20140329-183927.jpg

Berkat menang kuis di @iradiojakarata, berkesempatan menonton The Raid 2 : Berandal. Film yang oleh beberapa kritikus dipuji. Setidaknya kalau membaca ulasan di Tempo dan Rolling Stone Indonesia [RSI] Juga di situs IMDB mendapat nilai 8.8. Sebuah nilai yang cukup tinggi, mengingat pemborong Oscar 12 Years of Slave saja per 29 Maret hanya memeroleh angka 8.3. Sedemikian beguskah? Entahlah. Aku bukan kritikus film.

Cerita, sebagaimana biasa film laga, masih berkisar pada balas dendam. Antara tokoh protagonis dan antagonis. Sebagaimana ditulis oleh Leila S. Chudori, meski ini film Indonesia [dengan sutradara asing] mari menganggap adegan dan lokasi film ini terjadi di negeri antah berantah. Mungkin maksudnya, bukan di Indonesia apalagi di Jakarta. Tentang seorang polisi [Rama-Iko Uwais] yang konon, ingin membalas dendam atas kematian abangnya, kemudian dimanfaatkan oleh polisi lain [Bunawar-Cok Simbara] yang ingin membongkar kebusukan polisi lain lagi [Reza-Roy Marten].

Pemanfaatan dilakukan melalui ‘menanam’ Rama ke dalam geng [lokal?] Bangun yang sedang berbaik baik dengan geng Jepang. Dua geng penguasa kota. Eits. Katanya antah berantah, tapi Bangun menyebut Menteng dan Sabang sebagai wilayah yang bisa dibagi ke geng Jepang. Untuk penonton indonesia, kedua nama tempat itu sudah merujuk ke Jakarta. Baiklah. Mari menganggap di kota entah berantah pun ada dua kawasan itu.

Buatku, jualan film ini hanyalah cerita yang lumayan apik [dengan metode kilas balik di awal cerita] serta adegan laga yang rapi. Meski terkadang adegan laganya terlalu vulgar, kalau tidak mau dikatakan sadis. Kesadisannya meniru adegan laga di The Man With Iron Fists atau mungkin adegan beberapa film besutan Quentin Tarantino. Kesadisan yang tidak perlu dipertontonkan dengan darah memuncrat. Berdasarkan data yang dikutip majalah Rolling Stone Indonesia, sepanjang pembuatan film ada 800 liter ‘darah’ yang ‘tercecer’. Mungkin setara dengan hasil donor darah 2.000 an pendonor :-).

Beberapa adegan tergolong lebay. Menurutku tidak perlu. Ambil contoh ketika Rama sedang di toilet dan segera mendapat serangan dari puluhan napi. Adegan jatuhnya baut pintu kalau dihilangkan pun tidak menghilangkan esensi bahwa dia akan dikeroyok oleh puluhan napi lain. Namun sepertinya adegan slow motion menjadi andalan sutradara untuk lebih menonjolkan sisi dramatis. Sama seperti adegan slow motion beberapa orang yang akan mengerjai Rama di penjara saat hujan. Adegan laga di lumpur yang dipuji. Namun, meskipun menghajar puluhan orang [napi dan petugas penjara] bahkan sebagian mungkin terbunuh, dalam dua tahun Rama telah keluar dari penjara. Untuk soal ini, sepertinya penonton memang harus mengasumsikan bahwa penjaranya adalah di Indonesia. Salah satu penjara [peradilan] paling manusiawi di dunia :-D

Adegan lebay lain adalah ketika Rama menyelipkan alat penyadap ke dompet Ucok [Arifin Putra]. Dengan ukuran alat yang sebesar ujung jempol orang dewasa, Ucok baru menyadari ada alat itu di dompetnya setelah berapa lama. Yeah. Mungkin karena seorang kaya raya, Ucok tidak perlu sering mengeluarkan dompet. Sehingga dia sadarnya setelah beberapa hari saja.

Entah dengan tujuan apa, sutradara juga mengundang beberapa bintang veteran bermain di film ini. Mulai dari Cok Simbara, Roy Marten, Henky Solaiman, hingga Pong Hardjatmo. Nama terakhir, malah hanya muncul satu scene saja. Roy Martin lebih beruntung darinya. Satu hal terkait aktor gaek tersebut, koq rasanya janggal mendengar dialog yang diucapkan oleh Cok Simbara ber “loe” “gua”. Mungkin akan lebih terlihat tegas sebagai polisi, jika Cok Simbara dibiarkan menggunakan istilah “aku” atau “kau” untuk menggantikan “loe” dan “gua”.

Adegan yang aneh lagi adalah ketika Prakoso [Yayan Ruhian] dihabisi. Diawali oleh adegan ruang diskotik dengan musik menghentak, mendadak sepi karena ternyata ada serangan puluhan orang terhadapnya. Ah, mungkin maksudnya antara suasana berdentam dengan pengeroyokan itu, harusnya dipisahkan oleh jarak beberapa bulan/musim. Terbukti ketika perkelahian bergeser keluar ruang diskotik, di luar telah turun salju! Dan di sinilah Prakoso yang gagah perkasa itu [menghabisi puluhan orang sebelumnya] sadar bahwa jatah pemunculannya di film telah habis. Begitu menghabisi pengeroyok terakhir, dan melihat The Assassin [Cecep Arif Rahman] menunggu di seberang jalan, dia langsung mengambil foto putrinya untuk dilihat terakhir kali. Untuk kemudian menyerahkan diri kepada The Assassin. Dalam beberapa jurus, Prakoso telah bersimbah darah. Tanpa Perlawanan. Plis deh! Eits tunggu dulu, adegan darah mengalir di salju itu yang dishooting dari atas, tampak dramatis. Oalah! Itu toh tujuan saljunya. Bukan karena yang lain?. #AihMateeek

Eh, tunggu dulu. Mungkin memang si The Assassin ini sedemikian digdayanya. Terbukti ketika bertemu dengan Rama di kantor Bangun, hanya dengan beberapa jurus, si Rama jagoan kita rebah tak berdaya. Gak bisa bangun lagi bro! Akhirnya dia dibawa bermobil dengan dikawal empat orang. Eka [Oka Antara] ajudan Bangun yang disuruh menyelamatkan diri oleh Rama, datang membantu dengan mengebut! Padahal satu kakinya baru tertembak. Oh iya lupa. Mobilnya matic. Kalau dilihat dari lokasi kejar kejaran, sepertinya dimulai dari bypass Ahmad Yani, dilanjut ke kawasan SCBD, menuju Kemayoran, dan berakhir di SCBD. Sebuah kejar kejaran yang lumayan panjang rutenya. Ups. Kita sedang di negeri antah berantah.

Tapi rebah dan tak berdayanya Rama, menurutku memang disengaja [bagian dari skenario] agar terjadi adegan kejar kejaran dengan rute terpanjang tadi. Karena ternyata setelah itu, Rama mampu bertarung dengan durasi lumayan panjang melawan The Assassin. Dan tentu saja dimenangkan oleh Rama sang jagoan. Ketika berakhir, penonton bertepuk tangan. Ketika itu aku merasa sedang menonton misbar. Padahal nontonnya di Blitz Megaplex di Grand Indonesia. Kalau melihat staminanya, mungkin memang Rama pantas disejajarkan dengan John McClane di serial Die Hard. Mungkin karena itu disebut kualitas Hollywood. Kalau tidak melihat credit title, tadinya kupikir sutradaranya orang Indonesia.

Guru Besar Tata Negara Yusril Ihza Mahendra, dalam sebuah episode Indonesia Lawyer Club pernah berkata bahwa dalam mengajukan gugatan pada Mahkamah Konstitusi, beliau tidak perlu membawa banyak ahli hukum. Menurutnya, apa yang perlu dibawa cukuplah seorang ahli Bahasa Indonesia/Melayu. Menurutku, hal tersebut dilakukan, karena seringkali di persidangan yang terjadi bukan lagi debat mengenai semata soal hukum. Namun lebih kepada bagaimana memaknai kalimat dalam Undang Undang yang sedang diuji.

Kalau dipikir ada benarnya. Seringkali sebuah peraturan dimaknai berbeda oleh lebih dari seorang ahli hukum. Mungkin itu sebabnya ada kalimat yang menyatakan kurang lebih, “dalam diskusi dua orang ahli hukum, maka terdapat kemungkinan muncul tiga pendapat” (dengan segala hormat kepada para ahli hukum). Perdebatan, seringkali terjadi ketika para ahli hukum memaknai berbeda atas kalimat yang terdapat pada sebuah peraturan.

Bekerja pada sebuah institusi yang diserahi fungsi sebagai regulator, membuatku terbiasa menghadapi kalimat-kalimat hukum. Hal tersebut mau tidak mau harus dilakoni karena kami memiliki tugas untuk membuat peraturan dan memastikan peraturan tersebut dapat dijalankan serta dipatuhi oleh pihak yang diatur. Bukan saja harus mengenai peraturan yang kami buat sendiri. Juga peraturan lain yang terkait dengan pihak yang kami atur. Sering perbedaan pendapat terjadi ketika memaknai Ketentuan pada level undang undang yang dibuat oleh Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Salah satu undang undang yang terkait adalah Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Pasal 72 ayat (1) UUPT mengatur bahwa, Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan. Pasal ini terhitung cukup sering dimaknai berbeda. Kami memaknai begini, pihak yang diatur memaknai begitu. Bertolak belakang tergantung pada sudut pandang.

Menurutku, kalimat pada pasal tersebut haruslah dibaca sebagai dua klausa. Klausa pertama “Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan berakhir” sementara klausa kedua “sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sehingga dengan demikian, memaknainya haruslah bahwa “pembagian dividen interim dilakukan pada tahun yang sama dengan tahun buku yang mendasari pembagian dividen interim”. Ribet? Itulah bahasa hukum.

Sebagai contoh, dividen interim tahun buku 2013 misalnya, haruslah dibagikan pada tahun 2013. Rentang waktu pembagiannya dimulai sejak tanggal 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013. Sebab apabila dibagikan pada Januari 2014 apalagi setelahnya, sudah tidak sesuai dengan klausula “sebelum tahun buku berakhir”. Karena tahun buku berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 (dengan asumsi, tahun buku dimulai sejak 1 Januari 2013 dan berakhir 31 Desember 2013).

Masalah apakah dividen interim dapat dibagikan pada rentang waktu tersebut, harus mengacu pada klausa terakhir, “Sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan”. Sebab jika hal tersebut tidak diatur pada anggaran dasar, maka pembagian dividen interim tahun buku 2013 (meskipun dibagikan dalam rentang waktu 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013) tidak dapat dilakukan.

Untuk skala yang lebih kecil adalah apa yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Awal tahun, Perusahaan telah menetapkan penggunaan dua jenis seragam yang kami punya dengan ketentuan, “seragam merah digunakan pada Jumat minggu kedua. Sementara seragam biru digunakan pada Jumat minggu keempat”. Hari Kamis sore terdapat diskusi (yang pasti dimulai dengan kebingungan) mengenai hal tersebut. Apakah pada hari Jumat tanggal 7 Februari 2013, adalah jadwal pemakaian seragam merah?

Menurutku, kebingungan dimulai dari kalimat “Jumat minggu kedua”. Mencoba memaknai bahasanya, berbekal pengalaman sebagaimana aku tulis di atas, aku mencoba melirik pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

MingĀ·gu 1 hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; 2 (ditulis dengan huruf kecil) jangka waktu yang lamanya tujuh hari

Yang menyatakan bahwa tanggal 7 Februari adalah jadwal pemakaian seragam, melihat bahwa rentang waktu tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014, merupakan minggu kedua Februari. Karena meskipun tanggal 1 Februari 2014 jatuh di hari Sabtu, menurutnya cukup untuk menyatakan bahwa itu merupakan satu minggu. Padahal jika mengacu pada apa yang dinyatakan oleh KBBI di atas, pemakaian seragam pada bulan Februari 2014, haruslah dilakukan pada tanggal 14 Februari. Bukan pada tanggal 7 Februari. Karena waktu seminggu sebagaimana disebutkan dalam peraturan, baru tercapai pada rentang waktu sejak tanggal 2 Februari sampai tanggal 8 Februari 2014. Demikian seterusnya sampai akhir bulan.

Namun, ternyata Jika konsisten dengan ketentuan tujuh hari dalam seminggu, tidak terlalu lama akan terjadi kebingungan baru. Bahkan ketika bulan Februari belum selesai. Karena ternyata tidak ada minggu keempat pada bulan Februari 2014. Karena ketentuan satu minggu terdiri dari tujuh hari tidak terpenuhi pada rentang tanggal 23 sampai 28 Februari. Meskipun pada rentang waktu tersebut terdapat satu hari Jumat di tanggal 28 Februari. Lantas kalau begini, harusnya seragam warna biru tidak akan pernah digunakan pada Bulan Februari :-)

Aku pikir, seandainya kata “Jumat minggu kedua” diganti menjadi “Jumat kedua”, “Jumat ketiga” dan seterusnya, mungkin kebingungan itu tidak akan terjadi. Atau malah berpotensi masalah lagi di bulan selanjutnya? #ah…sudahlaaaah…

Dia duduk di sebelahku. Di Kursi 44C penerbangan Garuda GA323 dari Juanda menuju Soekarno Hatta. Kalau dilihat dari cara makannya, harusnya beliau seorang terpelajar. Setidaknya menurutku.

Bagaimana tidak. Dalam penerbangan berjarak pendek ini, yang dibagikan hanya snack. Bapak berkemeja batik ini merasa perlu untuk melebarkan tissue kertas yang ada di kotak snack untuk kemudian diletakkan di pangkuannya. Barulah beliau menyantap dua roti dan meminum air putih yang disediakan.

Berbeda dengan aku yang langsung makan aja snack tersebut. Tanpa peduli ada tata cara makan terhormat (table manner) :-D. Sikap santun si bapak masih dilanjutkan dengan mengantar sendiri kotak snack yang kosong ke belakang. Ke stasiun kru pesawat. Mungkin bukan sengaja mengantar. Bisa jadi sekalian ke kamar kecil. Tapi kalau dilihat sekilas, amboi sekali sikap itu.

Namun jangan langsung percaya dengan adegan yang aku gambarkan tersebut. Meski menumpang maskapai mahal, kelakuannya tetap minus. Pesawat baru berhenti, beliau dengan gagahnya langsung berdiri. Mengambil dua tas di kabin. Kemudian dengan sikap sempurna, bengong menunggu dalam antrian. Di belakang penumpang lain yang akhirnya bersikap sama. Karena memang belum bisa keluar. Garbarata baru akan dilekatkan ke pintu depan.

Oke. Itu belum seberapa. Yang paling norak adalah blackberrynya yang menggunakan casing tambahan dari karet berwarna kuning ala abege, tidak dimatikan sepanjang perjalanan. Aku tahu, mungkin sinyalnya tidak terlalu mengganggu penerbangan sebenarnya. Namun sikap noraknya telah membuyarkan segala sikap (termasuk table manner yang mungkin untuk memelajarinya di sekolah sekolah pengembangan kepribadian butuh biaya yang tidak sedikit. KAMPUNGAN

20140129-095155.jpg

Faaaaak!! Entah sudah berapa kali mbaknya yang duduk persis di depanku ini menguap.

Sejak dari Jatibening tadi. Awalnya masih sopan. Dan tak mengganggu. Mulutnya masih ditutup masker. Semakin kesini, semakin gak sopan. Mangap begitu saja tanpa masker. Kadang diarahkan ke sebelah kanan dia. Mengarah ke depan. Kadang ke sebelah kiri dia. Mengarah ke belakang. Yang bikin sebel adalah ketika tidak ke kiri atau ke kanan. Ke depan. Siapa lagi yang beruntung kalau bukan aku yang duduk di seberang?

Duduk di bagian belakang omprengan kijang, yang duduk berjarak dekatan. Wajah hanya dipisah jarak kurang lebih 50 centimeter. Bisa kalian bayangkan? Bisa kalian pahami kalau rasanya mau menyumpel mulutnya?

Pengen bicara langsung, meski hanya berisi enam orang di sisi belakang, tetap saja kurasa tak elok. Pengen ditahankan, itu tadi, rasanya pengen nonjok! Padahal pagi ini Jakarta sedang macet parah. Dari pukul 06.15 tadi pagi, jam 09.00 masih di tol dalam kota arah Semanggi. Sepertinya perjalanan masih jauh :-(

Lama mencari akal bagaimana caranya biar dia mengerti!

Akhirnya setiap kali menguap terbuka, aku tutup hidung secara atraktif. Maksudnya sedemikian rupa sehingga dia melihat dan merasa. Untunglah. Sepertinya dia merasa. Mulut ditutup masker lagi.

Ngomong ngomong, aku harus selesaikan tulisan ini. Biar kalau dia menguap dan mangap bukan ke kiri atau ke kanan lagi, aku bisa menutup hidung. Udah dulu ya…

Untuk mengurai kemacetan, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebagai pengelola jalan tol kerap melakukan modifikasi pada ruas tol yang dikelolanya. Entah itu menambah lajur, menambah pintu (pengutip tol) atau bahkan atau menggesernya. Bisa juga gabungan beberapa alternatif.

Sejak beberapa waktu lalu, penggeseran dilakukan untuk pintu masuk Jakarta. Pada ruas Jakarta – Cikampek misalnya. Pintu yang tadinya di sekitar Jatibening ditarik ke arah Cikarang. Ruas Jakarta – Bogor, ditarik ke Cibubur dari semula di seputar Taman Mini. Sebaliknya dari arah Bogor, pintu tol yang arah Jakarta dibuat miring di Cimanggis. Kurang tahu pasti apakah ada studi sebelumnya, atau evaluasi setelahnya ketika Jasa Marga menerapkan ini.

Itu juga yang terjadi di tol Jakarta – Cikampek arah ke Jakarta. Sebelum pintu tol Halim, lajur sebelah kiri ditambah. Demikian juga lajur sebelah kanan. Penambahan lajur diikuti dengan penambahan gerbang tol. Penambahan bukan dilakukan memanjang tapi menjadi berlapis. Gerbang baru diberi nama Halim 2 untuk yang di sebelah kiri.

Penambahan gerbang ini ternyata mengubah perilaku pengendara mobil yang melintas. Penyusunan gerbang tol yang berlapis, mengakibatkan munculnya efek leher botol. Penyempitan ruas yang dialami mereka yang membayar di Halim 1.

Melambatnya kendaraan akibat efek leher botol ini bukan hanya dialami satu kali. Jarak gerbang tol Halim yang tidak terlalu jauh dengan percabangan tol menuju Grogol dan Tanjung Priok juga ternyata menambah macet. Seringkali akibat melambatnya kendaraan yang menuju Priok, berakibat ke belakangnya. Macet yang dialami pengemudi setelah membayar di Halim 1 pun sepertinya menjadi trauma. Hal tersebut membuat mereka berlomba lomba mengumbar nafsu untuk masuk ke aah Grogol.

Kalau sudah begini, mau gak mau efek leher botol terulang lagi. Bukan karena jalanan menyempit, namun karena nafsu pengemudi yang tidak tertib. Bukan saja dilakukan oleh bis (kendaraan umum) seringkali dilakukan oleh pengemudi mobil yang harganya cukup mahal :-p.

Mungkin dengan niat menghindari dua kali kena efek leher botol itu, akhirnya banyak pengemudi yang melakukan zigzag sebelum tiba di gerbang Halim. Ketika dari arah Bekasi mereka akan mengambil lajur kanan, menghindari antrian panjang keluar UKI/Cawang. Namun begitu mendekat gerbang Halim, mereka akan ambil kiri untuk berlomba masuk gerbang Halim 2. Sedemekian tingginya nafsu itu, hingga ada beberapa pengemudi yang seperti frustasi sebagaimana terlihat pada pagi, 24 Januari 2014. AMPUN!

20140124-074307.jpg

20140120-084000.jpg

Beginilah suasana Senin pagi di gerbang masuk Vila Jatibening Tol. Tempat yang entah sudah berapa lama menjadi ‘terminal bayangan’ bagi pekerja yang bermukim di sekitar Jatibening, hendak berangkat ke Jakarta. Aku pakai istilah ‘Terminal Bayangan’ karena yang mangkal di sana bukanlah angkutan umum resmi.

Disebut angkutan umum, karena mengangkut banyak orang. Kenapa tidak resmi, karena memang bukan angkutan umum sebagaimana diatur oleh ketentuan. Biasanya angkutan umum berplat nomor polisi kuning. Kalau yang mangkal di sini, plat nomor polisi hitam. Ya. Sepertinya memang kendaraan pribadi yang dijadikan kendaraan umum. Mereka ini biasa disebut omprengan. Entah bagaimana asal mulanya. Sejak 15 tahun lalu aku bermukim di Bekasi dan bekerja di kawasan Sudirman Jakarta, sudah demikian adanya.

Mungkin dulu diawali oleh satu dua kendaraan saja. Mungkin juga diawali oleh kendaraan antar jemput anak sekolah yang ingin mendapat penghasilan tambahan. Karena dulu ada beberapa kendaraan tempat duduknya sudah direnovasi layaknya angkot. Sekarang, kendaraan seperti itu sudah tak ada. Digantikan jenis kendaraan minibus seperti Luxio atau GrandMax.

Tujuannya beragam. Setidaknya ada yang ke Blok M, Kuningan, atau Thamrin. Dulu ada yang ke arah Grogol. Sekarang tak terdengar lagi. Yang ke arah Blok M pun, sepertinya tujuannya sudah dikurangi. Kalau dulu mencapai Blok M. Sekarang hanya sampai Ratu Plaza. Biasanya kendaraan rute inilah yang aku tumpangi. Silahkan naik yang arah Komdak Ratu dengan tarif 13 ribu. Daripada berkendara sendiri, sepertinya pilihan yang logis.

Penumpang berasal dari sekitar Jatibening. Biasanya moda pemadunya adalah ojek atau diantar oleh keluarga. Turun dari ojek, calon penumpang langsung menuju mobil yang sudah ditempatkan sesuai dengan tujuan masing masing. Setidaknya terdapat dua petugas yang mengatur mobil mobil itu. Mirip seperti ‘timer’ di terminal resmi. Setiap satu mobil penuh dan siap jalan, kepada dua timer ini, pengemudi menyerahkan sejumlah uang. Kurang tahu persis jumlahnya. Kalau dulu, ketika dengan Daihatsu Ceria yang kecil itu, aku pernah berpartisipasi, aku menyerahkan 3 ribu kalau tidak salah. Untuk empat penumpang yang aku bawa.

Soal kenyamanan, jangan ditanya. Sama seperti di kendaraan umum Jakarta pada umumnya. Bedanya dengan berkendara bis, omprengan tak mengenal penumpang berdiri. Namun setidaknya ada beberapa kasta dalam omprengan ini. Paling depan yang biasa diisi dua penumpang, boleh diisi sendiri. Dengan catatan bayar dua. Di tengah yang biasanya bisa diisi dengan empat orang, boleh diisi dengan tiga orang saja. Dengan catatan, ketiga orang ini sepakat bahwa bayaran mereka bertiga sudah menutup satu orang penumpang. Jadi jika biasanya seorang bayar 13 ribu, demi nyaman mereka bolehlah membayar masing masing 17-18 ribu.

Paling belakang adalah ‘kasta’ terendah. Biasanya diisi dengan enam orang. Tidak peduli Luxio, Kijang atau Panther (dengan tempat duduk miring berhadapan). Mungkin jika penumpang sedang sepi dan ada penumpang yang sedang buru buru, di sini juga bisa diakali. Seorang akan bayar dua seat, agar mobil segera jalan.

Itulah yang tidak terjadi Senin pagi ini. Tiba di lokasi sekitar jam setengah tujuh, tidak ada mobil yang sedang ngetem. Suatu yang tak biasa. Jadilah aku mengantri. Bersama penumpang lainnya. Jika sudah begini, perjuangan dimulai. Setiap ada kendaraan yang masuk (biasanya jenis mobil sebagaimana aku sebut di atas) para penumpang ini akan berebutan untuk masuk. Kadang, bahkan ketika mobil belum berhenti sempurna. Perjuangan menunggu mobil ini, diganggu dengan turunnya hujan. Beruntung ada rimbunan bambu yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh.

Sama seperti terminal bayangan yang ada setelah pintu bayar tol Jatibening arah Jakarta, menurutku ini salah satu problem mereka yang tinggal di sekitar Jatibening. Sulitnya kendaraan umum. Mau menggunakan KRL, jaraknya terlalu jauh mencapai stasiun. Mau menggunakan bis pun sama saja. Mereka harus ke Bekasi dulu untuk mecapai terminal bis. Menggunakan angkot ke melalui Kalimalang, tidak cukup akses kesana. Pun butuh kesabaran sendiri melintasi kalimalang. Menggunakan kendaraan sendiri, sudah macet, masih juga dikatain sebagai penyebab kemacetan :p.

Mau gak mau dinikmati saja. Sementara dari informasi yang terkumpul sambil menulis tulisan ini, tol Cikampek/Bekasi menuju Jakarta katanya stuck. Ada yang menepuh dua jam dari Bekasi hingga tol Halim. Yang mungkin ketika hari biasa ditempuh paling lama dalam satu jam.

Mau menyalahkan Jokowi? Menyalahkan Aher? Enggaklah. Ini selalu salah yang kena macet. Kenapa gak berangkat lebih pagi? Hahahaha

Kurang lebih sebulan telepon di rumah bermasalah. Tidak dapat digunakan. Baik menelepon keluar ataupun menerima. Mau melapor ke 147 rasanya sia sia. Bukan tanpa alasan. Beberapa kali menelepon, sebagaimana layanan pelanggan biasanya, hanya berakhir dengan disuruh mendengarkan musik yang entah dimana bagusnya.

Pagi ini akhirnya aku bisa berbicara dengan seorang petugas. Setelah menerima keluhan, sang petugas meminta untuk menunggu. Katanya akan dibuatkan laporan. Tapi ternyata belum merupakan berita baik. Karena setelah meminta menunggu, si petugas pergi entah kemana. Meninggalkanku yang sedang memegang gagang telepon tanpa bisa melakukan apa. Pun tak disuguhi musik yang entah dimana bagusnya itu.

Akhirnya mencoba menghubungi akun twitternya. Mention keluhan disana. Tapi melihat twit terakhir adalah dua hari lalu, terus terang pesismis denga layanan yang diberikan. Twit pertama aku masih bersikap sopan. Twit kedua, aku gunakan bahasa preman.

20140115-132955.jpg

Memang ada form isian di website mereka yang beralamat di http://e-service.telkom.co.id. Tetap tak memuaskan. Begitu submit, mesin yang merespon. Tentu saja dengan jawaban baku. Submit pertama aku pakai kalimat sopan. Submit kedua, CapsLock aku nyalakan.

20140115-133036.jpg

Mungkin memang harus bersabar, sebagaimana dijanjikan. Bahwa mereka akan menghubungi kembali. Namun melihat hasil penelusuran di jagat maya, aku ga berharap banyak. Karena sepertinya layanan yang diberikan tak seperti dijanjikan. Ups. Entah kapan mereka pernah berjanji akan memuaskan pelanggan.

20140115-133337.jpg

Acapkali dalam melaksanakan tugas dari kantor, aku dan beberapa teman harus menginap. Bukan hanya ketika menjalankan tugas dalam arti bekerja. Menginap juga, bukan semata jika harus keluar kota. Beberapa kali dalam rangka mengerjakan sesuatu proyek (katakanlah begitu), menginap dilakukan di wilayah Jabodetabek. Yang secara jarak masih bisa ditempuh dalam kurang lebih dua jam dari rumah. Biasanya hal itu dilakukan ketika mengerjakan pekerjaan yang butuh waktu dan konsentrasi lebih banyak. Sehingga mungkin pembahasan harus dilakukan sampai malam hari. Kadang juga menginap beramai ramai dilakoni ketika kantor sedang refreshing atau yang kerap disebut outing.

Demikian juga kali ini. Ketika beberapa divisi terkait, harus duduk bersama membahas sebuah proyek. Panitia yang mengurus, membawa kami yang terlibat dan ditugaskan, untuk menginap di Hotel GH Universal di kawasan Setia Budi Bandung.

Ini untuk pertama kalinya aku menginap di hotel ini. Arsitekturnya unik. Aku gak tau persis model apa. Ala Eropa sepertinya. Hal ini terlihat juga dari pemilihan nama ruangan pertemuan. Nama seperti Lombardy atau Sicilia digunakan. Lebih ke Italia sepertinya.

Dinding bangunan luar hotel berwarna seperti warna batu gunung (menurutku). Menyerupai dinding candi (Borobudur atau Prambanan) kalau di Jawa atau pura kalau di Bali. Kesannya, dinding terbuat dari batu. Namun aku yakin hanya permainan campuran semen dan pasir saja.

Interior hotel pun sepertinya mengikuti model arsitektur. Pada beberapa sudut kesan tersebut terlihat. Juga beberapa kursi mencerminkan kesan ala Eropa. Belum lagi petugasnya. Sebagian besar berpakaian hitam. Petugas pemelihara ruangan misalnya hanya berkaos model oblong berwarna hitam. Pelayan wanita di restoran bahkan berpakaian hitam dengan celemek warna putih. Mirip dengan seragam maid sebagaimana digunakan akun @inemsipelayan sebagai avatar.

Beberapa ruang dipasang tirai atau gorden. Yang ketika disibak, ternyata dibaliknya hanya ada dinding. Kamar mandi dekat dengan ruang meeting pun terdapat tirai, ketika disibak dibalik tira hanya ada peralatan hydrant. Kotak kontrol air ke kamar mandi yang ada di kamar, yang kalau di hotel biasa hanya ditunjukkan dengan panel biasa di dinding kamar, diberi pintu dan di pintu dipasang tirai.

Tidak cukup sampai situ, sebagian dinding kamar mandi menggunakan marmer berwarna hitam. Masih di kamar mandi, handuk yang digunakan sebagai keset kaki, juga berwarna hitam. Kotak kotak yang digunakan sebagai wadah perlengkapan mandi seperti sikat gigi dan alat cukur pun demikian. Bahkan sabun kecil yang biasa diletakkan di kamar mandi hotel pun dibalut kertas hitam.

Kesan misteri, angker tidak berhenti sampai di situ.

Menurut pengakuan teman yang selama ini sering menjadi rekan sekamar, dia mengalami peristiwa aneh. Ketika untuk sebuah keperluan dia kembali ke kamar, dia menemukan bahwa jendela kamar terbuka. Diapun menutupnya. Sebelum kembali ke ruang pertemuan dimana kami berkumpul, dia menyempatkan berkemih sebentar. Ketika keluar kamar mandi, dia mendapati bahwa jendela kembali terbuka. Dengan rasa penasaran, dia menutup kembali. Dia menceritakan keanehan tersebut pada kami.

Seram? Angker? Nanti dulu. Seorang teman lain bercerita kalau dia mendengar ada suara ketukan teratur dari atas kamarnya. Seolah ada tukang yang sedang bekerja. Namun ketika dia bertanya kepada petugas hotel, apakah ada pekerjaan renovasi di sekitar kamarnya, dia mendapat jawaban yang membuat kesan seram atau angker itu semakin menyeruak. Ternyata tidak ada pekerjaan renovasi.

Masih kurang seram? Yeah…sebenarnya ada satu hal yang lebih menyeramkan. Terutama untuk teman teman lelaki. Entah karena ketersediaan kamar, atau karena keterlambatan pemesanan kamar, sebagian besar diantara kami ditempatkan di kamar jenis deluxe dengan ukuran lebih besar dari kamar biasa. Nah! Yang menyeramkan adalah, tempat tidurnya hanya satu. Jenis King Size. Kengerian untuk satu ranjang dengan sesama lelaki diantisipasi oleh panitia dengan memesan tempat tidur tambahan :D

Entah siapa yang mulai, kalau melintas di jalan raya, sering terlihat stiker bertuliskan “Real Man Use Three Pedals” atau “Real Man Use Two Pedals”. Biasanya stiker ini ditempel di kaca belakang mobil. Untuk yang menempel Two Pedals, biasanya ditempel di mobil berjenis matic. Sementara yang bertulis Three Pedals, biasanya ditempel di mobil jenis manual.

Karena ditempel di kaca belakang mobil, pastilah ini soal jumlah pedal yang digunakan oleh mobil yang ditempeli stiker tersebut. Mungkin semacam persaingan gengsi antara pengguna mobil matic dan manual. Entah dimana letak gagahnya, sehingga perlu menempel stiker tersebut. Bahkan pernah terbaca olehku, kalimat yang sama ditulis bersambung tiap kata, dengan embel embel dot com di belakangnya. Mungkin merujuk pada alamat website tertentu. Aku belum pernah periksa kebenarannya. Ketika iseng aku googling. Ternyata banyak varian dari stiker tersebut.

20131204-133040.jpg

20131204-133054.jpg

20131204-133104.jpg

20131204-133112.jpg

Namun yang lebih lucu adalah apa yang aku lihat pagi ini. Stiker mirip, bukan bertuliskan dua atau tiga pedal. Namun semacam himbauan kepada penempel kedua stiker di atas. Tulisannya cukup menohok, “Who Cares About Your Pedals?”. Ada ada saja. Ukuran kelelakian seseorang dikaitkan dengan jumlah pedal pada mobil.

Tapi yang tak kalah lucu, aku pernah membaca stiker mirip dengan modifikasi. Ditulisnya, kurang lebih “Real Boss Use Three Pedals”. Mungkin yang menempel stiker kurang memahami kalau sebenar benarnya bos, gak peduli dengan jumlah pedal mobilnya. Karena kalau pemilik mobil itu adalah bos, tidak mungkin dia menempel stiker semacam itu di mobilnya. Juga tidak mungkin real bos menempel di mobil Niaga (Multi Purpose Vehicle). Karena real bos, hampir pasti pakai sedan :-D

20131125-211135.jpg

Jari langsung tergelitik membaca judul berita sebagaimana dikutip Kontan. Tertulis, pada berita tersebut, “Lepas Saham ke Publik, UOB punya opsi IPO”. Menurutku penggunaan istilah IPO atau Intial Public Offering atau Penawaran Umum Perdana dalam kasus OUB terasa kurang pas. Karena kalau melihat sejarahnya, kalaupun jadi melepas kepemilikan saham kepada publik kali ini, bukanlah kali pertama.

PT Bank UOB Indonesia didirikan pada tahun 1956 dengan nama PT Bank Buana Indonesia (Bank Buana). Pada tahun 2000, Bank Buana melakukan Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) yang dilanjutkan dengan dicatatkannya saham Bank Buana di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Namanya pun menjadi PT Bank Buana Indonesia Tbk. Pada tahun 2004, UOB International Investment Private Limited (UOBII) menjadi pemegang saham Bank Buana hingga mencapai 61,11%. Pada tahun 2007, United Overseas Bank Limited (UOB) melalui UOBII menjadi pemegang saham utama Bank Buana. Namanya pun diubah menjadi PT Bank UOB Buana Tbk.

Pada tahun 2008, pemegang saham Bank Buana, menyetujui perubahan status Bank Buana manjadi perusahaan tertutup. Pada tahun yang sama, Bank Buana mengajukan voluntary delisting dari Bursa Efek. Konsekuensi dari proses go private (kebalikan dari go public) ini, pemilik saham utama melakukan tender offer (penawaran untuk membeli saham milik publik) sehingga kepemilikan saham UOBII menjadi 98,997%. Namanya pun berubah menjadi PT Bank UOB Buana. Tanpa ‘Tbk.’ di belakang namanya. Karena sekarang statusnya bukan lagi perusahaan publik (terbuka).

Pada tahun 2010, UOB sebagai pemegang saham utama menggabungkan banknya yang lain, PT Bank UOB Indonesia ke dalam PT Bank UOB Buana. Pada tahun 2011, PT Bank UOB Buana berganti nama menjadi PT Bank UOB Indonesia.

Sebagaimana dikutip dalam berita yang sama, niat untuk melepaskan kepemilikans aham ke publik, dipicu oleh Peraturan bank Indonesia (PBI). Otoritas Perbankan Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia No.14/8/PBI/2012 tentang Kepemilikan Saham bank Umum yang ditetapkan pada 13 juli 2012, mengatur :

Batas maksimum kepemilikan saham pada Bank bagi setiap kategori pemegang saham ditetapkan sebagai berikut:
a. 40% (empat puluh persen) dari Modal Bank, untuk kategori pemegang saham berupa badan hukum lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank;
b. 30% (tiga puluh persen) dari Modal Bank, untuk kategori pemegang saham berupa badan hukum bukan lembaga keuangan; dan
c. 20% (dua puluh persen) dari Modal Bank, untuk kategori pemegang saham perorangan

Jika langkah tersebut (melepas saham kepada publik) diambil oleh pemegang saham dengan melakukan penawaran umum, maka menurutku penggunaan istilah IPO sudah tidak tepat lagi. Karena berdasarkan fakta, Penawaran Umum Perdana atau IPO sudah pernah dilakukan oleh Bank Buana pada tahun 2000. Akan lebih tepat kalau istilah yang digunakan adalah Penawaran Umum saham. Tanpa embel-embel kedua apalagi pertama.

Masih perlu diperiksa, apakah istilah IPO pada berita tersebut merupakan istilah yang disebut oleh manajemen Bank Buana. Atau hanya sekadar karangan wartawan saja. Jika istilah tersebut berasal dari manajemen Perusahaan, tentu sangat disayangkan. Karena sebagai manajemen, harusnya kerancuan tersebut tidak perlu terjadi. Mengingat jabatannya, seharusnya sudah cukup paham istilah pasar modal.

Namun jika istilah itu sekadar karangan dari wartawan, sepertinya aku tahu mesti menemui siapa untuk membahasnya :-)