiga kali mencoba hampir keringat dingin dan malu kepada bapak yang duduk di kursi 8H sebelahku. “Ya…maaf. Saya biasa naik omprengan pak. Itu juga di posisi kasta terendah. Yang ongkosnya lima belas ribu, dan kadang kaki kesemutan karena menahan posisi duduk yang tak nyaman” batinku dalam hati ☺️

Mendadak aku teringat, dua direktur perusahaan yang mengundang untuk acara hari ini duduk di kelas ekonomi 😆

“Saya lebih baik memiliki 20 persen perusahaan bernilai 1 triliun daripada memiliki perusahaan bernilai 100 miliar”

Kata kata itu diucapkan di hadapan puluhan orang pemilik perusahaan oleh seorang anak muda yang belum genap berusia 40 tahun. Witjaksono demikian nama anak muda tersebut, merupakan satu dari lima orang pendiri PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. (DPUM) perusahaan pengolahan ikan yang berasal dari Pati. Sebuah kota kecil di Propinsi Jawa Tengah. Sama dengan Witjaksono yang dipercaya sebagai Presiden Komisaris, empat orang lainnya berusia tidak jauh berbeda. “Kami telah mempelajari bahwa hampir sebagian besar perusahaan terkemuka dunia, besar melalui pasar modal” demikian Witjaksono menambahkan. Kalimat yang menggetarkan buatku sebagai pegawai yang berkecimpung di industri pasar modal.

Kalimat itu terngiang kembali ketika hari ini, pabrik yang dana pembangunannya diperoleh melalui Penawaran Umum Perdana saham. Perusahaan yang didirikan pada 9 Mei 2012, reami tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8 Desember 2015. Saat ini perusahaan tersebut telah bernilai hampir 5 triliun rupiah! Nolnya ada 12! Mereka berlina yang memulai dari bisnis fotokopi, saat ini memiliki kekayaan masing masing 1 triliun! (Dengan asumsi meniadakan pemegang saham lain)

Bukan tidak mungkin nilai perusahaan ini semakin hari akan meningkat. Seiring berkembangnya bisnis mereka dengan diresmikannya pabrik baru mereka oleh Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. Pabrik yang mampu mengolah ikan, udang dan bayi gurita puluhan ribu ton sehari. Pabrik yang mampu menghidupi 4 ribu karyawan, ratusan (mungkin ribuan) nelayan, menjadi mitra dari ratusan Usaha Kecil Menengah di sekitarnya.

“Saat seusia kalian, saya belum bisa menghasilkan apa yang kalian capai saat ini” ujar pak Luhut dalam sambutannya. “Teruslah menjaga disiplin dan membantu UKM. Jika kalian butuh bantuan, sulahkan datang ke kantor. Kami akan bantu. Saya juga titip kepada Pangdam dan Kapolda untuk menjaga mereka” tambah Luhut. Kalimat kalimat yang buatku pribadi sangat menggetarkan. Apalagi buat Pandawa (merek dagang yang dipilih untuk produk mereka. Mungkin menganalogikan dengan jumlah Pandawa yang juga lima). Tak terbayang betapa bangganya keluarga mereka yang berdasarkan asumsiku, juga hadir di tempat acara.

Aku berharap banyak media yang meliput acara tersebut. Sehingga lebih banyak lagi anak muda yang terinspirasi. Lebih banyak lagi pemilik perusahaan yang memanfaatkan pasar modal untuk membesarkan perusahaanya. Memberi kehidupan kepada lebih banyak orang. Memberi pajak kepada negara. Menambah devisa buat negara. Mengharumkan nama Indonesia.

Buatku yang bekerja di industri pasar modal, momentum hari ini juga menggetarkan. Karena ketika di Jakarta dilakukan peringatan 39 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, di Pati kota kecil di tengah pulau Jawa, ada perusahaan yang besar dengan memanfaatkan dana pasar modal. Maju terus pasar modal Indonesia!

Apa yang akan kalian lakukan ketika di tengah berjalan di mall atau pusat keramaian bertemu seseorang dan dia menyampaikan “mas/mbak, retsletingnya terbuka” atau “pak/bu, ada upil ijo di atas bibirnya”

Apakah kalian langsung menampar orang tersebut? Apakah kalian langsung melaporkan dia menyampaikan hal itu kepada polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik? Atau melaporkannya dengan tuduhan telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan?

Mungkin kalau terjadi padaku, aku akan buru buru memeriksa celana. Atau buru buru menyeka wajah di atas hidung di bawah bibir (aku tak menemukan nama pas untuk bagian wajah itu 😁). Jika memang retsleting terbuka, aku akan kancingkan kembali. Jika ada upil berwarna hijau, aku akan bersihkan. Selanjutnya mengucap terima kasih kepada yang telah memberitahukan tadi. Mungkin sambil tersipu malu ☺️. Karena disampaikannya di area publik. Mungkin saja ada satu dua orang yang memperhatikan pembicaraan dua arah tadi. Mungkin saja ada yang mendengar perkataannya tadi.

Kondisi itu jika yang disampaikan benar adanya. Jika memang tidak benar, minimal aku terhindar dari sesuatu yang mungkin kurang elok terlihat di ruang publik. Dan ini pasti jarang terjadi pada mereka yang tidak saling kenal sebelumnya. Ngapain juga ngurusin orang. Demikian mungkin alasan yang sering kita pilih. Perbuatan mengingatkan itu lebih sering terjadi pada orang yang sudah saling mengenal.

Apa jadinya jika posisinya dibalik? Kalian yang melihat sesuatu yang tidak pantas pada orang lain. Apakah kalian akan langsung menyampaikan hal yang sama? Apakah kalian menyampaikan secara terbuka atau diam diam? Atau kalian akan membiarkan saja?

Kalau berada di posisi tersebut, kemungkinan aku akan menyampaikan kepada orang tersebut. Tentu saja dengan senyap. Terutama jika yang bersangkutan aku kenal. Karena ada yang perlu dijaga. Rasa malu orang tersebut misalnya.

Aku pikir itulah yang sedang dialami oleh Haris Azhar dengan aparat penegak hukum. Haris yang beruntung memiliki informasi mengenai kelakuan tidak patut dari aparat penegak hukum, sedang menghadapi gugatan dari lembaga yang disebut namanya. Melaporkan kepada aparat oenegak hukum. Mengesampingkan apakah yang disampaikan oleh Freddy Budiman bemar atau tidak, menurutku tidak perlulah aparat bereaksi sekeras itu.

Aku pikir seluruh komponen bangsa setuju bahwa narkoba itu membahayakan, merugikan, merusak. Dengan demikian pemberantasan peredarannya harus dilakukan serentak dan bersama sama. Karena korbannya sudah meluas. Bukan hanya kaum papa juga kaum berada. Bukan hanya anak muda juga orang tua. Bukan hanya orang biasa juga aparat negara.

Alangkah baiknya jika respon yang diberikan layaknya memeriksa retsleting tadi. Benarkah terbuka? Jika memang ada aparat yang terlibat, harus ditutup (aparat yang terlibat diproses untuk kemudian ditindak). Kepada yang menyampaikan beri ucapan terima kasih. Jika perlu disampaikan juga, “lain kali jangan teriak di depan umum dong boss. Kita kan jadi malu…☺️”

Investor Day dan Investor Summit adalah inisiatif yang digagas oleh PT Bursa Efek Indonesia bersama SRO (Self Regulatory Organization) lain, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai upaya mengenalkan pasar modal kepada masyarakat Indonesia. Ya. Mengenalkan!

Dalam sejarahnya, Bursa Efek sebagai tempat jual beli surat berharga sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia. Sejak Jakarta masih bernama Batavia. Baru tiga puluh sembilan tahun (10 Agustus 1977) lalu pemerintah mengaktifkannya kembali. Baru dua puluh empat tahun lalu (13 Juli 1992) PT Bursa Efek Jakarta sebagai perusahaan pengelola Bursa Efek Jakarta didirikan. Waktu yang belum bisa dikatakan lama jika dibandingkan dengan industri sejenis di belahan dunia lain.

Dalam perkembangannya jumlah Perusahaan Tercatat, jumlah investor, nilai kapitalisasi pasar, nilai transaksi sebagai ukuran yang digunakan untuk perbandingan dengan bursa lain, belum boleh dianggap menggembirakan. Meskipun jika diukur dari sejak berdirinya PT BEJ maupun diaktifkannya kembali pasar modal angkanya bolehlah membuat senang. Meskipun untuk itu banyak faktor yang mempengaruhinya.

Dari sisi supply belum banyak perusahaan yang mau berubah dari perusahaan pribadi (keluarga) menjadi perusahaan publik. Dari sisi demand belum banyak orang yang tertarik berinvestasi di perusahaan tercatat. Atau dengan bahasa lain, belum banyak orang yang mau menjadi pemilik perusahaan. Mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung menabung menjadi masyarakat berinvestasi butuh waktu lama.

Bukan hanya terjadi pada masyarakat awam saja. Sepertinya terjadi pada masyarakat terdidik. Ketika BEI memulai kampanye #YukNabungSaham, berdasar catatanku ada dua orang yang mempertanyakan penggunaan kata nabung. Menurut mereka penggunaan kata (me)nabung dalam kampanye ini kuranglah tepat. Karena menabung dan berinvestasi memiliki konsep yang berbeda. Tentu saja aku sepakat dengan hal ini. Namun sepertinya sang pemberi komentar belum memahami apa yang ingin dicapai dari kampanye ini. Satu lagi yang membuatku sedih keduanya merupakan mantan kolega di kantor. Aku hanya miris mendengar komentarnya. Berusaha menjelaskan juga sepertinya percuma. Mungkin mereka merasa lebih memahami. Mungkin karena mereka alumni perguruan tinggi di luar negeri.

Hampir dua tahun lalu aku ikut dalam kelas inspirasi. Program yang diniatkan untuk mengenalkan beragam profesi kepada peserta didik dasar (anak sekolah dasar). Sebuah tantangan yang berat buatku. Jangankan kepada anak sekolah dasar, mengenalkan pasar modal dan transaksi saham kepada mereka yang sudah dewasa dan sudah melewati pendidikan tinggi (universitas) aku masih sering mendapat pertanyaan “bukannya judi, bro?” Cape deh…

Aku tak kehilangan akal. Aku memulai dengan bercerita kepada anak sekolah dasar bahwa aku bekerja di perusahaan yang mengelola tempat berjual beli kepemilikan perusahaan yang sebenarnya sudah mereka kenal sehari hari. Aku bercerita bahwa sejak mulai bangun tidur mereka sudah akrab dengan perusahaan itu. Mandi menggunakan sabun, shampo dan odol yang diproduksi PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), mereka sarapan dengan roti yang diproduksi oleh PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. (ROTI), berangkat sekolah mereka bisa menggunakan taksi PT Blue Bird Tbk. (BIRD) atau PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI), menulis di sekolah mereka menggunakan buku produksi PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan seterusnya. Sepertinya mereka juga baru mengetahui akan hal tersebut. Dan aku yakin banyak pula diantara orang dewasa yang baru ngeh akan hal tersebut. Wajar.

Dari kenyataan tersebut, tanpa kita sadari sebenarnya kita dikelilingi atau lekat dan erat dengan perusahaan yang sudah tercatat di Bursa. Banyak yang kita kenal. Kita bisa melihat operasionalnya. Kita bisa mendalami kinerjanya melalui laporan keuangan yang wajib mereka publish minimal empatvkali selama setahun. Sebagai pemilik dan pemegang sahamnya kita bisa memberi masukan kepada manajemen yang sehari hari mengurus perusahaan tersebut melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham yang berdasarkan Undang Undang wajib diselenggarakan minimal sekali dalam setahun. Lantas apa yang kita takutkan?

Jika manajemen bekerja dengan baik, perusahaan mendapat keuntungan, sebagai pemegang saham kita boleh berharap mendapat pembagian keuntungan dalam bentuk dividen. Jika kita suatu saat membutuhkan dana untuk suatu keperluan, dengan cepat kepemilikan kita jual di pasar. Syukur dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan ketika kita membelinya. Dengan demikian kita memperoleh apa yang disebut capital gain. Menjual aset berbentuk saham jauh lebih cepat dilakukan dibandingkan jika kita menjual aset berbentuk properti (seperti bangunan atau tanah).

Eits, jangan langsung berkomentar bagaimana jika merugi. Karena sejatinya ketika kita memutuskan untuk membeli sebuah barang, kita tentu sudah mempertimbangkan dari segala aspek. Apakah layak untuk dibeli. Apakah barang ini bagus. Apakah gampang dijualnya. Dengan berbagai pertimbangan matang pembelian harusnya dengan risiko minimal. Kita tentu tidak mau membeli sebuah mobil jika mobil yang hendak kita beli tidak jelas. Dengan analogi sama kita bisa melakukan pembelian perusahaan (baca :saham).

Saham hanya satu dari produk yang diperjualbelikan di pasar modal Indonesia. Masih banyak yang lain. Ada Obligasi, Reksadana yang diperjual belikan (ETF), Efek Beragun Aset (EBA) dan seterusnya. Prosesnya sama. Kenali dulu apa yang hendak dibeli. Datangi perusahaan sekuritas. Simpan untuk waktu tertentu (tergantung tujuan investasi). Harusnya sih mudah.

Upaya mengenalkan semua itulah yang kami lakukan hampir setiap hari. Mungkin memang butuh waktu lama. Namun kami yakin satu saat pasar modal Indonesia akan sejajar dengan pasar modal di negara lain. Siang ini aku membaca kutipan komentar dari Hasan Zein Mahmud. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia ketika pertama kali didirikan. Orang yang dari tulisannya aku belajar banyak mengenai pasar modal ketika masih bersekolah di kota Medan. Kota yang ketika aku bersekolah sudah memiliki Pusat Informasi Pasar Modal, namun dengan keterbatasan informasi yang aku miliki belum menarik perhatianku. Siapa sangka tulisannya yang menginspirasi membawaku menjadi pegawai di perusahaan yang pernah dipimpinnya.

Kembali kepada kutipan, pak Hasan berujar yang cukup menohok

Kalau Warren Buffett pada umur 10 tahun membaca semua buku investasi di perpustakaan Kota Omaha, lalu mulai melakukan investasi pada umur 11 tahun; kalau di sekolah menengah atas di Hong Kong dan Singapura sudah diajarkan dan dipraktekkan stock picking, alangkah bebalnya kita membiarkan mayoritas masyarakat kita tetap buta investasi dan berulang-ulang menjadi korban investasi bodong……